Senin, 09 Mei 2016

Kumpulan Cerpen DdR

MENITI ASA
Oleh Arie Rachmawati




Aku rindu Faza, anakku. Bayi mungil itu belum genap berusia tiga puluh hari, saat aku harus meninggalkannya. Perpisahaan  kujalani demi masa depan yang tertunda karena satu kesalahanku terbesar.
Aku berharap dengan kehadiran Faza, ayah merestui hubungan kami. Ternyata dugaanku meleset. Masih teringat jelas kenangan pahit itu menari – nari di pelupuk mataku. Lelaki yang amat kubanggakan tak sedikit pun mampu menunjukkan keperkasaannya mempertahankan impian kami.
Ia duduk terpekur dengan kepala menunduk, menerima keputusan kedua orang tuaku. Terlihat jelas air mata mengambang tertahan di pelupuk matanya. Hati kami teriris pedih. Faza, buah hati kami masih terlelap dalam tidur, saat langkahku terakhir meninggalkan  tempat kostnya.

                                           ***

Larut menyapa malam. Langit tak berbintang, kelam dan sepi. Dingin malam mulai terasa menggigit, aku beranjak meninggalkan teras kamar. Jelang fajar mataku mulai lelah dan ingin terpejam. Ponselku berdering. Aku enggan beranjak. Tanpa kusadari aku turun dari ranjang mengambilnya di atas meja kerjaku, semalam aku meng-charge.
“Kau baru bangun?“ Wisnu menelponku.
“Iya…masih ngantuk nih,“ aku menyahut sambil menahan rasa kantuk.
 “ Ah..dasar pemalas.“
“Nu, ini hari libur, lagian masih pagi bangeeet . . . !“
“Ra, ada info baru, di mana lelakimu berada,“ suara Wisnu yang berat terdengar bersemangat. Ia sahabatku paling giat mencari keberadaan Ilyas, ayah Faza. Ia tempatku sharing dalam berbagai hal sejak bangku SMA.
 “Oh…ya…ya,“ aku mengusir kantuk dan bergegas mencatat alamatnya.
“Hah ! Di Jambi sejak kapan?“ mataku terbelalak.
“Simpan tanyamu itu, aku nggak bisa jelasin di telepon, pulsa ... pulsa!“
“Secepatnya kau ke Jakarta, kita cari mereka di Jambi. Berdoa saja, semoga pencarian ini  berhasil. Ok ! “ ucapnya blablabla.
“Thanks ya… muuuaach!“ ucapku seolah menciumnya.
“Ogah ah, kamu belum mandi!“  Telepon ditutup. 
Jendela kamar sengaja kubuka lebar. Sejuk angin pagi menerpa wajahku. Cericit burung - burung di rimbunan pepohonan meramaikan pagi. Lalu aku duduk di depan meja rias. Dalam cermin bayangan diri berhadap–hadapan denganku, jelas nyata terbelenggu. Belenggu itu telah mengurungku enam kali musim dingin semenjak aku tiba di  Warsawa.
Musim demi musim silih berganti, menggulung waktu tanpa henti. Baru kali ini aku menikmati indahnya musim semi selayaknya warga Goclaw pada umumnya. Deretan bunga – bunga cantik mulai bermekaran di taman kota. Para pejalan kaki memadati pusat keramaian membaur dengan orang yang bersepeda. Terlintas bayangan Faza seperti apa saat ini, setelah tujuh tahun berlalu. Bagaimana pula dengan Ilyas?

***

Penerbangan Jakarta - Jambi siang ini lancar. Siang begitu terik dan berdebu. Matahari tepat di atas kepala menyengat kulit. Taksi berhenti di mulut gang. Jalan menuju perkampungan itu agak sempit dan kumuh.
Ada bangunan baru dirobohkan, sedang anak – anak kecil berlari – larian tanpa memakai alas kaki. Debu bertebaran di mana – mana. Mereka tidak menghiraukan bahaya mengancam diri. Anak – anak hanya menikmati kebebasannya. Orang Melayu menyebutnya budak – budak, ai begitu kasar sebutan itu. Mengisyaratkan pada jaman penjajahan dahulu.
Tidak bisa kubayangkan dengan kondisi seperti itu anakku tumbuh besar. Antara peluhan keringat dan butiran air mata membaur membasahi kedua pipiku. Aku berdiri tidak jauh darinya, saat Wisnu menanyakan alamat mereka pada seseorang. Ia menunjuk pada sebuah rumah di bawah rimbunan pohon pinang merah. Bukan sebuah rumah, namun mirip bedeng atau gubuk sederhana. Jelas tak memenuhi standart kesehatan.
Dari arah dalam terdengar suara seorang wanita mempersilahkan kami masuk. Perasaanku semakin galau. Jantungku berdetak lebih cepat. Rumah kecil itu berdinding dari potongan kayu bekas. Langit – langit rumahnya tidak tertutup tripleks terlihat genting dari dalam ruangan. Jendela tak bertirai.
Kami hanya duduk di atas tikar usang. Belum usai aku menamatkan sekeliling rumah. Seorang anak laki – laki  masuk dan mengucap salam pada kami. Ia tersenyum ramah. Di tangan kanannya membawa seember air. Kelihatan berat, airnya tumpah. Ia merapikan tumpahan itu dengan selembar kain usang. Kemudian, ia mencium tanganku juga Wisnu yang sedari tadi mengamati gerak – geriknya. Hatiku menggelegar, saat suara wanita dari arah dalam memanggil anak kecil itu dengan nama Faza.
“Maaf, rumah kami kotor, Bapak, Ibu.“ sapanya santun. Kemudian, ia membawa nampan berisi dua gelas air putih. Diletakkannya nampan di meja, lalu ia duduk tepat di depanku.
“Nama kamu siapa?“ tanyaku antusias.
“Faza, Bu.“
“Usiamu?“
“Tujuh tahun.“  Ia tersenyum, nampak lesung pipit menghias kedua pipinya. Senyumnya mengingatkan aku pada almarhum ayah.
“Bapak ada keperluan apa?  Ayah belum pulang dari pangkalan ojek. Sedang mamak masih sakit belum bisa mengurut,“ katanya dengan logat Melayu.
“Hah? Ngojek? Ibumu tukang urut?“ tanyaku terperanjat. Tak bisa aku bayangan lelaki berkulit putih itu kini jadi tukang ojek. Seribu pertanyaan beruntun memenuhi otakku. Wisnu menggenggam erat tanganku seakan mengisyaratkan agar aku tidak lepas kontrol. Padahal yang duduk di tegel ini adalah ibu yang telah melahirkannya. Aku ingin memeluknya, tapi hanya tertahan dalam hati. Wisnu membaca pikiranku lalu aku bergegas meninggalkan mereka.

