Rabu, 08 April 2009

S a h a b a t :

S o u l m a t e
Oleh Arie Rachmawati
2 0 0 9

Saat kita bicara tentang "Soulmate  tentu yang terlintas dalam benak dan pikiran kita adalah
seseorang yang menjadi bagian hidup kita, sangat dekat dan bisa membuat kita bahagia lahir batin karena dia adalah 'Belahan Hati' kita. Tetapi Soulmate yang saya maksud disini difinisinya beda, namun artinya bisa sama, mungkin ini terpengaruh saat mendengarkan lagu milik Kahitna.

Ini hanya sekedar cerita biasa tentang Soulmate. Nama aslinya Pak Ukri, tapi anak - anak mengganti panggilannya menjadi Pak Ukrido lalu menjadi Soulmate. Ia seorang tukang pemulung dengan satu istri dan tiga anak laki-laki, ia hampir 5 tahun ini dekat dengan saya. Ia selalu dengan kantong besar dipunggung kirinya dan pengait yang tak pernah lepas dari tangan kanannya.Soulmate ini julukan dari putra sulung saya (Kak Yo/Ryo) bila si Soulmate datang ke rumah, kunjungannya juga sekonyong koder, alias datang tak di undang pergi pun kadang tanpa pamit. Suka-suka ia saja, yang jelas Soulmate ini sudah membuat iri bagi teman-teman seprofesinya,dan selama ini ia belum tergantikan.

Pertama kenal Soulmate adalah suatu hari di pagi buta. Saya berujar dalam hati : "Siapa pun pemulung yang datang pertama ke box sampah ia akan saya angkat menjadi pembersih halaman rumah. Dan,pagi itu ia orang pertama yang saya temui. Seperti sebuah pemenang sayembara, saya yakin ia orang baik-baik. Kunjungan demi kunjungan menjadikan keakraban tersendiri. meski pun dengan bahasa yang berbeda. Komunikasi dengan bahasa sendiri - sendiri. Saya nggak paham banget bahasa Sunda, sedang Soulmate nggak paham bahasa Jawa, Madura campur Melayu.

Waktu berjalan. Saat pertama ia menjadi bagian kehidupan keluarga, di lingkungan yang baru ini. Ia bisa jadi assisten rumah tangga urusan bidang percocok tanaman. Sebenarnya banyak pandangan miring tentangnya, tapi bagi saya, selama mengenalnya ia berhati jujur. Toh akhirnya Soulmate ini menjadi langganan para tetangga kanan-kiri di jalan Anyelir VII, untuk membersihkan selokan, menebang ranting-ranting pohon yang mulai memanjang, atau sekedar menggunting rumput. Mereka para tetangga yang tadinya mencibir, akhirnya bisa menerima kehadirannya.Inilah pertemanan, persaudaraan yang saya tawarkan, tanpa memandang status sosial atau profesi. Seiring waktu berputar, dengan sendirinya kami saling memahami komunikasi yang berbeda. Bahkan beberapa orang tetangga dan anggota keluarga masih belum paham bahasa Soulmate, tanpa diminta pun saya hadir sebagi penterjemah. 

Tentang Soulmate ini agak unik juga. Kadang dia datang menawarkan bantuan tenaga tanpa mau di bayar, padahal sekecil apapun yang namanya rupiah pasti berarti baginya. Saat saya pindahan rumah yang kedua kalinya, dari rumah kontrakan menuju rumah sendiri, ia tampil penawar jasa yang utama. Setiap saat ia lalu lalang depan rumah, seperti saat ini saat saya mengetik  tulisan ini, Soulmate ada di halaman rumah sedang memindahkan bunga-bunga dalam pot, memenuhi keinginan, dan ia mengerti yang saya maksud. Soulmate juga manusia biasa
tak luput dari kesalahan dan khilaf. Kami pun pernah ada kesalahpahaman, tapi hanya sesaat, karena saya merasa bersalah. Bagaimana pun juga saya lah yang harus bisa mengerti tentangnya, dengan segala keterbatasannya.

Suatu hari dalam 30 hari, batang hidungnya bahkan bayangannya pun tak nampak lalu lalang, tiba-tiba ada sebersit rasa cemas dan bertanya dalam hati, hingga terlintas apakah ia berpulang ?  Saya  menanyakan kepada pemulung-pemulung lainnya yang melintas depan rumah.
"Pak Ukri kok nggak pernah kelihatan yaaa?"
"Apa pindah lokasi yaaa pak?"
"Pak Ukri sakit?"

Dan suatu hari akhirnya ia muncul juga. Wajahnya tirus, tubuhnya menyusut, ternyata ia sakit. Seperti biasanya bahasanya kadang saya paham, kadang tidak. Cerita punya cerita sebenarnya ia ingin menyuruh anaknya untuk meminta bantuan obat, tapi tidak tahu rumah saya. Ia bercerita yang terbayang hanya wajah saya, saat sakit itu."Saya cuman ingat Ibu doang!"  "Duuuhh....mati! Celaka 13," gumam dalam hati. Kini, yang terlintas dalam pikiran adalah, apakah ia yang menjadikan saya sebagai Soulmate-nya, atau sebaliknya. Hmmmm.....Soulmate itu seorang lelaki tua, lebih tua wajahnya daripada usianya. Ia kadang bercerita kisah hidupnya, padahal ia tak tahu saya penulis yang bisa jadi inspirasi tulisan  Ia juga sering menanyakan keberadaan anak-anak saya yang sedang kuliah di luar kota. Ia manusia biasa, muslim dan berstatus sebagai pemulung. Tanpa SMS pun ia mengerti apa yang saya maksud. Tanpa ditelepon ia hadir penuhi panggilan, itulah cerita sisi lain tentang Soulmate.
Terima kasih.

NB :
(Thanks buat Kak'Yo yg memberi panggilan untuk pak Ukri dgn "Soulmate", dan ia benar-benar belahan hati kita sekeluarga, semoga Allah SWT meridhoi persahabatan ini, Amin YRA)


Salam
Arie Rachmawati.
Posting Komentar