Minggu, 11 Januari 2015

A g l e n o n Januari 2015


Empat Hari di Cilacap
Oleh Arie Rachmawati


Perjalanan kali ini dimulai dengan kereta api Sawunggalih Malam dari stasiun Senen pada hari jum'at malam 2 Januari 2015 jam 19:00 wib berakhir di stasiun Purwokerto. Untuk pertama kalinya Edo, anak bungsu menuju Cilacap, bagi saya ini kunjungan kedua kalinya. Menurut saya perjalanan ini tidak melelahkan bila dibanding waktu lalu bulan Mei 2013 bukan naik kereta api melainkan mobil travel. Pengalaman pertama itu membuat saya trauma dan jerah alias kapok, sehingga setiap kali anak saya yang tinggal di Cilacap meminta Mamanya untuk kesana, selalu saya tolak. Kebayang perjalanan nan memabokkan hingga sesak nafas, Oh My God wes ora meneh. Jam demi jam berlalu dan tanpa berasa tibalah di stasiun Purwokerto tengah malam (00 : 32 wib). Selama menunggu jemputan, saya sering mendengar alunan musik keroncong (instrumental) yaitu Kr Di Tepian Sungai Serayu. Dua teman kantorya Kak Yo yaitu mbak Ami dan mas Jati berada dalam satu mobil dengan Kak Yo, meski para penjemput sudah datang, kami masih menunggu satu temannya mbak Ami dari Jakarta. Akhirnya semua lengkap barulah mobil melaju ke Cilacap meninggalkan stasiun Purwokerto. 

Hari Pertama, 3 Januari 2015 Perjalanan ini sebagai pengisi liburan semesteran, penghilang kepenatan belajar sekaligus melepas rindu kepada anak mbarep, Kak Yo. Malam menjelang subuh baru tiba di Cilacap. Melelahkan namun segera ingin memulai edisi petualangan kali ini pengawal tahun. Hari pertama tiba di Cilacap hanya seputaran Benteng Pendem dan menikmati asiknya minum kelapa muda. Menyaksikan suasana keramaian Pantai Teluk Penyu yang lokasinya diseberang Benteng Pendem. Tentang Benteng Pendem, kunjungan saat itu adalah yang kedua kalinya, walau masih menikmati suasana depan benteng saja. Bukan karena ketebatasan waktu saja namun kendala suasana hari itu sangat tak mendukung yaitu sepi pengunjung, maklumlah pengunjung baru meramaikan awal pergantian tahun Masehi, sehingga hari sabtu weekend pun sepi.  Usai menikmati suasana pantai yang berlaku, segeralah kami bertiga melaju seputaran pusat kota. Walau namanya pusat kota tapi nampak lenggang, jauh dari hiruk pikuk kendaraan melaju atau pun lalu lalang orang. Kembali ke komplek perumahan dan istirahat siang. Jelajahi kota Cilacap di waktu malam hari, masih sepi meski pun dipusat kota tepatnya berada di alun - alun sudah berhiasan gemerlap lampu - lampu hias dan becak hias. Keramaian hanya terdiri dari bebebrapa sekelompok orang dengan keluarga atau komunitasnya. Mencoba menikmati jagung bakar dan segera kembali ke rumah.

        Ningrum & Saya

Hari kedua, 4 Januari 2015 
Di Cilacap, pagi bakda subuh, iseng - iseng saya berkirim SMS ke nomor Siti Syamsiati Ningrum yang ternyata tersambung. Alhamdulillah dari obrolan singkat akhirnya kami berjanji untuk bertemu. Ia menuju Cilacap dari kota Kebumen. Menurut cerita lewat telepon, saat membaca SMS, ia sedang belanja di pasar, kemudian dengan sedikit memaksa ia meminta suaminya untuk bertemu saya, karena keberadaan saya hanya empat hari di Cilacap. Menunggu kedatangan Ningrum, seperti biasa saya merajut. Tak lama kemudian Ningrum datang dengan suaminya, meleburlah rindu kami berdua. Berfoto berdua dengan segala model gaya untuk melepaskan kangen yang lebih dua puluh lima tahun. Selepas SMF kami tak pernah bertemu lagi, masing - masing menjalani hidup hingga terputus kontak karena jarak dan waktu. Sampai terdengar kabar keberadaannya dari info teman dan akhirnya Allah SWT mempertemukan kami. Walau pun sesaat tak apalah, Insha Allah bila ada waktu kami pasti bertemu kembali. Barakah Allahu ...

Inilah baru berpetualangan di Cilacap tepatnya pulau Nusa Kambangan. Yang dimaksud disini bukanlah nama Nusa Kambangan tempat para narapidana yang sangat familiar dengan permasalahan hukum yang berat. Tetapi Nusa Kambangan yang kami tuju adalah sisi lain atau sebelah timurnya pulau yang beken itu. Untuk sampai disana harus menggunakan perahu layar dengan harga bernegoisasi terlebih dulu. Hari itu kami berempat cukup deal harga menyeberang ke pulau tsb dengan perjanjian antar pulang alias pulang pergi. 

Setibanya perahu merapat ke pulau itu, kami turun dan menapaki bebatuan karang yang berada dipesisir pantai. Nampak beberapa penumpang lainnya juga menuruni perahu masing - masing. Di pulai itu ada beberapa anjing peliharaan penduduk setempat. Semangat berpetualangan tiba - tiba meluruh, entahlah saya tidak bisa melihat makhluk halus sejenisnya namun baru berjalan beberapa meter saja sudah berasa bau tak sedap, suasana hari agak meredup karena tertutup rerimbunan pohon dan bulu kuduk merinding. Saya berjalan dan terus berjalan dan tetap berdzikir dan bersholawatan dimana pun berada, berupaya melancarkan koneksi kepada Sang Khalik tetap terhubung. Saya memanfaat momen dengan memotret kal ini yang membuat langkah - langkah saya tertinggal dari rombongan. Rombongan kecil  tsb terdiri dari dua anak saya (Kak Yo dan Edo) dan satu temannya Kak Yo tetaplah itu rombongan saya. Jalan mendaki dan agak becek lembek, mungkin semalaman hujan telah mengguyur Cilacap tepatnya pulau ini.