***

Malam itu Ilyas datang menemui kami. Ia nampak lebih tua dari usianya. Kini kulitnya agak gelap. Namun tidak terlihat penampilannya seperti tukang ojek pada umumnya. Kemeja biru kotak – kotak berpadu dengan jeans belel terlihat rapi dan sederhana. Tak ada kerinduan dalam sorot matanya begitu melihatku. Hanya jabat tangan tanpa menanyakan kabar. Ia mengingkari Wisnu adalah sahabatnya. Wisnu sengaja memberiku peluang untuk berbicara banyak dengannya. Ia membiarkan waktu berjalan tanpa sepatah kata. Sesekali matanya menatapku, lalu membuang pandangannya ke arah lain. Suasana terasa kaku.
“Yas, kenapa Faza tidak  kau bawa?“ tanyaku memancing pembicaraan.
“Kamu banyak berubah, Yas.“ 
Iyas hanya diam tanpa memandangku.
“Besok sore, kami kembali ke Jakarta,“ kataku datar.
“Ajak Faza ke Bandara. Aku ingin memeluk dan menciumnya.“
“Hmm…“ Ia mendehem pelan dan memandangiku.
“Yas?“  suaraku agak serak.
“Yas, tanyalah apa aja padaku.“
“Please! Jangan kau hukum aku dengan kebisuan ini.“ ucapku dengan putus asa. Ia tidak menjawab. Ia menyalakan sebatang rokok untuk menenangkan suasana hatinya. Itu kebiasaannya sedari dulu, saat aku berkenalan dengannya.
“Setahun yang lalu ayahku wafat. Sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya, memohon maaf pada kita atas kesalahan yang lalu,“ ucapku terbata – bata. Aku tak bisa menahan air mata yang membuncah menghalangi pandanganku. Ekspresi wajahnya masih datar dan dingin. Mungkin masih ada dendam yang membara dalam dadanya.
“Ra, hapus air matamu. Aku memaafkannya dan turut berduka cita, semoga arwah beliau diterima Allah SWT.“ ucapnya sambil mematikan putung rokok.
“Bagaimana dengan ibumu?“ tanyanya.
“Ibu? Ibu mulai sakit –sakitan semenjak ditinggal ayah.“
“Yas, waktuku nggak banyak. Lusa aku kembali ke Warsawa. Atas ijinmu aku akan lebih sering menengok Faza.“
 “Aku ingin menceritakan padamu sejak perpisahan kita. Banyak duka di negeri orang, cuma kalian berdua semangat hidupku. Aku berharap....,“ 
“Tak perlu kau teruskan, “  Ilyas memotong kalimatku.
“Semenjak kutahu kau berada di Polandia dan almarhum mengharamkan segala bentuk komunikasi di antara kita. Maka kukubur semua impian kita. “
“Aku putus asa, lalu Khairani hadir. Ia dan keluarganya banyak menolongku. Menjaganya saat aku kuliah dan mencari kerjaan. Aku ingin juga menceritakan semuanya, tapi untuk apa lagi?“ tanyanya dengan nada tinggi.
“Maafkan aku, Ra.“ ucapnya menggenggam kedua tanganku erat–erat. Aku dapat merasakan jari–jarinya terasa dingin seperti es. Aku diam tidak meningkahi. Menunggu ia melanjutkan ceritanya.
“Lihat dirimu, diriku, begitu banyak perbedaan. Bahkan aku hampir tak mengenalimu lagi.“
“Bagiku sekarang sebaiknya kita jalani hidup masing–masing.“
“Biarkan kami hidup seperti ini adanya, tapi damai!“ ucapnya pelan nyaris tak terdengar.
“Untuk hari ini dan seterusnya biarlah Faza hanya mengenal Rani sebagai ibunya. Kelak ia dewasa dan mengerti hidup ini, akan kujelaskan siapa ibu yang sebenarnya.“ lanjutnya .
“Biarpun Rani buta, tapi hatinya tulus mencintai Faza seperti anaknya sendiri,“ katanya meyakinkan diriku.
“Temui Faza beberapa tahun lagi. Biarkan ia yang memilih siapa yang menjadi ibunya. Terima kasih, Ra…,“ ucapnya sambil menjabat tanganku seakan mengakhiri pembicaraan. Aku menatap kepergiannya tanpa suara.
Hatiku menjerit. Andai ia tahu betapa aku juga menderita karena perpisahan itu. Kuhela nafas panjang. Aku berusaha tegar di hadapannya, meski hatiku kosong dan kecewa.

***

Sisa malam berlalu dengan tangisan tanpa air mata. Sepertinya air mataku sudah mengering. Rasa sesak mengaduk isi dadaku. Impian memakai gaun pengantin merajut kebahagiaan bersamanya pupus sudah. Ia memilih Khairani sebagai pendamping hidupnya dan ibu bagi Faza. Mungkin sejak malam ini, aku harus belajar tidak memimpikan apa pun atas nama kebahagiaan.
Mendung menggayut di langit. Aku masih bersimpuh dekat batu nisan bertuliskan nama ayah. Tanah itu masih memerah meski setahun telah berlalu ayah berpulang. Sepucuk surat darinya masih dalam genggamanku. Diatas pusara ayah aku membacanya . . .
Manusia hanya tahu kebaikan sendiri,
 dan kadang tak mau mengakui kesalahannya.
Buatku yang terbaik adalah menganggap dan mengakui,
semua orang benar dan baik, tentunya alasannya masing – masing.
Dan kita harus mampu mencari kebenarannya.
Sehingga tak pernah ada yang salah.
Yang salah adalah yang kita lakukan kemarin,
dan itu nggak boleh terulang.

Terima Kasih Zahra,
Denganmu, aku mengenal arti cinta.
                                              _ Ilyas _

Kutabur bunga memenuhi seluruh tanah permukaan makam ayah. Ini yang terakhir kalinya aku lakukan. Setidaknya untuk beberapa tahun lagi aku akan kembali disini dan membawa Faza, buah hatiku.  Awan putih berarak menggeser mendung yang memenuhi langit. Aku ingin menghadirkan butiran air mata itu agar puas beban batinku tertuang di tempat sunyi ini. Wisnu duduk tak jauh dariku. Dari balik kacamata hitamnya, aku merasakan arti tatapan matanya itu. Wisnu memelukku dan kepadanya meledaklah semua ungkapan hati yang sedari tadi tertahan dalam kerongkongan, lalu lepas.

