Senin, 27 Mei 2013

Musisi Mancanegara


MR dan Wayang Indonesia
Oleh Arie Rachmawati
Max Ridgway, asli dari Amrik. Perkenalannya secara kebetulan di sebuah grup facebook bernama Modern Art Group, bersifat grup tertutup. Awalnya ngobrol biasa, entah dimulai dari mana pembicaraan itu mulai menyambung. Ia memberi komentar tentang postinganku bergambar lukisan gitar., dalam hati kok ya tumben ada yang ngomentari lukisan picisan itu. Lukisan itu belum rampung, tapi karena suatu hal aku anggap selesai dan ia sangat antusias yang berhubungan dengan alat musik gitar. Oh, ternyata dia seorang gitaris toh?. Nah, cerita demi cerita mengalir mewarnai obrolan kami  Ada saja topik yang kami bahas. Salut dan bangga ternyata ia lebih mencintai tanah airku, Indonesia. Ia ingin sekali mengenal semuanya, terutama kekayaan budaya, musik hingga keragaman agama di Indonesia. Salah satu yang akan kutulis di blogku ini adalah tentang 
W A Y A N G.

Suatu hari, saat aku jalan-jalan ke toko buku Gramedia dan menemukan buku "51 karakter Tokoh Wayang Populer", otomatis aku membeli buku tsb. Lalu, kukirim buku itu ke Amrik dan speechless dia suka banget. Lihat fotonya sambil memamerkan buku itu. Senang bisa berbagi, apalagi ia sangat antusias mengerti tentang cerita dalam pewayangan. Itu sebabnya aku membeli dua buku seharga Rp 21.000,- itu, karena aku akan menterjemahkan dan bercerita. Asik banget dan aku menyukai hal ini. Salah satu pesannya, ia meminta maaf karena telah membuatku lelah mengetik dan menterjemahkan. Aku pikir ini dua pekerjaan sekaligus, kenapa nggak? Dengan mengetik ulang tulisan dibuku tsb, selain membaca lagi sekaligus mengerti siapa-siapa mereka dalam pewayangan. Jujur, aku kurang paham meski cerita wayang pernah diceritakan saat Mamaku mendongeng jaman dulu, adalah garis besarnya seperti Mahabarata, Perang Baratayudha dan Ramayana. Di buku ini lebih detail pelaku pewayangan itu.

Lalu, aku balas pesannya itu bahwa aku benar-benar tidak melelahkan melakukan itu karena akan berbalik positif untukku juga. Seperti kata pepatah lama, 'sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui'. Ya seperti itu manfaat yang kudapatkan dengan menterjemahkan isi buku ke dalam bahasa Inggris dibantu oleh Google Translate. Kadang aku sering memakai bahasa sendiri dan itu ternyata lebih disukainya untuk pemahamannya yang sederhana. Keakraban terjalin hampir berjalan dua tahun ini. 

Max Ridgway gitaris dari Oklahoma yang antusias belajar apa saja, tentunya sesuai batas kemampuanku untuk menerangkan. Bahkan sering diskusi tentang Islam. Bagiku ini selain tantangan juga menjadikan sebagai bahan intropeksi diri. Saat menerangkan hal yang ditanyakan otomatis diriku berasa dinasehati oleh diri sendiri. Barakahallahu fiikum semoga ini mendapat rahmat-Nya dan ia diberi hidayah-Nya. Setiap mengawali obrolan senantiasa kuucapkan  بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ.  semoga Allah SWT menuntunku dalam obrolan maya berarah positif. Ia sangat santun dan aku merasa nyaman ngobrol dengannya. Terima kasih facebook telah menambah pertemanan yang bermanfaat ini. Thank you Max !


Salam
Arie Rachmawati

Senin, 20 Mei 2013

Enam Kota Dalam Dua Minggu




J E M B E R 


Minggu 5 Mei 2013
Meninggalkan Bogor untuk menjemput sejumput rindu, serasa baru kemarin lalu saya pulang kedua kalinya ke Jember (Desember 2012) kini saya kembali lagi ke kota kelahiran saya 'Jember'. Kunjungan kali ini super singkat, nggak ada waktu mengunjungi teman lama lainnya, kecuali sahabat setia Nanang Keceng (NK). Dia yang menjemput dan mengantar saya. Meski waktu mepet, diujung kepulangan meninggalkan Jember, saya sempatkan bermain sebentar ke Rembangan.

Ketika sang mentari menyapa hari, saya sudah berada di sana, membidik beberapa foto dengan lokasi yang sama namun suasana berbeda. Saya suka suasana Rembangan hampir mirip Puncak, namun masih terasa alami. Lihat foto yang saya bidik itu, menurut saya sangat terasa hamparan bunga jagung meliuk-liuk bersama sepoian angin pagi seperti dandelion menari di antara semak ilalang. Beberapa foto di lokasi pemandian Rembangan, seperti kunjungan yang lalu. masih saya simpan menunggu mood untuk ditampilan sebagai slide shoaw picture bisa untuk bikin videoclip lagu. Usai menuntaskan misi itu, saya turun ke kota dan memenuhi keinginan tante Ninik (adik mama) yang sedang sakit berat, yaitu ingin dimandikan karena sudah lebih tiga minggu terbaring sakit di ranjang tak berdaya. 


Singkat cerita, ini pengalaman pertama dan terbesit rasa mengharu biru, mengaduk perasaan. Menahan air mata jatuh dan tetap memberi candaan agak tak berasa tegang. Tugas saya itu dilakukan bersama bude Wiwik dan tante Nung, saling membahu. Seusai itu bergantian dengan sahabat saya NK , ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan mendoakan yang sakit. Terima kasih banyak atas bantuannya buat sahabat Nanang Keceng, Jazakumullahu khairan katsiro. 


Selama di Jember, justru sibuk persiapan kami sekeluarga (keluarga besar H.Nawawi) akan menghadiri pernikahan sepupu bernama Marissa Maya maysitoh (putrinya Om Chairul Saleh/Lek Leh adiknya mama). Bicara tentang Jember, bagaimana pun saya punya kenangan yang amat dalam di kota tembakau itu. Meski saya bertahun-tahun telah meninggalkan kota itu dan merantau di Madiun, Jambi dan kini menetap di Bogor, namun disanalah saya lahir, bersekolah dari semasa taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama lalu bekerja dan menikah dan melahirkan anak pertama.

