Selasa, 22 September 2015

Aglenon 2.3


Lanjutan :

Sebelas Kota dalam Dua Puluh Hari
(Episode Ketiga)

Bundaran DPRD Jember
Cerita sebelumnya klik link ini http://rachmarie-riritemaram.blogspot.co.id/2015/09/aglenon-22.html


JEMBER
Sabtu, 5 September 2015 berangkat naik taksi yang kebetulan supir taksinya orang Jember, dari rumah Colomadu Paulan menuju stasiun Purwosari. Ketika kami berdua berangkat, Shafira sedang sekolah. Perjalanan kali ini penumpang gerbong kereta api Logawa sangat padat, sehingga AC dalam gerbong tak terasa malah bikin gerah. Kereta melaju tersendat-sendat lantaran sering berpapasan dengan kereta lain. Menjelang pertengahan hari tibalah kereta di stasiun Gubeng, Surabaya. Disini kereta harus berganti lokomotif alias langsir. Kembali ke gerbong kereta dan segera meninggalkan stasiun Gubeng Surabaya. Penumpang mulai berkurang, hembusan AC pun terasa kembali.

Perjalanan masih panjang, hal ini yang membuat saya malas pulang kampung. Jarak tempuh Surabaya ke Jember terasa lamban, baik dengan kereta api maupun dengan bus. Memang sekarang ada alternatif perjalanan dengan menggunakan pesawat untuk Jember-Surabaya (pp) namun saat ini biayanya cukup mahal, mungkin bisa dimaklumi bila keadaan urgent. Mau nggak mau menikmati perjalanan menempuh waktu kurang lebih lima jam, hingga tiba di stasiun Jember jelang adzan Isya'. Saat kini sejak akrab dengan benang-benang rajut membuat kejenuhan tergusur. Tetap bersyukur karena berbekal rajutan, guliran waktu melaju perlahan meninggalkan kebosanan.

Jember, akhirnya kembali lagi ke kota kelahiran. Ditulisan yang lampau saya sangat merindukan kota ini, karena terlalu lama meninggalkan hingga kerinduan itu tertuang dalam tulisan blog : http://rachmarie-riritemaram.blogspot.co.id/2011/04/aku-ingin-pulang-oleh-arie-rachmawati.html  Namun beberapa tahun terakhir sejak seringnya pulang ke Jember, jujur saya mengakui ternyata saya lebih menyukai kota yang kini yaitu kota hujan, Bogor. Suasana atau udara di Jember membuat saya sesak napas (asma) kambuh. Keadaan seperti ini yang mungkin menambah daftar penyebab saya berpaling. Hal sepele namun terlalu membuat sedikit stres dan ujungnya dengan alergi kulit merasa gatal tetapi tidak ada bekas gatal.

Jember, sebenarnya kedatangan kali ini untuk mengantar Mama kembali ke rumah setelah menjalani masa kontrol check mata di RSM dr Yap Yogyakarta. Sejak 2010 lalu Mama menjalani berobat jalan di rumah sakit mata itu. Penyakit mata yang dideritanya (glukoma) karena disebabkan diabetes tinggi mengakibatkan sebelah matanya mengalami kebutaan. Walau seperti melihat apa adanya namun hanya sebelah matanya saja yang berfungsi. Namanya orang tua kadang kala tidak mau mengakui bahwa kini keterbatasannya itu dikarenakan faktor usia. Namun hal itu tak menghalangi langkah kakinya untuk dapat melaksanakan berpergian. Berpergian mengunjungi anak - anaknya yang berada di Solo, Jogjakarta dan Bogor. Kadang Mama pun menghadiri acara reuni di Malang dsb. Secara fisik tubuhnya masih nampak sehat dan gesit terutama suaranya yang lantang sekali, hanya sakit matanya yang menghalangi indra penglihatannya. 

Selain mengantar Mama pulang ke Jember, juga menyempatkan diri mengunjungi teman sekolah menengah pertama Melanni Widjaja yang beberapa waktu lalu pernah bercerita lewat What's App-nya terkena musibah, yaitu ditabrak motor dan mengakibatkan tulang kering kakinya mengalami cidera dan dioperasi. Sebenarnya selain menengoknya juga kami sharing ilmu merajut. Secara ketrampilan ia sangat mahir, terutama khasnya membuat tas dan taplak. Namun kunjungan kali itu saya berbagi ilmu membuat bros bunga, koleksi Yoando Crochet by Rie.