                                                 (S E L E S A I )
***************************************************************
Catatan: Buat Bang Iyas, seorang tukang ojek yang setia dan baik hati.
Catatan : Dimuat di harian Jambi Independent Post, Minggu 9 Mei 2010








Minggu, 08 Mei 2016

Kumpulan Cerpen DdR


Wajah Dibalik Kerudung
Karya Arie Rachmawati


Ia duduk santun. Wajahnya menunduk, sebagian kerudung putih berbahan satin jatuh bergerai menutup sebagian wajahnya. Hanya tampak sebagian hidung bangirnya. “Subhanallahu, cantik sekali makhluk ciptaan-Mu Ya Rabb,” gumamku dalam hati .Tanpa make-up bahkan polesan lipstik pun auranya sudah tampak.
Hanya tinggal beberapa laki-laki berumur dalam masjid, ba’da sholat jum’atan. Aku masih tak beranjak dari tempat bersilaku. Nikmat dzikir masih enggan aku akhiri. Ia berkata lirih hingga aku yang berada didekatnya pun nyaris tak mendengar percakapannya dengan bapak tua yang memakai kain sorban itu. Sepertinya lelaki itu yang dituakan dalam majelis itu. Lalu aku memperhatikan dengan seksama proses singkat yang terjadi siang itu. “Asy-hadu Anlaa IlaahaIllalah, Wa-Asyhadu Anna Muhammadan Rasullah.“ Dua kalimat syahadat itu diucapkan dengan pelan dan khusuk sekali. Ia menyeka air mata yang menetes di kedua pipinya. Langit biru jernih dan bertasbih.
Siang yang terik seketika redup, semilir angin berhembus melalui tiang- tiang masjid terasa menyejukkan. Hari itu aku merasakan hari Jum’at yang berbeda. Ini hari Jum’at-ku yang kedua selama di kota Jambi, Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Masjid Agung seribu tiang itu menjadi saksi bisu satu lagi umat-Nya menjadi mualaf. Ia mualaf yang terindah menurutku. Sejak itu tiba-tiba ia, perempuan mualaf itu memenuhi pikiranku. Aku tak mengenalnya tetapi hampir setiap aku berada di suatu tempat sekelebat aku melihat bayangnya. Beberapa hari yang lalu aku melihatnya di toko buku. Di rak buku khusus agama Islam, aku melihatnya. Ia duduk memilih beberapa buku tentang Islam. Kemudian hari ini aku melihatnya duduk di sebuah kedai kopi, depan pangkalan taksi. Ia duduk tak jauh dariku, hingga aku bisa melihat seraut wajahnya dengan jelas dari arah depan, meski kadang ia suka menunduk untuk membaca buku. Sepertinya buku itu yang dibelinya tempo hari. Benar-benar sebuah pemandangan yang tak boleh dibiarkan begitu saja. “Subhanallahu, cantik nian,“ gumamku. Tanpa terasa sebuah cabe tertelan masuk tanpa permisi menyangkut diteggorokan.
Gleeek...,segelas air putih mengguyur masuk untuk segera digiling. Suara sendawaku, tiba-tiba menarik perhatiannya. Diletakkan buku itu. Seluruh pandang matanya tertuju padaku. Sepertinya ia menahan tawa, saat melihat reaksi spontanitasku akibat suara aneh tak diundang itu. Lalu ditutupnya wajahnya dengan buku itu, “Tuntunan Shalat Lengkap.“
Seperti busur anak panah langsung tepat mengena jantungku. Serasa ditampar tangan bapak. “Astaqfirullahalladzim...,” desahku malu. Aku yang mengaku Islam sejak lahir namun sholatku hanya seingatnya saja. Bahkan sholat Jum’at pun sering aku lalaikan. Baru dalam kunjungan tugas ini, tiba-tiba ada panggilan yang mengantarkan aku luruh dalam ampunan dosa. Dosaku menggeliat. Aku duduk melepas kaos kaki dan memasukkan dalam lubang sepatu. Saat menaruh di tempat penitipan sepatu dan sandal, aku melihat perempuan mualaf itu. Adzan magrib berkumandang. “Allaahu Akbar...Allaahu Akbar “ Muazin bertubuh kurus itu ternyata bersuara lantang. Aku menyimak dan membalas seruan adzan itu dalam hati. “Ya Allah, lagi-lagi perempuan itu menarik perhatianku,“ gumamku sendiri. Begitu indah pemandangan itu, saat ia membaca doa setelah berwudhu dengan bantuan buku itu. Buku yang kemarin menutupi wajahnya. “Subhanallahu...“

