Rabu, 17 Juli 2013

Aktivitasku :

Buku Cerita tulisn tangan tentang Si Kura-kura kecil bernama KURI

Saya Belajar Mendongeng
Oleh : Arie Rachmawati

"Mendadak jadi pendongeng?" Iya benar, aku sekarang jadi ibu guru bagian mendongeng anak-anak TK Gema Imani di Kab.Bogor, arah ke Parung di desa yang letaknya lumayan jauh dari rumah menuju arah belakang Kopasus Bogor. Itulah sekarang tempat kegiatanku yang berlangsung sejak masa pendidikan Tahun Ajaran Baru 2013-2014.

"Lho cerita gimana kok bisa jadi pendongeng ?" Ceritanya dari sebuah obrolan dengan sahabatku bernama Dian Anggari, dia dulu tetangga sewaktu aku mengontrak rumah di Anyelir, dan teman sepengurusan sewaktu di Mejelis Ta'lim Uswatun Hasanah, pokoknya solulmate deh ! Oya dia juga yang mengajariku bahasa Jerman. Blablabla, intinya di sekolah taman kanak-kanak yang dia kelola itu membutuhkan orang yang bisa mendongeng dan dia berpikir aku orang yang tepat. Duuhh, nggak kebayang aku menjadi ibu guru kanak-kanak dan mendongeng lagi. Tawaran itu sudah lama sekali, seingatku awal tahun 2013 lalu, namun aku belum memberi jawaban iya atau tidak. Aku belum yakin pada diriku sendiri. Hobi mendongeng sih, saat anak-anakku sewaktu kecil dengan cerita masing-masing yang mereka sukai. Tapi ini kan untuk sebuah sekolahan yang mengemban tugas mulia mendidik calon generasi muda mendatang. Mendongeng yang mendidik, bukan sekedar pengisi waktu yang telah diprogramkan oleh sekolahan tsb sebagai kegiatan baru yaitu mendongeng dan bermain angklung.

"Apakah ini persiapan menjadi seorang nenek?" Hahaha, ini seperti pertanyaan beberapa temanku di facebook saat aku menampilkan tentang Si Kuri. Menurutku pertanyaan itu nggak kreatif banget, terlalu dangkal. Pada saatnya nanti aku menjadi seorang nenek, kamu-kamu juga. Tapi menjadi nenek dan ibu guru yang kebagian mendongeng menurutku hal berbeda. Meski sama-sama obyeknya anak-anak kecil.
.
"Truuuus....?" Ya, kembali ke topik. Akhirnya pas kami berdua ada waktu, aku diajak ke TK tsb, sebagai perkenalan lingkungan. Tepatnya, Jum'at 21 Juni 2013 lalu itulah kunjungan pertamaku disana. Ya Allah, ini jauh dari bayanganku semula. TK tsb benar-benar jauh dari polusi udara, sangat nyaman dan sejuk. TK yang sangat beda, TK yang sederhana dengan anak-anak yang ceria. Mereka asli warga desa setempat yang jauh dari hiruk pikuknya kota. Meski kami masih di kota Bogor, serasa aku merasakan sebuah desa masa kecilku, di Barathan, Jember. Aku menemukan sawah, sejuknya udara pagi, matahari bersinar hangat, sepoaian angin menerbangkan penat dan kenangan manis masa kecil menyeruak kembali. Ada dua anak yang cacat fisik namun semangat belajarnya hebat banget. Lalu, anak-anak kecil itu yang akrab dengan alam, menjadikan pohon sebagai teman bermainnya. Mereka ceria dan nggak cengeng. Perkenalan itu menguatkan aku untuk mencoba kemampuan baru yaitu mendongeng untuk anak-anak taman kanak-kanak itu.

"So...jadi mulai kapan mengajar mereka?" Kemarin, Selasa 16 Juli 2013. Jadwal mengajarku setiap Selasa dan Kamis. Senang.

"Lalu...," Usai subuh aku bergegas mandi dan mempersiapkan diri dengan bekal yang ada. Jujur, aku nggak tahu gimana nantinya, aku jalani aja dan memohon bantuan kepada sahabatku itu. Kami berbincang-bincang selama perjalanan menuju lokasi dengan melewati hambaran pematang sawah nan luas. Berhenti sejenak untuk memotret dari kamera seluler. Lihatlah indah nian pagi menyambut semangatku, hingga tibalah di halaman sekolah. Anak-anak baru masih malu-malu bahkan ada yang digendong ibunya, pemandangan yang pernah aku alami sewaktu anak-anakku masih taman kana-kanak. Tiga anak, tiga pengalaman yang berbeda. hanya berbekal modal nekad aku mencoba adaptasi dengan lingkungan baru. Semula aku ingin menampilkan cerita anak-anak bikinanku sendiri berjudul Si Kuri. On the spot saat aku perkenalkan si Molly yang bersahabat dengan si Neesha, keduanya sebagai narator membantuku mendongeng lalu cerita bergulir tentang ibu kucing bernama Popice dan tiga anaknya. Cerita tentang Popice ada diblog ini dan ada di Kompasiana. Cerita itu memang dari kisah nyata seekor kucing kampung yang nyasar di halaman rumah Maestro Fariz RM. Hal yang seupa cerita Si Kuri berdasarkan cerita kura-kura kecil yang pernah dititipkan kepadaku oleh Dede Gaza, putra bunsgu sahabatku ya si pemilik sekolah tanam kanak-kanak itu.

"Apakah ini Si Nessha? Dan itu Si Molly?"
Si Nessha
Si Molly
Iya benar, mereka keduanya yang akan membuka cerita. Perkenalkan dulu Si Nessha adalah anjing cantik berbulu lentik, dan Si Molly adalah monyet kecil lincah dan ceria, diekornya mengait sebuah pisang. Wow, ternyata anak-anak menyukai Si Molly karena penampilannya memang lucu, selain ia berkacamata lebar dan memakai baju dan celana pendek, agak tomboi dan usil tapi ia sangat setia kawan dan menghibur sahabatnya. Aku menemukan kedua saat menuruni eskalator di BTM. Yang satu SI Nessha boneka tangan murah seharga Rp 15.000,- dan satunya lagi boneka kecil berbentuk monyet, lebih murah lagi harganya Rp 12.000,-.

"Kenapa harus memakai alat peraga?" Iya semua mengalir saja, meski yang terbersit dipikiranku adalah mendongeng ala jaman dulu saat anak-anak masih kecil, yaitu membacakan buku cerita. Dan nggak ingin mencontoh yang sudah ada misal boneka Si Tongki-nya pak Gatot Sunyoto, atau Si Komo-nya Kak Seto. Aku ingin mendongeng yang nantinya akan menjadi cerita baru karangan sendiri. Ajang mendongeng itu sponatitas ingin menguji nyali dan kepiawaianku berekspresi. Namun bila aku gagal sebagai pendongeng, setidaknya aku sudah punya inspirasi menulis cerita anak-anak nantinya. Maklum dunia anak sudah aku tinggalkan hampir duapuluh tahun yang lalu. Dan aku harus membangun chemistry dengan mereka dan menemukan passion-ku.


"Wow...itu siapa lagi, nampaknya lucu dan menggemaskan?" Oh itu Si Nangki adalah monyet berjambul yang ngerocker, asyik deh. Inspirasi namanya dari nama temanku Nanang. Kalau satunya lagi Si Jamba adalah singa raja rimba. Ceritanya nanti mereka para penghuni hutan rimba merasa kelangsungan hidupnya mulai terancam dengan global warming saat kini. Anak-anak diajarkan mencintai alam, dan dikenalkan budi pekerti dalam pertemanan. Jadi mendongeng yang akan aku ceritakan nanti ada amanah-nya yang dikemas dalam suasana ringan menyenangkan. Bukan sekedar mendongeng Dinosaurus, Timus Emas atau Cinderella, oh bukan seperti itu inginku. Walau nyatanya dihari pertama aku kewalahan saat anak-anak membongkar isi tasku, merebut si Molly dan menciumi si Nessha. Ada yang memelukku dari belakang dan otomatis kerudungku melorot. Bahkan aku hilang arah tujuan mendongengku. Itu semua sebagai ujianku, walau hati nuraniku berteriak, "Tolong akuuuuu....!" Bahkan sahabatku seperti mentertawaiku! Bukan seperti itu, aku masih pemula, aku buta dunia anak-anak meski aku menyukai mereka.

