Senin, 11 Maret 2013

G a m e r 2013


Rock Garden Deluxe 
Oleh : Arie Rachmawati


Rock Garden Deluxe, namanya keren padahal menurut saya setelah bermanin game tsb, ya mirip  dolanan dakon, jaman saya masih kecil. Hanya ini gaya online, gaya modern dengan bebatuan yang beraneka rupa warna dan motif juga bentuknya pada setiap levelnya, tentu penuh tantangan karena gamer dituntut menyelesaikan tugasnya sesuai waktu yang ditentukan dan adanya high score. Apabila para gamer melakukan misinya dengan baik, maka gamer akan memperoleh bintang, paling banyak lima bintang berwarna kuning. Dan bagi gamer yang belum menuntaskan levelnya tentu nggak bisa beranjak ke level berikutnya. Sepertinya gampang tapi nggak juga, tentunya bagi saya yang sejatinya pernah memiliki jiwa seorang gamer era playstasion (PS1-PS2). Dan tentunya kembali kedunia game diwaktu yang nggak sengaja ini seperti godaan iman ditengah rumitnya membagi waktu antara menyelesaikan kumpulan cerita dan beberapa garapan videoclip yang belum rampung. Okay simak cerita berikut dibawah ini temans.

Pertama nggak sengaja pas browsing di yahoo games nemu Rock Garden Deluxe, secara mengacak-acak dolanan dakon modern itu. Awalnya klak-klik gampang banget, maklumlah level pertama, terus berkelanjutan tanpa terasa hingga level ke 55 dalam kurun waktu dua jam lebih.
Wuiik...gila banget nih. Andai hari itu saya nggak kedatangan seorang sahabat dan putranya, mungkin seharian udah bisa tamat. Berhubung hari itu dia (Dian Anggari atau Bu Budi Susatyo dan si Dede Gaza) mengajak saya cuci mata ke mall dan makan-makan, saya tinggalkan sejenak game online itu. Kebetulan saya bukan tipe penasaran, namun menikmati hidup dalam setiap kesempatan yang berlaku saat itu. Waktunya main game ya main, waktunya umek-umek di dapur ya dilakukan, waktunya menulis cerpen ya menulis, apapun saya berusaha enjoy ora usah ngoyo.




Setibanya di rumah lagi, kebetulan hari itu saya sedang sendirian, jadi bermain game adalah hiburan mengasikkan tanpa ada gangguan. Ternyata level terakhir yang saya mainkan itu lupa disimpan, hadeeow...alamak!  Uuh sebeeeel, mangkel ya jelaslah, bagaimana pun juga sudah mencapai level 55 hilang percuma. Begh mulailah saya memainkan kembali dari awal permainan, menata hati yang sedikit kecewa akan kecerobohan sendiri. Antara level 1-10 bebatuan masih dominan satu warna, misal ungu. hijau. kuning dsb, warna standart. Setelah itu level berikutnya mulai menemukan beberapa warna semarak, sembur dan perpaduan warna dan motif yang menarik.


Ketika bermain game, saya nggak berpikiran mendapat 'bintang' yang penting segera maju ke level berikutnya dan tamat. Dan ternyata setelah menamatkan game tsb barulah saya menyadari saya mendapat 'lima bintang' justru di level sulit. Wow...speechless tenan,  itu sebuah kebetulan atau memang jiwa gamer kembali menguasai pikiran ini. 

