Sabtu, 22 Januari 2011

Montecristo Band


Tatkala Puisi Bersenandung
by Arie Rachmawati on Saturday, January 22, 2011 at 5:58pm





Pertama kali saya mendengar nama MONTECRISTO dan diajak bergabung oleh pianis KJP (Fadhil Indra) sebagai penggemar di group fesbuk sekitar Maret 2010 lalu, benar-benar belum paham apa dan siapa itu Montecristo. Hingga tiga bulan berikutnya nama itu menjadi akrab semenjak mengenal salah satu gitarisnya yang lebih beken dengan nama Keith. Montecristo semakin familiar kala saya menerima kiriman compact disc itu, sekitar pertengahan Agustus 2010 lalu.

Ketika saya membuka cd yang berisi booklet itu, saya sudah jatuh hati pada design grafisnya juga ilustrasi gambarnya yang menarik perhatian saya ketika pertama kali mas Fadhil Indra memamerkan pada saya, bertepatan dengan performance KJP di Balirung UI-Depok, akhir Juli 2010. Entah kenapa saya langsung memesan cd berwarna kuning keemasan itu. Kemudian Keith memperkenalkan saya kepada pak Riza Novara, untuk urusan pemesanan cd Montecristo. Perlahan pertemanan pun terjalin, saya berkenalan pula dengan vokalisnya pak Eric Martoyo, waktu itu Montecristo mengisi acara Solidarity of Rock II di MU Cafe, 7 November 2010. Itulah sepengagal cerita tentang mereka sebagai bentuk proses perkenalan dengan Montecristo.


MONTECRISTO dengan semboyan Life is never ending poem mulai memenuhi pikiran saya, lebih-lebih setelah saya simak lirik untuk Forbidden Song & Garden of Hope bukan karena karya Rustam Effendy atau Keith Rustam yang sangat humoris dan telah menginspirasikan saya untuk menjadikannya sebagai salah satu tokoh cerpen. Tetapi benar, saya merasa kesulitan menterjemahkan lirik berbahasa Inggris itu ke bahasa Indonesia, sungguh My English is Bad. tanpa harus menghilangkan unsur puisinya. Saya mulai mengakrabkan diri dengan kamus, dan berpikir ada semacam pesan yang disampaikan bukan untuk penikmat musik rock saja namun menurut saya pesan untuk negeri kita tercinta ini. "Gilaaa...dan kereen itu orang," gumam saya dalam hati.

Rustam Effendy (gitar) dan Fadhil Indra (piano, keyboards) adalah dua personel di mana saya merasa akrab, di antara para personel Montecriisto lainnya yang terdiri dari Eric Martoyo (vokal),
Alvian Anggakusuma (gitar, backing vokal), Haposan Panggaribuan (bass) dan Keda Panjaitan (drum).

Dalam suatu obrolan thread notes yang ditulis oleh musisi senior yang menjadi pengarah musik Montecristo, saya pernah menulis bahwa Montecristo dari lagu, lirik sangat keren dan berani menyuguhkan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa tetapi tetap bagi saya yang seorang ibu rumah tangga biasa terasa berat. Untuk menemukan chemistry dalam hati memaknai arti lirik yang tersirat dibalik kepuitisannya dan di antara sengauan suara vokalisnya membuat saya harus memutar ulang kali. Kerap kali diputar menemani saya saat mengetik, barulah saya mendapatkan soul lagu suguhan Montecristo yang berisi 9 lagu antara lain sebagai berikut :

* Antestral Land
* About Us
* A Romance of Serendipity
* Garden of Hope
* Celebration of Birth
* In Touch With You
* Crash
* Forbidden song
* Clean

Ketika para 6 musisi itu berkumpul memainkan semua alat musik, mengharmonikan semua bunyi-bunyian hingga membentuk setuhan progesif rock dengan bertutur cerita kehidupan yang terjadi dalam bentuk puisi membuat saya yang kebetulan suka menulis cerpen lebih tertarik satu demi satu arti lagu dalam setiap untaian katanya. Illustrasi gambar menuntun untuk lebih mudah menyimpulkan. Mereka sangat inspiratif hingga saya berimajinasi dari dua lagu Forbidden Song dan Garden of Hope itu menjadi satu judul cerpen. Bahkan saat otak saya mulai berloading muncul keselarasan dari sembilan judul lagu yang ditawarkan itu ada benang merahnya. Mereka berani memberikan warna yang berbeda untuk kancah musik Indonesia. Hingga mas Yockie Suryo Prayogo pun dalam catatan fesbuknya pernah menurunkan tulisan berjudul, "Montecristo...mantafjek!" Dan saya membaca promo iklannya di majalah Rolling Stone Indonesia, para musisi dan penulis senior memberi endorsement-nya.

Kemudian majalah RSI pada edisi berikutnya no. 66 Novemeber 2010 menampilkan tulisan bang Denny Sakri mengulasnya dengan judul, "Montecristo, Tak Sekedar Musik Rock" Sebelum itu saya pernah membaca di harian Koran Tempo, 26 Agustus 2010 menurunkan judul, "Sebuah Nama tentang Musik dan Kehidupan" dilengkapi sebuah inteview perdana di gelombang frekwensi 89,2 FM Green Radio pada 18 Agustus 2010, menjadi tumpukan refersensi mengenal lebih dalam tentang Montecristo.

Tentu saja saya tidak akan meningkahi para senior yang saya kagumi itu, karena saya bukan pengamat musik hanya sebagai penikmat musik sehati. Kembali pada niatan semula dua lagu yang membuat saya tertarik. Sebuah lagu terlarang yang dinyanyikan pada taman harapan, serasa sebuah impian yang indah yang dimiliki sepasang kekasih pada masa yang lalu.

Forbidden Song
Word & Music by Rustam Effendy
Arr. by Fadhil Indra


When the clouds are followed by the rain
We feel the pain
When the night is followed by the dawn
We're broken
I miss your smiling face
In the summer breeze with the smell of roses
We've been through all the beautiful day
now they're gone
a lot of laughs along the way
miss the one
there's so much left behind
it made us insane, we'd crossed the borderline
we just turned around
we're not looking vack in the tunnel of time
We should have known this before
but still we've played it for more
and for more...
We were blind to sing along
wouldn't care too much to known
It was just a forbidden song
When the blue goes away
disappears
I could give up all my life
For all of moments we had
For your misery kiss
You just stood around
With your empty heart
With sadness in your face
We should have known this before
but still we've played it for more
and for more
We were blind to sing along
wouldn't care too much to know
It was just a forbidden song
Don't let the love turn to hate
If I an right or if I am wrong
It was just a forbidden song
nothing's wrong...


Lagu Terlarang. Tatkala awan berarak kemudian hujan turun, saat itu kita merasakan luka (pedih).
Ketika malam datang menjelang, sementara fajar menanti menyambut pagi, saat itu cerita kita berakhir.
Aku merindukan wajahmu yang senantiasa tersenyum, terutama pada musim panas di mana hembusan angin meniupkan aroma mawar. Kita telah bersama-sama melewati sepanjang hari yang indah. sekarang semuanya telah berlalu, menjadi kenangan. Mengenang canda tawa sepanjang jalan itu. Aku rindu tawa itu.
Terlalu banyak kenangan yang tertinggal dan itu telah membuat kita semakin gila. Kita bukan memutar balikan waktu hanya sejenak melewati kembali lorong waktu. Seharusnya kita sudah mengetahuinya namun kita tetap masih ingin bermain lagi dan lagi. Saat kita tidak bisa bernyanyi dengan merdu, namun kita tetap saja bernyanyi lagu terlarang itu. Lalu langit biru menghilang dalam gelap. Aku pasrah akan hidupku untuk semua kenangan kita, yang kita miliki. Untuk kelembutan sentuhan bibirmu itu. Tetapi kamu hanya mematung (berdiri tegak) dengan hati yang kosong serta seraut wajah sedih. Aku berharap jangan biarkan cinta itu berubah menjadi benci. Tak peduli benar atau salah ini adalah persembahan sebuah lagu terlarang dan itu tak ada yang salah.

Tentang lagu yang menyimpan kenangan lama penuh romantisme dilatarbelakangi alam yang menggiring pada kisah percintaan yang indah. Saat menulis ini terlintas wajah penulis liriknya yang sehari-hari lebih berasa ngocol namun dibalik itu ternyata ia seorang yang sangat puitis. Mereka adalah pujangga rocker milinium. Dengan kekompakan bersama dalam bermusik maka Forbidden Song hadir sebagai lagu syarat kenangan cinta yang indah tanpa melupakan desiran rocknya.

Berbeda dengan karya berikutnya yaitu Garden of Hope, memotret kehidupan negeri kita sangat pas dengan situasi yang berlaku. Mungkin semacam protes berselubung lewat barisan kata berpuisi yang dikemas dengan sentuhan musik lebih slowly. Berawal dari intro bongo dan konggo menyapa di antara gemerencik perkusi sebagai pembuka lagu.

Garden of Hope
Words & Music by Keith Rustam Effendy
Arr. by Fadhil Indra & Alvin Anggakusuma


It's not all about giving up
It''s not all about surrender
It's not all about losing hope
It's not about feeling hunger
Do not listen to a lunch of those politicians
Who promise everything but give you nothing
Just don't care any dirty game they play
Let us be united just to get away
We are living together in
a garden oh hope hand in hand
The sun is shining and giving us life
Stand up no surrender never give up get it up
Because we are living in land of love
No regret...Not Sadness
Looking up the sky and bright sunny day
Garden of hope is living for us
Let's kick the worries and light for
The best..and get it up
Let us be visited and we light survive
We are living together in a garden of hope
The sun in shining and giving us life
Because we're living in a land of love
Stand up no surrender never give up lets us it up
Because we are living in a garden of hope


Taman Harapan. Ini adalah sebuah cerita tentang taman yang memberi harapan untuk penghuninya.

Taman yang berisi tangan-tangan pantang menyerah untuk kehidupan. Bukan sekedar membicarakan perasaan lapar ditengah kemiskinan yang serasa menjadi tirai yang mampu disibakkan oleh para penguasa negeri. Kalangan diatas sekan mengemban amanah seperti memainkan sebuah permainan yang dengan mudahnya dikendalikan sesuai hasratnya. Ini negeri kita banyak tangan-tangan kecil menggapai untuk kemakmuran hidup.

Biarkan mereka begitu? Dan kita harus bersatu untuk menendang mereka yang hanya mementingkan isi perutnya sendiri. Kita hidup bersama dalam sebuah taman harapan. Mengharap tangan tetap diatas memberi, seperti matahari yang bersinar untuk kehidupan kita. Kita harus tetap tegar berdiri dan harus meraihnya karena kita hidup dengan cinta. Jangan ada kesedihan, jangan ada penyesalan.

Tetap menengadah lah ke langit yang cerah secerah hari penuh harapan. Taman harapan untuk kita. Marilah kita mengusir kekhawatiran itu dan mendapatkan yang terbaik. Marilah tetap bersatu, saling menyapa seperti cahaya yang selalu bertahan terangnya, karena kita hidup bersama di sebuah taman harapan.


Dari 9 lagu saya hanya mampu mengupas 2 lagu saja, selebihnya masih menarik dibahas dengan cara saya sendiri sebagai penikmat musik. Walaupun suguhan lagu "Celebration of Birth" sebagai lagu andalan sempat mengusik saya, namun saya merasa kurang mampu menterjemahkan lagu itu.

Hidup tidak pernah berakhir seperti puisi, hidup ini terasa indah bila semua bisa disyairkan seperti puisi dengan cinta maka dunia bisa dalam genggaman damai.
Untuk Montecristo, tetaplah berpuisi, tetaplah bermusik sentuh penghuni dunia dengan iramamu.
Tatkala puisi bersenandung maka Montecristo siap melangkah menggeridipkan blantika musik Indonesia.


