Minggu, 27 April 2014

Ulang Tahun

Aku & Empat Enam
(curhatanku)
Kado dari Yoando

Minggu 27 April 2014 ini usiaku bertambah lagi satu, berarti kesempatan di dunia berkurang. Sejak lima tahun terakhir ini kala mengenal jejaring sosial media sebut saja facebook dan twitter, setiap tahunnya selalu ada saja yang mengucapkan 'selamat ulang tahun', lewat telefon, SMS, inbox & wall FB, twitter, BBM dan What'sApp (padahal aku bukan artis, selebritis atau publik figur), baik dari keluarga, saudara, tetangga, sahabat dsb. Dan di rumah pun nggak pernah ada perayaan ulang tahun, semua berjalan biasa saja. Namun, mendadak wall-ku penuh berbaris-baris doa dan ucapan itu, senang sekali pastinya. Setiap ucapan itu doa, semakin banyak yang mendoakan pertanda baik dan semoga memberi kebaikan, keberkahan usia dan manfaat untuk orang lain terutama dalam hal kebaikan. Atensi, perhatian mereka adalah salah bentuk nikmat dalam pertemanan baik secara maya maupun nyata. Mengutip salah satu dari postingan di twitter, "Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak mampu mensyukuri yang banyak. (HR Ahmad), menurutku itu baik, belajar bersyukur lewat ucapan dan doa yang tentu manfaatnya sangat besar.


Mungkin pengaruh usia, nggak ada keinginan berbau duniawi jelang hari ulang tahun. Antara usia 44-45-46 ini aku lebih ingin meningkatkan ibadah, misal sebelum ulang tahun aku nggak punya hutang puasa, atau ingin khatam Al-Qur'an karena setiap bulan Ramadhan banyak nggak bisanya untuk mengkhatamkan Al-Qur'an. Jadi aku berpikir kenapa selama sebelas bulan menjelang hari ulang tahun ditargetkan saja, yang penting waktuku bermanfaat. Segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa mendengar munajah doa-doaku.


"Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang berbuat baik." (QS Al-Baqarah : 195) Mungkin juga akhir-akhir ini aku senang menyimak petikan ayat suci dan membaca buku Hadist akhirnya keinginan untuk itu yaitu berbuat baik tanpa mengharap balas. Berbagi bahagia dan ceria melalui mendongeng buat anak-anak TK di sebuah desa, menurutku itu seperti impian yang tiba-tiba menyeruak nyata. Meski pun dalam hal ini aku otodidak dan belum mahir, namun aku menemukan dunia yang dulu pernah kuimpikan. Manfaat dari mendongeng aku ingin menulis cerita anak-anak agar lebih membumi untuk mencintai Nusantara ini. Beberapa keinginan yang terangkum dalam doa satu per satu Allah SWT telah mengabulkan seperti terbitnya buku kumpulan cerita pendek, jadi sebagai kado ultah ke 46 ini aku mempunyai buku berjudul "Dandelion dalam Rindu", yang diluncurkan melalui penerbit online Leutikaprio sejak Jum'at 8 November 2013 lalu.


Usia kini kedepannya, aku ingin lebih lancar membaca Al-Qur'an dan menghapal surah-surah lainnya dengan baik dan benar. Aku akui cara membacaku masih terbata-bata namun akhirnya Jum'at 7 Februari 2014 lalu aku bisa khatam Al-Qur'an, tinggal menghapal surah Al-Mulk dulu setelah itu target selanjutnya adalah surah Ar-Rahman. Sedikit demi sedikit karena kemampuan memoriku sudah mulai tidak maksimal seperti remaja dahulu. Mungkin hal tersebut dikarenakan faktor usia, dan semakin padatnya file-file bertumpuk dalam memori otak ini antara tugas ibu, istri dan amanah-amanah lainnya. Namun niat, minat dan semangat belajar (apa pun itu) kian menyala. Jelang usia 46 ini, mendadak aku jatuh cinta pada kegiatan merajut. Ajaib saja, aku belajarnya waktu jaman SD dan usia kini dimulai lagi dari nol dengan bantuan tayangan di Youtube dan akun Pinterest dan sedikit demi sedikit tanganku rajin merajut benang wol atau benang katun Bali itu. Biarpun baru memulai aku senang dan bangga pada hasilku karyaku itu. 

Hasil rajutan selama 2-3 bulan ini


Kembali mengutip petikan beberapa ayat dari Al-Qur'an yang ada kaitannya dengan nikmat yang harus disyukuri, simak ini :
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyatakan (dengan bersyukur). (QS Ad-Dhuha :11). "Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepadaNya-lah kamu meminta pertolongan.(QS An-Nahl : 53)  Belajar mensyukuri nikmat yang ada memberi kebahagian di hati kita. Namanya manusia selalu ada saja keinginan-keinginan yang lainnya, namun sebaiknya kembali berserah diri kepada-Nya. Seperti diriku ini, ada keinginan terpendam, maka cukupkan memohon yang terbaik untuk segala apa yang menjadi keinginan batin baik yang terucap maupun yang dalam hati.

