Rabu, 14 November 2012

My Journey Two Weeks (4)

Episode "Dandelion dalam Rindu"

oleh Arie Rie Rachmawati pada 14 November 2012 pukul 9:22 ·


Achmad Basuki - Syira - Arie Rachmawati

Rabu, 14 -11-2012
Tanggal hari ini seperti sebulan yang lalu, saat saya berencana ingin menemui tokoh-tokoh yang telah menginspirasikan saya menulis cerita pendek berjudul, "Dandelion dalam Rindu," yang telah dimuat di majalah (remaja) STORY pada edisi 22, terbitan 24 Mei-25Juni 2011 lalu. Mereka itu adalah, bapak Basuki (Achmad Basuki/Ki Suki), mbak Widya dan adik Syira.   Unik hal ini terjadi karena saya membaca obrolan (thread) kolom komentar di wall Ki Suki.

Waktu itu beliau sedang menyelesaikan study-nya di Universitas Saga-Japan, sekitar 4 tahun lamanya. Disitulah inspirasi itu muncul. Kami sama-sama suka bunga Dandelion. Saya malah tahu hal tsb karena memang saya nggak tahu nama bunga tsb. Lalu kami berdua berlatih 'graffiti' salah satu aplikasi di facebook yang membuat saya rajin belajar. Achmad Basuki itu teman semasa sekolah menengah pertama di Jember, teman kelas sebelah. Dia sekelas dengan Nanang Keceng (baca : di My Journey Two Weeks "Episode Tertular Virus) dan Fransiscus Ario Praseno teman bermain musik (jadul). 

Jumpa pertama dengan Ki Suki, di Stasiun Gubeng. saya yang ditemani sohib sekelasnya dari kelas 3B, si Nanang Keceng (NK)
 mungkin ini semacam reuni dadakan di stasiun pula. Usai berfoto-ria, si NK pamitan akan meneruskan perjalanan menjumpai teman yang lain, saya diajak jalan-jalan di teriknya yang panas Sorbeje (baca :Surabaya). Ki Suki mengenalkan semua anggota keluarganya, saya sangat menunggu bisa bertemu dengan Dik Syira yang membuat saya jatuh hati dengan barisan poni dan pipi chubby nya (dulu masih usia 2 tahun), kini berusia 6 tahun. Dik Syira agak kurusan dan mulai tinggi badannya (masa pertumbuhan). Laki-laki berkaca mata minus tebal ini sangat humoris, memiliki keluarga yang familiar meski saya sebelumnya semuanya. Namun secara perkenalan suara lewat udara (baca : interlokal) beberapa tahun yang lalu, berlanjut ke jumpa darat maka lengkaplah pertemuan siang itu dengan menikmati sajian dari Rumah Makan SAS di Surabaya. 

Soal menu saya ngikut  aja, bukan karena makanan tetapi karena kebersamaannya itu yang mahal dan sangat istimewa. Di tengah obrolan saya meminta Ki Suki (Achmad Basuki) mau berfoto dengan memamerkan postingan cerpen yang termuat di majalah STORY itu. "Matursakalangkong nggih Bas," ucap dalam batin .  Jujur ada rasa haru menyeruak, meki itu hanya fiksi namun saya benar-benar merasakan kedekatan antara bapak dan kedua putrinyaCerita pendek berjudul,"Dandelion dalam Rindu," itu adalah cerita remaja yang berkisah tentang kecemburuan sang kakak kepada adiknya. Dimana seorang bapak tampil sebagi single parent, mencoba menyelami hati putri pertama nya yang tengah remaja dan merasa kepergian Mamanya dikarenakan kelahiran adiknya itu. Sang kakak menemukan teman chatting yang membawa keperubahan karena sama-sama menyukai bunga Dandelion. Bunga rumput kering yang sering dianggap remeh karena liar tak terurus namun sebenarnya sangat indah. Bunga dandelion dan bunga Chrysanthum adalah dua bunga yang membuat saya jatuh cinta.

Duh, perasaan jatuh cinta melulu. Memang jatuh cinta itu indah dan membuat semangat hidup seperti warna pelangi cerah dan ceria. Bagi saya pribadi jatuh cinta pada satu keluarga mereka adalah anugrah, karena saya nggak mengenal sebelumnya. Menu makanan kini tersaji di meja makan. Saya lupa nama menu saya dan menu mereka, yang ada dipikiran saya adalah rasa senang, karena saya mendapatkan beberapa kartu pos yang pernah dijanjikan oleh Ki Suki sewaktu masih di saga, namun keterbatasan waktu hingga Ki Suki kembali ke Indonesia tepatnya di Surabaya. Kini Ki Suki menjalani profesinya menjadi seorang dosen politeknik elektro - ITS. Teman belia saya itu hebat, selain menciptakan mesin pembuat puisi, juga mengajar fotografi bahkan menawari saya sebuah impian yang pernah saya cita-citakan. semoga niat dan semuanya mendapat ridhonya. Berita bahagia itu, sangat special hingga saya hanya berucap syukur dari relung bathin.

  

Setelah menikmati makanan siang dengan nikmat, saya bersama ibu Basuki juga anak-anak menjalankan sholat Dzuhur. Ada yang aneh, air wudhunya terasa asin sekali. Pertama saya pikir lidah saya yang aneh, ternyata dibenarkan oleh beliau. Disela kami akan meninggalkan rumah makan itu, saya mendapat telephon dari saudara sepupu bernama Denny Kastrianto. Kebetulan secara pertemanan di facebook, antara Ki Suki dan Denny sudah akrab melalui beberapa komentar, pertautan kata secara alam maya itu lebih dahsyat karena keduanya menyukai puisi dan foto.