Ningsih - Saya - Melanni
Ningsih - Nanang - Saya
Ningsih dan bros rajutan

Kunjungan itu sebenarnya sifatnya mendadak, obrolan sesaat di pagi hari dengan Sri Hayuningsih dan ia mengiyakan untuk menengok Melanni. Melanni ini istri teman sekelas kami berdua, yaitu Surya Darma Pandita, selain itu Melanni juga ex tetangga sewaktu kami tinggal di pesisir jalan Diponegoro (sekarang jln. Gajah Mada). Kunjungan tsb yang diabadikan dalam foto, kemudian Melanni mempostingan lewat tampilan profile BB-nya. Sehingga salah satu temannya berkomentar positif mengenai kami bertiga. Persahabatan tanpa mengedepankan perbedaan golongan dan keyakinan. Biar pun kami jarang bertemu nampak jelas dari pancaran sinar mata dan senyum yang menghias wajah kami bertiga. Saya rasa perbedaan tsb bila disikapi dengan pikiran yang positif dan pastinya banyak membawa manfaat. Terbukti dari kunjungan singkat dan dilanjut dengan obrolan melalui WA, akhirnya Melanni dapat membuat bros bunga. Yang lebih hebat lagi ia menerima pemesanan bros bunga dari teman kerabat terdekatnya. Kunjungan yang membawa manfaat. 

Usai dari rumah Melannie yang terletak di tak jauh dari warung nasi Lumintu, saya diajak Sri Hayuningsih (Ningsih) ke rumahnya di daerah/desa Mayang. Saya ingat waktu itu kunjungan pertama di tahun 2013, saya tengah masuk angin, kemudian Ningsih membuat saya sehat kembali, terharu. Menyenangkan kembali jumpa dengan ketiga putrinya. Menunggu jemputan Nanang, waktu yang ada dipergunakan membuat bros rajutan khusus untuk Ningsih. Tak lama kemudian Nanang datang dan terlibat urusan perumahan dengan tuan rumah. Usai itu kami berdua meluncur meninggalkan desa Mayang kembali ke Jember. Menyempatkan mampir ke rumah (alm) Bapak Chasib, Beliau adalah guru mengaji yang terletak di jalan Gajah Mada, dengan harapan bisa berjumpa dengan dik Dhenok (salah satu) putra-putri Beliau. Sayangnya saya hanya berjumpa dengan adik perempuan almarhum. 



Iping & Saya
Renny 'Zoya' Ronngo & Saya
Argo Wiroko, Vindy & Saya

Kegiatan selama di Jember, meski tak selama waktu - waktu yang lalu tetap meninggalkan kesan walau terselip rasa kecewa. Kekecewaan itu adanya keterbatasan waktu, ketergantungan kendaraan dan kebebasan menemui teman - teman yang lain, karena harus menunggu ijin dari Mama. Seusia ini saya masih diperlakukan seperti anak gadis yang perlu pengawasan ketat. padahal saya sebentar lagi (Maret 2016) akan menikahkan putra sulung. Saya hanya bisa menemui beberapa teman saja, terutama Renny'Zoya'Ronggo, seperti kunjungan wajib. Dan kedatangan Iping Hartanto ke rumah adalah surprise luar biasa. Terhitung sejak lulusan SMPN1 Jember 1984 (usai pentas seni) benar - benar tak jumpa dengannya. Diujung perjalanan selama di Jember, saya kedatangan salah satu penggemar berat Fariz RM dari kota Jember yaitu Argo Wiroko dengan istrinya. Namanya sangat familiar di dinding grup facebook Komunitas Fanstastic Fariz RM. Cerita punya cerita ternyata Argo itu teman sekolah (SMP) adikku, Totok Ardianto. Waktu yang sempit dimanfaatin berfoto bersama, selain itu ia membeli marchandise KFFRM, jadi lengkaplah kunjungan perdana bisa all in.

