Minggu, 16 Januari 2011

Ulang Tahun Edo


Lucunya YoAnDo
by Arie Rachmawati on Monday, January 17, 2011 at 7:50pm



Jambi, 16 Januari 1994 (23:30 wib)

Saat pertama mengetahui saya hamil anak ketiga benar-benar tidak merasakan rasa ngidam seperti saat mengandung dua anak sebelumnya yaitu Ryo dan Ryan. Selama mengandung sembilan bulan itu dalam bermunajah doa selalu saya panjatkan semoga bayi dalam kandungan ini kelak lahir seorang bayi laki-laki. Meski hasil USG menyatakan akan lahir seorang budak betino (putri) bukan seorang budak jantan (putra), tetapi saya lebih yakin pilihan Allah adalah yang terbaik, yang penting lahir dengan selamat,lancar, dan sehat.

Seperti 17 tahun yang lalu, hari itu Minggu siang seusai menikmati lezatnya buah durian pada musim durian, rasa perut mules pun menggoda dan setelah tiba di rumah sakit bersalin St.Theresia Jambi, ternyata rasa sakit itu berlalu seakan larut dalam kelelahan tiada tara. Seharian yang melelahkan dimana pagi itu Ryan baru bisa berjalan sendiri masuk usia 15 bulan dan kakaknya Ryo ( 4thn,1bulan) sudah duduk di bangku sekolah dasar di daerah The Hok Jambi. Kehadiran Edo atau Ardianto Ridho Putra menjelang pergantian waktu tanggal 17 Januari adalah pelengkap keceriaan tawa-tangis anak-anak dalam rumah nan jauh dari sanak saudara di pulau Jawa. Kehadiran Ridho/Edo melengkapi angan dan harapan memiliki tiga putra dan timbul inspirasi menyebut ketiganya dengan sebutan YOANDO

Tidak seperti Ryan semasa bayi yang susah tidur, Edo bayi lebih tenang cukup diputarkan musik pengantar tidur maka larutlah ia dalam mimpi. Itu cerita semasa bayi hingga mulai belajar berjalan dari merangkak ia tergolong paling aktif atau bahasa Jambi-nya adalah lasak nian itu budak. Benar Edo yang semula bayi tenang, tidak rewel meski pernah keliru memberi sebotol susu yang semestinya untuk kakaknya malah ia tidak mengalami sesuatu yang dikhawatirkan, seperti murus atau rewel. Edo kecil malah seperti tersihir dan lelap dalam tidur yang mengasyikkan. Namun beberapa tahun setelah mulai mengenal sekolah tepatnya taman kanak-kanak, mulailah banyak cakap, protes dan rada cererwet.
Umur 5 tahun udah berani di sunat lho...
Dari YoAnDo yang tampil berani untuk urusan khitan, Edo-lah yang mendapat Award. Pada usia 5 tahun masih di taman kanak-kanak, saat liburan sekolah minta di khitan. Tanpa ditemani saya yang kali itu harus mengurusi dua kakaknya, Edo berdua saja dengan papanya melakukan perjalanan ke Bandung, tempat khitan di jalan.By Pass Soekarno Hatta Bandung. Ia berharap setelah itu akan mendapatkan sepeda beroda tiga.

Itulah Edo kecil tumbuh sehat, berkulit agak gelap dari kedua kakaknya tetapi pemberani. Nah, mulailah ia banyak beraksi dengan sebagai pecundang mengganggu kedua kakaknya yang tampil rada kalem. Lebih-lebih Kak Yo sering dibuatnya menangis,tentunya banyak mendapat marahan dari saya. Meski terlahir sebagi anak bontot alias bungsu namun keadilan saya tegakkan. Setiap sesuatu baik makanan atau mainan selalu mendapat porsi yang sama. Siapa yang nakal, usil akan mendapat hukuman, terutama bagi YoAnDo yang tidak mematuhi peraturan yang telah saya buat seperti jadwal bermain game, mencuci sepatu, mencuci tas sekolah bila hari minggu tiba. Mengenai hukuman untuk anak-anak bukan hukuman fisik melainkan terkurangnya jatah waktu untuk bermain game PS (one) atau berkurangnya uang saku yang menjadi ladang untuk menabung dan mereka akan membeli sesuatu yang telah diinginkan.