Toko Buku Santo Joesuf

Jember kini sudah banyak berdandan, mulai padat pengendara roda dua, roda empat dan para pendatang khususnya di daerah kampus, hingga saya merasa tak mengenali daerah situ. Namun, bila dibandingkan dengan kota Bogor ya Jember masih asik berlenggang di jalanan. Bagi saya Jember masih menyisakan kenangan, tanpa sengaja saya menemukan toko buku Santo Joesuf di dekat SMPN 2 Jember. Seingat saya, jaman dulu semasa sekolah di SDN Jember Lor IV atau SDN Pagah 2, kerap kali mengunjungi toko buku itu, selain lengkap untuk buku mata pelajaran, juga menjual buku diary, yang tidak banyak ragam namun tidak pasaran modelnya, dimana saya amat sangat menyukai menulis di diary. Peranan toko buku itu sangat berjasa, dimana saat itu tidak banyak toko buku yang menjual perlengkapan sekolah dan mata pelajaran sekolah. Beberapa toko buku seperti Handayani, Sumber Ilmu, Anda, Samudra sebelum era Gramedia merambah kota Jember.
Me with Ciplis

Melihat kondisi sekarang sangat memprihatinkan, nama toko masih terpampang meski pagar pintu gerbangnya sudah terkunci dan sepertinya telah lama tak terurus. Meski sebuah toko kecil namun bagi para generasi seangkatan saya, telah mencetak penerus bangsa yang cerdas. Terima kasih bapak tua pemilik toko, kenangan wajah beliau selintas mengaduk memori, seorang bapak tua berambut putih keperakan dengan kaca mata minusnya, jarang senyum dan kelihatan sangat disiplin. Tanpa direncana, saya bertemu dengan teman semasa kecil, tetangga waktu tinggal di kampung kebon, namanya Ciplis, ternyata dia sudah menjadi nenek dan mempunyai dua cucu, Subhanallahu waktu memisahkan dan waktu pula mempertemukan kembali kami berdua. Usianya selisih satu tahun, satu hari, Dia dulu mirip sekali dengan artis penyanyi Maya Rumantir. 



M A L A N G

Jum'at 10 Mei 2013, usai sholat subuh, Mama dijemput rombongan menuju Malang. Nggak lama kemudian, saya bersiap-siap merapikan barang bawaan untuk segera meninggalkan Jember dengan tujuan yang sama. Saya ditemani sahabat lama NK yang kebetulan mempunyai tujuan sama, beda misi. Kali ini saya menikmati kereta api Tawang Alun mengantarkan saya menuju kota apel Malang. Perjalanan pertama menggunakan kereta api berAC. Menurut riwayat sekarang semua layanan kereta api memakai AC baik yang kelas ekonomi maupun bisnis. Menyenangkan sudah nggak sumuk lagi. Tanpa terasa perjalanan dimulai pukul 08:05 (on time) meninggalkan stasiun Jember telah memasuki kawasan kota Malang, tepat pukul 13:30 wib perjalanan berakhir dan saya dijemput keluarga besar H Nawawi, ada Mama, tante Nung, om Djuri, Lek Wa (Chairil Anwar), mbak Yuli, Lek Leh (Chairul Saleh), Pepen dan mbak Wiwik. Wuuiik gilaaa tuh it's very everlasting moment tenan ! Dalam mobil ada 10 orang. Pas di depan alun - alun Malang, sahabat saya diturunkan, disanalah perpisahan terjadi. NK atau wakkaji yang selama ini dikenal sebagai pelantun ayat suci Al-Qur'an selama tante Ninik sakit, hari itu ia berpenampilan berbeda ala rocker hingga menjadi pembicaraan di dalam mobil. Aslinya dia berjiwa rock and roll, hanya profesi sekarang yang dijalani menuntutnya berpenampilan layaknya para ustadz. 

Cisadane 14


Cisadane 14
Hari itu semua penumpang dalam mobil mini bus milik Lek Leh, memasuki rumah penginapan (Guest House) yang sengaja disewa untuk para rombongan keluarga dari Jember. Saat memasuki rumah asri itu, nampak aura rumah yang nyaman. Selain penataan yang rapi, bersih dan sederhana namun syarat barang antik, serasa rumah sendiri. Disisi belakang ada teras dan kolam ikan ditengahnya tumbuh teratai ungu. Sisi ventilasi udara dan sinar matahari membuat kami merasa betah. Ajaib, serasa kamar yang tersedia benar-benar sesuai anggota keluarga yang hadir. Sekilas nampak bahwa si empunya rumah tsb, sangat mengagumi sosok tokoh presiden pertama RI, Soekarno. Selain beberapa lukisan wanita telanjang sangat sexy. "It's okay, I like this," gumam saya dalam hati. Bahkan saya ingin sekali memiliki rumah tsb dihari tua nanti. 


 Ngumpul bareng seperti kemarin lalu itu, bagi saya adalah untuk pertama kalinya, setelah menikah 25 tahun. Mengingat saya jarang pulang ke Jember, bahkan tidak pernah menghadiri acara pernikahan saudara, dikarenakan waktu yang lampau berada di rantau dan sikon yang nggak memungkinkan. Itu adalah catatan sendiri melengkapi perjalanan panjang selama dua minggu. Tambahan penghuni Cisadane 14 adalah mas Tonny Yoostiono (suami saya) datang menyusul dari Bogor, lalu Merry dan Lupita dari Jember, dan Totok Ardianto beserta keluarganya dari Solo, semakin melengkapi hiruk pikuk khas keluarga salbut. Sepanjang hari, suasana rumah senantiasa dengan cerita - cerita yang ujungnya diserati tertawa terbahak-bahak. Dari sebelum adzan subuh hingga larut malam, seakan tiada terputus cerita bergulir satu per satu. Ditambah lagi dengan kebersamaan saat sarapan pagi sebungkus nasi pecel atau sebungkus nasi jagung dengan urap-urap dan untuk menu makan malam cukup sebungkus nasi goreng dengan porsi besar, sebungkus berdua, hahaha mirip lagu dangdut Sepiring Berdua.



Acara resmi menjelang pernikahan Icha dengan Fakhri, pemuda berasal dari Sumbawa, dimulai saat malam seserahan, dilanjut esok harinya acara akad nikah di masjid tak jauh dari kolasi rumah pengantin dan tempat kami bermalam, Acara ijab kabul bernuansa putih nan suci, penuh khidmat dan berjalan lancar. Kemudian ditutup dengan acara resepsi pada hari Minggu 12 Mei 2013, benar-benar rangkaian acara padat merayap melelahkan namun membahagiakan, terutama buat pasangan pengantin yang akan mengarungi hidup baru sebagai pasutri, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah dan waromah. Amin YRA. Usai acara tsb, rombongan keluarga dari Jember, bergegas meninggalkan Cisadane 14 menuju Jember, tinggallah saya beserta suami, Mama, dan Totok sekeluarga (Ika dan Shafira) yang esok hari akan melanjutkan perjalanan menuju Solo dengan kereta apai Malioboro Ekspres.

Me with Shafira & Ika



S O L O - YOGYAKARTA
Senin 13 Mei 2013, tepat jam 07:00 wib berangkatlah kereta api meninggalkan stasiun Malang. Selama perjalanan kurang lebih 7 jam tibalah di stasiun Solo Balapan dan meluncur ke perumahan Tiara Asri. Alhamdulillah selama perjalanan si kecil Shafira tidak rewel dan sehat wal'afiat. Kali pertama melakukan perjalanan rame-rame khususnya suami saya, yang sangat jarang bisa ngumpul bersama dengan keluarga besar dari Jember. Kesibukan bergelut dengan setumpuk kabel fiber optik, membuatnya sering hadir ditengah kebersamaan keluarga besar. dalam perjalanan ini kami berdua serasa menikmati tanpa diributkan urusan anak-anak, karena mereka sudah besar dan mempunyai aktivitas masing-masing. Selama di Solo nggak banyak cuci mata. karena memang berasa kelelahan, dan esoknya kami ke Yogyakarta.

Nggak banyak cerita antara Solo dan Yogyakarya, kerena seringnya berkunjungm namun pesona Yogyakarta selalu ingin kembali kesana, seperti setahun yang lalu saat wisudanya Aryo Rizky Putra, putra saya. Lirik lagu KLa Project itu sangat melekat dalam memori, walau kenyataan para musisi jalanan sepanjang jalanan Malioboro dianggap ngamen gratis. Sisi lain di sepanjang Malioboro adalah pesona Mirota Batik tak pernah luput dari incaran. walau hanya sekedar memberi kartu pos melengkapi koleksi post card. Lalu kembali ke Solo untuk beristirahat dan menuntaskan perjalanan berikutnya.

