Selasa, 10 September 2013

September Ceria


Halal Bihalal SMPN1 Jember 'Angkatan 1984

Arso-Dodit Gesang-Mas Gigih-Hariyadi-Arie Rachmawati-Nanang

Minggu, 1 September 2013
Ini kelanjutan dari tulisan sebelumnya, yang berjudul "Menemui Teman Lama". Awal September 2013 lalu, acara yang ditunggu-tunggu datang juga. Minggu pagi bergegas menuju lokai RM Lambaw (new) depan TMP Patrang,  seingatku dulu (jadul) tempat berhentinya angkutan kota masa itu aku menyebutnya 'klepekan colt'. Rumah makan yang sering digunakan banyak acara serupa. Aku datang bersama NK, dan ternyata beberapa teman sudah memenuhi ruangan. Lebih banyak teman pria dibanding teman wanita. Salah satu panitia acara yang menyambutku adalah Ferkadery 3E, yang kemarin sore bertemu di rumah Dwi Indah Retnaningsih 3D. Rupanya ia benar-benar mengenakan kerudung phasmina barunya. Lalu, muncullah Arso 3C yang di facebook dikenal dengan nama Pangeran Arya, dan yang lain pun menyerbu. Ramai dan sibuk berfoto-ria.

Suasana ruang mulai panas, maklum hari ini Jember gerah dan hujan tidak pernah jadi turun ke bumi. Benar-benar sangat berbeda dengan kotaku Bogor. Senatiasa diguyur hujan, walau sebentar. Itu sebabnya disebut Kota Hujan. Saling ngobrol, keinginanku untuk  menyapa mereka lebih tinggi, dari pada duduk menikmati suguhan snack dan adamame. Beranjak, menghampri mereka dan menyapa, walau banyak wajah  lama yang berubah menjadi wajah baru untukku. Benar-benar aku hanya mengingat sebagian dari mereka. Tetapi, beberapa teman yang hadir masih mengingat jelas siapa aku. Ho ho ho beken tah? Iya kali, andai pun beken, aku pun nggak pernah menyadari hal itu. Oke-lah aku sapa mereka satu persatu yah !

Me with Sugiharto Kmt
Ass.Wr Wb, acara dibuka dengan sambutan bapak ketua panitia Hala Bihalal SMPN1 Jember.
Ini namanya Sugiharto Kmt, perannya disini sebagai Ketua Panitia Halal Bihalal SMPN1Jember Angkatan 1984. Sebenarnya ia sangat asing untukku di masa lampau, namun dimasa kini justru familiar, karena jempolnya sering mampir di wallku, terutama lagi ia  salah satu penyuka fanpage-ku 'riEariEriE' yang berisi klip video garapan sendiri versi window movie maker dan beberapa gambar semua tentang seni dan musik. Oke deh , bapak Sugiharto 3H, akhirnya aku bisa berkenalan denganmu., thanks yah !.

Kemudian, aku ditunjuk memberi kata sambutan dan mewakili teman yang jauh tempat tinggalnya., maksudnya jauh dari Jawa Timur. Bagiku ini adalah pengalaman pertama menghadiri reuni walau pun dikemas dalam sebuah acara Halal Bihalal karena masih hangat suasana lebaran yang baru berlalu. Kemudian, acara ditutup dengan pembacaan doa yang diaminin oleh para undangan. Doa usai, aku pun kembali sibuk membidik teman-teman untuk kujadikan obyek cerita.

Moch Imron 3F
<<
Hmmm, kalau yang ini namanya Moch Imron 3F, sama seperti ketua panitia, dulu aku nggak kenal dia. Namun, obrolan di facebook serta pertukaran cerita yang nggak pernah jauh dari urusan ditemukan 'mayat', tentunya mengakrabkan obrolan telephone. Suaranya merdu, orangnya pun lumayan ganteng, dengan postur tubuh yang mendukung Imron layak menyandang alumni tergagah dan sangat piawai di panggung, bak seorang idola "Esok Masih Ada." "...wajahmu kupandang dengan gemas, mengapa air mata selalu ada di pipimu, hai nona manis biarkanlah bumi berputar menurut kehendak yang Kuasa...." Sepenggal tembang itu sangat merdu dilantukan oleh Imron saat performing. Sungguh, senyum sumringahnya bikin suasana teduh dengan tembang lawas milik Utha Likumahuwa. Sebelumnya ia pun melantunkan lagu lama, namun aku lupa.



Performance : 



Arie Rachmawati 3C with Dwi Indah Retnaningsih 3 D "Prahara Cinta"

Nanang Keceng 3B - Arie Rachmawati "Sepanjang Jalan Kenangan"


Empat Dara 3D-3G
Arie Rachmawati 3c "Tersiksa Lagi."



Pertama kali melihat sosoknya di sudut ruangan, aku pikir dia itu siapanya teman yang hadir. Bisa ortu, paman, atau sodara tertua. Oh, tenyata dia juga bagian dari alumni, tepatnya dari kelas G, namanya Hariyadi. Aku menyapa dan memohon izin untuk berfoto dengannya, sambutannya hangat dengan senyum simpul serta menjabat tanganku. Alhasil, usai foto berdua, beberapa teman ikutan bergabung dan jadilah aku satu-satunya 'Hawa' di antara kaum Adam.

<< 
"Halo Sofyan? Kamu boleh kirim SMS dan menelpon kapan pun, keep in touch yah." Menyempatkan diri bertukar nomor handphone, sambil menikmati makan siang. Kumisnya yang tebal dan gaya njogetnya yang asyik, menurutku dia penikmat suasana acara siang itu. Serasa beban pikirannya lepas, goyanganya mengikuti irama dangdut yang menghidupkan suasana. Itulah Sofyan 3E, pria berkacamata yang memiliki empat anak. kata teman, ia seorang guru, tapi aku nggak sempat menanyakan lebih detail. ". . .suka-sukaku, njoget di pinggir jalan, berjoget walau bukan dangdut asli yang penting kita bisa happy..."

 "Halo Arie, aku Dodit Gesang," sapanya dengan senyum ramah, seraya menyodorkan tangan kanannya. Aku menjabatnya penuh tanya. "Oh, kamu toh yang bernama Dodit Gesang, aku sering lihat jempolmu di wall-ku. Maaf yo, aku ora weruh blas, dadi jarang kusapa, kupikir teman maya"  Pria itu termasuk salah satu panitia yang tadi didaulat sebagai pemberi doa. Menurut beberapa teman, Dodit Gesang 3F ini pengatin baru, pantesan wajahnya memancarkan aura bahagia, harumnya aroma pengantin menyertainya. Ciiiee...ciiiee sepanjang hari ia tersenyum terus, maklumlah baru menikmati indahnya berpasang kasih. Belakangan hari aku baru menyadari bahwa sang istri pun ternyata berteman denganku di dumay. Dodit Gesang, setelah aku membuka memori lama, serasa pernah melihatnya waktu pulang sekolah menuju arah ke Gebang. Yang jelas ia rajin mengunjungi wall FB-ku. "Makasih yah Dodit, kamu sudah menyapaku".

 <<
"Hai Arie, kamu mbakyunya Vivi 'khan?"
"Iya bener, lha kamu siapa? Maaf aku lali tenan...!"
"Aku Maz Gigih..."
"Oh, iya iya aku pernah sekelebat melihat namamu, tapi kita kayaknya belum berteman."
"Iya, Arie. Sama-sama di Matahari Dept Store, mbiyen."
Blablabla ..., mengalirlah cerita lampau sambil aku manthuk-manthuk mendengar ceritanya. Memang adikku lebih beken dibanding diriku, sepanjang usianya menuntut ilmu dan bekerja senantiasa berada di Jember, sedang aku sering meninggalkan Jember untuk merantau. Pria berkumis klimis ini sangat sumringah, mirip model iklan pasta gigi yang tengah memamerkan barisan gigi putih rapi. Mas Gigih 3G, kusimpan senyummu.

bertukar cerita pengalaman hidup
menikmati makan siang bersama


Arso Anjangsono 3C, sedari taman kanak-kanak TK Pertiwi sudah akrab. Sama-sama satu langganan becak lagi bersama Ida Suryani 3A. Aku sempat mencari keberadaanya hingga mengirimkan foto jadul ke redaksi Republika khusus kolom Citizien photo. Desember 2012 lalu, Arso menemuiku di rumah Mama, senang akhirnya orang yang kucari nongol dengan sehat wal'afiat serta lebih rapi ganteng dari pada masa remajanya. Menurut Mamaku, Arso ini termasuk 'photogenic', tentunya setelah melihat hasil foto yang aku afdruk. Arso adalah putra dari guru olah raga SMPN1 Jember bernama pak Elli ini, termasuk salah satu panitia yang rajin memberi info tentang acara yang berlangsung itu, dan membujukku untuk bisa hadir. Siang itu aku mencuri actionnya saat makan siang. Abeeegh, nampak kelaparan tenan tuh dia. Jawabnya, "Cacing-cacingku wes kelaperen, Rie!"  Hahaha. . . .

Hi hi hi, nampak lahap nian ini orang. Anang 3H datang berserta anak-istrinya. Duduk di ujung ruangnya dekat pintu masuk. "Beeegh, mara segenah Mbak, sampeyan motret aku," ucapnya sambil melirik kepadaku, sementara mulutnya sibuk menarik daging yang digigitnya. Namanya candid, yah meski aku nggak seprofesional photografer, aku ingin melakukan terbaik saat seperti itu. "Silahken maaaass...monggo!" Aku meninggalkannya beralih ke teman lainnya. Mereka pada sibuk menikmati sajian menu siang, namun bagiku adalah kesempatan mengambil gambar mereka tentunya buat dokumentasi pribadi.



Kurnia Zulkarnaen 3E
cDi masa sekolah ia bersama Fajar 3F adalah dua mayored laki-laki. Seingatku mayored SMPN1 Jember, didominasi kaum Hawa. Pas giliran angkatanku sebagai kakak kelas tertua, mereka berdua mendampingi Fifi 3F dan Ninuk 3D saling silih berganti. Aih, agak luping nih. Tetapi, Niak yang siang itu nampak subur dan masih nyaman melajang itu, sempat ngobrol denganku. Dari obrolan tsb, ternyata dia nggak punya akun FB, dan tidak berminat berinteraksi di dumay. Niak, yang siang itu terpilih sebagai salah satu undangan yang berulang tahun di bulan September, tepatnya besok hari, mendapat cake tart ultah dan didaulat memberi sepotong kue ultahnya buat teman perempuan yang berkesan. Ternyata jatuh kepada Yuni 3D, yang siang itu mengenakan jilbab dadakan berwarna putih. Happy Birthday Niaaaakk....barakallahu usiamu & cepat dapat jodoh !