"Lalu, kamu yakin pilihanmu itu?" Maksudnya menjadi guru tetap? Oh, tidak aku nggak ada niatan menjadi guru tetap, aku ini sebagai guru bintang tamu, aku butuh waktu arah kesana. Biarlah ini menjadi ladang ekspresiku, mengusir kepenatkan atas rutinitas hidup. Nanti akan aku jelaskan kepadanya, karena seusai pulang mengajar aku mengalami perang bathin dan aku nggak mau kehilangan diriku sendiri. Aku jangan dibebani dengan peranan guru tetap, itu akan membuat asma-ku kumat dan gula darahku tinggi. Biarkan semua mengalir dulu, nanti kalau itu merupakan sebuah panggilan hati, Insya Allah aku jalani dengan ikhlas. Mendongeng adalah aktivitas baruku, aku masih perlu belajar dan belajar lagi seperti saat aku pertama menekuni aktivitas videomaker dan penulis cerpen. Mendongeng dan melahirkan cerita anak-anak saling bersinambungan. Apalagi ini mendidik anak-anak calon penerus bangsa sebagai generasi muda nantinya. Seorang guru harus memberi contoh yang baik walaupun itu di saat mendongeng yang dibutuhkan mereka happy dan fun.

"Hebat. Kreatif banget !!!" Oya nggak hebatlah aku masih jauh dari itu, kalau kreatif mungkin iya benar. Menjadi orang kreatif itu membuat gairah dan semangatku kembali menyala, jiwa muda berkobar ingin membuat sesuatu yang baru walau bahan yang lama. 4 cerita anak sudah kutulis tangan, belum aku tuang dalam ketikan cerpen. Tetapi, sudah berjibun lagi inspirasi muncul. Mendongeng dan menulis sangat berbeda. namun aku ingin mencoba batas kemampuanku. Sekali lagi ini aktivitas baruku yang sangat membutuhkan ketelatenan, kesabaran dan kekreatifan. Terima kasih buat yang sudah mampir dan membaca, ini adalah curahan hatiku saat menjalani kegiatan baru sebagai ibu guru mendongeng.



Salam,
arie rachmawati






















Sabtu, 13 Juli 2013

Aktivitasku :



Saya dan Aktivitas (videomaker 2)
Oleh : Arie Rachmawati


Semula saya hanya iseng saat membuat akun di Youtube. Itu kira-kira dua puluh empat (lebih) bulan yang lalu. Setelah itu saya berpikir terlalu meremehkan dan tidak menghargai pilihan saya sendiri, jadi akhirnya berpikir menampilkan sebagian garapan saya dan ini cerita kelanjutannya. Terlalu narsis? 

Sekarang jumlah videoklip di akun itu sudah mencapai lebih duaratus yang diunggah atau di upload, wow itu benar-benar bukan pekerjaan iseng. Jujur saya menikmati sekali sebagai videomaker kelas teri, ha ha ha saya belum pantas disebut sebagai ahli video maker (profesional), karena saya hanya memanfaatkan pemakaian slide show picture yang diambil dari beberapa koleksi pribadi, koleksi teman (tentu mendapat izin dari ybs) dan gambar-gambar di internet sebut saja Google. Ada juga yang belajar memanfaatkan kecanggihan tehnologi dengan mengimport dari tayangan di youtube biasanya adegan 'scene' film, tentu film yang saya suka dengan menggabungkan lagu yang saya suka, melalui pemilihan hati. bagus atau nggaknya ya tergantung selera penikmat pemirsa di Youtube. Setidaknya saya mencoba memadupadankan antara suara dan gambar. Selebihnya kembali ke pemirsa pengunjung Youtube.

Suatu hari saya iseng melihat akun Youtube, ternyata disana ada ruang seperti grafik yang memberi laporan bahwa dari sekian tayangan garapan saya itu ada yang masuk 10 besar viewer terbanyak. Lho, tentu saja saya kaget apa benar laporan tsb. Benar dan nggak benarnya kembali ke admin Youtube saja. Kembali ke topik. Akhirnya saya jadi ingin melihat lebih lanjut lagu-lagu mana saja yang mendapat pengunjung terbanyak. Dan melihat settingan dari Youtube yang selalu menampilkan upgrade terkini, akhirnya saya menyusun lagu-lagu kedalam folder masing-masing.

Ternyata lumayan juga otak-atik menyusun lagu kedalam wadahnya masing-masing dan sejenak melupakan kepenatan tugas  sebagai IRT. Pekerjaan rumah tangga itu sepertinya ringan namun menuntut jam kerja tanpa batas.. Pinter-pinternya membagi waktu, antara hobi dan pekerjaan lainnya supaya nggak stress dan berusaha menikmati hidup dengan cara saya sendiri, yang penting tidak menelantarkan tugas utama dan tidak mengganggu ketertiban umum saja. Lha kok saya malah curhat? Hadeew !!!

Lanjuuutt . . . 
Dalam susunan share setelah mengunggah sebuah video (jenis apapun) dihadapkan pada tiga pilihan yaitu : Public, Unlisted dan Private. Dalam pengunggahan tsb apabila video yang saya upload mengandung konten telah dimiliki pihak lain sebut saja perusahaan rekaman dari lagu tsb, maka dihadapkan dalam dua pilihan, mengakui bahwa itu milik mereka dan satunya bahwa bukan milik mereka. Nggak terlalu ribet andai mengetahui prosedurnya, tinggal klik tanda yang ditawarkan menyatakan 'setuju' dan tayangkan terlayarkan disertai sisipan iklan (biasanya begitu). Namun ada juga yang mengandung larangan ditayangkan di beberapa negara tertentu (biasanya disebutkan), jadi nggak bisa mendunia postingkan tsb. Kebjikasanaannya mereka yang tahu, kalau ini saya kurang paham. Dan yang penting tidak diperjualbelikan, atau dikomersilkan. 

Tujuan awal (baca Saya dan Aktivitas -videomaker1/8-12 2011) adalah ingin menunjukkan kembali ke anak-anak saya (generasi kini) beberapa lagu lawas yang patut didengarkan musik, lagu dan syairnya sangat sarat makna. Tidak seperti lagu kebanyakan masa kini, asal jrang jreng lalu jadi lagu kemudian terkenal, tenggelam dan dilupakan orang. Lama kelamaan menjadi kenikmatan sendiri membuat videoklip selain menjajal tehnologi juga memancing kreativitas dan menghibur diri sendiri karena sambil bekerja bernyanyi-nyanyi, lebih-lebih bila dibubuhi teks lagu, itu sangat melatih daya dengar dan kecepatan mengetik teks lagu. Puas !

Baiklah kini saya susun tangga videoclip 10 Unggulan Terfavorit sering dilihat dari lebih seribu pengunjung Youtube versi Arie Rachmawati sbb :


  1. Bunda by Melly Goeslaw : 38.573 
  2. Sendiri by Tere : 12.656
  3. Kau dan Aku Satu by Keenan Nasution : 6.846
  4. Selamat jalan Kekasih by Chrisye : 3.085
  5. Rek Ayo Rek by Agus Pengamen Jln Sabang : 2.569
  6. Setulus Hatimu, Semurni Cintaku by Arie Koesmiran : 2.244
  7. Fly Away by Peter Allen : 1.828
  8. Menggapai Bintang by Symphony : 1.432
  9. Cinta Putih by Titik Puspa : 1.288
  10. Aku Harus Pergi by Fariz RM : 1.137 ...terhitung hingga 11-7-2013

Itu baru 10 Unggulan Terfavorit, lalu saya menyusun videoclip berdasarkan masing-masing artis/musisi misal Symphony, Fariz RM, Montecristo, Kadri Jimmo the Prinzes, Max Ridgway (Oklahoma), Klaus Kemal Koenig (Breman) dll. Ternyata untuk Symphony tanpa disangka sudah terkumpul 12 videoclip, dan khusus lagu-lagu Fariz RM sebanyak 17.wuuuiiikk buanyak juga, Oh My God !!  

