Sabtu, 31 Desember 2011

Nyanyian Burung Chaveleh


oleh Arie Rachmawati pada 31 Desember 2011 pukul 18:25

Aslinya anak itu pendiam dan pemalu, tetapi bila tertawa terutama saat menonton drama komedi misal tayangan OVJ pasti ngakak nya seakan mengguncangkan ruang tengah. Paling asyik diajak diskusi dan curhat, bisa sambil makan, jalan-jalan kadang dilanjut dengan tidur-tiduran. Paling suka nonton film, dan ia adalah teman penikmat sehati.  
Siapa bilang punya anak laki-laki nggak asyik buat curhat? Nah, buktinya saya. Saat pertama ditinggal pergi, karena dia melanjutkan pendidikan ke Universitas Gajah Mada, saya menjadi cengeng sekali. Saya kehilangan teman curhat. Saya paling anti menangis di depan anak-anak. Mereka terlalu mengidolakan saya sebagai Super Mom. dan mereka tahunya bila saya menangis bombaydikarenakan usai menonton film drama, terutama Korean drama. Oya kok malah melebar kemana-mana, saya itu merasakan kesedihan yang dalam, saat perpisahannya dengan adik-adiknya, peristiwa itu awal bulan kedelapan 2007, empat setengah tahun yang lalu. Mereka belum pernah berpisah, jadi adik-adiknya merasa kehilangan juga. Hiks!
Ia anak sulung dari ketiga bersaudara, sedari kecil saya sering mengajaknya ngobrol. Saya pun sering bercerita tentang apa saja, dari dongeng anak-anak hingga masa kecil saya sangat berwarna, terutama saat tinggal di desa Baratan, sekitar tahun 1977-1980. Saya lah yang membawa ia bermain imajinasi. Saya lah yang mengajarkan membaca buku cerita sedari kecil dan mencintai musik. Sewaktu usia balita pun sudah belajar mengaji, pokoknya ia boleh dibilang sahabat dari semasa bayi hingga kini, bukan hanya sebagai anak semata saja. Eeiitts...ada yang kelupaan, sewaktu mengandungnya, usia 3 bulan, saya bertemu idola saya Fariz RM,dalam kesempatan langkah itu saya meminta sesuatu kepada beliau. It's everlasting moment, at Jember Juni, 14-1989.

Usianya bulan ini 22 tahun. sebuah perjalanan waktu tanpa terasa lebih dari 20 tahun jalinan keakraban itu terjalin. Meski ia anak laki-laki, tetapi hatinya lembut dan gampang terenyuh, suka mengalah teutama bila berebut sesuatu dengan adik-adik-nya. Bahkan saat sekolah dasar pun, boleh dibilang cengeng, anak mami, tetapi dia cuek, yang ia butuhkan rasa aman. Ia akan merasa tenang bila melihat wajah saya, saat lomba cerdas cermat mewakili sekolahnya, baik semasa SDN-SMP hingga tingkat mewakili propinsi Jambi. Semangatnya bisa berapi-api. Peran orang tua itu dahsyat sekali, terutama peran ibu. Saya bukan seorang ibu yang sempurna, tapi saya bersyukur telah diberi banyak kesempatan mengikuti perjalanan dan mengisi setiap saat bersama anak-anak.

Masa kecilnya dilalui di provinsi yang dikenal dengan semboyan Sepucuk Jambi, Sembilan Lurah. Cerita itu saat ketiganya masih menjalani masa kecil di Jambi, tepatnya di perumahan Bumi Chrisya Lestari, STM Atas (Sipin) Jambi. Justru adik bungsunya yang lebih menang sendiri dalam urusan apa pun. Ia anak rumahan, keluar rumah hanya seperlunya saja, betah di kamar dengan membaca komik atau belajar. Sedang kedua adiknya lebih membaur dengan teman sebayanya. Ia mempunyai dua sahabat semasa sekolah dasar, namanya Drajat dan Raviki. Selain teman sekolah, keduanya tetangga kami. Bertiga selalu berbagi cerita ataupun bermain game, dari jaman nitendo sampai playstation. Bahkan saya yang mengajari bermain PS itu. Saya pula yang menyeleksi mainan jenis apa yang boleh dibeli dan dimainkan untuk anak seusianya.

Ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama di SMPN 1 Jambi, yang letaknya di samping kantor papanya PT.Telkom Jambi, kegiatan diluar rumahnya mulai memadat. Ia anak yang harus tidur siang, bila keseringan pasti badannya demam. Ia mulai banyak teman dan ikutan kegiatan ekskul. Perlahan pasti anak pendiam itu mulai gaul dan menemukan passion nya.

