Kamis, 30 Maret 2017

R e u n i Jambi

Jumpa Untuk Berpisah
Oleh Arie Rachmawati



Jambi, 25-27 Maret 2017
Itulah tujuan kami para undangan dari panitia Reuni Eks Kandatel Jambi, UUP Jambi. Menghadiri acara untuk bernostalgia dengan menjalin kembali silaturahmi yang terputus karena masing² pegawainya setelah menjalani masa pensiun telah berada di kota pilihan.
Acara tsb dikoordinator oleh Bapak Slamet dengan teamwork-nya, melalui grup WA Wong Komunitas Angso Duo, boleh dibilang sukses karena dengan cepat dan koordinasi bisa mengumpulkan kembali para eks pegawai yang dulu mengabdi di tanah Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

Acara berlangsung dua hari, diawali dengan acara malam hari sabtu, 25/03/2017 di halaman samping kantor Service Point Telkom TAC dengan ramah tamah, makan malam bersama dihibur iringan musik dan penyanyi² tamu undangan.
Keseruan masih berlanjut serasa saya kembali ke jaman kejayaan Kandatel Jambi yang sangat aktif di bidang kesenian dan olah raga-nya. Melihat penampilan Bapak Yunus yang masih enerjik membawakan lagu² bernuansa Melayu Deli, dan Mantan Bapak² pejabat teras Kandatel baik Bapak Waluyo maupun Bapak Mumuh.
Saya meskipun masih kebagian memori mengingat wajah² lama yang dulu sangat familiar di masa pengurusan Dharma Wanita PT Telkom. Alhamdulillah³ banyak bertemu bapak² dan ibu² yang kini sebagian besar berprofesi MC alias momong cucu. Malam larut segera kembali ke penginapan yang tak jauh dari tempat lokasi, yaitu Wisma Bhayangkara Polda Jambi.

Minggu, 26/03/2017
Jam 06:00 wib kami berkumpul di halaman depan kantor Service Point Telkom TAC, sementara carteran bus sudah menunggu. Dua bus siap mengantarkan kami berwisata. Bus satu khusus bapak², bus satunya lagi untuk ibu².
Kami berfoto bersama dan segera memulai acara berkunjung ke kota seberang yang terkenal dengan kerajinan batik tulis khas Jambi. Jambi yang kini sangat berbeda dengan Jambi saat kami masih tinggal disana.
Pembangunan kota dengan munculnya gedung² hotel bertingkat bintang empat mulai tumbuh subur. 

Perjalanan wisata dimulai dari halaman kantor menuju arah ke daerah gubenuran Telanai Pura  hingga tempat lokasi tujuan pertama yaitu Menara Gentala Arasy.
Setibanya disana, kami usai berfoto ria segera sarapan pagi nasi gemuk (nasi uduk) dan panitia menyiapkan perlengkapan minuman hangat kopi dsb. Usai mengisi perut kami menaiki tangga dan ternyata itu menuju jembatan gantung Gentala Arasy.
Jembatan gantung Gentala Arasy yang membentang di atas sungai Batanghari kini bisa ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang kurang lebih 1km. Walaupun dibawah masih ada perahu² speedboat untuk menyebrangkan penumpang. Menurut tour guide mbak Mala, suasana disitu lebih cantik saat malam tiba, karena lampu² sepanjang jembatan tsb akan nampak elok.
Perjalanan berakhir di ujung jembatan yang sejajar dengan Taggo Radjo yang berada didepan rumah gubernur. Saat menunggu bus, kami menikmati es tebu. Senang bisa bernostalgia teringat jaman dulu, obyek wisata di Jambi adalah duduk di sepanjang Tanggo Radjo menikmati es tebu, jagung bakar, sate padang dsb. Setelah bus datang, rombongan wisata kembali berkeliling kota Jambi melewati Jembatan Aur Duri 2 hingga tiba di Candi Muara Jambi. Selama saya tinggal di Jambi (13thn) belum pernah ke lokasi tsb, selain waktu itu akses kesana masih bertanah merah, sepi juga rawan. Sekarang sudah dikelola dinas pariwisata, walau belum maksimal.

Candi Muara Jambi menurut riwayatnya adalah cikal bakal kerajaan Sriwijaya yang akhirnya berada di Palembang. Ketika menuju ke lokasi candi, bus kami melewati kebun dukuh yang lebih dikenal umum sebagai Dukuh Palembang, padahal itu aslinya dari kebun² dukuh di daerah Kumpei Jambi. Beberapa foto berlatar belakang Candi Muara Jambi nampak indah alami. Seusai dari sana kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan wisata ke Taman Rimba. Lokasi itu dulu dikenal dengan kebun binatang dan arena anjungan rumah adat istiadat. Makan siang bersama di salah satu rumah anjungan dan berfoto bersama sebagai akhirnya kunjungan wisata dengan berpelukan dan saling bermaaf-maaf lahir batin mengingat beberapa waktu kedepan bulan Ramadhan telah tiba.
Rombongan menuju lokasi awal di halaman kantor Service Point Telkom TAC, sebelumnya melewati bandara udara baru Sutan Thaha Jambi sangat keren. Aih kini Jambi, "Sepucuk Jambi Sembilan Lurah" sudah berdandan dan mungkin bersiap menjadi kota² besar seperti pendahulunya di Sumatera seperti Medan, Palembang.

