Senin, 20 Mei 2013

Enam Kota Dalam Dua Minggu




J E M B E R 


Minggu 5 Mei 2013
Meninggalkan Bogor untuk menjemput sejumput rindu, serasa baru kemarin lalu saya pulang kedua kalinya ke Jember (Desember 2012) kini saya kembali lagi ke kota kelahiran saya 'Jember'. Kunjungan kali ini super singkat, nggak ada waktu mengunjungi teman lama lainnya, kecuali sahabat setia Nanang Keceng (NK). Dia yang menjemput dan mengantar saya. Meski waktu mepet, diujung kepulangan meninggalkan Jember, saya sempatkan bermain sebentar ke Rembangan.

Ketika sang mentari menyapa hari, saya sudah berada di sana, membidik beberapa foto dengan lokasi yang sama namun suasana berbeda. Saya suka suasana Rembangan hampir mirip Puncak, namun masih terasa alami. Lihat foto yang saya bidik itu, menurut saya sangat terasa hamparan bunga jagung meliuk-liuk bersama sepoian angin pagi seperti dandelion menari di antara semak ilalang. Beberapa foto di lokasi pemandian Rembangan, seperti kunjungan yang lalu. masih saya simpan menunggu mood untuk ditampilan sebagai slide shoaw picture bisa untuk bikin videoclip lagu. Usai menuntaskan misi itu, saya turun ke kota dan memenuhi keinginan tante Ninik (adik mama) yang sedang sakit berat, yaitu ingin dimandikan karena sudah lebih tiga minggu terbaring sakit di ranjang tak berdaya. 


Singkat cerita, ini pengalaman pertama dan terbesit rasa mengharu biru, mengaduk perasaan. Menahan air mata jatuh dan tetap memberi candaan agak tak berasa tegang. Tugas saya itu dilakukan bersama bude Wiwik dan tante Nung, saling membahu. Seusai itu bergantian dengan sahabat saya NK , ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan mendoakan yang sakit. Terima kasih banyak atas bantuannya buat sahabat Nanang Keceng, Jazakumullahu khairan katsiro. 


Selama di Jember, justru sibuk persiapan kami sekeluarga (keluarga besar H.Nawawi) akan menghadiri pernikahan sepupu bernama Marissa Maya maysitoh (putrinya Om Chairul Saleh/Lek Leh adiknya mama). Bicara tentang Jember, bagaimana pun saya punya kenangan yang amat dalam di kota tembakau itu. Meski saya bertahun-tahun telah meninggalkan kota itu dan merantau di Madiun, Jambi dan kini menetap di Bogor, namun disanalah saya lahir, bersekolah dari semasa taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama lalu bekerja dan menikah dan melahirkan anak pertama.

Toko Buku Santo Joesuf

Jember kini sudah banyak berdandan, mulai padat pengendara roda dua, roda empat dan para pendatang khususnya di daerah kampus, hingga saya merasa tak mengenali daerah situ. Namun, bila dibandingkan dengan kota Bogor ya Jember masih asik berlenggang di jalanan. Bagi saya Jember masih menyisakan kenangan, tanpa sengaja saya menemukan toko buku Santo Joesuf di dekat SMPN 2 Jember. Seingat saya, jaman dulu semasa sekolah di SDN Jember Lor IV atau SDN Pagah 2, kerap kali mengunjungi toko buku itu, selain lengkap untuk buku mata pelajaran, juga menjual buku diary, yang tidak banyak ragam namun tidak pasaran modelnya, dimana saya amat sangat menyukai menulis di diary. Peranan toko buku itu sangat berjasa, dimana saat itu tidak banyak toko buku yang menjual perlengkapan sekolah dan mata pelajaran sekolah. Beberapa toko buku seperti Handayani, Sumber Ilmu, Anda, Samudra sebelum era Gramedia merambah kota Jember.
Me with Ciplis

Melihat kondisi sekarang sangat memprihatinkan, nama toko masih terpampang meski pagar pintu gerbangnya sudah terkunci dan sepertinya telah lama tak terurus. Meski sebuah toko kecil namun bagi para generasi seangkatan saya, telah mencetak penerus bangsa yang cerdas. Terima kasih bapak tua pemilik toko, kenangan wajah beliau selintas mengaduk memori, seorang bapak tua berambut putih keperakan dengan kaca mata minusnya, jarang senyum dan kelihatan sangat disiplin. Tanpa direncana, saya bertemu dengan teman semasa kecil, tetangga waktu tinggal di kampung kebon, namanya Ciplis, ternyata dia sudah menjadi nenek dan mempunyai dua cucu, Subhanallahu waktu memisahkan dan waktu pula mempertemukan kembali kami berdua. Usianya selisih satu tahun, satu hari, Dia dulu mirip sekali dengan artis penyanyi Maya Rumantir. 