Kembali ke Yogyakarta keesokan harinya untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Cilacap, dimana anak saya bertugas. Ini kunjungan pertama kali, benar-benar tak terlintas apapun tentang kota yang tak jauh dari pulau Nusakambangan. Perjalanan perngalaman pertama, melalui rute jalan yang sempit sersalipan dengan beberapa bus lintas kota, truk dan mobil pribadi juga pengendara sepeda motor. Saya hanya memejamkam mata, karena meski semangat '45 namun tak dipungkiri tenaga sudah mulai terkikis, maklum faktor usia nggak bisa kompromi. Sesampainya di Cilacap ba'da Isya setelah tertempuh waktu kurang lebih 5-6 jam. menuju tempat penginapan yang terletak di jantung kota nan sepi itu, lengkap sudah guyuran air hujan menambah suasana mirip sekali kota dalam film-film horor. Malam larut dalam lelap berkepanjangan.




C I L A C A P - PURWOKERTO



Kamis 16 Mei 2013, sembari makan siang kami berdua muter-muter kota Cilacap, jauh dari kemacetan dan suasana kota adem ayem, tidak ada hiruk pikuk walau pun melintasi sebuah pasar. Sangat berbeda sekali dengan kota Bogor, bertumpuk-tumpuk angotan kota memenui ruas jalan. Sejenak melintas tempat kerja anak saya, memotret dari seberang jalan, tak ada yang melintas. Mungkin karena dekat pantai jadi udara disana sangat panas menyengat, dalam hitungan menit kulit bisa gosong, tanpa harus berjemur. Malam kembali diguyur hujan, sehingga paling aman menikmati acara televisi sembari tidur-tiduran. Tak ada hunting atau kuliner menjanjikan untuk diburu, asli niatan untuk menengok anak bertugas. Tidur bertiga, mengingatkan jaman Aryo Rizky Putra masih bayi, kini anak itu telah dewasa dan nanti akan menata hidupnya sendiri. 

Entah karena kelelahan kesana-kemari dari Bogor menuju Jember-Malang-Solo-Yogyakarta, hari itu Jum'at 17Mei 2013 saya dibawa ke IGD RS Pertamina untuk mendapat pertolongan pertama oksigen lantaran asmuni (asmaku muni / bunyi). 

Sekali observasi dua tabung dapat melegakan pernafasan, beberapa obat racikan dan satu Ventolin spray lumayan buat sangu pulang esok hari. Pagi dan malam menjalani isapan tabung oksigen, benar-benar membuat saya merasa baikan. 


Akhirnya Sabtu 18 Mei 2013, kami melanjutkan cuci mata ke Pantai Teluk Penyu, Benteng Pendem dan ngelunch di Purwokerto. Benar-benar menyenangkan, meski rencana menyebrang selat menuju pulau Nusakambangan batal, lantaran saya takut asmuni kumat lagi ditengah jalan. 

Beberapa foto di Pantai Teluk Penyu dan bergaya di Benteng Pendem, yang terkenal menyimpasn misteri dan rada angker. Saya yang baru sehat, hanya menunggu di pintu masuk kawasan wisata, sementara suami  dan Aryo segera menyelusuri obyek wisata tsb bersama para wisatan domestik lainnya. Letak Benteng Pendem tak jauh dari kliang minyak Pertamina, karena nampak tong-tong besar raksasa menjulang tinggi diperbatasan pagar benteng. 



Sebagai hiburan cukup memotret beberapa lokasi yang bisa terjangkau. Bergaya dan menikmati suasana di antara susahnya bernapas. 

Perjalanan berlanjut ke Purwokerto. Kota ini lebih ramai dibanding kota Cilacap, sepanjang jalan marak dengak umbul-umbul calon gubenur dan wakil nya untuk pemilihan Gubenur Jawa Tengah, selain umbul-umbul Kades.  

Tujuan utama adalah makan siang di sebuah
Cafe Oemah Daoen di Purwokerto. Menu yang kami pesan sederhana namun dalam penyajiannya sangat kreatif, seperti Mendoan digoreng dengan tepung ala crispy dan dihidangkan dengan sebotol kecap manis dan cabe rawit. Ada pula tumis buncis, dibaurkan dengan cacahan daging mirip sambel goreng tempe kering. rasanya kriuk gurih. Dua mug teh hangat sebagai pemula lunch membuat tubuh terasa hangat. Itu minuman pemula sebelum menyantap yang lainnya. Terutama sajian 'dessert' roti bakar ice cream tiga rasa (vanila, coklat & strawberry) Benar-benar tak mengecewakan kunjungan ke Purwokerto sekedar makan siang, walau kembali ke Cilacap rasa lapar kembali mendera. 


Berjalan-jalan melihat stasiun kereta api, gedung bioskop yang jauh dari megah namun lumayan untuk mengikuti perkembangan film-film yang tengah beredar di kota-kota besar Indonesia. itulah sedkit oleh-oleh cerita perjalanan enam kota dalam dua minggu. Senangnya kunjungan sebagai orang tua melihat anak pertamanya telah bekerja, semoga langkah kakaknya itu diikuti kedua adiknya yang masih dalam masa pendidikan. Sabtu malam, kami berdua meninggalkan kota Cilacap menuju Bogor, dan Alhamdulillah setelah menempuh jarak yang meliuk-liuk serta memabokan akhirnya tiba di rumah dengan selamat. Rasanya senang sekali bertemu bantal dan guling serta aroma kamar yang selama dua minggu ditinggalkan. Kembali ke rumah dengan selamat, menempuh perjalanan dengan lancar, serta berkumpul keluarga besar untuk menyambung tali silahturahmi adalah sebagian dari ibadah. Ini adalah bentuk karunia dariNya atas usia yang tersisa. Insya Allah bulan depan 'jalan-jalan' lagi ke pulau Sumatera.
Terima kasih pembaca yang sudah meluangkan waktu membaca tulisan blog ini. 


Salam :

arie rachmawati

Minggu, 28 April 2013

Ulang Tahun

Aku & Empat Lima
(45 Usiaku, 45 Semangatku)


Empat puluh lima tahun yang lalu, aku dilahirkan di dunia ini. Menurut cerita Mama, menjelang lahir Sabtu 27 April 1968, bebarengan dengan sebuah konser musik Dara Puspita di Lapangan Telangsari, Jember Jawa Timur. Kebetulan kedua orang tuaku sama-sma penyuka musik dan kesenian lainnya. Konser musik yang menampilkan para wanita kelas dewa pada jamannya jelas membuat decak kagum para muda-mudi saat itu. Kekaguman tiada tergantikan hingga masa kini. Konser baru dimulai, perut Mama sudah mules nggak karuan, kemudian dengan naik becak menuju Rumah Sakit Bersalin Margirahayu di daerah Pagah. Jarak tempuh termasuk lumayan, merasakan rasa sakit (pembukaan) diatas sebuah becak yang dikayuh oleh seseorang yang agak tua, membuat proses kelahiran saya kedunia semakin lancar, karena setibanya di rumah sakit tsb, kepalaku sudah mau menongol. Alhamdulillah lahirlah aku dengan proses normal, lahir sehat, normal dan lengkap melengkapi perananku sebagai anak perempuan pertama pasangan Mama Hj Ida Fatimah dengan Bapak Soetjipto dan sebagai adiknya mas Agus Supriadi (Hadhie) juga sebagai cucu perempuan pertama di keluarga besar H.Moh.Nawawi. Oewek...oewek tangis bayi memecah keheningan malam, menjelang pergantian waktu ke tanggal 28 April.


