Rabu, 15 Februari 2012

Kasih Sayang Sepanjang Masa


... kedekatan suatu hubungan bukan karena jarak, melainkan jalinan silahturahmi, intensitas komunikasi dan chemistry ...  
(by rie)


Barisan kata-kata itu muncul begitu saat saya dalam perjalanan menuju Jakarta, akhir Oktober 2011. Saat itu hujan mengguyur tol Jagorawi. Pikiran saya menuju kepada seseorang yang akhir-akhir ini banyak memenuhi ruang otak. Lalu, saya menulis status di facebook, tak lama kemudian beberapa temans nimbrung ikutan komentar dan nge-like this status. Senang? Jelas, ternyata saya bisa juga menulis kata-kata indah, setidaknya menurut saya pribadi. Kemudian, saya mengirim SMS ke beberapa teman dan sahabat, ternyata mereka setuju dengan pendapat saya.


Rangkaian kata itersebut akan melahirkan perhatian-perhatian kecil. Sekecil apapun itu sangat berarti buat si pemberi dan si penerima, setidaknya begitu menurut pemikiran saya. Dari perhatian itu akan tumbuh rasa kasih sayang. Nah, bila 'Terlanjur Sayang' seperti judul tembang lawas yang dipopulerkan oleh Memes, ibunda musisi muda Kevin Aprilio itu tentunya jalinan talisilahturahmi kian berasa dalam arti yang sebenarnya. Kasih sayang bukan saja untuk 'kekasih' kita, bagi yang menjalin suatu hubungan khusus. Tetapi bisa juga untuk pasangan masing-masing dari suami dan istri, anak-anak, orang tua, sahabat dan orang-orang terdekat kita.

Ungkapan rasa sayang pun beragam bisa dengan memberi SMS, gift, dinner atau seabreksurprise. Menurut saya ungkapan lewat bahasa tubuh (misal : senyum) bisa mewakili diri dan itu yang paling gampang kita dilakukan. Dari remaja hingga kini, saya belum pernah merayakanHari Kasih Sayang  layaknya cerita film/sinetron drama romantis yang mewarnai berita di layar kaca, majalah atau sederet info di cyberspace
Saat remaja saya senang sekali membuatkan kartu Valentine buat mereka yang memesan jauh-jauh hari. Dan saya pernah menuliskan cerita serupa tentang hari kasih sayang lewat kartu di salah satu catatan di FB. Tapi yang ingin saya tulis kali ini, tentang keterlanjuran kasih sayang yang ditumbuhkan dari hari ke hari, akan memberi ruang tersendiri di hati kita., sepanjang masa.

Bila kita sudah terlanjur sayang, maka kita akan berupaya menjaga keharmonisan suatu hubungan. Dalam hal ini saya ingin bercerita tentang orang-orang terdekat saya, terutama anak-anak. Secara fisik saya jauh dari mereka, ketiganya kini tinggal di kota lain (Yogyakarta dan Bandung) sebagai mahasiswa untuk memperjuangkan cita-citanya. Tapi secara batiniah, kedekatan itu menjadi sesuatu yang menggiring saya mempunyai kepekaan yang tinggi. Mungkin itu hebatnya jalinan komunikasi antara ibu dan anaknya, sejak mereka masih dalam kandungan. Untuk saya itu adalah anugrah dari Sang Khaliq.

Ketika saya menulis ini, saya berada di tempat kos salah satu anak saya. Kemarin, seusai kuliah, dia mengajak saya melihat suasana Valentine's Day di pusat kota. Di sepanjang jalan pusat belanja masyarakat setempat berjejeran para penjual bunga mawar. Jadi ingat salah satu tayangan iklan di layar kaca yang berhubungan dengan bunga mawar dan ilustrasi lagu "Bunga Terakhir" nya Bebi Romeo yang dipopulerkan kembali oleh Afgan. Dia mengajak saya ke tempat toko coklat yang mendispay berbagai macam coklat dengan harga variatif. Berhubungan dalam rangka Valentine's Day sebagian barang yang ditawarkan punterjangkau. Dan lagi-lagi dipenuhi muda-mudi yang akan merayakan Hari Kasih Sayang. Saya pikir ia akan membelikan pacarnya, ternyata bukan. Dia ternyata membeli coklat kecil harganya pun dibawah sepuluh ribu rupiah, dan itu buat saya adalah surprise terindah. Dan saya pun membeli coklat buat salah satu anak saya yang suka banget sama sesuatu beraroma coklat. Harganya murah, tapi keemasannya apik  dan menawan. Inilah perwiujudan dari rasa kasih sayang itu, antara ibu dan anak.

Menurut saya, mengungkapkan rasa kasih sayang lebih luas jangkauannya ketimbangmengungkapkan rasa cinta yang lebih special untuk seseorang. Kasih sayang itu seperti pepatah lama mengatakan, 'Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang badan'. Meski saya suka menulis kata-kata indah, yang menurut temans sangat puitis dan romantis. Tapi, saya belum pernah mengatakan, "Aku Sayang Kamu". Kenapa? "Ya, nggak tahu," itu jawaban saya. Lucu juga? Iya!  Saya biasanya mengungkapkan dengan bahasa tubuh dan melakukan pekerjaan (ringan) tapi bisa membuat seseorang itu senang. Seseorang itu bisa siapa saja, tergantung dengan siapa saya berkomunikasi.

Setiap orang mempunyai cara yang berbeda untuk mengungkapkan atau menunjukkan rasa itu. Begitu juga dengan suami saya, boleh dibilang dia tidak ada romantisnya sama sekali. Dahulu, di awal pernikahan saya masih berharap suatu saat suasana indah nan romantis akan saya nikmati. Berjalannya waktu, saya mempelajari dan memahami hal itu. Hingga suatu hari saya melihat info dari milis dan salah satu halaman majalah wanita ibukota, tulisan tentang 'Romantis'. Akhirnya iseng saya mengikuti.   Tidak berharap menjadi 3 pemenang utama yang akan diajakdinner bersama pasangan selebritis pas Hari Kasih Sayang, dua tahun yang lalu (14 Februari 2010). Selain dinner bersama, souvenir/goodie bag akan menanti pemenangnya. Harapan dalam doa itu terjawab, saya masuk 30 pemenang (harapan) yang beruntung dengan seabrek goodie bag dari majalah tsb. Hari itu saat pengambilan hadiah di kantor redaksi di daerah Kuningan, wow...spechless  banget dan sampai kerepotan membawanya pulang ke Bogor. Ternyata, kehidupan sehari-hari yang saya alami menjadi sebuah inspirasi dalam menulis. Menurut saya itu pun bentuk kasih sayang Allah Swt kepada saya dalam melalui ajang itu. 

Kasih sayang sesama manusia bisa terwujud dalam ibadah sehari-hari dengan niat ikhlas dan tulus, tanpa berharap mendapat nilai nominal sesen pun. Rasa kepuasan batin akan kita peroleh adalah bentuk kasih sayang dari-Nya. Kasih sayang kepada keluarga bisa diwujudkan dengan membuatkan makanan kesukaan masing-masing anggota keluarga, menemani nonton bioskop atau hunting buku apapun itu yang menjadi salah satu dari hobi masing-masing. Kasih sayang kepada orangtua, bisa dilakukan dengan tidak membuat beliau cemas atau memancing emosi / kemarahan. Kasih sayang kepada sahabat, bisa dengan memberi perhatian, ruang dan waktu saat mereka menceritakan curhatan hati. Kasih sayang kepada Allah Subhanallah Wa'ta'ala pemilik alam semesta ini, bisa dilakukan dengan menjauhi larangan Nya serta meningkatkan amal ibadah, bersyukur atas segala nikmat-Nya. Dan kasih sayang itu ada sepanjang masa, tercipta dari intensitas komunikasi dan chemistry. Dan biasanya perwujudan dari kasih sayang itu dalam gambar berbentuk hati melambangkan "Love".   Jadi wajar bila kita sudah memiliki rasa kasih sayang perlahan akan menumbuhkan rasa cinta. Dan cinta itu indah, kadang tak bisa diungkapkan tetapi bisa dirasakan, seperti kita merasakan adanya hembusan angin.

Semoga sharing  pengalaman saya buat  pesbukersadalah bentuk kasih sayang saya kepada semua teman maya ini. Dan semoga kita dapat memberi dan menerima kasih sayang itu sepanjang usia kita, sepanjang masa. Amin YRA.