Terima kasih panitia Wong KAD telah mengundang kami, di Jambi Kami Kembali adalah kata² yang tepat untuk kami yang membawa pulang paket nostalgia. Terima kasih pembaca.


Salam 
Arie Rachmawati

Minggu, 26 Februari 2017

Nostalgia


Tentang Dia 
dalam Kurnia dan Pesona 
Oleh Arie Rachmawati


Setiap orang mempunyai kisah lalu, baik peristiwa suka maupun duka, kejadian manis maupun pahit tetaplah bagian dari perjalanan hari-hari kita. Begitu pula dengan sepenggal kisah lalu yang pernah mengisi hari-hari saya tepatnya Juni 1982, saat liburan kenaikkan kelas. Liburan ke Yogyakarta dari Jember. Diusia yang tergolong amat muda, ketika dua hati terpaut dalam satu busur anak panah. Jatuh hati bersamaan, bukan bertepuk sebelah tangan. Perbedaan usia rasanya melebur sesaat dalam suasana suka.

Mungkin ini tergolong suatu kebetulan yang berulang-ulang. Walau dalam kenyataan, hidup tak ada yang kebetulan tetapi semua telah diatur oleh Sang Pencipta jagat raya yaitu Allah SWT. Perkenalan dalam gerbong kereta api ekonomi jaman itu bernama Argopuro (sejenis KA Logawa jaman kini). Tentunya suasana 1982 itu dominan warna vintage. Lamunan kembali dalam lukisan suasana gerbong kereta yang hiruk pikuk, penumpang kelas ekonomi berbagai macam status sosial. Terlebih suasana liburan, waktu itu banyak penumpang yang seusia dengan saya. Ada pula pedagang ayam (dengan suara ayam tak pernah diam) dan penjual asongan makanan/minuman hilir mudik bila kereta berhenti di setiap stasiun yang dilewati. Penumpang yang beruntung bisa duduk, tetapi lebih banyak berdiri hingga terkantuk-kantuk. Belum lagi udara panas, menghadirkan bau-bau keringat tak sedap.

Namun bagi saya hal itu tak pengaruh apa-apa. Sesuatu yang indah sangat memukau yaitu pemuda yang duduk di depan saya itu, berpenampilan sederhana, sangat kasual kaos dan celana jeans belel dan tas ransel di punggungnya adalah pemuda yang sangat menarik hati. Sepanjang perjalanan kereta api dari stasiun Gubeng menuju stasiun Tugu Yogyakarta serasa lamban.Salah tingkah, mencuri pandang, kadang beradu  pandang, membuang muka, menunduk malu, tersenyum, tersipu malu. Semacam kegiatan-kegiatan datar yang berlaku saat itu. Menurut tutur katanya, ia akan melanjutkan perjalanan dengan kereta berikutnya hingga ke Bandung. Di Yogyakarta sekedar transit. Sementara saya dan rombongan keluarga dari Jember, memang tujuan utama ke Yogyakarta. Itu liburan pertama kalinya mengenal kota Gudeg. Tak ada pertukaran nomor ponsel, apalagi foto selfie bersama. Cukup saling menulis nama dan alamat rumah masing-masing, kemudian jabat tangan mengakhiri perkenalan dengan lambaian tangan.

Tak ada kelanjutan pertemuan berikutnya bila dia tak berupaya mencari pencuri hatinya. Dan sekali lagi Allah SWT mempertemukan kami di jalan Malioboro. Sepanjang jalan berjalan bersama dengan rombongan keluarga, sementara dia menuntun vespa-nya hingga tiba di rumah bude di Jetis Kulon. Benar - benar tak menyadari kehadirannya itu bukan semata untuk saya. Saya pikir karena ia mahasiswa sederajat dengan dua kakak sepupu, jadi saya pun cuek. Usai sholat Isya' segera beranjak tidur. Ternyata ia menunggu dengan sabar. Atas support kakak - kakak saya, akhirnya saya menemuinya di ruang tamu. Rumah bude, tempat berkumpulnya para warga yang akan beronda, yang sedang bermain karambol, atau bermain gitar. Ramai sekali. Kebetulan lagi, ia meraih gitar akustik itu. Dan siapa menyangka sebuah intro yang familiar ditelinga tiba - tiba terdengar itu lagu Kurnia dan Pesona yang dinyanyikan-nya dengan sepenuh hati sebagai tanda mata, hingga kini.