Usai shalat berjama’ah aku beranjak, kali ini dzikir sengaja aku tunda. Aku melihat sekeliling dan ia pun tak tampak di barisan shaf kedua. Aku gelisah. Bergegas menuju halaman masjid penuh pepohonan. Aku meninggalkan masjid menuju tempat penginapan tak jauh dari tempatku berdinas. Kulewati motel itu, aku berharap ia duduk di kedai kopi depan pangkalan taksi, seperti kemarin. “Nasi goreng ikan asin, satu,“ pintaku pada pelayan kedai kopi itu. Sebuah teh manis hangat dengan alas tatakan piring kecil hadir dengan kepulan asap tepat di depanku. Menunggu nasi goreng, aku membalas beberapa SMS dari rekan kerjaku.
“Nasi goreng ikan asin, satu, Bang,“ ucap seseorang tak lain adalah ia perempuan mualaf.
Dadaku tiba-tiba bergemuruh. Sekilas mata kami bertemu dan segera mengalihkan pandangan. Sajian nasi goreng ikan asin itu belum kusentuh. “Ya Allah, penyakit apakah ini tiba-tiba merajam seluruh tubuhku,” desahku. Kini giliran mataku sengaja tak kuperlihatkan bahwa aku mulai tertarik padanya.
“Assalamualaikum...tempat ini kosong, Bang?” katanya menyapa. Aku mengangguk tanpa bersuara, bahkan menjawab salam pun suara tertahan di dahan kerongkongan. Ia kembali menekuni buku yang lain. Aku duduk berhadapan dengannya. Kuperhatikan alisnya yang lebat, hidungnya yang bangir. Namun aku melihat kejanggalan, seperti sebaris kumis tipis nan lembut. Mirip adik perempuanku yang memiliki kelebihan seperti itu. Kutepis ragu itu. Lalu ia melahap dengan pelan-pelan nasi goreng ikan asin itu. Aku pura-pura membalas SMS dan browsing internet dari handphone-ku. Dan akhirnya ia selesai duluan. Sengaja aku menyusulnya. Ia menoleh kebelakang saat bayanganku menyamai langkahnya.
“Boleh aku berkenalan denganmu?“ ucapku mengulurkan tangan. Ia membalas dengan satu anggukan.
“Siapa namamu? Aku Musliman,“ jawabku singkat.
“Lia,“ jawabnya menunduk.
“Duh..., kenapa ia sering banget menunduk mirip gadis-gadis tempo dulu,“ gumamku semakin penasaran. Langkah kami berdua mengarah ke terminal angkot yang terletak di tengah kota. Terminal Rawasari.
“Abang ndak mau kemano? Kami hendak ke Thehok,“ tanyanya dengan dialek Jambi.
“Ya ya sama...,” ucapku gagap. Dalam hati aku bertanya daerah mana itu. Aku membiarkan langkahku selaras dengannya. Dalam angkot berisik sekali musik berirama khas Padang disco remix benar-benar membuatku jengah. Ia tersenyum manis. “Abang bukan orang sini, yo?” tanyanya tersenyum. Aku mengangguk, malu. Untung saja aku sendirian. Apabila teman-temanku mengetahui bakalan aku dibuat bulan-bulanan. Seorang playboy sepertiku bisa luluh pada seorang perempuan biasa mengalahkan Angie desainer interior yang seksi itu, atau gemulainya penari latar April atau si imut Esti yang terakhir telah membuatku klepar-klepar. Menurutku Lia, perempuan mualaf itu lebih memikat dengan kerudungnya.
Langkah kami berhenti pada rumahnya sederhana hanya terbuat dari papan tua. Berdempetan dengan tetangganya. Mereka menyebutnya rumah bedeng. Begitu masuk ruang tamu yang sempit tanda salip sudah terpampang di dinding. Rupanya ia sebelum mualaf adalah pemeluk agama yang taat. Tak pelak lagi kini ia menjadi mualaf begitu semangat mempelajari agama tauhid. Kagumku kian beralasan. Aku hanya mampir dan menghargainya saat menyuguhkan segelas air putih dingin. Malam kian menjelang dan aku berpamitan. Kami bertukar nomor handphone. Yang aku ingat saat ia menemani menunggu angkot yang akan membawaku kembali ke terminal angkot Rawasari, “Bang, terima kasih mau berkenalan dengan kami. Nanti ajari kami tentang Islam yo?” ucapnya ramah. Aku hanya mengangguk saja lalu aku masuk angkot dan keesokan harinya aku sudah meninggalkan Jambi. Dua minggu di Jambi aku menemukan sesuatu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku jatuh cinta padanya.

Jakarta masih bergemul macet dan polusi. Demo di Bundaran Hotel Indonesia adalah pernak-pernik kehidupan di Jakarta menambah keruwetan lalu lintas. Seperti itu gambaran suasana hatiku, hati seorang penabur pesona yang kini hilang gairahnya untuk berkencan dengan siapa pun. Setiap ada waktu luang aku jelajahi toko buku. Aku mencari bermacam-macam buku agama. Hal itu tentu membuat sebagian rekan kerjaku terbengong-bengong. “Kenapa lu, Man? Aneh!“ tanya Remmy mengacak-acak kantong plastik berisi buku-buku agama. “Tadi si Esti bolak-balik nelpon nanyain kenapa handphone lu nggak aktif, emang kenapa sih?“ tanya Henri bertubi-tubi. Dan aku malas menjelaskan meski mereka tak hanya Henri terbengong-bengong atas sikapku.
“Nggak kenapa-kenapa, biasa aja. Cuma pingin belajar agama doang, ada yang salah?“ jawabku sekenanya.
Aku tiba-tiba ingin mendalami Islam secara sadar diri sebagai seorang yang dilahirkan oleh orang tua muslim dan mereka memberiku nama Musliman. Jadi kini sepatutnya aku menjadi seorang muslim sejati. Sekelebat senyum Lia terlintas dalam halaman buku yang aku baca. Menelpon? Berkirim SMS? “Ah..., kenapa tak kulakukan untuk menanyakan kabar,” gumamku menemukan ide. Aku tulis pesan pendek hanya menanyakan kabar, namun detik berlalu tanpa balasan. Aku check report, ternyata terkirim. Aku menunggu, serasa resah dan sepertinya awan di langit ikutan gelisah. Layar handphone-ku kosong, bukan darinya yang memenuhi inbox- ku. Baru kali ini aku merasa ditelanjangi oleh seorang perempuan. Perempuan mualaf itu.
Ini hari kedua aku menanti balasan SMS-nya, nyaris aku dibuatnya gila. Ketika sore sepulang kantor, menunggu Commuter Lines di stasiun Sudirman, ada panggilan tak terjawab. “Subhanallahu...dia,“ seruku bahagia. Aku menelpon balik. Obrolan singkat itu terputus karena kereta dari arah Stasiun Tanah Abang datang membawaku ke gelombang arus manusia berebut tempat duduk. Biasa, tapi kali ini tidak biasa karena handphone-ku lepas dari genggaman tanganku akibat terdorong tangan-tangan jahil hingga terinjak kaki-kaki tak bertanggung jawab. Handphone-ku remuk...kreeek, byaaar !! “Astaqfirullahu...,“ desahku pias.
Sejak aku mengenal Lia, tiba-tiba kalimat menyebut nama Allah itu menjadi bagian dari keseharianku. Rasa sabar dan pasrah menyelinap menjadi bagian dari kehidupan masa lalu yang telah lama aku tinggalkan, kini hadir kembali menyapa diri. Masa saat menjadi murid kesayangan Ustadz Daffi. Aku sudah lama tak melafadzkan kalimat-kalimat suci itu kini menjadi bagian penutup dari serangkaian doa-doa yang kumunajahkan. Lia dan Lia memenuhi pikiranku. Setiap memikirkannya aku semakin dekat berdialog dengan-Nya.
“Apa ini tanda dari pertanyaanku selama ini, siapa jodohku?“ tanyaku dalam hati sebelum kututup doa dengan amin. Mungkin sudah saatnya aku melabuhkan hatiku kepada satu hati perempuan, dan sepertinya aku terlalu banyak berharap pada perempuan mualaf itu. Kuhubungi nomornya dengan memakai handphone pinjaman, ternyata ia pun bertanya kenapa pembicaraan itu terputus. Begitu terperanjatnya aku, saat ia mengatakan sedang berada di Jakarta hingga akhir pekan. Tentu aku meluangkan waktu untuk menemani dan jadwal kencan dengan April aku tunda bahkan kalau perlu semua jadwal itu terhapus dari agendaku. Waktuku untuk Lia. Pucuk di cinta ulam tiba, mungkin pepatah lama itu yang kini berlaku untukku. Sore itu sepulang jam kantor, aku menemui Lia. Ia nampak beda sekali, dimataku kian menarik hati. Sore nan indah.