Itu cerita 45 tahun yang lalu, saat melengkapi jutaan manusia lainnya yang tersebar di bumi ini. Selanjutnya dalam memperingati hari ulang tahun, seingatku baru dirayain dengan mengundang teman/sahabat dan tetangga terdekat sebanyak dua kali yaitu saat ultah ke 10 tahun dan ke 15 tahun. Keluargaku bukan orang kaya raya, bukan juga miskin papah, jadi merayakan hari ulang tahun adalah peristiwa hebat dalam catatan hidupku. Iringan cerita menjelang ulang tahun selalu diawali dengan kondisi badan yang kurang sehat, biasanya kalau nggak sakit asma yang kumat, ya sering diserang malaria. Proses kelahiran waktu itu menurut cerita Bapak, untuk urusan ekonomi sangat memprihatinkan, walau kemudian setelah kesulitan itu ortu mendapat rejeki yang tak terduga hal tsb dianggap sebagai rahmat dari Allah SWT. Oleh sebab itu maka beliau menamaiku Arie Prihatini Rachmawati. 


2013
Arti sebuah nama, mungkin karena nama tengah itu 'Prihatini' membawa pengaruh kekesehatan diri. Hingga akhirnya nama tengah itu dihapus, tinggallah nama Arie Rachmawati saja. Toh tetap saja penyakit asma itu senantiasa menyapa diri. Mungkin selain faktor keturunan keluarga besar mbah H. Moh Nawawi, atau memang pengaruh pikiran, alergi atau sikon cuaca. Yang jelas 'asmuni'  (*asmaku muni/bunyi) nantinya akan hilang dengan sendirinya saat waktu perjalanan hidupku berakhir, karena itu salah satu pemberian dariNya sebagai ujian sakit, bukan beban.

Kembali ke soal perayaan ulang tahun. Setelah dua kali perayaan ultah itu berlalu tanpa harus ada perayaan lagi, biasanya hanya sekedar ngumpul bareng beberapa teman/sahabat. Dan setelah menikah malah nggak sama sekali ada waktu merayakan ultah, karena suamiku kebetulan bukan dididik yang selalu ingat ulang tahunnya. Keluarga mertua cuek bebek sangat berbeda dengan keluargaku, yang senantiasa memberi ucapan 's e l a m a t' bagi yang berulangtahun siapa pun dia, akhirnya menurun kepadaku dan anak-anak hingga kini. Bentuk ucapan adalah sebagian dari perhatian dan kasih sayang kepada ybs, menurutku juga adalah kepedulian sesama walau sekedar mengucapkan tanpa harus memberi kado. Terlebih empat tahun terakhir ini era facebook, ucapan H a p p y B i r t h d a y mengalir bak air pancuran, fenomena dumay lebih bombastis daripada dunia nyata. Ucapan itu bagiku itu hadiah, karena setiap ucapan baik adalah doa, dan setiap doa semoga Allah SWT mengabulkannya, Amin YRA. Semakin banyak yang berdoa, semakin baik.


Dua kali dalam dua tahun terakhir ini adalah moment bahagia bersama keluarga. Sebelum tepat usia 44 tahun, tahun kemarin, Aryo Rizky Putra (Ryo) anak mbarep dan Aryanto Rachmadi Putra (Ryan) anak tengah datang dari Yogyakarta dadakan disusul dengan Ardianto Ridho Putra (Edo) anak ragil dari Bandung, kebetulan memang jatah bapaknya anak-anak pulang ke Bogor. Tanpa diduga sore hari setelah magrib, ujuq-ujuq anak-anak masuk kamar, di saat aku lagi 'dung tedungan' alias tidur-tiduran menantikan adzan Isya'. Surprise tenan, mereka menggiringku ke ruang tengah dan ada sekotak kecil kue tart bertuliskan 'Happy Birthday Mamake' ha ha ha sebutan 'Mamake' biasanya Ryan yang suka memanggilku begitu. Senang dan nggak ngira mau dapat kue tart dari patungan uang jajan mereka. Pantesan dari tadi terdengar semacam obrolan seru mereka dan salah satu sahabatnya bernama Beno, kebetulan tanggal lahirnya sama denganku, dia turut meramaikan suasana yang berlaku saat itu.


Lalu, keesokan hari kami berlima, sekalian nge-lunch merayakan dengan makan-makan ke Botani Square. Tempat yang kami tuju adalah , menu yang tersedia sengaja dilipih yang bisa mewakili lima mulut, lima selera tentunya dalam satu sajian yang enak. Terpilihlah Dim Sum, Sapo Tahu Seafood, Gurame Asam Manis, nasi dan minuma sebagai pelengkap isi perut yang mulai keroncongan. Oya ada satu menu yang lupa disebut dan kebetulan lupa, seingatku cumi goreng crispy, pokoknya enak deh kriuk...kriuk rasanya. Wong sampai pesan seporsi lagi buat dibawa pulang. seusai acara makan siang itu, Edo si ragil pamit pulang ke bandung dengan bus umum MGI yang letak terminalnya nggak jauh dari Botani Square. Kemudian, malamnya suamiku kembali ke tempat bertugas dan kedua anakku kembali ke Yogyakarta, Sendiri lagi.



Kami memang banyak tidak satu atap, namun bukan alasan kami tidak berkomunikasi. Long Distance itulah pilihan hidup fase kini yang harus dijalani. Hal serupa terjadi lagi saat kemarin ulang tahun ke 45. Jauh hari aku membayangkan sulitnya berkumpul yang kebetulan saat ini anak mbarep Kak Yo sudah bekerja dan tinggal di Cilacap, adalah waktu yang sulit untuk pulang karena belum mendapatkan cuti. Jauh hari pun aku berdoa kepada-Nya mohon diberi waktu bersama lagi dengan mereka, ternyata doaku terjawab. Subhanallahu mereka ngumpul lagi seperti tahun kemarin, namun kini bersama jalan-jalan ke Jakarta. Tempat makan nggak harus di suatu tempat istimewa, mengingat ke Jakarta ada urusan penting jadi acara makan hanya mengikuti waktu yang berlangsung. Senangnya di mobil membawa bekal sarapan dan seperti piknik saja. Lengkap magicjar, piring, sendok, garpu dan lauk. seperti biasanya Mamake bertindak sebagai seksi konsumsi. Kali ini Ryan dan Edo bergantian dengan papanya, tahun ini anak-anak baru punya SIM A jadi sekarang papanya agak nyantai nyopirnya. Biarpun mereka telat, tetapi setidaknya kini papanya sudah memberi kepercayaan kepada mereka dan tak lagi dianggap anak kecil. Perjalanan berakhir di Bakmi GM jalan Sunda, belakang pertokoan Sarinah jalan MH.Thamrin. Ini salah satu doaku yang lampau ingin membawa anak-anak kesini Bakmi GM, lengkap personel dan Alhamdulillah terwujud.


