Selasa, 30 Agustus 2011

Edisi Lebaran (1)


Tragedi Kue Kastengel
Oleh Arie Rachmawati



 Ass.Wr.Wb
Bulan puasa berjalan di ujung akhir Ramadhan, keesokan hari adalah hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri. Memiliki makna yang dalam yaitu terlahirnya kembali jiwa kita nan suci seperti lahirnya seorang bayi dari rahim seorang ibu, tidak memiliki dosa sesama insan bernyawa dengan syarat kita saling memaafkan kesalahan dan kekhilafan diri kita, serta mengikhlaskan khilaf kesalahan orang lain dengan tulus.

Tetapi bagi anak-anak kecil seusia saya waktu itu hari raya atau lebaran adalah hari pertama bersilahturahmi dengan memakai baju baru, sandal baru dan menikmati sajian masakan khas lebaran dan tentu kue kering Kaastengels yang hanya bisa dinikmati setiap hari raya tiba. Sejarahnya kue itu menjadi favorit keluarga saya, saya benar-benar tidak ingat. Seingat saya itu kue wajib dan nenek saya menyebutnya dalam bahasa Madura, "Kue na oréng Landè, acen tak nyaman."  yang artinya kuenya orang Belanda, asin nggak enak. Benar kue itu sangat asin dilidah, dan untuk mendapatkan sekaleng keju Kraff (bukan kotak seperti saat ini) dulu sangatlah susah, hanya satu toko kue yang menjual keju import dari luar negeri, begitu juga dengan keju tua berbentuk merah seperti buah apel itu. Menurut saya, lebaran tanpa kue itu serasa lebaran belum afdol.

Waktu itu saya masih sekolah dasar sekitar kelas empat atau lima. seperti tahun-tahun sebelumnya saat menjelang lebaran tiba. Mama selalu membuat kue di rumah tante saya bernama tante Ninik, tinggalnya di pemukiman pedagang di daerah Wetan Pasar. Tante saya itu memang penjual kue dan menerima pesanan kue. Rutinitas tahunan membantu membuat kue adalah kenikmatan yang ditunggu oleh saya, terutama saat menguasi kue dengan pulasan kuning telur serasa melukis.

Hari itu, setelah semua kue kastengel kelar dan siap di bawa pulang ke rumah di desa Baratan. Perjalanan dari Wetan Pasar harus menempuh dua kendaraan umum, pertama dengan becak kemudian dilanjut dengan colt (semacam angkutan umum). Waktu naik becak, saya duduk di sebelah kanan, dan Mama di sebelah kiri dengan memangku kue-kue kering itu juga beberapa kantong belanja di letakkan di dekat kaki.

Udara gerah, panas terik tak mengahalangi puasa yang kami jalani. Becak melaju hingga depan masjid Agung Baitul Amin depan alun-alun kota Jember, entah kenapa tiba-tiba saya menoleh ke arah belakang dan ada mobil tepat di belakang becak kami dengan kecepatan tinggi dan.....semua menjadi gelap. Maakk bruuukkk gedubrakan, seperti dalam tempurung dan serasa ditarik sesuatu, bau aspal dan wajah menyatu dan kejadian itu begitu cepat.
Tiba-tiba banyak orang menolong membuka becak yang tertutup di jalanan itu. Selanjutnya saya melihat kue-kue kering pada remuk dan tas kantong berantakan di jalan dan Mama pingsan.  
Inna ma'al usri yusro, disetiap kesusahan/kesempitan pasti ada kemudahan. Mobil yang menabrak itu telah lari begitu saja. Tetapi ada mobil penolong yang mengantarkan kami ke rumah sakti. Mama harus opname sehari dan mendapat jahitan di kening dekat matanya.

Tak lama mobil penolong itu mengantarkan saya ke rumah. Terlihat Bapak sangat kaget dengan wajah saya berlumuran darah dengan keadaan saya menangis tanpa jelas bercerita, untungnya dibantu bapak penolong itu dan akhirnya Bapak menyusul ke rumah sakit di Patrang. Lumuran darah itu bukan berasal dari wajah saya, namun rupanya menempel saat saya memeluk Mama yang wajahnya penuh lumuran darah. Kue Kastengel masih bertaburan di jalanan itu.

Lebaran tahun itu tak ada lagi kesibukan Mama menyiapkan kain kebaya dan sanggulnya, tak ada lagi rangkain bunga di ujung ruangan, tak ada lagi sajian kue kastengel di atas meja, walau kami bertiga memakai baju dan sandal baru. Kejadian itu sangat membekas hingga saat ini ketika saya membuat kue itu sendiri peristiwa puluhan tahun itu seakan mengiringi gemulainya tangan saat membuat adonan.

Lebaran tak harus dalam suka cita, dalam keadaan duka pun harus disyukuri karena yang menjadi korban dalam musibah itu adalah kue-nya orang Belanda itu, bukan saya atau Mama menjadi korban tabrak lari. Hingga kini becak itu belum dibayar dan kejadiannya berlalu. Semoga Allah mengampuni kami dan tukang becak itu memaafkan kami. Musibah dan rejeki adalah rahasia Illahi.

Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1432 H
قَبَّلَ اللّهُ مِنَّ وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْ
Minal Aidzin Wal Fa'Idzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Wassalamualaikum Wr Wb
arie rachmawati
Posting Komentar