Level demi level maju selangkah, sesekali break dikarenakan harus meneruskan aktivitas sehari-hari seperti sholat 5 waktu, makan, mencuci, menjemur pakaian dan tugas RT lainnya. Saya sudah jarang memasak karena anak-anak dan suami berada di kota yang berbeda dan mereka berkumpul dalam keadaan formasi yang kurang lengkap. Bukan masalah, ini fenomena hidup yang harus dijalani saat ini karena sebuah tugas dan cita-cita yang tengah digapai mereka. Bermain game secara online begini adalah pertama kalinya, saya suka bermain game biasa, seperti playstation dan game PC lainnya yang tidak menuntut akses internet. 
Kembali ke Rock Garden Deluxe, seperti tersebut diatas, ini permainan batu-batuan yang keren, bikin tangan saya semakin lincah memindahkan satu per satu bebatuan sesuai kelompoknya dengan tingkat kesulitan semakin rumit dan gairah yang menyala. Level 55 yang sempat terlalui tetapi lupa menyimpan akhirnya terlewati sudah. Level 55 ini malah hanya mendapatkan 'dua bintang'. Giliran level berkepala 6, 7 serru abiis dan nggak disangka justru di level 65 dan 79 saya mendapatkan 'empat bintang' semangat kian berapi dan setiap rintangan seperti kerikil kecil. hingga masuk level 100. Ampun deh ! No way, saya melaju kian melaju, selangkah demi selangkah ke seberang dan akhirnya menthoq dilevel 
113 menemukan kesulitan. Memeras otak. Harus menemukan jalan keluar, hingga beberapa kali diulang bukan untuk mendapatkan 'bintang' cuman atur starteginya kurang pas. Seperti menata sebuah perabot rumah tangga dengan ruang yang sempit, bagaimana tetap memberi kesan apik interior tetapi tetap bisa untuk akses wira-wiri dalam rumah tidak memberi kesan sempit, Namun ini game, meski bukan seperti itu misinya, namun saya saja yang pingin melakukan 2in1, selain bermain tetapi sekalian menata bebatuan biar apik. Hahaha....begitulah cara saya bermain game.
Plang, pling, plung, tarik sana-tarik sini, muter kemari - muter kesitu pindahin bebatuan telah melewati level tersulit, tapi tanda- tanda tamat belum kunjung tiba. Ternyata tanpa disadari usai level 113, dua level lagi saya telah menamatkan. Gilaaa...ajaib ajib ajib, saya memenangkan level 115 dengan 'lima bintang'.
Congratulation ! Horre....menjerit sendiri dihari berikutnya, jadi saya menamatkan game online Rock Garden Deluxe pada hari sabtu, 9 Maret 2013, berbarengan dengan suami datang dari dinas luar kota. Yes, mission completed ! Artinya saya kembali ke dunia nyata, umek-umek lagi di dapur, sekitar sumur dan kasur tentunya. 
Kini , setelah menamatkan 'dolanan dakon modern' itu saya belum menjamah game onlie lagi, atau sejenisnya, karena saya berencana bulan kedepan akan menyelesai beberapa draft videoclip  untuk mencapai dua tahun saya bergelut membuat klip ala window movie maker. Tak ada target harus berapa klip rampung, tetapi akan menuntaskan saja, Setelah itu ada rencana touring ke Jawa Timur dan Jawa Tengah. Saya senang dengan kehidupan ini, meski hanya ibu rumha tangga biasa, saya berusaha menjemput kebahagiaan yang saya ciptakan sendiri. Menikmati hidup, mensyukuri dengan kemampuan yang ada tetap belajar dan bermain ala saya sendiri dengan tawaran tehnologi canggih saya tetap ingin mengikuti perubahan, tetap dalam iman yang kuat dan tetap menjalani tugas sebagai ibu dan istri. 

Terima kasih buat pengunjung blog ini, hanya sekedar curahan pengalaman bermain yang mungkin belum sebanding para gamer sesungguhnya. Rock Garden Deluxe saya rekomendasikan buat mengusir penat, rasa sumpek daripada mendengarkan gosip atau nge-rumpies. Ogah ah ! mari kembali kerutinitas hidup. Semangat temans !



Salam,
Arie Rachmawati 

Kamis, 28 Februari 2013

S a h a b a t k u :

That's What Friends Are For
Oleh Arie Rachmawati 


Meneruskan tulisan lama (draf) ,yang tertunda lebih dari sepuluh tahun, seperti menemukan kembali sebuah kotak pandora yang telah lama hilang.

Tulisan ini terinspirasi oleh lagu pada era 80'an dengan judul That's What Friends Are For yang dipopulerkan oleh Dionne Warwick & Friends. Namun yang saya simak kali ini adalah sebuah instrumentalia yang di arransemen ulang oleh gitaris Max Ridgway (Oklahoma) bersama grup band nya. Dan dikirimkan berupa file mp3 lewat email kepada saya.


Menurut saya lagu itu bercerita tentang arti persabahatan yang tak tergerus waktu. Mungkin kehadirannya bisa menjadi persahabatan lintas benua / negara, dikarenakan sama - sama menyukai musik. Musik adalah bahasa universal. Bahkan ia juga banyak bertanya tentang agama Islam.


Obrolan demi obrolan terjalin lewat email dan saya pernah bercerita tentang lagu itu di kala remaja hingga kini tentang arti persahabatan. Dan saya mempunyai sahabat yang tengah sakit keras dalam perawatan di rumah sakit. Berasa sedih dan prihatin, bahkan timbul ketakutan akan kehilangannys. Sahabat saya itu mbak Elizabeth Ari Purwandari, teman sekomunitas di KFFRM.



Ternyata gitaris itu juga mempunyai kisah yang nyaris sama, bahkan telah meninggal dunia. Terinspirasi itu ia menulis dan mencipta lagu instrumentalia berjudul "I Close My Eyes by Max Ridgway.