Alunan itu mencairkan suasana yang kaku, canggung. Usia saya waktu itu 14 tahun, diajak mengobrol pemuda berstatus mahasiswa semester dua, dari sebuah Institut Teknologi Surabaya. Seakan dunia gelap, tersekat dinding bisu tanpa sepatah kata berbalas. Namun ketika kami berbincang-bincang seputar lagu-lagu karya musisi Fariz RM, keadaan yang membeku menjadi cair, nyaman, secerah mata terbuka, serasa menyapa teman lama dan seketika mengakrabkan diri.Di Antara Kata-kata, Sandra Ameido, Nada Cinta, Malam Kesembilan tak luput Sakura. Dan tentu saja lagu yang baru dinyanyikan olehnya.

Kurnia dan Pesona, lagu yang banyak di-request pendengar radio, berada diurutan teratas di kasetnya Fariz RM terhits dari album Peristiwa 77-81. Kurnia dan Pesona memberi kesan sendiri, dan menduduki tangga teristimewa dalam catatan buku harian. Kaguman itu semakin bertambah saat ia bercerita tentang perjalanan musiknya. Tak menyangka ia seorang penabuh drum dari SMAN di Bandung. Walau waktu terbatas rasanya sepanjang malam bersamanya begitu padat.

Perjumpaan sesaat, perkenalan istimewa, perpisahan termanis adalah rangkuman peristiwa tercantik yang telah mengukir kenangan tentang dia terbungkus dalam senandung Kurnia dan Pesona. Lagu itu (mungkin) masih mengalun, dinyanyikan kembali olehnya tetapi di dunia yang berbeda. Bagi saya dia adalah kurnia dan pesona dari-Nya. Cerita ini ditulis tanpa mengenyampingkan keberadaan keluarga masing - masing, sebagai wujud penghormatan terakhir kenangan tentangnya. Ia telah bahagia kembali kepada-Nya, dan semoga husnul khatimah. Cepat atau lambat nanti kita semua akan menyusulnya.

Al-Fatihah

Rabu, 22 Februari 2017

A k t i v i t a s k u :

Sarung Bantal Kursi Tamu
Oleh Arie Rachmawati


Berawal bulan puasa Ramadhan menjelang lebaran tahun lalu (2016), tiba - tiba terpikir untuk mengganti sarung bantal kursi (sofa) dengan karya sendiri. Dibarengi semangat membara, dalam suasana puasa, jadwal memasak bergeser sehingga terkejar pekerjaan tsb. Pas malam takbiran, rampung tujuh sarung bantal kursi, perpaduan dari rajutan dan sulaman. Sedap dipandang mata, suasana baru ruang tamu disertai gema takbir. Allahu Akbar Allahu Akbar
Allahu Akbar walillah ilham ...

Berjalannya waktu, ternyata pasca lebaran, sarung bantal kursi tsb mulai diminati beberapa teman dan tetangga. Sarung bantal kursi karya sendiri yang dibuat dari kain blacu dihiasi sulaman dipermanis dengan pinggiran renda rajutan, ada pula rajutan yang ditempel ditengah media sarung bantal tsb, menjadi daya tarik pikat sendiri. Meski ada permintaan pemesanan sarung bantal, saya baru berani memenuhi permintaan keluarga sendiri. 



Akhirnya satu persatu rampung. Sarung bantal kursi bernuansa biru adalah sebuah 'request' dari menantu di Cilacap. Sementara sarung bantal bernuansa oranye adalah permintaan Mama di Jember. Yang perlu digarisbawahi meski dibuat dari benang berwarna yang sama tetapi masing - masing sarung bantal tsb ending-nya tidak sama, serupa tapi tak sama.



Bukan rahasia umum bahwa saya mengerjakan semua dari menggambar, menyulam, merajut mengikuti kata hati dan kadang saya sendiri lupa cara membuatnya. Namun hal tsb menjadikan ciri khas unik handmade koleksi Yoando Crochet, seperti tahun kemarin, tahun ini jelang Lebaran 1 Syawal 1438 H, sudah rampung empat sarung bantal dan satu lagi masih dalam penggarapan finishing. Alhamdulillah jelang usia lima puluh tahun, saya menemukan kenikmatan berkreasi dengan rajutan. Barakah Allahu fiikum ...

Terima kasih

G a l e r i  F o t o :


Rabu, 15 Februari 2017

Yoando Crochet edisi :

Berburu Benang Rajut
Oleh Arie Rachmawati


Assalamualaikum wr wb.
Mungkin saya termasuk perajut yang banyak ber-hunting ria dengan benang baru menemukan ide untuk berkreasi, daripada para perajut lainnya yang sudah menentukan project yang akan dikerjakan baru menemukan benangnya.
Jangan pernah menanyakan kepada saya,"Mau bikin apa Bu?" ... karena jawaban nya adalah, "Saya nggak tahu."
Benar, saya tidak pernah tahu saya akan membuat apa, tapi begitu menemukan ide maka saya akan meraih benang-benang yang dirasa sesuai dengan ide tsb.
Chemistry antara benang dengan pikiran dan tangan ini akan membuahkan 'something' yang diluar dugaan. Suatu hari saya mengamati tutorial di Youtube, ternyata pikiran saya tertuju pada deretan benang yang berjajar rapi di rak benang. Karena dirasa benang tsb sesuai dengan tayangan di Youtube tsb, saya pun mengerjakan nya dengan penuh semangat dan akhirnya-nya cukup dua hari project saya kelar, yaitu sebuah syal biru gradasi.