Bagi teman lainnya yang mengetahui kedatangan saya melalui postingan foto di facebook, mungkin terkesan saya pilih - pilih teman, padahal bukan demikian. Keadaan yang berlaku tak bersahabat dengan waktu. Hal itu yang membuat saya malas ke Jember, selain alasan yang ditulis diatas (jarak tempuh). Bagi saya berusaha menjadi anak yang baik dimata orang tua adalah hal yang tak mudah, sebaik apapun yang saya lakukan masih tetaplah kurang, karena memang benar adanya kasih sayang kita tak'kan bisa menyamai kasih sayang orang tua.


PURWOKERTO

Kamis, 10 September 2015

Mobil angkutan umum yang disupiri oleh pak Slamet sudah datang menjemput bakda subuh, bergegas meninggalkan rumah menuju stasiun. Menggunakan transportasi KA Logawa jurusan Jember-Purwokerto (pp) dengan jadwal pemberangkatan 05:05 wib dan harga tiket Rp 80.00,-. Perjalanan yang membosankan terulang saat jarak tempuh Surabaya-Jember (pp) bisa dihalau dengan kegiatan merajut. Bakda Magrib kereta Logawa tiba di stasiun terakhir Purwokerto. Selama perjalanan dan sering menggunakan transportasi kereta api, semua jadwal kereta api dan sistem pelayanannya sudah bagus, disiplin, dan on time. Dua jempol untuk PT KAI. 

Menunggu jemputan Kak Yo dan Ditha, menikmati semangkok baso khas Purwokerto yang tersedia di salah satu kafe stasiun. Sesaat di Purwokerto mampir di resto yang menyajikan masakan Jepang untuk makan malan bertiga, kemudian perjalanan berlanjut hingga di stasiun Kroya. Menunggu jadwal kedatangan kereta api Lodaya (Surabaya - Bandung). Saya dan Kak Yo menemani Ditha di stasiun. Kepergiannya untuk acara menghadiri resepsi pernikahan temannya di Bandung. Setelah beres kami berdua segera kembali ke Cilacap dengan jarak tempuh kurang lebih tiga puluh menit. Kunjungan ke Cilacap ini adalah menindak-lanjuti pembicaraan antara orang tua untuk urusan pernikahan bulan Maret 2016. Selama di Cilacap kegiatan masih merajut dan berusaha menghubungi Siti Syamsiati Ningrum di Kebuman. 


GOMBONG, KARANGANYAR & KEBUMEN

CD Fariz & Dian PP di Kebumen
Sabtu 12 September 2015, meluncurlah roda empat dengan tujuan Kebumen. Berdua saja menikmati suasana kota dan desa selama perjalanan membuat banyak kegiatan memotret. Memotret dengan kamera saku, foto bukan untuk sekedar dipamerkan tetapi sebagai dokumentasi pribadi selama perjalanan. Menuju rumah Ningrum di desa Karanganyar Kebumen, sangat menyenangkan. Alhamdulillah akhirnya saya jumpa pertama dengan dik Diah puti bungsu-nya Ningrum yang penggemar berat Fariz RM. Perkenalan denganya itu lewat facebook di waktu yang lampau, ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Kini sudah kelas dua sekolah menengah pertama. Ia sangat gembira ketika menerima CD Fariz RM & Dian PP In Collaboration With ... plus ada tanda tangan penyanyinya. Lalu ia pamit untuk mengikuti kegiatan pramuka. 


Ningrum & Saya
Ningrum & Saya
Sesampai di rumahnya sudah tersaji makan siang untuk saya dan Kak Yo. Usai menunaikan sholat Dhuhur ia pun menemani kami. Suasana mendukung menjadi makan siang kian lahap. Sangat berkesan sajian sederhana namun super nikmat dengan lauk-pauk yang diambil hasil ladang sendiri, Rumah nan luas dilengkapi tambak ikan yang besar, ladang sayur-mayur, sekumpulan kambing siap menikmati rumput adalah pemandangan yang jarang ditemukan di masa kini. Suasana pedesaan dan berdiri rumah Ningrum seperti sebuah kastil di padang rumput. Acara selanjutnya saat Kak Yo istirahat tidur siang, saya dan Ningrum berbagi ilmu rajutan. Ia mengajari saya membuat bros bunga dengan cara yang beda meski hasil akhir sama. Kemudian ia mengajari saya membuat syal, asyik sekali hingga Kak Yo terbangun dan kami pamit pulang. Kunjungan ini bukan sekedar melepas rindu, mengingat beberapa hari yang lalu kami bersama Enny napak tilas ke Madiun. Kunjungan ini pula menambah ilmu baru tentang tajutan Baraka Allahu. Silahkan klik link ini untuk membaca cerita sebelumnya http://rachmarie-riritemaram.blogspot.co.id/2015/09/aglenon-22.html