Setiap teman belum tentu ia seorang sahabat, namun seorang sahabat pastilah ia teman. Sahabat bisa juga salah satu dari anggota keluarga kita. Peranan seorang sahabat sangat penting selain tempat curahan hati segala macam persoalan. Ia bukan saja mendukung tetapi juga bisa mengkritik kita yang kadang menimbulkan debat. Perdebatan yang sehat, bukan perdebatan yang melahirkan permusuhan. Itulah bentuk kasih sayangnya kepada kita, dan kita sebaliknya kepadanya. Take and give., ada waktunya kita memberi dan ada waktunya kita menerima. 

Ketika seseorang menjadi sahabat adalah sebuah perjalanan yang sangat panjang, melalui rentang waktu, menyeberangi lautan hati hingga menemukan tempat yang nyaman dalam berbagai topik cerita kehidupan manusia. Oleh karena itu saya termasuk pemilih dan selektif meski terkesan semua teman itu saya rangkul seraya berkata, "you are welcome". 

Lepas dari cerita diatas yang mendasari tulisan ini, saya menemukan banyak kata - kata bijak sebagai pembuka hati dalam menilai sebuah persahabatan.
Beberapa kutipan dari buku Primakata (Mutiara Cerdik Cendikia) yang seputar persahabatan, sebagai berikut :

Seorang teman sejati akan membuat Anda hangat dengan kehadiirannya, mempercayai Anda akan rahasianya dan mengingat Anda dalam doa-doanya.

Jika Anda bertemu dengan seseorang tanpa senyuman, berikanlah sebuah senyuman anda untuknya.

Senyuman merupakan sistem pencahayaan diwajah dan sistem penghangatan dihati.

Senyuman merupakan satu-satunya hal yang bisa Anda gunakan dan tidak pernah ketinggalan zaman.

Senyum tidak hanya akan menampilkan wajah yang cerah, namun juga menghangatkan jiwa.

Sebuah senyuman merupakan bahasa diplomasi yang ajaib, bahkan bayi-pun mengerti.

Persahabatan seperti pernikahan, sangat tergantung pada kemampuan menghindari diri dari hal-hal yang tidak termaafkan.

Kekuatan kuda, dites dengan jarak jauh. Ketulusan hati, diuji dengan pergaulan yang lama.

Orang yang bijaksana selalu melengkapi kehidupannya dengan banyak persahabatan.

Orang yang baik hati adalah mereka yang mau memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain.


Beberapa kata mutiara itu sangat inspiratif mampu memberi energi positif. Dengan hadirnya seorang sahabat, berasa saling menukar energi positif sehingga kita akan menjadi bersemangat juga riang gembira. Di masa kekinian  hubungan persahabatan lebih  melebar dengan melibatkan keluarga masing-masing yaitu pasangan hidup dan anak - anak kita.

Tak perlu kita berbuat sesuatu agar semua orang menyukai kita, tetaplah positif thinking dan aktif menebarkan kebaikkan. Insya Allah persahabatan akan berlangsung lama.


Terima Kasih

That's What Friends Are For by Max Ridgway Trio (rie)

Rabu, 23 Januari 2013

Kado Untuk Sang Maestro



Bukan rahasia lagi tanggal ulang tahun Sang Maestro Fariz RM, tahun ini jatuh hari Sabtu, 5 Januari 2013. Sebuah Pentas di Bandung baru saja usia ditampilkan bersama Anthology-nya dan Guest Star adalah  Jubing Kristianto, featuring Helga Sedli (Hungaria, violin) dan MC adalah Ananda Buddhisuharto. Fariz RM menggandeng Anthology beranggota sebagai berikut : Eddy Syakroni (drum), Adi Dharmawan (bass), Iwan Miradz (percussion), Michael Alexander (guitar), Helga Sedli (violin) dan Yolla Bella Vie (backing vocal).
Ingin hati saat pentas tsb, kami sebagai penggemar dalam wadah KFFRM (Komunitas Fantastic Fariz RM) bisa memberikan sebuah kado hasil sumbangsih beberapa fans-nya yang dikumpulkan jauh-jauh hari. Namun sayang keinginan tsb tidak bisa terwujud dikarenakan angka yang dituju seharga 'Kado' itu belum terkumpul. Dalam wadah KFFRM, kami seperti keluarga besar yang saling membahu bukan perseorangan yang menonjolkan kemampuan masing-masing.

Ide memberi kado tsb untuk beliau bukan dari saya, melainkan dari obrolan dengan mbak Oneng Diana Riyadini sebagai istri mas Fariz RM, karena saya bertindak sebagai koordinator KFFRM atau Ibunya para fans Fariz RM itu tentunya sayalah yang maju memberitahukan perihal tsb kepada mereka. Kadonya berupa alat musik keyteng, seperti ciri khas seorang Fariz RM pada waktu yang lampau. Obrolan melalui inbox facebook sebagai wadah komunikasi dengan mereka. Dari sekian anggota KFFRM, saya hanya menandai nama temans untuk diajak diskusi masalah kado. Dari temans itu hanya beberapa teman yang peduli maka bergulirlah sumbangan dari mereka melalui rekening saya, dan seperti biasanya secara transparan saya tuturkan uang masuk/uang yang saya terima.