Itu kekuatan chemistry-nya, bahkan November 2013 awal² saya mengenal rajutan dimulai dengan membuat tas selempang cukup 24 jam. Meski hasil perdana masih belepotan, namun saking senang-nya terhadap benang yang dipegang saat pengerjaan rajutan bisa memberikan semangat yang super.
Lebih bersemangat lagi bila pemilik toko benang, sangat 'welcome' dan saya mendapat info seputaran rajutan. Intinya nggak pelit (medit) ilmu rajutan. Saya bisa menjadi pelanggan setia toko tsb. Setiap toko benang menjual barang yang berbeda dengan toko lainnya, meski sama-sama benang katun atau benang wol lokal. Lain halnya ada toko yang khusus menjual benang-benang import. Bahkan saya bisa menciptakan satu warna baru dari benang wol lokal yang biasanya banyak dijual di pasaran/warung. Hal ini menepis anggapan bahwa koleksi benang saya, didominan benang-benang berkelas atau benang import yang didapatkan saat hunting ke luar negeri atau ke pelosok dusun terkecil.

Keseruan saat hunting pun menjadi bahan tulisan yang mungkin menjadi inspirasi perajut, pembaca. Apapun bisa dibagikan mungkin sebagai rekomendasi toko, atau setiap benang mempunyai kecocokan masing-masing dengan project kita.
Itulah kenikmatan baru 'hunting benang' yang sederhana dengan membuat semangat penuh gairah dengan begitu akan menimbulkan rasa bahagia. Bahagia tsb bisa mengusir segala kepenatan, bisa menstabilkan gula darah dan bisa meredam asma kambuh.
So jadi itulah mengapa hunting benang bagi saya sangat berperan banyak untuk sebuah karya baru yang akan dihasilkan menambah koleksi rajutan di Yoando Crochet Collection.
Terima kasih Pembaca


Wassalamualaikum wr wb
Arie Rachmawati

Minggu, 15 Januari 2017

A k t i v i t a s k u :

Meraih Mimpi - Mimpi
Oleh Arie Rachmawati




Tak pernah terlintas dalam pikiran ini kelak saya akan menekuni dunia rajutan apalagi menjadi perajut, Insha Allah bisa menjadi profesional. Bila tak berawal dari menata foto/gambar di akun Pinterest (2011) mungkin keinginan untuk merajut tak ada terselip di antara mimpi - mimpi.

5 November 2013 itu awal kisah rajutan perdana terselesaikan meski tas slempang tsb tergolong jauh dari sempurna. Namun itulah letak membaranya semangat menekuni dunia rajutan.
Kini sudah lebih dari tiga tahun saya larut dalam dunia rajut. Tak terhitung berapa karya yang sudah dihasilkan baik menggunakan alat hakken beralih ke breiyen.  Kini mulai tertarik ke alat yang nama nya 'Round Loom'. Nama tsb saya mengetahui dari tutorial di Youtube. Rabu, 11 Januari 2017 tuntas sudah pencarian saya terhadap alat tsb. Kini tinggal mempraktekkan alat tsb. Wow semakin luas lagi dunia rajut untuk ditelusuri, dipelajari dan dikembangkan yang mungkin kedepannya menjadi produksi kreatif. Alhamdulillah di tempat rajutan toko Micky Mocko di Tebet, saya berkenalan dengan Ibu April dan putrinya bernama Aliza. Semoga perkenalan membawa manfaat terutama sebagai teman sehobi. Barakallahu ...





YOANDO CROCHET
Sengaja menggunakan nama tsb sebagai merk handmade (karya) saya. YOANDO kependekan dari nama panggilan anak² saya yaitu rYO, ryAN dan ridho/eDO. Mereka sudah dewasa namun bagi saya tetaplah tiga anak laki² kecil yang cakep dan lucu menggemaskan sebagai semangat untuk berkreasi. Tetap mengutamakan kesehatan dan kenikmatan merajut, bukan asal mengiyakan semua permintaan pemesanan teman/saudara dsb. Dengan adanya alat baru mulai menambah pekerjaan baru, dan segera merampungkan pekerjaan yang lama. Yaa Allah Subhanallahu WA Ta'ala terima kasih atas kesempatan semua ini untuk berkreasi menjadi manusia yang kreatif, sebagai salah satu nikmat-Mu.



Merajut, menulis dan membuat video kini bisa dikerjakan dalam satu waktu. Merajut membuat hati gembira, bahagia itu sederhana, bahagia bisa mengusir segala penyakit dan tetap semangat. Barakahallahu waktuku. Aamiin Ya Rabbal Alamin ... 