Salam rOck On,

Arie Rachmawati

Selasa, 18 Januari 2011

HUT KPMI ke 5


Jakarta, Sabtu 18 Desember 2010.
Bertempat Manchester United Cafe di gedung Sarinah Lt2,Jl.MH Thamrin no :11 Jakarta Pusat, siang itu cafe yang identik dengan gambar-gambar pesepakbola MU kini disulap dengan berbagai poster dan display piringan hitam dari kumpulan lagu-lagu masa lalu era 60-an,70-an dan 80-an. Bukan saja poster dan display PH namun berserakan pula kaset-kaset dibawah tangga stage. Semarak suasana seakan membawa kenangan kita kembali jayanya lagu karya anak negeri Indonesia.

dr. Rudi Pekerti
Hari itu KPMI punya gawe, merayakan hari jadinya yang ke lima. Masih tergolong balita, atau seusia taman-kanak-kanak, namun langkah yang berjalan tak sebalita usianya. KPMI adalah wadah komunitas yang terbentuk karena seringnya nongkrong sesama pecinta musik Indonesia. Bermula dari obrolan ringan hingga menjadi ajang serius bagaimana menyelamatkan kejayaan lagu-lagu karya musisi/penyanyi/pencipta lagu yang saat itu sangat populer se-Nusantara dan negara tetangga.

KPMI semakin hari semakin banyak anggotanya yang masuk ikut menggabungkan diri ke wadah tersebut. Semula hanya penikmat musik yang usianya diatas 40-50 tahunan sekarang merambah kepada usia dibawah itu. Sayang ketika acara berlangsung banyak anggotanya yang berhalangan hadir,disebabkan berbagai kendala menjelang HUT KPMI ke 5.

Setelah menerbitkan dua buku Musisiku1 dan Musisiku 2 sebagai ajang barometer para musisi yang berkiprah tanah air sejak tahun 1960an hingga 1980an.Kini langkah selanjutnya kiprah KPMI dalam kancah sebuah komunitas di tanah air tepatnya di kota Jakarta pacut diperhitungkan. Semenjak awal tahun 2010 KPMI bekerja sama dengan SCTV dalam program acara " HARMONI" yang ditayangkan setiap tanggal 20 setiap bulannya. Langkah selanjutnya adalah bulan Maret 2010, KPMI digaet oleh panitia Penyelengara Grand Final Indonesia Song Festival 2010, yang diadakan di Ballroom (Ex Djakarta Theater) Jln. MH. Thamrin Jakarta Pusat.

Keberadaan KPMI dalam deretan komunitas yang paling banyak memiliki koleksi kaset atau piringan hitam terbanyak.

Alhamdulillah,Display KPMI tadi malam di acara Indonesia Song Festival,mendapat respon yang baik dari tamu undangan yang hadir..Bahkan Menteri Pariwisata & Kebudayaan,Bpk Jero Wacik memberikan apresiasi terhadap KPMI. (ini dari thread inbox oleh pak Gatot Triyono)

Sudah waktunya kebersamaan itu kian merapat dan bersahabat menyapa jajaran-jajaran lain agar KPMI semakin kian dikenal masyarakat luas bukan hanya sebagian para musisi saja, tetapi jejaringan luas para penikmat musik tanah air. Kini tibalah perayaan Ulang Tahun KPMI digelar. Bahagia sekali saat satu persatu tamu berdatangan dimulai dari seorang pencipta lagu Merantau dan Kerinduan yaitu bapak Jasir Sjam beserta ibu dan cucunya. Tak lama kemudian menyusul si Arsitek Musik begitu sebutan untuk mas Yockie Suryo Prayogo. Semakina bergulirnya waktu semakin membaur musisi,penyanyi dan pencipta lagu dari era 60-an,70-an dan 80-an. Begitu pula para sahabat KPMI dan beberapa teman infotaiment dan media massa lainnya.

Acara dibuka dengan "Basmallah" oleh bapak Gatot Triyono,kemudian diteruskan sambutan oleh mas Andrio Reza Andrio Reza(Ketua Panitia HUT KPMI ke 5) sebagai ketua panitia ulang tahun KPMI ke 5 ini, dan menyusul mas Didik Siswanto
Gatot Triyono
sebagai ketua KPMI turut memberi sambutan dan terakhir mewakili sahabat KPMI yang hadir diwakili oleh bapak dokter Rudi Pekerti. Beliau ini dikenal sebagai penulis lirik lagu dan sahabat,kerabat Nasution dan khususnya Gang Pengangsaan. Lalu dilanjutkan dengan makan siang bersama yang telah disiapkan untuk menjamu para undangan yang hadir diringi musik oleh Audensi Band. Semilir alunan lagu lawas menggiring para tamu disela menikmati hidangan dengan membawa kembali kenangan lama untuk dikuak kembali. Acara selanjutnya adalah memotongan tumpeng sebagai simbol syukur berjalannya KPMI selama lima tahun ini.

Ujung nasi tumpeng pertama diberikan kepada mantan drumer Makara Band yaitu bang Andy Julias,oleh mas Didik Siswanto. Kemudian diteruskan oleh Andrio Reza memberi potongan nasi tumpeng kepada bang Ilham Affan dan diakhiri potongan nasi tumpeng oleh Jose Choa Linge kepada ibu Neneng Salmiah (The Singers).

Tak lama kemudian, penyanyi wanita Arie Koesmiran yang berasal dari kota Sidoarjo Jawa Timur, membawa para undangan kembali mengenang kejayaan lagu-lagunya, disamping itu beliau sangat terperanjat bahwa KPMI masih memiliki/menyimpan poster pertamanya saat usia 12 tahun, dengan gaya remaja memakai rok mini dan gerai rambut hitamnya. Kemudian beliau menghadiahkan tiga lagu berturut-turut, sesekali diselingi canda tawa di antara obrolannya. John yang diciptakan oleh bapak Adriadie, dan kebetulan beliau pun hadir.


JOHN

Cipt : Adriadie


John..John..
Kau bagai gelombang
Ku diam kau datang
Ku kejar kau hilang
Hai..John..John
Daku wanita
Terjatuh kau cumbu rayu 
John..John..
Kejamnya hatimu
Ku diam kau benci
Ku sapa kau benci
Oh John..John...
Tiada satu pun pemuda yang sepertimu
Engkau segala gelombang
Bila ku abaikan dirimu
Engkau menyakitikan hati
Bila Kuharapkan dirimu
Apakah yang engkau inginkan
Apakah yang engkau harapkan dariku...katakanlah.


Arie Koesmiran & Adriadie
Usai lagu John, masih dalam alunan slowly lagu Di Balik Tirai Penjara semakin melarutkan suasana semakin melankolis. Ternyata lantunan lagu Sungai Babylon membuat MU Cafe nampak semarak apalagi mbak Arie Koesmiran menghidupkan suasana cafe dengan mengajak para tamu turut melantai dengan goyangan poco-poco, berakhir dalam tepukan tangan.

Pembawa acara David Tarigan memberi kesempatan pada Geronimo generasi baru yang membawakan beberapa lagu karya bapak Anton Issoedibjo. Mereka adalah Edo Geronimo dan Azrah Anton Iss, usai anak-anak muda yang memberi warna lain perayaan KPMI itu. Kini seorang tamu pertama dan beliau adalah pencipta lagu "Merantau" yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi Titiek Sandhora dan diaur ulang oleh Dina Mariana. Beliau adalah Jasir Sjam seorang pencipta lagu dan khusus lagu-lagu Padang, kini
Jasir Sjam melagukan lagunya, dan beliau memperkenalkan diri bahwa istri beliau adalah penulis lirik untuk lagu "Kerinduan" yang pernah di populerkan oleh Bob Tutupoli. Gilir mengilir turut meramaikan suasana ulang tahun adalah sebuah grup band yang sangat mengidolakan KOES PLUS dan KOES BERSAUDARA, mereka adalah B-Flat membawakan lagu-lagu di antaranya adalah "Mari - Mari", "Muda Mudi" membuat para tamu turut bernyanyi bersama.

Macan panggung festival adalah julukan untuk penyanyi bersuara dahsyat yaitu mbak Zwesty Wirabuana hanya menyumbang satu lagu Indonesia dan satunya lagi adalah request dari tamu undangan yaitu lagu milik Diana Ross "When You Tell Me That You Love Me" sangat menggelegarkan ruangan. Disusul kemudian oleh vokalis group band D'LLOYD yaitu bapak Syamsuar Hasyim. Beliau dengan flamboyan-nya memberi suguhan 3 lagu medley Mengapa Harus Jumpa - Titik Noda - Apa Salah dan Dosaku. Penampilan beliau yang masih mempunyai kharismatik membuat para tamu larut dalam lagu-lagu yang dibawakan siang itu.

TITIK NODA

Cipt : Bartje Van Houten


Sore itu langit menjadi gelap
Mendung pun kian merebah
Terdengar tetesan air hujan
Semua menambah kepedihan 
Hujan pun turun semakin deras
Begitu juga air matanya
Dia menangis mengenangkan dirinya yang ditinggalkan 
Kasihnya telah pergi
Meninggalkan titik noda
Tinggalkan dia kini
dengan hati yang kecewa
Hapuslah air matamu
Jangan ditangisi kisah yang lalu
sudah suratan ini terjadi
Jangan sesalkan lagi


Sam D'Llyod
Benny Panbres
Riuh tepukan membuat suasana pun semakin gempita, bahkan bang Oetje F Tekol dan bang Jelly Tobing ikut koor bersama para tamu. Begitu pula saya yang hadir sebagai generasi kedua sempat akrab dengan lagu-lagu tersebut karena seringnya diputar oleh orang tua saya kala itu. Di antara tamu hadir tamu sahabat KPMI yaitu bang , walau dalam masa pemulihan dari sakit dan berada diatas kursi roda tak menyulutkan semangat ikut meramaikan ulang tahun KPMI kali ini. Tamu undangan yang didaulat untuk menyumbangkan suara indahnya adalah penyanyi era 80-an yaitu Dian Pisesha dengan wajah ayunya, menghadirkan lagu ciptaan (alm) Pance Pondaan "Tak Ingin Sendiri" dan "Engkaulah Segalanya Bagiku". Kemudian dilanjutkan oleh seseorang yang lebih dikenal sebagai pencipta lagu era duet maut penyanyi Dewi Yull dan Broery Pesulima, yaitu bang Amin Ivo's (Ivo's Group) Benny Panjaitan (PANBERS)
Eddy Silitonga

Amin Ivo's menampilkan lagu "Bukan Dirimu" dengan arragement reggea yang berbeda dari versi lagu yang dipopulerkan oleh Dewi Yull. Penyanyi berikutnya yang dipanggil oleh David Tarigan sebagai pembawa acara adalah bang "Biarlah Sendiri" ternyata David Tarigan sangat paham dan fasih satu per satu lagu-lagu jaman dulu, bila menilik usianya mungkin belum merasakan ketenaran lagu-lagu yang hadir penyemarak ulang tahun siang itu. Tak ketinggalan pula bang Ade Anwar (PSP/The Crabs) dan disambung dengan penampilan Debby Nasution yang berencana akan membawakan lagu Angin Malam bersama Once terpaksa batal dan digantikan oleh bang Harry Sabar. Penyanyi berambut putih dan masih tangguh vokalnya, saya mengenalnya saat lagu Bayang Pesona merajai tangga lagu di radio saat itu. Waktu kian merambah hingga di ujung acara di meriahkan oleh sentuhan musik rock yang pernah hit dengan lagunya "Semut Hitam" dan "Kehidupan". Masih banyak lagu-lagu dari GODBLESS yang akrab ditelinga para tamu undangan namun cukup dua lagu itu mampu menyihir dan membuat para chief MU Cafe pada keluar dari sarangnya ikut menikmati teriakan bang Jelly Tobing yang menggantikan kehadiran vokalis utamanya bang Iyek atau Achmad Albar. Gebukan pada drum dengan semangat membuat suasana kembali pada masa Godbless merajai panggung konser pagelaran rock tanah air.
Eddy Silitonga membawakan lagu

Keenan Nasution
Mereka adalah Abadi Soesman (keyboard), Teddy Sujaya(drum), Ian Antono (guitars) dan Jelly Tobing (vokal/bass) salah satu wakil undangan dalam bentuk group band yang meramaikan sabtu ceria itu. Dan ditutup oleh penampilan solo dari bang Keenan Nasution yang melantukan lagu "Chopin Larung" ver.2010, sangat santai sekali sambil menyanyi juga diselingi ngobrol dengan sesama musisi seangkatannya.