Berjajaran pohon - pohon rimbun mengarah ke jalan setapak menuju sisa - sisa benteng Portugis. Keindahan barisan pohon itu jelas berbeda dengan pohon - pohon yang berada di Kebun Raya Bogor. Disana pepohonan tsb nampak tidak akrab. Entahlah itu halusinasi saja atau memang suasana disana begitu adanya, pengaruh sejarah jaman penjajahan. Lihat saja foto bidikan saya ini, tak ada keindahan menggoda yang ada suasana seram dan mencekam walau itu masih siang bolong. Ada beberapa sisa - sisa benteng peninggalan Portugis masih kokoh berdiri, malah ada peninggalan meriam,

Melewati beberapa reruntuhan bangunan yang dulu (mungkin) digunakan sebagai tempat tahanan dan penyiksaan atau tempat pengintaian musuh datang, tak terbayangkan betapa menyedihkan dan meyayatkan kejadian saat itu. Itulah yang tersisa di memori otak tentang jaman penjajahan. Mengingat tempat saya berada saat itu, masih siang hari saja suasana tak bersahabat. Apalagi tak bisa tergambarkan dengan jelas dalam tulisan betapa sepinya, seramnya suasana di pulau itu. Edo serasa tak ada takutnya sama sekali, walau saya melarangnya, ia pun tetap memasuki sebuah bangunan yang letaknya jauh dibawah.
Ia harus menuruni tangga ke bawah lalu menghilang, sementara saya segera mencari tempat untuk istirahat sejenak, duduk diatas bebatuan. Masih berjalan lagi hingga bertemu ujung pantai sisi lainnya. Benar, nampak penjual minuman dan kelapa muda lumayan mengusir rasa haus. Beberapa perahu sejenis yang seperti perahu telah tertambat di pantai. Di sana banyak pengunjung obyek wisata itu pada berenang, memang pasir disian lebih bersih dan putih. Kembali ke jalan utama karena berjanji dengan bapak nahkoda perahu akan dijemput satu setengah jam setelah kami diturunkan tadi. 

Dalam perjalanan pulang terbayang kembali suasana di pulau itu, mungkin banyak arwah - arwah penasaran masih terbelenggu disana, baik di jaman penjajahan atau pun di jaman kini, yaitu arwah - arwah para naripidana yang telah dieksekuisi, wallahualam. Yang jelas bila ada tawaran menjelajahi pulau itu lagi, dengan hormat saya menolaknya. Perjalanan kembali ke pantai Teluk Penyuh dan makan siang di sekitar pantai. 

Hari ketiga, 5 Januari 2015 
Di Cilacap, hanya jalan - jalan seputar kota dan pertokoan, seputaran komplek perumahan hingga menikmati suasana sunset di pantai belakang perumahan. Nama pantai itu Nusa Tembini, menurut saya lebih bagus dan asri daripada suasana pantai Teluk Penyu kurang kedisplinan dan banyak terlihat sampah - sampah berserakanan. Keberadaan peran tata kota dan dinas pariwisata setempat harus segera berupaya mempercantik pantai Teluk Penyu untuk kedepannya. Bagus dan punya tempat dengan peninggalan sejarah sangat perlu dikembangkan, selain untuk penambahan obyek wisata juga potensi mendatangkan wisata domestik maupun luar (manca negara). Bisa jadi sengaja dijauhkan dari publikasi mengingat di Cilacap terdapat satu pulau yang dihuni oleh para narapidana kelas kakap, para penghuni lapas dengan masalah yang berat, hingga pulau Nusa Kambangan seperti pulau Alcatras yang lebih populer dulu. Setelah bakda magrib kami bermain keluarga Bapak H Sudayat yang tinggal di Perumahan Gunung Simping, tujuannya hanya silaturahmi dan berkenalan. Beliau orang tua mbak Ditha, sosok ini yang sering diceritakan Kak Yo, bahkan feeling saya mungkin itu calon pendampingnya di masa depan. Insha Allah.Tujuan lain selain bertamu adalah meminta ijin kepada beliau karena mbak Ditha akan diajak makan malam di Purwokerto. Maka berempatlah kami meluncur ke Purwokerto, perjalanan hanay memakan waktu kurang lebih satu jam. Lama perjalanan seperti jarak tempuh antara Bogor ke Jakarta tanpa kemacetan, namu perbedaannya adalah sepinya sepanjang ruas jalan sehingga perjalanan seperti memasuki kawasan padat hutan, alias sepi. 

Hari keempat, 6 Januari 2015
Selama di Cilacap memang tidak terprogram seperti perjalanan sebelumnya, tetapi cukup menikmati suasana. Jadwal kereta api kali ini berangkat dari stasiun Kroya, otomatis Kak Yo meminta ijin kepada atasan di kantornya untuk mengantar saya dan adiknya. Selama perjalanan dari Cilacap ke Kroya saya pun berpikir tentang sosok perempuan yang mulai mengakrabkan dirinya dengan kami itu. Saya sebagai ibu hanya berharap yang terbaik untuk kedepannya tentang jodoh, utamakan yang seiman, syukur - syukur lebih bagus perangainya, akhlak ibadahnya. Aamin Yaa Rabbal Aalamin.  Terima kasih pembaca dan Selamat Tahun Baru 2015.

Sunset di Pantai Nusa Tembini 2015

Salam 
Arie Rachmawati

Senin, 29 Desember 2014

Yoando

Ryo-Ryan-Edo in Birthday 2014





Edo 20 thn
Edo balita
Tahun 2014 ini diawali dengan ulang tahun putra bungsuku bernama Ardianto Ridho Putra, lahir di Jambi 16 Januari 1994 lalu, dengan berat badan 3600 gram dan panjang 51cm. 1994-2014 dua puluh tahun kini usianya. Sudah berkepala dua, perjalanan waktu menuju kedewasaan diri. Tulisan ini sekedar cerita mengingat kembali proses kelahirannya, waktu itu hari minggu sore sudah masuk RSB Theresia Jambi. Pukul 21:30 wib sudah pecah ketuban, persiapan alat kerja bidan sudah tersedia. Saat mengeden aku dibantu satu ibu bidan dan dua suster akhirnya bayiku keluar dengan selamat dan normal, tepat pukul 23:40 wib.