Keinginan untuk bergabung yang bermula ditunggu di rumah makan, hingga acara selaesai tetapi belum juga menongol akhirnya beralih lokasi ke halaman rektorat kampus ITS.        
  Waduuhh, malah lebih parah dari yang pertama pertemuan di Stasiun Gubeng. Ya begini adanya saling menyempatkan waktu untuk saling menjaga ukhuwah pertelian silaturahmi. Antara saya dengan Denny pun terakhir bertemu sekitar enam tahun lalu, saat mereka mampir di rumah kontrakan saya di Bogor. waktu itu saya baru pindah ke Bogor. Di halaman (tempt Ki Suki hunting gambar) kami saling memperkenalkan diri, antara ibu Basuki dengan Dina istri Denny, yang kebetulan membawa putri sulungnya bernama Naning. Obrolan sambil berpotret dan berdiri ala kadarnya, tak berlangsung lama karena saya harus bergegas menuju stasiun Gubeng lagi. Di ujung perpisahan yang nggak layak kami mengakhiri dengan peluk kehangatan, Kali ini saya diantar Denny sekeluarga menuju stasiun dimana Nanang Keceng sudah menunggu saya untuk melanjutkan perjalanan kebmali ke Jember.

14-10-2012/14-11-2012,
Saya baru menuntaskan tulisan ini. Sebulan tanpa terasa berlalu. Serasa saya ingin menikmati saat itu, ya perjalanan Surabaya-Jember (PP) dan semua canda tawa bersama keluarga Ki Suki dan Keluarga Denny, semoga kedepannya Allah SWT memberi izin kembali untuk mengulang kisah indah. My Journey Two Weeks Episode "Dandelion dalam Rindu", ini saya akhiri. Untuk temans yang ingin membaca cerpen saya itu bisa dibongkar blog saya http://rachmarie-riritemaram.blogspot.com atau di kumpulan note facebook  ini, atau juga tunggu kumcer saya terbit dimana "Dandelion dalam Rindu" tsb terpilih sebagai cerpen utama. Cihuuuuyy....!!!

Sekali lagi terima kasih tak terhingga buat Ki Suki dengan keluarga atas jamuannya dan kartu posnya,
buat Denny sekeluarga yang repot-repot menemui saya (tretan dhibik) dan mengantarkan ke stasuin Gubeng dan
buat Nanang Keceng yang menemani perjalanan dan menuturkan kisah indah. Jazakumullahu khairan taksiro.

NB : Mohon maaf buat temans lain yang belum sempat saya kunjungi karena keterbatasan waktu dan jadwal perjalanan saya,
terima kasih atas pengertiannya. 

Selamat 1 Muharram 1434 H
Selamat Tahun Baru Islam, semoga kita sebagai kaum muslim bisa menjaga ukhuwah ini hingga akhir jaman.



Salam,
Arie Rachmawati
Bogor, 141112 / 9:09 AM






G A L E R I  F O T O









Selasa, 13 November 2012

My Journey Two Weeks (3)


My Journey Two Weeks

oleh Arie Rie Rachmawati pada 13 November 2012 pukul 19:00 ·

Episode Pantai Papuma



Nama itu menjadi akrab setelah putra saya (kedua) bernama Ryan, bertandang ke pantai itu bersama pakdenya yaitu, mas Hadhie. Selain info dari Ryan, saya pun sudah kesemsem sama postingan foto milik mas Hadhie. Dalam hati harus ada target kesana, kebetulan pas sebulan yang lalu, Sabtu 13 Oktober 2012, saya berduaan dengan mas Hadhie menuju daerah Ambulu-Jember-Jawa Timur. Sepanjang jalan langit cerah, bahkan warna jingga ke-oranye-an memenuhi langit sore. Sesekali mas Hadhie menengok ke arah langit, lalu dipacunya kendaraan roda dua itu. "Mengejar Sunset," gumamnya.

Di atas sepeda motor Tigernya, saya teringat lagu "Cakrawala Senja," nya Fariz RM..." termenung ku kagumi cakrawala senja nan merah merekah, berbaur warna lembayung pesona jiwa indah merona, merasuk sukma, membentang kurnia dewata, menaburkan sejahtera, lukisan alam, berderai  melambangkan damainya"

Saat memasuki gerbang utama bertuliskan,"Selamat Datang Ke Wisata Pantai Papuma," saya melihat dari kejauhan pepohonan kurus kering kerontang. Dan benar saat sangat dekat, nampak jelas seperti pohon telanjang bulat, tanpa satu pun daun menempel. Menurut saya sangat indah serasa berada di benua lain, pada musim gugur. Pepohonan tsb mengingatkan pada beberapa gambar coretan iseng saat luang, saya suka pohon dan ranting. 
 

Pohon dan Ranting
by Arie Rachmawati

musim kemarau memanjang
sepanjang musim dedaunan gugur
akar mengais air sampai ke perut bumi
mengharap hujan turun
tak pernah datang
seakan lebih suka menggantung di langit
tertahan oleh awan mendung

pohon dan ranting
seperti tangan gemulai penari
pemuja hujan dengan ritual adat istiadat
menari-nari mempermainkan jemarinya

pohon dan ranting
seperti tubuh telanjang
berdiri dan meringis
namun nampak indah
biar pun kemarau

pohon dan ranting
tetap menawan
terukir dalam slideshow gambar-ku
lalu aku jatuh cinta...