Benar-benar seperti satu rangkaian pertunjukkan melihat scene demi scene perjalanan panjang lagu-lagu jadul berjaya menggulirkan waktu masa demi masanya. Serasa seperti tak ingin berakhir dan segala puji syukur kehadirat Allah SWT kian bertambah karena acara ulang tahun berlangsung dengan lancar, meriah dan sukses. Bersama untuk ulang tahun KPMI kali ini semoga terulang kembali untuk ulang tahun berikutnya, tentunya dengan banyaknya para penggiat seni yang berpartisipasi. Harapan dan doa senantiasa dipanjatkan semoga kedepannya komunitas ini lebih banyak para pelaku seni khususnya dibidang musik melebur dalam wadah penuh persaudaraan.

Terima Kasih kepada Audiensi Band sebagai band pendukung, para tamu undangan mereka musisi/penyanyi/pencipta lagu juga para sahabat KPMI, para panitia penyenggra yang terkait dan semua anggota KPMI tanpa kerja samanya tak akan mendulang kesuksesan ini.


Salam,
Arie Rachmawati




DAFTAR TAMU YANG HADIR :


- Neneng Salmiah (The Singers)

- Arie Koesmiran

- Dian Pisesha

- Zwesty Wirabuana

- Maya Angela

- Helly Gaos

- Waty Siregar

- Uce Anwar

- Dina Mariana

- Dotty Amalia

- Nuning & Yayuk ( Nidya Sister )

- Yockie Suryo Prayogo

- Oetje F Tekol

- Harry Sabar

- Ian Antono

- Jelly Tobing

- Teddy Sujaya

- Amin Ivo's

- Erwin Harahap (The Mercy's)

- Ade Anwar (PSP/The Crab)

- Benny Panjaitan (Panbers)

- Syam D'lloyd

- Andy Julias Makara

- Debby Nasution

- Abadi Soesman

- Keenan Nasution

- Ronny Harahap (Guruh Gipsy)

- Darma Purba (Rhtym Kings)

- Maxi Mamiri

- Jasir Sjam

- Rudi Pekerti

- Adriadie

- B'Plus

- Gatot The Disc

- Edo Geronimo - Azrah Anton Iss.

Minggu, 16 Januari 2011

Ulang Tahun Edo


Lucunya YoAnDo
by Arie Rachmawati on Monday, January 17, 2011 at 7:50pm



Jambi, 16 Januari 1994 (23:30 wib)

Saat pertama mengetahui saya hamil anak ketiga benar-benar tidak merasakan rasa ngidam seperti saat mengandung dua anak sebelumnya yaitu Ryo dan Ryan. Selama mengandung sembilan bulan itu dalam bermunajah doa selalu saya panjatkan semoga bayi dalam kandungan ini kelak lahir seorang bayi laki-laki. Meski hasil USG menyatakan akan lahir seorang budak betino (putri) bukan seorang budak jantan (putra), tetapi saya lebih yakin pilihan Allah adalah yang terbaik, yang penting lahir dengan selamat,lancar, dan sehat.

Seperti 17 tahun yang lalu, hari itu Minggu siang seusai menikmati lezatnya buah durian pada musim durian, rasa perut mules pun menggoda dan setelah tiba di rumah sakit bersalin St.Theresia Jambi, ternyata rasa sakit itu berlalu seakan larut dalam kelelahan tiada tara. Seharian yang melelahkan dimana pagi itu Ryan baru bisa berjalan sendiri masuk usia 15 bulan dan kakaknya Ryo ( 4thn,1bulan) sudah duduk di bangku sekolah dasar di daerah The Hok Jambi. Kehadiran Edo atau Ardianto Ridho Putra menjelang pergantian waktu tanggal 17 Januari adalah pelengkap keceriaan tawa-tangis anak-anak dalam rumah nan jauh dari sanak saudara di pulau Jawa. Kehadiran Ridho/Edo melengkapi angan dan harapan memiliki tiga putra dan timbul inspirasi menyebut ketiganya dengan sebutan YOANDO

Tidak seperti Ryan semasa bayi yang susah tidur, Edo bayi lebih tenang cukup diputarkan musik pengantar tidur maka larutlah ia dalam mimpi. Itu cerita semasa bayi hingga mulai belajar berjalan dari merangkak ia tergolong paling aktif atau bahasa Jambi-nya adalah lasak nian itu budak. Benar Edo yang semula bayi tenang, tidak rewel meski pernah keliru memberi sebotol susu yang semestinya untuk kakaknya malah ia tidak mengalami sesuatu yang dikhawatirkan, seperti murus atau rewel. Edo kecil malah seperti tersihir dan lelap dalam tidur yang mengasyikkan. Namun beberapa tahun setelah mulai mengenal sekolah tepatnya taman kanak-kanak, mulailah banyak cakap, protes dan rada cererwet.
Umur 5 tahun udah berani di sunat lho...
Dari YoAnDo yang tampil berani untuk urusan khitan, Edo-lah yang mendapat Award. Pada usia 5 tahun masih di taman kanak-kanak, saat liburan sekolah minta di khitan. Tanpa ditemani saya yang kali itu harus mengurusi dua kakaknya, Edo berdua saja dengan papanya melakukan perjalanan ke Bandung, tempat khitan di jalan.By Pass Soekarno Hatta Bandung. Ia berharap setelah itu akan mendapatkan sepeda beroda tiga.

Itulah Edo kecil tumbuh sehat, berkulit agak gelap dari kedua kakaknya tetapi pemberani. Nah, mulailah ia banyak beraksi dengan sebagai pecundang mengganggu kedua kakaknya yang tampil rada kalem. Lebih-lebih Kak Yo sering dibuatnya menangis,tentunya banyak mendapat marahan dari saya. Meski terlahir sebagi anak bontot alias bungsu namun keadilan saya tegakkan. Setiap sesuatu baik makanan atau mainan selalu mendapat porsi yang sama. Siapa yang nakal, usil akan mendapat hukuman, terutama bagi YoAnDo yang tidak mematuhi peraturan yang telah saya buat seperti jadwal bermain game, mencuci sepatu, mencuci tas sekolah bila hari minggu tiba. Mengenai hukuman untuk anak-anak bukan hukuman fisik melainkan terkurangnya jatah waktu untuk bermain game PS (one) atau berkurangnya uang saku yang menjadi ladang untuk menabung dan mereka akan membeli sesuatu yang telah diinginkan.

Mereka pun hadir sebagai anak yang patuh bila tiba saatnya mengaji tiba selalu duduk manis walau kadang seraut wajah lelah hadir menyelinap. Lebih-lebih kala bulan Ramadhan datang untuk berpuasa juga tadarusan, menjadi ajang yang ditunggu karena siapa yang rajin datang dan mengaji tadarusan akan memperoleh bonus dari bapak DKM masjid. Bersyukur masa kecil mereka hidup di Jambi yang jauh dari hingar bingar namun akrab dengan surau menjadi bekal yang Insya Allah akan berguna saat ini juga mendatang. Percakapan ala Upin dan Ipin membuat anak-anak suka bernostaligia saat tinggal di Sumatra.

Bertambah usia, Edo pun sudah tidak mengganggu kakak-kakaknya lagi. Ia lebih suka membaca Doraemon, Detektif Conan, bahkan buku favorit bersama yaitu Tiga Anak Babi pun dibaca sendiri sambil senyum-senyum sendiri. Kak Yo dan Edo hampir memilki kesamaan dalam hobby, mungkin dalam naungan zodiak yang sama Capricornus. Lebih banyak mengaluangkan waktu di dalam rumah. Dan sangat berbeda dengan Ryan seiring waktu berjalan, Ryan yang semula pendiam sekarang malah sering melakukan aktivitas di luar rumah bergabung dengan beberapa teman barunya setelah kami berpindah tempat menempati rumah sendiri di daerah Sipin (STM Atas).

Sejak masih di Jambi minat akan urusan dapur pun sudah nampak sejak menginjak bangku sekolah dasar, mungkin sebagai anak bungsu yang sering banyak waktu bersama saya di dapur akhirnya sedikit demi sedikit paham urusan dapur. Edo bisa membuat dadar telur dan pisang goreng makanan favoritnya bisa melakukannya sendiri. Suatu hari saat saya asyik mencuci pakaian dengan tenaga manual, Edo kecil dengan sepeda kesayangannya bergegas menghampiri saya, seraya berkata,"Ma cepetan ke rumah Bu Hakim ada Ibu-ibu pada ngumpul, ada panci ajaib, Ma."

Katanya lagi panci itu bisa bikin kue, bisa bikin masakan, enak cepat dan ajaib. Selain itu bila Edo diberi tugas yang berhubungan dengan rumah tangga lebih tanggap dibanding dengan kedua kakaknya. Saya pun merasa tenang saat meninggalkan rumah bila ada Edo di rumah, pasti sebagian pekerjaan rumah tangga seperti mengangkati jemuran atau menyapu pasti beres. Bukan berarti kedua kakaknya tidak peduli. Mereka peduli dan perhatian pada porsinya masing-masing. Itulah YoAnDo harus tahu apa yang akan dikerjakan bila saya jatuh sakit. Mereka saling berbagi walau kadang terdengar suara-suara kecil ribut memilih pekerjaan teringan. Setiap anak memilki karakter yang berbeda meski dilahirkan dari satu rahim yang sama.

Bertambah umur, ternyata Edo tidak begitu sehat seperti perkiraan semula. Dari YoAnDo ternyata Edo-lah yang mewarisi penyakit asma saya, selain itu sekitar 2006-2007 Edo menjadi pasien RS.Harapan Kita karena ada masalah dengan jantungnya yang baru diketahui setelah duduk di bangku sekolah menengah pertama di Bogor. Bukan kami berduka namun malah bersyukur bahwa penyakit itu cepat diketahui dan segera diatasi dengan berobat berjalan setiap hari Selasa selalu kontrol ke Jakarta.

Banyak pengalaman yang didapat dari belajar sabar saat kemacetan atau menunggu antrian panggilan yang ternyata banyak sekali anak-anak dibawah usia Edo yang menderita penyakit jantung lebih berat.Meski Edo sudah SMP tapi masih digolongkan usia anak-anak.
Wajah-wajah mungil pias tanpa warna kulit yang cerah menghiasi ruang tunggu.
Wajah-wajah pucat pasi itu ada yang berceloteh, ada pula yang larut dalam rintihan karena mengalami beberapa kali operasi sejak dilahirkan. Bertukar cerita sesama orang tua mengurangi beban bathin dan menjadi ladang inspirasi untuk saya. Kadang kami bertemu kembali dengan pasien yang senasib itu-itu juga, hingga seperti jumpa kawan lama dan tentunya menanyakan kondisi masing-masing hasil dari pengobatan berjalan.

Waktu itu ibu dokter yang menanggani bernama dr.Poopy tiba-tiba dikunjungannya yang sekian kali menyatakan Edo sudah baik dari semula, dan kontrol bisa dilanjutkan dengan dokter setempat. Alhamdulillah. Hikmah dan kaya pengalaman yang pastinya dan Edo bukan tipe anak yang berkecil hati karena selama dalam perjalanan tempuh Bogor-Jakarta kami berdua selalu tak lepas dari gelak ketawa. Ia selalu bilang pada saya bahwa," Mama itu lucu."