Penggalangan dana sumbangan sempat terhenti dikarena saya sakit dan mulai malas meng-blow-up kembali ke temans yang lain. Sepertinya gampang tinggal inbox dan mereka mentrasfer. Nyatanya tidak semudah itu, apa pun yang namanya uang sangatlah rawan dan maraknya penipuan yang banyak terjadi saat ini baik melalui SMS, surel atau facebook. Satu kepercayaan yang saya jaga sejak saya mendapat kepercayaan mereka dan banyak orang, adalah janganlah berbuat curang atau mencoreng kepercayaan itu sendiri. Setiap tindakan seperti diatas, saya berusaha mencontohkan bahwa saya pun harus ikut berpartisipasi bukan hanya berani sekedar cuap-cuap, menghimbau tetapi tidak turun tangan. Alhamdulillah walau sempat tersendat, akhirnya pengumpulan dana pun mencapai nilai yang sesuai harga 'kado' itu. Pucuk dicinta ulam tiba, kekurangan dana segera ditutup oleh sahabat sang maestro yang bergabung dalam Symphony Album Metal. Lega rasanya. urusan keuangan pun beres.



Ini bukan KX-5 tetapi Rolland AX-Synth ZZ60114 dan dapat alatya ini justru diperoleh dari toko musik 'Java Music Shop" di Jember-Jawa Timur, milik mas Antonius Gunawan Wibisono yang kebetulan beliau anggota dari KFFRM juga. Uniknya lagi si penjual barang mengantarkan alatnya sendiri, yang kebetulan waktu itu ada keperluan ke Jakarta dan Bandung dengan mobil pribadinya. Semuanya diberi kemudahan dari-Nya.

Cerita kado yang sampai di rumah saya pada hari Sabtu 12 Januari 2013 dan baru bisa saya antarkan ke rumah mas Fariz RM pada hari Selasa 22 Januari 2013 bersama sahabat bernama Ari Purwandari. Dia dari Pondok Gede menuju Bogor, dan dari Bogor meluncur ke Bintaro 3 (jalan Camar). Ditengah gerimis lembut yang berubah menjadi hujan deras, kami membawa kado yang panjang sangatlah riskan, karena waktu itu Jakarta baru pasca banjir dan sekali lagi berucap syukur Alhamdulillah semua berjalan lancar dan niat para penggemar pun kesampaian.


Mereka yang ikut partisipasi antara lain : Ari Purwandari - Arie Rachmawati - Adwi Hastuti - Adi Purw - Bekti Nuswantoro - Anang Arief - Afrida Herawati - Eko Hariyatno - Ninik Dyah - Winny Adriani - Si Jack - Inneke Tri Sulistyowaty - Aleyka - Laksmi - BarBerBor - Imam Santoso - Ristiono - Wahyu Widyawati - Yulis Misbach - Awalludin Abdussalam - Andy Rustam & Keluarga - Donny Aha - Suyadi - Ari Prambudi - Nila Ratna dan Tony Wenas (NB : susunan sesuai urutan pengirim dana yang masuk). Terima kasih atas segala perhatian dan cinta kasih sayang para teman/sahabat yang meluangkan waktu dan menyisihkan banyak rejekinya untuk terwujudnya sebuah 'Kado Untuk Sang Maestro'. Jazakumullahu khairan katsiro. 

Semoga kado tersebut bermanfaat untuk perfoming mas Fariz RM berikutnya pada pentas-pentas musik dan membawa semangat baru diusianya yang ke 54 ini. Buat temans yang bergabung di KFFRM, semoga semakin memupuk kekeluargaan, kompersa dan salam fantastic. Terima kasih buat pembaca yang sudah mampir dan membaca tulisan ini.


Salam,
arie rachmawati

Rabu, 14 November 2012

My Journey Two Weeks (4)

Episode "Dandelion dalam Rindu"

oleh Arie Rie Rachmawati pada 14 November 2012 pukul 9:22 ·


Achmad Basuki - Syira - Arie Rachmawati

Rabu, 14 -11-2012
Tanggal hari ini seperti sebulan yang lalu, saat saya berencana ingin menemui tokoh-tokoh yang telah menginspirasikan saya menulis cerita pendek berjudul, "Dandelion dalam Rindu," yang telah dimuat di majalah (remaja) STORY pada edisi 22, terbitan 24 Mei-25Juni 2011 lalu. Mereka itu adalah, bapak Basuki (Achmad Basuki/Ki Suki), mbak Widya dan adik Syira.   Unik hal ini terjadi karena saya membaca obrolan (thread) kolom komentar di wall Ki Suki.