Medio : 13-11-2012
3:34 PM


Di antara pepohanan yang kering krontang itu, ada beberapa rumput hijau dan semak-semak subur. Hijaunya meneduhkan, rimbunnya menyejukkan. Perjalanan berlanjut hingga melewati jalanan aspal yang mulai terkikis, hal ini tentu bisa membahayakan para pengguna jalan, terlebih bila hujan turun. Mengingat jalan tsb adalah jalan utama, mungkin pihak pengeolah wisata ini mulai memperhatikan keamanan dan kenyaman pengunjung. Jalan melingkar-lingkar, naik turun, akhirnya bau air laut tercium oleh hidung saya. Sore yang indah, saat para nelayan dan perahunya merapat, menambatkan jangkar dan berlabuh. Perahu-perahu itu mirip pasukan pedagang jaman penjajahan yang ilustrasinya ada di buku sejarah. 

Riuhnya para nelayan seperti rayuan angin senja membawa saya turun ke laut. Ke tepian pantai, lalu saya membiarkan  kedua kaki dipermainkan deburan ombak. Buih-buih nya yang nakal mulai ramah bila ke tepi pantai beralas pasir putih. karang kecil dan tumbuhan laut yang terbawa arus bersandar ke bibir pantai. Sungguh indah bermain air laut, sudah lama sekali saya melewati masa seperti itu masih kanak-kanak. Di pasir putih ini saya merasakan kebebasan, meloncat berkali-kali ke udara, serasa saya melayang. Jadi ingat sebuah judul lagu lawas milik R Kelly, "I Belive I Can Fly."  Beberapa kali take serasa ringan melayang ke udara, padahal lihat sendiri sambil meloncat saya tak pernah lepaskan gembolan ha ha ha. Sore nan indah, kemudian, kami berdua beranjak, meninggalkan dataran rendah menuju tempat yang lebih tinggi dengan tujuan masih sama, mengejar sunset.

Jujur saya takut ketinggian, namun karena berpikir kapan lagi bisa seperti ini, ya sudah saya kuat-kuatin berada di atas dataran yang tinggi. Ngeri sih, tapi tertantang juga, bergaya la fotomodel walau setengah terpaksa. Mas Hadhie menawarkan untuk menuruni tebing, waduuh  pikir saya kalau terpeleset bakalan jadi iwak peyek nih. Nggak-lah, cukup bagi saya menikmati panorama senja di atas tebing, keren dan Subhanallahspeechless tenan deh! Alat membidik sunset sudah standby, lengkap dengan tripotnya, namun sayang tiga kali penampakan sunset merah jingga merah merona tiba-tiba tertutup awan kelabu. Awan itu seakan merengut dan membawanya lari, alhasil kami gigit jari. Aaarrggh....!!!


Pantai Papuma bersebelahan dengan pantai Watuulo yang lebih beken dari jaman dahulu. Tetapi keeloknyan sangat jauh dari pantai Watuulo yang mulai terkikis batu berbentuk ular naga panjang (raksasa) itu. rasanya nggak percaya, saat saya mengambil gambar batu berbentuk ular itu, legendanya masih teringat di memori otak saya. Terakhir saya melihat bebatuan panjang itu saat sekolah menengah pertama bersama keluarga. 


Pantai Watuulo terdiam sendiri menyelami irama gelombang samudra di temaramnya senja. Burung camar pun tak nampak lagi di langit sore. Sepi dan mulai dingin menerpa tubuh, dan kami bergegas meneruskan perjalanan pulang seraya mengucap salam perpisahan, entahlah kapan saya bisa kembali ke sana. Bau harum ikan bakarnya belum sempat dinikmati, gubuk di atasnya tebing pun sempat menggoda saya, belum terjajaki. One day in my life...mengalun samar-samar dan deru motor pun mengikuti, kembali ke kota Jember. malam pun menyambut kami berdua di rumah Mama, di Milinia Mangli.


Salam,
Arie Rachmawati
Medio, Bogor 13-November-2012


G A L E R I  F O T O

Catatan : Semua gambar foto karya saya Arie Rachmawati 
dengan menggunakan BB tipe Curve 9320 dan Camera SONY -14.1







Suka ·  ·  · Bagikan · Hapus




You & Me .... My first love



Buku tulis ini saya beli sudah lama, lihat saja covernya rada jadul. Tetapi buku tulis ini baru saya tulis, menyalin beberapa puisi sahabat yang mulai menyukai menulis puisi. Dia bilang ini semua gara-gara saya, membawa virus jadi ikutan puitis.

Hmm...sebenarnya bukan karena saya, tetapi karena dia sendiri-lah. Meski saya dinobatkan sebagai pembawa virus, bila ybs tidak mempunyai jiwa seni (pujangga) saya rada sebaris kata pun nggak akan tercipta.

Saya hanya diam saja, saat dia ngedumel tetapi tetap menulis puisi hingga tuntas dan merasa sudah terbebas virus, namun toh akhirnya dia menulis kembali malah bisa menjadi sebuah cerita pendek.

Berdasarkan email yang saya terima (tadi siang) dia bilang,"Ini yang terakhir, Arie!, Kamu jahat, menjengkelkan!"  Bagi saya, apapun itu omelannya saya anggap angin siang hari yang membuat mata mengantuk dan ingin terpejam, padahal saya harus menyelesaikan ketikan mengejar 'deadlines." Seru banget beradu pendapat sama dia, serasa kami kembali muda dan masih berseragam biru-putih.