Cinta datang tak pernah diundang, pertautan hati kian merekah. Aku yakin Lia-lah pelabuhan hatiku yang terakhir. Walau pun hubunganku ini tanpa sepengetahuan sahabat terdekatku, tentunya membuat mereka semakin bertanya, ada apa denganku? Aku sengaja merahasiakan dan akan membuat surprise buat keluarga dan mereka, setelah semuanya dalam genggaman tanganku. Merajut jalinan asmara dengan berdiskusi agama, sungguh nikmat. Hingga suatu malam di cafe, sementara malam beranjak tenggelam dalam keheningan. Percakapan semakin serius, terlebih saat Lia menceritakan proses kemualafannya. Aku kagum. Namun kemudian, aku terperanjat saat Lia menceritakan siapa dirinya. Tiba-tiba kepalaku menjadi pusing bertaburan bintang-bintang kecil memutari kepalaku. Pandang mataku pun menjadi gelap dan......gubraaakk! Dunia seakan menertawakan diriku saat aku siluman dan Lia berada dekat didekatku. Tangannya menggenggam tanganku sangat erat. Serasa aku merasakan sesuatu yang aneh menjalari tubuhku. Aku menarik tanganku itu. Lia merasakan sikap aneh tingkahku. Sungguh suatu keadaan yang pelik, aku pun tak bisa memungkiri kata hatiku.
Jujur sejak mengenal dia, aku semakin rajin mengenal dan mempelajari tentang Islam. Namun aku tak bisa meneruskan hubungan ini walau semula aku yakin inilah pelabuhan terakhirku. “Lia, maafkan aku, aku tak bisa menerima cintamu kepadaku, kita berteman saja. Aku masih normal, dan mencari calon pendamping hidup yang semestinya. Maafkan aku bila kata-kataku menjadi kacau begini...,” ucapku terbata- bata. Sebelum kata-kata itu berakhir, Lia sudah meninggalkan ruang sempit ini dan aku termanggu seorang diri. Sementara malam berjalan menuju pergantian waktu. Air mataku menetes perlahan, ini sebuah hidayah-Nya mungkin juga teguran-Nya atas tingkah lakuku selama ini. “Wajah dibalik kerudung itu akan kusimpan dalam kenangan batinku. Terima kasih ya Allah SWT,“ gumamku pelan.