Waktu itu beliau sedang menyelesaikan study-nya di Universitas Saga-Japan, sekitar 4 tahun lamanya. Disitulah inspirasi itu muncul. Kami sama-sama suka bunga Dandelion. Saya malah tahu hal tsb karena memang saya nggak tahu nama bunga tsb. Lalu kami berdua berlatih 'graffiti' salah satu aplikasi di facebook yang membuat saya rajin belajar. Achmad Basuki itu teman semasa sekolah menengah pertama di Jember, teman kelas sebelah. Dia sekelas dengan Nanang Keceng (baca : di My Journey Two Weeks "Episode Tertular Virus) dan Fransiscus Ario Praseno teman bermain musik (jadul). 

Jumpa pertama dengan Ki Suki, di Stasiun Gubeng. saya yang ditemani sohib sekelasnya dari kelas 3B, si Nanang Keceng (NK)
 mungkin ini semacam reuni dadakan di stasiun pula. Usai berfoto-ria, si NK pamitan akan meneruskan perjalanan menjumpai teman yang lain, saya diajak jalan-jalan di teriknya yang panas Sorbeje (baca :Surabaya). Ki Suki mengenalkan semua anggota keluarganya, saya sangat menunggu bisa bertemu dengan Dik Syira yang membuat saya jatuh hati dengan barisan poni dan pipi chubby nya (dulu masih usia 2 tahun), kini berusia 6 tahun. Dik Syira agak kurusan dan mulai tinggi badannya (masa pertumbuhan). Laki-laki berkaca mata minus tebal ini sangat humoris, memiliki keluarga yang familiar meski saya sebelumnya semuanya. Namun secara perkenalan suara lewat udara (baca : interlokal) beberapa tahun yang lalu, berlanjut ke jumpa darat maka lengkaplah pertemuan siang itu dengan menikmati sajian dari Rumah Makan SAS di Surabaya. 

Soal menu saya ngikut  aja, bukan karena makanan tetapi karena kebersamaannya itu yang mahal dan sangat istimewa. Di tengah obrolan saya meminta Ki Suki (Achmad Basuki) mau berfoto dengan memamerkan postingan cerpen yang termuat di majalah STORY itu. "Matursakalangkong nggih Bas," ucap dalam batin .  Jujur ada rasa haru menyeruak, meki itu hanya fiksi namun saya benar-benar merasakan kedekatan antara bapak dan kedua putrinyaCerita pendek berjudul,"Dandelion dalam Rindu," itu adalah cerita remaja yang berkisah tentang kecemburuan sang kakak kepada adiknya. Dimana seorang bapak tampil sebagi single parent, mencoba menyelami hati putri pertama nya yang tengah remaja dan merasa kepergian Mamanya dikarenakan kelahiran adiknya itu. Sang kakak menemukan teman chatting yang membawa keperubahan karena sama-sama menyukai bunga Dandelion. Bunga rumput kering yang sering dianggap remeh karena liar tak terurus namun sebenarnya sangat indah. Bunga dandelion dan bunga Chrysanthum adalah dua bunga yang membuat saya jatuh cinta.

Duh, perasaan jatuh cinta melulu. Memang jatuh cinta itu indah dan membuat semangat hidup seperti warna pelangi cerah dan ceria. Bagi saya pribadi jatuh cinta pada satu keluarga mereka adalah anugrah, karena saya nggak mengenal sebelumnya. Menu makanan kini tersaji di meja makan. Saya lupa nama menu saya dan menu mereka, yang ada dipikiran saya adalah rasa senang, karena saya mendapatkan beberapa kartu pos yang pernah dijanjikan oleh Ki Suki sewaktu masih di saga, namun keterbatasan waktu hingga Ki Suki kembali ke Indonesia tepatnya di Surabaya. Kini Ki Suki menjalani profesinya menjadi seorang dosen politeknik elektro - ITS. Teman belia saya itu hebat, selain menciptakan mesin pembuat puisi, juga mengajar fotografi bahkan menawari saya sebuah impian yang pernah saya cita-citakan. semoga niat dan semuanya mendapat ridhonya. Berita bahagia itu, sangat special hingga saya hanya berucap syukur dari relung bathin.

  

Setelah menikmati makanan siang dengan nikmat, saya bersama ibu Basuki juga anak-anak menjalankan sholat Dzuhur. Ada yang aneh, air wudhunya terasa asin sekali. Pertama saya pikir lidah saya yang aneh, ternyata dibenarkan oleh beliau. Disela kami akan meninggalkan rumah makan itu, saya mendapat telephon dari saudara sepupu bernama Denny Kastrianto. Kebetulan secara pertemanan di facebook, antara Ki Suki dan Denny sudah akrab melalui beberapa komentar, pertautan kata secara alam maya itu lebih dahsyat karena keduanya menyukai puisi dan foto.