 Salam,
Arie Rachmawati

Medio : Sigma House, 15.02.2012/10:31 wib

Kamis, 02 Februari 2012

S a h a b a t k u :

TO REAP A DREAM 
          by Rudi Pekerti


Bermula dari perkenalan di suatu acara musik yang diadakan oleh Rolling Stone Indonesia, jum'at pertama bulan Desember 2009 yang lalu. Saya sangat tersanjung, saat beliau memberikan kartu namanya dengan santun dan mengajak saya berbicara. Canggung? Jelas lah, siapa saya? siapa beliau?.

N bapak DR.dr. Rudi Pekerti, MPH saat menyebut namanya pikiran saya serasa mengenal nama tersebut. Perlahan saya ingat, karena tak jauh dari tempat saya, saya melihat sosok musisi senior yang sangat familiar dengan tembang lawasnya yaitu Nuansa Bening, itu bang Keenan Nasution. Dan beliau yang saya sebutkan diatas adalah pencipta lagunya. Berbicara tentang pak Rudi Pekerti, tinggal googling nama beliau, maka akan munculnya sederet informasi, satu diantaranya bisa di klik dari youtube http://youtu.be/ffl9feyrDj4. Yang jelas beliau adalah sahabatnya pelatun tembang Nuansa Bening itu. Beliau juga pernah bekerja sama dengan musisi lainnya, tak lepas pula dengan musisi Fariz RM. Saya ingat benar, nama beliau ada di deretan lagu dalam album Peristiwa '77-'81 dengan judul lagu "Sri Panggung". 

Malam itu, saya dikenalkan oleh pak Gatot Triyono, KPMI mempunyai tugas kehormatan untuk acara yang berlangsung, yaitu (display) memamerkan koleksi piringan hitam karya musisi/pemusik/grup band era 60-70-80 yang berasal dari koleksi para anggota KPMI. Setelah jumpa acara tersebut, kami saling bertukar kabar melalui e-mail dan pesan singkat. Hingga suatu hari (27.04.2010) beliau menelpon saya, menanyakan apakah buku kiriman nya sudah diterima. Benar, saya sudah terima beberapa hari sebelum beliau menelpon itu. Beliau mienanyakan pendapatnya saya, tentu saya kebingungan untuk menyampaikan pendapat saya. Akhirnya saya bilang apa adanya, isi bukunya saya kurang paham. tetapi saya langsung tertarik pada lembaran ke 170 hingga 173 yang berisi dua sajak karya beliau. Ini pendapat saya, "Bagus, sajak yang terbalut bahasa persahabatan dengan istilah dalam dunia beliau, kedokteran." Sebenarnya sajak itu satu judul yaitu Menuai Mimpi kemudian ditulis ulang ke dalam bahasa Inggris. Sajak itu teruntuk bapak Muhilal, dimana pak Rudi Pekerti sebagi penulis buku biosketsa nya. Soal bahasa dalam sajak tersebut, saya jadi teringat puisi saya yang tertulis dengan inspirasi dunia farmasi. Hanya orang tertentu yang paham akan istilah-istilah itu.

Kemudian, beberapa waktu yang lalu, ketika saya membersihkan rak buku, buku pemberian beliau tertangkap mata saya, lalu saya sampaikan niat saya untuk menulis ulang sajak itu. karena yang tertulis dalam buku berjudul"Mengurangi Gizi Mikro Menjangkau Nurani, Mendunia" , buku tentang biosketsa Muhilal, Anak Desa Reksosari adalah buku yang sangat tidak umum oleh pembaca umum tentunya, maka saya ingin menjadikan sajak itu bisa dibaca oleh teman fesbuker atau teman dunia maya lainnya. Hal tersebut disambut baik oleh beliau, dan beliau menyemangati agar saya tekun menulis. Beliau juga memantau perkembangan penulisan saya melalui blog saya link http://rachmarie-riritemaram.blogspot.com
    
                                                 EPILOG 
Dunia sangat cepat berubah, bergolak, tak terpetakan mestinya kita bersama


MENUAI MIMPI
rudi pekerti

I
tujuh dasawarsa setia
kaurobek lembar harian tanggalan
terpadu jawa, barat, tionghoa
terkuak fisika meresapi aneka quarts
ketika aku menguji beningnya nuansa cinta
kau terus mencari genesis di pelupuk atomnya embun
sesama kita menjelajah
kau terus mencari rumus kimia
rahasia tak bernama holo rbp

II
kata hatiku meyeruak ketika
retinolnya muhilal memastikan
oral vit.A lebih baik,
sayur hijau saja tak mencukupi gizi mikro,
kita terus menuai mimpi mencari cahaya
lubuk hati sinar mata kanak-kanak
sesepi laila gurun tuareg yang
menjelajah kelaparan via terra amanta
memecah simetri spontan sari quarks
mendulang energi semesta
sewaktu "persembahanku" pecah menebarkan
reaksi asimetri di dada

III
luc montaigner dan francoise sinoussi
memanen buah kesejatian integritas
membedah aids, mengejar vaksin
tanpa gallo yang galau

ah, seandainya kejujuran membersitkan
kesejatian berlaku dinegeriku, kawan
kita belah dinding buih palsu maya
mungkin semua bisa terjangkau, sesederhana
ubur-ubur hijau yang berpendaran

IV
serpihan informasi, quartz, cinta
menjalari sutera tertaut bunga sakura
menjati diri di atap kuil tua kyoto
rebah di dermaga bagan siapi-api,
anak tofi dan anak pelangi terus
memetik kejujuran menuai mimpi
bersua kenyataan menjati diri
terus mencari, menjati dunia
bak anak desa reksosari
di lorong sepi yang panjang
antara ada dan tiada
dalam lapar batin igau manusia


 TO REAP A DREAM
rudi pekerti

I
seven decades never mis,
page by pege u tear off
the javanese, western, chinese almanac
infolding phisics, tasting various quarts
And me, tasting the nuance color of love
is search the genesis in eyes of atomic dew,
And together we sail
is always explore chemistry magic formula
the unnamed secret of "holo-rbp."

II
My joy unfolding, whenever Muhila's
retinol validates oral vitamin A, better
And just bundles of green leaves, is not
enough to pass the ROA.

Always we reap dream for enlightment,
Shimmering sunshine in the children's
heart, as silence direct Laila from Tuareg's desert
to jump into 'hungriness" of Terra Amarta

spontaneous break of quarks core
to again earth's horizon of energy
when my offering breaks into

IIIluc montaigner and francoise sinoussi reap
the essence, purity of integrity
to dissect aids, to run for vaccine
whitout gallo ho, ho. ho. ho *)

Oh, ord if honesty deliver purity
of rain in my land, friend,
together we cut open every wall of
virtual bubles, may be we can
reach every corner, as simple as
a jelly fish spank green flouresence
in the life

IV
pieces of information, quarts, love
follow the silk road, stop by the sakura flower,
to seek self identity in the roof Old Kyoto's shrine
then lying down in the piers of Bagan Siapi-api
TOFI**) students and chlidren of rainbow
never stop prering up "the bud of honesty"
to reap dream, kiss by reality,
to ask oneself, to seek identity of genesis
like a boy from Reksosari village
passing the long silence alley;
in something and nothingness
into our hungry free unconcious soul

*) scathing
**) TOFI > Indonesian Olympic Physics Students, gathered from around Indonesia put on in a traning centre.


Semoga penulisan ulang dalam note ini dan beberapa akun saya lainnya, bisa bermanfaat buat teman fesbuker saya. Persahabatan tanpa mengenal status sosial, usia, gender, ras dan agama itu bisa dipupuk dari rasa saling menghormat idan menghargai masing-masing. Sampai detik ini saya masih merasa minder, bila beliau mengajak berbicara. Kami baru bertemu dua kali, saat acara diatas dan acara ulang tahun KPMI ke 5, 18.12.2010 lalu. Namun jalinan komunikasi itu dan saling mensupport seperti tubuh mengkonsumsi vitamin atau suplemen makanan, sangat bermanfaat dan dibutuhkan.

Terima kasih pak Rudi Pekerti, dari bapak lah saya belajar meski rasanya terlalu mendaki, Insya Allah saya akan mencobanya. Terima kasih buat masukan tentang puisi, cerpen, graffiti dan video klip saya. Terima kasih juga buat pak Gatot Triyono dan KPMI, inilah jalan yang menuntun saya, semoga MENUAI MIMPI atau To Reap A Dream nantinya ingin saya raih pada bidang lainnya.