Bahkan saya sendiri berdecak kagum saat saya menerima email yang berisi puisi dibawa ini, saya belum bisa membuatnya walau menurut dia saya ini sangat puitis dan pujanggi (pujangga kan buat kaum Adam).
Dia seorang seniman, bahkan lingkungan tempat tinggal bahkan tempat nya bekerja pun tak mengetahui bahwa seorang berjiwa 'rOckOn' berada di sekitarnya.



"Sujud Untuk Kekasih"
by Nanang Keceng

tertidur pulas
dalam mimpi
ku bersujud
pada Kekasih

Maha Suci Tuhanku,
dari segala kekurangan
dari hal yang tak layak bagi mu
Maha Suci Engkau Ya Allah
aku memuji Mu. (1)

Ya Allah, ampunilah dosaku.
Engkau Tuhan Yang Maha Suci, Maha Agung,
Tuhan Jibril dan para malaikat lainnya (2)

Ya Allah,
hanya untuk Mu aku bersujud,
pada Mu aku mengakui,
bagi Mu aku menyerahkan diri, (3)

wajah ku tersungkur pada Yang menciptakan ku
yang membentuk rupa, telinga,& penglihatan (4)

Maha suci Allah sebaik baik Pencipta.
Maha suci Tuhan pemilik
Keperkasaan, dan Keagungan (5).

Ya Allah, ampunilah seluruh dosa ku
yang kecil atau besar, tlah lewat dan kan datang,
ku lakukan dengan sembunyi atau terang-terangan(6)

Ya Allah, sesungguhnya aku ber-lindung pada Mu
atas  keridhaan Mu agar selamat dari kebencian Mu,
dengan keselamatan Mu aku terhindar dari siksaan Mu.(7)

            aku tidak membatasi pujian untuk Mu.
demi kebesaran dan keagungan Mu
seperti pujian Mu pada diri Mu sendiri (8)      

Maafkan aku Tuhan
jika, terlalu sayang dp dirinya
sebab pada Mu dia pun mengadu                     
seperti aku merindukan Mu
padanya janganlah Kau cemburu

NK -  tengah malam 11-11-2012

note:
doa diatas disarikan dari macam2 doa dlm sujud: 
1) Shahih At-Tirmidzi 1/83. 
2) HR. Al-Bukhari dan Muslim, Bab Doa Ruku'. 
3) HR. Muslim 1/533, lihat no. 35. 
4) HR. Muslim 1/534, 
5) HR. Abu Dawud 1/230, 
6) Shahih Abi Dawud 1/166, 
7) HR. Muslim 1/350, 
8) HR. Muslim 1/532.      


Virus dalam Mimpi
by Nanang Keceng


angin kering pantai
batu karang membelai
ombak berlari
membawa buih menuju tepi

pasir putih
hamparan mimpi
virus dalam diri
meradang pergi

kekasih hati
jangan bersedih
mekar bersemi
telah terjadi
                                                                                      
jejak-jejak kaki
kepiting2 kecil meniti
menggali sisa2 duri
kepala ikan tenggiri

samudera luas
sejuta arus
menelan virus
di dasar laut

nanang keceng
minggu 11-11-2012

note:
terima kasih Tuhan……
diberi anugrah virus di hati
walau Kau titipkan 
pada sahabat yang ku sayangi

terima kasih sahabat
virus mu telah pergi
bersemanyam bersama mimpi
di jurang laut tak bertepi

usai kisah perjalanan virus ku ini
tenggelam menuju dasar bumi
dan tak mungkin lagi ku temui
walau harus di selami



Selasa, 30 Oktober 2012

My Journey Two Weeks (2)

oleh Arie Rie Rachmawati pada 30 Oktober 2012 pukul 17:29 ·


Episode "Tertular Virus"

Sosoknya sedikit misterius, kerena sengaja menjauhi pergaulan. Apalagi membuat akun facebook dan sosial media lainnya.Tapi sebenarnya laki-laki berkaca minus itu nggak sependiam pendapat teman sekolah semasa SMA-nya.Nanang Keceng aku menyebutnya atau Nanang Tumin, teman-teman di kelas Biologi 2 SMAN1 Jember 1984-1987 memanggilnya, sebenarnya sangat periang, banyak cerita dan selalu bergerak dinamis. Untuk sebutan terakhir hanya kiasan saja, karena menurutku ia nggak pernah bisa diam bila berada didekatku. Muter-muter, lalu duduk kemudian berdiri, menyalakan sebatang rokok sebelum habis sudah dimatikan, nanti dinyalakan lagi lalu diisapnya.

Sekarang hidupnya lebih untuk tabungan akhirat, bukan seperti anggapan beberapa teman semasa sekolah kemisteriusan-nya dalam dunia hitam. Sekali lagi ia yang tersimpan di memoriku semasa sekolah menengah pertama sangat berbeda dengan pendapat teman kebanyakan. Yang jelas lagi ia berjiwa seni, ia bisa bermain beberapa alat musik, bisa melukis (sstt katanya belajar sama teman sekelasnya masa SMP, Achmad Basuki), bisa karikatur dan yang terakhir piawai bikin puisi. Yuk simak beberapa puisi dan hasil coretan tangan-nya yang diberikan untukku saat kami berjumpa di Jember, beberapa waktu lalu.