Terima kasih

Senin, 09 Januari 2017

Yoando Crochet edisi :


Tanda Mata Jelang Akhir 2016
Oleh Arie Rachmawati



Bulan ke-duabelas telah tiba, schedule perjalanan keperluan urusan keluarga ke Jawa Timur dan Jawa Tengah tinggal dijalani, karena jauh-jauh hari persiapan tiket dsb sudah disiapkan. Di antara kesibukan wira wiri antar kota, meski dalam perjalanan tetap merajut merampungkan satu demi satu pekerjaan rumah urusan rajutan. Salah satunya yaitu syal knitting yang menggunakan alat dua jarum 'breiyen'. Alhamdulillah³ sebelum tutup tahun 2016, rampung sudah syal yang terbuat dari benang gradasi warna cantik, benang dari Amsterdam. Untuk hasil karya dengan menggunakan breiyen syal ini termasuk karya ke-empat. Biarlah syal ini sebagai Duta Yoando Crochet penutup tahun 2016.
Semoga tahun depan lebih banyak hasil karya yang bisa dijadikan koleksi untuk Yoando Crochet Collection by Arie Rachmawati (rie). 


Terima kasih 


G a l e r i  F o t o :







Kamis, 22 Desember 2016

R e u n i S e k o l a h :

J E L I T A
Oleh Arie Rachmawati



Jember, Minggu, 11/12/2016 
Akhirnya setelah tiga puluh lima tahun berlalu,  kami sebagai alumni SDN Jember Lor IV (Pagah 2) dipertemukan kembali dalam suasana kekeluargaan penuh luapan rindu bertumpuk - tumpuk. Terlebih hebatnya acara itu bisa menghadirkan salah satu guru pengajar yaitu Bapak Suprapto, beliau dulu sempat mengajar kami saat di bangku kelas lima.
Selain itu acara ini juga dihadiri tamu diluar lulusan ini yaitu suami saya, Tonny Yoostiomo.

Penampilan Pak Prapto yang welcome sedari dulu, masih nampak kehangatan dalam sambutan acara. Dalam acara ini sebenarnya bukan reuni semestinya, lebih menonjolkan acara kumpul - kumpul teman dan tetap mengedepankan sopan santun dalam berkomunikasi.




Mendengarkan sepatah kata dari Pak Prapto serasa mendengarkan kembali saat beliau mengajar kami dahulu jaman sekolah dasar sekitar tahun 1979 -1980.

Selanjutnya adalah sambutan penggagas acara yang bertindak juga sebagai ketua dalam grup obrolan What's App yaitu Setio Adi Waskito (Itok). Itok yang dulu dengan Itok yang kini dalam keadaan Jelita (jelang lima puluh tahun) tak jauh berbeda, ia masih tetap kalem bersahaja dan lebih percaya diri untuk berdiri memberi sambutan didepan teman - teman sebaya usia. 

Susunan acara tidak seformal reuni - reuni pada umumnya.Tidak ada hiburan musik, sekedar temu kangen danmenyantap hidangan ala kadarnya. Justru itu dari sinilah nantinya akan berlanjut kedepannya ide - ide yang bisa terencana seperti mencari keberadaan teman lainnya yang belum tercatat, baik mereka masih dalam keadaan hidup atau sudah meninggal dunia. Kami sebagai lulusan SDN Pagah 2 Jember. Selain itu akan menyusun rencana terhadap  kepedulian sesama alumni sekolah.

Sebuah niatan yang mulia telah tergambar didepan mata, namun untuk melaksanakannya kemungkinan banyak kendala dan tak semulus angan -Angan, karena Cak Itok sebagai ketua reuni ini, ia tidak berdomisili di kota Jember, meski pun keluarga tetap berada di Jember.

Walau hanya sebentar saja pertemuan reuni ini, namun telah menambah rasa bahagia di antara kami. Harapan kedepannya semoga lebih banyak yang hadir biar melengkapi cerita - cerita saat bersekolah penuh keriangan khas anak - anak pada masanya.

Sebelum menutup tulisan ini, hitung - hitung menguji daya ingat, saya ingin mengabsen teman - teman yang hadir di acara ini, mereka adalah : Sri Rejeki (Kiki), Lilis, Siti Nurul Qomariah, Anggoro, Tekad Budi Utomo, Haryono, Budi Hartono, Taufik, Santoso, Saksonohadi, Widi Andtianto, Yayek, Gita, Saputra (iput), Rahmat, Rudi Jatmiko, Setio Adi Waskito dan saya. Mungkin ada nama yang belum disebutkan, mohon info yang membaca untuk mengungkapkan cerita ini.


Usai acara saya dan suami, mengantarkan Bapak Suprapto seperti tadi kami menjemput di rumahnya. Oya sebelumnya, sengaja menelusuri daerah Kreongan selain mengantarkan Siti Nurul Qomariah, kami mampir mengunjungi rumah teman yaitu Siti Aliyah dan Mohammad Iskhak. Mereka berdua saudara kembar. 