Catatan : 
Sajak Menuai Mimpi - A Reap A Dream by Rudi Pekerti diambil dari buku Biosketsa MUHILAL Anak Desa Reksosari. Judul " Mengurangi Gizi Mikro Menjangkau Nurani, Mendunia" penulis Muhilal - Rudi Pekerti

Salam

Kamis, 12 Januari 2012

Bukan 'Panggung Perak' Biasa


"Panggung Perak" versi 2012

oleh Arie Rachmawati pada 11 Januari 2012 pukul 12:44
 
"Rie, kenapa kita nggak ngadain acaranya tanggal 27 November aja, KFFRM kan ultah tuh?" usulnya dalam suatu obrolan di suatu siang. Kemudian saya diam, dan otak ini memutar memori. "Siapa bilang KFFRM ultah November, Mas?" tanya saya balik. Obrolan semakin seru hingga saya malas beranjak dari sofa itu. Dari obrolan-obrolan ringan lalu disepakati kami (KFFRM) akan mengadakan acara kedua, setelah acara pertama yang berlangsung di tempat yang sama pada Minggu, 27 Februari 2011, hampir setahun yang lalu. Setelah fixsaya bilang ke istri beliau untuk Sabtu, 7 Januari 2012 segera dijadwalkan KFFRM punya gawe.Horree....akhirnya kalender 2012 dilingkari oleh mbak Oneng.

Sepulang dari Camar, saya memikirkan tema, suasana, makanan dan atributnya. Mengulang acara yang sama tetapi lebih ekskusif karena ada dua moment di bulan Januari 2012, pertama tepat tanggal 1 Januari genapKomunitas Fanstastic Fariz RM berusia satu tahun dan pada tanggal 5 Januari 2012, Fariz RM berusia 53 tahun, bertepatan dengan 35 tahun perjalanan kariernya di blantika musik. Saya mengetahui usia kariernya dari beliau sendiri saat memberi saya tugas untuk berbagi dengan fans setianya di walll KFFRM untuk produk Microphon Shure 58 LC sebanyak 35 buah, dan dalam waktu singat ludes diserbu teman-teman. Angka 35 itu sebagai tanda usia perjalanan bermusiknya.

Suatu hari tiba-tiba berbaris kata dalam otak saya, kemudian tersusun menjadi SMS dan terkirim ke beliau,untuk dijadikan usulan tema acara "Semarak Awal Tahun 2012 dengan Hasrat & Cita" Tak perlu butuh lama, SMS balasan pun saya terima,"Oke Bude!"   

Dengan mengusung tema tersebut, maka pada tanggal 01.12.2011 (jelang pergantian tanggal) saya menuliskan di wall KFFRM, pendaftaran dibuka hingga tanggal 17 Desember 2011. Waktu nge-sharepengumuman itu, belum terlintas donasi yang akan disepakati maupun menu sajian dll. Semuanya itu dilakukan di dunia maya yaitu facebook (mengutip kata pengantar kang Asep Gunawan) saat memberi sambutan kepada para tamu yang hadir. Panitia pun terbentuk, dan berjalannya waktu maka disepakati donasi yang ditentukan, susunan acara, menu makanan dan semuanya. Semula rada pesimis karena donasi yang terkumpul belum mencapai angka yang ditargetkan. Menjelang sepuluh hari detik-detik terakhir, semakin banyak yang ingin bergabung. Selain ingin melihat performace  Fariz RM, mereka ingin jumpa nyata dengan teman-teman yang biasa bertukar komentar di dinding KFFRM. Hingga hari berlangsung nya pun mereka tidak mengetahui siapa-siapa yang akan menjadi bintang tamu dalam acara nanti. 
Mendekati hari "H" semua anggota panitia sibuk dengan tugas masing-masing. Yang membuat beliau (Fariz RM) masih tidak percaya saat saya sodorkan sebaris angka nomor selluler milik mbak Wiwiek Listiawaty atau mbak Wiwiek Lesmani.Wiwiek Lesmani Dalam suatu obrolan yang lampau, beliau bilang bahwa teman featuring lagu Sehari (Kudamba) telah meninggal dunia. Beberapa kali beliau bilang, "Jangan ngacau deh." 


Sabtu, 7 Januari 2012, jam 10:00 s/d 18:00 wib
Enam tahun yang lalu, dengan tanggal dan hari yang sama (beda tahun), saya diundang beliau untuk menghadiri pesta ulang tahun nya yang ke 47, di sebuah hotel Ambara, Jakarta Selatan. Sewaktu hadir, dalam hati saya berujar, suatu saat nanti saya ingin yang mengadakan acara, bukan hadir sebagai tamu, tetapi mengundang tamu. Yakin bahwa setiap ucapan itu adalah doa, maka atas segala izin-Nya ucapan itu menjadi nyata...Subhanallahu!


Sabtu siang diselimuti awan menggantung. Display milik Roi Rahmanto KPMI Ketika kaki melangkah menuju tenda putih bersih maka sederet display milik pak Roi Rahmanto (KPMI) menyambut tamu.  Semua display tentang perjalanan bermusiknya seorang pelakon Panggung Perak mengundang tamu untuk menjadikan background pemotretan, tentunya para tamu tak lupa mengisi buku tamu dan sebuah stiker sebagai 'tanda mata'. Stiker ini adalah sumbangan dari Bekti Nuswantoro, sedang yang mendesign adalah  Taufik Hidayat (Surabaya)


Ketika saya tiba di tempat, sudah ada beberapa teman yang hadir lebih awal, karena akan untuk mengisi acara. Suwita Frasta dan Bekti Nuswantoro bertindak sebagi seksi acara, segera melakonkan peran nya. Beruntung para sahabat itu kompak, malah yang menghidupkan suasana. Bertindak sebagai player adalah Suwita Frasta sengaja membawa tamu kembali ke era klasik, tepatnya Panggung Perak. Trio Dadakan Nus-Niken-AsgunBarcelona versi Si JakDonny-Asgun-Bekti Nus  Spontanitas bergulir, kali ini performa si Jak, melantukan laguBarcelona sambil mengiringi pembagian 'door price' yang tersedia hanya beberapa tas souvenir. Untuk mendapatkan nya harus melalui tahap mengundian nomor absen lalu menjawab pertanyaan yang telah dibuat oleh team kreatif seksi acara.Kali ini memang Fariz RM ingin melihat kemampuan para fans-nya yang mempunyai bakat bermusik. Beliau sengaja tidak berada di antara kita, namun mengikuti suguhan lagu hits nya khusus era klasiknya dari dalam rumah. Acara yang digelar di halaman rumah Sang Maestro boleh dibilang sederhana,indah, rapi namun semegah Panggung Perak.


Team kreatif untuk urusan merchadise yang dipimpin oleh Asep Gunawan menunjukkan hasil yang maksimal. Membuat para tamu ingin membeli 4 item yang tersedia di meja pajangan, antara lain kaos (new) Panggung Perak, topi FariZ, in dengan dua design dan mug dengan design lirik lagu. Salut buat kerja kerasnya, mengingat persiapan jauh hari sangat terbentur dana. Kami mencoba membuat dua proposal yang tembus hanya pengadaan sound system oleh DSS. Itu sangat membantu sekali, karena acara ini bisa terselenggara berkat donasi yang terkumpul ditambah dengan beberapa sumbangan teman-teman baik tenaga dan berupa makanan-minuman. Untuk team kreatif lainnya adalah Beng-Beng seperti biasa menghadirkan 'sesuatu' untuk dibanggakan kepada Sang Maestro. 


Suasana pun kian bergairah dengan hadirnya bintang tamu (tamu undangan) mbak Nourma Yunita dengan cantiknya berblus-pink-ria.Nourma Yunitapandang mata nya mempesona, seperti lirik lagu yang dilantunkan pada sesi berikutnya. Tak lama muncul lah dua wanita cantik yang berbaju merah dengan rambaut bergerai adalah mbak Wiwiek Lesmani dan satunya lagi mbak Anita Carolina Moehede Anita Carolina MoehedeLengkap lah Charlie's Angel  versi Panggung Perak 2012 menyemarakan suasana. Peluk cium kehangatan dan tebaran wajah sumringah terpancar jelas dari raut wajah sang Maestro juga terekam apik di wajah para tamu yang dari awal setia menikmati suguhan dari MC dadakan KFFRM yaitu Nuswantoro dan Asep Gunawan.  
Wow! Sungguh sebuah Kurnia dan Pesona saat turun dari mobil seorang ibu, didampingi oleh mbak Oneng, beliau adalah ibunda Hj. Anna RM. Pembaca narasi Panggung Perak itu, kini beliau berada di tengah hadirin. Meski lanjut usia ternyata tak menyulutkan gairah untuk mengikuti setiap hentakan irama yang dilantukan oleh putra bungsunya itu. Tak lama kemudian hadir pula kaka sulung Sang Maestro, Andy RM. Kini lengkaplah sebuah reuni di antara derai hujan yang mengiringi perjalanan karier nya. Narasi Panggung Perak ditampilkan bak membaca sebuah puisi oleh penulis senior, Kurnia Effendi, setelah tiga bintang tamu masing-masing menampilkan suara merdunya. Kembali bernoslgia akan Pandang Mata duet Fariz RM dengan Nourma Yunita di album Malam Dansa (1990), Hasrat dan Cita kini dilantunkan oleh Wiwiek Lesmani sangat bersahaja dan pas sekali dengan tema acara. Kemudian dilanjutkan Malam Kesembilan menbawa lamunan kembali ke masa jayanya album Sakura (1981).