Pertama mengikuti dunia peran seni, bermula dari kelas satu sekolah menengah atas di SMAN 1 Jambi. Ia izin ingin tahu seperti apa dunia teater itu. Saya mengizinkan, tetapi papanya kurang suka. Toh akhirnya saat ia tampil perdana dalam pertunjukkan pentas seni dan kami sekeluarga sempat menonton, ternyata boleh juga. Saya lupa judul pementasan itu. Kemudian, saat pindah sekolah di SMAN di Bogor, itulah yang membuatnya kurang percaya diri lagi. Sedari kecil terbiasa menerima raport dengan ranking tiga besar di kelas, bahkan untuk lingkungan sekolahan. Tiba-tiba nilai raport nya ada merah nya untuk pelajaran bahasa Inggris nya. Itu yang membuatnya down, dan mulai merengek ingin kembali ke Jambi.

Masa-masa yang sulit justru saat kami sekeluarga baru pindah ke Bogor, karena suami dimutasikan ke PT.Telkom Gatsu, Jakarta Selatan. Kami beradaptasi dengan kemacetan, dengan jadwal kereta rel listrik dan suasana baru dari daerah ke kota, terutama pelajaran. Ia meninggalkan dunia peran seni, karena di sekolah barunya kegiatan tersebut tidak ada. Saya pun bingung membagi perhatian kepada ketiga anak-anak yang beranjak remaja. Inna ma'al usri yusro, setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya.

Suatu hari ketika saya sedang memasak di dapur, saya mendengarkan petikan gitar nya, lagunya itu-itu saja hingga saya hapal benar. Dan, akhirnya saya bertanya apa judul lagunya itu, "Burung Chaveleh,Ma!" jawanya datar. Nadanya riang ada hentakan kecil saat refflain. Dalam hati saya bangga, anak saya bisa menciptakan lagu. Tidak seperti saya, menciptakan lagu asbun, tapi mampu membuat seisi rumah tertawa, terutama anak-anak. 


Suatu hari pulang sekolah wajah nya seperti kusi dilipat, ia bilang ada pelajaran kesenian melukis. 3 Hari lagi dibawa alat-alatnya, kalau bisa sudah ada gambar dasarnya. Saya kemudian bergegas membeli alat-alat yg dibutuhkan. Yang nggak saya sukai sifat anak-anak itu suka mendadak bila membutuhkan sesuatu yang berhubungan dengan tugas sekolah. Mereka menganggap saya serba bisa. Kemudian, saya berusaha memenuhi permintaanya, dengan alasan saat itu ia akan belajar untuk tiga ulangan dan kondisi tubuhnya yang demam. Jujur saya belum pernah menggambar apalagi melukis di atas kanvas. Akhirnya saya buat sketsa ikan saja. Dan ia melanjutkan mewarnainya. Kami berbagi tugas. Hingga akhirnya ia pulang membawa lukisan tersebut dengan wajah sumringah, "Maaaa, lihat lukisan mama dapat A+."Yaaa...Subahanallahu. Urusan melukis tidak berhenti disitu saja, ealadalah tetangga depan rumah namanya Bu Rani, ternyata putrinya Elsa yang kelas 2 SMA Kesatuan Bogor, dengan alasan yang sama tugas sekolah. belajar melukis. Semenjak itu saya sering beli kanvas, dan menemukan kenikmatan seni melukis. Semoga apa yang telah saya lakukan untuk mereka, tidak menyalahi aturan yang berlaku. Saya rasa setiap ibu akan berusaha menyenangkan hati anak-anaknya. Saya rasa tindakan saya baik dengan alasan tertentu.

Sejak itu semangatnya kembali, ia melupakan Jambi nya dan nasihat saya pun dijalankan dan pada akhirnya saat akhir sekolah, ia mendapat panggilan dari tiga perguruan tinggi negeri terfavorit, yaitu UGM (Fak Teknik Kimia), PMDK IPB (Fak Agrobisnis), ITB (Fak Kimia MIPA). Banyak yang menyelamati sebagai anak yang berhasil, namun menurut saya bukan karena ia cerdas, tetapi juga faktor rejeki. Itu nikmat dari Allah Swt, sebagai hadiah bahwa Hambluminallah nya bagus.