Alhamdulillah³ Tabarakallahu dengan izin-Nya semua diberi kelancaran dan semoga berakhir dengan kekeluargaan. Semoga tahun depan bisa berkumpul lagi, mengulang cerita yang lampau. Aamiin ...


Terima Kasih


G a l e r i   F o t o 
Selepas Reuni :





           ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡

Sabtu, 14 Mei 2016

C e r p e n k u :

Bukan Kekasih Gelap
Oleh : Arie Rachmawati

foto diambil dari Pinterest



Sore itu aku berjanji menemui seseorang di tempat biasa, tempat kami bertemu. Sore itu hujan turun deras sekali, tapi di tempat tinggalnya tak setitik air hujan turun, malah udara panas dan gerah. "Hujan angin nih!. Rus, tunda aja sampai reda, lalu kita berangkat." katanya sebelum menutup telepon. Sementara aku masih berpikir alasan apa yang tepat untuk ijin keluar. Ibuku sangat pelit memberi ijin keluar, harus terperinci urusannya agak ribet. "Kamu aja yang ijin sama Ibu, aku malas mau ngomong takut salah. Please ya Ndut!" tulisku dalam kalimat What'sApp. "Okay..." balasnya singkat. 

Ndut, aku lebih suka memanggilnya begitu. Utomoarto nama panjangnya. Sebenarnya ia sudah tidak gendut lagi seperti jaman sekolah. Namaku Ikawati, tapi ia lebih suka memanggilku, Rus, karena aku kurus. Sekarang justru kami kebalikkan jadul. Namun persahabatan itu tetap terjalin indah hingga kini.

Sudah lebih sembilan puluh lima menit hujan belum reda, menunggu hingga mengantuk. Tiba-tiba terdengar suara deru motor vespa berhenti tepat dibawah jendela kamarku. Kamarku berada didepan sejajar dengan ruang teras depan. Kamarku memang ruang tambahan yang dulu dipakai kakakku yang nomor tiga, kini ia tengah merantau ke negeri seberang. Dua kakakku yang lainnya sudah berumahtangga dan tinggal di Madiun. Aku bergegas bangun dan menemui Ndut sebelum ia bertemu Ibu. Hampir setiap saat Ndut membawa buah tangan kesukaan Ibu, yaitu martabak telor. Ibu senang atas perhatian dari Ndut yang tak pernah berubah sedari kami teman sekolah menengah pertama. "Rus, Ibu dimana?" tanyanya sambil mencari bayangan Ibu. Aku menggelengkan kepala tanda tak tahu. Mata kami tertuju pada meja makan yang terletak di ruang tengah. Diatas meja makan ada secarik kertas berisi tulisan, "Ibu dan Bu Azis ke blok sebelah, melayat. Kunci rumah taruh di bawah rak sepatu." Allah Maha Penyayang, aku tanpa menemui kesulitan mencari alasan, Ibu sudah memberi ijin kami untuk bisa pergi. "Alhamdilillah ...", gumamku dalam hati.

Jarak tempuh lumayan jauh akhirnya tiba kami di tempat biasa untuk bertemu dengan seseorang. Sebuah rumah sederhana yang disulap menjadi warung kopi. Sepi karena bukan malam minggu. Walau menunggu agak lama, tak tergambar wajah lelahnya. Ndut terlebih dulu mencium tangannya kemudian baru aku mencium tangannya. Ndut berpamitan untuk menunggu di luar. Pertemuan ini sudah yang kesekian kalinya kami rahasiakan dari Ibu. Laki-laki tua yang duduk dihadapanku memang agak kurus daripada beberapa bulan yang lalu pertemuan sebelum ini. Penyakit gulanya yang menyusutkan tubuhnya. Wajahnya tirus, padahal dulu berwajah bulat dengan kumis lebat dan rambut ikal. Ia menyapaku dengan senyum khasnya dan menyalakan sebatang rokok kretek.

"Bagaimana kabar Ibumu, Nduk?" 
"Alhamdulillah sehat, Bapak..." Suasana hening hanya kepulan asap rokok yang menggangguku melihat wajah Bapak. 
"Ini Bapak pesankan wedang ronde, mana Utomo suruh kesini."
"Nanti saja Pak, mungkin dibungkus saja karena aku ndak bisa lama Pak."
"Kowe iku selalu begitu .... selalu buru-buru."
"Kowe iku lho kok masih sendiri? Sampai kapan toh?"
"Itu Utomo dari lajang sampai duda masih menunggumu?"
"Kowe masih suka padanya kan?" Aku hanya diam, tak tahu apa yang harus kulakukan dihadapan Bapak. Mungkin ia mengerti bahasa tubuhku, namun menurutku rasa suka saja tak menjadi patokan aku dan Ndut bisa sejalan melebihi arti sahabat. Aku nyaman dengan keadaanku saat ini.