Ini bukan sebuah konser, spontanitas saja tanpa harus malu membawa contekan dan koor bersama. Bahkan seperti event sebelumnya sang Maestro dengan santai nya memakai sandal jepitnya meski tampilan nya bergaya Rock & Roll. Derai tawa pun memenuhi ruang tenda. Pemilihan Logo KFFRMBreaksejenak untuk menentukan pilihan kepada nominasi Logo KFFRM. Di atas panggung, tiba-tiba sang Maestro turun dan menuju tempat duduk Ibundanya. Beliau dipersilahkan untuk memilih dari beberapa logo yang masuk nominasi, selain ibunda tercinta, kakak sulunya pun diperkenankan urun pendapat. maka, setelah memalui beberapa pertimbangan, sepakat memilih logo karya Taufik Hidayat sebagai logo KFFRM, nantinya. Inilah pemenang itu Logo KFFRM by Taufik Hidayat 




Tak lupa menjelang akhir performance nya Fariz RM menyuguhkan lagu Yang Terindah, sebelumnya laguHati Yang Terang. Lagu-lagu itu nantinya akan menjadi deretan pengisi list album Fenomena, Insya Allah akan dirilis pada minggu kedua-ketiga bukan ini. Semoga saja tidak meleset lagi, karena sudah banyak yang menantikan kelahiran album tersebut. Sebelum acara dimulai, para tamu disuguhi tayangan video Fenomena, hal ini sangat ditunggu para fans yang sengaja hadir dari berbagai kota di Indonesia. 

Ini lah saat yang ditunggu para teman yang sangat meramaikan wall KFFRM, boleh dibilang 24 jam non stop. Kehadiran Dadan dan BarBerBor di dunia maya maupun di dunia nyata ternyata tak kalah seru. Walau pun kedua nya tipikal pendiam, ternyata kedua mempunya hobi fotografer. Tugas mendokumentasikan suasana berada di pundak Denesis Faisal, Mamiek Erzet dan Donny Ananto, baik secara foto maupun video. Namun para teman sudah membawa bidikannya sendiri-sendiri. Secara keseluruhan acara berlangsung sangat semarak dan ramai. Guyuran air hujan bukan halangan untuk merapatkan badan, saling bergandeng tangan, merangkul untuk kian mempertebal tali silahturahim di antara anggota KFFRM. Dari maya ke nyata, dapat terwujud hanya karena niat yang tulus, jauh dekat nya jarak itu hanya waktu. Terima kasih buat semuanya atas partisipasi dan kerja samanya.
Semoga acara ini bukan semarak sesaat yang menghilang saat euforia itu menguap. Tetapi mari berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk kedepannya terutama untuk KFFRM dan khususnya untuk  Fariz RM dan Musik Indonesia.



Terima kasih buat temans :
Panitia
Admin KFFRM
Teamwork 

Dadan (Banten),
Wiwied & keluarga (Papua),
Aleyka Zm (Cirebon)
Ineke & Awaluddin (Brebes),
Anang Arief-Chairil Anwar-Mamiek Erzet (Semarang),
Edwin alias BBB (Surabaya),
Lasmi & keluarga (Salatiga),
Si Jak & Tari (Bandar Lampung),
Nofri (Padang),
Asep Gunawan-Wiwin Nurhayati & Keluarga (Bandung)
Irman Munajat-Nandang Ahmad (Bandung)
Beng-Beng-Geugeu-& keluarga (Bandung)
Antonius Gunawan (Jember)


Jabodetabek :
Ari Purwandari (Pondok Gede)
Ari Prambudi & Kel (Bekasi)
Donny Ananto & Erika
Denesis faisal & Keluarga
Nila Ratna & Arief
Dian Suratri (Bekasi)
Suwita Frasta (Depok)
Adwi & Parman (Depok)
Kurnia Effendy 
Yulis & Ferdy
Rahardi R (Pasar Minggu)
Niken (Depok)
Elvy & keluarga (Jkt)
Dheya & Keluarga (Bintaro)
Rio & assisten
Peter Herman
Arie & Tonny (Bogor)



Tamu Undangan :
Ibu Hj Anna R RM
Andy Roestam Moenaf
Nourma Yunita
Wiwiek Lesmani
Anita Carolina Moehede
Alex Sudjudi
Roi Rahmanto (KPMI)
Donny Hardono & DSS


Lain-lain :
Tukang Baso Bening
Mbak Sugik & ass
2 Crew DSS
Satpam Camar



     Selamat Ulang Tahun KFFRM ke 1
     Selamat Ulang Tahun Fariz RM ke 53
       


Galeri Foto
diambil dari koleksi teman-teman di wall KFFRM antara lain :
Deden Arief Faisal - Suwita Frasta - Tonny Joostiono
Nuswantoro - Asep Gunawan - Edwin/BBB
Dadan - Adwi - Anang Arief - Si Jak - Kurnia Effendi - Mamiek Erzet

Selasa, 03 Januari 2012

P u i s i k u :



Grafitti by Arie Rachmawati


You and the Drizzly Morning

by Arie Rachmawati and Januar Irawan MAKARA

(Just playing with words)

Cloud covered mornin'
Wind whispers on the leaves
Greeting me in my loneliness
And the dawn unsmiling
In a rainy tuesday mornin'
The drizzling rain wets the leaves
Trembling in waiting for the sun
Soaked in this mornin' rain
Clouded sky dark and sad
I sat alone deep in my thoughts
Enjoying the grey painting of natureI
In this mornin' between you and the drizzling rain
I try hard to find your shadow
In the dim light of the shy sun
In vain i explore my heart
Your after-image is nevermore.

Note :

03.01.2012
Hari Ulang Tahun nya Om Januar Irawan
Namun, beliau telah berpulang 17.09.2011 lalu
Ini adalah cuplikan dari obrolan dengan beliau semasa aktif di facebook
yang berawal dari mengomentari status saya di hari selasa pagi nan gerimis
sangat membawa kesan.
Selamat Ulang Tahun Om Jano
smoga bahagia di sana dan diberi ampun-Nya
diterima amal ibadahnya, serta dilapangkan kuburnya
Amiiiiiiiin YRA



Sabtu, 31 Desember 2011

Nyanyian Burung Chaveleh


oleh Arie Rachmawati pada 31 Desember 2011 pukul 18:25

Aslinya anak itu pendiam dan pemalu, tetapi bila tertawa terutama saat menonton drama komedi misal tayangan OVJ pasti ngakak nya seakan mengguncangkan ruang tengah. Paling asyik diajak diskusi dan curhat, bisa sambil makan, jalan-jalan kadang dilanjut dengan tidur-tiduran. Paling suka nonton film, dan ia adalah teman penikmat sehati.  
Siapa bilang punya anak laki-laki nggak asyik buat curhat? Nah, buktinya saya. Saat pertama ditinggal pergi, karena dia melanjutkan pendidikan ke Universitas Gajah Mada, saya menjadi cengeng sekali. Saya kehilangan teman curhat. Saya paling anti menangis di depan anak-anak. Mereka terlalu mengidolakan saya sebagai Super Mom. dan mereka tahunya bila saya menangis bombaydikarenakan usai menonton film drama, terutama Korean drama. Oya kok malah melebar kemana-mana, saya itu merasakan kesedihan yang dalam, saat perpisahannya dengan adik-adiknya, peristiwa itu awal bulan kedelapan 2007, empat setengah tahun yang lalu. Mereka belum pernah berpisah, jadi adik-adiknya merasa kehilangan juga. Hiks!
Ia anak sulung dari ketiga bersaudara, sedari kecil saya sering mengajaknya ngobrol. Saya pun sering bercerita tentang apa saja, dari dongeng anak-anak hingga masa kecil saya sangat berwarna, terutama saat tinggal di desa Baratan, sekitar tahun 1977-1980. Saya lah yang membawa ia bermain imajinasi. Saya lah yang mengajarkan membaca buku cerita sedari kecil dan mencintai musik. Sewaktu usia balita pun sudah belajar mengaji, pokoknya ia boleh dibilang sahabat dari semasa bayi hingga kini, bukan hanya sebagai anak semata saja. Eeiitts...ada yang kelupaan, sewaktu mengandungnya, usia 3 bulan, saya bertemu idola saya Fariz RM,dalam kesempatan langkah itu saya meminta sesuatu kepada beliau. It's everlasting moment, at Jember Juni, 14-1989.