Saya nggak akan mengulas urutan rating per-playlist, tapi saya akan memilih beberapa klip tsb yang menurut saya bagus secara keseluruhan, baik pilihan gambar, sound, effect dan transition sbb :

  1. Selamat Jalan Kekasih by Chrisye
  2. Cakrawala Senja by Daaryl Nasution
  3. Ain't No Sunshine by Max Ridgway
  4. Susie Bhelel by Fariz RM
  5. Bila Saja Kau Di Sini by Fariz RM feat Nuno
  6. Janji Yang Sederhana by Herman Gelly 
  7. Semua Perasaanku by KJP 
Ya hanya 7 saja, selebihnya masuk golongan suka-suka bahkan ada satu lagu 'istimewa' karena dibuatkan khusus oleh seseorang atas request saya kepadanya dan langsung saya buat dua videoclip (2 versi). Untuk susunan gambar mungkin terlalu rame dan satunya terlalu monoton yaitu "That's What Friends Are For by Max Ridgway" tapi bagi saya itu sangat special banget meski nggak pake ceplok telur sih.



Ada pula videoclip antara lain : Bila Saya, dan Fajar Kelabu yang sangat menguras energi, pikiran dan emosi karena saat menyimpan file selalu mengalami kegagalan, setelah bertanya kepada beberapa teman yang memberi solusi akhirnya ditemukan jawabannya dan otomatis lega. Tips yang saya pakai saat sudah menthoq alias jalan buntu, tingglakan saja itu. Nanti bila hati sudah tenang dan pikiran jernih kembali dikerjakan pasti akan menemukan solusi yang tepat, Karena pengalaman semakin diotak atik semakin ruwet akhirnya memancing emosi sendiri. 







Membuat videoklip membuat saya sedikit beken dikalangan beberapa teman dari benua lain. Biasalah awalnya iseng, saya memohon izin membuat klip dengan memakai beberapa foto milik musisi (gitaris) dari Obernbreit - Germany bernama Axel Weiss untuk lagu intrumentalia karya Agus Supriadi /mas Hadhie(kakak kandung) berjudul "How Deep Is Your Love nya Bee Gees, setahun lalu lalu merayap ke musisi (gitaris) dari Oklahoma bernama Max Ridgway, untuk lagu instrumentalia :Final Chapternya Karimata. 1,2,3 dan seterusnya lama-lama lebih sepuluh lagu instrumental karya mas Hadhie itu kelar juga diklipkan ala rie, dengan 4 koleksi foto para musisi luar selain dua diatas itu mereka adalah Helena Paglia Rios (Montevideo-Uruguay) dan
Klaus Kemal Koenig (Breman). Mungkin karena itu saya mendapat kiriman CD-CD dari mereka, dan tanpa disuruh pun tangan usil ini menghasilkan beberapa videoklip untuk lagu-lagu mereka versi saya, tentunya setelah melewati koreksi dan tanda deal siap ditayangkan.

Saya memang senang menulis, termasuk pengalaman menjadi videomaker ini, otodidak dan berani malu, mengakui kekurangan dengan bertanya kepada yang saya anggap mentor dalam bidang ini. Lebih-lebih saat hasil garapan mendapat komentar dari mereka yang benar-benar profesional dibidang ini. Pujian menjadi kian semangat, kritikan yang membangun membuat kian melek akan kelalaian, kecerobohan dan sebagai pelajaran pengalaman. Kritikan pedas yang rada jealous tanpa alasan yang kuat, memang pernah membuat saya down bahkan asma ikutan kambuh mendadak untungnya nggak punya sakit jantung. Jelas sempat malas melanjutkan draft klip yang menumpuk di PC. Namun untungnya saya memiliki banyak sahabat yang support hingga akhirnya saya kembali menekuni ini dan bisa bercerita dalam tulisan.

Senangnya bisa saling berbagi, membuat suasana hati senantiasa riang akan berdampak positif buat kesehatan diri. Rasa semangat tiada habisnya bisa menularkan energi positif untuk sekitarnya dan pertemanan bisa saling bermanfaat. Menyenangkan orang lain, diri sendiri dengan cara saya sendiri adalah wujud dari berkahnya usia. Seperti sambung menyambung rentetan cerita yang bermula iseng dan kebetulan menjadi rutinitas yang menyenangkan. Subhanallah nikmatnya jadi-jadian videomaker. Maturtengkyuh temans yang dibelakang saya menguatkan agar senantiasa bersemangat nekuni ini. Dan Thanks berat buat yang mampir dan membaca tulisan ini. 
Anyway t e r i m a  k a s i h . . . 


(bersambung) ... Saya dan Aktivitas lainnya



Salam,
arie rachmawati





Minggu, 16 Juni 2013

Super Hero


S U P E R M A N (beloved one)



SUPERMAN, sekitar tahun 1978-1979 pertama kali aku mengenal tokoh hero itu saat liburan SD ke Sumenep, ke rumah saudaraku bernama Denny Kastrianto. Sebaya usia, karena dia laki-laki otomatis buku bacaannya banyak tentang tokoh pahlawan komik seperti Superman, Batman, Spiderman dsb. Tapi, yang menarik perhatianku adalah Superman, bukan karena dia terlahir memang sebagai manusia super, atau satu-satunya penerus dari Planet Krypton, tetapi karena beberapa tahun kemudian dirilis film layar lebar dengan judul Superman The Movie, diperankan oleh Christopher Reeve. Jadi imajinasi dari cerita komik tersalurkan dalam gambar nyata lewat sebuah film. Mungkin karena si pemeran tokoh itu super ngganteng untuk era 80'an atau pas aku baru akil baliq, entahlah pokoknya s u k a abiiiiss !  Saking sukanya sampai mengoleksi buku tulis dengan cover film Superman dan mainan wayang (yaitu gambar-gambar kecil yang digunting-gunting).

Karakter Clark Kent sisi lain Superman saat menjadi manusia biasa yang berprofesi sebagai wartawan Daily Post, rekan kerja dengan Lois Lane yang di film diperankan Margot Kidder. Kisah cinta dibalik padatnya jam kerja dan sibuknya si mas Superman mengatasi kekacauan di kota, mereka berdua terlihat sangat romantis, bagaimana rasanya bila aku merasakan apa yang dirasakan si Lois Lane. Jiwa remaja-ku berpetualang membayangkan indahnya melayang berdua dilangit biru dan debaran jantung yang tak beraturan ketukannya. Ya itulah film Superman The Movie yang sangat membekas dihati, meski beberapa tahun kemudian muncul kelanjutannya (maaf aku lupa judulnya), film pertama itu berkesan sekali. Hingga karakter pribadi si pemeran seakan menyatu dalam tokoh heroik itu.
Christopher Reeve
Beberapa tahun kemudian, saat televisi swasta berjaya di tanah air, aku pernah melihat mini serinya yang berjudul Smallvillie yang diperankan oleh Tom Welling, cakep juga sih namun berhubung hatiku sudah kepincut sama Christoper Reeve, jadi menonton filmnya nggak begitu berkesan. Walau pun begitu tetap tokoh Superman pertama-lah yang kukenal dari pada si Batman atau Spiderman atau siapa lagi yang hingga kini diangkat kelayar lebar.

Berjalannya waktu dengan kesibukan sebagai ibu rumah tangga, mengurus tiga anak laki-laki. Ryo, Ryan Edo, masa kecilnya mereka menyukai tokoh-tokoh komik hero tsb. Kak Yo atau Ryo menyukai Batman, Ryan dan Edo sama-sama suka Spiderman, dan Ibunya suka Superman jadi lengkaplah sudah tiga tokoh tsb melengkapi wadah mainan.Untuk film layar lebar sudah nggak sempat nonton lagi, apalagi mengikuti perkembangan film-film yang diperankan Reeve. Namun cukup meminjam di rental film, saat itu sempat menikmati jamannya laser disc lalu beralih ke CD dan DVD. Hanya dua film "Somewhere in Time" dan "Rear Window," yang aku tahu filmnya Reeve diluar perannya menjadi Superman.Untuk film Rear Window, kudapatkan originalnya saat jalan-jalan ke mall pas suasana obralan film. Seiring itu ada berita tentang sakitnya Reeve, melalui berita di televisi. Untuk selengkapnya aku sengaja menyalin tentangnya lewat Wikipedia sbb :

Christopher Reeve D'Olier [1] (September 25, 1952 - 10 Oktober 2004) adalah seorang aktor Amerika, sutradara, produser, penulis skenario, penulis dan aktivis. Dia mencapai ketenaran untuk prestasi aktingnya, khususnya nya penggambaran gerak-gambar fiksi superhero Superman.

