Rabu, 17 Juli 2013

Aktivitasku :

Buku Cerita tulisn tangan tentang Si Kura-kura kecil bernama KURI

Saya Belajar Mendongeng
Oleh : Arie Rachmawati

"Mendadak jadi pendongeng?" Iya benar, aku sekarang jadi ibu guru bagian mendongeng anak-anak TK Gema Imani di Kab.Bogor, arah ke Parung di desa yang letaknya lumayan jauh dari rumah menuju arah belakang Kopasus Bogor. Itulah sekarang tempat kegiatanku yang berlangsung sejak masa pendidikan Tahun Ajaran Baru 2013-2014.

"Lho cerita gimana kok bisa jadi pendongeng ?" Ceritanya dari sebuah obrolan dengan sahabatku bernama Dian Anggari, dia dulu tetangga sewaktu aku mengontrak rumah di Anyelir, dan teman sepengurusan sewaktu di Mejelis Ta'lim Uswatun Hasanah, pokoknya solulmate deh ! Oya dia juga yang mengajariku bahasa Jerman. Blablabla, intinya di sekolah taman kanak-kanak yang dia kelola itu membutuhkan orang yang bisa mendongeng dan dia berpikir aku orang yang tepat. Duuhh, nggak kebayang aku menjadi ibu guru kanak-kanak dan mendongeng lagi. Tawaran itu sudah lama sekali, seingatku awal tahun 2013 lalu, namun aku belum memberi jawaban iya atau tidak. Aku belum yakin pada diriku sendiri. Hobi mendongeng sih, saat anak-anakku sewaktu kecil dengan cerita masing-masing yang mereka sukai. Tapi ini kan untuk sebuah sekolahan yang mengemban tugas mulia mendidik calon generasi muda mendatang. Mendongeng yang mendidik, bukan sekedar pengisi waktu yang telah diprogramkan oleh sekolahan tsb sebagai kegiatan baru yaitu mendongeng dan bermain angklung.

"Apakah ini persiapan menjadi seorang nenek?" Hahaha, ini seperti pertanyaan beberapa temanku di facebook saat aku menampilkan tentang Si Kuri. Menurutku pertanyaan itu nggak kreatif banget, terlalu dangkal. Pada saatnya nanti aku menjadi seorang nenek, kamu-kamu juga. Tapi menjadi nenek dan ibu guru yang kebagian mendongeng menurutku hal berbeda. Meski sama-sama obyeknya anak-anak kecil.
.
"Truuuus....?" Ya, kembali ke topik. Akhirnya pas kami berdua ada waktu, aku diajak ke TK tsb, sebagai perkenalan lingkungan. Tepatnya, Jum'at 21 Juni 2013 lalu itulah kunjungan pertamaku disana. Ya Allah, ini jauh dari bayanganku semula. TK tsb benar-benar jauh dari polusi udara, sangat nyaman dan sejuk. TK yang sangat beda, TK yang sederhana dengan anak-anak yang ceria. Mereka asli warga desa setempat yang jauh dari hiruk pikuknya kota. Meski kami masih di kota Bogor, serasa aku merasakan sebuah desa masa kecilku, di Barathan, Jember. Aku menemukan sawah, sejuknya udara pagi, matahari bersinar hangat, sepoaian angin menerbangkan penat dan kenangan manis masa kecil menyeruak kembali. Ada dua anak yang cacat fisik namun semangat belajarnya hebat banget. Lalu, anak-anak kecil itu yang akrab dengan alam, menjadikan pohon sebagai teman bermainnya. Mereka ceria dan nggak cengeng. Perkenalan itu menguatkan aku untuk mencoba kemampuan baru yaitu mendongeng untuk anak-anak taman kanak-kanak itu.

"So...jadi mulai kapan mengajar mereka?" Kemarin, Selasa 16 Juli 2013. Jadwal mengajarku setiap Selasa dan Kamis. Senang.

"Lalu...," Usai subuh aku bergegas mandi dan mempersiapkan diri dengan bekal yang ada. Jujur, aku nggak tahu gimana nantinya, aku jalani aja dan memohon bantuan kepada sahabatku itu. Kami berbincang-bincang selama perjalanan menuju lokasi dengan melewati hambaran pematang sawah nan luas. Berhenti sejenak untuk memotret dari kamera seluler. Lihatlah indah nian pagi menyambut semangatku, hingga tibalah di halaman sekolah. Anak-anak baru masih malu-malu bahkan ada yang digendong ibunya, pemandangan yang pernah aku alami sewaktu anak-anakku masih taman kana-kanak. Tiga anak, tiga pengalaman yang berbeda. hanya berbekal modal nekad aku mencoba adaptasi dengan lingkungan baru. Semula aku ingin menampilkan cerita anak-anak bikinanku sendiri berjudul Si Kuri. On the spot saat aku perkenalkan si Molly yang bersahabat dengan si Neesha, keduanya sebagai narator membantuku mendongeng lalu cerita bergulir tentang ibu kucing bernama Popice dan tiga anaknya. Cerita tentang Popice ada diblog ini dan ada di Kompasiana. Cerita itu memang dari kisah nyata seekor kucing kampung yang nyasar di halaman rumah Maestro Fariz RM. Hal yang seupa cerita Si Kuri berdasarkan cerita kura-kura kecil yang pernah dititipkan kepadaku oleh Dede Gaza, putra bunsgu sahabatku ya si pemilik sekolah tanam kanak-kanak itu.