Kenapa harus ke Bakmi GM? Cerita punya cerita, waktu itu Sabtu 9 Januari 2010 baru terbentuknya wadah kecil untuk fans Fariz RM yang pertama kalinya kami kopi darat dengan fans FRM disini saat merayakan ulang tahunnya sederhana hanya beberapa gelintir penggemarnya, namun dari situlah terbentuk cikal bakal Komunitas Fanstastic Fariz RM yang kini berperan sebagai wadah komunikasi antara fans dan idolanya. Menu dan harga disini terjangkau selain tuntutan perut yang mulai bernyanyi di dalam perut masing-masing.

QS Al Mulk
Intinya setiap usia yang bertambah sebenarnya adalah waktu yang berkurang. Mau nggak mau nantinya akan berpulang, sebelum berpulang marilah kita berintropeksi diri. Salah satu yang membuatku senang di ulang tahun 45 tahun ini, selain waktu bersama mereka adalah aku nggak punya hutang puasa jauh sebelum tiba pada tanggal kelahiranku, tepatnya bulan Maret kemarin semua terselesaikan. Biasanya jelang puasa Ramadhan aku masih disibukkan dengan membayar hutang puasa. Apa yang menjadi niat dan keinginanku untuk beribadah sebagian terwujud dengan mudahnya, antara lain kembali menekuni belajar membaca Al-Qur'an khususnya (sebagai hapalan surah). Keinginan menengok kedua ortu di Jember dalam tempo (7-8 bulan) bisa tiga kali, Subhanallahu tenan padahal dulu izin mudik sangatlah susah dan sikon waktu itu memang tidak memungkinkan. Sekarang Allah SWT telah banyak memudahkan keinginanku, semoga ini wujud dari doa temans. sahabat, ortu, keluarga (anak-anak dan suami) sebagai tanda keberkahan usia.

Inilah cerita ulang tahunku ke 45 tahun, serasa seusia 25 tahun saja. Usiaku empat lima, semangatku juga empat lima sepatriot pahlawan bangsa yang mengusir penjajahan jaman dulu. Tentu perananku berbeda, aku masih ingin cita-citaku yang lain terwujud antara lain menjadi penulis yang mempunyai buku sendiri, senantiasa menjadi manusia yang bermanfaat untuk sekitarnya. Kini doaku pun bertambah sesuai waktu bergulir, yaitu mendoakan anak-anak agar nantinya mendapat jodoh seorang muslimah yang sholeh yang kelak melahirkan anak-anak yang sholeh & sholeh. Yang penting senantiasa bersyukur dalam keadaan lapang dan sempit, dalam keadaan suka dan duka. jangan suka mengeluh, tapi perbanyaklah besyukur karena Allah SWT akan menambah nikmat itu, dan janganlah kau dustakan nikmat-Nya. Sekali lagi terima kasih buat yang sudah membaca tulisan ini, semoga tahun depan dan tahun berikutnya masih diberi usia yang panjang dan bermanfaat. Jumpa lagi dicerita berikutnya . . . 


Salam
Arie Rachmawati

Senin, 11 Maret 2013

G a m e r 2013


Rock Garden Deluxe 
Oleh : Arie Rachmawati


Rock Garden Deluxe, namanya keren padahal menurut saya setelah bermanin game tsb, ya mirip  dolanan dakon, jaman saya masih kecil. Hanya ini gaya online, gaya modern dengan bebatuan yang beraneka rupa warna dan motif juga bentuknya pada setiap levelnya, tentu penuh tantangan karena gamer dituntut menyelesaikan tugasnya sesuai waktu yang ditentukan dan adanya high score. Apabila para gamer melakukan misinya dengan baik, maka gamer akan memperoleh bintang, paling banyak lima bintang berwarna kuning. Dan bagi gamer yang belum menuntaskan levelnya tentu nggak bisa beranjak ke level berikutnya. Sepertinya gampang tapi nggak juga, tentunya bagi saya yang sejatinya pernah memiliki jiwa seorang gamer era playstasion (PS1-PS2). Dan tentunya kembali kedunia game diwaktu yang nggak sengaja ini seperti godaan iman ditengah rumitnya membagi waktu antara menyelesaikan kumpulan cerita dan beberapa garapan videoclip yang belum rampung. Okay simak cerita berikut dibawah ini temans.

Pertama nggak sengaja pas browsing di yahoo games nemu Rock Garden Deluxe, secara mengacak-acak dolanan dakon modern itu. Awalnya klak-klik gampang banget, maklumlah level pertama, terus berkelanjutan tanpa terasa hingga level ke 55 dalam kurun waktu dua jam lebih.
Wuiik...gila banget nih. Andai hari itu saya nggak kedatangan seorang sahabat dan putranya, mungkin seharian udah bisa tamat. Berhubung hari itu dia (Dian Anggari atau Bu Budi Susatyo dan si Dede Gaza) mengajak saya cuci mata ke mall dan makan-makan, saya tinggalkan sejenak game online itu. Kebetulan saya bukan tipe penasaran, namun menikmati hidup dalam setiap kesempatan yang berlaku saat itu. Waktunya main game ya main, waktunya umek-umek di dapur ya dilakukan, waktunya menulis cerpen ya menulis, apapun saya berusaha enjoy ora usah ngoyo.




Setibanya di rumah lagi, kebetulan hari itu saya sedang sendirian, jadi bermain game adalah hiburan mengasikkan tanpa ada gangguan. Ternyata level terakhir yang saya mainkan itu lupa disimpan, hadeeow...alamak!  Uuh sebeeeel, mangkel ya jelaslah, bagaimana pun juga sudah mencapai level 55 hilang percuma. Begh mulailah saya memainkan kembali dari awal permainan, menata hati yang sedikit kecewa akan kecerobohan sendiri. Antara level 1-10 bebatuan masih dominan satu warna, misal ungu. hijau. kuning dsb, warna standart. Setelah itu level berikutnya mulai menemukan beberapa warna semarak, sembur dan perpaduan warna dan motif yang menarik.


Ketika bermain game, saya nggak berpikiran mendapat 'bintang' yang penting segera maju ke level berikutnya dan tamat. Dan ternyata setelah menamatkan game tsb barulah saya menyadari saya mendapat 'lima bintang' justru di level sulit. Wow...speechless tenan,  itu sebuah kebetulan atau memang jiwa gamer kembali menguasai pikiran ini. 