Laki-laki lagi, sebaris doa terpanjat dalam wujud nyata, akhirnya aku memiliki tiga putra. Meski dalam pemeriksaan kehamilan memakai USG (waktu itu di Jambi baru-barunya alat itu) janinku dinyatakan perempuan. Ketika itu suami dan dua anakku (Ryo & Ryan) sudah pulang karena jam kunjungan sudah usai. Aku ditunggui Mama yang setiap kelahiran anakku selalu menyempatkan diri (cuti) dari pekerjaannya sebagai wartawati di ibukota Jakarta. Kembali ke proses persalinan. Dari pecahnya ketuban hingga detik berlalu tanda-tanda kelahiran tidak nampak. Beberapa kali bidan yang bertugas hari itu menandai pembukaan berapa jari belum ada kemajuan.  Aku pun mulai lelah dan mengantuk, begitu pula bidannya. Dua jam kemudian, bu bidan yang bertugas akhirnya mengambil inisiatif. Aku disuruh memiringkan badan ke kanan, tangan kanan berpegangan ke ujung ranjang. Kemudian dalam posisi miring itu kaki kiri diangkat dipegang oleh tangan kiri. Dengan posisi yang tak lazim, aku berusaha menguras tenaga untuk melahirkannya yang dipanggil Ridho lalu menjadi Edo itu, jelang pergantian tanggal. 
Inope-Ryan-Edo-Tiara

Kamis, 16 Januari 2014 hari itu ia mendapat kunjungan kejutan dari Tiara salah satu teman dekatnya berkonspirasi dengan Ryan (kakaknya) dan temannya bernama Inope. Seperti tahun - tahun sebelumnya, sejak mereka SMP tidak pernah ada perayaan seperti mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Ulang tahun sekedar ngumpul dengan beberapa teman di rumah atau makan - makan ala kadarnya, bukan sajian istimewa khayaknya pesta ultah. Sayangnya waktu itu formasi YOando yaitu Kak Yo tidak ada untuk acara kumpul-kumpul. Walau kamis nan mendung tetap bersemangat.

Ryan 22 thn
Ryan balita
Januari berjalan hingga tiba di bulan ke sepuluh yaitu Oktober, 25-10-2014 putraku kedua bernama Aryanto Rachmadi Putra genap berusia 22 tahun. Jambi hari itu minggu, bakda adzan dhuhur lahirlah Ryan dengan berat badan 3750 gram dan panjang 52 cm. Proses kelahirannya lancar sekali, si jabang bayi meluncur sendiri begitu aku naik ke atas ranjang persalinan, tiba-tiba keluar cairan yaitu pecah ketuban. Sementara para medis yang bertugas sedang mempersiapan alat-alatnya. Otomatis mereka langsung meraih bayi merah yang tergeletak di ranjang persalinan dan segera memotong tali pusarnya. Peristiwa itu bahkan bisa aku melihat sendiri bagaimana bayi itu keluar, Subhanallah ! Sejak hamil anak kedua ini kondisiku sehat wal'afiat. Kesukaanku berjalan kaki sama si kecil Ryo, hampir setiap hari menyelusuri pertokoan di jalan raya Jember, setelah itu pulangnya naik becak. Waktu itu suamiku dimutasi ke kota Jambi, selama menunggu kepastian mendapatkan tempat tinggal baru disana, aku dan Ryo menumpang hidup di rumah nenek. Sementara rumahku dikontrak teman sekantor suami.

Proses perpindahan itu tidak membuat tubuhku lelah, justru sangat bersemangat. Meski hamil dan suka menggendong Ryo, kandunganku benar-benar sehat, sangat jauh berbeda saat hamil anak pertama. Aku menyukai buah-buahan bahkan lebih banyak makan buah dibanding makan nasi. Minum susu dan vitamin pun rutin, begitu juga rajin kontrol ke dokter kandungan. Kondisi sehat bugar sehingga waktu hamil ASI pun sering merembes diputing payudara. Kemudian usia kandungan tujuh bulan, aku dan keluarga sudah menjadi warga kota Jambi, tepatnya 16 Agustus 1992 dan dua bulan berikutnya lahirlah adik Ryo.

Cerita lain saat sudah ngamar di rumah sakit bersalin, tidak seperti pengalaman pertama menuju rumah sakit dengan kondisi parah. Kali ini justru dalam keadaan sehat, waktu kontrol kandungan tiba-tiba, disarankan suster untuk ngamar saja. Akhirnya menginap semalam namun tanda-tanda kelahiran belum nampak. Aku sempat menghilang jalan-jalan ke pasar untuk membeli ice cream dengan anakku Ryo. Pokoknya sampai perawat-nya kebingungan mencariku. Setelah itu mulai merasakan mules yang terdahsyat. Namun sengaja aku menahan rasa sakit tsb karena masih mengikuti jalan cerita serial Mahabarata di TPI sampai tuntas, lalu barulah aku duduk manis di kursi roda menuju ruang menuju ruang bersalin.

Kue Tart Cupcake
Sama seperti adiknya Edo, hari itu di hari ulang tahunnya ia tiba - tiba dikejutkan oleh dua bersaudara Inope dan Ori (adiknya) dan kebetulan lagi KakYo pas ada bersama kami, ada tugas kantor mampir ke rumah. Nah kali ini terbalik, sayangnya yoanDO tidak melengkapi ulang tahun Ryan yang banyak mendapatkan hadiah ultah dari Inope bersaudara. Walau sederhana namun meriah karena yang berultah dihujani pernak-pernik semprotan ulang tahun. Waktu itu kami masih tinggal di rumah kontrakan (sementara) di belakang masjid Ar-Rayyan. Minggu terik nan ceria.