Usianya bulan ini 22 tahun. sebuah perjalanan waktu tanpa terasa lebih dari 20 tahun jalinan keakraban itu terjalin. Meski ia anak laki-laki, tetapi hatinya lembut dan gampang terenyuh, suka mengalah teutama bila berebut sesuatu dengan adik-adik-nya. Bahkan saat sekolah dasar pun, boleh dibilang cengeng, anak mami, tetapi dia cuek, yang ia butuhkan rasa aman. Ia akan merasa tenang bila melihat wajah saya, saat lomba cerdas cermat mewakili sekolahnya, baik semasa SDN-SMP hingga tingkat mewakili propinsi Jambi. Semangatnya bisa berapi-api. Peran orang tua itu dahsyat sekali, terutama peran ibu. Saya bukan seorang ibu yang sempurna, tapi saya bersyukur telah diberi banyak kesempatan mengikuti perjalanan dan mengisi setiap saat bersama anak-anak.

Masa kecilnya dilalui di provinsi yang dikenal dengan semboyan Sepucuk Jambi, Sembilan Lurah. Cerita itu saat ketiganya masih menjalani masa kecil di Jambi, tepatnya di perumahan Bumi Chrisya Lestari, STM Atas (Sipin) Jambi. Justru adik bungsunya yang lebih menang sendiri dalam urusan apa pun. Ia anak rumahan, keluar rumah hanya seperlunya saja, betah di kamar dengan membaca komik atau belajar. Sedang kedua adiknya lebih membaur dengan teman sebayanya. Ia mempunyai dua sahabat semasa sekolah dasar, namanya Drajat dan Raviki. Selain teman sekolah, keduanya tetangga kami. Bertiga selalu berbagi cerita ataupun bermain game, dari jaman nitendo sampai playstation. Bahkan saya yang mengajari bermain PS itu. Saya pula yang menyeleksi mainan jenis apa yang boleh dibeli dan dimainkan untuk anak seusianya.

Ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama di SMPN 1 Jambi, yang letaknya di samping kantor papanya PT.Telkom Jambi, kegiatan diluar rumahnya mulai memadat. Ia anak yang harus tidur siang, bila keseringan pasti badannya demam. Ia mulai banyak teman dan ikutan kegiatan ekskul. Perlahan pasti anak pendiam itu mulai gaul dan menemukan passion nya.

Pertama mengikuti dunia peran seni, bermula dari kelas satu sekolah menengah atas di SMAN 1 Jambi. Ia izin ingin tahu seperti apa dunia teater itu. Saya mengizinkan, tetapi papanya kurang suka. Toh akhirnya saat ia tampil perdana dalam pertunjukkan pentas seni dan kami sekeluarga sempat menonton, ternyata boleh juga. Saya lupa judul pementasan itu. Kemudian, saat pindah sekolah di SMAN di Bogor, itulah yang membuatnya kurang percaya diri lagi. Sedari kecil terbiasa menerima raport dengan ranking tiga besar di kelas, bahkan untuk lingkungan sekolahan. Tiba-tiba nilai raport nya ada merah nya untuk pelajaran bahasa Inggris nya. Itu yang membuatnya down, dan mulai merengek ingin kembali ke Jambi.

Masa-masa yang sulit justru saat kami sekeluarga baru pindah ke Bogor, karena suami dimutasikan ke PT.Telkom Gatsu, Jakarta Selatan. Kami beradaptasi dengan kemacetan, dengan jadwal kereta rel listrik dan suasana baru dari daerah ke kota, terutama pelajaran. Ia meninggalkan dunia peran seni, karena di sekolah barunya kegiatan tersebut tidak ada. Saya pun bingung membagi perhatian kepada ketiga anak-anak yang beranjak remaja. Inna ma'al usri yusro, setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya.

Suatu hari ketika saya sedang memasak di dapur, saya mendengarkan petikan gitar nya, lagunya itu-itu saja hingga saya hapal benar. Dan, akhirnya saya bertanya apa judul lagunya itu, "Burung Chaveleh,Ma!" jawanya datar. Nadanya riang ada hentakan kecil saat refflain. Dalam hati saya bangga, anak saya bisa menciptakan lagu. Tidak seperti saya, menciptakan lagu asbun, tapi mampu membuat seisi rumah tertawa, terutama anak-anak. 


Suatu hari pulang sekolah wajah nya seperti kusi dilipat, ia bilang ada pelajaran kesenian melukis. 3 Hari lagi dibawa alat-alatnya, kalau bisa sudah ada gambar dasarnya. Saya kemudian bergegas membeli alat-alat yg dibutuhkan. Yang nggak saya sukai sifat anak-anak itu suka mendadak bila membutuhkan sesuatu yang berhubungan dengan tugas sekolah. Mereka menganggap saya serba bisa. Kemudian, saya berusaha memenuhi permintaanya, dengan alasan saat itu ia akan belajar untuk tiga ulangan dan kondisi tubuhnya yang demam. Jujur saya belum pernah menggambar apalagi melukis di atas kanvas. Akhirnya saya buat sketsa ikan saja. Dan ia melanjutkan mewarnainya. Kami berbagi tugas. Hingga akhirnya ia pulang membawa lukisan tersebut dengan wajah sumringah, "Maaaa, lihat lukisan mama dapat A+."Yaaa...Subahanallahu. Urusan melukis tidak berhenti disitu saja, ealadalah tetangga depan rumah namanya Bu Rani, ternyata putrinya Elsa yang kelas 2 SMA Kesatuan Bogor, dengan alasan yang sama tugas sekolah. belajar melukis. Semenjak itu saya sering beli kanvas, dan menemukan kenikmatan seni melukis. Semoga apa yang telah saya lakukan untuk mereka, tidak menyalahi aturan yang berlaku. Saya rasa setiap ibu akan berusaha menyenangkan hati anak-anaknya. Saya rasa tindakan saya baik dengan alasan tertentu.

Sejak itu semangatnya kembali, ia melupakan Jambi nya dan nasihat saya pun dijalankan dan pada akhirnya saat akhir sekolah, ia mendapat panggilan dari tiga perguruan tinggi negeri terfavorit, yaitu UGM (Fak Teknik Kimia), PMDK IPB (Fak Agrobisnis), ITB (Fak Kimia MIPA). Banyak yang menyelamati sebagai anak yang berhasil, namun menurut saya bukan karena ia cerdas, tetapi juga faktor rejeki. Itu nikmat dari Allah Swt, sebagai hadiah bahwa Hambluminallah nya bagus.

Petualangan hidupnya baru dimulai, proses percaya dirinya kian hari memupuknya untuk menjadi terbaik setelah dinobatkan sebagai King Polimer 2007. Kemudian, ia mengikuti kegiatan teater UGM. Sekali lagi meminta izin, dan saya tentu memberi lampu hijau. Apa pun yang berhubungan dengan seni pasti saya dukung. Saat itu diadakan casting pemain baru, maka ia ikutan mendaftar. Hasratnya semoga diterima sebagi pemain cadangan, elaelo...ternyata malah menjadi pemeran utama. Lebih heboh lagi saat diliput olah harian Kompas dengan adegan nya saat mencengkram dagu pemain lawan yang menjadi istrinya. Kompas, 29 Januari 2008 "Dimana Moral Kala Hidup Tertekan" bercerita tentang seorang guru dengan berbekal kendaraan sepeda oentel menghadapi kerasnya kehidupan. Guru sederhana yang jujur yang ingin mempertahankan moral sebagi pendidik.