Level demi level maju selangkah, sesekali break dikarenakan harus meneruskan aktivitas sehari-hari seperti sholat 5 waktu, makan, mencuci, menjemur pakaian dan tugas RT lainnya. Saya sudah jarang memasak karena anak-anak dan suami berada di kota yang berbeda dan mereka berkumpul dalam keadaan formasi yang kurang lengkap. Bukan masalah, ini fenomena hidup yang harus dijalani saat ini karena sebuah tugas dan cita-cita yang tengah digapai mereka. Bermain game secara online begini adalah pertama kalinya, saya suka bermain game biasa, seperti playstation dan game PC lainnya yang tidak menuntut akses internet. 
Kembali ke Rock Garden Deluxe, seperti tersebut diatas, ini permainan batu-batuan yang keren, bikin tangan saya semakin lincah memindahkan satu per satu bebatuan sesuai kelompoknya dengan tingkat kesulitan semakin rumit dan gairah yang menyala. Level 55 yang sempat terlalui tetapi lupa menyimpan akhirnya terlewati sudah. Level 55 ini malah hanya mendapatkan 'dua bintang'. Giliran level berkepala 6, 7 serru abiis dan nggak disangka justru di level 65 dan 79 saya mendapatkan 'empat bintang' semangat kian berapi dan setiap rintangan seperti kerikil kecil. hingga masuk level 100. Ampun deh ! No way, saya melaju kian melaju, selangkah demi selangkah ke seberang dan akhirnya menthoq dilevel 
113 menemukan kesulitan. Memeras otak. Harus menemukan jalan keluar, hingga beberapa kali diulang bukan untuk mendapatkan 'bintang' cuman atur starteginya kurang pas. Seperti menata sebuah perabot rumah tangga dengan ruang yang sempit, bagaimana tetap memberi kesan apik interior tetapi tetap bisa untuk akses wira-wiri dalam rumah tidak memberi kesan sempit, Namun ini game, meski bukan seperti itu misinya, namun saya saja yang pingin melakukan 2in1, selain bermain tetapi sekalian menata bebatuan biar apik. Hahaha....begitulah cara saya bermain game.
Plang, pling, plung, tarik sana-tarik sini, muter kemari - muter kesitu pindahin bebatuan telah melewati level tersulit, tapi tanda- tanda tamat belum kunjung tiba. Ternyata tanpa disadari usai level 113, dua level lagi saya telah menamatkan. Gilaaa...ajaib ajib ajib, saya memenangkan level 115 dengan 'lima bintang'.
Congratulation ! Horre....menjerit sendiri dihari berikutnya, jadi saya menamatkan game online Rock Garden Deluxe pada hari sabtu, 9 Maret 2013, berbarengan dengan suami datang dari dinas luar kota. Yes, mission completed ! Artinya saya kembali ke dunia nyata, umek-umek lagi di dapur, sekitar sumur dan kasur tentunya. 
Kini , setelah menamatkan 'dolanan dakon modern' itu saya belum menjamah game onlie lagi, atau sejenisnya, karena saya berencana bulan kedepan akan menyelesai beberapa draft videoclip  untuk mencapai dua tahun saya bergelut membuat klip ala window movie maker. Tak ada target harus berapa klip rampung, tetapi akan menuntaskan saja, Setelah itu ada rencana touring ke Jawa Timur dan Jawa Tengah. Saya senang dengan kehidupan ini, meski hanya ibu rumha tangga biasa, saya berusaha menjemput kebahagiaan yang saya ciptakan sendiri. Menikmati hidup, mensyukuri dengan kemampuan yang ada tetap belajar dan bermain ala saya sendiri dengan tawaran tehnologi canggih saya tetap ingin mengikuti perubahan, tetap dalam iman yang kuat dan tetap menjalani tugas sebagai ibu dan istri. 

Terima kasih buat pengunjung blog ini, hanya sekedar curahan pengalaman bermain yang mungkin belum sebanding para gamer sesungguhnya. Rock Garden Deluxe saya rekomendasikan buat mengusir penat, rasa sumpek daripada mendengarkan gosip atau nge-rumpies. Ogah ah ! mari kembali kerutinitas hidup. Semangat temans !



Salam,
Arie Rachmawati 

Kamis, 28 Februari 2013

S a h a b a t k u :

That's What Friends Are For
Oleh Arie Rachmawati 


Meneruskan tulisan lama (draf) ,yang tertunda lebih dari sepuluh tahun, seperti menemukan kembali sebuah kotak pandora yang telah lama hilang.

Tulisan ini terinspirasi oleh lagu pada era 80'an dengan judul That's What Friends Are For yang dipopulerkan oleh Dionne Warwick & Friends. Namun yang saya simak kali ini adalah sebuah instrumentalia yang di arransemen ulang oleh gitaris Max Ridgway (Oklahoma) bersama grup band nya. Dan dikirimkan berupa file mp3 lewat email kepada saya.


Menurut saya lagu itu bercerita tentang arti persabahatan yang tak tergerus waktu. Mungkin kehadirannya bisa menjadi persahabatan lintas benua / negara, dikarenakan sama - sama menyukai musik. Musik adalah bahasa universal. Bahkan ia juga banyak bertanya tentang agama Islam.


Obrolan demi obrolan terjalin lewat email dan saya pernah bercerita tentang lagu itu di kala remaja hingga kini tentang arti persahabatan. Dan saya mempunyai sahabat yang tengah sakit keras dalam perawatan di rumah sakit. Berasa sedih dan prihatin, bahkan timbul ketakutan akan kehilangannys. Sahabat saya itu mbak Elizabeth Ari Purwandari, teman sekomunitas di KFFRM.



Ternyata gitaris itu juga mempunyai kisah yang nyaris sama, bahkan telah meninggal dunia. Terinspirasi itu ia menulis dan mencipta lagu instrumentalia berjudul "I Close My Eyes by Max Ridgway.

Setiap teman belum tentu ia seorang sahabat, namun seorang sahabat pastilah ia teman. Sahabat bisa juga salah satu dari anggota keluarga kita. Peranan seorang sahabat sangat penting selain tempat curahan hati segala macam persoalan. Ia bukan saja mendukung tetapi juga bisa mengkritik kita yang kadang menimbulkan debat. Perdebatan yang sehat, bukan perdebatan yang melahirkan permusuhan. Itulah bentuk kasih sayangnya kepada kita, dan kita sebaliknya kepadanya. Take and give., ada waktunya kita memberi dan ada waktunya kita menerima. 

Ketika seseorang menjadi sahabat adalah sebuah perjalanan yang sangat panjang, melalui rentang waktu, menyeberangi lautan hati hingga menemukan tempat yang nyaman dalam berbagai topik cerita kehidupan manusia. Oleh karena itu saya termasuk pemilih dan selektif meski terkesan semua teman itu saya rangkul seraya berkata, "you are welcome". 

Lepas dari cerita diatas yang mendasari tulisan ini, saya menemukan banyak kata - kata bijak sebagai pembuka hati dalam menilai sebuah persahabatan.
Beberapa kutipan dari buku Primakata (Mutiara Cerdik Cendikia) yang seputar persahabatan, sebagai berikut :

Seorang teman sejati akan membuat Anda hangat dengan kehadiirannya, mempercayai Anda akan rahasianya dan mengingat Anda dalam doa-doanya.

Jika Anda bertemu dengan seseorang tanpa senyuman, berikanlah sebuah senyuman anda untuknya.

Senyuman merupakan sistem pencahayaan diwajah dan sistem penghangatan dihati.

Senyuman merupakan satu-satunya hal yang bisa Anda gunakan dan tidak pernah ketinggalan zaman.

Senyum tidak hanya akan menampilkan wajah yang cerah, namun juga menghangatkan jiwa.

Sebuah senyuman merupakan bahasa diplomasi yang ajaib, bahkan bayi-pun mengerti.

Persahabatan seperti pernikahan, sangat tergantung pada kemampuan menghindari diri dari hal-hal yang tidak termaafkan.

Kekuatan kuda, dites dengan jarak jauh. Ketulusan hati, diuji dengan pergaulan yang lama.

Orang yang bijaksana selalu melengkapi kehidupannya dengan banyak persahabatan.

Orang yang baik hati adalah mereka yang mau memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain.


Beberapa kata mutiara itu sangat inspiratif mampu memberi energi positif. Dengan hadirnya seorang sahabat, berasa saling menukar energi positif sehingga kita akan menjadi bersemangat juga riang gembira. Di masa kekinian  hubungan persahabatan lebih  melebar dengan melibatkan keluarga masing-masing yaitu pasangan hidup dan anak - anak kita.