"Oaalah Nduk, kowe iku mirip sekali dengan Ibumu." Sesuatu yang aneh, Ibu selalu menyebut bahwa aku mirip sekali dengan Bapak. Kini Bapak juga mengucapkan hal sama, aku mirip Ibu. Dimana letak kemiripannya aku pun  tak tahu. Bagiku Bapakku itu sosok yang misterius.
"Terlalu banyak alasan kamu itu, Nduk."
"Maaf Pak, saya datang bukan untuk dicermahi soal itu ..."
"Iya Bapak tahu tapi Bapak ingin melihat kamu menikah. Dan menikahkan anak bungsu Bapak."
"Usiamu itu lho, sudah 29 tahun?"
"Soal jodoh, rejeki dan usia itu rahasia Allah SWT, Pak." sautku agak emosi.
"Bapak takut ...," ucapnya pelan. ".... takut ndak sampai umur," sambungku dengan nada tinggi. Tidak biasanya aku berucap seketus itu, tapi entahlah setiap disinggung masalah menikah tiba-tiba darahku mendidih, emosi naik ke ubun-ubun. Alasan klasik itu pula yang sering diucapkan Ibu kepadaku. Secara pribadi aku pun ingin segera menikah dan mempunyai momongan seperti keluarga lainnya. Namun ada sesuatu yang tak bisa aku jelaskan kepada Ibu dan Bapak juga kakak-kakakku. Satu tahun terakhir ini baru bisa berbagi sedihku kepada Ndut, 

Segera aku memberikan bingkisan terbungkus kertas koran untuknya. Bapak menerima dengan ragu. "Apa ini Nduk?"  "Itu permintaan Bapak tempo hari, maaf baru bisa dipenuhi, susah mencarinya Pak." "Dapatnya di Kwitang Pak, sudah bolak-balik baru dapat seminggu lalu." "Buku tentang Soekarno, Pak". kataku singkat. "Terima kasih, Nduk."

Aku pun mengangguk dan segera berpamitan, tapi tanganku ditarik Bapak untuk segera duduk kembali.Duduk kembali berhadapan dengan Bapak.
"Terlalu cepat kamu pamit pulang, Bapak masih ada yang diobrolkan." ucapnya pelan. Dibalik saku jaketnya Bapak mengeluarkan bungkusan tipis berisi foto-foto jadul. Foto-foto itu digelar di atas meja tamu beralas kain batik. Aroma foto jadul membuatku batuk. 
"Hanya ini yang ditemukan dilaci rumah Eyangmu. Gadis kecil dalam pangkuanku itu adalah kamu."
Aku menggeser kursiku dan merapatkan tubuhku. Sejajar pundakku dengannya. Ingin sekali aku menyandarkan kepalaku dan dibelai manja olehnya. Namun hanya sebatas angan saja. Melihat beberapa foto lama yang menandakan kedekatan antara Ayah dan anak gadis kecilnya, menunjukkan bahwa Bapak sangat sayang kepadaku tidak seperti kalimat-kalimat pedas yang sering kudengar dari Ibu dan ketiga kakakku.

Hening, tak ada lagi obrolan di antara kami berdua. Suasana didukung dengan sayup-sayup lagu intrumental Layu Sebelum Berkembang. "Itu lagu kesukaan Bapak, Nduk."  "Lagu itu mengingatkan kepada Ibumu."  Aku hanya mengangguk pelan, serasa memahami perasaannya. "Sebenarnya Bapak ingin sekali banyak bercerita kepadamu, tentang banyak hal yang belum kamu ketahui tentang Bapak. Bukan mencari pembelaan diri, tapi ya sudahlah ..." ucapnya ragu. Nada bicaranya pun mulai tak bergairah. "Ceritakan saja Pak bila ingin diceritakan."  "Temui Bapak tanpa harus di antar Utomo."
"Iya ..." jawabku yakin.

Permintaan itu hal sulit tanpa campur tangan Ndut. Selama aku kembali ke Madiun, Ndut mendapat kepercayaan Ibu juga ladang alasan agar aku bisa menemui Bapak. Pertemuan dengannya diakhiri dengan pelukan yang sangat erat, hingga membuatku merinding. Aku merasa enggan untuk melepaskannya. "Menikahlah Nduk ...," bisiknya pelan. Namun kali ini emosiku datar, Aku ingin sekali menggali memori itu, namun kuurungkan niat itu mengingat waktu semakin larut malam. Akhirnya kami bertiga berpamitan kepada pemilik warung. Nampak dari kejauhan aku melihat punggung Bapak ditelan malam. Bapak pulang ke rumah Eyang di Pagotan, arah dari Madiun menuju Ponorogo.