Begitu pula saat beberapa waktu lalu Edo mengalami musibah terjatuh dari motor dan mengalami beberapa luka dan memar dan sempat ada jahitan di dahi kirinya. Melihat kondisinya yang sangat berbeda sekali dengan Edo kecil gemuk dan nggemesin, Edo remaja kurus dan nyaris tulang belulang saja dengan banyaknya luka di sana-sini, sangat memprihatinkan. Namun sekali lagi two thumbs buatnya karena tak nampak wajah sedih. Saya pun selalu mengingatkan bahwa rejeki dan musibah itu datangnya dari Allah dan kita tidak boleh berburuk sangka kepada-Nya. Bila kita berserah diri dan ikhlas semua akan cepat berlalu dan dalam sakit pun tak lepas dari senyum dan tawa. Berbahagia-lah Edo yang banyak memiliki banyak teman, dua kakak yang sangat sangat sayang dan humoris, karena hidup tanpa saudara dan teman adalah sepi dan gersang.

Walau tanpa kue tart, tanpa kado, dan pernak-pernik ulang tahun serta seremonial seperti waktu tinggal di Jambi dulu, namun setiap hari tetap sebaris doa mengalir. Kemarin, hanya nasi gemuk (uduk) dan lauk pauk sederhana dan es coktail cukup meramaikan jadwal les private yang kebetulan bertepatan dengan ulang tahunnya, saya rasa cukup menghibur.

Hanya kepada-Nya kita panjatkan segala pinta dan semoga ulang tahun kali lebih banyak bermunajah mengingat ujian demi ujian sudah diambang pintu. Dan kenangan meniup lilin bersama YoAnDo seperti tahun-tahun yang berlalu tinggallah cerita yang akan menjadi kenangan berharga. Saya bersyukur memilki anak-anak yang kadang waktu menjadi teman bicara seperti sahabat, tanpa mengurangi kadar jalinan seorang ibu kepada anak-anaknya. Mereka adalah anak-anak yang dengan lucu dan kenakalannya masing-masing dan kini menjadi kenangan indahnya masa kanak-kanak itu. Sekarang ketiganya pada proses mencari jati diri. Dua kakaknya tengah menimba ilmu di perantauan, menyusul Edo nantinya. Berjuang meraih cita-cita untuk bekal menyosong masa depan yang gemilang. Semoga...

Sekali lagi buat Edo anak bujel-ku :

Selamat Ulang Tahun
SmOga menjadi anak yang sholeh,
sehat dan selalu dalam lindungan Allah
Jangan lupa bersyukur dalam keadaan lapang dan sempit. dalam suka dan duka
Dan..smOga tercapai segala angan,cita dan mimpi-mu
PF : 16 Januari 1994-2011


Salam,
mOther

Senin, 29 November 2010

C e r p e n k u :



PIANOKU TERCINTA
oleh Arie Rachmawati
pada 29 November 2010 jam 21:29

Cerpen ini sebagai kado ulang tahun Herman Gelly Effendi
pianis/keyboard SYMPHONY.
Pf : 29 November


Sudah lama aku tidak suka pada Bunda. Aku ingin sekali membencinya tapi aku takut kualat, karena dari rahimnya aku lahir dan mengenal dunia. Bunda suka memaksakan keinginannya dan itu menyiksa batinku. Di antara kami berdua selalu terjadi selisih paham, tumben kali ini aku sepaham dengannya. Mulanya aku tak bisa menerima pendapatnya untuk menjual piano Karl Muller hadiah ulang tahunku dari almarhum Ayah. Karl Muller itu menggantikan piano tua warisan keluarga Ayah, yang telah dimakan rayap.
Masih teringat wajah sedih Ayah sa at menyaksikan kaki piano warisan itu kropos. Hanya dalam satu sentuhan tangan, kaki pianonya langsung lunglai dan jatuh menimbulkan dentuman keras ke lantai. Seakan tuts-tuts piano itu berhamburan ke udara dengan nada-nada bertabrakan membentuk suara seperti ledakan bom. Aku terpaku menyaksikan adegan saat- saat terakhir itu. Sementara kedua adik kembarku—Didi dan Dede—ketakutan, pecah dalam tangisan. Bunda seakan tak peduli. Itulah awal aku tidak suka pada Bunda. Jelas tergambar kemenangan dalam wajahnya, justru di saat Ayah larut dalam sedih. Kemenangan? Ya, karena Ayah lebih memperhatikan pianonya daripada Bunda. Itu adalah penilaianku terhadap hubungan Ayah dan Bunda semenjak kelahiran adik kembarku.
Aku menghampiri Ayah, memeluknya dengan erat untuk menghiburnya. Ada keteduhan saat saling berpelukan dan aku belum pernah menemukan itu pada Bunda yang selalu bersikap dingin. Terlintas pikiran negatif, apakah benar Bunda itu ibuku?
Aku menanyakan pada Ayah, saat beliau duduk di depan piano. “Ayah, apakah Bunda sayang aku? Apakah Bunda itu benar ibuku?“ tanyaku merajuk.
Sesekali Ayah melempar senyum tanpa bersuara namun tetap membagi perhatiannya padaku di antara ketekunannya memencet tuts-tuts piano yang memberi nuansa damai sore itu. Usai menuntaskan permainan piano, Ayah mengacak-acak poniku.
“Lara, tadi tanya apa?“ suaranya lembut.
Aku menggeleng, menarik pertanyaan konyol itu. Aku lebih suka melihat Ayah tersenyum seperti itu, kemudian kami membahas musik. Keinginanku untuk mengusai beberapa alat musik lebih menarik daripada membahas Bunda yang terasa pilih kasih.
“Ayah ingin Lara tetap rajin belajar, jangan mudah menyerah, dan pertahankan ranking kelas. Jadilah yang terbaik untuk semua,“ nasihat Ayah. Saat itu kami duduk berdua berbagi bangku dan melanjutkan pelajaran improvisasi. Aku suka sekali lagu ciptaan Ayah itu, walau belum ditemukan judul yang tepat.
“Ah...itu gampang, yang penting Lara perhatikan pada bagian bait kedua menuju reffrain itu. Ada perpindahan tempo dan kord-nya…ingat ya, Lara?“ Ayah memberiku semangat.
Perpindahan tempo itu selalu membuatku lemah dan beberapa kali gagal. Antara pedal kanan dan sepuluh jemariku yang menari di atas piano belum terjalin keselarasan. Pedal kanan itu membuat suara lebih bergaung, kadang memengaruhi konsentrasiku. Seperti biasa, Ayah selalu menghibur dan menyuruhku rehat. Lalu kami berdua bernyanyi bersama, untuk menetralisir keadaan. Selanjutnya Ayah akan menghadiahkan satu kecupan di kening sebelum aku beranjak menuju kamar merajut mimpi.

Kegiatanku di antara sekolah, setiap sepuluh hari mampir apotik Taurus milik guru farmakognisiku. Dia selalu memberi potongan harga untuk obat yang kutebus. Obat untuk sakit jantung! Didi mempunyai kelainan jantung sejak lahir.
“Duh, lama banget, sih?“ keluhku dalam hati setelah lebih tiga puluh menit menunggu. Pasti Bunda dan si kembar merasakan kegelisahanku ini.
Kesulitan ekonomi sejak Ayah berpulang tanpa meninggalkan harta berlimpah, membuat Karl Muller-ku korban berikutnya setelah beberapa barang di rumah satu per satu terjual. Ayah seorang musisi yang terlalu idealis hingga ia ditinggal oleh teman-temannya yang lebih mengejar popularitas. Bagiku Ayah adalah seorang seniman yang piawai memainkan beberapa alat musik dan aku ingin seperti dia. Ayah pandai pula menulis puisi dan cerita pendek. Aku bangga menjadi anaknya.
Langkahku terhenti saat menuju pintu rumah dan membukanya. Terdengar isak tangis Bunda. Bergegas aku menghampiri Bunda yang sedang memangku Didi.
“Cepat, Ra! Kasihan adikmu. Sini obatnya, cepat ambil air minum!“ perintah Bunda cemas. Aku lari menuju dapur dan mengambil segelas air lalu kembali ke ruang tengah. Air mataku tak dapat ditahan, deras mengalir, melihat kondisi Didi yang mengkhawatirkan untuk ketiga kalinya dalam sebulan terakhir ini. Keadaan ini yang membuatku luluh dan setuju menjual piano itu. Hasil penjualan kue pukis dan sisa tabungan tak mencukupi kebutuhan hidup kami.

***

Tanah merah masih menggunung bertabur bunga-bunga kering di atas pusara Ayah. Di antara deraian air mata, kukirim sebaris doa, kubisikkan padanya.
“Ayah, maafkan Lara yang belum bisa menjadi harapan Ayah. Pasti Ayah tak akan marah, bila piano kita dijual,”isakku terbata. Aku tabur bunga kenanga dan melati dan menyiram tanah itu dengan sebotol air. Lalu aku tinggalkan Ayah yang terbujur kaku dalam pembaringan terakhirnya. Sekelebat aku melihat Ayah tersenyum pilu.
“Ayaaah… “ bisik lirihku.
Langkahku menuju alamat yang tertera di kartu nama pemberian Ayah padaku jelang akhir hayatnya. “Lara, simpan kartu nama ini baik-baik. Temui ia dan katakan bahwa kau anakku, Elang.” ucapnya tersengal di antara se sa k nafasnya yang telah merenggut hidupnya.
Alamat itu tertuju pada gedung-gedung yang berjajar sepanjang jalan protokol. Untuk pertama kalinya aku belajar berbohong pada Bunda, dengan mengatakan hendak belajar kelompok di rumah teman. Anehnya Bunda tak sempat memperhatikan mataku berdusta. Mungkin perhatian Bunda tersita oleh kondisi Didi dan beberapa pesanan kue.
Aku menuju sekuriti tepat di sebelah kanan pintu masuk utama gedung bertingkat tujuh itu. Kutinggalkan kartu pelajar berganti kartu tamu gedung. Pintu lift terbuka, aku naik ke lantai teratas. Seorang sekretaris cantik menanyakan maksud kedatanganku. Karena belum ada konfirmasi, aku dianjurkan datang lain waktu.
Aku kecewa karena telah mengorbankan dua ulangan mata pelajaran untuk keperluan ini. Langkahku lunglai meninggalkan gedung itu. Pesimis. Ra sa nya tak mungkin bi sa meluangkan waktu lagi karena hari-hari mendatang persiapan ujian akhir sekolah.
Tiba-tiba nada dering selulerku berbunyi dari nomor yang tak kukenal. “Halo, apa benar ini Lara anaknya Elang?“ suara diseberang menyapaku. Pemilik suara itu menyuruhku kembali ke kantornya lalu bergegas aku menuju gedung bertingkat tujuh itu.
Tepat di depan pintu ruangan itu, terdengar samar- samar suara dentingan piano mengalun. Daun pintu itu terkuak dan tampak seseorang duduk di depan piano. Ia menoleh padaku yang diantar oleh seseorang. Aku tertegun. Lagu yang mengalun itu adalah lagu kesayanganku bersama Ayah. Lagu tanpa judul itu. Lalu siapakah ia? Apakah teman Ayah yang bernama Pak Herman itu? Aku ingat benar akhir dentingan itu jatuh di nada C-minor.
Bapak itu menghampiriku dan menyalamiku. “Herman..Om Herman. Apa kabar, Lara? Mama dan Papamu...?“ ucapnya ramah dengan lesung pipit yang mengingatkanku pada Afgan, penyanyi favoritku
“Oh...apa Om nggak tahu kalau Ayah telah wafat?“ tanyaku berbalik.
Wajah Om Herman tampak keheranan serasa tak percaya pada berita itu. Aku menceritakan awal sakit Ayah hingga berpulang menghadap Tuhan, empat puluh hari yang lalu.
Tiba-tiba beliau memelukku. Aku merasa seperti Ayah yang melakukannya. “Nanti kita bersama ke makamnya, ya. Kini duduklah bersama Om.“ ajaknya lembut.Om Herman mengajakku menuju piano Clavinova dan memintaku memainkan lagu.
“Terakhir Om ketemu ayahmu, ia cerita bahwa kamu sudah mahir memainkan sepuluh jari. Itu kira-kira tiga tahun lalu dan lagu kami bertiga telah diajarkan kepadamu.“
“Lagu bertiga…?“ tanyaku.
“Ya...Temaram, judul lagu itu. Kenapa?” Om Herman heran melihatku kebingungan. “Apakah mereka tak menceritakan itu?“ balasnya menyadari ke sa lahan yang baru terjadi. Aku benar-benar tak mengerti arah pembicaraan itu. Kemudian, beliau menyuruhku memainkan lagu itu.Aku duduk di depan piano anggun itu. “Aneh…” batinku.
Saat jari-jemariku menyentuh piano itu, rangkaian notasi dan partitur itu hilang dari ingatanku. Bahkan jemariku seakan tak mengenal deretan do-re-mi-fa-sol-la-si-do. Sekali aku mencoba tetap tak bi sa ! Ada apa denganku? Kuulangi lagi. Bahkan Om Herman kini duduk di sebelahku persis dulu Ayah melakukan hal yang sama. Aku suka itu.
Ia pun memulai intro lalu mengajakku masuk pada bagian bait pertama, tapi benar-benar aku seperti hilang ingatan. Aku tak mengerti mengapa hal ini terjadi lagi padaku, setiap memainkan piano yang bukan milikku. Kupikir hanya kebetulan sa ja, sa at Damayanti berulang tahun, ia memintaku memainkan beberapa lagu. Tetapi, tak satu pun aku bisa tampilkan sehingga memerah wajahku seketika. Saat itu Gio mengatasi situasi mengambil peranku dan kami bernyanyi bersama.
Dengan senyum manis, Om Herman mengajakku duduk di sofa biru muda dan menanyakan maksud kedatanganku. “Jadi, bundamu ingin menjual piano itu? Kenapa? Bukankah itu menyimpan kenangan ber sa ma ayahmu?“
”Tadinya saya ingin menawarkan itu pada Om, tapi sepertinya sa ya sa lah alamat. Bahkan dalam ruangan kerja ini ada beberapa alat musik dan bagus-bagus, jadi…” tak tersembunyikan rasa kecewaku. Aku menunduk lemas dan segera berpamitan. Om Herman mencegahku dan ingin mengantarkan aku pulang.
“Jangan deh Om, entar malah jadi masalah, karena hari ini saya membolos. Terima kasih banyak. Lain kali ketemu lagi ya, Om.” pamitku segera meninggalkan ruangannya.