SELESAI

Sabtu, 07 Mei 2016

Kumpulan Cerpen DdR


DANDELION DALAM RINDU
Karya Arie Rachmawati



Syira bangun tidur. Bola matanya belum penuh berpijar. Ia masih mengucek- ucek kedua matanya. Rambutnya pun acak-acakan. Seperti biasa, tangan kirinya membawa boneka kelinci berwarna abu-abu, kumal dan bau pesing. Sedang tangan kanannya memegang botol susu. Pemandangan rutin yang biasa dilihat Widya sepulang sekolah.
“Kakak...kakak Dya!” Panggil Syira manja, menghampiri Widya. Segera Widya berlari menghindar menuju kamarnya. Ia paling tak suka bila sepulang sekolah, adik satu-satunya itu selalu bergelayut manja. Apalagi dalam keadaan bau. Gadis remaja kelas dua SMP itu memasang wajah tak bersahabat, hingga adiknya merasa ketakutan.
“Huuhhh..sebeel!” keluh Widya membanting tubuhnya di atas spring bed.
“Kakak...kakak Dya!” Tangis Syira pecah. Keadaan seperti itu biasanya diatasi oleh Bibi, pengasuh Syira. Gadis kecil berpipi tembem itu akan diam bila digendong Bibi dan diajak bermain. Namun kali ini, raungan tangis itu ternyata tak berhenti, malah semakin menjadi. Dalam kamarnya, Widya mendengar jerit tangisan adiknya. Meski dalam hati Widya merasa iba, namun jadwal ulangan dan setumpuk pe-er membuat kepalanya terasa berat.
“Ah...andai Mama masih ada,” desahnya. Lalu, tiba-tiba sudut matanya berair. Cairan bening itu mengalir perlahan membasahi kedua pipinya. Menangis.
Malam semakin larut, tetapi pe-er belum kelar. Perasaan malas menyelimuti hati Widya. Sudah dua hari ini Widya lost contact dengan Aryo teman facebook yang baru sebulan dikenalnya. Beberapa hari terakhir ini Aryo menghilang, akunnya tertutup. E-mail dan nomor HP-nya pun belum sempat ditanyakan. Kehadiran Aryo jelas-jelas membuatnya kepincut bukan karena sosok foto profilnya berukuran close- up terpampang dengan senyum memikat, bukan karena itu. Justru karena terakhir chatting, Widya menemukan titik chemistry dengan Aryo, yaitu tentang dandelion, si bunga rumput kering yang biasanya tumbuh di padang ilalang atau semak belukar. Benar-benar bunga yang terlantar. Widya tidak suka bunga itu, baginya tak menarik.
Tapi anehnya Papa dan adiknya Syira, bahkan almarhum mamanya sangat menyukai.
Awal kisah perkenalan almarhumah Mama dan Papanya berawal dari dandelion itu. Widya pernah mendengar cerita itu dari Tante Erin, adik papanya. Dan biasanya dalam sebulan Papanya pasti akan mengajaknya ke padang ilalang berada di sebuah lahan yang luas berada di pinggiran kota.
Menjelang sore, hujan menguyur kota. Terasa dingin menyejukkan bumi, meski diawali cuaca yang terik. Aroma khas tanah basah naik di permukaan. Beberapa hari terakhir ini, udara gerah membuat Syira semakin rewel karena biang keringatnya mulai memenuhi dahi dan sekitar dadanya. Hujan menjadi alasan menunda jadwal mengunjungi serumpun dandelion, tergeser dengan kegiatan bermain dengan teman-teman Syira. Kemudian Widya kembali menikmati akhir pekan dengan facebook atau twitter-nya. Sementara Pak Basuki, Papa mereka duduk di ruang tengah tak jauh dari Syira bermain di lantai.
“Hujan turun lagi,” gumam Widya. Ia melempar bantal berwajah Snoopy ke udara. Riang hatinya seraya berujar, “Hip hip huraaaa.”
“Papaaaaa....ayuk kita ke Gramedia ! Ada yang mau dibeli...ayuuk dong, Pa,” ajak Widya menarik tangan papanya yang tengah menikmati selembar koran.
“Huussh...ini apa-apaan sih?” balas Papa setengah terkejut.
“Anterin Kakak ya, Pa...please,” rajuknya. Mata Papa menuju pada Syira yang tengah asyik bermain dengan Faya, Raisa, dan Kirani. Mereka adalah empat sekawan masih balita. Hanya Faya yang sudah bersekolah TK-B. Gadis berambut panjang dan berponi itu lebih tua di antara Raisa, Kirani, dan Syira. Faya berperan seperti kakak mereka. Sedang Raisa dan Kirani seumur dengan Syira. Mata Widya memandang penuh iri. Meski ketiganya belum bersekolah, keakraban sudah terjalin. Setiap berkumpul dan berpisah selalu diawali dengan hug and kiss, seperti anak- anak ABG dalam sinetron. Bahasa mereka seperti bahasa Planet Pluto, cadel dan banyak istilah aneh. Ajaibnya, mereka saling mengerti ucapan masing-masing. Itu yang membuat Widya semakin cemburu dan iri, selain semua orang sayang dan gemas pada Syira.
Mata Widya berbicara lagi, “Lihatlah mereka bersahabat. Bagaimana dengan kamu ? Tak satu pun teman sekolahmu bermain ke sini. Mana?” Suara-suara gaib itu seakan mengejeknya.
“Ke Gramedianya entar aja ya, Kak. Lihat adik lagi asyik bermain, kasihan kalau waktu bermainnya dihentikan tiba-tiba,” ucap Papa.
“Iya deh. Kakak mengalah lagi, selalu mengalah teruuuus,” balas Widya cemberut. Widya masih merajuk pada Papanya dengan mimik merengek menahan rasa kecewa.
“Kakaaak, nggak boleh begitu. Adikmu masih kecil dan belum merasakan kasih sayang Mamamu. Biarkan ia menemukan dunianya, karena itu kebahagiaannya saat ini. Anak Papa harus jadi Kakak yang baik untuk adiknya ya, sayang.”
Widya beranjak meninggalkan ruang tengah kembali ke kamarnya. Warna violet berkombinasi baby pink menyejukan suasana kamar namun tidak untuk hati Widya saat ini. “Syira..Syira..Syira melulu,” umpatnya dalam-dalam.
Klik..klik..klik bunyi pintu terkunci. Widya duduk merosot di bawah pintu. Hatinya bergerumuh, dadanya naik turun, air matanya tumpah. Hanya itu satu-satunya pelampiasan kemarahannya.

Dekstop notebook milik Widya penuh serumpun dandelion. Itu picture kiriman dari Aryo. Layar monitor itu seperti mengajaknya untuk segera beranjak meninggalkan rasa iri dan cemburu yang tak berkesudahan. ID dan password Yahoo Messeger berproses. Sesaat beberapa pesan dalam offlines memenuhi layar monitor, di antaranya ada pesan dari Aryo, menanyakan tentang cerita dandelion yang pernah dijanjikan. Aryo suka bunga rumput kering itu. Aryo juga bilang suatu saat nanti akan mendapati sebuah kenikmatan saat melihat bulu-bulu dandelion itu berterbangan ditiup angin. Ia menceritakan seribu cerita tentang dandelion, saat berada di sebuah taman Kinryu, Saga. Ketika dulu bersama kedua orang tuanya yang bertugas di negeri matahari terbit. Widya melupakan marahnya dan kembali berselancar chatting dengan Aryo. Ia berharap Aryo online.
“Sore..Dya,” sapa Aryo disusul ikon <ding> “Sore juga..apa kabar?” Balas Widya.
“Kabar baik....kamu?. Gimana kamu jadi ke padang ilalang dan mendapatkan dandelion itu.”
“Nggak..!!!”
“Lho kok, nggak?!! Kemarin ceritamu begitu semangat banget.”
“Ohya...aku cerita seperti itu, kapan?”
“Hmm..terakhir kita chatt, kira-kira sebulan lalu.”
“Oooohhh....lama juga. Masih ingat?“
“Iya dong, obrolan kita tentang dandelion pasti aku ingat.“
“Iya tentang dandelion...aku ingat,“ tulis Widya pura-pura ingat.
“Truuuuus....ceritanya mana?“
“Aryo, aku nggak suka dandelion.”
“Nggak suka? Tapi ceritamu seolah kamu suka dandelion,” goda Aryo.
“Maaf..!”
“Tadinya rencana sih hari ini pergi, tapi batal.”
“Kenapaaaa....?”
“Disini lagi hujaaaaaaan gede...be-te.”
“Hujan..? Be-te?”
“Iya, tapi aku lagi bener-bener be-te”
“Haaa haaa..be-te kok dipelihara sih, sana buruan pergi”
“Pergi kemana?“
“Kemana aja...buang rasa be-te-mu itu.“
“Emang di tempatmu nggak hujan?“
“Oh?! Di tempatku terang benderang...“
“....terang benderang...iri aku, Aryo“
“Terang benderang maupun hujan bisa buat kita semangat diri, Dya.“
“Maksudmu?“
“Ya kamu jangan jadikan alasan hujan lalu be-te, buatlah saat hujan turun kamu bisa menikmati. Saat terik pun bisa kita nikmati.“
“Ya, tadinya mau ke padang ilalang, lalu hujan. Aku mengajak Papa ke Gramedia, tetapi...“
“Tetapiiii...kenapa?“
“Adikku lagi asyik main dengan geng-nya.“
“Lho apa hubungannya?“
“Papa nggak mau mengusik adik, Papa terlalu sayang sama Syira“
“Syira? Adikmu..? Iri sama adik sendiri ?“
“Berapa sih umur adikmu, Dya?“
“Tiga tahun lebih deh..kenapa?“
“Ha ha ha...“
“Kenapa tertawa...?“
“Nggak apa-apa cuma geli aja, iri tanpa alasan kuat.“
“Mungkin karena Syira lebih mirip almarhumah Mama dan suka dandelion,“ tulis Widya menjelaskan alasan irinya.
“Almarhumah? Mamamu sudah meninggal dunia? Mamamu suka dandelion?“
“Yup!“
“Oh! Sama seperti adikku...dia juga sudah tiadaL
“Oh!”
“Widya, maaf aku mau cabut kuliah dulu yaa. Thanks cu next time dear.”
“Sebentar...Kak!”
“Ya..!!”
“Aku janji akan membawakan cerita dandelion lebih seru dari ceritamu.”
Good !! Aku tunggu ya dear. Wokeeey...cu,” pamit Aryo dengan ikon goodbye.
“Ok deh..cu too!” Balas Widya dengan ikon yang sama. Tak lama kemudian ID Aryo offline dan Widya tak berniat membalas chatt teman sekelasnya yang rata-rata mempunyai geng. Ia klik close lalu segera sign out, menutup layar monitornya.