Tak perlu kita berbuat sesuatu agar semua orang menyukai kita, tetaplah positif thinking dan aktif menebarkan kebaikkan. Insya Allah persahabatan akan berlangsung lama.


Terima Kasih

That's What Friends Are For by Max Ridgway Trio (rie)

Rabu, 23 Januari 2013

Kado Untuk Sang Maestro



Bukan rahasia lagi tanggal ulang tahun Sang Maestro Fariz RM, tahun ini jatuh hari Sabtu, 5 Januari 2013. Sebuah Pentas di Bandung baru saja usia ditampilkan bersama Anthology-nya dan Guest Star adalah  Jubing Kristianto, featuring Helga Sedli (Hungaria, violin) dan MC adalah Ananda Buddhisuharto. Fariz RM menggandeng Anthology beranggota sebagai berikut : Eddy Syakroni (drum), Adi Dharmawan (bass), Iwan Miradz (percussion), Michael Alexander (guitar), Helga Sedli (violin) dan Yolla Bella Vie (backing vocal).
Ingin hati saat pentas tsb, kami sebagai penggemar dalam wadah KFFRM (Komunitas Fantastic Fariz RM) bisa memberikan sebuah kado hasil sumbangsih beberapa fans-nya yang dikumpulkan jauh-jauh hari. Namun sayang keinginan tsb tidak bisa terwujud dikarenakan angka yang dituju seharga 'Kado' itu belum terkumpul. Dalam wadah KFFRM, kami seperti keluarga besar yang saling membahu bukan perseorangan yang menonjolkan kemampuan masing-masing.

Ide memberi kado tsb untuk beliau bukan dari saya, melainkan dari obrolan dengan mbak Oneng Diana Riyadini sebagai istri mas Fariz RM, karena saya bertindak sebagai koordinator KFFRM atau Ibunya para fans Fariz RM itu tentunya sayalah yang maju memberitahukan perihal tsb kepada mereka. Kadonya berupa alat musik keyteng, seperti ciri khas seorang Fariz RM pada waktu yang lampau. Obrolan melalui inbox facebook sebagai wadah komunikasi dengan mereka. Dari sekian anggota KFFRM, saya hanya menandai nama temans untuk diajak diskusi masalah kado. Dari temans itu hanya beberapa teman yang peduli maka bergulirlah sumbangan dari mereka melalui rekening saya, dan seperti biasanya secara transparan saya tuturkan uang masuk/uang yang saya terima.

Penggalangan dana sumbangan sempat terhenti dikarena saya sakit dan mulai malas meng-blow-up kembali ke temans yang lain. Sepertinya gampang tinggal inbox dan mereka mentrasfer. Nyatanya tidak semudah itu, apa pun yang namanya uang sangatlah rawan dan maraknya penipuan yang banyak terjadi saat ini baik melalui SMS, surel atau facebook. Satu kepercayaan yang saya jaga sejak saya mendapat kepercayaan mereka dan banyak orang, adalah janganlah berbuat curang atau mencoreng kepercayaan itu sendiri. Setiap tindakan seperti diatas, saya berusaha mencontohkan bahwa saya pun harus ikut berpartisipasi bukan hanya berani sekedar cuap-cuap, menghimbau tetapi tidak turun tangan. Alhamdulillah walau sempat tersendat, akhirnya pengumpulan dana pun mencapai nilai yang sesuai harga 'kado' itu. Pucuk dicinta ulam tiba, kekurangan dana segera ditutup oleh sahabat sang maestro yang bergabung dalam Symphony Album Metal. Lega rasanya. urusan keuangan pun beres.



Ini bukan KX-5 tetapi Rolland AX-Synth ZZ60114 dan dapat alatya ini justru diperoleh dari toko musik 'Java Music Shop" di Jember-Jawa Timur, milik mas Antonius Gunawan Wibisono yang kebetulan beliau anggota dari KFFRM juga. Uniknya lagi si penjual barang mengantarkan alatnya sendiri, yang kebetulan waktu itu ada keperluan ke Jakarta dan Bandung dengan mobil pribadinya. Semuanya diberi kemudahan dari-Nya.

Cerita kado yang sampai di rumah saya pada hari Sabtu 12 Januari 2013 dan baru bisa saya antarkan ke rumah mas Fariz RM pada hari Selasa 22 Januari 2013 bersama sahabat bernama Ari Purwandari. Dia dari Pondok Gede menuju Bogor, dan dari Bogor meluncur ke Bintaro 3 (jalan Camar). Ditengah gerimis lembut yang berubah menjadi hujan deras, kami membawa kado yang panjang sangatlah riskan, karena waktu itu Jakarta baru pasca banjir dan sekali lagi berucap syukur Alhamdulillah semua berjalan lancar dan niat para penggemar pun kesampaian.


Mereka yang ikut partisipasi antara lain : Ari Purwandari - Arie Rachmawati - Adwi Hastuti - Adi Purw - Bekti Nuswantoro - Anang Arief - Afrida Herawati - Eko Hariyatno - Ninik Dyah - Winny Adriani - Si Jack - Inneke Tri Sulistyowaty - Aleyka - Laksmi - BarBerBor - Imam Santoso - Ristiono - Wahyu Widyawati - Yulis Misbach - Awalludin Abdussalam - Andy Rustam & Keluarga - Donny Aha - Suyadi - Ari Prambudi - Nila Ratna dan Tony Wenas (NB : susunan sesuai urutan pengirim dana yang masuk). Terima kasih atas segala perhatian dan cinta kasih sayang para teman/sahabat yang meluangkan waktu dan menyisihkan banyak rejekinya untuk terwujudnya sebuah 'Kado Untuk Sang Maestro'. Jazakumullahu khairan katsiro. 

Semoga kado tersebut bermanfaat untuk perfoming mas Fariz RM berikutnya pada pentas-pentas musik dan membawa semangat baru diusianya yang ke 54 ini. Buat temans yang bergabung di KFFRM, semoga semakin memupuk kekeluargaan, kompersa dan salam fantastic. Terima kasih buat pembaca yang sudah mampir dan membaca tulisan ini.


Salam,
arie rachmawati

Rabu, 14 November 2012

My Journey Two Weeks (4)

Episode "Dandelion dalam Rindu"

oleh Arie Rie Rachmawati pada 14 November 2012 pukul 9:22 ·


Achmad Basuki - Syira - Arie Rachmawati

Rabu, 14 -11-2012
Tanggal hari ini seperti sebulan yang lalu, saat saya berencana ingin menemui tokoh-tokoh yang telah menginspirasikan saya menulis cerita pendek berjudul, "Dandelion dalam Rindu," yang telah dimuat di majalah (remaja) STORY pada edisi 22, terbitan 24 Mei-25Juni 2011 lalu. Mereka itu adalah, bapak Basuki (Achmad Basuki/Ki Suki), mbak Widya dan adik Syira.   Unik hal ini terjadi karena saya membaca obrolan (thread) kolom komentar di wall Ki Suki.