***

Aku masuk melalui pintu samping langsung menuju dapur bertemu Bunda yang masih berbenah peralatan dapur setelah membuat adonan terakhir kue pukis. Sepertinya hari ini ada pesanan kue lebih banyak dari biasanya. Aku membayangkan seraut wajah amarah Bunda, namun tak kutemui itu. Justru wajah teduh penuh kasih sayang yang kurindukan.
Bunda mendekat padaku dan ingin mengatakan sesuatu namun terhalang ketukan pintu yang memaksa.
Mereka adalah tiga laki-laki menuju tempat pianoku bersandar di dinding ruang tengah. Kemudian, salah satu dari mereka menyodorkan sebuah kuintasi penjualan dan dua orang lainnya mengangkat pianoku tanpa memberiku salam perpisahan. Piano itu rupanya siap berpindah tangan. Aku ingin berontak tapi melihat adikku Didi yang terkapar di kasur busa usang, membuatku luluh. Kini, jelas maksud perubahan sikap Bunda kepadaku. Bunda telah merapikan buku-buku partitur yang biasanya terletak di atas pianoku itu. Adikku, Dede, menangis,
“Kita nggak bisa main lagi dong, Kak,“ ucapnya pilu. Aku terenyuh lalu mendekapnya.
“Nanti Bunda beli lagi biar kita tetap bisa berlatih,“ hiburku. Aku tahu Bunda menyimpan buncahan air mata di sudut matanya. Bunda yang tegar itu, kini luruh juga.
Petang ini suasana sunyi dan hening dengan air mata masih menemaniku. Kenangan bersama Ayah pun ikut menggenang. Ruang tempat piano itu berada, kini melompong. Begitu cepat semua terjadi. Bunda lebih cepat masuk kamar ketimbang biasanya. Seakan rentetan peristiwa kesedihan enggan beranjak meninggalkan kehidupan kami.
Pintu kembali diketuk orang. Aku bangkit dengan kelopak mata masih bengkak. Saat pintu terkuak, begitu terkejutnya aku, ternyata Om Herman.
“Malam, Lara. Handphone-mu nggak aktif, ya? Untung tadi kamu meninggalkan data dirimu, jadi Om tahu alamat rumahmu. Bundamu ada..?“ tanyanya lembut. “Om, boleh masuk, kan?“
“Iya...iya, Om.” Sejenak aku bengong. ”Silakan masuk. Sebentar Lara panggilkan Bunda, ya. Duduk, Om.“ Aku bergegas menuju kamar Bunda. “Bunda, ada tamu Ayah.“ Aku berbisik pada daun pintu kamar.
Aku segera menuju dapur menyeduh secangkir teh buat Om Herman.
"Lara, tadi Om lihat ada piano dibawa beberapa orang ke luar dari sini, apakah itu pianomu?“ tanyanya begitu aku meletakkan teh di meja.
Aku hanya mengangguk pelan. Pertanyaan itu seakan memancing lagi tangisku yang sudah reda. Belum sempat aku menjawabnya, tiba-tiba pianoku sudah berada di depan pintu. Membuatku terperangah…tak percaya. Lalu, muncul Bunda dengan rambut tergerai, tanpa ikatan seperti biasanya.
Aku melihat sisi Bunda yang berbeda. Pandangan matanya menyiratkan keheranan, kenapa piano yang sudah terjual bisa kembali lagi. Dan, yang membuatnya terperanjat tentu kehadiran Om Herman.
“Arini...” sapanya kepada Bunda. Aku melihat keempat mata itu beradu, tanpa kedipan sedikit pun.
“Pak, tugas sa ya selesai. Mohon sisa nya segera dibayarkan,” kata salah seorang bertubuh tinggi besar menghampiri Om Herman yang segera menuntaskan transaksi sebelum berpamitan.
“Rin, nanti aku jelaskan semuanya tapi tolong kali ini saja, maafkan aku.“ Om Herman bicara hati-hati kepada Bunda yang masih bergeming, tanpa balasan sapaan. Aku bingung melihat adegan tanpa skenario itu. Tapi yang membuatku ceria seketika adalah pianoku kembali sebelum 24 jam. Sungguh sebuah keajaiban!

***

Om Herman memintaku untuk memainkan lagu yang belum sempat aku pamerkan. Benar, aku pun ingin memainkan, bukan untuknya saja tetapi juga buat Ayah. Walau alam kami telah berbeda.
Aku duduk di depan pianoku. Jari-jemariku mulai gemulai dengan sendirinya, melantunkan lagu Temaram yang ternyata diciptakan bertiga oleh mereka jauh sebelum aku dilahirkan. Om Herman menyusul duduk di dekatku, lalu kami memainkan berdua. Mengingatkan aku pada kehadiran Ayah. Bunda muncul dari balik tirai penutup pintu kamarnya. Sesekali aku mencuri pandang pada keduanya, saat Bunda mendekati kami. Beberapa lagu kami mainkan bersama dan memiliki kesamaan selera jenis musik dari yang klasik, pop, balada, hingga pop progresif.
Dentingan demi dentingan mengalun. Aku tak peduli hubungan antara kedua orang tuaku dengannya. Bagiku, Om Herman telah berjasa menyelamatkan pianoku. Bahkan kehadirannya telah membuat babak baru hubunganku dengan Bunda yang selama ini kurindukan.
Terima Kasih, ucapku dalam hati. Aku tak ingin malam ini cepat berlalu. Dan angin malam meniupkan kesejukannya, melambaikan kain gorden yang tergantung di jendela ruang tengah yang masih terbuka. Dan, sekilas aku melihat bayangan yang aku kenal... sosok Ayah.

(Selesai)


(Dimuat di majalah STORY teenlit edisi no:8 terbit 24 Februari-25 Maret 2010)

Sabtu, 13 November 2010

Fariz Roestam Moenaf


SELAMA DIRIMU BISIK PERINDU
oleh Arie Rachmawati 
pada 13 November 2010 
jam 20:40


Tiga lagu lawas dari album Selangkah Ke Seberang itu sengaja saya pakai sebagai judul catatan fesbuk kali ini. Dengan seizin mas Fariz Roestam Moenaf maka saya ingin bercerita sedikit tentang beliau itu, Sang Maestro yang senantiasa bergelut dengan inovasi baru dalam bermusik. Beliau lebih suka disebut sebagai musisi dari pada sebagai penyanyi.

Saya berawal dari seorang fans dari Fariz RM Fans Club, saat remaja mengikuti perjalanan kariernya dalam bermusik melalui klipingan dari media massa saat itu sangatlah susah di kota Jember. Kesetiaan saya ternyata berujung indah saat usia yang tak remaja lagi diberi kesempatan mengenal lebih dekat dengan Fariz RM dan keluarganya. Dan dari niat yang tulus hadir sebagai fans setia untuk menjalin tali silaturahmi untuk ukhuwah islamiah, maka jalan pertautan itu diberi kelancaran.

Ini awal petualangan mengikuti sang Maestro dimulai dari sebuah mall di Teraskota- BSD 28 November 2009 lalu. Sederet lagu lawas yang hits di masanya kini terdengar dalam alunan irama arrangement yang amat berbeda. Jazzy dengan sentuhan tradisonal gendang si bang Jalu, Adi Dharmawan (bass), Deksa Anugerah Samudra (drumer) dan si cantik Irsa Destiwi (keyboard). Berlima dalam F I V E mampu mennyemarakkan suasana Teraskota, menyita perhatian pengunjung mall.

Fariz RM bersama TIGA DUNIA melangkahkan kakinya ke seberang pulau tepatnya di kota Makasar, Sulawesi Selatan bersama Iwan Miradz, Eddy Syahroni, Idang Rasjidi beserta putranya seorang pemetik bass muda Shadu Rasjidi meramaikan acara Jazzy Night di Liquid Cafe,Clariton Hotel pada 24 Februari 2010 lalu. Energi bermusiknya serasa tiada mengenal kata lelah. Meski tubuhnya kian menyusut namun bukan alasan untuk tidak berkarya dalam kancah permusikan tanah air kita. Fariz RM Anthology adalah sebutan untuk performance tunggalnya seperti dalam acara meramaikan Hari Ulang Tahun sebuah radio swasta di kota Kembang, Bandung. Semangatnya itu kian membara seperti kemeja merah menyala yang dikenakan olehnya. Sebuah lagu "Selamat Untukmu" sebagai tembang pembuka.Lagu dari album Jakarta Rhythm Section tersebut mewakili ucapan SELAMAT ULANG TAHUN untuk radio itu yang berusia 7 tahun tepat di rayakan pada Jum'at 7 Mei 2010 lalu. Turut pula meramaikan si burung camar Vina Panduwinata dengan kepak sayapnya biru turquise, tetap lincah menceriakan suasana.

Riuh rendah tepukan memadati ruangan yang sebagian besar adalah pengunjung era 80-an. Larut dalam alunan demi alunan lagu, bahkan ada beberapa tembang hits-nya yang jarang ditampilkan seperti Susie Bhelel selain tembang andalan Sakura dan Barcelona yang tak asing di telinga penikmat musik sehati. Pada bulan yang sama saya begitu bahagia saat turut meraikan acara stasiun TVONE yaitu "Satu Jam Lebih Dekat Bersama Fariz RM".