Petualangan hidupnya baru dimulai, proses percaya dirinya kian hari memupuknya untuk menjadi terbaik setelah dinobatkan sebagai King Polimer 2007. Kemudian, ia mengikuti kegiatan teater UGM. Sekali lagi meminta izin, dan saya tentu memberi lampu hijau. Apa pun yang berhubungan dengan seni pasti saya dukung. Saat itu diadakan casting pemain baru, maka ia ikutan mendaftar. Hasratnya semoga diterima sebagi pemain cadangan, elaelo...ternyata malah menjadi pemeran utama. Lebih heboh lagi saat diliput olah harian Kompas dengan adegan nya saat mencengkram dagu pemain lawan yang menjadi istrinya. Kompas, 29 Januari 2008 "Dimana Moral Kala Hidup Tertekan" bercerita tentang seorang guru dengan berbekal kendaraan sepeda oentel menghadapi kerasnya kehidupan. Guru sederhana yang jujur yang ingin mempertahankan moral sebagi pendidik.

Sejak itu waktunya banyak dihabiskan di Gelanggang. Bak seorang seniman, tampilan nya oun berubah, agak sediki mbambung, slengekan. Hingga suatu hari ia pulang ke Bogor dengan dandanan usai pentas. Waduuhh...kami dibuatnya pangling karena ia menjadi sosok tokoh bernama Tevye yang memiliki dua orang putri, dalam pementasan "Story Of Tevye"
Kemudian, tanpa sengaja berkenalan dengan seseorang yang ternyata orang Production House. Kemudian orang tersebut, menyuruh anak saya mengikuti audisi casting untuk film "Perempuan Berkalung Sorban". Tanpa disangka ia lolos dan harus berada di Jogja pada waktu yang ditentukan. Kebetulan saat menerima SMS tsb, ia baru datang dari Jogja untuk liburan. Sayang, kesempatan lewat begitu saja dikarenakan papa nya tidak memberi izin untuk ikut dalam pembuatan film tersebut, walau pun menjadi figuran. Papa nya sangat takut kuliahnya akan terbengkalai. Saat melihat raut wajahnya, saya ikutan sedih tapi apa daya. Mungkin belum saatnya. Saya paham bahwa sutradara Hanung Bramantyo itu adalah sutradara favoritnya. Ia pernah kesemsem pada film besutan sutradara jebolan pesantren itu, ketika menonton film Catatan Akhir Sekolah.

Sebenarnya semenjak aktif di dunia teater dan meramaikan musik kampus, dan pembagian waktu antara kursus bahasa Inggris (Toefel) sangat mempengaruhi tubuhnya, hingga sempat dirawat lantaran DBD. Hikmah dari sakit itu ia peduli kepada kesehatan, bahwa sehat itu sangat berharga. Alhamdulillah ia dapat mengatasi segala kesulitan. Saya juga memberi pengertian kepada papanya, agar anak dibolehkan berkesenian, supaya balance  otak kiri dan otak kanan nya. Selain itu saya mengetahui ia sering menjadi pembawa acara di kampus, baik resmi atau pun tidak resmi. Bagi saya pribadi, anak mami itu telah menjadi sosok yang mandiri. Kini tugasnya bertambah sejak adiknya Aryanto Rachmadi Putra menjadi mahasiswa Teknik Otomotif UNY, 2010.

Dan pada akhirnya ia meninggalkan dunia teater bukan tidak direstui papanya, namun ia menerima pekerjaan tambahan sebagai assisten dosen. Hari-harinya padat dan positif, dunia nya ada di Jogjakarta. tempat pertama kali saya jatuh cinta. Lho apa hubungannya? Nggak ada, kebetulan sama-sama kota Jogjakarta mengukir sejarah hidup dan itulah proses kedewasaan mengatasi segala kendala hidupnya dijalani, menjadikan sosok lelaki yang nantinya akan bertanggung jawab untuk segala tidakannya, dan masa depannya.
Masih panjang jalan itu, satu per satu telah dilalui. Sebentar lagi ia akan berkemas meninggalkan Jogjakarta-nya dan entah kota mana lagi yang akan di singgahi untuk mengisi hari-harinya. Tinggalkan adiknya seorang diri yang akan meneruskan cerita kota Jogjakarta.Pulang kekotamu ada setanggup haru dalam rindu.." itu sepenggal lirik lagu khas KLA PROJECT berjudul "Yogyakarta."    Tapi saya rindu petikan gitar nya, Nyanyian Burung Chaveleh akhir tahun 2011 ini tak mengalun lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Kali ini ia tengah berbenah untuk segala urusan jelang catatan terahir menjadi mahasiswa Tekkim UGM.

Selamat berjuang anakku...
Selamat Ulang Tahun ke 22 PF 27.12.2011...
Semoga semuanya diberi kelancaran dan bahagia

salam sayang dari Mother buat YoAnDo
Posting Komentar