Beda dengan Syira, adiknya yang balita itu selalu ceria dengan celotehnya dan ia suka mewarnai buku-buku gambar berbagai karakter kartun Disney. Mungkin karena itu Syira lebih riang meski belum merasakan dekapan seorang ibu. Warna hatinya seperti warna langit dan pelangi, penuh seribu warna-warni. Widya keluar dari kamarnya dan menuju beranda depan. Hujan masih turun meski derasnya tak seperti awal permulaan jatuhnya dari langit. Jatuhnya hujan ia amati dengan saksama seperti ketukan birama beraturan. Dan Widya yang awalnya tidak menyukai hobi Papa dan adiknya itu, kini malah menunggu kesempatan itu. Ia ingin mendapatkan kenikmatan seperti yang digambarkan Aryo, teman maya-nya yang terpaut jauh usianya. Aryo yang mengaku mahasiswa semester dua Teknik Kimia UGM, telah banyak membuka pikirannya.
Rinai hujan itu membawa lamunan ke masa kecil, sesekali mamanya membolehkan ia bermandi air hujan dan setelah itu ia akan mandi air hangat lalu diberinya obat demam sebagai pencegahan jatuh sakit. Bermain air hujan adalah kesempatan yang ditunggu-tunggu, walau tidak setiap saat turun hujan, Widya diperbolehkan mandi air hujan. Mamanya tahu kondisi terbaik Widya untuk bermain air hujan. Usai itu biasanya Mamanya akan mendekapnya dalam balutan kasih sayang, menghiburnya dengan beberapa dongeng anak-anak hingga terlelap. Terkadang Mama akan menyuguhkan sop bola-bola tahu dan secangkir susu cokelat untuk menghangatkan tubuh. Benar-benar seperti dalam dongeng anak-anak yang penuh keceriaan dan kasih sayang. Widya merasakan kasih sayang yang utuh. Meski Papanya tidak berada bersama mereka. Mama merangkap tugas sebagai Papa yang sedang menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Saga, Jepang.
Kini keadaan berbalik, Syira merasakan penuh kasih sayang Papanya, saat dulu keadaan seperti itu sangat dinantikan oleh Widya. Dilihatnya Syira masih bermain dengan Kirani, sepupunya, putri Tante Erin. Sedang Faya dan Raisa sudah pulang. Mungkin karena keduanya seumuran kadang tidak ada yang mau mengalah bila berebut sesuatu. Namun itu menjadi penyemarak suasana di rumahnya yang berpenghuni empat orang. Kedatangan Tante Erin dan keluargnya adalah penghibur Widya, lebih-lebih kelucuan Kirani dengan bibir tipisnya, mencuri perhatian Widya.

Seminggu berlalu, Widya sangat menunggu akhir pekan untuk turut Papa dan adiknya mengunjungi lahan luas di pinggir kota yang di penuhi ilalang dan dandelion. Selintas seraut wajah Aryo tersenyum dan nanti akan dibawanya cerita tentang dandelion. Wajah Widya pun secerah langit pagi. Sarapan pagi semangkuk bubur ayam dan segelas susu telah menjadi energi untuk menjelajahi ladang ilalang. Justru Syira masih terlelap tidur, dan Papanya enggan untuk membangunkan. Bubur cokelat milik Syira sudah lebur bersama angin dan menjadi dingin. Susu satu botol tersaji di dalam rendaman air hangat. Papa masih duduk di samping Syira tidur. Papa asyik berkutik dengan notebook-nya, saat Syira mulai terjaga dari mimpinya.
“Adik sudah bangun, pipis dulu ya, sayang,” ajak Papa lembut. Syira hanya mengangguk dan digendong di belakang pundak Papa. Widya melihat pemandangan itu dengan sudut matanya. Ia sudah bisa berdamai dengan hatinya. Aneh dan ajaib, apa yang disarankan oleh Aryo itu tiba-tiba menjadi kalimat-kalimat yang mampu mengubahnya dalam bersikap. Ia mulai memperhatikan saat Papanya menyuapin Syira. Penuh perhatian tetapi sentuhan tangannya berbeda dengan sentuhan tangan Mama yang belum dirasakan Syira. Rasa iba menyeruak memenuhi hati Widya, seakan menuntunnya menuju Syira yang duduk manja di sofa biru. Tangan Widya meraih mangkuk yang dari tangan Papanya. Sendok melamine itu menyentuh bibir mungil Syira. Rambutnya yang tipis jatuh bergerai masih acak- acakan. Poni rambutnya sesekali jatuh menutupi kelopak mata Syira bila ia menunduk memainkan boneka kelinci abu-abu itu. Tangan Widya merapikan, sentuhan itu membuat mata indah Syira menjadi bulat penuh. Mata itu tersenyum seiring dengan senyum yang tersungging di bibir tipisnya.
“Kakak...,” ucapnya riang. Widya membalas dengan senyuman manis. Ada rasa menyayangi yang memenuhi hatinya. Hari itu Widya turun tangan mengurusi Syira dan mereka berbagi dalam suka. Tampak Papa bahagia.