Ryo balita

Ryo  25 thn
Dari bulan Oktober menuju Desember. Suasana saat ini sangat mendukung mengembalikan memori seperti 25 tahun yang lalu. Bulan terakhir pengujung tahun, Ketika itu hujan deras tiada henti, hari Rabu 27 Desember 1989 di ruang bersalin RSB Panti Siwi, bersamaan adzan subuh . Waktu menunjukkan 04:44 lahir seorang bayi laki-laki dengan berat badan 3700 gram dan panjang 53cm, rambut lebat. Aryo Rizky Putra dengan panggilan Kak Yo, terlahir sebagai putra pertama.
Kondisiku kala itu sangat berbeda dengan dua cerita diatas. Sejak memasuki masa kehamilan minggu 16, aku diserang sakit malaria. Lebih parah lagi saat minum obatnya, selalu muntah. Jadi bagaimana bisa sehat, tak ada satu pun pil kina tertelan. Akhirnya nenekku Mbah Minah mengambil langkah, membuat ramuan pahit daun pepaya ditumbuk dan diperas airnya, entah bagaimana lagi proses pembuatannya, yang jelas aku wajib meminum ramuan sebotol bir itu sehari 3 kali. Berkat ketelatenan si Mbah aku pun berangsur sehat.

Setelah sehat lalu bolak-balik asma kambuh, hingga ditegur dokter bahwa ibu hamil itu harus sehat supaya janinnya sehat juga. Selain sikon yang lemah ada satu cerita yang sangat berkesan. Cerita bergulir, dua puluh lima tahun lalu saat itu waktu mempertemukanku dengan idolaku "Sakura" Fariz RM. Jumpa pertama 14 Juni 1989, usia kandunganku masih tiga bulan lebih dengan sedikit taktik berhasil menemuinya. Perjumpaan tsb bukan hanya dengan Fariz RM saja tetapi ada Mus Mudjiono dan Deddy Dhukun di lobby hotel Bandung Permai. Aku nggak ngerti apa itu yang dinamakan mengidam, tetapi yang jelas doaku terkabul disaat banyak teman meremehkan impian dan harapanku kepadanya.

Mereka 7 Bintang plus Fariz RM & Vina Panduwinata dll sedang mengadakan tour show seJawa-Bali. Entahlah ini cerita bisa kebetulan seminggu menjelang Kak Yo berusia 25 tahun, aku mendapat kesempatan melihat Live 7 Bintang di acara Indonesia Harmoni TVRI. pada hari minggu 20 Desember 2014 lalu. 25 tahun sudah cerita itu terulang. Masih Ada ....

surprise !
Sabtu, 27 Desember 2014 sepanjang hari hujan. Rencana kami akan menikmati makan siang diluar rumah. Namun sikon yang berlaku seperti seperempat abad yang lalu, hujan tiada henti. Akhirnya aku memutuskan menyulap bahan makanan yang ada dikulkas menjadi makanan untuk anak-anak mumpung sedang berkumpul. Formasi Yoando lengkap menikmati pisang goreng, cake pisang dan lauk tumisan kacang panjang. Wuuuzzz.... dalam sekejap ludes ! Tiada perayaan ulang tahun, terkesan biasa saja. Malam harinya Kak Yo mengajak kami menonton film Night At The Museum 3 "Secret Of The Tomb" di XXI Botani Square. Keesokan hari kami pun biasa saja, seperti terkesan cuek, saat Kak Yo menanyakan apakah kami jadi makan diluar. Dalam perjalanan, kami debat pendapat untuk menentukan lokasi lunch. Hingga diputuskan menikmati hidangan di RM Aer Mantjoer. Kak Yo terlihat sedih karena kami acuh tak acuh, sampai akhirnya salah seorang pelaya resto mengantarkan sebuah kue tart pelangi ukuran sedang. "Horreee....selamat ulang tahun Kak Yo".  Akhirnya surprise kami berhasil, dan seraut wajahnya ceria. Sumringah dan bahagia. Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberi kebahagiaan kepada kami dan mengizinkan kami berlima bisa berkumpul kembali dengan formasi lengkap. Berlima kita satu, bersatu kita serruuu.....

Kilas balik saat mengantarkan anak-anak menjadi bagian cerita perjalanan hidup sebagai ibu yang melahirkan. Aku menikah dengan Tonny Joostiono 2 April 1988. Atas segala kasih sayangNya dan telah mengarungi bahtera rumah tangga memasuki usia 27 tahun, cerita ini sebagai Kado Ulang Tahun buat Yoando di tahun 2014. Sebagai orang tua, berharap ketiganya menjadi anak-anak yang sholeh, berbakti kepada orang tua, agama dan bangsa. Ada tambahan doa dariku sejak mereka sudah beranjak dewasa, yaitu semoga ketiganya mendapatkan calon pendamping hidup seorang muslimah yang sholeha yang kelak akan melahirkan anak-anak sholeh dan sholeh, Amin YRA. Kelak kalian akan menjadi seorang pemimpin untuk keluarga masing-masing jadilah yang bijaksana dan senantiasa Yoando hidup rukun kompersa.


Terima kasih buat pengunjung blog sudah mampir dan membaca cerita ini.

Salam,
Arie Rachmawati



Yoando Ultah usia 6 - 3 - 2 tahun


Kak Yo ultah 25 tahun


Selasa, 23 Desember 2014

L i v e 2014

7 Bintang & Indonesia Harmoni TVRI
Edisi 21 Desember 2014

Mus Mudjiono-Fariz RM-Deddy Dhukun-Ita Purnamasari-Trie Utami-Vina Panduwinata-Dian PP- Host

Masih Ada ... 7 Bintang, iya benar mereka masih ada dan kembali menghibur pemirsa televisi. Suatu kebahagiaan saat saya mendapat kabar bahwa ada acara musik di TVRI bertajuk Indonesia Harmoni yang akan ditayangkan secara langsung dengan bintang tamu adalah 7 Bintang. Edisi 2014 ini terdiri dari 7 Bintang sbb : Mus Mudjiono, Ita Purnamasari, Fariz RM,Vina Panduwinata, Deddy Dhukun, Trie Utami dan Dian Pramana Putra membawakan hits mereka, "Jalan Masih Panjang". 