"Halo Arie, eling karo aku nggak Rie? Meh dadi dulur nggak sido, hayo sopo aku?"
"Oh, kamu pasti Zamroni, Roni 3A!" jawabku antusias yakin.
"Roniiii.....apa kabaaarrr??"   Muhammad Zamroni 3A, adik sepupunya mas Juned. Andai ia tak menyapa duluan dengan sapaan diatas tentu saja aku lupa. Roni dulu gemuk dengan rambut ikal, sekarang agak kurusan dan rambutnya cepak. Bertukar nomor untuk ber-whatsapp-an. Mamaku itu mengenal ortunya Zamroni, selain itu, salah satu dari budhenya  (alamh) ibu Hudabiyah itu adalah istri dari guru mengajiku, (alm) pak Chasib. Kembali bertemu Zamroni seakan membuka album lawas perjalanan hidup 30 tahun kebelakang. Di antara asyiknya ngobrol dengannya, lalu ia beranjak menuju stage, waktu itu Rahma 3G menyumbang lagu, seketika itu ia meninggalkanku. Dan aku pun kembali hunting yang lain, tanpa menghiraukan perutku yang mulai lapar.

Sumoko Hadi 3D &
Kukuh Prakoso 3D
Keduanya sama-sama dari kelas sebelah, tetapi Sumoko Hadi mengenalkan diri unik sekali. "Ariiiee, ingat teman SD Pagah 1, yang namanya Bambang Setiawan?" Sempat loading lama itu pikiranku, yang aku kenal namanya Bambang Lakso, ternyata benar Bambang itu yang dimaksudkan Moko. Aku malah nggak ingat kalo Moko alumni Pagah 1, bearti sekelas sama Dwi Indah Retnaningsih? Iya benar, ia berjanji akan memberi nomor handphone-nya Bambang, setelah kami bertukar nomor ponsel. Ih, lucu juga nggak menyangka aku masih dikenalnya sebagai teman satu sekolahan esde, bukan sebagai anak 3C. Thanks yah Moko ! Itu Sumoko Hadi, nah kalau Kukuh itu yang mana yah dulu? Waduuuhh....aku kok sekarang 'luping'an sih  Iiih...maluuu, sudah terlanjur mesam-mesem, yowes lah akhirnya foto bersama aja deh !
Difoto : (duduk) Dodit Gesang - Kukuh - Arie - Sumoko Hadi, (berdiri) : Muhammad Zamroni.

<<
Omdhe Omsingdheso itu nama beken akun efbe-nya, aslinya bernama Yoyok  Hari Sugiono 3D. Akrab di fesbuk sekitar 4 tahun lalu, sumber inspirasi puisi, video klip dan cerita pendek. Hobinya photografer membuat banyak fans-nya. Sekarang sih jarang ngobrol lagi di dumay, namun begitu dia tetaplah Lelaki dari Kaki Gunung (Semeru) - Lumajang. Susah sekali diajak foto, hmmm....jual mahal nih, akhirnya aku dan Iin sengaja meraih tangannya untuk ditodong foto bertiga, meski kurang bagus hasilnya, nggak apa-apa yang penting sudah 'klik' !.
                                                 
                                                                       >>
Agus Sutriono 3C, ada tiga nama Agus dalam daftar absensi yaitu Agus Riyanto, Agus Sutriono dan Agus Wijaya. Seingatku perawakannya si bapak polisi ini dari dulu semasa remaj-nya pun termasuk gemuk. "Iki Arie 3C tah? Iyo tah?" tanyanya sambil memperhatikan aku. "Lhak mbiyen awakmu cilik manis, saiki lemu Rie?" Ha ha ha, iya sama kayak dirimu Gus dalam hatiku berujar, "Mon se ngocak tak lempo tah?" (baca : kalau yang ngomong apa nggak gemuk sih?)                                           
Ini Asri 3E, teman TKnya Nanang, aku sama sekali nggak kenal dia semasa sekolah. Asri sempat mengira aku istrinya NK.  Spontanitas kami tertawa bareng, segera ditepiskan anggapan itu oleh NK dan dijelaskan bahwa aku istri-nya mas Tonny (suamiku) dan bisa jadi Asri melihat perfomance kami berdua saat menyanyikan lagu, "Sepanjang Jalan Kenangan.". Terputusnya informasi keberadaan masing-masing hingga terbesit fikiran seperti itu, adalah hal yang wajar.  Melihat keduanya akrab, aku pun senang karena NK sekarang mau membuka diri. menyapa teman lama, mengingat kembali mereka. Maklumlah NK sering kupangil Raja Luping. Maafin aku ya NK, habisnya kamu agak susah sekali mengingat teman sekolahmu.  Kembali ke topik, Asri, sekarang ia membuka usaha sendiri dan pertukaran nomor telephon dengan NK semoga menjadi rekan kerja yang baik kedepannya. Menjelang perpisahan, di pelataran parkir, Asri berbisik kepadaku, "Ariiee, apa bener sih Nanang ikuu....?"

Eko Dyah Kuntari 3F, Kuntari  dan Sofia Rachmawati 3F itu kukenal semasa di sekolah dasar, keduanya dari SD Pagah 4,  kemudian semasa SMP teman drum band pasukan seruling namun aku beralih ke pasukan bolera. Kun, kembali akrab lewat monitor komputer interaksi via akun efbe. Kuntari termasuk photogenic pisan, suaranya merdu saat melantukan lagu "Kemuning", lagu yang akrab ditelingaku saatku esde. Setahuku pernah menjadi ibu dosen itu, berpenampilan kalem, lembut dan sumringah. Difoto (atas) itu adalah Kuntari bersama Sri Hayuningsih.  Difoto (kanan) Kun, Arie dan Weny Sri Hastutie.
                                                                                                       
<<
Chandra Rahmawati 3G,
di akun FB dikenal dengan nama Rahma Prayoga, cantik serta berhidung mancung, hampir mirip orang Arab. Senang menyanyi, karena di VCD Reuni 2011 lalu, sempat kulihat klipnya berdendang lagu cantik Nicky Astria "Biar Semua Hilang," namun yang acara kemarin aku lupa ia menyanyikan lagu apa. Yang jelas ia naik panggung dengan pe-de sepertinya sudah sering menyumbang suara untuk acara-acara serupa yang berlangsung. Rahma mencuri perhatian Zamroni untuk segera diabadikan kedalam galeri foto androidnya

<<
Yayuk Sri Wahyuningsih3B 
Erna Sri Rejeki 3B, keduanya teman sekelasnya NK, namun NK sama sekali nggak ingat keduanya. Ketiganya mewakili kelas B, sehingga saat foto perkelas untuk kelas 3A&3B digabung, yang hadir terlalu sedikit. Erna ini seingatku rumahnya di dekat apotik Kimia Farma, sekitar depan masjid Al-Huda Jember. Meski awalnya Erna luping sama aku, namun Yayuk mengingatkan. Bahkan Yayuk pun bercerita tentang meninggalnya Dewi Anggraeni teman semasa sekolah dasar dan teman sekelas C. Jodoh, rejeki, usia adalah kuasa-Nya tak bisa diprediksikan, itu misteri Illahi. Kita hanya wajib mensyukuri segala nikmat yang ada, masih diberi kesempatan bereuni, berbagi cerita, menjalin tali silaturahmi dsb.

Mieta Amrozi 3H,        
Tri Mei Wati Haryoto 3D                                                                             
 Mieta Amrozi nama akun FB-nya. Seingatku nama aslinya Mifthatul Jannah dari kelas H. Mieta masih mengenali wajahku, ia datang bersama keluarganya, namun hanya sebentar dikarenakan ada acara kondangan yang lain. Meski sebentar, menyempatkan berfoto dan menanyakan kabar tante Ninik, yang sekarang bagian dari teman pengajiannya.
Mieta masih tetap manis dan ramah.
Atik 3D, huuufft....tanpa dia acara pasti sepi bak suasana di pemakaman deh. Atik Dahlok yang menghidupan suasana dengan gaya "mbukaa sitik joooos' ala njogetnya Caisar Big Smile. Atik sangat fasih melantun lagu-lagu dangdut dan semi rock, tapi ujungnya pun irama musik ke dangdut lagi. Mestinya Atik harus punya gaya sendiri sebagai hak paten-nya. Untuk usia kini, lima jempol deh masih kuat ngoyang-ngoyang.


<<
Indah Prisdiana 3 C,
masih suka tertawa renyah, wajahnya nggak berubah. Ia datang bersama keluarganya dari Situbondo. Ternyata, Indah lebih dikenal dengan nama panggilan Pris atau Ana. Sumeh tenan, Indah itu. Bertukar pin lalu, menanyakan Ningsih yang pulang lebih dulu, karena urusan keluarga. Jadi pas foto perkelas, hanya ada Agus Sutriono - Nur Hidajat - Arso - Indah Prisdiana dan aku. Seingatku, Indah itu pindahan bebarengan sama Titien Trisnawati, waktu kelas 3. Meski keduanya anak baru, namun cepat menyesuaikandiri di kelas 3C. Indah Prisdiana masih mempunyai anak balita, cantik lagi. Meski pertemuan dengannya sebentar, lantaran ia datang terlambat, namun obrolan kami berlanjut via BBM. Dan sesekali kushare cuplikan cerpen (remaja), katanya "Arieeee, kamu kok sik sempat nulis cerpen?" Yeaah, kalau aku diam malah pusing, maka mengetik, menulis bikin aku semangat dan  gairah. Seperti tulisan ringan diblog ini cukup berbagi dengan teman yang sehati, selebihnya silahkan saja membuka link ini http://rachmarie-riritemaram.blogspot.com


The Lady's SMPN1 Jember'84

Mereka adalah :  Yayuk Sri Wahyuningsih 3B - Erna Sri Rejeki 3 B -  Arie Rachmawati 3C - Indah Prisdiana 3C - Sri Hayuningsih 3C - Indah Dwi Retnaningsih 3 D - Tri Me i Wati Haryoto 3D- Weny Sri Hastutie 3D - Yuni 3D - Ferkadery 3E - Eko Dyah Kuntari 3F - Rahma Prayogo 3G - Mieta Amrozi 3H


The Man's SMPN1 Jember'84
Mereka adalah : Muhammad Zamroni 3A - Eddi 3A - Herry 3A - Nanang 3B - Arso 3C- Agus Sutriono 3C - Nur Hidajat 3C - Yoyok 3D - Sumoko Hadi 3D - Kukuh 3D -  Kurnia Zulkarnaen 3 E - Sofyan 3E - Mas Gigih 3E- Moch Imron 3F - Dodit Gesang 3F - Hariyadi 3G - Anang 3H - Chairul Anam 3H - Sugiharto Kmt 3H.