Malam itu saya dan rekan saya Chr Nast mewakili para penggemarnya. Di mana Chr Nast sebagai kolektor kaset Fariz RM sebanyak 1768 karya dalam berbagai kaset solo maupun kolaborasi dengan beberapa musisi Indonesia.

Sedang saya sebagai penggemar yang secara kebetulan menyimpan tiket pertunjukan, dan mengkliping berita tentangnya. Hingga saya diundang pada malam taping acara tsb, saya bisa melihat langsung duet maut Neno Warisman melantunkan Nada Kasih dan Sebuah Obsesi. Hadir pula rekan musisi juga sebagai sahabatnya Deddy Dhukun dan seorang pak guru wali kelasnya, semasa sekolah di SMAN 3 Jakarta yaitu bapak Drs. Sri Wahjono.

Selang sebulan dari itu Fariz RM hadir kembali meramaikan acara Jazz Craft Vaganza. Selain dengan pasukannya yang terdiri dari Adi Dharmawan (bass)), Deksa (drumer), Michael (gitar), Bounty (saxophone), dan Jalu (gendang) tetap menyuguhkan tembang-tembang hitsnya. Guyuran air hujan tak membuat para penikmat musik sehati meninggalkan stage,namun tetap setia hingga Barcelona sebagai tembang pamungkas. Sebelumnya Fariz RM menjadi guest star untuk performance Maya Hasan si pemetik harpa yang cantik, secantik permaiannya. Juni dalam sentuhan Jazzy melabuhkan kenangan indah di Bale Pare, Padalarang.

Seiring waktu akhirnya saya turut menikmati suguhan inovasi baru dari seorang Fariz RM yaitu saat menjadi pengisi acara sebuah radio Magnetic Brava dalam event musik yang diprogramkan radio swasta yang baru terbit itu. Dengan beberapa teman musisinya lintas generasi Fariz RM nikmat memainkan bilah-bilah hitam putih-nya itu. Sebagai tembang pembuka adalah Kurnia dan Pesona dengan sentuhan arrangement lebih lembut untuk meredam suasana yang mulai gerah akan padatnya pengunjung Hard Rock Cafe, EX Jakarta. Soulful Attitude dengan formasi sbb : Michael (gitar) - Shadu Rasjidi (bass) - Rojez Maliq D' Essential (perkusi) - Eddy Syahroni (drumer) dan Fariz RM (keyboard). Lantunan Kurnia & Pesona berlalu langsung disusul dengan Hasrat dan Cita yang dipersembahkan buat almarhumah Andi Meriam Mattalata yang pernah direkam dalam album solo Bahtera Asmara. Lagu tersebut menurut saya sangat menyentuh dan lembut, selembut pelantunnya. Dan sangat sesuai dilantunkan dengan kondisi bangsa kita dilanda beberapa bencana alam, hal ini pernah dipersembahkan oleh Fariz RM saat bencana gempa bumi di Padang beberapa waktu yang lalu. Dua lagu sendu terusir dengan hentakan perkusi Rojez berkolaborasi dengan Eddy Syahroni dan disusul besitan bass dari Shadu Rasidi bersautan melodi-nya Michael yang baru saya liat saat acara Jazz Craft Vaganza sekitar bulan Juli lalu. Dalam acara tersebut juga dimeriahkan oleh Sandhy Sandoro dan Soulvibe yang masing-masing memeperolah certificate ceremony sebagai ajang Program Charity Brava. Fariz RM bersama Soulful Attitude-nya mampu memberikan gemuruh kepada para pengunjung cafe semakin malam semakin riuh. Suguhan delapan tembang terbaiknya telah menuntaskan jum'at malam itu dalam dekapan rindu dalam Barcelona yang didominan bunyi-bunyi dari masing-masing personal.


Pelantun lagu SELAMA, DIRIMU, BISIK PERINDU, kini hadir kembali mengajak para penggemar setianya untuk berkumpul kembali di jum'at malam dalam acara FARIZ RM ANTHOLOGY " Live In Concert at Friday Jazz Nite 2010" bertempat di Pasar Seni Ancol, pada Jum'at 12 November 2010 jam 19:00-selesai. Kehadirannya dengan ditemani seorang bintang tamu Saxophonist dan Violinist dengan membawakan 14 lagu terbaiknya dan 1 bonus lagu baru di album mendatang, sudah selayaknya yang mengaku penikmat musik sehati fans setia FARIZ RM berkumpul bersama saling bergandengan tangan sambil mendendangkan tembang-tembang hebatnya. SELAMA kita menjadi penggemarnya DIRIMU Fariz RM maka BISIK PERINDU itu tak lekang oleh waktu.
Sampai Jumpa...♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫♪ ♫ ♪ ♫...



Salam,
Arie Rachmawati

Senin, 25 Oktober 2010

Ulang Tahun Ryan


Aryanto Rachmadi Putra
DOAKU SEPERTI KEMARIN
by Arie Rachmawati on Monday,
October 25, 2010 at 4:25pm



" Yaa Allah, doaku seperti kemarin, yaa, amin." ucapnya mengakhiri doa setelah menunaikan ibadah sholat Ashar. Tentu saja saya yang berada di belakang tak jauh darinya, sangat mendengar sebaris doa itu walau suaranya setengah berbisik. Tak pelak lagi saya menahan tawa. Kemudian saya bertanya, seraya ia melipat sajadahnya. "Tadi Ryan berdoa apa? Kok cepet banget?" tanya saya. "Oh Ryan berdoa, Ya Allah doaku seperti kemarin," jawabnya singkat dan tergesa-gesa meninggalkan rumah karena mendengar suara teman sebayanya memanggil namanya. "Tunggu, doa seperti kemarin itu seperti apa Yan?" tanya saya lebih lanjut. "Banyaaak Ma, pokoknya banyak. Kata Bu Guru, Allah itu Maha Mendengar dan Allah tidak pernah lupa. Jadi ya pasti ingatlah doa Ryan yang kemarin." Lalu anak itu sudah menghilang dari pandangan saya, membaur dengan suara budak-budak kecik seusia meneruskan permainannya.

Beberapa hari sebelumnya saya melihat Ryan, adiknya Ryo dan kakaknya Edo itu begitu lama sekali berdoa hingga saya berpikir, anak itu sedang berdoa atau tertidur?. Rupanya ia merangkum semua permintaannya dengan khusuk dan untuk hari-hari berikutnya, ia hanya cukup mengulang doanya dengan singkat dan praktis. Dan ia yakin bahwa Allah masih ingat doanya yang kemarin. Hmmmm....Ryan! 

Itulah sepenggal kenangan semasa sekolah dasar, kejadian tersebut saat ia masih duduk di SDN no 42 Jambi, dan meski sudah dikhitan usia 10 tahun tapi ia seperti anak taman kanak-kanak. Ada saja ulahnya dan tidak pernah bisa diam di rumah seperti kedua saudaranya si sulung Ryo dan si bungsu Edo Keduanya mungkin banyak memiliki persamaan yaitu gemar membaca dan main games, segala sesuatu dilakukan di dalam rumah. Sedang Ryan senang melakukan aktivitas di luar rumah. Anaknya periang, humoris, rada usil dan saya seringkali dipanggil ke sekolah karena keusilannya, namun dibalik itu terpancar jelas rasa sayang kepada keluarganya.

Kilas balik, Aryanto Rachmadi Putra, lahir di Jambi, Minggu 25 Oktober 1992 jam 12:35 wib. Ia lahir di RSB St.Theresia Jambi, rumah sakit khusus orang bersalin. Waktu itu saya dengan keluarga masih memliki satu putra, baru menetap tinggal di kota Jambi.
Dua bulan kemudian melahirkan anak kedua, sebelum melahirkan saya dan Ryo masih sempat jalan-jalan ke pasar dekat rumah sakit tsb, hingga perawatnya kebingungan kemana pasien kamar 03. Mungkin bawaan jabang bayi yang tidak pernah bisa diam, hingga besar anak itu suka sekali mengukur ruang jalan raya beraspal.

Ryan, memiliki sepasang mata yang indah dengan bola matanya yang bulat, bulu mata yang lentik, kelopak matanya yang kedalam, dagu bak lebah menggantung dan kulit yang putih, serta rambut yang kriwil-kriwil mirip sekali dengan bayi India.
Mungkin kebetulan saja selama proses mengandung saya yang anti film Bombay malah jadi maniak, mungkin itu yang dinamakan mengidam. Ryan satu-satunya anak saya yang anti minum susu kaleng, ia anak ASI. Hingga mendapat juara ke empat lomba balita sehat yang diadakan oleh PT.Telkom di Jambi, berhadiah boneka kelinci.

Ryan balita cenderung pendiam, ia asyik dengan kebiasaan ngempeng kedua jari telunjuk dan jari tengahnya. Rasa nikmat yang ditimbulkan kedua jemari tangan kirinya itu akhirnya bisa teratasi dengan sebuah lagu anak-anak waktu itu berjudul, "Bertelur Lagi Burungku."
Sejak menginjak taman kanak-kanak, saya melihat banyak perubahan pada dirinya. Anak pendiam itu ternyata memiliki otak yang cerdas dan rada usil. Yang saya ingat waktu itu ia sekolah di TK Adhyaksa Jambi kelas TK-B, saya daftarkan ikut mobil antar jemput. Beberapa kali saya dibuatnya cemas, lantaran ibu Ida si Driver antar jemput, kehilangan jejak Ryan, setiap beliau telat menjemput.
tomatis saya dengan menggendong si kecil Edo, mencari ke sana-sini. waktu itu belum jamannya handphone.
Di tengah kecemasan ia datang dengan senyum-senyum membawa layangan. Dengan entengnya menjawab pertanyaan saya tanpa pandangan mata bersalah. Bola matanya yang bulat berpijar, dan senyumnya melunturkan amarah saya. Akhirnya saya putuskan berhenti langganan antar jemput. Dan sejak itu saya dengan adiknya setiap hari ikutan sekolah.
Setiap ada perayan ulang tahun temannya, ia bertanya, "Kenapa selalu ada kue tartnya,Ma?" Saya menjelaskan dengan singkat.

Ia ingin bila berulang tahun nanti, tidak usah ada kue tart tetapi ingin memiliki ayam yang banyak, kelinci dan burung dara. Setiap hari yang dibicarakan adalah hewan ternak. Rupanya dongeng sebelum tidur siang dan tidur malam tentang dunia peternakan itu telah terekam dalam otaknya. Hingga ia bercita-cita ingin memiliki peternakan yang ada sapi, kambing,ayam hingga jerapa. Jerapa? Ya seekor Jerapa, karena di halaman belakang rumah banyak rumput. Ia mulai berimajinasi, memindahkan dongeng itu ke dalam otaknya.

Suatu hari dalam angkot L-3oo jurusan Sipin, Ryan kecil bertanya, "Kapan Ryan ulang tahun, Ma?" Saya paham benar sebentar lagi pertanyaan itu akan keluar dari bibirnya yang mungil. Hingga jawaban saya sempat membuat orang-orang yang mendengar obrolan kami pada tertawa. "Ryan nggak jadi beli jerapa. Jerapanya ganti sama kuda zebra boleh, Ma? Oh, ganti lagi sama King Kong, boleh Ma?" "Hmmm...gimana kalau Ryan ulang tahun pindah aja di kebun binatang,mau?" jawab saya sekenanya. Di luar dugaan ternyata anak ini mau sekali dan sejak itu ingin ke kebun binatang yang ada King - King-nya. Namanya juga anak-anak susah dibujuk. Kebun binatang di Jambi, tak bisa menghiburnya. Akhirnya saya belikan mainan King-Kong menemani mainan yang menjadi favoritnya yaitu mobil truk.