Aku dan Layang-layang
by Agus Rachmad Hadi 

Di ranting kering tersangkut layang-layang
benangnya berurai melilit dahan
terik mentari membuat tanahnya gersang
cinta dunia membuat cemburunya Tuhan

di halaunya rasa itu membuatku tenang
hanya tersisa rinduku pada pencipta bintang
bagai layang –layang yang putus dari benang
kemanapun angin menerpa disitu aku senang

tak kusangka ada tangan lembut meraih benang
yang dulu gadis ayu berbaju putih biru,± 23 th lamanya berselang
sambil meloncat kegirangan mengapai layang-layang
oh mungkin hendak ia mainkan

aku tatap ia dari kejahuan
disela-sela rel gerbang kereta
dibawanya layang-layang itu dalam pelukan
entah apa yang membuatnya sangat ceria

saat itu juga seolah Tuhan berbisik
janganlah kau jadi layang-layang
namun jadilah pembuat layang-layang
agar dapat membahagiakan semua orang

Tuhan
aku tau dikotanya sering turun hujan
maka izinkanlah kubawakan esok nanti
layang-layang berbalut plastic
dengan warna ungu, berajut merah hati

nanang keceng
16 Ock 2012


”…♪♫♫♪ ♪…”
by Agus Rachmad Hadi 

entah kenapa……..
nama itu menari dipikiranku
buat prasaan sedikit terganggu
karna namamu pernah ada di saku bajuku

entah kenapa…….
saat jumpa pertama
bunga itu tak seindah warnanya
kutabur senyum disrambi rumah
sekedar pelepas rindu semata

entah kenapa…..
gelora hasrat mengusik jiwa
ungkapkan dengan bahasa cinta
rasanya hati ingin bicara
tapi slalu tak perdaya

entah kenapa……        
kisah lama sering kau buka
saat kita berjalan berdua
membelah angin menerpa
membawa kenangan indah

entah kenapa……..
dinding hatiku seakan runtuh
kala ku tahu kau tlah jauh
untung saja senyummu masih kusimpan
dalam dekapan kedua tangan

entah kenapa………..
ingin kubuat sebait lagu
sebagai tanda kasih sayang ku:
  “heningnya malam kian mencekam
   duka hati semakin mendalam
   kala ku dengar melodiku tenggelam
   dibalik kisi bayang-banyang
   wajahmu hadir terangi seluruh ruang
   membawa sejuknya hati yang gersang”

nanang keceng
21 oct 2012


Ternyata lima puisi nggak cukup dibuatnya (untuk gadis dari kelas sebelah semasa SMP-nya( yang dishare 3), akibat tertular virus dariku (katanya)
Ia menitipkan satu puisi (tanpa judul) buat gadis manis nan lugu di kelas semasa SMA-nya. Ternyata dunia itu selebar daun jeruk purut, kata seorang sahabat berbisik padaku. Mungkin banyak teman heran, kenapa aku akrab dengan gadis dalam puisinya itu.

Itulah takdir, meski aku dengannya tidak satu sekolahan bahkan hanya menjadi teman satu bimbingan belajar menjelang ujian masuk ke SMA jadul, aku kini akrab dengannya karena kami banyak persamaan dalam menjalani kehidupan setelah masing-masing berkeluarga. Puisi tanpa judul akhirnya lahir dari kesenggangan waktunya si seniman jangkung itu.


dari aku kutitipkan kepada arie rachmawati, 
untuk nsn

jika ku dengar nyanyian merdu
kicau burung mendayu
semilir angin kutitip kan rindu
biar sampai di depan pintu hatimu

kertas ini ku persembahkan pada mu
gadis manis berwajah lugu
teman sma, satu kelas ku

kubawakan dari ujung mimpiku
kenangan lama kuserahkan lagi pada mu
agar tersingkap layar abu-abu inginku

kau bagai laut membiru
gelombang riuh dalam khayalku
terombang-ambing ditepi asa
untuk menyatakan rasa

tiga tahun tak cukup bagiku
untuk melukiskan wajahmu
tiap kali ku mulai
slalu ada yang mengganggu

hingga tiba waktu itu
saat kau tuliskan namamu
sbagai tanda pisah di dadaku
hingga kini kusimpan di album fotoku

namamu kukenang
bersama camar bernyanyi riang
lewati pantai menuju sarang
hatiku damai jika kau senang

anang tumin
26 oct 2012



Bila senja merangkak pergi
swara shyahdu nenganyun menembus kalbu          
gemetarlah sluruh dinding jiwa ini   (ciri orang yg mecintai Alloh QS. Hajj  ayat 35)
sapaan mesra Mu membuatku malu                        

Bila temaram datang menghampiri                         
ada seberkas harapan yang aku tuju                       
bersimpuh bersama merindukan mimpi                  
tersungkur wajah ku dihadapan Mu                         

Bila gelap membungkus bumi                     
butiran air meleleh disudut mata                             
belaian tanganMu, lembut tawarkan jasa                
namun tak kuasa aku meminta                               

Bila fajar merajuk cakrawala bumi
kabut dan embun menyambut pagi
lembaran kertas hidupku siap menanti                   
mengores rencana Ilahi yang akan aku jalani         


demikian ini dibuat karena aku sudah tertular virus (yg dibawa) sahabat lamaku
dengan masa inkubasi / bekerjanya bakteri virus terebut (hanya) tiga hari saja langsung terjangkit lah aku,………………..

nanang keceng
sore, 17 ock 2012

Semua ini adalah ungkapan sebagaimana kami bertiga ternyata satu ikatan cerita tanpa harus menjalin asmara semasa sekolah.
Nggak ada kisah cinta di sekolah, nggak yang terluka, nggak ada kisah pahit karena semuanya belum terucap apa-apa.
Senangnya menemukan kepingan puzzle yang telah aku temukan perlahan tapi pasti.
Senangnya berbagi indahnya masa sekolah yang kini terpisah oleh jarak dan tempat.