Acara demi acara tuntas dan ditutup dengan
foto lagi bersama di rel kereta api yang terletak di belakang rumah makan itu. Sudah banyak yang pamitan pulang, nggak seperti foto diatas sengaja diambil saat baru berlangsungnya acara. Apa pun itu niat menyambung persaudaraan sesama alumni patut dipertahankan, ditingkatkan serta disirami kasih sayang sesama teman. Jauh dekatnya tempat tinggal bukan penghalang, ditambah maraknya chatt atau sosial media lainnya pastinya semakin mempererat persahabatan itu.




Akhir kata, acara usai dan aku menyempatkan diri menengok Ibunya Ningsih yang opname di RS Jember Klinik. Sore jelang petang, semuanya beres. Alhamdulillah, tinggal aku berbenah untuk kepulangan esok hari. Senin, 2 Septemper 2013 masih disibukkan dengan pengiriman paket ke JNE, supaya barang bawaanku tidak berat.  Sesempit waktu masih menyempatkan diri mampir bertemu  di rumahnya, dan berpamitan ke rumah saudara sepupuku Ipung.
Eddy Zygro

Rumahnya masih satu kawasan komplek perumahan beda blok saja. Malam itu aku dan NK ke rumahnya Ipung, sayangnya setibanya disana, sang istri yang sangat cantik itu enggan menemui kami dikarenakan sakit gigi.  Obrolan singkat berakhir karena suasana sangat kaku, bahkan putra-putinya hanya keluar masuk, nggak menyapa atau bersalaman layaknya keluarga muslimah. Kunjungan yang salah waktu. "Sampaikan salamku buat Rosa, aku nggak weruh blas seperti apa wajah istrimu Pung?".

Mobil jemputan datang sekitar jam 11 malam, dan itulah langkah terakhir kunjunganku ke Jember yang terbilang super lama. Travel Warna, bercat kuning jinggrang itu menurunkan aku tepat di bandara Juanda pada jam 04:10 wib dini hari Rabu 3 September 2013. Goodbye Jember, Goodbye Sorbeje dan pesawatku melayang di udara, membawa kembali ke Jakarta. Rabu pagi nan cerah, bermandikan cahaya mentari pagi. Penerbangan pagi yang menyegarkan hingga siang hari aku kembali tiba di rumah dengan selamat dan lancar, sweet home sweet syukur Alhamdulillah.

Terima kasih buat semua teman masa remajaku, semuanya melengkapi cerita September Ceria edisi 2013. Menulis itu asyik, menuangkan kata demi kata, belajar jujur untuk diri sendiri. Insya Allah kala ada reuni akbar tahun depan, semoga Allah swt memberiku kesempatan lagi untuk 'pul-ngumpul' bareng mereka. Senang tiada terkira, bisa mudik sekalian reuni plus halal bihalal, lengkap sudah kunjungan kali ini bersamaan pula event tahunan Jember Fashion Carnaval di BBJ 2013.


Salam, 
Arie Rachmawati 3C
Alumni SMPN1 Jember-angkatan 1984


Rabu, 24 Juli 2013

C e r p e n k u :

SEIKAT KRISAN PUTIH
Oleh : Arie Rachmawati



Cakrawala barat merona jingga membaur dengan birunya langit yang terbalut awan putih, menjadikan langit terbentang itu lukisan alam nan menakjubkan. Serumpun ilalang dipermainkan angin nakal, ujung ilalang–ilalang itu nampak terbakar, kilauan matahari senja telah menyentuhnya. Di ilalang itu, aku pernah mengenal cinta. Cinta itu sengaja kusembunyikan. Selalu ingin untuk kembali ke ilalang itu di belakang bandara Sutan Thaha. Memori usang itu menyeruak kembali saat aku duduk termanggu menanti di ruang tunggu gate 3-B1 Soekarno-Hatta, Jakarta. Pagi ini penerbangan pertama menuju Jambi. Serasa aku bermain di langit biru berserakan awan. Awan seputih kapas yang berarak–arak menyerupai berbagai bentuk mampu redakan gemuruh hatiku. Dalam genggamanku ada seikat bunga krisan berwarna putih masih segar dan mengundang beberapa mata menuju kearahku, seraya mereka berkata,"Bunganya cantik sekali."  kerinduan yang kupendam beberapa hari terakhir ini bergelut dengan gelisah. Dari awal pertama bertemu dengannya aku merasakan ada yang beda. Dia bukan kekasihku, namun kehadirannya telah mewarnai hidupku. Laki–laki itu telah mencuri hatiku. Namun, aku tidak ingin tahu tentang dirinya. Aku hanya membiarkan dirinya bermain dalam khayalan semu. 

Satu jam kemudian, pesawat landing dan aku segera menuju Café 29 di pinggiran . Taxi yang membawaku dari parkiran Sutan Thaha ternyata belum paham jalanan kota. Sopir taxi baru, baru seminggu katanya. Suasana Café 29 masih sepi, maklum belum waktunya jam buka, karena aku pelanggan tetap, mereka selalu membukakan pintu untukku. Secangkir teh hangat dan sepotong roti keju menemaniku. Biasanya aku selalu memesan mocca float dan semangkuk sup jagung, itu menu favoritku. Jarum jam berputar menunjukkan angka yang kian bertambah, SMS telah kukirim memberitahu bahwa aku sudah lebih 2 jam menunggunya. Gelisah. Aku hanya punya waktu sedikit dan nanti penerbangan terakhir akan membawaku kembali ke Jakarta. Pulang.

Akhirnya aku kembali ke Jambi untuk menemui mereka berdua untuk mencairkan suasana yang kaku. Dari pagi, siang dan menjelang sore belum ada tanda-tanda ia akan menemuiku seperti yang telah disepakati bersama. Aku ingin sejenak ke padang ilalang dan melihatnya melukis. Andre pernah beberapa kali mengajakku ke padang ilalang itu. Dibelakang padang itu ada sebuah gubuk tua, tapi masih terawat. Ia pernah memamerkan lukisannya, semua tentang bunga krisan. Aku tahu disini bunga itu nggak akan pernah tumbuh. Bunga itu hanya tumbuh di daerah kaki gunung dengan cuaca yang sejuk, bukan seperti di sini panas dan sangat menyengat. Ia bercerita, pernah tinggal di perkebunan bunga bersama orang tua angkatnya. Ia paling suka krisan putih di antara krisan berwarna, yang putih lebih anggun. Darinya aku mengenal bunga krisan. 

Sungguh terlalu apabila ia benar-benar mengingkari janji. Lamunan membawa kembali ke masa lalu. Andre, itu namanya yang aku tahu dari kartu pegawai Departement Store yang terletak disaku kanannya. Selalu tersenyum hingga lesung pipit itu menghias wajahnya. Tak banyak kata kecuali pembicaraan transaksi di kasir, selebihnya say goodbye. Perkenalan yang kebetulan namun sering kali terjadi, hingga aku merasa akrab dengannya. Semula aku berpikiran seperti itu selalu kebetulan, tapi setelah aku merenungkan itu bukan kebetulan, dia sengaja mengikuti kemana arah langkahku. Dan itu diakui secara keceplosan. Tiba-tiba terbersit aku ingin mengenalkan dia kepada sahabatku, Anne. Menurutku mereka serasi. Rencana berjalan mulus, kami bertiga sepakat bertemu. Dan ketika pertemuan berikutnya, aku sengaja menghindari agar mereka semakin akrab dan jatuh cinta. 

Hujan yang sudah lama dirindukan untuk menghalau kabut asap yang mulai merebak. Hujan deras dan angin nakal menyertai. Tiba-tiba Andre berada di hadapanku saat aku keluar dari toilet café itu. Kaget.
  "Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu menghindar, Airin?"
  "Kenapa kamu tak pernah membalas pesanku?"
  "Akuuuu...sibuuuk, sorry Ndre."
  "Kau sengaja dan ingin aku akrab dengan Anne, kan?!
  "Iyaaa...begitula kira-kira."
  "Aku hanya ingin mengenalmu, bukan Anne sahabatmu."
  "Tapi, aku ingin kau menjadi kekasihnya!"
  "Kenapa aku, Airin? Aku nggak mau !"
  "Karena...."
  "Akuuuu...hanya inginkan kamu."
  "Itu tidak mungkin Andre, meski aku akui kamu mencuri hatiku, namun aku sudah terikat."
  "... dan akhir tahun ini aku menikah, maaf !"
  "Aku nggak mau tauuu, aku cuma ingin dirimu."
  "Jadi itu tujuanmu mendekatiku dan ingin aku memacari Anne?"
  "Iya Ndre, dia sudah jatuh cinta sejak awal mengenalmu itu."
  "Bohong, aku nggak percaya itu. Aku yakin kamulah yang mengatur semua itu untuk menutupi kata hatimu."
  "Jangan egois Ndre, maaf aku terpaksa akhiri pertemanan kita." 
  "Maafkan aku Andre, aku harus pergi."   Aku benar-benar meninggalkan dia bukan karena pertengkaran kecil itu, namun bersamaan aku menerima pekerjaan baru dan ditempatkan di Jakarta. Kusadari hal itu terkesan mendadak Dia pasti marah dengan berita ini yang mestinya aku sampaikan saat pertemuan itu, namun situasai tidak berpihak. Kepada Anne aku sudah berpamit walau mungkin hatinya menangis karena perpisahan ini, namun nampaknya ia pun marah padaku. Andre menjauhinya, itu yang aku tahu dari pesan terakhir sebelum aku take off meninggalkan Jambi. Perpisahan yang menyedihkan.