Sejak itu waktunya banyak dihabiskan di Gelanggang. Bak seorang seniman, tampilan nya oun berubah, agak sediki mbambung, slengekan. Hingga suatu hari ia pulang ke Bogor dengan dandanan usai pentas. Waduuhh...kami dibuatnya pangling karena ia menjadi sosok tokoh bernama Tevye yang memiliki dua orang putri, dalam pementasan "Story Of Tevye"
Kemudian, tanpa sengaja berkenalan dengan seseorang yang ternyata orang Production House. Kemudian orang tersebut, menyuruh anak saya mengikuti audisi casting untuk film "Perempuan Berkalung Sorban". Tanpa disangka ia lolos dan harus berada di Jogja pada waktu yang ditentukan. Kebetulan saat menerima SMS tsb, ia baru datang dari Jogja untuk liburan. Sayang, kesempatan lewat begitu saja dikarenakan papa nya tidak memberi izin untuk ikut dalam pembuatan film tersebut, walau pun menjadi figuran. Papa nya sangat takut kuliahnya akan terbengkalai. Saat melihat raut wajahnya, saya ikutan sedih tapi apa daya. Mungkin belum saatnya. Saya paham bahwa sutradara Hanung Bramantyo itu adalah sutradara favoritnya. Ia pernah kesemsem pada film besutan sutradara jebolan pesantren itu, ketika menonton film Catatan Akhir Sekolah.

Sebenarnya semenjak aktif di dunia teater dan meramaikan musik kampus, dan pembagian waktu antara kursus bahasa Inggris (Toefel) sangat mempengaruhi tubuhnya, hingga sempat dirawat lantaran DBD. Hikmah dari sakit itu ia peduli kepada kesehatan, bahwa sehat itu sangat berharga. Alhamdulillah ia dapat mengatasi segala kesulitan. Saya juga memberi pengertian kepada papanya, agar anak dibolehkan berkesenian, supaya balance  otak kiri dan otak kanan nya. Selain itu saya mengetahui ia sering menjadi pembawa acara di kampus, baik resmi atau pun tidak resmi. Bagi saya pribadi, anak mami itu telah menjadi sosok yang mandiri. Kini tugasnya bertambah sejak adiknya Aryanto Rachmadi Putra menjadi mahasiswa Teknik Otomotif UNY, 2010.

Dan pada akhirnya ia meninggalkan dunia teater bukan tidak direstui papanya, namun ia menerima pekerjaan tambahan sebagai assisten dosen. Hari-harinya padat dan positif, dunia nya ada di Jogjakarta. tempat pertama kali saya jatuh cinta. Lho apa hubungannya? Nggak ada, kebetulan sama-sama kota Jogjakarta mengukir sejarah hidup dan itulah proses kedewasaan mengatasi segala kendala hidupnya dijalani, menjadikan sosok lelaki yang nantinya akan bertanggung jawab untuk segala tidakannya, dan masa depannya.
Masih panjang jalan itu, satu per satu telah dilalui. Sebentar lagi ia akan berkemas meninggalkan Jogjakarta-nya dan entah kota mana lagi yang akan di singgahi untuk mengisi hari-harinya. Tinggalkan adiknya seorang diri yang akan meneruskan cerita kota Jogjakarta.Pulang kekotamu ada setanggup haru dalam rindu.." itu sepenggal lirik lagu khas KLA PROJECT berjudul "Yogyakarta."    Tapi saya rindu petikan gitar nya, Nyanyian Burung Chaveleh akhir tahun 2011 ini tak mengalun lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Kali ini ia tengah berbenah untuk segala urusan jelang catatan terahir menjadi mahasiswa Tekkim UGM.

Selamat berjuang anakku...
Selamat Ulang Tahun ke 22 PF 27.12.2011...
Semoga semuanya diberi kelancaran dan bahagia

salam sayang dari Mother buat YoAnDo

Rabu, 14 Desember 2011

C e r p e n k u :





P O P I C E
Oleh : Arie Rachmawati


“Krompyaaang….!” Sebuah kaleng bekas soft drink melayang mengenai wajahku. Segerombolan anak – anak nakal yang membuatku terbirit – birit, hingga jatuh ke selokan penuh sampah mengambang. Ada kaleng kosong bekas makanan siap saji sempat menyentuh kuliku yang lembut, meninggalkan luka. Perih.

Siang itu udara gerah sekali, peluh keringat bermandi sauna. Semua manusia mulai mengeluh tentang Global Warming benar–benar membuat dunia semakin panas. Semak belukar seperti terbakar, tak ada tempat untuk istirahat walau menata nafas yang tak beraturan.
Sudah lama tak turun hujan. Aku tak suka air tapi kehadiran hujan adalah pengusir kemarau yang panjang. Bahkan jalananan yang aku lalui pun panasnya aspal masih terasa menempel di seluruh telapak kakiku. Melepuh karena perjalanan tanpa mengenal batas. Lelah, lidahku menjulur keluar dan air liur itu mengering. Haus.

Hingga aku tiba pada sebuah rumah terletak di ujung jalan ini. Aku lelah berjalan dan aku ingin tinggal di rumah yang sederhana dan nampak asri ini. Aku yakin ini pelabuhan terakhirku.

Nama jalannya aku tak tahu. Yang aku tahu pemiliknya memiliki dua anak gadis yang cantik dan berambut panjang. Kedua orang tuanya pun memiliki wajah sama menariknya dengan mereka berparas lembut itu. Kaum manusia menyebutnya anak kembar. Sepertinya mereka sebuah keluarga yang bahagia. “Ah, andai aku memiliki keluarga seperti mereka,“ gumamku dalam hati.

“Bundaaaa…, sini ini ada pussy. Kita pelihara ya Bun…”, pinta salah satu anak kembar yang lebih feminin. Kedua bola matanya bulat penuh, tertuju padaku dan aku suka itu.
“Meooow…” jawabku setuju. Aku buat seraut wajahku memelas. Sedang kembarannya asyik bermain bola basket. Bola itu lebih menarik perhatiannya bila di banding dengan kehadiranku, yang membutuhkan perhatian ekstra.

“Venska, ingat ini kucing kampung. Silver pasti akan merasa tak aman, sayang?“ suara Bunda, lembut sekali.
“Meooow…, kangen!“ sautku manja jadi ingat ibuku.
“Please dong Bunda, siapa tahu bisa berteman dengan Silver. Iya…, Bunda, boleh ya?“ Venska merajuk.
“Okelah…, tapi ingat, jaga kebersihan dan jangan membuat gaduh Ayah, ia tak suka itu.“
“Thanks Bunda. Iya Venska berjanji deh! “ ujarnya kegirangan. Aku hanya tersenyum menang. Keinginanku terkabul. Tapi, siapakah Silver itu? Anjingkah? Kucingkah? Bahkan saat aku datang tadi bau khas sesamaku pun tak tercium olehku.“
“Silver…, meooow, aku datang salam kenal dariku,“ sapaku. Gadis bernama Venska itu membawaku pada sebuah taman kecil di samping rumah. Lalu, aku diguyur dengan air dengan gayung berkali - kali. “ Brrrrr…, dingiiiiin!“ Girang-ku berkepanjangan. Sesekali tangan mungil gadis itu membubuhkan cairan bening dan menggosokkan pada sekujur tubuhku, tercium bau wangi. Hingga tersentuh luka kecil itu dan perih. Meoooow. Gadis yang tadi kulihat asyik bermain bola basket, rupanya mengetahui jeritan sakitku.
“Va…, coba lihat sepertinya ada luka deh !“
“Oya? “
“Benar Vi, buruan ambil Betadine dan kapas! “
“Meeooow…,” ujarku menahan perih. Usai itu kedua gadis cantik itu bergantian memberiku makanan berupa butiran lembut yang dituang dalam mangkok coklat bertuliskan “Silver“. Makanan itu ternyata membuatku mual. Aku melihat tulisan dalam kemasan “Friskes“ dengan ada gambar sejenisku. Aku rindu sajian sederhana, cukup nasi putih terbaur dalam urapan ikan pindang goreng. Selera itu pembangkit rasa.
“Oh…, rupanya kau tak suka ya?“
“Sebentar aku ganti susu aja ya?“
“Meeooow…,” jawabku mengangguk. Venska berlari menuju lemari pendingin dan menuangkan susu putih. Aku menjulurkan lidahku perlahan hingga habis, rasa laparku telah hilang.
“Meeooow, terima kasih ya?“ balasku hormat.
“Oke deh… , sekarang kamu istirahat.”
“Hmm…, aku beri nama apa ya untukmu?“
“Yaa…, Popice aja!“ ujarnya semangat.
“Meeooow…aku punya nama cantik, Popice!“
“Meeooow…, terima kasih cantik, “ balasku senang.