M A L A N G

Jum'at 10 Mei 2013, usai sholat subuh, Mama dijemput rombongan menuju Malang. Nggak lama kemudian, saya bersiap-siap merapikan barang bawaan untuk segera meninggalkan Jember dengan tujuan yang sama. Saya ditemani sahabat lama NK yang kebetulan mempunyai tujuan sama, beda misi. Kali ini saya menikmati kereta api Tawang Alun mengantarkan saya menuju kota apel Malang. Perjalanan pertama menggunakan kereta api berAC. Menurut riwayat sekarang semua layanan kereta api memakai AC baik yang kelas ekonomi maupun bisnis. Menyenangkan sudah nggak sumuk lagi. Tanpa terasa perjalanan dimulai pukul 08:05 (on time) meninggalkan stasiun Jember telah memasuki kawasan kota Malang, tepat pukul 13:30 wib perjalanan berakhir dan saya dijemput keluarga besar H Nawawi, ada Mama, tante Nung, om Djuri, Lek Wa (Chairil Anwar), mbak Yuli, Lek Leh (Chairul Saleh), Pepen dan mbak Wiwik. Wuuiik gilaaa tuh it's very everlasting moment tenan ! Dalam mobil ada 10 orang. Pas di depan alun - alun Malang, sahabat saya diturunkan, disanalah perpisahan terjadi. NK atau wakkaji yang selama ini dikenal sebagai pelantun ayat suci Al-Qur'an selama tante Ninik sakit, hari itu ia berpenampilan berbeda ala rocker hingga menjadi pembicaraan di dalam mobil. Aslinya dia berjiwa rock and roll, hanya profesi sekarang yang dijalani menuntutnya berpenampilan layaknya para ustadz. 

Cisadane 14


Cisadane 14
Hari itu semua penumpang dalam mobil mini bus milik Lek Leh, memasuki rumah penginapan (Guest House) yang sengaja disewa untuk para rombongan keluarga dari Jember. Saat memasuki rumah asri itu, nampak aura rumah yang nyaman. Selain penataan yang rapi, bersih dan sederhana namun syarat barang antik, serasa rumah sendiri. Disisi belakang ada teras dan kolam ikan ditengahnya tumbuh teratai ungu. Sisi ventilasi udara dan sinar matahari membuat kami merasa betah. Ajaib, serasa kamar yang tersedia benar-benar sesuai anggota keluarga yang hadir. Sekilas nampak bahwa si empunya rumah tsb, sangat mengagumi sosok tokoh presiden pertama RI, Soekarno. Selain beberapa lukisan wanita telanjang sangat sexy. "It's okay, I like this," gumam saya dalam hati. Bahkan saya ingin sekali memiliki rumah tsb dihari tua nanti. 


 Ngumpul bareng seperti kemarin lalu itu, bagi saya adalah untuk pertama kalinya, setelah menikah 25 tahun. Mengingat saya jarang pulang ke Jember, bahkan tidak pernah menghadiri acara pernikahan saudara, dikarenakan waktu yang lampau berada di rantau dan sikon yang nggak memungkinkan. Itu adalah catatan sendiri melengkapi perjalanan panjang selama dua minggu. Tambahan penghuni Cisadane 14 adalah mas Tonny Yoostiono (suami saya) datang menyusul dari Bogor, lalu Merry dan Lupita dari Jember, dan Totok Ardianto beserta keluarganya dari Solo, semakin melengkapi hiruk pikuk khas keluarga salbut. Sepanjang hari, suasana rumah senantiasa dengan cerita - cerita yang ujungnya diserati tertawa terbahak-bahak. Dari sebelum adzan subuh hingga larut malam, seakan tiada terputus cerita bergulir satu per satu. Ditambah lagi dengan kebersamaan saat sarapan pagi sebungkus nasi pecel atau sebungkus nasi jagung dengan urap-urap dan untuk menu makan malam cukup sebungkus nasi goreng dengan porsi besar, sebungkus berdua, hahaha mirip lagu dangdut Sepiring Berdua.