Pada tanggal 27 Mei 1995, Reeve menjadi lumpuh setelah dilempar dari kuda selama kompetisi berkuda di Culpeper, VA. Dia membutuhkan kursi roda dan alat bantu pernapasan selama sisa hidupnya. Dia melobi atas nama orang dengan cedera sumsum tulang belakang dan untuk penelitian sel induk embrio manusia, mendirikan Yayasan Christopher Reeve dan co-pendiri Pusat Penelitian Reeve-Irvine. [2]
Reeve menikah Dana Morosini pada April 1992. Christopher dan Dana mempunyai putra, William Elliot Reeve, lahir pada tanggal 7 Juni 1992. Reeve juga memiliki dua anak, Matthew Exton Reeve (lahir 1979) dan Alexandra Exton Reeve (lahir 1983), dari hubungan sebelumnya dengan pacar lamanya, Gae Exton. [3] --- salinan terjemahan dari Wikipedia. 

Hampir sepuluh tahun Reeve berpulang, dan ada dua tokoh Superman regenerasi yang menggantikan posisinya, sebut saja si Brandon Routh dalam film Superman Return dan Henry Canvill si Man of Steel. Brandon Routh, aku pikir wajahnya hampir mirip sekilas dengan mudanya Reeve, tapi untuk filmnya belum melihat di gedung bioskop, hanya memalui dvd saja. Jadi perannya aku nggak dapat ruhnya.Ya inilah cerita selengkapnya untuk pembahasan Man of Steel, yang rilis 14 Juni 2013 lalu, versi Arie Rachmawati.




Jum'at, 14 Juni 2013

Untuk Man of Steel, aku menonton dengan anak ragilku Edo di Blitz Megaplex Paris Van Java, Bandung. Sepulang dari tilik bayi saudara sepupuku, mampirlah ke PVJ, tanpa sengaja hari itu ramai banget rupanya tayangan perdana film tsb. Hmm....ada rasa kecewa, ini hanya opiniku saja sebagai pecinta Superman. Superman lebih-lebih auranya Reeve sangat pas sebagai tokoh tsb. Tetapi si Henry Canvill menurutku kurang senyum, dan terlalu pendiam. Dari judul film, sudah beda, meski menampilkan Superman. Dari segi postur tubuh lebih tinggi dari Reeve. Hairstyle-nya agak bergelombang, dan khas huruf 'S' -nya ditiadakan. Untuk jubah, warnanya beda, namun jubahnya sangat panjang dan kesannya keren banget saat dikibaskan, point plus dariku (emang pengamat fashion film?). Dan lebih-lebih tokoh si Lois Lane disana diceritakan wartawati cantik itu mengetahui siapa sebenarnya si Man of Steel alias Superman, yang secara nggak sengaja diikuti jejaknya saat di pegunungan salju menemukan timbunan sisa-sisa planet Krypton. "Lha kok gitu?" gumamku dalam hati sambil menonton menikmati popcorn ukuran large. Nyam, nyam...tetap menikmati suguhan film Man of Steel bertabur bintang-bintang gaek berperan sebagai orang tua angkat Clark Kent, yaitu Kevin Costner sebagai Jonathan Kent, dan sang ibu Martha Kent diperankan oleh Diane Lane. Untuk peran ayah kandung Jor-El adalah Russel Crowe , dan si Lois Lane diperankan si cantik Amy Adams.

Usai layar lebar menutup layarnya, dan aku beranjak meninggalkan gedung bioskop, barulah browsing di internet mengapa alur ceritanya begitu. Melalui terjemahan Wikipedia, akhirnya mendapat jawaban atas pertanyaan itu. Mau nggak mau, hati kecilku tetap ngeyel bahwa Lois Lane yang dicintai Clark Kent dan Superman itu, aslinya nggak pernah tahu bahwa mereka satu orang. Saat Clark Kent menjelma menjadi manusia biasa juga teman sekantornya, Lois Lane bersikap cuek. Di film Man of Steel, Lois Lane telah mengetahui dengan jelas siapa laki-laki baja berparas rupawan itu tak lain adalah Superman. Bahkan diending film ditampilkan Clark Kent menjadi wartawan di harian Daily Post. Laki-laki yang awalnya diselidiki latarbelakangnya dan karena ambisinya untuk menunjukkan hasil tulisannya agar dimuat diberita utama namun ditolak pak bosnya. Lalu tetap diedarkan memalui media internet lainnya.

Terkuaknya siapa Man of Steel karena kesalahannya itu, maka Lois Lane berani mengambil tindakan yang membahayakan dirinya sendiri guna ikut membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi Superman. Perperangan antara musuh bebuyutan ayah kandungnya Superman, Joe-El dengan Jendral Zod, di Planet Krypton. Terlihat aneh saja menurutku. Jelas cerita disini sangat mengedepankan cerita awal kisah kronologinya kenapa Planet Krypton hancur, dan kenapa putra tunggal Jor-El dikirim ke planet Bumi. Sedang adegan kecanggihan aksi laga si tokoh hampir mirip Batman Begins, Spiderman 3 dan Iron Man 3.

Apapun itu meski terselip rasa kecewa, ada pula rasa terima kasih buat perfilman dunia karena membuat Man of Steel disaat usiaku 45 tahun ini masih diberi kesempatan menonton dengan kondisi sehat wal'afiat bersama putra ragilku, Edo. Usai menonton kami berdua diskusi, sangat menyenangkan sekali, bahkan mengompori kakak-kakaknya yang lain biar menonton juga di kota masing-masing. Siapa pun mereka sebagai permeran Superman telah menghidupkan tokoh komik itu., selain mereka keren, cakep, juga penyulut gairah mengangkat ke layar lebar sesuai masanya yang berlaku. Superman telah regenerasi, tetapi Christopher Reeve-lah pahlawan Superman-ku, semoga arwah Reeve disana tersenyum bahwa tokoh yang pernah diperankan pada masa kini bisa dinikmati dalam versi 3D dan ditayangkan di gedung bioskop yang megah hanya ada di mall yang bergengsi di kota masing-masing. Hidup S u p e r m a n. Hidup Christopher Reeve-ku, so lovely you. Terima kasih pembaca.

Daftar Pustaka :  Wikipedia - Google Images - Collages Superman by Arie Rachmawati



Salam, 
Arie Rachmawati





Senin, 10 Juni 2013

Ke Jambi Kita Kembali

Jejak yang Tertinggal


Tidak semuo orang biso bepantun, termasuk kami. Biaklah sedikit tak apolah jugo. Makan tekwan sekalian goreng ikan saluang, beli talam ebi ke pasar angso duo - demi kawan kami lah betandang (datang) ke Jambi besamo-samo . . . amboi nian la pacak jugo.


Kalimat diatas itu meluncur dengan sendirinya saat saya menampilkan beberapa foto selama berkunjung ke kota bersemboyan "Sepucuk Jambi Sembilan Lurah", dengan anggota keluarga lengkap yang terdiri dari Aryo Rizky Putra (Kak Yo), Aryanto Rachmadi Putra (Ryan), Ardianto Ridho Putra (Edo), Tonny Joostiono (suami) dan saya. Semua itu bisa terlaksana tak lepas dari izin-Nya. Rasanya seperti mimpi bisa kembali ke kota kelahiran Ryan dan Edo dengan keadaan sehat dan formasi lengkap itu. Kunjungan tersebut karena kami memenuhi undangan pernikahan mbak Wulan, putri pak Kadir Rabbani tetangga kami sewaktu kami tinggal di lorong Tulip II (STM Atas) Jambi. 3 Juli 2005 kami resmi meninggalkan kota sejuta kenangan, disana lah kami mengukir hari-hari selama kurun waktu tiga belas tahun, lalu kami kembali lagi setelah delapan tahun berlalu. Di saat anak-anak dan suami berada di kota yang berbeda, meski tempat tinggal tetap di Bogor.

Kamis, 6 Juni 2013



Hari itu hari Isra' Miraj adalah hari libur nasional, pagi setelah subuh beranjak suami datang dari Lampung lalu tak lama kira-kira empat jam kemudian kami menuju pul bus Damri jurusan bandara Soekarno Hatta. Siang itu saya, suami dan Ryan sudah tiba di terminal 1B menunggu kedatangan Edo si ragil yang berangkat dari Bandung. Sejam sebelum waktu check in kami berempat berkumpul dan segera melakukan boarding setelah makan siang di Solaria. Cuaca nan cerah, penerbangan pun lancar on time, sejam melayang di udara mendarat di bandara Sultan Thaha Jambi. Alhamdulillah.