Keinginan untuk bergabung yang bermula ditunggu di rumah makan, hingga acara selaesai tetapi belum juga menongol akhirnya beralih lokasi ke halaman rektorat kampus ITS.        
  Waduuhh, malah lebih parah dari yang pertama pertemuan di Stasiun Gubeng. Ya begini adanya saling menyempatkan waktu untuk saling menjaga ukhuwah pertelian silaturahmi. Antara saya dengan Denny pun terakhir bertemu sekitar enam tahun lalu, saat mereka mampir di rumah kontrakan saya di Bogor. waktu itu saya baru pindah ke Bogor. Di halaman (tempt Ki Suki hunting gambar) kami saling memperkenalkan diri, antara ibu Basuki dengan Dina istri Denny, yang kebetulan membawa putri sulungnya bernama Naning. Obrolan sambil berpotret dan berdiri ala kadarnya, tak berlangsung lama karena saya harus bergegas menuju stasiun Gubeng lagi. Di ujung perpisahan yang nggak layak kami mengakhiri dengan peluk kehangatan, Kali ini saya diantar Denny sekeluarga menuju stasiun dimana Nanang Keceng sudah menunggu saya untuk melanjutkan perjalanan kebmali ke Jember.

14-10-2012/14-11-2012,
Saya baru menuntaskan tulisan ini. Sebulan tanpa terasa berlalu. Serasa saya ingin menikmati saat itu, ya perjalanan Surabaya-Jember (PP) dan semua canda tawa bersama keluarga Ki Suki dan Keluarga Denny, semoga kedepannya Allah SWT memberi izin kembali untuk mengulang kisah indah. My Journey Two Weeks Episode "Dandelion dalam Rindu", ini saya akhiri. Untuk temans yang ingin membaca cerpen saya itu bisa dibongkar blog saya http://rachmarie-riritemaram.blogspot.com atau di kumpulan note facebook  ini, atau juga tunggu kumcer saya terbit dimana "Dandelion dalam Rindu" tsb terpilih sebagai cerpen utama. Cihuuuuyy....!!!

Sekali lagi terima kasih tak terhingga buat Ki Suki dengan keluarga atas jamuannya dan kartu posnya,
buat Denny sekeluarga yang repot-repot menemui saya (tretan dhibik) dan mengantarkan ke stasuin Gubeng dan
buat Nanang Keceng yang menemani perjalanan dan menuturkan kisah indah. Jazakumullahu khairan taksiro.

NB : Mohon maaf buat teman - teman lainn yang belum sempat saya kunjungi karena keterbatasan waktu dan jadwal perjalanan saya,
terima kasih atas pengertiannya. 

Selamat 1 Muharram 1434 H
Selamat Tahun Baru Islam, semoga kita sebagai kaum muslim bisa menjaga ukhuwah ini hingga akhir jaman.



Salam,
Arie Rachmawati
Bogor, 141112 / 9:09 AM






Selasa, 13 November 2012

My Journey Two Weeks (3)


My Journey Two Weeks

oleh Arie Rie Rachmawati pada 13 November 2012 pukul 19:00 ·

Episode Pantai Papuma



Nama itu menjadi akrab setelah putra saya (kedua) bernama Ryan, bertandang ke pantai itu bersama pakdenya yaitu, mas Hadhie. Selain info dari Ryan, saya pun sudah kesemsem sama postingan foto milik mas Hadhie. Dalam hati harus ada target kesana, kebetulan pas sebulan yang lalu, Sabtu 13 Oktober 2012, saya berduaan dengan mas Hadhie menuju daerah Ambulu-Jember-Jawa Timur. Sepanjang jalan langit cerah, bahkan warna jingga ke-oranye-an memenuhi langit sore. Sesekali mas Hadhie menengok ke arah langit, lalu dipacunya kendaraan roda dua itu. "Mengejar Sunset," gumamnya.

Di atas sepeda motor Tigernya, saya teringat lagu "Cakrawala Senja," nya Fariz RM..." termenung ku kagumi cakrawala senja nan merah merekah, berbaur warna lembayung pesona jiwa indah merona, merasuk sukma, membentang kurnia dewata, menaburkan sejahtera, lukisan alam, berderai  melambangkan damainya"

Saat memasuki gerbang utama bertuliskan,"Selamat Datang Ke Wisata Pantai Papuma," saya melihat dari kejauhan pepohonan kurus kering kerontang. Dan benar saat sangat dekat, nampak jelas seperti pohon telanjang bulat, tanpa satu pun daun menempel. Menurut saya sangat indah serasa berada di benua lain, pada musim gugur. Pepohonan tsb mengingatkan pada beberapa gambar coretan iseng saat luang, saya suka pohon dan ranting. 
 