Semoga catatan ini membuat teman kembali mengingat sosok Agus Rachmad Hadi atau Nanang Keceng atau Nanang (Anang) Tumin.
Dan semoga ia menemukan dunia seni-nya kembali di tengah-tengah ia bermunajah mencari kebahagian hidup dunia-akhiratnya.

Mohon maaf sebesar-besarnya, apabila teman semua ingin berhubungan dengannya, hanya bisa melalui-ku.
Untuk sementara begitu amanahnya. Silahkan menulis di inbox, nanti saya akan meneruskan kepadanya.
(emang rada misterius sih ssttt!)

Salam Kangen dari NK

My Note About Them

oleh Arie Rie Rachmawati pada 30 Oktober 2012 pukul 16:36 ·


Transcontinental Music
          By: Arie Rachmawati



Unique, it just started from my conversations with foreign musicians at the Modern Art Group on music with language limitations of each. However, due to the intensity of the musical language of communication eventually we became friends. Friendly through facebook, and glide CD's to my home.

I think that music is a language other than the world, the music without having to translate as much detail as possible for the layman, just focus on the rhythm of the song, mind and heart off following the bars, then we can be music lovers.

Obviously suit each person's taste. Incidentally fifth CD contains mostly instrumental and they were musicians from various countries with the ability to play each instrument to be able to create beautiful harmonizing tones. Music across continents, so I called it.

Unique, unique again, because the five compact discs that I know where each constant separately musicians and really did not know that they are friends. The five compact disc of jazz, blues, ballads really are:

         * Kazhargan World - Wonderful Times
         * Flow - duos trios quintets
         * Max Ridgway Trio - Blues And Curiosities
         * Max Ridgway Trio - Live At Borders
         * Max Rigdway - A Little Night Music
KAZHARGAN WORLD
 
 
(coverphoto by Tanya Truang /
design by maxim Aspirin Rymarev)

Written on light blue CD cover (navy blue) is the following musicians:
  • Stanislav Zaslavsky - Piano
  • Hans Peter Saletin - Trumpet
  • Cheryl Pyle - Flute
  • Max Ridgway - Guitar
  • Brian Mitchell Brody - Saxophone
  • Tony Cimorosi - NS Double Bass
  • Sean O'Bryan Smith - Electric Bass
  • Papa Z - Drums & Percussion
The 12 songs featured include:
  1. Wonderful Times
  2. Children Of The World
  3. Mayan Prophecy
  4. Other Constellations
  5. AfterTime
  6. Spirit of Discovery
  7. Invisible Celebration
  8. Live Under Water
  9. My Motherland
  10. Irene Was Here
  11. All Day Rain
  12. Cuban Snow
Poem and voice by Cheryl Pyle - Music by Stan Z
www.kazhargan.com
email :  zaslavsky@bk.ru

In chemistry I already know the familiar first song titled Wonderful Times either through Youtube account the pianist Stan Z and Max Ridgway  the guitarists often give a link to my facebook wall, long before the CD release. Then it was the one I listened to as a whole through the original compact disc does feel different. "I enjoyed!" Gentle rhythm is very fit to accompany a relaxing time while enjoying panoramic views of the fall of dusk slowly, correctly in accordance with its title track opener is Wonderful Times. Then the guitarist introduced me to the blower that Cheryl Pyle flute, which was expertly made the following poem:
K A Z H A R G A N ... a word of open gestures a word with no specific translation
open values in the meaning for us all to seek out find your own way
in songs of worlds born in heart sauna jazz. (Cheryl Pyle 10.29.2011)

On track number 4, Cheryl Pyle illustration lacks poetry reading his own flute, followed by another rhythm. Behind the CD, on the back cover says something like, "I express my gratitude and Admiration for my wonderful friends and musicians excelient: Hans Peter Salentin from Germany, Cheryl Pyle and Tony Cimorosi from New York, Sean O'Bryan Smith from Tennessee, Max Ridgway and Brian Mitchell Brody from Oklahoma. Thanks for their skill and devotion to music, good sensitivy, patience and love. "- Stan Z. This indicates that they are not contiguous but could produce a slick music. In this CD actually my attention focused on Papa Z or Aleksandr Zaslavsky, he is the father of the head of this group. Great!.
A trust of his I ever get some special link to see the father's skill are very fond of percussion and drum his tools. Father and son were musicians. Bravo! That was my introduction to a piece of light blue CD, picture sparrows lined the fence. Now I will introduce the CD sent from Obernbreit, Germany is "Flow" with the title "duos trios quintets"
F L O W


Art & cover design : Axel Weiss /
2012 by the musicians - worldwide
www.weiss-haenitsch.de/Ax.W.html  
www.weiss-haenitsch.de/AxW.html

Hmm. . . FLOW when translated means the flow, which probably meant is like flowing water. But not a barrier to listening 15 tracks packaged in an album titled "duos trios quintets". Of the six musicians on this album FLOW three of whom are musicians from Kazhargan World as Stanizlav Zaslavsky, Cheryl Pyle and Sean O'Bryan Smith. And the other three are, Arne Hioth (Oslo, Norway): trumpeth, Oddrun Eikli (Oslo, Norway): vocals, words and melody lines and Axel Weiss (Obernbreit, Germany): guitars and composing, rhodes piano.
Flow so wow, I honestly was not a bystander music but music lovers. So I listen to music so catchy that it will sway my head right-left to follow the rhythm of song. FLOW opening song on the album struck me as very energetic opener, welcome Cheryl Pyle voice greets the listener with his illustrations breezy flute sounding lead guitar Axel Weiis, others follow.