Info tsb segera menyebar baik di dinding komunitas maupun via pesan singkat, BBM dan WA. Beberapa teman segera meluncur ke lokasi dengan memberitahukan kehadirannya. Ketika saya dan suami tiba di lokasi, suasana menjelang adzan Magrib. Saya masih menikmati gladi resik dari 2D - Dian PP dan Dheddy Dhukun. Sementara mas Fariz RM dengan kaos fave-nya hitam setelan dengan celana hitam, ia duduk seperti kelelahan. Rambut gondrongnya sesekali disibak dan meraih sapu tangan handuk kecil untuk mengelap keringat. Beliau siap-siap akan check sound untuk dua lagu andalannya Sakura dan Barcelona. Saya mendekati mengucapkan salam, mengobrol sebentar lalu datang mbak Vina Panduwinata atau akrab dengan panggilan Mama Ina. Nampak Trie Utami di antara mereka.

Tak lama kemudian datang Mus Mudjiono, gitaris yang mempunyai kekhasan suara mirip George Benson. Ia adik dari musisi penyanyi keroncong Mus Mulyadi, menyapa ramah penggemarnya. Saya berkenalan dengan mbak Novidia sebagai fans setia Mus Musdjiono. Penyanyi berambut keriting itu segera menuntaskan take vocal-nya. Masih tersimpan kenangan tentangnya saat ia menyanyikan "This Masquerade" di acara di Pasar Seni 2010 lalu. This Masquerade lagu favoritnya. Magrib tiba, benar-benar suasana hening tanpa suara musik. Istirahat. 

Menempatkan beberapa anggota Komunitas Fanstastic Fariz RM, berada di deretan terdepan panggung adalah bentuk usaha saya sebagai koordinator fans, saat saya mendapat pesan singkat dari teamwork TVRI bernama mbak Dita. Melihat pertunjukkan musik secara live itu lebih menyenangkan dari sekedar nonton di layar kaca. Tentu tidak setiap acara live saya bisa hadir membaur dengan teman-teman anggota KFFRM yang kini menjadi keluarga kecil kedua. Keterbatasan waktu, padatnya kegiatan serta ijin suami itu harus bisa memilih yang diutamakan.

K F F R M

Kehebohan di ruang KFFRM Facebook lebih seru ketimbang kehebohan kami yang beada di lokasi pengambilan gambar. Kehadiran mas Adjie, cak Bondan beserta putri-nya, Donny Aha, cicih Adwi, mas Parman, saya dan suami, cukup mewakili anggota KFFRM. Sebagian teman dalam komunitas menikmati acara secara streamning yang lagi 'in' saat kini. 


2D & saya
Kesempatan yang ada tak perlu disia-siakan, yaitu sesi berfoto dengan beberapa artis pendukung acara tsb. Mungkin ini keuntungan yang didapat bila kita tiba di lokasi acara lebih awal. Dan selama ini Alhamdulillah saya selalu tiba di lokasi acara sedang berlangsungnya gladi resik. Padahal serasa perjalanan dari rumah boleh dibilang banyak kendala seperti macet dan belum tahu lokasi, namun sepertinya Allah swt mendengar permohonan doa dalam perjalanan. 
7 Bintang diawal kemunculannya di blantika musik yang masa itu diramaikan dengan menyanyi beramai-ramai, 7 Bintang dengan anggota : Dian Pramana Putra, Deddy Dhukun, Mus Mudjiono, Yopie Latul, Malyda, Atiek CB dan Trie Utami. Mereka hits dengan lagu Jalan Masih Panjang, banyak muncul di acara-acara televisi seperti Selecta Pop. Rasanya senang sekali apabila lagu tersebut diputar dan ditempatkan sebagai urutan teratas. Puas. 


7 Bintang formasi berikutnya, kehadiran Fariz RM menggantikan posisi Dian Pramana Putra dan menampilkan single baru mereka Jangan Menambah DosaMasa kejayaan mereka para pemusik, penyayi 80'an itu didukung acara musik berbalut promosi layar kaca hanya didominan oleh televisi milik negara yaitu TVRI. 7 Bintang saat ini, posisi Atiek CB digantikan oleh Ita Purnamasari. Kedua sama-sama penyanyi dari Jawa Timur. Vina Panduwinata mewakili Malyda dan Fariz RM sendiri bisa berperan ganda. 

Live :
Malam itu sebagai pembuka acara Fariz RM dengan Sakura-nya diiringi Friend of Yogi Band. Sorotan kamera sengaja ditepiskan penyanyi berambut gondrong lebih kurus dari biasanya. Sakura berlalu disusul kehadiran dua host acara adalah Rico Ceper & Terry Putri memperkenalkan tema acara tsb. 


Ingat lagu Optimis, pasti ingat kekhasan suara Atiek CB penyanyi asal Kediri itu kini lagu tsb dilantunkan oleh Ita Purnamasari. Dua lagu berturut-turut membangun suasana studio kian semangat. Beberapa saat para bintang tamu diminta bercerita awal kisah terbentuknya formasi 7 Bintang. Obrolan ditunda dengan tembang Kuingin Kau Ada diciptakan oleh 2D untuk Trie Utami, serasa kembali ke masa itu. Suasana sendu beraroma kasmaran kembali dihadirkan dengan lagu Masih Ada - 2D. Wow, indah nian melarutkan perasaan, dijamin para pemirsa di layar kaca ikutan menyanyi seperti kami yang di studio. 

Commerial Break sebentar untuk penatan panggung sebelum tayangan kembali live. 7 Bintang itu kedudukan Vina Panduwinata menggantikan Malyda. Vina Panduwinata berduet dengan Fariz RM untuk lagu Sungguh. Lagu itu diciptakan oleh Fariz RM khusus untuk Vina di album Wow (kalau nggak salah). Lagu itu juga sering diaransemen ulang dalam performance solo Fariz RM. Fariz RM asyik dengan alat musik keytengnya sebagai pemanis improvisasi lagu Sungguh. Keharmonisan irama musik pengiring sangat berasa menyatu dengan lenggak-lenggoknya Vina, bahkan para audince pun ikutan bergoyang. Pada jaman itu hampir semua penyanyi mempunyai ciri khasnya masing-masing dan mereka pun mendapat panggilan dari lagu-lagu yang dipopulerkan. Si Burung Camar tak lain adalah Mama Ina untuk sebutkan masa kini, karena memenangkan ajang lomba lagu dengan judul Burung Camar hal tsb yang melatarbelakangi lahirnya sebutan tsb. 