Menjelang cakrawala senja jatuh Oh My God, hotel Formosa tempat bermalam sengaja dipilih mendekati bandara dengan upaya nanti bisa lebih cepat aksesnya. Maaf saya anti gengsi, akhirnya saya memutuskan memakai jasa ojek bukan karena saya lokek (pelit), tapi tawaran itu sungguh t e r l a l u. Berbekal dua ojek saya dan suami tiba duluan di hotel, sementara anak-anak jalan kaki sambil berniat memotret sepanjang bandara menuju hotel. Kata mereka jaraknya dekat, memang iya dekat. Dua ojek yang ikhlas itupun mendapat tambahan upah dari harga kesepakatan. Alhamdulillah Thanks to Allah SWT.

Diperaduan bersamaan berkumandang adzan magrib, kami memasuki hotel yang tak jauh dari bandara. Saat kami menunggu barang-barang di bagasi, kami ditawari jasa taksi yang harganya ya ampun gila banget, seratus ribu coy !. Andai kami buta kota Jambi dan pasrah kepada mereka penawar jasa niscaya mereka akan tertawa karena kami telah tertipu. Ini Jambi bukan Jakarta yang tak lepas dari jauhnya jarak, kemacetan atau banjir pada musimnya, harga segitu mungkin kecil, tapi sekali lagi ini kota Jambi, dan jarak ke hotel kira-kira 500 meter. Suami saya hampir saja mengiyakan tawaran taksi itu, meski akhirnya diturunkan menjadi lima puluh ribu rupiah.



Kembali ke Jambi berarti kembali dengan suasana udara panas, gerah, kemringet tentunya. Malam datang menjelang perut pun mulai keroncongan, tak jauh dari hotel kami menemukan Rumah Makan Safari, seingat saya dulu disekitar pasar simpang Bata, nggumun alias heran karena Ryan tumbuh tinggi besar. Sedang Edo dulu yang gemuk gembul kini menjadi kurus tinggi berkacamata pula, jelas berbeda dari delapan tahun yang lalu. Beberapa cerita bergulir mengisi kerinduan yang lama terpendam, sementara anak-anak ijin meminjam motornya pak Jup untuk keliling sejenak kota Jambi. Jambi dalam pelukan malam, ternyata benar saat saya menanyakan keberadaan rumah makan Padang itu, ternyata daya ingat saya masih oke. Nasi ngepul khas beras Bareh Solok dengan berpiring warna-warni lauk namun hanya sepiring dendeng batokok yang menggoda. Lep..lep saking lahapnya namboh lagi, ha ha ha. Rindu nasi yang kempyur selain memang lagi lapar lengkaplah sudah acara makan malam penuh nikmat itu. Di hotel telah menunggu pak Juprinon, beliau ini dulu ketua sekuriti kantor PT Telkom Centrum, begitu melihat Ryan dan Edo, pak Jup nampak senang, "Lamo tak jumpo, ai kau lah besak nian Ryan, Edo." Waktu berlalu begitu cepat, dulu anak-anak masih SD kini menjadi sosok pemuda, wajarlah terbesit wajah

Jum'at 7 Juni 2013


Pagi mobil pinjaman sudah nangkring di halaman hotel. Pagi menjelang siang meluncurlah kami ke jajaran makanan di samping BNI-Xaverius menikmati es tebu,tekwan, sioamy Mang Aceng. Lalu jelajahi sisi lain Jambi terutama mampir sejenak di Ndilala sesuai misi Edo ingin memotret beberapa objek, maka meluncurlah kami ke sana. Namun dalam pertengahan perjalanan kami memutuskan balik ke kota lagi dikarenakan jalanan kurang bagus, dan mobil yang dipakai kurang nyaman. Nampak sekali kurang perawaratan sehingga dikhawatiran terjadi sesuatu yang nggak diinginkan. Kembali ke kota . . .


SDN 42 Jambi, sekolah dasar ketiga anak-anak saya menuntut ilmu jadul. Jalan-jalan lagi menyisir ruas jalan dalam kota hingga menjelang sholat Jum'atan di Masjid Agung Seribu Tiang. Lepas jum'atan ternyata Edo menuju parkiran mobil tanpa alas kaki, oh rupanya malang nian nasibnya, saat usai jum'atan sepatunya hilang, ya sudah anggap saja shodakoh. Usai dari sana kami menuju Jembatan Aurduri II berencana melihat-lihat Candi Muaro Jambi, ini atas rekomendasi pak Juprinon.

Sepanjang perjalanan nampak padang ilalang dengan beberapa rumah panggung menjadi ciri khas penduduk Jambi (pedesaan) gunanya untuk menghindari rumah terendam banjir dari sungai Batanghari bila meluap. Sekilas nampak keren rumah sederhana itu, jauh dari kesan hiruk pikuk, yang terasa damai. Sepanjang jalan pun melintas beberapa mobil pick-up mengangkut hasil kebun kelapa sawit. Ketika kami tinggal di Jambi, paling jauh berjalan hingga ke Kumpeh atau Kasang saja, belum pernah menjelajah sejauh itu.

Perjalanan singkat namun memberi kesan mendalam karena saat itu anak-anak sudah bisa menyetir dan bergantian supaya tidak kelelahan. Hingga akhirnya kami mampir ke WTC untuk membeli sepatu Edo selain utuk kondangan esok hari juga untuk kuliah. WTC ketika kami akan meninggalkan Jambi, sedang dalam pembangunan. Lantai dasar terkesan mewah dengan counter branded, namun ketika melangkah kaki ke lantai atas tak jauh dari mall biasa. Namun bagaimana pun juga itu pertanda pembangunan Jambi mulai nampak, daripada saat kami tinggal disana. Sepatu telah didapat, melajulah roda empat itu dan berhenti di RM Gantino Baru, rumah makan ini adalah salah satu favorit saat bulan Ramadhan tiba selalu menyempatkan mampir sekali berbuka disana kemudian berbelanja baju lebaran untuk anak-anak. Kenangan yang tak lekang oleh waktu. Seharian kenyang dan lelah dan sangat menyenangkan.

Sabtu, 8 Juni 2013


Pagi sekitar jam 07:30 wib hari Kak Yo sudah mendarat di bandara Sutan Thaha Jambi dari bandara Soekrno Hatta, perjalanan panjang dari kota Cilacap ditempuh dengan kereta api, dari Cilacap menuju Jakartar, sepulang kerja. Dini hari tiba di stasiun Gambir dan melajutkan ke bandara Soeta. setibanya Kak Yo di Jambi kami berlima rame-rame mencari sepiring sarapan ke lorong Pahlawan The Hok, namun penjual nasi gemuk dan lontong sayur itu barang dagangannya sudah habis. Melajulah kami di daerah Jelutung dan disitulah kami mengisi perut untuk bekal tenaga siang hari. Dari Jelutung meuju Saimen Bakery di pusat kota, untuk membeli beberapa jajanan basah seperti Kue Padamaram dan meluncur kembali ke daerah IAIN untuk membeli dendeng batokok khas Kerinci. Ngomong-ngomong soal dendeng batokok ini, adalah makanan favorit keluarga kami. Setiap kunjungan ke Jambi 'harus dan wajib' membelinya. Kenapa? Ya selain rasanya enak, gurih khas dagingnya itu tiada tertandingi. Selain harum baunya karena dibakar pakai arang dan sambal cukanya yang hmmm....maknyus tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Jam Resepsi semakin dekat, bergegas berganti baju dan roda empat segera menuju ke Ratu Conventional Center atau RCC tempat resepsi pernikahan mbak Sri Wulan Kartini (Wulan) dan Prima, inti dari kunjungan ke Jambi ini. Di sinilah selain menghadiri pernikahan juga merupak ajang reuni besar warga Tulip 2. Benar juga, di halaman parkir sudah disambut bang Bujang, pak Choirun, pak Didik, pak, Boy imut, pak Haryono, pak Kusairi dan banyak lagi. Yang menjadi pagar ayu pun wajah-wajah lama antara lain bu Reynaldi, bu Handoko, pak Raflesbahkan gadis-gadis remaja Tulip 2 antara lain : Puput, Wiya, Bunga dsb. Tak habis pikir disini pun bertemu dengan mantan para guru SDN 42 yaitu Ibu Winarsih dan Ibu Ernilawati. Wow, ramai nian nampaknyo silaturahmi ini.