That's what I respond when listening to a song called "Let it go with the Flow", duration 4:54. Followed by the second track, I still do not know the vocalist named Oddrun Eikli, but so often hear their songs through fanpage Axel Weiss-Stan Z, Youtube, My Space or SoundCloud, I felt very familiar very soft melodious voice, reminds me of the sound The Groove singer, Rika Ruslan. The second song titled, "Autumnal" with typical intro Axel Weiss acoustic guitar, flute and voice trumpeth-end with tenderness Oddrun voice and guitar Axel.

F L O W , this is our intrinsic music - music for itself. We play to fulfill our love of music and heart tenderncy for original sound which range from free jazz improvisations to composed jazz ballads. We welcome you to listen.

Track list :
  1. Let it go with the Flow
  2. Autumnal
  3. Spontaneus Balladicity
  4. Little Things
  5. Dialogue in Blues
  6. Flavour from the Sun
  7. From Chaos to Heaven
  8. Spring
  9. Dessert in Heaven
  10. Sun Dance
  11. Islay Blues
  12. Oceanic Spheres
  13. Rocking
  14. Precious Energy
  15. Happy Tune

Well than 15 tracks, the most familiar to me is "Little Things and Springs", so very much household work I listen to their songs give a new color in everyday life. And to know more please contact or use it click http://www.facebook.com/media/set/?set=a.430130600366250.91958.100001079414192&type=3

Actual news:

"FLOW" is here - our new international and independent jazz album.
If you like to order our CD, please send a message to one of these mailadresses:
aw@weiss-haenitsch.de (Germany) or oddruneikli@gmail.com (Norway)

or click www.weiss-haenitsch.de/AxW.html
www.weiss-haenitsch.de/Galerievorraum.html

MAX RIDGWAY TRIO - BLUES AND CURIOSITIES



This CD comes with Kazhargan World, 4 days ago. When observed CD Max Ridgway Trio - Blues And Curiosities, recorded on May 7, 2008, that I just received the CD "A Little Night Music and Live At Borders" with the last recording in 2011. Well, I am grateful to know the new guitarist of Alva, Oklahoma - USA already mnedapat three CDs at once. This CD consists of three musicians: Max Ridgway (guitar) - Richard Martin (bass) - Tony Swafford (drums). The Cd contains :
  1. Heard It Throught the Grapevine (Barret Strong/Norman Whitfield)
  2. Chariots (John Scofield)
  3. Diotima's Strange Discoveries (Max Ridgway)
  4. The Dancin Jellyfish (Max Ridgway)
  5. The Nature Theatre of Oklahoma (Max Ridgway/Jason Franklin)
  6. See That My Grave Is Kept Clean (Blind Lemon Jefferson)
  7. The Lizard King (Max Ridgway)
  8. Turnaround (Ornette Coleman)
  9. Knockin' On Heaven's Door (Bob Dylan)
  10. Them Changes (Buddy Milles) / Born Under A Bad Sign (Albert King)
  11. In A Sentimental Mood (Duke Ellington)

Guest star named Jason Franklin, comes with a harmonica for the song "Knockin 'On Heaven's Door, and The Nature Theatre of Oklahoma", the two songs are rich play the harmonica, was instrumental. But in the song "See That My Grave Is Kept Clean", sounding vocals are the star, so very atmosphere lead to a settlement cowboy intro to the end, even the guitar Max Ridgway escape rhythms like jazz in Kazhargan World. I personally really salute to him who enjoy all genres of music.

I once wrote about in a previous entry entitled,"Ridgway Boston Performs Solo Concert."  There I deliberately asked the foreign correspondent to write more articles newspaper ran a story about him, and then I copy back in the Indonesian language and share in my blog also notes facebook. That's the reason why I am interested in American Caucasians, because he could get me a lot of knowledge and insight into the music, which I need to learn a lot to him, to anyone that I would learn. Because the study did not know the age and time.

As I write this, I have not listened properly eleven songs from the album "Blues and Curiosities.". However, two songs track 2 and track 3, are the songs that are familiar to my ears, through the CD before I had received.


MAX RIDGWAY TRIO - LIVE AT BORDERS


Cover foto by Roger Scott For booking information : maridgway@nwosu.edu


Around July 2012, for the first time I received a package containing a CD of Max Ridgway. Speechless and happy. I never thought I would receive the gift. Not only that, but he took me to a discussion of his music. Crazy! Who am I, why yes I am usually invited to a discussion about music. I was the only music lovers, not a musician or a music observers.

Okay, so say I agreed. Start the one I play the CD they will be, regardless of the composition of the songs in the album list.
From the first, until the end of the song I love the song, Ani't No Sunshine.  Both in CD titled, "Live At Borders or A Little Night Music." Older songs owned by Bill Withers turned in some versions remain caught my attention.So I asked permission to make a version of windows movie maker clip with my style.
Shoots beloved side dish arrived, he gave permission and let me make a clip with a song that I like. The difference in this album with the album "A Little Night Music", are all the songs on this album was recorded in a studio audience by including live shows, because every song sounds the end of the audience clapping. Although the same song, as Ain't No Sunshine, I was interested in her music make two versions. Other than that I'm interested in old songs of George Harrison, titled ,"Something."