Kedua host acara sengaja mengupas habis tentang mereka. "Aku Ini Punya Siapa" ciptaan 2D yang pernah dipopulerkan oleh January Christy ditampilkan malam itu. Menyusul dua lagu Arti Kehidupan dan Tanda-Tanda (cipt Oddie Agam) tepukan tangan penonton studio menyemangati George Benson-nya Indonesia, Mus Mudjiono. Penampilan kedua penyanyi yang memiliki tahi lalat dan piawai memainkan alat musik itu kembali membawakan lagu Cintaku Padamu (cipt Younky Soewarno & Maryati). Ita Purnamasari kini dikenal masyarakat sebagai nyonya dari musisi Dwiki Dharmawan, tetap langsing seperti jaman kejayaannya membawakan lagu Penari Ular sebagai debut pertama sebagi rocker wanita di blantika musik.







Nikmat sekali dan sungguh berkesan, bahkan mereka pun didaulat untuk menciptakan lagu secara spontanitas (langsung diatas panggung) yang dipersembahkan untuk acara tsb. Lahirlah secara instan lagu berjudul Indonesia Harmoni yang dikomandoi oleh Deddy Dhukun dengan pembagian vokal sesuai karakter suara masing-masing. 
 https://youtu.be/n5pPeSURdDQ sepenggal lirik lagu tsb :


...
karena hari ini 
kita masih diberi waktu
sekali lagi kawan ingin mengucapkan 
selamat dan sukses "Indonesia harmoni"

puji syukur kawan
atas kebahagiaan malam ini
karena hari ini 
kita masih diberi waktu
sekali lagi kawan
ingin mengucapkan
selamat dan sukses "Indonesia Harmoni" ...


Cuplikan rekaman video dari seluler saya yang sudah diunggah di laman Youtube mungkin bisa menunjukkan kepiawaian mereka yang tak perlu diragukan dalam bermusik. Menurut pemikiran saya, Deddy Dhukun adalah motor penggerak dari grup ini baik sedari awal maupun saat kini. Kekompakan terjaga walau waktu telah menggerus usia.

Barcelona menyemarakan lantai studio, menyusul kemudian Keraguan milik 2 D bersambung dengan Biru. Lagu Biru kali ini perpaduan vokal 2D dengan Vina Panduwinata. Lagu Biru mungkin paling banyak dicover penyanyi muda generasi kini, seperti Afghan, Angle Pieter dsb. Wow, berturut-turut 2D membawakan lagu milik January Christy berjudul Melayang semakin melayangkan penonton studio, karena kami seakan diadu vokal antara penonton sisi panggung Deddy Dhukun dan sisi panggung Dian PP.

7 Bintang menggiring para penonton live di studio kembali nostalgia tanpa akhir. Sambung menyambung suguhan lagu 80'an itu dari lagu Sakura hingga Keraguan-nya Trie Utami hingga lagu terakhir. Lengkingan suara penyanyi bertubuh kecil ini mengingatkan saat ia bersama grup Krakatau-nya. Dua jam berlalu kemudian dua host menutup rangkaian acara dengan lagu andalan masa kejayaan mereka, Jalan Masih Panjang - 7 Bintang.

Lagu-lagu mereka hingga kini tetap manis didengarkan. Era kini dengan olahan beberapa aransemen musik dihadirkan kembali untuk generasi berikutnya merasakan magma permusikan dulu sangat berarti bagi pelaku musik dan pendengarnya. Kita wajib menghargai, mempelajari tonggak sejarah bermusik dari generasi sebelumnya, cara sederhana menghargai musik kita di negeri sendiri. Terima kasih.

Jalan Masih Panjang
by 7 Bintang
Indonesia Harmoni 
edisi 21-12-2014


(trie utami) 
kusadar hidup ini hanya sebentar
untuk apa putus asa
dan buang waktu saja

(ita purnamasari)
bukankah setiap orang punya problema
yang harus kita lalui dengan hati yang tabah

(fariz rm)
lupakan masa lalu dan kelabu
kita susun langkah baru
jangan hanya menunggu

(vina panduwinata)
harapan kesempatan dan jua waktu
tak kan selamanya datang menghampiri hidup kita
wow

(all star)
bersyukurlah 
hari ini kita masih dapat berjumpa
dalam kasih sayangnya
berdoalah 
raih semua cita-cita hidup di dunia
dan jangan kita lupa Dia yang diatas sana


(trie utami) 
kusadar hidup ini hanya sebentar
untuk apa putus asa
dan buang waktu saja

(ita purnamasari)
bukankah setiap orang punya problema
yang harus kita lalui dengan hati yang tabah

(mus mudjiono)
lupakan masa lalu kelabu
kita susun langkah baru
jangan hanya menunggu

(deddy dhukun-dian pp)
harapan kesempatan dan jua waktu
tak kan selamanya datang menghampiri hidup kita
wow

(all star)
bersyukurlah ...
hari ini kita masih dapat berjumpa
dalam kasih sayangnya
berdoalah ...
raih semua cita-cita hidup di dunia
dan jangan kita lupa Dia yang diatas sana

hidup ini berat tapi jangan takut kawan
sebab pengorbanan selalu menjanjikan bahagia
satu lagi kawan jalan masih panjang
berarti kita terus melangkah kedepan
hei hei ....



Salam,
Arie Rachmawati

Senin, 10 November 2014

D d R (2)


Pembaca "Dandelion dalam Rindu"
Pilihan Penulis 
Oleh Arie Rachmawati



Bagi pembaca blog ini sebelum membaca tulisan ini, sebaiknya membaca tulisan sebelumnya silahkan membuka link : http://rachmarie-riritemaram.blogspot.com/2014/11/d-d-r-1.html

Melanjutkan cerita, bagian ini adalah bagian mendebarkan karena saya membaca komentar panjang para pembaca seperti melihat papan pengumuman kelulusan saat kita bersekolah. Siap nggaknya menerima kritikan yang membangun, sanjungan yang membumbung atau sorotan sinis. Beragam kata terangkai sebagai kata hati mereka dipersembahkan sebagai bentuk apresiasi untuk buku kumcer Dandelion dalam Rindu. Sebelum melanjutkan cerita ini, baiklah saya akan sharing cerita, 

Saya ini suka membaca dan mengkoleksi beberapa buku (novel) karya penulis lokal maupun dari luar. Salah satunya suka sekali dengan karya penulis yang tata bahasanya gaul. Dan senang saat menemukan akunnya  penulis tsb di facebook. Lama sekali untuk mendapat konfirmasi pertemanan, setelah menjadi teman, namun apresiasi saya kepadanya tidak mendapat balasan. Menunggu dan menunggu satu tahun lebih, padahal saya sudah sertakan scaner 6 bukunya. Sebagai pembaca saya kecewa, mencoba berbesar hati hingga memutuskan untuk unfriend saja. Biarlah saya tetap menjadi pembacanya, bukan mengagumi orangnya tetapi karyanya. Kejadian itu terbersit bila nanti saya menjadi penulis saya jangan seperti itu. Bagaimana pun pembaca yang sudah membeli buku adalah Raja. Kini saya menjadi penulis, dan saya tidak ingin seperti dia.