Saat menyalami keluarga pengantin yang berbahagia, sangat tersentuh melihat Budhe Kadir menciumi Ryo-Ryan dan Edo. Terutama Edo, dimana di masa lampau Edo suka dipanggil dengan sebutan "Ndo..Ndo..!"
Ya sekarang anak-anak lah beranjak remaja menuju dewasa. "Oey lak besak kau, lamo tak jumpo, ai ai lah pado bujang galo." sangat mewakili sapaan senada para warga Tulop 2. Di tengah banyaknya tamu undangan yang memenuhi ruangan, saya mencari sosok sahabat lama yaitu Anny. anny adalah saudara sepupu keluarga pengantin yang mempunyai hobi dan cerita yang sehati. Kini Anny telah menikah dan dikaruniai seorang putra. Benar-benar temu kangen untuk semuanya. Dan akhirnya waktu menggiring diujung pertemuan pengantin itu.

Usai acara kondangan masih berlanjut meneruskan sisa-sisa kunjungan silaturahmi antara lain ke rumah mbak Murni yang suaminya baru saja meninggal dunia, kemudian ke rumah mbak Retno Watir (Eet) sayangnya beliau tidak berada di tempat lalu dilanjut pak Somat, kemudian kuliner hingga menjelang adzan Magrib. Lelah namun menyenangkan, meski dengkul rasanya mau copot tapi sangat puas. Oh, ternyata acara belum berakhir ding ! Usai mandi dan sholat Magrib masih berlanjut ke daerah sekitar Angso Duo tepatnya Tanggo Rajo, tentu ingin bernostalgia menikmati jagung bakar, es tebu dan sate Padang. Waduuuh, ampun saya cukup minum es tebu dan nikmati satu jagung bakar saja. Wow tak telap lagi nih nampaknyo, selain kecapekan dan mengantuk juga perut telah kekenyangan. Barakahallahu fiikum.

Minggu, 9 Juni 2013

Dini hari Jambi diselimuti awan mendung dan guyuran hujan lembut, iramanya seperti ketukan birama 4/4 bakalan lama turunnya. Pagi sekali Kak Yo sudah meninggalkan hotel untuk segera check in di bandara Sutan Thaha Jambi, penerbangan akan berlanjut ke Yogyakarta baru dilanjut ke Cilacap lewat darat. Sedang kami berempat penerbangan siang. Alhamdulillah semuanya diberi kelancaran tanpa ada 'delay' penerbangan dan sejam kemudian dari jadwal flight sudah tiba di bandara Soekarno Hatta. Meski pun di udara menurut saya agak lama terbanganya, ternyata macet di udara pun berlaku juga dan saat mendarat pun untuk menuju tempat parkir pesawat, kami diajak muter-muter dulu, mungkin landasan terlalu padat jadwal penerbangan. Semua berjalan dalam lindungan Allah SWT hingga tiba kembali menginjakkan kaki ke rumah, pas adzan Magrib. Syukur Alhamdulillah semua niatan, kami semua yang datang dari berbagai kota datang dan pergi diberi-nya sehat wal'afiat dan lancar. Semoga tulisan ini bisa berbagi, dan untuk keluarga pak Kadir Rabbani serta warga Tulip 2 mohon maaf tidak bisa memenuhi kunjungan untuk berkangen ria, karena keterbatasan waktu dan tenaga. sekali lagi mohon dimengerti kami bisa hadir dalam keadaan keluarga lengkap semata atas izin-Nya. Terima kasih.


Salam,
Arie Rachmawati

Senin, 27 Mei 2013

Musisi Mancanegara


MR dan Wayang Indonesia
Oleh Arie Rachmawati
Max Ridgway, asli dari Amrik. Perkenalannya secara kebetulan di sebuah grup facebook bernama Modern Art Group, bersifat grup tertutup. Awalnya ngobrol biasa, entah dimulai dari mana pembicaraan itu mulai menyambung. Ia memberi komentar tentang postinganku bergambar lukisan gitar., dalam hati kok ya tumben ada yang ngomentari lukisan picisan itu. Lukisan itu belum rampung, tapi karena suatu hal aku anggap selesai dan ia sangat antusias yang berhubungan dengan alat musik gitar. Oh, ternyata dia seorang gitaris toh?. Nah, cerita demi cerita mengalir mewarnai obrolan kami  Ada saja topik yang kami bahas. Salut dan bangga ternyata ia lebih mencintai tanah airku, Indonesia. Ia ingin sekali mengenal semuanya, terutama kekayaan budaya, musik hingga keragaman agama di Indonesia. Salah satu yang akan kutulis di blogku ini adalah tentang 
W A Y A N G.

Suatu hari, saat aku jalan-jalan ke toko buku Gramedia dan menemukan buku "51 karakter Tokoh Wayang Populer", otomatis aku membeli buku tsb. Lalu, kukirim buku itu ke Amrik dan speechless dia suka banget. Lihat fotonya sambil memamerkan buku itu. Senang bisa berbagi, apalagi ia sangat antusias mengerti tentang cerita dalam pewayangan. Itu sebabnya aku membeli dua buku seharga Rp 21.000,- itu, karena aku akan menterjemahkan dan bercerita. Asik banget dan aku menyukai hal ini. Salah satu pesannya, ia meminta maaf karena telah membuatku lelah mengetik dan menterjemahkan. Aku pikir ini dua pekerjaan sekaligus, kenapa nggak? Dengan mengetik ulang tulisan dibuku tsb, selain membaca lagi sekaligus mengerti siapa-siapa mereka dalam pewayangan. Jujur, aku kurang paham meski cerita wayang pernah diceritakan saat Mamaku mendongeng jaman dulu, adalah garis besarnya seperti Mahabarata, Perang Baratayudha dan Ramayana. Di buku ini lebih detail pelaku pewayangan itu.

Lalu, aku balas pesannya itu bahwa aku benar-benar tidak melelahkan melakukan itu karena akan berbalik positif untukku juga. Seperti kata pepatah lama, 'sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui'. Ya seperti itu manfaat yang kudapatkan dengan menterjemahkan isi buku ke dalam bahasa Inggris dibantu oleh Google Translate. Kadang aku sering memakai bahasa sendiri dan itu ternyata lebih disukainya untuk pemahamannya yang sederhana. Keakraban terjalin hampir berjalan dua tahun ini. 

Max Ridgway gitaris dari Oklahoma yang antusias belajar apa saja, tentunya sesuai batas kemampuanku untuk menerangkan. Bahkan sering diskusi tentang Islam. Bagiku ini selain tantangan juga menjadikan sebagai bahan intropeksi diri. Saat menerangkan hal yang ditanyakan otomatis diriku berasa dinasehati oleh diri sendiri. Barakahallahu fiikum semoga ini mendapat rahmat-Nya dan ia diberi hidayah-Nya. Setiap mengawali obrolan senantiasa kuucapkan  Ø¨ِسۡÙ…ِ ٱللهِ ٱلرَّØ­ۡÙ…َÙ€ٰÙ†ِ ٱلرَّØ­ِيمِ.  semoga Allah SWT menuntunku dalam obrolan maya berarah positif. Ia sangat santun dan aku merasa nyaman ngobrol dengannya. Terima kasih facebook telah menambah pertemanan yang bermanfaat ini. Thank you Max !


Salam
Arie Rachmawati

Senin, 20 Mei 2013

Enam Kota Dalam Dua Minggu




J E M B E R 


Minggu 5 Mei 2013
Meninggalkan Bogor untuk menjemput sejumput rindu, serasa baru kemarin lalu saya pulang kedua kalinya ke Jember (Desember 2012) kini saya kembali lagi ke kota kelahiran saya 'Jember'. Kunjungan kali ini super singkat, nggak ada waktu mengunjungi teman lama lainnya, kecuali sahabat setia Nanang Keceng (NK). Dia yang menjemput dan mengantar saya. Meski waktu mepet, diujung kepulangan meninggalkan Jember, saya sempatkan bermain sebentar ke Rembangan.