The song is familiar ears, when I was a teenager, I think is very fitting to post photos once owned by Max Ridgway who display the shoelaces in various forms. Something is really something, I made a clip of her using Picasa 3, the clip shows the end it really is a song and a slideshow that something was the one, because it is packed with rhythm very slowly and blues jamming. Good to Something Max Ridgway version!.
Arrangement of 14 songs on the album Live At Borders, among others:         1. Scrapple from the Apple (Charlie Parker)
        2. Freddie Freeloader (Miles Davis)
        3. Master of War (Bob Dylan)
        4. Chariots (John Scofield)
        5. Is not NO Sunshine (Bill Whiters)
        6. Angel Eyes
        7. Ziphim (John Zorn)
        8. Herat it Trough The Grapevine (Strong / Whititfield)
        9. Blue Monk (Monk theolonius)
       10. Something (George Harrison)
       11. Diotima's Strange Discoveries (Max Ridgway)
       12. I Shot the Sheriff (Bob Marley)
       13. Isolde (Max Ridgway)
       14. A Little Night Music (Max Ridgway)      Recorded March, 2011 by Richard Martin
     mastered by Dave Skinner, Skinner Audio Serviices

M A X  R I D G W A Y - A LITTLE NIGHT MUSIC 


Inside photograph by Troy Brooks
Contact Max Ridgway at www.maxridgway.com


I first heard the songs on the album titled, "A Little Night Music", I fell in love with the last song is, "I Close My Eyes". Addition to the song Ain't No Sunshine which I mentioned above. Apparently after a chat around ngidul, my song choice is the latest song added to the composition of the new track list. Once again I reiterate, each listening to a new song that I just listen, (whatever that is) I accidentally let the mind, ears and feelings which I rolled find the songs that I like. And it turned out really led me to express, and will normally be followed further to make something shaped paper clips. Given my recent more enjoy making clips with limited applications, software and mood. Without feel I have made some clips for him, among other things:
Ain't No Sunshine (2 versions), Something, A Little Night Music, I Close My Eyes and Isolde. Last three tracks are original Max Ridgway, whereas random selection of songs when I was interested in making his clip. Thank you for your trust and Max Ridgway appreciates the opportunity.

Link to video clip of the song in the list above Arie Rachmawati Youtube account as follows:

http://youtu.be/lWKQIWXKuew - Ain't No Sunshine by Max Ridgway from album A Little Night Music
http://youtu.be/_ZuGKFvLy-s - Ain't No Sunshine by MR Trio from album Live At Borders
http://youtu.be/HBnLgad4Ydo - Something by Max Ridgway
http://youtu.be/Am3M7xc9BvY - A Little Night Music by Max Ridgway
http://youtu.be/dxTdkfJprM4 - I Close My Eyes by Max Ridgway from album A Little Night Music
http://youtu.be/h6e-WsOnA0Q - Isolde by Max Ridgway


In the songs on the album 'A lilttle Night Music' as follows:     1. BB Blues (Larry Coryell)
    2. Is not No sunshine
    3. Help (Lennon / Mc Cartney
    4. Bernie's Blues (Max Ridgway)
    5. Come Together (Lennon / McCartney)
    6. A Little Night Music (Max Ridgway)
    7. Isolde (Max Ridgway)
    8. I Close My Eyes (Max Ridgway)


I am very lucky to know them through social networking media, especially facebook. It all started with a friend of my brother named Mr. Yayan Wachyana who introduced to pianist from Russia, Stanislav Zaslavsky about a year ago. Then I was invited to join his group FB, and became acquainted with the painter, artist proof, cool again named Axel Weiss and eventually befriended guitarist from Alva Oklahoma, he's Max Ridgway the one I was friends with all of them. Amin, because my intention is to establish communication then all given the ease and smoothness.

Hopefully, as more and more of my friends from around the world, from a variety of languages and cultures. With this I was gradually introduced Indonesian music, the musicians, especially my idol Fariz RM, and later others (Montecristo and Moving On his Tono Supartono). And they gradually became interested in listening to our music, the music of Indonesia. Indonesia is very rich in culture and the arts may not merely in name only, this might be the way my little way for me personally still love the culture, the arts Indonesia, Cinta Indonesia.
Overall, I am a music lover who was not familiar with the rhythm of the blues, ever since I started to get to know Max Ridgway love blues music. Through music by Axel Weiss a confidentiality jazz ballade or in my little new to my ears, because the rich improvised instruments both acoustic guitar and the electric guitar that. Plus the distinctive sound  Cheryl Plye and Oddrun Eikli a new atmosphere. Then through his piano playing musician Stanislav Zaslavsky also another fifth CD eventually became my homework to see and enjoy when his leisure while performing routine tasks housewife.

No harm in accepting them, their music for our country. Not because I am a part of their friendship, and I applaud. Not because of that, but because of the music that brought me also they become part of the musical world.As I wrote at the beginning of this note, that music is the language of the world, it's the rhythm tone despite the communication link with the limitations of each. And Transcontinental Music notes, I end. Glad I could share and thank you so much for readers who have stopped by and read, and hopefully it helped to listen to their music.

Thanks to Stanislav Zaslavsky (Russia), Axel Weiss (Obernbreit, Germany), Cheryl Pyle (New York City), Oddrun Eikli (Oslo, Norway), and the artists in the Modern Art Group & Kazhargan World Jazz that has embraced me, and Thanks for evrything to Max Ridgway.

Bogor - Bandar Lampung, 28-29 October 2012
Regards,
Arie Rachmawati