Fariz RM & Oneng DR
Suatu sore di awal bulan Mei 2014 lalu, surprise banget saat saya tiba-tiba mendengar suara sang Maestro Fariz RM, "Rie, boleh nggak aku kritik bukumu?". Spontanitas saya berujar, "Jadi mas Fariz membaca? Bener?" Beliau menjawab, "Iya!" seraya menganggukkan kepala tanda setuju. Langsung saja saya mencium tangan beliau, "Makasih mas, suwuuuun maasss."

Fariz RM : "Topik dan konflik romantik yang di "pilih" sebagai tema/inti cerita sebetulnya sangat menarik. Mungkin cara penyusunan penyampaiannya yang harus dibedakan. Misal : jangan semua peristiwa disajikan berurut. Kadang-kadang di"lewati" (skip) dulu, untuk kemudian di"ingatkan" kepada pembaca melalui penyampaian (seolah-olah) flashback. Jadi nggak terasa monoton dan lebih dinamis penyampaiannya. (2Mei 2014) 

Bukan saja mas Fariz RM yang memberi komentar bahkan bunda Oneng Diana Riyadini pun berujar, "Membaca cerpenmu seperti mendengarkan Arie bercerita ... "   

Kurnia Z S
Agus R Hadi
Pembaca buku saya itu beragam meski mereka orang yang saya kenal baik dunia nyata maupun dunia maya. Setiap komentar, tanya jawab telah disalin kedalam file, Namun, higga masa penulisan ini file yang dicari belum ketemu.  Sebut saja  Kurnia Zulkarnaen Soehoed dari Jember yang menyukai cerpen Pianoku Tercinta, karena ia seorang pianis. Rasa sukanya dituliskan dalam obrolan panjang via WA. Tentu saja ia tak menyadari dengan menulis tsb ia sudah meluangkan waktunya selain membaca dan menulis. Sementara ini ia dikenal teman-teman sebagai sosok yang sedikit bicara, disegani dan nggak merasa bisa menulis. Buku saya telah membuatnya bicara.  Agus Rachmat Hadi, mungkin satu - satu pembaca yang tidak antusias saat menerima kiriman buku, dikarenakan ia sudah membaca lewat surel sebelum naskah itu menjadi buku. Ekspresi suaranya datar, ucapan selamat pun hambar. Tetapi dibalik itu ia satu-satunya yang gencar membantu doa dari proses menawarkan naskah ke penerbit sampai untuk kelancaran penjualan buku kepada teman - teman sekolah dan keluarga. Dan ia pun lebih memilih membeli daripada mendapatkan buku tsb 'free' sebagai jerih payahnya. Mereka berdua setidaknya membaca tulisan saya sebagai ex teman sekolah.

Berbeda lagi dengan Edwin Satria Hadi
teman sekelas ini masih seperti dulu, rajin support saya namun malas membaca, bahkan ia menanyakan isi ceritanya. Katanya, "Mending aku diceritain Riek, daripada membaca, kayak nggak tahu aku aja Riek. Sebagai sahabat aku membeli biar merasakan rasa gembiramu, itulah mimpimu, biarlah istriku yang membacanya."  Di antara mereka, orang pertama dari angkatan alumni SMPN1 Jember angkatan 1981-1984 adalah M.Zamroni memborong tiga buku, sayangnya ia hingga tulisan ini diturunkan enggan berkirim foto melengkapi kebahagiaan hati.Siapa lagi? Banyak sekali, itu sebagian kecil dari 150 eks buku yang terjual, namun dari kesemua itu saya menarik empat nama yang berhasil mencuri perhatian saat membaca komentar - komentar dan kiriman fotonya.

Antok Agusta
"Dari mana saya harus memulai memberi komentar buku kumpulan cerpen seorang sahabat yang berjudul Dandelion dalam Rindu. Harus saya sanjung atau saya kritik… sebuah dilema baru yang menghunjam jauh kedalam rangkaian urat-urat didalam dada saya. Saya pecinta karya sastra, dari kelas Teri hingga yang Dinosaurus. Sebagai cerpenis pemula, karya Arie Rachmawati ini memang biasa saja, tak ada suspens ataupun metafor-metafor yang menggoda. Linier dan merayap, sebagai sebuah karya sastra, Arie tidak mencoba menawarkan garda-garda fantastis yang mengejutkan jiwa… Arie bagi saya adalah seorang cerpenis yang terlalu lugu, polos dan apa adanya. 