Pohon dan Ranting
by Arie Rachmawati

musim kemarau memanjang
sepanjang musim dedaunan gugur
akar mengais air sampai ke perut bumi
mengharap hujan turun
tak pernah datang
seakan lebih suka menggantung di langit
tertahan oleh awan mendung

pohon dan ranting
seperti tangan gemulai penari
pemuja hujan dengan ritual adat istiadat
menari-nari mempermainkan jemarinya

pohon dan ranting
seperti tubuh telanjang
berdiri dan meringis
namun nampak indah
biar pun kemarau

pohon dan ranting
tetap menawan
terukir dalam slideshow gambar-ku
lalu aku jatuh cinta...

Medio : 13-11-2012
3:34 PM


Di antara pepohanan yang kering krontang itu, ada beberapa rumput hijau dan semak-semak subur. Hijaunya meneduhkan, rimbunnya menyejukkan. Perjalanan berlanjut hingga melewati jalanan aspal yang mulai terkikis, hal ini tentu bisa membahayakan para pengguna jalan, terlebih bila hujan turun. Mengingat jalan tsb adalah jalan utama, mungkin pihak pengeolah wisata ini mulai memperhatikan keamanan dan kenyaman pengunjung. Jalan melingkar-lingkar, naik turun, akhirnya bau air laut tercium oleh hidung saya. Sore yang indah, saat para nelayan dan perahunya merapat, menambatkan jangkar dan berlabuh. Perahu-perahu itu mirip pasukan pedagang jaman penjajahan yang ilustrasinya ada di buku sejarah. 

Riuhnya para nelayan seperti rayuan angin senja membawa saya turun ke laut. Ke tepian pantai, lalu saya membiarkan  kedua kaki dipermainkan deburan ombak. Buih-buih nya yang nakal mulai ramah bila ke tepi pantai beralas pasir putih. karang kecil dan tumbuhan laut yang terbawa arus bersandar ke bibir pantai. Sungguh indah bermain air laut, sudah lama sekali saya melewati masa seperti itu masih kanak-kanak. Di pasir putih ini saya merasakan kebebasan, meloncat berkali-kali ke udara, serasa saya melayang. Jadi ingat sebuah judul lagu lawas milik R Kelly, "I Belive I Can Fly."  Beberapa kali take serasa ringan melayang ke udara, padahal lihat sendiri sambil meloncat saya tak pernah lepaskan gembolan ha ha ha. Sore nan indah, kemudian, kami berdua beranjak, meninggalkan dataran rendah menuju tempat yang lebih tinggi dengan tujuan masih sama, mengejar sunset.

Jujur saya takut ketinggian, namun karena berpikir kapan lagi bisa seperti ini, ya sudah saya kuat-kuatin berada di atas dataran yang tinggi. Ngeri sih, tapi tertantang juga, bergaya la fotomodel walau setengah terpaksa. Mas Hadhie menawarkan untuk menuruni tebing, waduuh  pikir saya kalau terpeleset bakalan jadi iwak peyek nih. Nggak-lah, cukup bagi saya menikmati panorama senja di atas tebing, keren dan Subhanallahspeechless tenan deh! Alat membidik sunset sudah standby, lengkap dengan tripotnya, namun sayang tiga kali penampakan sunset merah jingga merah merona tiba-tiba tertutup awan kelabu. Awan itu seakan merengut dan membawanya lari, alhasil kami gigit jari. Aaarrggh....!!!


Pantai Papuma bersebelahan dengan pantai Watuulo yang lebih beken dari jaman dahulu. Tetapi keeloknyan sangat jauh dari pantai Watuulo yang mulai terkikis batu berbentuk ular naga panjang (raksasa) itu. rasanya nggak percaya, saat saya mengambil gambar batu berbentuk ular itu, legendanya masih teringat di memori otak saya. Terakhir saya melihat bebatuan panjang itu saat sekolah menengah pertama bersama keluarga. 


Pantai Watuulo terdiam sendiri menyelami irama gelombang samudra di temaramnya senja. Burung camar pun tak nampak lagi di langit sore. Sepi dan mulai dingin menerpa tubuh, dan kami bergegas meneruskan perjalanan pulang seraya mengucap salam perpisahan, entahlah kapan saya bisa kembali ke sana. Bau harum ikan bakarnya belum sempat dinikmati, gubuk di atasnya tebing pun sempat menggoda saya, belum terjajaki. One day in my life...mengalun samar-samar dan deru motor pun mengikuti, kembali ke kota Jember. malam pun menyambut kami berdua di rumah Mama, di Milinia Mangli.


Salam,
Arie Rachmawati
Medio, Bogor 13-November-2012


G A L E R I  F O T O

Catatan : Semua gambar foto karya saya Arie Rachmawati 
dengan menggunakan BB tipe Curve 9320 dan Camera SONY -14.1







Suka ·  ·  · Bagikan · Hapus




You & Me .... My first love



Buku tulis ini saya beli sudah lama, lihat saja covernya rada jadul. Tetapi buku tulis ini baru saya tulis, menyalin beberapa puisi sahabat yang mulai menyukai menulis puisi. Dia bilang ini semua gara-gara saya, membawa virus jadi ikutan puitis.

