Rabu, 17 Agustus 2011

Edisi Ramadhan (5)

Wasiat Seorang Suami
(Dari Buku "Ia Masuk Surga, Padahal Tak Pernah Shalat" oleh Badiatul Muchlisin Asti)

Suatu hari, ada seorang sahabat Rasulullah saw, yang meninggal dunia. Seperti yang telah biasa dilakukan ketika salah seorang sahabatnya meninggal dunia, Rasulullah saw mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Sepulangnya dari kuburan, Rasulullah saw, menyempatkan singgah ke rumah duka untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

Kemudian Rasulullah saw, bertanya, "Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?"
Istri almarhum menjawab, "Saya mendengar dia mengatakan sesuatu di antara dengur napasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal, ya Rasulullah."
"Apa yang dikatakannya?" tanya Rasulullah.
"Saya tidak tahu, ya Rasulullah saw. Apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah rintihan pedih karena dahsyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong."
"Bagaimana bunyinya?" desak Rasulullah saw.
"suami saya mengatakan, "Andaikata lebih jauh lagi...andaikata yang masih baru...andaikata semuanya..." hanya itulah yang tertangkap, sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?" kata sang istri.

Rasulullah saw, tersenyum mendengarnya, kemudia Beliau berkata, "Sunggu yang telah diucapkan suamimu itu tidak keliru." Kemudia Beliau menceritakan kisah yang dialami suaminya.

"Kisahnya begini," kata Rasulullah mulai bercerita.
"Pada suatu hari ia bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum'at. Di tengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk jalannya karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan napas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal salehnya itu, lalu ia pun berkata "Andaikan lebih jauh lagi." Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih jauh lagi, pasti pahalanya akan lebih besar lagi. Begitu maksudnya," kata Nabi.

"Ucapan lainnya ya Rasulullah saw?" tanya sang istri mulai tertarik.
Nabi saw menjawab, "Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dipakainya sendiri. Menjelang saat-saat terakhirnya suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, "Andaikata yang masih baru kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi." Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

"Kemudian ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rasullah saw?" tanya sang istri makin ingin tahu.

Dengan sabar Nabi menjelaskan, "Ingatkah engkau pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan menghembuskan napasnya, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, 'kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak kuberi separuh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda'."

Begitulah nilai keadilan Illahi. Pada hakikatnya, apa bila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika berbuat buruk. Akibatnya juga menimpa kita sendiri. Dalam Al-Qur'an Allah swt, berfirman : "Kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula." [QS AL ISRA' ayat 7]

Mudah-mudahan kisah ini bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk kita semua. Amin YRA.
(ditulis saat perjalanan ke Yogjakarta Minggu,14 Agustus 2011)

Marhaban Yaa Ramadhan
Posting Komentar