*****

Malam semakin larut dan hujan baru menyentuh bumi. Syukurlah kini aku mendapat tempat berteduh walau harus menumpang pada keranjang Sivler. Menurut mereka besok Silver akn pulang bersama Gio, adik bungu mereka yang tengah berlibur ke rumah nenek. Silver…??
Bunda dengan rambut bergerai lebih cantik parasnya dari pada rambutnya terikat ke atas. Bunda, menyuruhku beranjak dan tempat tidurku itu segera dibersihkan.
“Hari ini Silver datang, kau Popice baik-baik ya dengannya, “ ucapnya mengajakku berbicara.
“Meeooow… ” Silver, Silver, Silver lagi siapa dia?. Aku baru menikmati kelembutan keluarga yang hangat, haruskah terusik?

Deru mobil berkenyit berhenti tepat di depanku. Seorang anak laki-laki berponi tipis turun dari mobil dan menggendong seekor kucing Persia.
“ Bundaaaa…, Gio pulang!“ sapa anak laki-laki itu berlari menghampiri Bundanya.
“Oh itukah Silver?“ tanyaku dalam hati. Aku tahu ia berbeda dari golonganku.
“Meeooow…”sapaku ramah.
“Meeooow too…,” sahutnya menatap sekilas. Mata kami sempat beradu. Silver cantik sekali, bulu-bulunya mengundang kagum. Warna keabu-abuan beradu dengan warna putih tulang. Tingkahnya yang anggun, membuatku salah tingkah. Ah…, begitu jauh perbedaan kami. Sekarang aku baru menyadari arti ucapan Bunda waktu itu.
“Venska, ingat ini kucing kampung. Silver pasti akan merasa tak aman, sayang?“ suara Bunda kembali tergiang di telingaku.

Waktu berjalan, entah berapa lama aku tinggal di sini. Yang aku ingat saat datang pertama kali tubuhku kurus kering dan bau. Kini aku menjelma menjadi kucing kampung berparas Persia. Bahkan kucing-kucing tetangga pun mulai bermain mata denganku. Terima kasih Silver telah banyak mengajariku dalam pergaulan lingkungan elite dunia kami.
Sore itu aku kedatangan tamu, seekor anjing betina berbulu hitam putih, sejenis serigala, nampak gagah sekali. Silver memperkenalkan padaku, bahwa anjing itu milik seseorang sahabat ayah si kembar. Ia menyalak tanda perkenalan.

“Guk…guk…” sapanya ramah.
“Meeoow…,” balasku agak segan. Silver memberi tanda kepadaku agar tidak boleh menunjukkan itu. Silver berbisik padaku, bahwa Abigail anjing yang ramah dan cantik. Andai Abigail seekor anjing jantan, pastilah aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Benar-benar menarik. Abigail telah tertambat hatinya pada seekor anjing berbulu pudel bernama Carpone, milik seorang perempuan yang tinggalnya di blok sebelah.
“Oh…” kataku murung.
“Guk…guk… , kita bersahabat saja. Tak selamanya anjing dan kucing bermusuhan.“ katanya menghampiriku dan menawarkan persabahatan.
“Iya, Thanks ya Abigail!“ balasku.
“Nanti kau akan kukenalkan dengan kucing tetanggaku. Pasti kalian saling menyukai deh! “ balas Abigail.
“Terima kasih. Aku pamit dulu ya! Venska mencariku. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Senang kenal kamu. Salam buat majikanmu, sepertinya ia sangat hangat “pamitku.
“Iya jelas. Aku bangga menjadi penjaga setianya.“
“Terima kasih kembali. Popice kamu manis sekali. “
“Meeoow…, daaag Abigail, daaag Silver“
Aku tersenyum, dan segera mencari arah suara yang memanggilku berulang kali. Venska menyambutku dengan penuh cinta.
“Popice, hari ini kamu berulang tahun. Ya setahun lalu saat kau datang ke rumah kami. Blablabla…,” ceritanya menggebu-gebu.
“Popice…, sudah wktunya kamu menikah, dan mempunyai baby yang cute. Akan kukenalkan kau pada kucing temanku. Aku sudah melihatnya…, cakep banget dia, pasti kau suka deh!“
“Ulang tahun…, meeoow?“
“Menikah…, meeoow?“
“Punya baby cute? Meeoow?“ Banyak kata-kata baru tiba -tiba memenuhi pikiranku dan aku tak paham. Malam semakin larut dan aku tenggelam bersama dingin.

*****

Silver duduk merenung, ekornya ditekuk di dalam selimut. Aku hanya memandangnya. Hari itu ia bertingkah aneh, sepertinya gelisah. Udara tak bersabahat. Aku merasa kedinginan, ingin ikut berbagi kehangatan dengannya. Wajahnya sengaja berpaling dariku saat aku menatapnya, mencari sebuah jawaban. Sejak aku bertanya tentang ulang tahun, menikah dan baby cute. Silver diam seribu kata. Hening, hanya terdengar hujan turun, tik…tik…
“Meeooow… , Popice sini!“ sapanya. Kepalaku yang semula dalam satu tekukan langsung melongok ke arahnya.
“Meeooow… ,” sahutku malas.
“Sudah waktunya kau keluar dan bersosialisasi dengan kucing – kucing tetangga, jangan bersamaku di sini. Kau seperti mereka komunitasnya lebih semarak, sedang aku hanya kalangan terbatas. Meeooow…”
“Kenapa kau berkata demikian, Silver?“
“Apakah pertanyaanku tadi telah menyinggungmu?“
“Maafkan aku bila itu membuatmu marah. Tak akan kuulang lagi.“
“Bolehkah aku memelukmu berbagi dalam selimutmu, Silver.“
“Boleh … , silahkan Popice.“ Hari itu aku pertama kali berada dalam satu selimut dengan Silver, kucing Persia yang cantik dan elegan, berhati selembut salju. Silver banyak mengajariku berbagai hal. Dan bersamanya aku merasakan nikmatnya makanan enak dan bergizi. Tentu itu membuat kucing – kucing sejenisku mengundang rasa jealous. Silver mendekapku dalam hangat. Keesokan harinya aku mendapatinya dalam tubuh yang dingin. Silver telah berpulang, meninggalkan aku sebelum aku membalas kasih sayangnya.
“Bundaaa…, Silver is dead!!!“ pekik mereka bersamaan. Aku memandang dari bawah meja tamu tempatku untuk rehat. Aku juga menangis seperti mereka penghuni rumah ini yang telah kuanggap sebagai keluargaku. Silver selamat jalan…hiks!

Siang itu saat rumah mereka kedatangan tamu dalam perhelatan keluarga, aku sengaja pergi keluar. Mereka sibuk dengan kesibukan masing-masing. Aku bertemu kucing tetangga yang tinggalnya di blok sebelahnya, namanya Lutu. Lutu masih satu saudara dengan Chimung, Chemong dan Chuming, kucing kembar tiga, teman bermainku petak umpat. Mereka sedang berkumpul bersama, lalu mereka mengenalkan padaku Eros dan Tono kucing berparas preman berwajah penuh cakaran. “Meeooow…”
Sebulan dari perkenalan itu aku memutuskan menjadi milik Lutu, kucing berbulu emas yang rajin buang air seninya di kamar kecil. Lutu bercerita padaku si pemiliknya Anny selalu mengajari hidup disiplin. Tentu itu mengingatkan pada almarhum Silver, yang telah aku anggap sebagai ibu asuhku.

“Meeoow… , meeooow… ,meeoow, “ suara itu membuatku terjaga. Jerit kelaparan ketiga anakku Snowy,Tiger dan Grumpy. Trio Mii Mii membuat rumah kian semarak. Andai Silver masih ada tentu akan berbagi kebahagiaan lucunya mereka saat berebut makanan.
“Owy, Ampy dan Iggy siniiiii… ,” panggil Venska dan Venski bersamaan.
“Meeooow…,” jawab mereka serempak. Dari anak tangga aku memperhatikan ulah ketiga anakku yang sedang tumbuh kembang. Mereka perpaduan antara Lutu dan aku. Lutu?? Ah… , kucing jantan itu telah beranjak pindah kelain hati. Aku dengar ia sekarang sedang mendekati kucing tetangga baru pindah, namanya Kitty Cathy.