Waktu itu beliau sedang menyelesaikan study-nya di Universitas Saga-Japan, sekitar 4 tahun lamanya. Disitulah inspirasi itu muncul. Kami sama-sama suka bunga Dandelion. Saya malah tahu hal tsb karena memang saya nggak tahu nama bunga tsb. Lalu kami berdua berlatih 'graffiti' salah satu aplikasi di facebook yang membuat saya rajin belajar. Achmad Basuki itu teman semasa sekolah menengah pertama di Jember, teman kelas sebelah. Dia sekelas dengan Nanang Keceng (baca : di My Journey Two Weeks "Episode Tertular Virus) dan Fransiscus Ario Praseno teman bermain musik (jadul). 

Jumpa pertama dengan Ki Suki, di Stasiun Gubeng. saya yang ditemani sohib sekelasnya dari kelas 3B, si Nanang Keceng (NK)
 mungkin ini semacam reuni dadakan di stasiun pula. Usai berfoto-ria, si NK pamitan akan meneruskan perjalanan menjumpai teman yang lain, saya diajak jalan-jalan di teriknya yang panas Sorbeje (baca :Surabaya). Ki Suki mengenalkan semua anggota keluarganya, saya sangat menunggu bisa bertemu dengan Dik Syira yang membuat saya jatuh hati dengan barisan poni dan pipi chubby nya (dulu masih usia 2 tahun), kini berusia 6 tahun. Dik Syira agak kurusan dan mulai tinggi badannya (masa pertumbuhan). Laki-laki berkaca mata minus tebal ini sangat humoris, memiliki keluarga yang familiar meski saya sebelumnya semuanya. Namun secara perkenalan suara lewat udara (baca : interlokal) beberapa tahun yang lalu, berlanjut ke jumpa darat maka lengkaplah pertemuan siang itu dengan menikmati sajian dari Rumah Makan SAS di Surabaya. 

Soal menu saya ngikut  aja, bukan karena makanan tetapi karena kebersamaannya itu yang mahal dan sangat istimewa. Di tengah obrolan saya meminta Ki Suki (Achmad Basuki) mau berfoto dengan memamerkan postingan cerpen yang termuat di majalah STORY itu. "Matursakalangkong nggih Bas," ucap dalam batin .  Jujur ada rasa haru menyeruak, meki itu hanya fiksi namun saya benar-benar merasakan kedekatan antara bapak dan kedua putrinyaCerita pendek berjudul,"Dandelion dalam Rindu," itu adalah cerita remaja yang berkisah tentang kecemburuan sang kakak kepada adiknya. Dimana seorang bapak tampil sebagi single parent, mencoba menyelami hati putri pertama nya yang tengah remaja dan merasa kepergian Mamanya dikarenakan kelahiran adiknya itu. Sang kakak menemukan teman chatting yang membawa keperubahan karena sama-sama menyukai bunga Dandelion. Bunga rumput kering yang sering dianggap remeh karena liar tak terurus namun sebenarnya sangat indah. Bunga dandelion dan bunga Chrysanthum adalah dua bunga yang membuat saya jatuh cinta.

Duh, perasaan jatuh cinta melulu. Memang jatuh cinta itu indah dan membuat semangat hidup seperti warna pelangi cerah dan ceria. Bagi saya pribadi jatuh cinta pada satu keluarga mereka adalah anugrah, karena saya nggak mengenal sebelumnya. Menu makanan kini tersaji di meja makan. Saya lupa nama menu saya dan menu mereka, yang ada dipikiran saya adalah rasa senang, karena saya mendapatkan beberapa kartu pos yang pernah dijanjikan oleh Ki Suki sewaktu masih di saga, namun keterbatasan waktu hingga Ki Suki kembali ke Indonesia tepatnya di Surabaya. Kini Ki Suki menjalani profesinya menjadi seorang dosen politeknik elektro - ITS. Teman belia saya itu hebat, selain menciptakan mesin pembuat puisi, juga mengajar fotografi bahkan menawari saya sebuah impian yang pernah saya cita-citakan. semoga niat dan semuanya mendapat ridhonya. Berita bahagia itu, sangat special hingga saya hanya berucap syukur dari relung bathin.

  

Setelah menikmati makanan siang dengan nikmat, saya bersama ibu Basuki juga anak-anak menjalankan sholat Dzuhur. Ada yang aneh, air wudhunya terasa asin sekali. Pertama saya pikir lidah saya yang aneh, ternyata dibenarkan oleh beliau. Disela kami akan meninggalkan rumah makan itu, saya mendapat telephon dari saudara sepupu bernama Denny Kastrianto. Kebetulan secara pertemanan di facebook, antara Ki Suki dan Denny sudah akrab melalui beberapa komentar, pertautan kata secara alam maya itu lebih dahsyat karena keduanya menyukai puisi dan foto.

Keinginan untuk bergabung yang bermula ditunggu di rumah makan, hingga acara selaesai tetapi belum juga menongol akhirnya beralih lokasi ke halaman rektorat kampus ITS.        
  Waduuhh, malah lebih parah dari yang pertama pertemuan di Stasiun Gubeng. Ya begini adanya saling menyempatkan waktu untuk saling menjaga ukhuwah pertelian silaturahmi. Antara saya dengan Denny pun terakhir bertemu sekitar enam tahun lalu, saat mereka mampir di rumah kontrakan saya di Bogor. waktu itu saya baru pindah ke Bogor. Di halaman (tempt Ki Suki hunting gambar) kami saling memperkenalkan diri, antara ibu Basuki dengan Dina istri Denny, yang kebetulan membawa putri sulungnya bernama Naning. Obrolan sambil berpotret dan berdiri ala kadarnya, tak berlangsung lama karena saya harus bergegas menuju stasiun Gubeng lagi. Di ujung perpisahan yang nggak layak kami mengakhiri dengan peluk kehangatan, Kali ini saya diantar Denny sekeluarga menuju stasiun dimana Nanang Keceng sudah menunggu saya untuk melanjutkan perjalanan kebmali ke Jember.

14-10-2012/14-11-2012,
Saya baru menuntaskan tulisan ini. Sebulan tanpa terasa berlalu. Serasa saya ingin menikmati saat itu, ya perjalanan Surabaya-Jember (PP) dan semua canda tawa bersama keluarga Ki Suki dan Keluarga Denny, semoga kedepannya Allah SWT memberi izin kembali untuk mengulang kisah indah. My Journey Two Weeks Episode "Dandelion dalam Rindu", ini saya akhiri. Untuk temans yang ingin membaca cerpen saya itu bisa dibongkar blog saya http://rachmarie-riritemaram.blogspot.com atau di kumpulan note facebook  ini, atau juga tunggu kumcer saya terbit dimana "Dandelion dalam Rindu" tsb terpilih sebagai cerpen utama. Cihuuuuyy....!!!

Sekali lagi terima kasih tak terhingga buat Ki Suki dengan keluarga atas jamuannya dan kartu posnya,
buat Denny sekeluarga yang repot-repot menemui saya (tretan dhibik) dan mengantarkan ke stasuin Gubeng dan
buat Nanang Keceng yang menemani perjalanan dan menuturkan kisah indah. Jazakumullahu khairan taksiro.

NB : Mohon maaf buat teman - teman lainn yang belum sempat saya kunjungi karena keterbatasan waktu dan jadwal perjalanan saya,
terima kasih atas pengertiannya. 

Selamat 1 Muharram 1434 H
Selamat Tahun Baru Islam, semoga kita sebagai kaum muslim bisa menjaga ukhuwah ini hingga akhir jaman.



Salam,
Arie Rachmawati
Bogor, 141112 / 9:09 AM