Mereka pun hadir sebagai anak yang patuh bila tiba saatnya mengaji tiba selalu duduk manis walau kadang seraut wajah lelah hadir menyelinap. Lebih-lebih kala bulan Ramadhan datang untuk berpuasa juga tadarusan, menjadi ajang yang ditunggu karena siapa yang rajin datang dan mengaji tadarusan akan memperoleh bonus dari bapak DKM masjid. Bersyukur masa kecil mereka hidup di Jambi yang jauh dari hingar bingar namun akrab dengan surau menjadi bekal yang Insya Allah akan berguna saat ini juga mendatang. Percakapan ala Upin dan Ipin membuat anak-anak suka bernostaligia saat tinggal di Sumatra.

Bertambah usia, Edo pun sudah tidak mengganggu kakak-kakaknya lagi. Ia lebih suka membaca Doraemon, Detektif Conan, bahkan buku favorit bersama yaitu Tiga Anak Babi pun dibaca sendiri sambil senyum-senyum sendiri. Kak Yo dan Edo hampir memilki kesamaan dalam hobby, mungkin dalam naungan zodiak yang sama Capricornus. Lebih banyak mengaluangkan waktu di dalam rumah. Dan sangat berbeda dengan Ryan seiring waktu berjalan, Ryan yang semula pendiam sekarang malah sering melakukan aktivitas di luar rumah bergabung dengan beberapa teman barunya setelah kami berpindah tempat menempati rumah sendiri di daerah Sipin (STM Atas).

Sejak masih di Jambi minat akan urusan dapur pun sudah nampak sejak menginjak bangku sekolah dasar, mungkin sebagai anak bungsu yang sering banyak waktu bersama saya di dapur akhirnya sedikit demi sedikit paham urusan dapur. Edo bisa membuat dadar telur dan pisang goreng makanan favoritnya bisa melakukannya sendiri. Suatu hari saat saya asyik mencuci pakaian dengan tenaga manual, Edo kecil dengan sepeda kesayangannya bergegas menghampiri saya, seraya berkata,"Ma cepetan ke rumah Bu Hakim ada Ibu-ibu pada ngumpul, ada panci ajaib, Ma."

Katanya lagi panci itu bisa bikin kue, bisa bikin masakan, enak cepat dan ajaib. Selain itu bila Edo diberi tugas yang berhubungan dengan rumah tangga lebih tanggap dibanding dengan kedua kakaknya. Saya pun merasa tenang saat meninggalkan rumah bila ada Edo di rumah, pasti sebagian pekerjaan rumah tangga seperti mengangkati jemuran atau menyapu pasti beres. Bukan berarti kedua kakaknya tidak peduli. Mereka peduli dan perhatian pada porsinya masing-masing. Itulah YoAnDo harus tahu apa yang akan dikerjakan bila saya jatuh sakit. Mereka saling berbagi walau kadang terdengar suara-suara kecil ribut memilih pekerjaan teringan. Setiap anak memilki karakter yang berbeda meski dilahirkan dari satu rahim yang sama.

Bertambah umur, ternyata Edo tidak begitu sehat seperti perkiraan semula. Dari YoAnDo ternyata Edo-lah yang mewarisi penyakit asma saya, selain itu sekitar 2006-2007 Edo menjadi pasien RS.Harapan Kita karena ada masalah dengan jantungnya yang baru diketahui setelah duduk di bangku sekolah menengah pertama di Bogor. Bukan kami berduka namun malah bersyukur bahwa penyakit itu cepat diketahui dan segera diatasi dengan berobat berjalan setiap hari Selasa selalu kontrol ke Jakarta.