“Meeooow… ,” manjanya Trio Mii Mii membuat si kembar kegelian. Mereka mengajaknya bermain bola bersama beberapa teman sekolahnya. Aku bahagia melihat mereka bergemul bersama, suatu keadaan yang tak pernah aku dapatkan sewaktu aku kecil.
“Owy… , nakal, entar Va jewer ya?“ ucap Venska mulai kewalahan ulah anak bungsuku itu. Aku jadi ikutan tertawa. Canda tawa yang membuatku seperti muda lagi hingga Eros kucing tetangga milik Diandara mulai memainkan flirting.

Lalu aku menjalin hubungan dengannya. Saat itu melintas Abaigail bersama tuannya.
“Guk! Guk! Apa kabar Popice? Apa kabar Silver? “ sapa Abigail.
“Meeooow… ,Abigail! “
“Hai, Silver sudah lama mati. Dan, aku sudah punya tiga anak yang lucu.“
“Oh… , Ikut berduka. Selamat jalan teman.“
“Jadi ketiga kucing mungil itu anak-anakmu, lucu ya?“
“Namanya?“
“Snowy, Tiger dan Grumpy.“
“Aih… , nama yang indah. Selamat ya, Popice!“
“Kenapa raut wajahmu murung?“
“Aku tak sebahagia kamu Pop. Carpone juga sudah mati. Aku merasa sendiri “
“Jangan bersedih sobat. Bukankah kita bersahabat?“
“Abigail… , boleh aku memelukmu?“
“Tentu, dengan senang hati Popice.“ Aku menghampiri Abigail yang duduk dekat kaki tuannya tengah asyik bertukar cerita dengan ayah si kembar. Mereka berbicara seperti nada-nada irama mengalun indah. Aku dan Abigail memperhatikan keduanya. Aku merasakan keakraban itu, seperti saat Abigail memelukku. Kami berdua tertawa bersama seiringan mereka dua sahabat karib yang tak lekang oleh waktu, begitu cerita Silver saat menceritakan satu per satu penghuni rumah ini.

“Meeooow… , meeooow, “ suara yang aku kenal.
“Ya ampun ia Eros, pasti salah paham deh!“ ujarku kaget.
“Guk… , guk biar aja akan kuhadapi, Popice“
“Eros, sabar…, kau salah paham. Yang kau lihat tadi tak seperti kau pikirkan, kami hanya bersahabat. Ia sahabat Silver. Bukankah kau kenal. Kami bersahabat sudah lama seperti kedua tuan kami, lihatlah!. Kamu jangan bikin gaduh, mereka sedang membuat lirik lagu.“
“Meeooow…”
“Oh My God… , Tono datang, kucing pembuat onar.“
“Tono?“
“Ya Abigail, please…, kamu jangan keluarkan taringmu. It’s just kidding. “
“Just calm down… , meeooow“
“Guk… , guk!“
Di halaman luar Tono dan Eros beradu. Dari pertengkaran itu aku menyimpulkan bahwa Eros telah diam – diam menjalin hubungan si Lexy kucing mungil milik Okta gadis kecil teman Gio. Lexy kekasih Tono. Sekarang aku berterima kasih kepada Tono, kucing pembuat onar telah membuka kedok Eros yang selama ini berwajah innocent.

“Meeooow… ,sialan kau Eros!“
“Pergiii, meeooow!“
“Guk… , guk jangan bersedih Popice, kemarilah aku sahabatmu!“
“Kita saling men-support… , guk…. ,guk!”
“Thanks ya Abigail. Semoga persahabatan kita abadi.“
“Sama-sama Popice yang manis.“ pujian itu membuatku terhibur.

“Meeooow… , meeooow… , meeooow!“ sapa Trio Mii Mii menyapa kami.
“Mom… , ada berita bahagia sekaligus berita sedih,“ ujar Iggy antusias.
“Oya?“
“Iya…“ sahut Owy sedih disusul Ampy
“Guk…, guk…, ada apa?“ balas Abigail.
“Venska dan Venski akan kuliah ke luar negeri, katanya tempat yang jauh.“
“Oya, bagus itu guk… , guk!“
“Bagus? Meeoow?“ tanya mereka serempak.
“Bagus untuk mereka si kembar tapi tak baik untuk ketiga anakku.“
“Benar, tapi kalian masih memiliki anggota keluarga lainnya.“
“Tapi tak sehangat Venska dan Venski,“ sahut mereka berbarengan.
“Meeoow… , meeooow… , meeoow,“ tangis mereka meledak.

Sejak mendengar kabar itu, ketiga anakku tak lagi ceria. Kesedihan jelas tergambar di wajahnya. Bahkan kenakalan dan keusilan Owy tak nampak. Aku merangkul ketiga anakku. Dan, saat perpisahan itu terjadi Trio Mii Mii kian murung. Aku ingat saat Venska dan Venski saling bergantian memeluk ketiga anakku juga berpamitan padaku.
“Popice…, jaga mereka ya selama kami pergi.“
“Kami pasti merindukan kalian, muuuuaaaach!“ tangan mereka melambai. Kami berempat hanya melepas di depan rumah hingga menghilang di ujung jalan menikung itu.

Siang itu ada deru mobil berhenti tepat depanku duduk di bawah pohon. Turun seorang wanita berkerudung dan seseorang laki-laki. Bunda dengan ramah menyapa sambil membersihkan mangkok besar.

“Assalam’mualaikum.“
“Wa’alaikum salam.“
“Hai, sepertinya aku pernah ingat wajah ini siapa ya?“
“Hmm… , Riri ya?“ Bunda menebak nama tamu yang datang.
“Wah kamu sekarang berjilbab ya, tambah cantik, ayo masuk. Ayah ada tamu, Riri,“ ucap Bunda sepertinya telah mengenal tamu siang itu.
“Terima kasih. Apa kabar mbak?“
“Meeooow… Halo aku Popice?“
“Meeooow… , hai aku di sini, salam kenal. Aku mencium sepertinya auramu bisa membaca bahasa kami. 
"Hai Riri…, meeooow!“
“Kau berbicara denganku?“
“Ya tentu. Aku dengar tadi pembicaraanmu dengan tuanku. Kamu fans ayah si kembar ya?“
“Lalu…?”
“Ya bantu kami.“
“ Kami itu siapa?“
“Aku Popice dan ketiga anakku Trio Mii Mii, sampaikan salamku untuk si kembar lewat alat yang ajaib itu.“
“Maksudmu laptop yang aku bawa ini?“
“Hahaha…, kamu ada–ada saja Popice. Namamu cantik sekali.“
“Thanks ya Riri, meeooow.“
“Please bikin sesuatu tentang kami buat Venska dan Venski, rindu ini.“
“Riri, bikin video terus di unggah ke youtube.”
“Hahaha…, permintaanmu aneh sekali. Waahh, hebat juga kucing canggih nih! Salut deh!“
“Ssttt!! Mereka datang.“

Pembicaraan itu terhenti karena pemilik rumah kembali berkumpul melanjutkan cerita yang tertunda itu.
“Hai Popice nggak boleh gitu sama tamu Bunda.“ Bunda mengusikku karena aku merasa akrab dengan tamu istimewa ini. Aku baru mengenalnya tapi aku merasa akrab dengannya. Mungkin ia datang sebagai malaikat dari langit untuk penghubung rindu antara anak-anakku dengan anak tuanku si kembar.
“Riri, kamu punya akun youtube?“
“Punya mbak, kenapa?“
“Kamu bisa video-in kucing-kucing kesayangan Venska-Venski?“
“Mereka rindu. Sekarang mereka tinggal di Belanda, kuliah di sana.“
“Tentu, kapan, sekarang?”
“Oke!“
“Tuh kan Riri, benar dugaanku, kamu utusan dari langit, meeooow!“ kataku kegirangan.
“Ha ha ha, berlebihan deh! Ini hanya serendipity aja.“
“Apa itu? Meeooow?“
“Serendipity adalah kebetulan.“
“Sstt! Jangan berisik mereka nanti curiga aku bicara sendiri,“ katanya.
“Oke deh, Thanks ya Ri.“ Aku senang akhirnya doa yang kupanjatkan telah terkabul oleh Tuhan. 

Wanita berkerudung itu telah memotret satu persatu dan mengambil gambar anak-anakku untuk kirim kepada Venska dan Venski di Belanda melalui benda ajaib itu.
“Terima Kasih ya Riri, sampai jumpa.”
“Sama–sama ya Popice, jaga anak-anakmu. Kita sama memiliki tiga buah hati titipan dari Tuhan.“

Lambaian tangan tamu siang itu menghilang di tikungan seperti saat Venska dan Venski pergi meninggalkan kami di sini. Rindu itu tak pernah mati.

( S E L E S A I )
NB : RIP POPICE 2010