Ketika sang mentari menyapa hari, saya sudah berada di sana, membidik beberapa foto dengan lokasi yang sama namun suasana berbeda. Saya suka suasana Rembangan hampir mirip Puncak, namun masih terasa alami. Lihat foto yang saya bidik itu, menurut saya sangat terasa hamparan bunga jagung meliuk-liuk bersama sepoian angin pagi seperti dandelion menari di antara semak ilalang. Beberapa foto di lokasi pemandian Rembangan, seperti kunjungan yang lalu. masih saya simpan menunggu mood untuk ditampilan sebagai slide shoaw picture bisa untuk bikin videoclip lagu. Usai menuntaskan misi itu, saya turun ke kota dan memenuhi keinginan tante Ninik (adik mama) yang sedang sakit berat, yaitu ingin dimandikan karena sudah lebih tiga minggu terbaring sakit di ranjang tak berdaya. 


Singkat cerita, ini pengalaman pertama dan terbesit rasa mengharu biru, mengaduk perasaan. Menahan air mata jatuh dan tetap memberi candaan agak tak berasa tegang. Tugas saya itu dilakukan bersama bude Wiwik dan tante Nung, saling membahu. Seusai itu bergantian dengan sahabat saya NK , ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan mendoakan yang sakit. Terima kasih banyak atas bantuannya buat sahabat Nanang Keceng, Jazakumullahu khairan katsiro. 


Selama di Jember, justru sibuk persiapan kami sekeluarga (keluarga besar H.Nawawi) akan menghadiri pernikahan sepupu bernama Marissa Maya maysitoh (putrinya Om Chairul Saleh/Lek Leh adiknya mama). Bicara tentang Jember, bagaimana pun saya punya kenangan yang amat dalam di kota tembakau itu. Meski saya bertahun-tahun telah meninggalkan kota itu dan merantau di Madiun, Jambi dan kini menetap di Bogor, namun disanalah saya lahir, bersekolah dari semasa taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama lalu bekerja dan menikah dan melahirkan anak pertama.

Toko Buku Santo Joesuf

Jember kini sudah banyak berdandan, mulai padat pengendara roda dua, roda empat dan para pendatang khususnya di daerah kampus, hingga saya merasa tak mengenali daerah situ. Namun, bila dibandingkan dengan kota Bogor ya Jember masih asik berlenggang di jalanan. Bagi saya Jember masih menyisakan kenangan, tanpa sengaja saya menemukan toko buku Santo Joesuf di dekat SMPN 2 Jember. Seingat saya, jaman dulu semasa sekolah di SDN Jember Lor IV atau SDN Pagah 2, kerap kali mengunjungi toko buku itu, selain lengkap untuk buku mata pelajaran, juga menjual buku diary, yang tidak banyak ragam namun tidak pasaran modelnya, dimana saya amat sangat menyukai menulis di diary. Peranan toko buku itu sangat berjasa, dimana saat itu tidak banyak toko buku yang menjual perlengkapan sekolah dan mata pelajaran sekolah. Beberapa toko buku seperti Handayani, Sumber Ilmu, Anda, Samudra sebelum era Gramedia merambah kota Jember.
Me with Ciplis

Melihat kondisi sekarang sangat memprihatinkan, nama toko masih terpampang meski pagar pintu gerbangnya sudah terkunci dan sepertinya telah lama tak terurus. Meski sebuah toko kecil namun bagi para generasi seangkatan saya, telah mencetak penerus bangsa yang cerdas. Terima kasih bapak tua pemilik toko, kenangan wajah beliau selintas mengaduk memori, seorang bapak tua berambut putih keperakan dengan kaca mata minusnya, jarang senyum dan kelihatan sangat disiplin. Tanpa direncana, saya bertemu dengan teman semasa kecil, tetangga waktu tinggal di kampung kebon, namanya Ciplis, ternyata dia sudah menjadi nenek dan mempunyai dua cucu, Subhanallahu waktu memisahkan dan waktu pula mempertemukan kembali kami berdua. Usianya selisih satu tahun, satu hari, Dia dulu mirip sekali dengan artis penyanyi Maya Rumantir. 



M A L A N G

Jum'at 10 Mei 2013, usai sholat subuh, Mama dijemput rombongan menuju Malang. Nggak lama kemudian, saya bersiap-siap merapikan barang bawaan untuk segera meninggalkan Jember dengan tujuan yang sama. Saya ditemani sahabat lama NK yang kebetulan mempunyai tujuan sama, beda misi. Kali ini saya menikmati kereta api Tawang Alun mengantarkan saya menuju kota apel Malang. Perjalanan pertama menggunakan kereta api berAC. Menurut riwayat sekarang semua layanan kereta api memakai AC baik yang kelas ekonomi maupun bisnis. Menyenangkan sudah nggak sumuk lagi. Tanpa terasa perjalanan dimulai pukul 08:05 (on time) meninggalkan stasiun Jember telah memasuki kawasan kota Malang, tepat pukul 13:30 wib perjalanan berakhir dan saya dijemput keluarga besar H Nawawi, ada Mama, tante Nung, om Djuri, Lek Wa (Chairil Anwar), mbak Yuli, Lek Leh (Chairul Saleh), Pepen dan mbak Wiwik. Wuuiik gilaaa tuh it's very everlasting moment tenan ! Dalam mobil ada 10 orang. Pas di depan alun - alun Malang, sahabat saya diturunkan, disanalah perpisahan terjadi. NK atau wakkaji yang selama ini dikenal sebagai pelantun ayat suci Al-Qur'an selama tante Ninik sakit, hari itu ia berpenampilan berbeda ala rocker hingga menjadi pembicaraan di dalam mobil. Aslinya dia berjiwa rock and roll, hanya profesi sekarang yang dijalani menuntutnya berpenampilan layaknya para ustadz. 

Cisadane 14


Cisadane 14
Hari itu semua penumpang dalam mobil mini bus milik Lek Leh, memasuki rumah penginapan (Guest House) yang sengaja disewa untuk para rombongan keluarga dari Jember. Saat memasuki rumah asri itu, nampak aura rumah yang nyaman. Selain penataan yang rapi, bersih dan sederhana namun syarat barang antik, serasa rumah sendiri. Disisi belakang ada teras dan kolam ikan ditengahnya tumbuh teratai ungu. Sisi ventilasi udara dan sinar matahari membuat kami merasa betah. Ajaib, serasa kamar yang tersedia benar-benar sesuai anggota keluarga yang hadir. Sekilas nampak bahwa si empunya rumah tsb, sangat mengagumi sosok tokoh presiden pertama RI, Soekarno. Selain beberapa lukisan wanita telanjang sangat sexy. "It's okay, I like this," gumam saya dalam hati. Bahkan saya ingin sekali memiliki rumah tsb dihari tua nanti. 


 Ngumpul bareng seperti kemarin lalu itu, bagi saya adalah untuk pertama kalinya, setelah menikah 25 tahun. Mengingat saya jarang pulang ke Jember, bahkan tidak pernah menghadiri acara pernikahan saudara, dikarenakan waktu yang lampau berada di rantau dan sikon yang nggak memungkinkan. Itu adalah catatan sendiri melengkapi perjalanan panjang selama dua minggu. Tambahan penghuni Cisadane 14 adalah mas Tonny Yoostiono (suami saya) datang menyusul dari Bogor, lalu Merry dan Lupita dari Jember, dan Totok Ardianto beserta keluarganya dari Solo, semakin melengkapi hiruk pikuk khas keluarga salbut. Sepanjang hari, suasana rumah senantiasa dengan cerita - cerita yang ujungnya diserati tertawa terbahak-bahak. Dari sebelum adzan subuh hingga larut malam, seakan tiada terputus cerita bergulir satu per satu. Ditambah lagi dengan kebersamaan saat sarapan pagi sebungkus nasi pecel atau sebungkus nasi jagung dengan urap-urap dan untuk menu makan malam cukup sebungkus nasi goreng dengan porsi besar, sebungkus berdua, hahaha mirip lagu dangdut Sepiring Berdua.