Malam menjelang pukul 22.00 wib aku sudah tiba di teras. Selama dalam perjalanan Ndut pun diam. Tak seperti biasanya selalu menanyakan apa saja obrolan dengan Bapak. Saat ia menanyakan, "Rus, kamu sudah cerita tentang kita?" Aku menggelengkan kepala dan segera duduk manis dibelakangnya sebelum vespa melaju. Hal itu menurutku belum tepat waktunya. Mungkin pertemuan berikutnya bisa bercerita secara terperinci tentang kami. Meski pun kunjungan berikutnya aku tak tahu kapan bisa kembali ke kotaku. Madiun kota kelahiranku. Apalagi untuk menemui Bapak harus sinkron waktunya antara aku, Ndut dan Bapak. Sementara kedatanganku yang tiba-tiba lebih banyak meleset bila mendadak ingin bertemu dengan Bapak.

Perjalanan setiap manusia itu berbeda, termasuk cerita tentang keluargaku. Kegagalan dalam berumah tangga dengan sederet cerita panjang kehidupan Bapak dan Ibu di masa lalu, membuatku enggan untuk memperluas pergaulan. Menurutku urusan mereka masing-masing namun biarkan aku berdiri di antara keduanya tanpa harus menyalahkan atau membenarkan. Kakak-kakakku memang terkesan cuek dan banyak membela Ibu. Bapak yang suka berpetualangan sering kali susah dilacak keberadaannya. Karena ketiga kakakku laki-laki tidak merepotkan kehadiran Bapak saat mereka menikah. Namun aku nantinya akan membutuhkan Bapak untuk wali pernikahan. Aku enggan menjalin hubungan dengan pria. Bukan karena masalah ortu tetapi lebih menjurus masalah kesehatan. Ini masalah yang sangat dalam sebagai seorang perempuan aku pun belum bisa menerima takdirku. Takdir kehilangan rahimku. Terlalu rumit dijelaskan, hanya Utomo alias Ndut yang memahaminya karena kedua ortunya bersahabat dengan ortuku. Di masa SMA ketika Ndut menyatakan cintanya kepadaku, aku sengaja menolaknya. Ia tetap menunggu dan akhirnya menikah dengan Lista teman kuliahnya. Lalu prahara rumah tangganya dan membuatnya kembali sendiri tanpa diberi kesempatan mendapat momongan. 

Kembali ke Jakarta dengan segudang pekerjaan yang menumpuk. Tugasku sebagai jurnalis mendapat kesempatan meliput berita beberapa kali di Surabaya, memberi kesempatkan meluangkan waktu ke Madiun. Itu sebabnya pertemuan kemarin dengan Bapak sangatlah istimewa, karena tak biasanya membuat janji dengannya langsung bisa terwujud. Mungkin itu pertemuan yang terakhir dan berbeda, karena baru kali itu Bapak menyinggung soal pernikahan. Ingin aku menceritakan hal sebenarnya namun kepada Ibu saja belum kusampaikan maksud hati berdua. Temaramnya senja membuat langit di atas kepalaku menjadi gelap. Ketika tiba-tiba Ndut mengirimkan kabar bahwa Bapak sakit dirawat di UGD karena dehidrasi berat hingga tak sadarkan diri. Dalam hitungan tiga jam sudah mengabiskan empat botol infus, ditambah gula darah yang menurun drastis. Rasanya cepat sekali waktu bergulir, dalam hitungan menit Bapak masih tersenyum kepada Ndut kini sudah kembali kepangkuan Allah SWT. Aku hanya menahan isak tangis dan tak berani berkata apa-apa kecuali mengucapkan, "Inna lillahi wa'inna lillahi rojiun". 

Kereta api Argo Wilis membawaku kembali ke kota Madiun. Linangan air mata menemani perjalanan. Tak ada lagi pertemuan tersembunyi, menemui sosoknya melebihi menemui kekasih gelap. Terlalu banyak alasan untuk berbohong kepada Ibu. Andai Ibu mau bersahabat dengan masa lalunya tak mungkin banyak ketidak-jujuran dariku. Aku pun lelah dengan keadaan yang berlangsung sejak aku masih kecil. Toh takdir jalan hidup sepahit apapun tetap dijalani. Kini Bapak berbaring damai dalam perut bumi. Membawa sisa kenangan yang belum terbagi denganku. Dan terkejutlah aku ketika Ndut memberikan setumpuk buku harian Bapak dengan tinta luntur. Banyak cerita disana yang belum terungkap jelas, banyak harapan yang belum terwujud adalah menikahkan diriku, "Aku ingin menikahkan anak gadisku dengan pilihan hatinya, siapapun itu. Ya Allah tolong bantu ia menemukan pasangan jiwannya agar ia bahagia.... Bapak"

 S E L E S A I

Cerpen ini hanya fiksi ditulis spontanitas via aplikasi Blogger Android
Ditulis ketika saya berulang tahun ke 48 (27/4/2016) saat kehilangan Beliau.dan cerpen ini didedikasikan untuk mengenang Alm Bapak Sucipto
RIP Arjasa 14/Mei/1939 - Arjasa 22/April/2016
tutup usia 77 tahun