Acara resmi menjelang pernikahan Icha dengan Fakhri, pemuda berasal dari Sumbawa, dimulai saat malam seserahan, dilanjut esok harinya acara akad nikah di masjid tak jauh dari kolasi rumah pengantin dan tempat kami bermalam, Acara ijab kabul bernuansa putih nan suci, penuh khidmat dan berjalan lancar. Kemudian ditutup dengan acara resepsi pada hari Minggu 12 Mei 2013, benar-benar rangkaian acara padat merayap melelahkan namun membahagiakan, terutama buat pasangan pengantin yang akan mengarungi hidup baru sebagai pasutri, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah dan waromah. Amin YRA. Usai acara tsb, rombongan keluarga dari Jember, bergegas meninggalkan Cisadane 14 menuju Jember, tinggallah saya beserta suami, Mama, dan Totok sekeluarga (Ika dan Shafira) yang esok hari akan melanjutkan perjalanan menuju Solo dengan kereta apai Malioboro Ekspres.

Me with Shafira & Ika



S O L O - YOGYAKARTA
Senin 13 Mei 2013, tepat jam 07:00 wib berangkatlah kereta api meninggalkan stasiun Malang. Selama perjalanan kurang lebih 7 jam tibalah di stasiun Solo Balapan dan meluncur ke perumahan Tiara Asri. Alhamdulillah selama perjalanan si kecil Shafira tidak rewel dan sehat wal'afiat. Kali pertama melakukan perjalanan rame-rame khususnya suami saya, yang sangat jarang bisa ngumpul bersama dengan keluarga besar dari Jember. Kesibukan bergelut dengan setumpuk kabel fiber optik, membuatnya sering hadir ditengah kebersamaan keluarga besar. dalam perjalanan ini kami berdua serasa menikmati tanpa diributkan urusan anak-anak, karena mereka sudah besar dan mempunyai aktivitas masing-masing. Selama di Solo nggak banyak cuci mata. karena memang berasa kelelahan, dan esoknya kami ke Yogyakarta.

Nggak banyak cerita antara Solo dan Yogyakarya, kerena seringnya berkunjungm namun pesona Yogyakarta selalu ingin kembali kesana, seperti setahun yang lalu saat wisudanya Aryo Rizky Putra, putra saya. Lirik lagu KLa Project itu sangat melekat dalam memori, walau kenyataan para musisi jalanan sepanjang jalanan Malioboro dianggap ngamen gratis. Sisi lain di sepanjang Malioboro adalah pesona Mirota Batik tak pernah luput dari incaran. walau hanya sekedar memberi kartu pos melengkapi koleksi post card. Lalu kembali ke Solo untuk beristirahat dan menuntaskan perjalanan berikutnya.

Kembali ke Yogyakarta keesokan harinya untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Cilacap, dimana anak saya bertugas. Ini kunjungan pertama kali, benar-benar tak terlintas apapun tentang kota yang tak jauh dari pulau Nusakambangan. Perjalanan perngalaman pertama, melalui rute jalan yang sempit sersalipan dengan beberapa bus lintas kota, truk dan mobil pribadi juga pengendara sepeda motor. Saya hanya memejamkam mata, karena meski semangat '45 namun tak dipungkiri tenaga sudah mulai terkikis, maklum faktor usia nggak bisa kompromi. Sesampainya di Cilacap ba'da Isya setelah tertempuh waktu kurang lebih 5-6 jam. menuju tempat penginapan yang terletak di jantung kota nan sepi itu, lengkap sudah guyuran air hujan menambah suasana mirip sekali kota dalam film-film horor. Malam larut dalam lelap berkepanjangan.




C I L A C A P - PURWOKERTO



Kamis 16 Mei 2013, sembari makan siang kami berdua muter-muter kota Cilacap, jauh dari kemacetan dan suasana kota adem ayem, tidak ada hiruk pikuk walau pun melintasi sebuah pasar. Sangat berbeda sekali dengan kota Bogor, bertumpuk-tumpuk angotan kota memenui ruas jalan. Sejenak melintas tempat kerja anak saya, memotret dari seberang jalan, tak ada yang melintas. Mungkin karena dekat pantai jadi udara disana sangat panas menyengat, dalam hitungan menit kulit bisa gosong, tanpa harus berjemur. Malam kembali diguyur hujan, sehingga paling aman menikmati acara televisi sembari tidur-tiduran. Tak ada hunting atau kuliner menjanjikan untuk diburu, asli niatan untuk menengok anak bertugas. Tidur bertiga, mengingatkan jaman Aryo Rizky Putra masih bayi, kini anak itu telah dewasa dan nanti akan menata hidupnya sendiri. 