Ryan hadir dengan segala keunikannya, dimulai dari bidang dadanya yang seperti paruh burung sempat mendapat perawatan dokter specialis anak-anak namun dinyatakan normal, amin. Setelah duduk di kelas lima keusilan tangannya pun beralih hingga papan sekat pembatas kelas pun roboh akibat ulahnya. Saya melihat anak itu cenderung memainkan kedua tangannya pada galon aqua yang kosong dengan bernyanyi-nyanyi, akhirnya saya memasukkannya pada les drumer di Yamaha Jambi. Dan sempat mengikuti konser musik yang diadakan tempat berlatihnya itu setiap tahunnya. Setelah tiga tahun, akhirnya mereka jalan sendiri-sendiri dengan beberapa teman sekolahnya membentuk band kecil-lecilan. Sayang hobby musiknya beralih perhatiannya ke burung merpati balap. Beberapa buku tentang merpati balap mulai ditekuni. Memilki piarahan burung merpati sempat membuat para tetangga agak mengeluh, hingga akhirnya kami memutuskan tidak memelihara lagi bersamaan merebaknya kasus flu burung. Seraut wajah sedih menghias mimiknya. Kejadian itu adalah proses adaptasi tinggal.

Perpindahan tempat antar provinsi dari Jambi ke Jakarta, dikarenakan mutasi kerja suami. Hingga kami memutuskan tinggal dan menetap di kota hujan yang kini menjadi kota sejuta angkot Bogor. Telah membawa banyak perubahan gaya hidup anak saya itu. Di sinilah pertualangan sebenarnya telah dimulai. Adaptasi sebagai anak daerah menjadi anak kota besar, hampir saja membuat anak-anak saya tidak percaya diri. Alhamdulillah, saya masih dibeli kekuatan membimbing, mengarahkan dan mendidik mereka bertiga, walau jalan menuju itu tidak mudah. 2005-2007 adalah cobaan terberat menurut saya, dimana kenakalan remaja hampir menjadi momok keseharian saya.

Ryan anak baru itu berganti nama Si Joe Sempur tiba-tiba menguasai daerah sekitar sekolah menengah pertamanya itu. Tak ada yang mengenal namanya Aryanto atau Ryan, namun menyebutkan nama si Joe, semua anak berseragam biru putih itu pasti mengetahui keberadaannya, dengan mudah saya pun menemukan tempat persembunyiannya berdasarkan feeling seorang Ibu. Menurut saya kenakalan yang dibuatnya adalah masih sebatas kewajaran membolos pada jam mata pelajaran tertentu dengan bersembuyi di kamar mandi sekolah. Yang membuat jantung saya semakin cepat berdetak, saat ia bercerita tentang tawuran pelajar. Walau ia tidak terlibat namun setiap ceritanya selalu mengerikan, hingga saya secara naluri seorang Ibu, sering berkonsultasi dengan para pengajar juga wali kelas hingga Ryan duduk di bangku terakhir sekolah menengah atas.

Bukan Ryan atau si Joe kalau dalam sehari tidak membuat ulah. Hingga suatu hari saya sedih merasa capai sekali ada-ada saja ulahnya yang harus berhadapan dengan pihak sekolah.Saat itu saya menangis, mungkin melihat saya menangis ia pun ikut menitikkan air mata dan memeluk saya, "Iya Ma, Ryan janji nggak nakal lagi." Beberapa hari ada perubahan ia mulai rajin bermunajah lebih-lebih jelang akhir tugasnya menjadi siswa pelajar. Lalu saya memancing apakah doanya masih seperti yang kemarin? Ia tertawa lalu mencium saya dan pergi seperti merpati melesat di udara.

Masa-masa sulit setiap hari, setiap minggu, bulan dan tahun baru dilalui. Ia telah melepas atribut seragam putih abu-abunya. Ia telah meletakkan jabatannya sebagai siswa pelajar SMA Plus YPHB. Di mana sekolah swasta itu menjadi pilihan saya agar Ryan mengenal disiplin lebih paham untuk bekal selepas SMA. Walau Ryan sebenarnya diterima di sekolah negeri, namun saya tetap bertahan demi kebaikan anak saya.Saya merasa berterima kasih pada para guru pengajar yang sering menghukumnya dengan membaca Al-Qur'an sebagi "hukuman" bila terlambat hadir masuk sekolah. Setidaknya setiap juz itu telah dilafazdkan mengarahkan kebaikan untuk masa mendatang.

Kini dalam obrolan lewat udara, ia bercerita rindu dikejar guru karena tidak membuat pekerjaan rumah, ia rindu di hukum bila telat hadir, ia rindu mendengar omelan para guru bila siswa tidak mematuhi peraturan sekolah termasuk urusan knalpot motor. Ia rindu teriakan mamanya, "Ayoooo...muleeeeee". Ia rindu masa-masa yang dulu amat segera berakhir dan merasakan ingin menjadi mahasiswa.

Yang jelas saya mengetahui bahwa dari ketiga anak saya mereka masing-masing memilki karakter sendiri dan menjadi warna hidup. Saya tidak pernah merasa anak-anak adalah beban dengna kenakalannya, itulah hikmah memahami mereka dan ladang menggali imajinasi menciptakan cerita pendek dari pengalaman mereka mewakili sosok remaja sekarang. Dan yang saya tahu ia telah menuliskan ini pada dinding fesbuk saya :

mama..mama..mama..!!!!
foto profilnya cuantik buanget hhehehhe...
mama aku mintaa kirimin baju kemeja yg papa sama baju yg SWAT,
soale kurang baju buat kuliah sama switer yg baru tulisanya 234'SC'
sama spion satria aslinya..okee ??
makasih yaaa mama,
ryan sayang mama hehehehheh
Sabtu, 09 Oktober 2010 jam 23:38

Anak kecil yang suka mengempeng jemarinya itu kini telah menjadi mahasisswa baru sebuah fakultas Otomotif di Universitas Negeri Yogyakarta 2010-2011 dan tinggal satu tempat kos dengan kakaknya seorang mahasiswa fakultas Teknik Kimia, Universitas Gajah Mada semesrter 7. Dan kini berusia delapan belas tahun ditemani pula motor kesayangannya baru menikmati hidup lepas dari pantauan orang tua. Semoga anak kecil itu yang enggan membaca kalimat-kalimat panjang, kali ini mau membaca catatan ini, bisa memutar kembali memori lama. Begitu banyak cerita-cerita mengisi hari-harinya selama ini diberi Allah, dan mensyukuri nikmat dengan lebih banyak beribadah dan memperpanjang doanya, "Ya Allah, doaku seperti kemarin," menjadi catatan indah.

Dan hingga detik ini saya tidak pernah mengetahui apa saja dalam doanya itu. Pastinya doa adalah untuk kebaikan dirinya sendiri dan kedua orang tuanya, amin ya rabbal alamin. Terima kasih buat teman-teman Ryan dari SD-SMA, juga para guru pengajar yang kini tetap menjalin tali silaturahmi lewat pertemanan fesbuker. Jazakumullahu Kahiran Katsiro.

Buat Ryan :
"SELAMAT ULANG TAHUN Ke 18"
PF : 25 Oktober 1992 - 2010  
Semoga menjadi anak yang sholeh, menjadi yang terbaik untuk agama.keluarga dan ortu. Senantiasa dalam lindungan Allah swt. Keberhasilan masa depanmu ada di tanganmu sendiri.


Allumma innii as-aluka
As-salamatan wa shihhati wa a'afiyati
Fi addiina wa dunn wa al-akhirati

Yaa Allah sesungguhnya aku memohon keselamatan dan kesehatan dan ampunan di dalam urusan agama dan akhirat


Salam Kangen Selalu
mOthEr

Sabtu, 31 Juli 2010

Pelakon Seni


DIA SEORANG DEWI
by Arie Rachmawati on Saturday, July 31, 2010 at 5:53am


# Scene 1

Bermula dari pertemanan di facebook satu setengah tahun yang lalu, aku mengenal dia aktris perempuan salah satu dari idolaku saat remaja dulu. Namanya Dewi Irawan, anak ketiga dari lima bersaudara, putri pertama seorang aktor kawakan almarhum bapak Bambang Irawan dan ibu Adek Irawan.
Dewi Irawan bernama Saraswati Dewi, lahir 13 Juni 1963, dia seorang perempuan yang ramah. Awal jumpa di facebook, aku rada takut menyapanya. Ternyata segala ketakutan itu akhirnya aku tepis karena ia idolaku itu ternyata ramah lahir dan batin. Terbukti setelah melewati kurun waktu menjalin pertemanan dengannya sebagai tempat berbagi cerita. Dengannya, banyak kecocokan di antara kami berdua, dari sekedar sharing film-film Indonesia, masalah anak hingga pembahasan agama. All In. Lebih-lebih ia tak menganggap diriku sekedar fans dan ia tak pernah menganggap dirinya seorang selebritis atau aktris top.

Pasangan suami istri yang mengabdikan hidupnya di dunia peran/layar lebar adalah Bapak (alm) Bambang Irawan dan Ibu Ade Irawan yang mempunyai nama asli Ade Arzia Dahar, melahirkan lima putra - putri antara lain :

1.Bambang Ari Satrya ( Ary)
2.Bambang Widya Permadi (Adi)
3.Saraswati Dewi (Dewi)
4.Sinta Savitri ( Atrie)
5.Chandra Ariati Dewi (Ria)


Kelahiran Dewi Irawan waktu itu bersamaan ayahnya mendirikan PT AGORA (Arena Gotong Royong Artis) Film. Ibu Adek Irawan juga dikenal selain sebagai aktris dan penulis skenario. Dua kakak Dewi, laki-laki, salah satu di antaranya, Adi Bambang Irawan, juga pernah muncul dalam beberapa film. Beberapa film anak-anak yang sempat aku tonton, namun bagiku peran Ria Irawan yang berkesan adalah membintangi film musikal ala Sound Of Music-nya Indonesia yaitu film Nakalnya Anak-Anak. Ria Irawan bermain bersama Dina Mariana,Ira Maya Sopha, alm. Ryan Hidayat dan Kiki Amalia. Ria yang manis dan lincah selain dikenal sebagai pemain film juga seorang foto model dan peragawati. Yang aku ingat waktu masih sekolah dasar berlangganan majalah anak-anak Ananda, Ria sempat menjadi cover-nya.

Ia bercerita di mana saat kelahirannya itu ada kaitannya dengan lambang/logo PT AGORA yaitu patung Dewi Saraswatii digambarkan sebagai sosok wanita cantik, dengan kulit halus dan bersih, merupakan perlambang bahwa ilmu pengetahuan suci akan memberikan keindahan dalam diri. Mungkin demikian pula harapan orang tua Dewi Irawan terhadap putri pertamanya itu.

Untuk menjadi sesuatu nama yang berbeda dari biasanya maka dinamai Saraswati Dewi, begitu tuturnya yang kupanggil Yudew, adalah kepanjangan dari mbakyu Dewi. Cerita itu mengalir pada suatu obrolan pagi pada suatu hari yang disela-sela syuting sinetron Senggol Bacok di Cisarua, Bogor.

Peran pertamanya dalam film" Belas Kasih" 1973. Film ini, hasil produksi rumah film milik PT.AGORA. Di mana sang Ayah menjadi sutradara sekaligus produser, sang Ibu sebagai penulis skenario. Dewi sudah menunjukkan bakatnya saat berusia 10 tahun.


# Scene 2
Obrolan pun merambah pada aktingnya yang sempat diacungi jempol untuk peran di film "Titian Serambut Dibelah Tujuh". Pada Festival Film Indonesia 1983 itu, nama Dewi Irawan disebut sebagai pemain yang boleh diperhitungkan aktingnya di kancah perfilman Indonesia saat itu yang berlangsung di Medan.
Aku teringat majalah jadul yang masih kusimpan, sebagai bukti bahwa Dewi Irawan itu pujaanku.