Padang ilalang semakin penuh semak belukar. Beberapa batang pepohonan tertutup ilalang yang tumbuh menjulang tinggi menggapai ranting terendah. Dua gadis kecil berhamburan keluar dari pintu mobil belakang. Sedang Pak Basuki dan Widya membawa peralatan piknik, segulung tikar, dan satu keranjang makanan yang telah disiapkan Tante Erin untuk bekal. Syira dan Kirani berlomba lari. Keduanya sambil tertawa riang. Langit biru terang, dan awan putih berarak-arak membentuk beberapa rupa. Syira dan Kirani berebut memetik dandelion, pemandangan biasa yang kerap dilihat Widya sepulang sekolah. Mereka tak ada yang mau mengalah hingga Pak Basuki dan Widya melerainya. Sesaat dalam diam lalu membaur lagi dalam canda. Hal seperti itu yang tak pernah dialami Widya ketika seusia Syira. Kemudian Widya seperti dibawa ke dalam alam yang telah mengakrabkan dengan cerita-cerita masa kecilnya. Bohong bila ia tidak suka dandelion, bunga rumput kering yang memiliki bulu-bulu halus dan berterbangan saat angin meniupnya. Bulu- bulu mengikuti angin terbang, menari di udara. Sedang yang tertinggal sebuah tangkai dengan putik bunga. Ia ingat benar saat kecilnya berlari-lari memetik lagi lalu meniupnya bila angin tak segera meniupnya. Cerita itu dulu mungkin seumur Syira saat ini. Kemudian Mama tak lagi datang ke padang ilalang itu sejak Papa tinggal di Saga, Jepang. Kini cerita masa kecil itu terulang lagi pada Syira, hanya Syira tak mengalami masa ceria bersama Mamanya yang cantik. Masa kecil yang berbeda. Widya dalam dekapan penuh seorang Mama, tanpa kehadiran Papanya untuk sementara waktu. Sedang Syira dalam dekapan penuh seorang Papa, tanpa kehadiran Mama untuk selamanya. Namun pada tempat yang sama, yaitu sebuah padang ilalang yang tumbuh subur dandelion.
Tiba-tiba Widya memeluk Papanya yang duduk di bawah pohon rindang berdaun orange kekuning-kuningan. Widya menangis dalam pelukan Papanya. Di antara senggukannya ia merasakan kehadiran Mamanya. Papanya memeluk erat gadis sulungnya yang tengah bergejolak.
“Jangan menangis, Sayang. Entar dilihat Syira dan Kirani, malu dong, Kak,“ ujar Papa mengelus rambut Widya sebatas pinggang.
“Kakak ingat Mama, Pa.“
“Mamamu ada dalam diri Syira, lihatlah...!“ Widya menuju arah telunjuk papanya saat Syira berlari-larian memetik dandelion lalu membuangnya ke udara. Wajahnya ceria sekali. Sesekali Syira jatuh namun tak menangis, ia langsung berdiri lagi meski Kirani menertawakan. Syira berbeda dengan Widya kecil, yang manja dan kolokan. Widya mulai teliti melihat perbedaan dirinya dengan Syira, adik semata mayang itu. Ia menghapus sisa air matanya yang menempel di kedua pipinya. Kata- kata Papanya meneduhkan hatinya dan kini ia yakin tak akan kehilangan kasih sayang Papanya.
“Wajah adik mirip Mama, wajah kakak mirip Papa. Kalian adalah kedua permata hati Papa yang paling berharga. Papa sayang kalian,” ucap Pak Basuki mendekap Widya, si sulung yang lebih perasa.
“Iya, Pa, maafin Kakak kalau selama ini cemburu.”
“Iya, Papa mengerti dan hari ini adalah hari terindah, Sayang,”
“Oya? Kenapa, Pa?”
“Hari ini, tanggal ini adalah tanggal saat pertama Papa melamar Mamamu jadi istri Papa dan di tempat ini pula,” ucap Pak Basuki haru. Dan kini dari satu hati melahirkan dua hati, buah hati terindahnya, Widya dan Syira. Ia tidak membedakan kedua putrinya. Ia tahu saat ini Widya belum bisa menerima kehilangan Mamanya saat melahirkan Syira ke dunia. Widya menganggap Syira pembawa sial dan merenggut kasih sayang semua orang terdekat. Itu sebabnya Widya lebih dekat dengan sepupunya, Kirani. Putri tunggal Tante Erin itu mirip dirinya sewaktu kecil. Widya semakin memeluk papanya larut dalam senyum bahagia.

Sejuknya angin berembus telah meredam segala kecemburuan yang tumbuh subur di hatinya. Belaian dan dekapan Papanya membuat mata hati Widya terbuka. Pandangan matanya tak lepas dari semua gerakan gemulai Syira dan Kirani yang tak mengenal lelah. Kata hatinya menuntunnya untuk bergabung dengan dua gadis kecil itu di tengah padang ilalang. Bertiga menari meliuk-liuk mengikuti irama angin bertiup, segemulai dandelion dan serumpun ilalang. Sedang Pak Basuki berteman dengan notebook-nya dan menulis sebuah e-mail untuk seorang gadis remaja yang kini dirasa telah menemukan keceriaan hatinya.
“Dear Widya, aku tunggu cerita dandelionmu ya...salam Aryo”
Kemudian setelah menekan klik send, dan ia menutup notebook-nya. Disimpan rapi dalam tas ranselnya. Dan Pak Basuki menyuruh untuk berhenti bermain dan menikmati sajian bekal macaroni panggang bertabur keju khas buatan Tante Erin. Aroma keju parut terbakar seakan menyeruak memenuhi padang ilalang itu. Di atas pundak papanya, Syira bergelayut manja sambil menikmati isapan susu botolnya. Sedang Kirani berbaring pada paha Widya bermain manja seperti biasanya. Widya duduk berselonjor dan bersandar pada pohon rindang itu. Kedua gadis kecil dan imut itu kini menjadi warna dalam hatinya. Widya bersyukur telah bertemu Aryo, teman maya-nya yang memberi pandangan indahnya dunia dengan memiliki hati lepas dari rasa iri. Dan satu yang menautkan semuanya, yaitu dandelion. Di bawah pohon rindang terlihat serumpun dandelion menari bersama embusan angin, menyembul di antara ilalang-ilalang kering terbakar matahari. Terselip senyum-senyum manis menyuguhkan rindu yang tak berkesudahan. Dandelion dalam rindu....


Medio : Amarilis, 27 Januari 2011
(Buat teman kecilku Achmad Basuki bersama dua putrinya Widya & Syira seperti dandelion-dandelion pada taman Kinryu - Saga)
Dimuat di Story Teenlit Magzine, edisi 22/Th.II/25 Mei-24 Juni 2011