Entah karena kelelahan kesana-kemari dari Bogor menuju Jember-Malang-Solo-Yogyakarta, hari itu Jum'at 17Mei 2013 saya dibawa ke IGD RS Pertamina untuk mendapat pertolongan pertama oksigen lantaran asmuni (asmaku muni / bunyi). 

Sekali observasi dua tabung dapat melegakan pernafasan, beberapa obat racikan dan satu Ventolin spray lumayan buat sangu pulang esok hari. Pagi dan malam menjalani isapan tabung oksigen, benar-benar membuat saya merasa baikan. 


Akhirnya Sabtu 18 Mei 2013, kami melanjutkan cuci mata ke Pantai Teluk Penyu, Benteng Pendem dan ngelunch di Purwokerto. Benar-benar menyenangkan, meski rencana menyebrang selat menuju pulau Nusakambangan batal, lantaran saya takut asmuni kumat lagi ditengah jalan. 

Beberapa foto di Pantai Teluk Penyu dan bergaya di Benteng Pendem, yang terkenal menyimpasn misteri dan rada angker. Saya yang baru sehat, hanya menunggu di pintu masuk kawasan wisata, sementara suami  dan Aryo segera menyelusuri obyek wisata tsb bersama para wisatan domestik lainnya. Letak Benteng Pendem tak jauh dari kliang minyak Pertamina, karena nampak tong-tong besar raksasa menjulang tinggi diperbatasan pagar benteng. 



Sebagai hiburan cukup memotret beberapa lokasi yang bisa terjangkau. Bergaya dan menikmati suasana di antara susahnya bernapas. 

Perjalanan berlanjut ke Purwokerto. Kota ini lebih ramai dibanding kota Cilacap, sepanjang jalan marak dengak umbul-umbul calon gubenur dan wakil nya untuk pemilihan Gubenur Jawa Tengah, selain umbul-umbul Kades.  

Tujuan utama adalah makan siang di sebuah
Cafe Oemah Daoen di Purwokerto. Menu yang kami pesan sederhana namun dalam penyajiannya sangat kreatif, seperti Mendoan digoreng dengan tepung ala crispy dan dihidangkan dengan sebotol kecap manis dan cabe rawit. Ada pula tumis buncis, dibaurkan dengan cacahan daging mirip sambel goreng tempe kering. rasanya kriuk gurih. Dua mug teh hangat sebagai pemula lunch membuat tubuh terasa hangat. Itu minuman pemula sebelum menyantap yang lainnya. Terutama sajian 'dessert' roti bakar ice cream tiga rasa (vanila, coklat & strawberry) Benar-benar tak mengecewakan kunjungan ke Purwokerto sekedar makan siang, walau kembali ke Cilacap rasa lapar kembali mendera. 


Berjalan-jalan melihat stasiun kereta api, gedung bioskop yang jauh dari megah namun lumayan untuk mengikuti perkembangan film-film yang tengah beredar di kota-kota besar Indonesia. itulah sedkit oleh-oleh cerita perjalanan enam kota dalam dua minggu. Senangnya kunjungan sebagai orang tua melihat anak pertamanya telah bekerja, semoga langkah kakaknya itu diikuti kedua adiknya yang masih dalam masa pendidikan. Sabtu malam, kami berdua meninggalkan kota Cilacap menuju Bogor, dan Alhamdulillah setelah menempuh jarak yang meliuk-liuk serta memabokan akhirnya tiba di rumah dengan selamat. Rasanya senang sekali bertemu bantal dan guling serta aroma kamar yang selama dua minggu ditinggalkan. Kembali ke rumah dengan selamat, menempuh perjalanan dengan lancar, serta berkumpul keluarga besar untuk menyambung tali silahturahmi adalah sebagian dari ibadah. Ini adalah bentuk karunia dariNya atas usia yang tersisa. Insya Allah bulan depan 'jalan-jalan' lagi ke pulau Sumatera.
Terima kasih pembaca yang sudah meluangkan waktu membaca tulisan blog ini. 


Salam :

arie rachmawati

Posting Komentar