Belum seminggu aku di Jakarta, dan memulai kehidupan baru Andre sering banget mengirimi SMS namun aku malas membalasnya. Menurutku ia terlalu hanyut dalam suasana yang membawanya berlabuh kemana. Kemudian ia menghubungiku, ia ingin aku menemuinya. Ada hal penting katanya. Anne sakit keras. Urgent.
  "Itu nggak bisa, aku belum sebulan disini, bagaimana mungkin aku meminta cuti." 
  "Tapi Anne sangat butuh kamu, Airin?"
  "Datanglah walau sebentar saja, please?!"
  "Bukankah kalian bersahabat?"
  "Nanti aku telepon dia, sorry aku lagi di jalan."  Aku segera menutup pembicaraan itu, karena harus ganti kendaraan umum dari  KRL Stasiun Sudirman ke metro mini jurusan Gatot Subroto. Bimbang rasanya kembali bertemu dengan mereka berdua, haruskah aku ke Jambi? Perang batin berkecamuk antara persahabatan dan urusan asmara yang kacau balau. Aku menyukai Andre, tapi bukan berarti aku jatuh cinta padanya.  Dia terlalu muda untukku. Aku tidak suka lelaki yang usianya lebih muda dariku, meski cinta hadir menolak segala bentuk perbedaan. Aku hanya ingin Andre dan Anne menjadi kekasih, menurutku mereka pasangan yang serasi. 
  "An, Anne ini aku," kataku lirih. 
  "Kamu sakit apa, hingga Andre meneleponku dengan nada tinggi?"
  "Nggaaakk Airin, aku sehat. Sempat sakit masuk IGD tapi udah sehat kok!"
  "Asma-mu kumat?"
  "Iya benar.Kenapa kamu nggak pernah meneleponku lagi Airin?"
  "Maaf banget. Aku sibuuuk, dan aku pikir kamu marah padaku?"
  "Marah soal apa sih? Andre? Hahaha nggaklah"
  "Syukurlah kalau begitu Anne, aku senang mendengar tawamu"
  "Percayalah padaku Airin, janganlah persahabatan kita terputus karena dia."
  "Aku percaya kamu, gimana kabarnya mas Bram?"
  "Dia baik-baik saja, doakan rencana kami berjalan lancar ya An?"
  "Tentuuuu Airin, meski Andre sempat bilang kamulah yang jatuh cinta padanya. Aku nggak percaya."
  "Ih emangnya dia bilang apa aja sih?"
  "Yaaa, lupakan saja. Kalau kamu jadi ke Jambi, kabari aku ya Airin. Aku kangen kamu."
  "Tentu, so pasti. Udah dulu ya? Nggak enak nih, lagi lunch, entar aku telepon lagi deh."
  "Thanks ya Airin, muuuaaaah!"
  "Muuuaaaah too...."   Aku rasa obrolan itu jelas bahwa Anne nggak memintaku untuk ke Jambi. Itu hanya akal-akalannya Andre saja. Aku kembali konsentrasi ke pekerjaanku. Sebenarnya kepindahanku ini juga untuk mendekatkan diri kepada calon suamiku dan keluarganya. Mas Bram, kakak kelasku sewaktu sekolah menengah farmasi yang sekarang bertugas di RSCM, sebagai kepala bidang farmasi. Ia telah meminangku awal tahun lalu dan akhir tahun kami akan menikah. Lalu muncul Andre dengan pesona senyumnya dan hampir membuatku lupa. Andre menghubungiku lagi, dia bilang akan menikah, ia tidak menyebutkan dengan siapa menikah. Ia hanya ingin aku datang. Dua bulan lagi. 

Suasana café itu mulai ramai. Ada pengunjung datang, seorang wanita paruh baya nampak dari kalangan berada dan duduk di ujung ruangan dengan pandangan mengarah ke bibir jendela. Nampaknya ia duduk sendiri dan gelisah. Sepertinya ia tengah menanti kehadiran seseorang. Sepertiku, mulai resah menanti kehadirannya. Dua jam kedepan aku harus meninggalkan tempat ini, aku harus segera menuju bandara kembali dan take off. Aku nggak memperhatikan pengunjung lainnya, saat aku melihat sosok seseorang seperti aku mengenalnya. Ia duduk berpelukan dengan wanita itu. Setelah tersadar ternyata itu Andre. Dan, sepertinya ia mengetahui aku memperhatikannya. Permainan apa yang tengah ia suguhkan kepadaku. Dadaku tiba-tiba sesak seketika. Andre menghampiriku, menyapa dingin. 
  "Akhirnya kamu datang juga ke sini, Airin. Apa kabar?"
  "Kamu semakin cantik...."
  "Aku datang karena aku ingin menemui Anne dan kamu, Ndre."
  "Tapi, Anne nggak bisa datang karena mendadak ke Palembang, meeting."
  "Iya, aku tahu, subuh tadi ia meneleponku."
  "Oh syukurlah kalau kamu mengetahuinya. Jadi kamu datang untukku kan?"
  "Nggak juga Andre, tetap niatku untuk kalian."
  "Aku datang untuk meminta maaf atas situasi yang nggak nyaman ini."
  "Lalu, nanti kamu datang saat aku menikah?"
  "Oya soal menikah, mengapa begitu mendadak? Ada apa?"
  "Nggak mendadak, waktu itu aku ingin menceritakan namun kamu keburu pergi."
  "Sama Ndre, waktu itu aku juga ingin cerita tentang kepindahanku..."
  "Iya, situasi saat itu benar-benar..."
  "..., sudahlah Ndre. Sekarang cerita sudah beda."
  "Siapa calon pengantinmu, Ndre?"
  "Kamu sudah melihatnya, yang tadi kupeluk itu."
  "Oya? Maksudmu? Wanitaaa ituuu?"
  "Iya, wanita yang sangat kaya tapi kesepian, dia sangat mencintaiku."
  "...dan aku nggak mencintainya, aku kasihan padanya."
  "Hah?! Kamu menikah atas dasar kasihan?"
  "Mungkin ia lebih pantas menjadi Ibumu, Ndre."
  "Iya, memang begitu pantasnya. Dan aku belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu."
  "Ibu kandung, maksudku Airin."
  "Beda Ndre. Duuhh, kamu ini kenapa sih?"
  "Tahu apa arti cinta kau Airin, bukankah demikian juga denganmu?"
  "Maksudmu?" 
  "Sudahlah aku nggak mau berdebat. Tersenyumlah untukku, aku rindu senyummu."
  "Kamu jangan mengalihkan pembicaraan, sorry aku harus menuju bandara."
  "Datanglah nanti Airin! Suatu kebanggaan bila kau datang nanti."
  "Aku rasa nggak mungkin, Ndre!" 
  "Please Airin !!!"  Aku mulai jengah mendengar rengekannya. Hal itu jelas nggak mungkin, Suasana yang berlangsung benar-benar dalam keadaan memanas. Aku segera beranjak, nggak mau lagi larut dalam suasana yang tak nyaman. Sementara waktu semakin mendekati ke jadwal penerbangan.
  "Bungamu ketinggalan, Airin."
  "Bunga itu untuk Anne, tapi dia nggak ada, biar buatmu saja, Ndre."
  "Bunga krisan putih untukku Airin?"
  "Iya bukankah kamu pernah menginginkan bunga itu?"
  "Iya tapi bukan sekarang, Airin. Dua bulan lagi bawakan untukku, please!"
  "Sorry Ndre, aku pamit. Semoga kamu bahagia, cintailah ia seperti ia mencintaimu."

Dua bulan kemudian, di balik jendela nampak langit biru berhias awan putih menemani penerbanganku ke Jambi. Dalam genggamanku ada seikat bunga krisan berwarna putih masih segar dan mengundang beberapa mata menuju kearahku, seraya mereka berkata,"Bunganya cantik sekali." Bunga krisan putih dalam balutan kain marun, dihiasi pita kian menambah cantik buket itu. Aku datang memenuhi permintaannya menghadiri pernikahannya dengan seorang wanita yang layak sebagai Ibunya. Misteri cinta, misteri jodoh. Aku membayangkan senyum dengan lesung pipitnya itu. Aku juga senang, Anne akhirnya mau menyadari cintanya bertepuk sebelah tangan tanpa harus mengorbankan persahabatan kami. Kami sepakat datang berdua. Seikat bunga krisan untuk Andre sebagai kado pernikahannya. 

            _ S E L E S A I _

Medio : Anyelir, 8/8 2005


Rabu, 17 Juli 2013

Aktivitasku :

Buku Cerita tulisn tangan tentang Si Kura-kura kecil bernama KURI

Saya Belajar Mendongeng
Oleh : Arie Rachmawati

"Mendadak jadi pendongeng?" Iya benar, aku sekarang jadi ibu guru bagian mendongeng anak-anak TK Gema Imani di Kab.Bogor, arah ke Parung di desa yang letaknya lumayan jauh dari rumah menuju arah belakang Kopasus Bogor. Itulah sekarang tempat kegiatanku yang berlangsung sejak masa pendidikan Tahun Ajaran Baru 2013-2014.

"Lho cerita gimana kok bisa jadi pendongeng ?" Ceritanya dari sebuah obrolan dengan sahabatku bernama Dian Anggari, dia dulu tetangga sewaktu aku mengontrak rumah di Anyelir, dan teman sepengurusan sewaktu di Mejelis Ta'lim Uswatun Hasanah, pokoknya solulmate deh ! Oya dia juga yang mengajariku bahasa Jerman. Blablabla, intinya di sekolah taman kanak-kanak yang dia kelola itu membutuhkan orang yang bisa mendongeng dan dia berpikir aku orang yang tepat. Duuhh, nggak kebayang aku menjadi ibu guru kanak-kanak dan mendongeng lagi. Tawaran itu sudah lama sekali, seingatku awal tahun 2013 lalu, namun aku belum memberi jawaban iya atau tidak. Aku belum yakin pada diriku sendiri. Hobi mendongeng sih, saat anak-anakku sewaktu kecil dengan cerita masing-masing yang mereka sukai. Tapi ini kan untuk sebuah sekolahan yang mengemban tugas mulia mendidik calon generasi muda mendatang. Mendongeng yang mendidik, bukan sekedar pengisi waktu yang telah diprogramkan oleh sekolahan tsb sebagai kegiatan baru yaitu mendongeng dan bermain angklung.

"Apakah ini persiapan menjadi seorang nenek?" Hahaha, ini seperti pertanyaan beberapa temanku di facebook saat aku menampilkan tentang Si Kuri. Menurutku pertanyaan itu nggak kreatif banget, terlalu dangkal. Pada saatnya nanti aku menjadi seorang nenek, kamu-kamu juga. Tapi menjadi nenek dan ibu guru yang kebagian mendongeng menurutku hal berbeda. Meski sama-sama obyeknya anak-anak kecil.
.
"Truuuus....?" Ya, kembali ke topik. Akhirnya pas kami berdua ada waktu, aku diajak ke TK tsb, sebagai perkenalan lingkungan. Tepatnya, Jum'at 21 Juni 2013 lalu itulah kunjungan pertamaku disana. Ya Allah, ini jauh dari bayanganku semula. TK tsb benar-benar jauh dari polusi udara, sangat nyaman dan sejuk. TK yang sangat beda, TK yang sederhana dengan anak-anak yang ceria. Mereka asli warga desa setempat yang jauh dari hiruk pikuknya kota. Meski kami masih di kota Bogor, serasa aku merasakan sebuah desa masa kecilku, di Barathan, Jember. Aku menemukan sawah, sejuknya udara pagi, matahari bersinar hangat, sepoaian angin menerbangkan penat dan kenangan manis masa kecil menyeruak kembali. Ada dua anak yang cacat fisik namun semangat belajarnya hebat banget. Lalu, anak-anak kecil itu yang akrab dengan alam, menjadikan pohon sebagai teman bermainnya. Mereka ceria dan nggak cengeng. Perkenalan itu menguatkan aku untuk mencoba kemampuan baru yaitu mendongeng untuk anak-anak taman kanak-kanak itu.