"Apakah ini Si Nessha? Dan itu Si Molly?"
Si Nessha
Si Molly
Iya benar, mereka keduanya yang akan membuka cerita. Perkenalkan dulu Si Nessha adalah anjing cantik berbulu lentik, dan Si Molly adalah monyet kecil lincah dan ceria, diekornya mengait sebuah pisang. Wow, ternyata anak-anak menyukai Si Molly karena penampilannya memang lucu, selain ia berkacamata lebar dan memakai baju dan celana pendek, agak tomboi dan usil tapi ia sangat setia kawan dan menghibur sahabatnya. Aku menemukan kedua saat menuruni eskalator di BTM. Yang satu SI Nessha boneka tangan murah seharga Rp 15.000,- dan satunya lagi boneka kecil berbentuk monyet, lebih murah lagi harganya Rp 12.000,-.

"Kenapa harus memakai alat peraga?" Iya semua mengalir saja, meski yang terbersit dipikiranku adalah mendongeng ala jaman dulu saat anak-anak masih kecil, yaitu membacakan buku cerita. Dan nggak ingin mencontoh yang sudah ada misal boneka Si Tongki-nya pak Gatot Sunyoto, atau Si Komo-nya Kak Seto. Aku ingin mendongeng yang nantinya akan menjadi cerita baru karangan sendiri. Ajang mendongeng itu sponatitas ingin menguji nyali dan kepiawaianku berekspresi. Namun bila aku gagal sebagai pendongeng, setidaknya aku sudah punya inspirasi menulis cerita anak-anak nantinya. Maklum dunia anak sudah aku tinggalkan hampir duapuluh tahun yang lalu. Dan aku harus membangun chemistry dengan mereka dan menemukan passion-ku.


"Wow...itu siapa lagi, nampaknya lucu dan menggemaskan?" Oh itu Si Nangki adalah monyet berjambul yang ngerocker, asyik deh. Inspirasi namanya dari nama temanku Nanang. Kalau satunya lagi Si Jamba adalah singa raja rimba. Ceritanya nanti mereka para penghuni hutan rimba merasa kelangsungan hidupnya mulai terancam dengan global warming saat kini. Anak-anak diajarkan mencintai alam, dan dikenalkan budi pekerti dalam pertemanan. Jadi mendongeng yang akan aku ceritakan nanti ada amanah-nya yang dikemas dalam suasana ringan menyenangkan. Bukan sekedar mendongeng Dinosaurus, Timus Emas atau Cinderella, oh bukan seperti itu inginku. Walau nyatanya dihari pertama aku kewalahan saat anak-anak membongkar isi tasku, merebut si Molly dan menciumi si Nessha. Ada yang memelukku dari belakang dan otomatis kerudungku melorot. Bahkan aku hilang arah tujuan mendongengku. Itu semua sebagai ujianku, walau hati nuraniku berteriak, "Tolong akuuuuu....!" Bahkan sahabatku seperti mentertawaiku! Bukan seperti itu, aku masih pemula, aku buta dunia anak-anak meski aku menyukai mereka.

"Lalu, kamu yakin pilihanmu itu?" Maksudnya menjadi guru tetap? Oh, tidak aku nggak ada niatan menjadi guru tetap, aku ini sebagai guru bintang tamu, aku butuh waktu arah kesana. Biarlah ini menjadi ladang ekspresiku, mengusir kepenatkan atas rutinitas hidup. Nanti akan aku jelaskan kepadanya, karena seusai pulang mengajar aku mengalami perang bathin dan aku nggak mau kehilangan diriku sendiri. Aku jangan dibebani dengan peranan guru tetap, itu akan membuat asma-ku kumat dan gula darahku tinggi. Biarkan semua mengalir dulu, nanti kalau itu merupakan sebuah panggilan hati, Insya Allah aku jalani dengan ikhlas. Mendongeng adalah aktivitas baruku, aku masih perlu belajar dan belajar lagi seperti saat aku pertama menekuni aktivitas videomaker dan penulis cerpen. Mendongeng dan melahirkan cerita anak-anak saling bersinambungan. Apalagi ini mendidik anak-anak calon penerus bangsa sebagai generasi muda nantinya. Seorang guru harus memberi contoh yang baik walaupun itu di saat mendongeng yang dibutuhkan mereka happy dan fun.

"Hebat. Kreatif banget !!!" Oya nggak hebatlah aku masih jauh dari itu, kalau kreatif mungkin iya benar. Menjadi orang kreatif itu membuat gairah dan semangatku kembali menyala, jiwa muda berkobar ingin membuat sesuatu yang baru walau bahan yang lama. 4 cerita anak sudah kutulis tangan, belum aku tuang dalam ketikan cerpen. Tetapi, sudah berjibun lagi inspirasi muncul. Mendongeng dan menulis sangat berbeda. namun aku ingin mencoba batas kemampuanku. Sekali lagi ini aktivitas baruku yang sangat membutuhkan ketelatenan, kesabaran dan kekreatifan. Terima kasih buat yang sudah mampir dan membaca, ini adalah curahan hatiku saat menjalani kegiatan baru sebagai ibu guru mendongeng.



Salam,
arie rachmawati






















Posting Komentar