Kak Yo
Melintasi jembatan yang membentang sungai nan lebar serta deras. Sungai Serayu namanya, bahkan saya lebih akrab dengan senandung lagunya daripada sungainya sendiri. Tentu hal itu tak luput dari pemotretan. Sebelum tiba di tepian sungai Serayu itu kami mampir ke Gombong yaitu tempat obyek wisata bernama Benteng Van der Wijck. Sayangnya sesampai disana, tempat itu baru tutup karena hari sudah sore. Sekedar melepas kecewa, maka berfotolah saya disekitar pintu masuk obyek wisata itu. Perjalanan kembali dilanjut hingga tiba di tepi sungai Serayu. Lokasi pemotretan sangat sempit, karena jembatan penghubung itu banyak lalu lalang kendaraan. Menunggu waktu yang tepat supaya Kak Yo bisa mengambil foto dan tidak menghalangi lajunya kendaraan yang melintas, terutama sepeda dan motor. Sebelum senja meredup warna langitnya kami segera angkat kaki menyudahi sesi pemotretan. Mobil melaju menuju Cilacap.


Ditepi Sungai Serayu
Benteng Van Der Wijck Gombong
Patung Pangeran Diponegoro - Benteng Van Der Wijck

CILACAP


Sesampainya di Cilacap, segera istirahat. Selama perjalanan berdua itu, saya menyempatkan untuk berbagi pengalaman dan mencoba menasehati untuk masa depan. Semenjak akrab dengan Ditha, setiap kedatangan saya ke Cilacap selalu dilalui bertiga atau berempat. Kurangnya kenyamanan bicara berdua sebagai Ibu dan Anak baik di Cilacap maupun di Bogor, membuat saya menunda amanah - amanah yang perlu disampaikan. Kesempatan itu sangat berharga, serasa Allah mengetahui apa yang saya butuhkan. Menata barang bawaan sebelum meninggalkan Cilacap. Mengenai barang bawaan selain berisi perlengkapan perjalanan juga buah tangan yang semuanya itu sengaja dikirimkan melalui ekspedisi. Minggu, 13 September 2016 akhir perjalanan ditempuh bukan dengan jalur kereta api tetapi dengan pesawat Pelita melalui bandara udara Tunggul Wulung Cilacap. Satu jam kemudian pesawat yang berisi tujuh belas penumpang tiba di bandara udara Halim Perdana Kesuma Jakarta dengan selamat dan saya dijemput suami dan putra kedua. Alhamdulillah.

Yang jelas saya sangat berterima kasih kepada keluarga calon besan, yang mendukung sarana transportasi selama saya di Cilacap. Tak lupa puji syukur kepada Allah SWT Sang Maha Penyayang, yang melindungi saya juga keluarga, memberi kesehatan sehingga perjalanan - perjalanan yang tertuang dalam tulisan ini berjalan lancar sesuai jadwal tanpa menemui hambatan dsb. 

Menuliskan kembali apa yang saya dapat dari tausiah bahwa bersyukur itu bukan sekedar mengucapkan Alhamdulillah saja namun kita sebagai hamba-Nya yang beriman senantiasa berupaya meningkatkan ibadah - ibadah lainnya. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata, saya hanya berbagi bahagia lewat tulisan, bila ada kekurangan mohon dimaafkan. Akhir kata, terima kasih banyak buat pembaca blog ini yang singgah dan setia menanti kisah cerita perjalanan berjudul Aglenon hingga berseri 1, 2 dan 3.

Insert : Aglenon 3 "Seven Day in Japan on A Secret Mission"


Salam, 
Arie Rachmawati
Posting Komentar