Banyak pengalaman yang didapat dari belajar sabar saat kemacetan atau menunggu antrian panggilan yang ternyata banyak sekali anak-anak dibawah usia Edo yang menderita penyakit jantung lebih berat.Meski Edo sudah SMP tapi masih digolongkan usia anak-anak.
Wajah-wajah mungil pias tanpa warna kulit yang cerah menghiasi ruang tunggu.
Wajah-wajah pucat pasi itu ada yang berceloteh, ada pula yang larut dalam rintihan karena mengalami beberapa kali operasi sejak dilahirkan. Bertukar cerita sesama orang tua mengurangi beban bathin dan menjadi ladang inspirasi untuk saya. Kadang kami bertemu kembali dengan pasien yang senasib itu-itu juga, hingga seperti jumpa kawan lama dan tentunya menanyakan kondisi masing-masing hasil dari pengobatan berjalan.

Waktu itu ibu dokter yang menanggani bernama dr.Poopy tiba-tiba dikunjungannya yang sekian kali menyatakan Edo sudah baik dari semula, dan kontrol bisa dilanjutkan dengan dokter setempat. Alhamdulillah. Hikmah dan kaya pengalaman yang pastinya dan Edo bukan tipe anak yang berkecil hati karena selama dalam perjalanan tempuh Bogor-Jakarta kami berdua selalu tak lepas dari gelak ketawa. Ia selalu bilang pada saya bahwa," Mama itu lucu."

Begitu pula saat beberapa waktu lalu Edo mengalami musibah terjatuh dari motor dan mengalami beberapa luka dan memar dan sempat ada jahitan di dahi kirinya. Melihat kondisinya yang sangat berbeda sekali dengan Edo kecil gemuk dan nggemesin, Edo remaja kurus dan nyaris tulang belulang saja dengan banyaknya luka di sana-sini, sangat memprihatinkan. Namun sekali lagi two thumbs buatnya karena tak nampak wajah sedih. Saya pun selalu mengingatkan bahwa rejeki dan musibah itu datangnya dari Allah dan kita tidak boleh berburuk sangka kepada-Nya. Bila kita berserah diri dan ikhlas semua akan cepat berlalu dan dalam sakit pun tak lepas dari senyum dan tawa. Berbahagia-lah Edo yang banyak memiliki banyak teman, dua kakak yang sangat sangat sayang dan humoris, karena hidup tanpa saudara dan teman adalah sepi dan gersang.

Walau tanpa kue tart, tanpa kado, dan pernak-pernik ulang tahun serta seremonial seperti waktu tinggal di Jambi dulu, namun setiap hari tetap sebaris doa mengalir. Kemarin, hanya nasi gemuk (uduk) dan lauk pauk sederhana dan es coktail cukup meramaikan jadwal les private yang kebetulan bertepatan dengan ulang tahunnya, saya rasa cukup menghibur.

Hanya kepada-Nya kita panjatkan segala pinta dan semoga ulang tahun kali lebih banyak bermunajah mengingat ujian demi ujian sudah diambang pintu. Dan kenangan meniup lilin bersama YoAnDo seperti tahun-tahun yang berlalu tinggallah cerita yang akan menjadi kenangan berharga. Saya bersyukur memilki anak-anak yang kadang waktu menjadi teman bicara seperti sahabat, tanpa mengurangi kadar jalinan seorang ibu kepada anak-anaknya. Mereka adalah anak-anak yang dengan lucu dan kenakalannya masing-masing dan kini menjadi kenangan indahnya masa kanak-kanak itu. Sekarang ketiganya pada proses mencari jati diri. Dua kakaknya tengah menimba ilmu di perantauan, menyusul Edo nantinya. Berjuang meraih cita-cita untuk bekal menyosong masa depan yang gemilang. Semoga...

Sekali lagi buat Edo anak bujel-ku :

Selamat Ulang Tahun
SmOga menjadi anak yang sholeh,
sehat dan selalu dalam lindungan Allah
Jangan lupa bersyukur dalam keadaan lapang dan sempit. dalam suka dan duka
Dan..smOga tercapai segala angan,cita dan mimpi-mu
PF : 16 Januari 1994-2011


Salam,
mOther
Posting Komentar