Acara resmi menjelang pernikahan Icha dengan Fakhri, pemuda berasal dari Sumbawa, dimulai saat malam seserahan, dilanjut esok harinya acara akad nikah di masjid tak jauh dari kolasi rumah pengantin dan tempat kami bermalam, Acara ijab kabul bernuansa putih nan suci, penuh khidmat dan berjalan lancar. Kemudian ditutup dengan acara resepsi pada hari Minggu 12 Mei 2013, benar-benar rangkaian acara padat merayap melelahkan namun membahagiakan, terutama buat pasangan pengantin yang akan mengarungi hidup baru sebagai pasutri, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah dan waromah. Amin YRA. Usai acara tsb, rombongan keluarga dari Jember, bergegas meninggalkan Cisadane 14 menuju Jember, tinggallah saya beserta suami, Mama, dan Totok sekeluarga (Ika dan Shafira) yang esok hari akan melanjutkan perjalanan menuju Solo dengan kereta apai Malioboro Ekspres.

Me with Shafira & Ika



S O L O - YOGYAKARTA
Senin 13 Mei 2013, tepat jam 07:00 wib berangkatlah kereta api meninggalkan stasiun Malang. Selama perjalanan kurang lebih 7 jam tibalah di stasiun Solo Balapan dan meluncur ke perumahan Tiara Asri. Alhamdulillah selama perjalanan si kecil Shafira tidak rewel dan sehat wal'afiat. Kali pertama melakukan perjalanan rame-rame khususnya suami saya, yang sangat jarang bisa ngumpul bersama dengan keluarga besar dari Jember. Kesibukan bergelut dengan setumpuk kabel fiber optik, membuatnya sering hadir ditengah kebersamaan keluarga besar. dalam perjalanan ini kami berdua serasa menikmati tanpa diributkan urusan anak-anak, karena mereka sudah besar dan mempunyai aktivitas masing-masing. Selama di Solo nggak banyak cuci mata. karena memang berasa kelelahan, dan esoknya kami ke Yogyakarta.

Nggak banyak cerita antara Solo dan Yogyakarya, kerena seringnya berkunjungm namun pesona Yogyakarta selalu ingin kembali kesana, seperti setahun yang lalu saat wisudanya Aryo Rizky Putra, putra saya. Lirik lagu KLa Project itu sangat melekat dalam memori, walau kenyataan para musisi jalanan sepanjang jalanan Malioboro dianggap ngamen gratis. Sisi lain di sepanjang Malioboro adalah pesona Mirota Batik tak pernah luput dari incaran. walau hanya sekedar memberi kartu pos melengkapi koleksi post card. Lalu kembali ke Solo untuk beristirahat dan menuntaskan perjalanan berikutnya.

Kembali ke Yogyakarta keesokan harinya untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Cilacap, dimana anak saya bertugas. Ini kunjungan pertama kali, benar-benar tak terlintas apapun tentang kota yang tak jauh dari pulau Nusakambangan. Perjalanan perngalaman pertama, melalui rute jalan yang sempit sersalipan dengan beberapa bus lintas kota, truk dan mobil pribadi juga pengendara sepeda motor. Saya hanya memejamkam mata, karena meski semangat '45 namun tak dipungkiri tenaga sudah mulai terkikis, maklum faktor usia nggak bisa kompromi. Sesampainya di Cilacap ba'da Isya setelah tertempuh waktu kurang lebih 5-6 jam. menuju tempat penginapan yang terletak di jantung kota nan sepi itu, lengkap sudah guyuran air hujan menambah suasana mirip sekali kota dalam film-film horor. Malam larut dalam lelap berkepanjangan.




C I L A C A P - PURWOKERTO



Kamis 16 Mei 2013, sembari makan siang kami berdua muter-muter kota Cilacap, jauh dari kemacetan dan suasana kota adem ayem, tidak ada hiruk pikuk walau pun melintasi sebuah pasar. Sangat berbeda sekali dengan kota Bogor, bertumpuk-tumpuk angotan kota memenui ruas jalan. Sejenak melintas tempat kerja anak saya, memotret dari seberang jalan, tak ada yang melintas. Mungkin karena dekat pantai jadi udara disana sangat panas menyengat, dalam hitungan menit kulit bisa gosong, tanpa harus berjemur. Malam kembali diguyur hujan, sehingga paling aman menikmati acara televisi sembari tidur-tiduran. Tak ada hunting atau kuliner menjanjikan untuk diburu, asli niatan untuk menengok anak bertugas. Tidur bertiga, mengingatkan jaman Aryo Rizky Putra masih bayi, kini anak itu telah dewasa dan nanti akan menata hidupnya sendiri. 

Entah karena kelelahan kesana-kemari dari Bogor menuju Jember-Malang-Solo-Yogyakarta, hari itu Jum'at 17Mei 2013 saya dibawa ke IGD RS Pertamina untuk mendapat pertolongan pertama oksigen lantaran asmuni (asmaku muni / bunyi). 

Sekali observasi dua tabung dapat melegakan pernafasan, beberapa obat racikan dan satu Ventolin spray lumayan buat sangu pulang esok hari. Pagi dan malam menjalani isapan tabung oksigen, benar-benar membuat saya merasa baikan. 


Akhirnya Sabtu 18 Mei 2013, kami melanjutkan cuci mata ke Pantai Teluk Penyu, Benteng Pendem dan ngelunch di Purwokerto. Benar-benar menyenangkan, meski rencana menyebrang selat menuju pulau Nusakambangan batal, lantaran saya takut asmuni kumat lagi ditengah jalan. 

Beberapa foto di Pantai Teluk Penyu dan bergaya di Benteng Pendem, yang terkenal menyimpasn misteri dan rada angker. Saya yang baru sehat, hanya menunggu di pintu masuk kawasan wisata, sementara suami  dan Aryo segera menyelusuri obyek wisata tsb bersama para wisatan domestik lainnya. Letak Benteng Pendem tak jauh dari kliang minyak Pertamina, karena nampak tong-tong besar raksasa menjulang tinggi diperbatasan pagar benteng. 



Sebagai hiburan cukup memotret beberapa lokasi yang bisa terjangkau. Bergaya dan menikmati suasana di antara susahnya bernapas. 

Perjalanan berlanjut ke Purwokerto. Kota ini lebih ramai dibanding kota Cilacap, sepanjang jalan marak dengak umbul-umbul calon gubenur dan wakil nya untuk pemilihan Gubenur Jawa Tengah, selain umbul-umbul Kades.  

Tujuan utama adalah makan siang di sebuah
Cafe Oemah Daoen di Purwokerto. Menu yang kami pesan sederhana namun dalam penyajiannya sangat kreatif, seperti Mendoan digoreng dengan tepung ala crispy dan dihidangkan dengan sebotol kecap manis dan cabe rawit. Ada pula tumis buncis, dibaurkan dengan cacahan daging mirip sambel goreng tempe kering. rasanya kriuk gurih. Dua mug teh hangat sebagai pemula lunch membuat tubuh terasa hangat. Itu minuman pemula sebelum menyantap yang lainnya. Terutama sajian 'dessert' roti bakar ice cream tiga rasa (vanila, coklat & strawberry) Benar-benar tak mengecewakan kunjungan ke Purwokerto sekedar makan siang, walau kembali ke Cilacap rasa lapar kembali mendera. 


Berjalan-jalan melihat stasiun kereta api, gedung bioskop yang jauh dari megah namun lumayan untuk mengikuti perkembangan film-film yang tengah beredar di kota-kota besar Indonesia. itulah sedkit oleh-oleh cerita perjalanan enam kota dalam dua minggu. Senangnya kunjungan sebagai orang tua melihat anak pertamanya telah bekerja, semoga langkah kakaknya itu diikuti kedua adiknya yang masih dalam masa pendidikan. Sabtu malam, kami berdua meninggalkan kota Cilacap menuju Bogor, dan Alhamdulillah setelah menempuh jarak yang meliuk-liuk serta memabokan akhirnya tiba di rumah dengan selamat. Rasanya senang sekali bertemu bantal dan guling serta aroma kamar yang selama dua minggu ditinggalkan. Kembali ke rumah dengan selamat, menempuh perjalanan dengan lancar, serta berkumpul keluarga besar untuk menyambung tali silahturahmi adalah sebagian dari ibadah. Ini adalah bentuk karunia dariNya atas usia yang tersisa. Insya Allah bulan depan 'jalan-jalan' lagi ke pulau Sumatera.
Terima kasih pembaca yang sudah meluangkan waktu membaca tulisan blog ini. 


Salam :

arie rachmawati