"So...jadi mulai kapan mengajar mereka?" Kemarin, Selasa 16 Juli 2013. Jadwal mengajarku setiap Selasa dan Kamis. Senang.

"Lalu...," Usai subuh aku bergegas mandi dan mempersiapkan diri dengan bekal yang ada. Jujur, aku nggak tahu gimana nantinya, aku jalani aja dan memohon bantuan kepada sahabatku itu. Kami berbincang-bincang selama perjalanan menuju lokasi dengan melewati hambaran pematang sawah nan luas. Berhenti sejenak untuk memotret dari kamera seluler. Lihatlah indah nian pagi menyambut semangatku, hingga tibalah di halaman sekolah. Anak-anak baru masih malu-malu bahkan ada yang digendong ibunya, pemandangan yang pernah aku alami sewaktu anak-anakku masih taman kana-kanak. Tiga anak, tiga pengalaman yang berbeda. hanya berbekal modal nekad aku mencoba adaptasi dengan lingkungan baru. Semula aku ingin menampilkan cerita anak-anak bikinanku sendiri berjudul Si Kuri. On the spot saat aku perkenalkan si Molly yang bersahabat dengan si Neesha, keduanya sebagai narator membantuku mendongeng lalu cerita bergulir tentang ibu kucing bernama Popice dan tiga anaknya. Cerita tentang Popice ada diblog ini dan ada di Kompasiana. Cerita itu memang dari kisah nyata seekor kucing kampung yang nyasar di halaman rumah Maestro Fariz RM. Hal yang seupa cerita Si Kuri berdasarkan cerita kura-kura kecil yang pernah dititipkan kepadaku oleh Dede Gaza, putra bunsgu sahabatku ya si pemilik sekolah tanam kanak-kanak itu.

"Apakah ini Si Nessha? Dan itu Si Molly?"
Si Nessha
Si Molly
Iya benar, mereka keduanya yang akan membuka cerita. Perkenalkan dulu Si Nessha adalah anjing cantik berbulu lentik, dan Si Molly adalah monyet kecil lincah dan ceria, diekornya mengait sebuah pisang. Wow, ternyata anak-anak menyukai Si Molly karena penampilannya memang lucu, selain ia berkacamata lebar dan memakai baju dan celana pendek, agak tomboi dan usil tapi ia sangat setia kawan dan menghibur sahabatnya. Aku menemukan kedua saat menuruni eskalator di BTM. Yang satu SI Nessha boneka tangan murah seharga Rp 15.000,- dan satunya lagi boneka kecil berbentuk monyet, lebih murah lagi harganya Rp 12.000,-.

"Kenapa harus memakai alat peraga?" Iya semua mengalir saja, meski yang terbersit dipikiranku adalah mendongeng ala jaman dulu saat anak-anak masih kecil, yaitu membacakan buku cerita. Dan nggak ingin mencontoh yang sudah ada misal boneka Si Tongki-nya pak Gatot Sunyoto, atau Si Komo-nya Kak Seto. Aku ingin mendongeng yang nantinya akan menjadi cerita baru karangan sendiri. Ajang mendongeng itu sponatitas ingin menguji nyali dan kepiawaianku berekspresi. Namun bila aku gagal sebagai pendongeng, setidaknya aku sudah punya inspirasi menulis cerita anak-anak nantinya. Maklum dunia anak sudah aku tinggalkan hampir duapuluh tahun yang lalu. Dan aku harus membangun chemistry dengan mereka dan menemukan passion-ku.


"Wow...itu siapa lagi, nampaknya lucu dan menggemaskan?" Oh itu Si Nangki adalah monyet berjambul yang ngerocker, asyik deh. Inspirasi namanya dari nama temanku Nanang. Kalau satunya lagi Si Jamba adalah singa raja rimba. Ceritanya nanti mereka para penghuni hutan rimba merasa kelangsungan hidupnya mulai terancam dengan global warming saat kini. Anak-anak diajarkan mencintai alam, dan dikenalkan budi pekerti dalam pertemanan. Jadi mendongeng yang akan aku ceritakan nanti ada amanah-nya yang dikemas dalam suasana ringan menyenangkan. Bukan sekedar mendongeng Dinosaurus, Timus Emas atau Cinderella, oh bukan seperti itu inginku. Walau nyatanya dihari pertama aku kewalahan saat anak-anak membongkar isi tasku, merebut si Molly dan menciumi si Nessha. Ada yang memelukku dari belakang dan otomatis kerudungku melorot. Bahkan aku hilang arah tujuan mendongengku. Itu semua sebagai ujianku, walau hati nuraniku berteriak, "Tolong akuuuuu....!" Bahkan sahabatku seperti mentertawaiku! Bukan seperti itu, aku masih pemula, aku buta dunia anak-anak meski aku menyukai mereka.

"Lalu, kamu yakin pilihanmu itu?" Maksudnya menjadi guru tetap? Oh, tidak aku nggak ada niatan menjadi guru tetap, aku ini sebagai guru bintang tamu, aku butuh waktu arah kesana. Biarlah ini menjadi ladang ekspresiku, mengusir kepenatkan atas rutinitas hidup. Nanti akan aku jelaskan kepadanya, karena seusai pulang mengajar aku mengalami perang bathin dan aku nggak mau kehilangan diriku sendiri. Aku jangan dibebani dengan peranan guru tetap, itu akan membuat asma-ku kumat dan gula darahku tinggi. Biarkan semua mengalir dulu, nanti kalau itu merupakan sebuah panggilan hati, Insya Allah aku jalani dengan ikhlas. Mendongeng adalah aktivitas baruku, aku masih perlu belajar dan belajar lagi seperti saat aku pertama menekuni aktivitas videomaker dan penulis cerpen. Mendongeng dan melahirkan cerita anak-anak saling bersinambungan. Apalagi ini mendidik anak-anak calon penerus bangsa sebagai generasi muda nantinya. Seorang guru harus memberi contoh yang baik walaupun itu di saat mendongeng yang dibutuhkan mereka happy dan fun.

"Hebat. Kreatif banget !!!" Oya nggak hebatlah aku masih jauh dari itu, kalau kreatif mungkin iya benar. Menjadi orang kreatif itu membuat gairah dan semangatku kembali menyala, jiwa muda berkobar ingin membuat sesuatu yang baru walau bahan yang lama. 4 cerita anak sudah kutulis tangan, belum aku tuang dalam ketikan cerpen. Tetapi, sudah berjibun lagi inspirasi muncul. Mendongeng dan menulis sangat berbeda. namun aku ingin mencoba batas kemampuanku. Sekali lagi ini aktivitas baruku yang sangat membutuhkan ketelatenan, kesabaran dan kekreatifan. Terima kasih buat yang sudah mampir dan membaca, ini adalah curahan hatiku saat menjalani kegiatan baru sebagai ibu guru mendongeng.



Salam,
arie rachmawati






















Sabtu, 13 Juli 2013

Aktivitasku :



Saya dan Aktivitas (videomaker 2)
Oleh : Arie Rachmawati


Semula saya hanya iseng saat membuat akun di Youtube. Itu kira-kira dua puluh empat (lebih) bulan yang lalu. Setelah itu saya berpikir terlalu meremehkan dan tidak menghargai pilihan saya sendiri, jadi akhirnya berpikir menampilkan sebagian garapan saya dan ini cerita kelanjutannya. Terlalu narsis? 

Sekarang jumlah videoklip di akun itu sudah mencapai lebih duaratus yang diunggah atau di upload, wow itu benar-benar bukan pekerjaan iseng. Jujur saya menikmati sekali sebagai videomaker kelas teri, ha ha ha saya belum pantas disebut sebagai ahli video maker (profesional), karena saya hanya memanfaatkan pemakaian slide show picture yang diambil dari beberapa koleksi pribadi, koleksi teman (tentu mendapat izin dari ybs) dan gambar-gambar di internet sebut saja Google. Ada juga yang belajar memanfaatkan kecanggihan tehnologi dengan mengimport dari tayangan di youtube biasanya adegan 'scene' film, tentu film yang saya suka dengan menggabungkan lagu yang saya suka, melalui pemilihan hati. bagus atau nggaknya ya tergantung selera penikmat pemirsa di Youtube. Setidaknya saya mencoba memadupadankan antara suara dan gambar. Selebihnya kembali ke pemirsa pengunjung Youtube.

Suatu hari saya iseng melihat akun Youtube, ternyata disana ada ruang seperti grafik yang memberi laporan bahwa dari sekian tayangan garapan saya itu ada yang masuk 10 besar viewer terbanyak. Lho, tentu saja saya kaget apa benar laporan tsb. Benar dan nggak benarnya kembali ke admin Youtube saja. Kembali ke topik. Akhirnya saya jadi ingin melihat lebih lanjut lagu-lagu mana saja yang mendapat pengunjung terbanyak. Dan melihat settingan dari Youtube yang selalu menampilkan upgrade terkini, akhirnya saya menyusun lagu-lagu kedalam folder masing-masing.

Ternyata lumayan juga otak-atik menyusun lagu kedalam wadahnya masing-masing dan sejenak melupakan kepenatan tugas  sebagai IRT. Pekerjaan rumah tangga itu sepertinya ringan namun menuntut jam kerja tanpa batas.. Pinter-pinternya membagi waktu, antara hobi dan pekerjaan lainnya supaya nggak stress dan berusaha menikmati hidup dengan cara saya sendiri, yang penting tidak menelantarkan tugas utama dan tidak mengganggu ketertiban umum saja. Lha kok saya malah curhat? Hadeew !!!