Namun dalam membaca cerpen Arie, saya merasa semakin mengenal dan mengerti siapa Arie dan mau apa sebenarnya dia. Arie memang lain dari cerpenis-cerpenis yang pernah saya kenal atau pun yang karyanya pernah saya baca. Arie bukanlah seorang ahli bahasa yang mampu berakrobat kata-kata macam Edgar Allan Poe atau mungkin Ernest Hamingway. Atau kalau cerpenis Indonesia; Arie bukanlah sejajar dengan Ags Arya Dipayana, Yanusa Nugrono, Agus Noor, Djujur Prananto, Adek Alwi atau bahkan Seno Gumira Ajidarma. Arie Rachmawati adalah sesosok cerpenis yang mampu menjadi dirinya sendiri. Sepanjang saya membaca banyak karya cerpenis dalam dan luar negeri, baru Arie lah yang konsisten dengan mimpi dan keinginanya. Dia tetap Arie yang Rachmawati dan tidak ingin menjadi siapa-siapa. Seperti apa yang sering dia ungkapkan, bahwa dia cuman penikmat musik bukan pemusik, apalagi bercita-cita yang lebih dari itu. Itulah Arie yang polos dan lugu tadi. Selalu dia pakai nama panggilannya untuk tokoh-tokoh dalam cerpennya yang berhubungan dengan cerita tentang para idolanya. Sebenarnya Arie tidak mencintai sebuah karya musik dari seseorang idola tertentunya, bahkan dia berusaha untuk mencintai sang idolanya lewat imajinasi dalam tokoh dalam cerpennya…. Arie sungguh luar biasa menurut saya. Tenang dan mengalir bak air yang tujuan terakhirnya tetaplah lautan. Walau perjalanannya harus melalui selokan, ngarai atau bahkan jeram sekali pun. Kalau saya harus menjadi aktor dalam bermain teater, maka saya harus mampu menjadi orang lain. Sehingga penonton saya terpukau oleh permainan acting saya. Demikian pula bila saya harus menulis cerpen… saya harus rela melepaskan karakter keseharian saya. Dengan kepolosan dan apa adanya, justru Arie bermain dengan yang sebaliknya. Dia tetap bermain total dengan dirinya sendiri sehingga pembacanya yang detail pasti akan mampu mengenal siapa Arie sebenarnya dan apa yang dia inginkan lewat cerpen-cerpen karyanya. Akhirnya…. Selamat dan sukses buat Arie Rachmawati, terus berkarya jangan berhenti sampai disini. Bertanhanlah dengan be yourself-mu, karena tak sembarang orang sanggup sepertimu. Karena suatu saat dirimu pasti akan mampu untuk membangun acting is believing untuk suatu Panggung Perak teater-mu.
Salam Budaya….. (Antok Agusta/Pasuruan)

Tyas Amalia Yahya
Sebagai anggota termuda dari Komunitas Fantastic Fariz RM adik Tyas ini berwajah imut sangat ceria dan super sumringah jelas terbaca saat berkomentar, "Wes rampung. Sekali baca nggak bisa berhenti. Hehe, aku paling suka 'Nyanyian Malam Hati Perempuan'. Kisah cintanya unik. Ada tokoh misterius yang bikin penasaran juga. Jalan ceritanya nggak mudah ditebak. Ditambah lagi ada lagu KJP dan Fariz RM. Pokoknya sukaaaaaaa....." (03/01/2014)

Bisa kebayang reaksi wajah Tyas Amalia Yahya yang sangat akrab di dunia musik saat ini. Intensitas keterlibatan dibalik layar sebuah konser musik tentu menyukai cerita terpanjang itu di kumpulan cerpen tsb. NMHP yang tertulis disana serasa cerita nyata tetapi jelas-jelas itu sebuah fiksi yang dibangun dari kumpulan imajinasi yang dilatarbelakangi lagu-lagu Kadri Jimmo the Prinzes. Lima tahun lalu akrab ditelinga. Eskpresi rasa suka bukan karena penulisnya, tetapi hampir keseluruhan tokoh cerita sudah familiar di Facebook. Hal tsb menjadi obrolan bersambung melalui What'sApp. 


Berbeda dengan Tyas, yang satu ini adalah ibu dosen, Amelia Habe adalah teman sebaya usia dan berasal dari kota Jember, Jawa Timur yang berdomisili di Jakarta. Baginya baru kali ini diusia kini membaca kembali cerita pendek versi saya. "Wis aku baca sebagian. Kebiasaan mengajar bahasa yang pembuatan kalimatnya sistematis. Otakku kembali diputar bahwa ini adalah bahasa juga dan penggunaannya bahasanya sangat sastra, Bagus banget, ternyata awakmu sangat sastrawati yang berbakat, sayang sekali kalau nggak dikembangkan. Hebat ternyata orang-orang Jember punya orang berbakat dan berpotensi. Dari gaya bahasa dan alur ceritanya menarik, tidak membosankan." Iya Amelia secara obrolan kami berdua suka menggunakan bahasa gaul nJemberan. Mungkin pemilihan saya untuknya mewakili teman-teman lain seangkatan, senasib berasal dari kota yang sama. Amelia satu-satunya yang langsung berkomentar tak lama menerima paket pemesanan buku dengan komentar penuh rasa nggumun (baca : heran) karena saya ternyata penulis. 


Rini Setio ini memang seorang penulis jauh sebelum saya menelurkan karya. Ia pernah mengirimkan cerpennya dan dimuat di majalah Anita Cemerlang. Hebat! Saya waktu itu selalu gagal, dan dia bisa tembus. Namun kini nyalinya kendor, ia perlu penyemangat dan berdasarkan cerita suaminya Setio Adi Waskito (teman SD Pagah II Jember/1980-1981) sepertinya saya dijadikan semangatnya. Kini ia mempunyai blog dan sudah nyaman menuliskan kegiatannya, puisinya dan cerita pendeknya. Itu sebabnya setahun lalu saat saya sedang promo lewat inbox, sangat antusias membeli padahal saya sendiri sebagai penulis belum menerima satu buku sebagai tanda jadinya. Hebatnya Rini!

Setelah menyimak tulisan diatas maka saya memutuskan sahabat - sahabat ini sebagai pembaca pilihan adalah sbb :
  1. Antok Agusta (pembaca dengan komentar terpanjang)
  2. Tyas Amalia Yahya (pembaca dengan komentar ekspresif)
  3. Amelia Habe (pembaca dengan komentar terheboh)
  4. Rini Setio (pembaca tercepat pemesanan online), terpilihnya mereka berempat sebagai pembaca berdasarkan alasan yang berlaku selain menyemarakan suasana setahunnya Dandelion dalam Rindu ditangan para pembaca. Penilaian berdasarkan kata hati saya, yang menurut saya bisa sebagai bahan penyemangat diri. Baik juga bagi pembaca lain yang minat dalam penulisan.
Terima kasih buat pembaca blog, pembaca buku Dandelion dalam Rindu.
Terima kasih buat para bidan buku ini. Terima kasih buat semuaaaaanyaa....


Salam,
Arie Rachmawati