Hmm...sebenarnya bukan karena saya, tetapi karena dia sendiri-lah. Meski saya dinobatkan sebagai pembawa virus, bila ybs tidak mempunyai jiwa seni (pujangga) saya rada sebaris kata pun nggak akan tercipta.

Saya hanya diam saja, saat dia ngedumel tetapi tetap menulis puisi hingga tuntas dan merasa sudah terbebas virus, namun toh akhirnya dia menulis kembali malah bisa menjadi sebuah cerita pendek.

Berdasarkan email yang saya terima (tadi siang) dia bilang,"Ini yang terakhir, Arie!, Kamu jahat, menjengkelkan!"  Bagi saya, apapun itu omelannya saya anggap angin siang hari yang membuat mata mengantuk dan ingin terpejam, padahal saya harus menyelesaikan ketikan mengejar 'deadlines." Seru banget beradu pendapat sama dia, serasa kami kembali muda dan masih berseragam biru-putih.

Bahkan saya sendiri berdecak kagum saat saya menerima email yang berisi puisi dibawa ini, saya belum bisa membuatnya walau menurut dia saya ini sangat puitis dan pujanggi (pujangga kan buat kaum Adam).
Dia seorang seniman, bahkan lingkungan tempat tinggal bahkan tempat nya bekerja pun tak mengetahui bahwa seorang berjiwa 'rOckOn' berada di sekitarnya.



"Sujud Untuk Kekasih"
by Nanang Keceng

tertidur pulas
dalam mimpi
ku bersujud
pada Kekasih

Maha Suci Tuhanku,
dari segala kekurangan
dari hal yang tak layak bagi mu
Maha Suci Engkau Ya Allah
aku memuji Mu. (1)

Ya Allah, ampunilah dosaku.
Engkau Tuhan Yang Maha Suci, Maha Agung,
Tuhan Jibril dan para malaikat lainnya (2)

Ya Allah,
hanya untuk Mu aku bersujud,
pada Mu aku mengakui,
bagi Mu aku menyerahkan diri, (3)

wajah ku tersungkur pada Yang menciptakan ku
yang membentuk rupa, telinga,& penglihatan (4)

Maha suci Allah sebaik baik Pencipta.
Maha suci Tuhan pemilik
Keperkasaan, dan Keagungan (5).

Ya Allah, ampunilah seluruh dosa ku
yang kecil atau besar, tlah lewat dan kan datang,
ku lakukan dengan sembunyi atau terang-terangan(6)

Ya Allah, sesungguhnya aku ber-lindung pada Mu
atas  keridhaan Mu agar selamat dari kebencian Mu,
dengan keselamatan Mu aku terhindar dari siksaan Mu.(7)

            aku tidak membatasi pujian untuk Mu.
demi kebesaran dan keagungan Mu
seperti pujian Mu pada diri Mu sendiri (8)      

Maafkan aku Tuhan
jika, terlalu sayang dp dirinya
sebab pada Mu dia pun mengadu                     
seperti aku merindukan Mu
padanya janganlah Kau cemburu

NK -  tengah malam 11-11-2012

note:
doa diatas disarikan dari macam2 doa dlm sujud: 
1) Shahih At-Tirmidzi 1/83. 
2) HR. Al-Bukhari dan Muslim, Bab Doa Ruku'. 
3) HR. Muslim 1/533, lihat no. 35. 
4) HR. Muslim 1/534, 
5) HR. Abu Dawud 1/230, 
6) Shahih Abi Dawud 1/166, 
7) HR. Muslim 1/350, 
8) HR. Muslim 1/532.      


Virus dalam Mimpi
by Nanang Keceng


angin kering pantai
batu karang membelai
ombak berlari
membawa buih menuju tepi

pasir putih
hamparan mimpi
virus dalam diri
meradang pergi

kekasih hati
jangan bersedih
mekar bersemi
telah terjadi
                                                                                      
jejak-jejak kaki
kepiting2 kecil meniti
menggali sisa2 duri
kepala ikan tenggiri

samudera luas
sejuta arus
menelan virus
di dasar laut

nanang keceng
minggu 11-11-2012

note:
terima kasih Tuhan……
diberi anugrah virus di hati
walau Kau titipkan 
pada sahabat yang ku sayangi

terima kasih sahabat
virus mu telah pergi
bersemanyam bersama mimpi
di jurang laut tak bertepi

usai kisah perjalanan virus ku ini
tenggelam menuju dasar bumi
dan tak mungkin lagi ku temui
walau harus di selami