Lanjuuutt . . . 
Dalam susunan share setelah mengunggah sebuah video (jenis apapun) dihadapkan pada tiga pilihan yaitu : Public, Unlisted dan Private. Dalam pengunggahan tsb apabila video yang saya upload mengandung konten telah dimiliki pihak lain sebut saja perusahaan rekaman dari lagu tsb, maka dihadapkan dalam dua pilihan, mengakui bahwa itu milik mereka dan satunya bahwa bukan milik mereka. Nggak terlalu ribet andai mengetahui prosedurnya, tinggal klik tanda yang ditawarkan menyatakan 'setuju' dan tayangkan terlayarkan disertai sisipan iklan (biasanya begitu). Namun ada juga yang mengandung larangan ditayangkan di beberapa negara tertentu (biasanya disebutkan), jadi nggak bisa mendunia postingkan tsb. Kebjikasanaannya mereka yang tahu, kalau ini saya kurang paham. Dan yang penting tidak diperjualbelikan, atau dikomersilkan. 

Tujuan awal (baca Saya dan Aktivitas -videomaker1/8-12 2011) adalah ingin menunjukkan kembali ke anak-anak saya (generasi kini) beberapa lagu lawas yang patut didengarkan musik, lagu dan syairnya sangat sarat makna. Tidak seperti lagu kebanyakan masa kini, asal jrang jreng lalu jadi lagu kemudian terkenal, tenggelam dan dilupakan orang. Lama kelamaan menjadi kenikmatan sendiri membuat videoklip selain menjajal tehnologi juga memancing kreativitas dan menghibur diri sendiri karena sambil bekerja bernyanyi-nyanyi, lebih-lebih bila dibubuhi teks lagu, itu sangat melatih daya dengar dan kecepatan mengetik teks lagu. Puas !

Baiklah kini saya susun tangga videoclip 10 Unggulan Terfavorit sering dilihat dari lebih seribu pengunjung Youtube versi Arie Rachmawati sbb :


  1. Bunda by Melly Goeslaw : 38.573 
  2. Sendiri by Tere : 12.656
  3. Kau dan Aku Satu by Keenan Nasution : 6.846
  4. Selamat jalan Kekasih by Chrisye : 3.085
  5. Rek Ayo Rek by Agus Pengamen Jln Sabang : 2.569
  6. Setulus Hatimu, Semurni Cintaku by Arie Koesmiran : 2.244
  7. Fly Away by Peter Allen : 1.828
  8. Menggapai Bintang by Symphony : 1.432
  9. Cinta Putih by Titik Puspa : 1.288
  10. Aku Harus Pergi by Fariz RM : 1.137 ...terhitung hingga 11-7-2013

Itu baru 10 Unggulan Terfavorit, lalu saya menyusun videoclip berdasarkan masing-masing artis/musisi misal Symphony, Fariz RM, Montecristo, Kadri Jimmo the Prinzes, Max Ridgway (Oklahoma), Klaus Kemal Koenig (Breman) dll. Ternyata untuk Symphony tanpa disangka sudah terkumpul 12 videoclip, dan khusus lagu-lagu Fariz RM sebanyak 17.wuuuiiikk buanyak juga, Oh My God !!  

Saya nggak akan mengulas urutan rating per-playlist, tapi saya akan memilih beberapa klip tsb yang menurut saya bagus secara keseluruhan, baik pilihan gambar, sound, effect dan transition sbb :

  1. Selamat Jalan Kekasih by Chrisye
  2. Cakrawala Senja by Daaryl Nasution
  3. Ain't No Sunshine by Max Ridgway
  4. Susie Bhelel by Fariz RM
  5. Bila Saja Kau Di Sini by Fariz RM feat Nuno
  6. Janji Yang Sederhana by Herman Gelly 
  7. Semua Perasaanku by KJP 
Ya hanya 7 saja, selebihnya masuk golongan suka-suka bahkan ada satu lagu 'istimewa' karena dibuatkan khusus oleh seseorang atas request saya kepadanya dan langsung saya buat dua videoclip (2 versi). Untuk susunan gambar mungkin terlalu rame dan satunya terlalu monoton yaitu "That's What Friends Are For by Max Ridgway" tapi bagi saya itu sangat special banget meski nggak pake ceplok telur sih.



Ada pula videoclip antara lain : Bila Saya, dan Fajar Kelabu yang sangat menguras energi, pikiran dan emosi karena saat menyimpan file selalu mengalami kegagalan, setelah bertanya kepada beberapa teman yang memberi solusi akhirnya ditemukan jawabannya dan otomatis lega. Tips yang saya pakai saat sudah menthoq alias jalan buntu, tingglakan saja itu. Nanti bila hati sudah tenang dan pikiran jernih kembali dikerjakan pasti akan menemukan solusi yang tepat, Karena pengalaman semakin diotak atik semakin ruwet akhirnya memancing emosi sendiri. 







Membuat videoklip membuat saya sedikit beken dikalangan beberapa teman dari benua lain. Biasalah awalnya iseng, saya memohon izin membuat klip dengan memakai beberapa foto milik musisi (gitaris) dari Obernbreit - Germany bernama Axel Weiss untuk lagu intrumentalia karya Agus Supriadi /mas Hadhie(kakak kandung) berjudul "How Deep Is Your Love nya Bee Gees, setahun lalu lalu merayap ke musisi (gitaris) dari Oklahoma bernama Max Ridgway, untuk lagu instrumentalia :Final Chapternya Karimata. 1,2,3 dan seterusnya lama-lama lebih sepuluh lagu instrumental karya mas Hadhie itu kelar juga diklipkan ala rie, dengan 4 koleksi foto para musisi luar selain dua diatas itu mereka adalah Helena Paglia Rios (Montevideo-Uruguay) dan
Klaus Kemal Koenig (Breman). Mungkin karena itu saya mendapat kiriman CD-CD dari mereka, dan tanpa disuruh pun tangan usil ini menghasilkan beberapa videoklip untuk lagu-lagu mereka versi saya, tentunya setelah melewati koreksi dan tanda deal siap ditayangkan.

Saya memang senang menulis, termasuk pengalaman menjadi videomaker ini, otodidak dan berani malu, mengakui kekurangan dengan bertanya kepada yang saya anggap mentor dalam bidang ini. Lebih-lebih saat hasil garapan mendapat komentar dari mereka yang benar-benar profesional dibidang ini. Pujian menjadi kian semangat, kritikan yang membangun membuat kian melek akan kelalaian, kecerobohan dan sebagai pelajaran pengalaman. Kritikan pedas yang rada jealous tanpa alasan yang kuat, memang pernah membuat saya down bahkan asma ikutan kambuh mendadak untungnya nggak punya sakit jantung. Jelas sempat malas melanjutkan draft klip yang menumpuk di PC. Namun untungnya saya memiliki banyak sahabat yang support hingga akhirnya saya kembali menekuni ini dan bisa bercerita dalam tulisan.

Senangnya bisa saling berbagi, membuat suasana hati senantiasa riang akan berdampak positif buat kesehatan diri. Rasa semangat tiada habisnya bisa menularkan energi positif untuk sekitarnya dan pertemanan bisa saling bermanfaat. Menyenangkan orang lain, diri sendiri dengan cara saya sendiri adalah wujud dari berkahnya usia. Seperti sambung menyambung rentetan cerita yang bermula iseng dan kebetulan menjadi rutinitas yang menyenangkan. Subhanallah nikmatnya jadi-jadian videomaker. Maturtengkyuh temans yang dibelakang saya menguatkan agar senantiasa bersemangat nekuni ini. Dan Thanks berat buat yang mampir dan membaca tulisan ini. 
Anyway t e r i m a  k a s i h . . . 


(bersambung) ... Saya dan Aktivitas lainnya



Salam,
arie rachmawati





Minggu, 16 Juni 2013

Super Hero


S U P E R M A N (beloved one)



SUPERMAN, sekitar tahun 1978-1979 pertama kali aku mengenal tokoh hero itu saat liburan SD ke Sumenep, ke rumah saudaraku bernama Denny Kastrianto. Sebaya usia, karena dia laki-laki otomatis buku bacaannya banyak tentang tokoh pahlawan komik seperti Superman, Batman, Spiderman dsb. Tapi, yang menarik perhatianku adalah Superman, bukan karena dia terlahir memang sebagai manusia super, atau satu-satunya penerus dari Planet Krypton, tetapi karena beberapa tahun kemudian dirilis film layar lebar dengan judul Superman The Movie, diperankan oleh Christopher Reeve. Jadi imajinasi dari cerita komik tersalurkan dalam gambar nyata lewat sebuah film. Mungkin karena si pemeran tokoh itu super ngganteng untuk era 80'an atau pas aku baru akil baliq, entahlah pokoknya s u k a abiiiiss !  Saking sukanya sampai mengoleksi buku tulis dengan cover film Superman dan mainan wayang (yaitu gambar-gambar kecil yang digunting-gunting).

Karakter Clark Kent sisi lain Superman saat menjadi manusia biasa yang berprofesi sebagai wartawan Daily Post, rekan kerja dengan Lois Lane yang di film diperankan Margot Kidder. Kisah cinta dibalik padatnya jam kerja dan sibuknya si mas Superman mengatasi kekacauan di kota, mereka berdua terlihat sangat romantis, bagaimana rasanya bila aku merasakan apa yang dirasakan si Lois Lane. Jiwa remaja-ku berpetualang membayangkan indahnya melayang berdua dilangit biru dan debaran jantung yang tak beraturan ketukannya. Ya itulah film Superman The Movie yang sangat membekas dihati, meski beberapa tahun kemudian muncul kelanjutannya (maaf aku lupa judulnya), film pertama itu berkesan sekali. Hingga karakter pribadi si pemeran seakan menyatu dalam tokoh heroik itu.
Christopher Reeve
Beberapa tahun kemudian, saat televisi swasta berjaya di tanah air, aku pernah melihat mini serinya yang berjudul Smallvillie yang diperankan oleh Tom Welling, cakep juga sih namun berhubung hatiku sudah kepincut sama Christoper Reeve, jadi menonton filmnya nggak begitu berkesan. Walau pun begitu tetap tokoh Superman pertama-lah yang kukenal dari pada si Batman atau Spiderman atau siapa lagi yang hingga kini diangkat kelayar lebar.