Film Titian Serambut Dibelah Tujuh

Sutradara : Chaerul Umam
Pemain : Soekarno M.Noor ~ Rachmat Hidayat ~ El Manik ~ Dewi Irawan
Penulis Skenario : Asrul Sani
Penata Musik : Franky Raden
Penata Artistik :
Penata Suara :


Tema ceritanya mirip dengan film Al-Kausar, yang digarap oleh sutradara yang sama.
Keunikannya,menolong film ini menjadi penting untuk dibicarakan. Tata artsistik, hadir dan langsung memberikan gambaran tentang setting cerita. Semuanya barangkali sudah tersedia, tapi bagaimana memilihnya - itu yang pantas dipujikan.
Kamera, dengan kuat memanfaatkan setiap sudut dan menjadi penambahan kekuatan film ini.

Tata musik (Franky Raden), unik dan menyatu. Ia tidak hanya sekadar menghadirkan bunyi-bunyi lokal, tapi nampak ada tafsir yang mendalam dengan berdasarkan pada kebutuhan cerita. Kekuatan sutradara, terasa pada keberaniannya mengadakan non dubb (tanpa suara) pada adegan pemasungan. Juga pengaturan bloking pada adegan-adegan sulit (pengeroyokan Ibrahim, pengeroyokan Arsad, pemasungan Hailmah)
Tata suara ikut membantu dramatisasinya (bayi menangis ketika Arsad-sang ayah-sekarat).

Inilah sebuah drama yang bermula dari fitnahan terhadap seorang gadis bernama Halimah yang diperankan oleh Dewi Irawan. Ia dituduh berzina, kemudian dipasung karena dianggap gila.
Majalah Zaman,21 Mei 1983 hal.25)
Majalah Zaman,21 Mei 1883 (hal.26)


Ini juga cerita tentang seorang guru muda diperankan oleh El-Manik yang datang ke suatu desa 'sarang maksiat' dan dikuasai oleh seorang jagoan diperankan oleh Soekarno M.Noor. Juga tentang seorang guru mengaji yang korup diperankan oleh Rachmat Hidayat Seharusnya El Manik dan Soultan Saladin bisa diharapakan. Tapi El Manik sukar hadir dalam beberapa agle. Ia baru bagus pada shot-shot pendek (medium,close up). Sedang Saladin, tak menghadirkan sesuatu yang baru. Ia malah bagus dalam film Al-Kautsar. Soekarno M.Noor dan Rachmat Hidayat, bermain bagus dan maksimal.

*Note : Data dari majalah Zaman,21 Mei 1983*

#Scene 3

Masih sekitar FFI'83 yang berlangsung di Medan. Beberapa film besutan para sutradara papan atas negeri ini bersaing memperebutan PIALA CITRA. Kecuali Arifin C. Noor, sutradara kawakan dan sutradara muda saling bertarung mereka antara lain :

1. Syuman Jaya - RA. Kartini

2. Ami Priono - Roro Mendut

3. Wim Umboh - Perkawinan'83

4. Teguh Karya - Di Balik Kelambu

5. Chaerul Umam _ Titian Serambut Dibelah Tujuh

6. Frank Rorimpabdey - Jejak-Jejak Wolter Mongisidi

7. Hengky Solaiman - Neraca Kasih

8. Mardali Syarif - Mereka Memang Ada

9. Sophan Sophiaan - Bunga-Bunga Bangsa.

10. B.Z.Kadaryono - Pak Sakerah

11. Pietjaya Burnama - Musang Berjanggut

12. Bobby Sandy - Amalia SH

13. Abrar Siregar - Sorta

Dan ada beberapa sutradara yang pernah menjadi unggulan pada festival yang lalu kali ini absen, mereka adalah Slamet Rahardjo, edward Pesta Sirait dan Ismail Subarjo. Dari banyaknya film yang saat itu berlangsung, aku menyempatkan diri menonton antara lain : Neraca Kasih, Perkawinan'83, Bunga-Bunga Bangsa,R.A. Kartini dan Di Balik Kelambu, selain Titian Serambut Dibelah Tujuh tak luput jadwal hadir di gedung bioskop yang pemiliknya adalah sahabat orang tuaku.

#Scene 4

Saraswati Dewi hingga kini masih aktif menantang semua peran. Darah seni itu benar-benar mengalir keseluruh tubuhnya. Beberapa perannya yang aku ingat justru pada filam Kembang Semusim arahan sutradara MT.Risyaf. Peran Dewi menjadi seorang gadis berandalan yang suka ngebut, pesta disko. Itulah Dewi yang selalu bermain dengan peran berbeda pada setiap lakonnya. Salah satu kutipan dari majalah tsb adalah " Saya ingin peran yang lebih menantang. Saya tidak mau digelari karena memerankan peran-peran yang itu-itu saja," katanya.
Majalah Zaman,21 Mei 1983 (hal.24)

Saat memerankan Halimah itu, perannya sempat disebut oleh pengamat film sebagai calon nominasi 'yang terbaik' dalam FFI'83. Saingan Dewi sangat berat yaitu Christine Hakim ( Di balik Kelambu) dan Widyawati (Amalia SH). Tapi bagi Dewi peran dan akting adalah pekerjaannya, film atau sinematografi adalaha ladangnya. Hingga kini masih eksis berperan. Salah satu dari sekian film Dewi Irawan saat ini yang sempat aku menontonnya aktingnya saat memerankan mama-nya Siska dalam film " Badai Pasti Berlalu" mengulang kesuksesan film dengan judul sama di tahun 1977. Film garapan Teguh Karya itu diolah ulang oleh sutradara muda Teddy Soeriaatmadja, scene saat kini.

#Scene 5

Dewi Irawan akhir-akhir ini enjoy menjadi ibu dalam setiap perannya. Dalam kehidupan nyata pun, Yudew pun seorang ibu daru putra-putrinya buah kasih pernikahannya dengan Luca F Marini, buah hatinya yang memiliki wajah cantik dan ganteng adalah Ray Emyr
Marini dan Dea nama kesayangan dari Shadira Arzya. Bersyukur sekali akhirnya aku bertemu ibu dan putrinya yang cantik itu. Bahkan sempat melakukan ibadah bersama pada suatu mushola di basement Citos.

Bagiku mengenal sosoknya adalah anugrah, ia seperti bukan seorang selebritis dengan pernak-pernikglamour namun dengan balutan blus putih tulang, tak lepas kacamata minusnya asyik menyantap hidangan dim sum, bahkan kami berdua rebutan lalapan kailan bertabur irisan bawang putih. Sesekali melanjut obrolan, ia bercerita saat meninggalkan tanah air beta sekitar tahun 1992 dan selama hampir dua belas tahun menetap di Italy, akhirnya tahun Juli 2004 kembali ke Indonesia tercinta dan memulai kembali berakting melalui layar sinetron lewat serial televisi swasta yang waktu itu boming cerita religie.

Di antara diskografi film-film yang pernah dilakoni hanya beberapa yang diingatnya. Di antaranya aku remaja dulu juga menikmati aktingnya sebut saja Guruku Cantik Sekali, waktu itu dengan Lidya Kandau. Kembang Semusim bersama Marissa Haque. Sedang dalam Sekuntum Duri adu akting dengan aktor ganteng Herman Felani. Ah, kembali membuka cerita lama tentang film-film jadul membuat memoriku kembali mengoprak-oprek daya ingat. Asyiiknya seakan waktu berputar ke masa jayanya perfilman Indonesia membumi dengan karya-karya kreativitas para pelakon seni untuk memperebutkan sebuah PIALA CITRA. Obrolan berahir dengan satu pertanyaan padanya, "Mbak, jadi sekarang Piala Citra itu kemana ya?"

Terima kasih banyak buat mbak Sarawati Dewi Irawan atas waktunya obrolan tak pernah ada jeda selalu bersambung lewat sms. Terima kasih atas lunch nya juga senyum ramahnya Dea. Semoga gadismu bisa menggantikan dirimu sebagai seorang DEWI penerus generasi perfilman dari keluarga besar alm Bambang Irawan dan Ibu Adek Irawan.
NB : Ternyata pertanyaan saya telah terjawab semalam Sabtu, 10 Desember 2011, saat pengumuman Piala Citra Festival Film Indonesia 2011 dan syukur Alahamdulillah beliau "Dia Sang Dewi" meraih piala sebagai pemeran pendukung wanita terbaik di film Sang Penari, menyisihkan 4 pelakon seni muda lainnya. Dewi Irawan telah menunjukkan janji pada dirinya karena setia menjalani peran seni (akting) baik di dunia layar kaca atau pun layar lebar. Congratulation My Dewi...

Salam,
arie rachmawati

Sabtu, 24 Juli 2010

Curahan Hati :

Cerita Di Koridor Busway 
Blok M
Oleh Arie Rachmawati


Senja sore berlabuh di ujung kaki langit, aku masih dalam busway menuju Blok M. Macet adalah kenikmatan yang tak didapat di kota lain menurutku bagian dari pernak-pernik Jakarta. Gerimis pun ikut menemani perjalananku menuju tempat "Komunitas Pencinta Musik Indonesi" di Langsat Corner. Waktu itu Jum'at kedua di bulan ketujuh 2010. Saat melintas di koridor Busway Blok M, sorot mataku tertuju pada suatu pemandangan yang tak lazim. Lalu aku mendekatinya. Tangan kananku mencari selembar rupiah untuk berpindah tangan. Aku perhatikan sebelum memberi shodakoh itu, ada seorang ibu berjilbab yang amat peduli dengan laki-laki muda yang mempunyai kaki kanan yang aneh.

Akhirnya aku membaur dengan ibu tadi dan kami berniat ingin membantu ala kadarnya. Mengingat aku selalu berbekal pocket camera, aku membidik beberapa sudut kakinya yang aneh itu. Semula ybs tidak memberi izin karena malu dan akan meluas hingga terdengar di kampungnya yang jauh di pulau Sumatra itu.

Namanya Agus, 22 tahun. Keanehan itu sudah dirasa sejak balita. Bertambah usia maka pertambah pula membesarnya jejemari kaki kanannya. Sekarang ia tinggal di Depok bersama kakaknya. Hidupnya sehari-hari bukan semata mencari belas kasih pejalan kaki yang melintas di koridor busway Blom M. Ia melakukan aktifitas berbagai macam kerja serabutan asal halal dan bisa ditukar dengan rupiah untuk sesuap nasi.

Bila senja telah meluruh ia akan duduk menepi di didinding koridor dengan menatap kakinya yang kian hari kian membesar. Kawan, kalian yang peduli mungkin saat melintas koridor itu bisa memindahkan rupiahmu untuknya. Atau kalian ada ide untuk berbagi?

Saat ini aku dan ibu itu yang sehati berniat menolong dengan langkah awal membawa foto ini untuk ditunjuk kepada pihak kantonya tempat ibu itu bekerja di Departemen Kesehatan, sedang aku hanya bisa menulis cerita singkatnya melalui notes facebook-ku ini, mengetuk hati kalian. Langkah selanjutnya belum aku pikirkan karena saat ini sudah dua minggu berlalu kontak kami terputus dengan ibu yang baik hati itu.

Mungkin melalui tangan-tangan kita yang telah ditunjuk oleh-Nya, Agus pemuda tanpa memiliki asa itu akan meraih masa depannya. Kita hanya hamba Allah yang sedikit terketuk. semoga notesku kali ini membuat kita semakin kaya batiniah dengan kebaikan-kebaikan sebagai pundi-pundi amal bekal nanti di akhirat.

Terima Kasih


Note : Setelah tayangan tulisan ini di facebook pada tanggal 24 Juli 2010 jam 19:09.
Banyak para teman yang peduli tetapi saya hilang kontak dengan ybs, semoga ybs sudah mendapat kepedulian dari orang-orang yang care, amin yra.