Berjalannya waktu dengan kesibukan sebagai ibu rumah tangga, mengurus tiga anak laki-laki. Ryo, Ryan Edo, masa kecilnya mereka menyukai tokoh-tokoh komik hero tsb. Kak Yo atau Ryo menyukai Batman, Ryan dan Edo sama-sama suka Spiderman, dan Ibunya suka Superman jadi lengkaplah sudah tiga tokoh tsb melengkapi wadah mainan.Untuk film layar lebar sudah nggak sempat nonton lagi, apalagi mengikuti perkembangan film-film yang diperankan Reeve. Namun cukup meminjam di rental film, saat itu sempat menikmati jamannya laser disc lalu beralih ke CD dan DVD. Hanya dua film "Somewhere in Time" dan "Rear Window," yang aku tahu filmnya Reeve diluar perannya menjadi Superman.Untuk film Rear Window, kudapatkan originalnya saat jalan-jalan ke mall pas suasana obralan film. Seiring itu ada berita tentang sakitnya Reeve, melalui berita di televisi. Untuk selengkapnya aku sengaja menyalin tentangnya lewat Wikipedia sbb :

Christopher Reeve D'Olier [1] (September 25, 1952 - 10 Oktober 2004) adalah seorang aktor Amerika, sutradara, produser, penulis skenario, penulis dan aktivis. Dia mencapai ketenaran untuk prestasi aktingnya, khususnya nya penggambaran gerak-gambar fiksi superhero Superman.

Pada tanggal 27 Mei 1995, Reeve menjadi lumpuh setelah dilempar dari kuda selama kompetisi berkuda di Culpeper, VA. Dia membutuhkan kursi roda dan alat bantu pernapasan selama sisa hidupnya. Dia melobi atas nama orang dengan cedera sumsum tulang belakang dan untuk penelitian sel induk embrio manusia, mendirikan Yayasan Christopher Reeve dan co-pendiri Pusat Penelitian Reeve-Irvine. [2]
Reeve menikah Dana Morosini pada April 1992. Christopher dan Dana mempunyai putra, William Elliot Reeve, lahir pada tanggal 7 Juni 1992. Reeve juga memiliki dua anak, Matthew Exton Reeve (lahir 1979) dan Alexandra Exton Reeve (lahir 1983), dari hubungan sebelumnya dengan pacar lamanya, Gae Exton. [3] --- salinan terjemahan dari Wikipedia. 

Hampir sepuluh tahun Reeve berpulang, dan ada dua tokoh Superman regenerasi yang menggantikan posisinya, sebut saja si Brandon Routh dalam film Superman Return dan Henry Canvill si Man of Steel. Brandon Routh, aku pikir wajahnya hampir mirip sekilas dengan mudanya Reeve, tapi untuk filmnya belum melihat di gedung bioskop, hanya memalui dvd saja. Jadi perannya aku nggak dapat ruhnya.Ya inilah cerita selengkapnya untuk pembahasan Man of Steel, yang rilis 14 Juni 2013 lalu, versi Arie Rachmawati.




Jum'at, 14 Juni 2013

Untuk Man of Steel, aku menonton dengan anak ragilku Edo di Blitz Megaplex Paris Van Java, Bandung. Sepulang dari tilik bayi saudara sepupuku, mampirlah ke PVJ, tanpa sengaja hari itu ramai banget rupanya tayangan perdana film tsb. Hmm....ada rasa kecewa, ini hanya opiniku saja sebagai pecinta Superman. Superman lebih-lebih auranya Reeve sangat pas sebagai tokoh tsb. Tetapi si Henry Canvill menurutku kurang senyum, dan terlalu pendiam. Dari judul film, sudah beda, meski menampilkan Superman. Dari segi postur tubuh lebih tinggi dari Reeve. Hairstyle-nya agak bergelombang, dan khas huruf 'S' -nya ditiadakan. Untuk jubah, warnanya beda, namun jubahnya sangat panjang dan kesannya keren banget saat dikibaskan, point plus dariku (emang pengamat fashion film?). Dan lebih-lebih tokoh si Lois Lane disana diceritakan wartawati cantik itu mengetahui siapa sebenarnya si Man of Steel alias Superman, yang secara nggak sengaja diikuti jejaknya saat di pegunungan salju menemukan timbunan sisa-sisa planet Krypton. "Lha kok gitu?" gumamku dalam hati sambil menonton menikmati popcorn ukuran large. Nyam, nyam...tetap menikmati suguhan film Man of Steel bertabur bintang-bintang gaek berperan sebagai orang tua angkat Clark Kent, yaitu Kevin Costner sebagai Jonathan Kent, dan sang ibu Martha Kent diperankan oleh Diane Lane. Untuk peran ayah kandung Jor-El adalah Russel Crowe , dan si Lois Lane diperankan si cantik Amy Adams.

Usai layar lebar menutup layarnya, dan aku beranjak meninggalkan gedung bioskop, barulah browsing di internet mengapa alur ceritanya begitu. Melalui terjemahan Wikipedia, akhirnya mendapat jawaban atas pertanyaan itu. Mau nggak mau, hati kecilku tetap ngeyel bahwa Lois Lane yang dicintai Clark Kent dan Superman itu, aslinya nggak pernah tahu bahwa mereka satu orang. Saat Clark Kent menjelma menjadi manusia biasa juga teman sekantornya, Lois Lane bersikap cuek. Di film Man of Steel, Lois Lane telah mengetahui dengan jelas siapa laki-laki baja berparas rupawan itu tak lain adalah Superman. Bahkan diending film ditampilkan Clark Kent menjadi wartawan di harian Daily Post. Laki-laki yang awalnya diselidiki latarbelakangnya dan karena ambisinya untuk menunjukkan hasil tulisannya agar dimuat diberita utama namun ditolak pak bosnya. Lalu tetap diedarkan memalui media internet lainnya.

Terkuaknya siapa Man of Steel karena kesalahannya itu, maka Lois Lane berani mengambil tindakan yang membahayakan dirinya sendiri guna ikut membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi Superman. Perperangan antara musuh bebuyutan ayah kandungnya Superman, Joe-El dengan Jendral Zod, di Planet Krypton. Terlihat aneh saja menurutku. Jelas cerita disini sangat mengedepankan cerita awal kisah kronologinya kenapa Planet Krypton hancur, dan kenapa putra tunggal Jor-El dikirim ke planet Bumi. Sedang adegan kecanggihan aksi laga si tokoh hampir mirip Batman Begins, Spiderman 3 dan Iron Man 3.

Apapun itu meski terselip rasa kecewa, ada pula rasa terima kasih buat perfilman dunia karena membuat Man of Steel disaat usiaku 45 tahun ini masih diberi kesempatan menonton dengan kondisi sehat wal'afiat bersama putra ragilku, Edo. Usai menonton kami berdua diskusi, sangat menyenangkan sekali, bahkan mengompori kakak-kakaknya yang lain biar menonton juga di kota masing-masing. Siapa pun mereka sebagai permeran Superman telah menghidupkan tokoh komik itu., selain mereka keren, cakep, juga penyulut gairah mengangkat ke layar lebar sesuai masanya yang berlaku. Superman telah regenerasi, tetapi Christopher Reeve-lah pahlawan Superman-ku, semoga arwah Reeve disana tersenyum bahwa tokoh yang pernah diperankan pada masa kini bisa dinikmati dalam versi 3D dan ditayangkan di gedung bioskop yang megah hanya ada di mall yang bergengsi di kota masing-masing. Hidup S u p e r m a n. Hidup Christopher Reeve-ku, so lovely you. Terima kasih pembaca.

Daftar Pustaka :  Wikipedia - Google Images - Collages Superman by Arie Rachmawati



Salam, 
Arie Rachmawati





Senin, 10 Juni 2013

Ke Jambi Kita Kembali

Jejak yang Tertinggal


Tidak semuo orang biso bepantun, termasuk kami. Biaklah sedikit tak apolah jugo. Makan tekwan sekalian goreng ikan saluang, beli talam ebi ke pasar angso duo - demi kawan kami lah betandang (datang) ke Jambi besamo-samo . . . amboi nian la pacak jugo.


Kalimat diatas itu meluncur dengan sendirinya saat saya menampilkan beberapa foto selama berkunjung ke kota bersemboyan "Sepucuk Jambi Sembilan Lurah", dengan anggota keluarga lengkap yang terdiri dari Aryo Rizky Putra (Kak Yo), Aryanto Rachmadi Putra (Ryan), Ardianto Ridho Putra (Edo), Tonny Joostiono (suami) dan saya. Semua itu bisa terlaksana tak lepas dari izin-Nya. Rasanya seperti mimpi bisa kembali ke kota kelahiran Ryan dan Edo dengan keadaan sehat dan formasi lengkap itu. Kunjungan tersebut karena kami memenuhi undangan pernikahan mbak Wulan, putri pak Kadir Rabbani tetangga kami sewaktu kami tinggal di lorong Tulip II (STM Atas) Jambi. 3 Juli 2005 kami resmi meninggalkan kota sejuta kenangan, disana lah kami mengukir hari-hari selama kurun waktu tiga belas tahun, lalu kami kembali lagi setelah delapan tahun berlalu. Di saat anak-anak dan suami berada di kota yang berbeda, meski tempat tinggal tetap di Bogor.

Kamis, 6 Juni 2013



Hari itu hari Isra' Miraj adalah hari libur nasional, pagi setelah subuh beranjak suami datang dari Lampung lalu tak lama kira-kira empat jam kemudian kami menuju pul bus Damri jurusan bandara Soekarno Hatta. Siang itu saya, suami dan Ryan sudah tiba di terminal 1B menunggu kedatangan Edo si ragil yang berangkat dari Bandung. Sejam sebelum waktu check in kami berempat berkumpul dan segera melakukan boarding setelah makan siang di Solaria. Cuaca nan cerah, penerbangan pun lancar on time, sejam melayang di udara mendarat di bandara Sultan Thaha Jambi. Alhamdulillah.


Menjelang cakrawala senja jatuh Oh My God, hotel Formosa tempat bermalam sengaja dipilih mendekati bandara dengan upaya nanti bisa lebih cepat aksesnya. Maaf saya anti gengsi, akhirnya saya memutuskan memakai jasa ojek bukan karena saya lokek (pelit), tapi tawaran itu sungguh t e r l a l u. Berbekal dua ojek saya dan suami tiba duluan di hotel, sementara anak-anak jalan kaki sambil berniat memotret sepanjang bandara menuju hotel. Kata mereka jaraknya dekat, memang iya dekat. Dua ojek yang ikhlas itupun mendapat tambahan upah dari harga kesepakatan. Alhamdulillah Thanks to Allah SWT.

Diperaduan bersamaan berkumandang adzan magrib, kami memasuki hotel yang tak jauh dari bandara. Saat kami menunggu barang-barang di bagasi, kami ditawari jasa taksi yang harganya ya ampun gila banget, seratus ribu coy !. Andai kami buta kota Jambi dan pasrah kepada mereka penawar jasa niscaya mereka akan tertawa karena kami telah tertipu. Ini Jambi bukan Jakarta yang tak lepas dari jauhnya jarak, kemacetan atau banjir pada musimnya, harga segitu mungkin kecil, tapi sekali lagi ini kota Jambi, dan jarak ke hotel kira-kira 500 meter. Suami saya hampir saja mengiyakan tawaran taksi itu, meski akhirnya diturunkan menjadi lima puluh ribu rupiah.



Kembali ke Jambi berarti kembali dengan suasana udara panas, gerah, kemringet tentunya. Malam datang menjelang perut pun mulai keroncongan, tak jauh dari hotel kami menemukan Rumah Makan Safari, seingat saya dulu disekitar pasar simpang Bata, nggumun alias heran karena Ryan tumbuh tinggi besar. Sedang Edo dulu yang gemuk gembul kini menjadi kurus tinggi berkacamata pula, jelas berbeda dari delapan tahun yang lalu. Beberapa cerita bergulir mengisi kerinduan yang lama terpendam, sementara anak-anak ijin meminjam motornya pak Jup untuk keliling sejenak kota Jambi. Jambi dalam pelukan malam, ternyata benar saat saya menanyakan keberadaan rumah makan Padang itu, ternyata daya ingat saya masih oke. Nasi ngepul khas beras Bareh Solok dengan berpiring warna-warni lauk namun hanya sepiring dendeng batokok yang menggoda. Lep..lep saking lahapnya namboh lagi, ha ha ha. Rindu nasi yang kempyur selain memang lagi lapar lengkaplah sudah acara makan malam penuh nikmat itu. Di hotel telah menunggu pak Juprinon, beliau ini dulu ketua sekuriti kantor PT Telkom Centrum, begitu melihat Ryan dan Edo, pak Jup nampak senang, "Lamo tak jumpo, ai kau lah besak nian Ryan, Edo." Waktu berlalu begitu cepat, dulu anak-anak masih SD kini menjadi sosok pemuda, wajarlah terbesit wajah

Jum'at 7 Juni 2013


Pagi mobil pinjaman sudah nangkring di halaman hotel. Pagi menjelang siang meluncurlah kami ke jajaran makanan di samping BNI-Xaverius menikmati es tebu,tekwan, sioamy Mang Aceng. Lalu jelajahi sisi lain Jambi terutama mampir sejenak di Ndilala sesuai misi Edo ingin memotret beberapa objek, maka meluncurlah kami ke sana. Namun dalam pertengahan perjalanan kami memutuskan balik ke kota lagi dikarenakan jalanan kurang bagus, dan mobil yang dipakai kurang nyaman. Nampak sekali kurang perawaratan sehingga dikhawatiran terjadi sesuatu yang nggak diinginkan. Kembali ke kota . . .


SDN 42 Jambi, sekolah dasar ketiga anak-anak saya menuntut ilmu jadul. Jalan-jalan lagi menyisir ruas jalan dalam kota hingga menjelang sholat Jum'atan di Masjid Agung Seribu Tiang. Lepas jum'atan ternyata Edo menuju parkiran mobil tanpa alas kaki, oh rupanya malang nian nasibnya, saat usai jum'atan sepatunya hilang, ya sudah anggap saja shodakoh. Usai dari sana kami menuju Jembatan Aurduri II berencana melihat-lihat Candi Muaro Jambi, ini atas rekomendasi pak Juprinon.

Sepanjang perjalanan nampak padang ilalang dengan beberapa rumah panggung menjadi ciri khas penduduk Jambi (pedesaan) gunanya untuk menghindari rumah terendam banjir dari sungai Batanghari bila meluap. Sekilas nampak keren rumah sederhana itu, jauh dari kesan hiruk pikuk, yang terasa damai. Sepanjang jalan pun melintas beberapa mobil pick-up mengangkut hasil kebun kelapa sawit. Ketika kami tinggal di Jambi, paling jauh berjalan hingga ke Kumpeh atau Kasang saja, belum pernah menjelajah sejauh itu.

Perjalanan singkat namun memberi kesan mendalam karena saat itu anak-anak sudah bisa menyetir dan bergantian supaya tidak kelelahan. Hingga akhirnya kami mampir ke WTC untuk membeli sepatu Edo selain utuk kondangan esok hari juga untuk kuliah. WTC ketika kami akan meninggalkan Jambi, sedang dalam pembangunan. Lantai dasar terkesan mewah dengan counter branded, namun ketika melangkah kaki ke lantai atas tak jauh dari mall biasa. Namun bagaimana pun juga itu pertanda pembangunan Jambi mulai nampak, daripada saat kami tinggal disana. Sepatu telah didapat, melajulah roda empat itu dan berhenti di RM Gantino Baru, rumah makan ini adalah salah satu favorit saat bulan Ramadhan tiba selalu menyempatkan mampir sekali berbuka disana kemudian berbelanja baju lebaran untuk anak-anak. Kenangan yang tak lekang oleh waktu. Seharian kenyang dan lelah dan sangat menyenangkan.

Sabtu, 8 Juni 2013


Pagi sekitar jam 07:30 wib hari Kak Yo sudah mendarat di bandara Sutan Thaha Jambi dari bandara Soekrno Hatta, perjalanan panjang dari kota Cilacap ditempuh dengan kereta api, dari Cilacap menuju Jakartar, sepulang kerja. Dini hari tiba di stasiun Gambir dan melajutkan ke bandara Soeta. setibanya Kak Yo di Jambi kami berlima rame-rame mencari sepiring sarapan ke lorong Pahlawan The Hok, namun penjual nasi gemuk dan lontong sayur itu barang dagangannya sudah habis. Melajulah kami di daerah Jelutung dan disitulah kami mengisi perut untuk bekal tenaga siang hari. Dari Jelutung meuju Saimen Bakery di pusat kota, untuk membeli beberapa jajanan basah seperti Kue Padamaram dan meluncur kembali ke daerah IAIN untuk membeli dendeng batokok khas Kerinci. Ngomong-ngomong soal dendeng batokok ini, adalah makanan favorit keluarga kami. Setiap kunjungan ke Jambi 'harus dan wajib' membelinya. Kenapa? Ya selain rasanya enak, gurih khas dagingnya itu tiada tertandingi. Selain harum baunya karena dibakar pakai arang dan sambal cukanya yang hmmm....maknyus tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Jam Resepsi semakin dekat, bergegas berganti baju dan roda empat segera menuju ke Ratu Conventional Center atau RCC tempat resepsi pernikahan mbak Sri Wulan Kartini (Wulan) dan Prima, inti dari kunjungan ke Jambi ini. Di sinilah selain menghadiri pernikahan juga merupak ajang reuni besar warga Tulip 2. Benar juga, di halaman parkir sudah disambut bang Bujang, pak Choirun, pak Didik, pak, Boy imut, pak Haryono, pak Kusairi dan banyak lagi. Yang menjadi pagar ayu pun wajah-wajah lama antara lain bu Reynaldi, bu Handoko, pak Raflesbahkan gadis-gadis remaja Tulip 2 antara lain : Puput, Wiya, Bunga dsb. Tak habis pikir disini pun bertemu dengan mantan para guru SDN 42 yaitu Ibu Winarsih dan Ibu Ernilawati. Wow, ramai nian nampaknyo silaturahmi ini.

Saat menyalami keluarga pengantin yang berbahagia, sangat tersentuh melihat Budhe Kadir menciumi Ryo-Ryan dan Edo. Terutama Edo, dimana di masa lampau Edo suka dipanggil dengan sebutan "Ndo..Ndo..!"
Ya sekarang anak-anak lah beranjak remaja menuju dewasa. "Oey lak besak kau, lamo tak jumpo, ai ai lah pado bujang galo." sangat mewakili sapaan senada para warga Tulop 2. Di tengah banyaknya tamu undangan yang memenuhi ruangan, saya mencari sosok sahabat lama yaitu Anny. anny adalah saudara sepupu keluarga pengantin yang mempunyai hobi dan cerita yang sehati. Kini Anny telah menikah dan dikaruniai seorang putra. Benar-benar temu kangen untuk semuanya. Dan akhirnya waktu menggiring diujung pertemuan pengantin itu.

Usai acara kondangan masih berlanjut meneruskan sisa-sisa kunjungan silaturahmi antara lain ke rumah mbak Murni yang suaminya baru saja meninggal dunia, kemudian ke rumah mbak Retno Watir (Eet) sayangnya beliau tidak berada di tempat lalu dilanjut pak Somat, kemudian kuliner hingga menjelang adzan Magrib. Lelah namun menyenangkan, meski dengkul rasanya mau copot tapi sangat puas. Oh, ternyata acara belum berakhir ding ! Usai mandi dan sholat Magrib masih berlanjut ke daerah sekitar Angso Duo tepatnya Tanggo Rajo, tentu ingin bernostalgia menikmati jagung bakar, es tebu dan sate Padang. Waduuuh, ampun saya cukup minum es tebu dan nikmati satu jagung bakar saja. Wow tak telap lagi nih nampaknyo, selain kecapekan dan mengantuk juga perut telah kekenyangan. Barakahallahu fiikum.

Minggu, 9 Juni 2013

Dini hari Jambi diselimuti awan mendung dan guyuran hujan lembut, iramanya seperti ketukan birama 4/4 bakalan lama turunnya. Pagi sekali Kak Yo sudah meninggalkan hotel untuk segera check in di bandara Sutan Thaha Jambi, penerbangan akan berlanjut ke Yogyakarta baru dilanjut ke Cilacap lewat darat. Sedang kami berempat penerbangan siang. Alhamdulillah semuanya diberi kelancaran tanpa ada 'delay' penerbangan dan sejam kemudian dari jadwal flight sudah tiba di bandara Soekarno Hatta. Meski pun di udara menurut saya agak lama terbanganya, ternyata macet di udara pun berlaku juga dan saat mendarat pun untuk menuju tempat parkir pesawat, kami diajak muter-muter dulu, mungkin landasan terlalu padat jadwal penerbangan. Semua berjalan dalam lindungan Allah SWT hingga tiba kembali menginjakkan kaki ke rumah, pas adzan Magrib. Syukur Alhamdulillah semua niatan, kami semua yang datang dari berbagai kota datang dan pergi diberi-nya sehat wal'afiat dan lancar. Semoga tulisan ini bisa berbagi, dan untuk keluarga pak Kadir Rabbani serta warga Tulip 2 mohon maaf tidak bisa memenuhi kunjungan untuk berkangen ria, karena keterbatasan waktu dan tenaga. sekali lagi mohon dimengerti kami bisa hadir dalam keadaan keluarga lengkap semata atas izin-Nya. Terima kasih.


Salam,
Arie Rachmawati