Hari ini saat usiaku empat puluh enam tahun, dengan munculnya rambut uban senantiasa disertai semangat membara, semoga semua yang baik dapat terwujud kepada-Nya semua bertumpuh. Usia kini ingin menikmati hidup dengan kreativitas semaksimal mungkin sesuai batas kemampuanku. Kembali ke cerita ulang tahun, tak ada perayaan, tak ada pesta, namun sebuah nikmat yang patut disyukuri yaitu sudah dua tahun terakhir ini anak-anakku dan suami yang tidak satu kota (sekarang sudah sekota lagi sejak 6 bulan terakhir ini) bisa meluangkan waktu berkumpul bersama. Itu lebih dari cukup tanpa izin-Nya semua tak akan terjadi. Allahu Akbar, masih ada saja yang memberi 'kado' baik melalui paket maupun hadiah langsung. Ada cokelat, ada kue tart mungil, ada dua kerudung hijab, t-shirt rajutan, ada frame, and more. Yaa Robb sungguh besar nikmat itu (nikmat sehat dsb), semoga Engkau memasukkan diriku kedalam golongan orang-orang yang sedikit yaitu yang bersyukur. "Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?. (QS Ar-Rahman 13) 
Semoga curhatan diatas bukan cerita riya' semata namun dapat memberi inspirasi, motivasi untuk teman-teman yang membaca mulai saat ini belajar bersyukur dari yang kecil. Barakallahu fiikum . . 
Amin amiiiin Ya Robbal Alamin. Terima kasih buat semua teman, sahabat, saudara, tetangga, dan pembaca blog ini.


Salam
Arie Rachmawati

C e r p e n k u :


CATATAN SEMUSIM
Oleh : Arie Rachmawati


Selembar kertas melayang lepas dari genggaman tangan Eira, seperti layang-layang putus benangnya. Eira menangis, tak mungkin meraih kertas biru muda itu,  surat dari Gustimo. Hampir sebulan ini suasana hati Eira nggak karuan sejak pertemuan kembali dengan sahabat lama, setelah sepuluh tahun berlalu terpisah jarak dan waktu. Menghilang seperti tertelan bumi. Kilas balik cerita pertemuan yang tak terduga di suatu pagi, jelas membuat hati Eira galau.
Saat salam pagi menyapa alam semesta, suasana damai menyertai doanya dalam ziarah ke makam leluhur. Sudah lama Eira tidak menginjakkan kaki ke pemakaman umum Cukil di desa Gebang itu. Kesibukan di Ibukota dan jarangnya mudik ke Jember, membuatnya hampir lupa bahwa leluhurnya beristirahat selamanya disana. Seorang ibu tua sebagai juru kunci makam dengan sabarnya menemaninya. Berbekal sisa memori Eira mencari beberapa makam saudara neneknya, dengan menyebutkan nama besar keluarga, Marsono Reksosaputro. Usai sudah berziarah. Eira telusuri jalan setapak yang rimbun ilalang dan pohon kamboja. Tanah liat merah melembab, hujan semalam membuat sebagian tanah disini becek.
“Terima kasih ya Bu, sudah menemani saya,” ucapnya sambil memberi upah.
“Namanya siapa Bu?”
“Saya? Ibu Aminah.”
“Iya sama-sama Nak. Sering-sering kesini, dulu nenekmu rajin ziarah kesini. Waktu itu saya masih remaja, ingat banget suka diberi oleh-oleh. Nenekmu juga sering mampir ke rumah saya. Mampir ke rumah yuk, Nak.” Ajaknya sambil menunjuk ke arah kakiku yang belepotan tanah.
“Iya Bu, saya mau mampir menumpang cuci kaki.” Balas Eira singkat.
“Mari, mari Nak, silahkan masuk. Langsung saja ke belakang ada sumur dan kamar mandi.”

Eira mengikuti petunjuk nenek juru kunci itu. Sebuah sumur kuno mengingatkan  masa kecilnya,  saat sebelum mengambil air selalu berkaca pada air sumur.

Sepenggal cerita itu yang mempertemukan kembali dengan Gustimo, teman masa kecilnya. Seandainya Eira tidak mampir ke rumah ibu tua juri kunci makam, tentu pertemuan itu tak terjadi. Selepas masa SMP, Eira meninggalkan kota dan sejak itu ia tak pernah lagi mendengar cerita mereka teman-temannya. Hingga masa reuni akbar kemarin, beberapa teman missing termasuk Gustimo. Laki-laki piawai memainkan alat musik yang pernah menarik perhatiannya. Eira pikir Gustimo sengaja kursus musik ternyata bukan, ia belajar sendiri bahkan sepulang sekolah, ia masih belajar di pondok pesantren. Hebat. Itu decak kagumnya yang tersimpan sekian lama. Dan ketika reuni SMP kemarin, kerinduan padanya yang membuat Eira mengambil cuti dan meninggalkan Jakarta sementara waktu. Pulang kampung.

“Halo apa kabar Eira, “ sapa seorang laki-laki keluar dari bilik kamar. Sesaat Eira memperhatikan seraut wajahnya, antara lupa dan ingat.
“Halo juga, siapa ya?” tanyanya heran sangat yakin menyebut namanya.
“Kamu lupa aku ya? Aku Gustimo, aku sudah melihatmu sejak kamu turun dari becak menuju pesarehan* tadi.”
“Speechless!” ujarnya senang, ingin memeluknya seketika. Seperti tidak mempercayai bahwa laki-laki yang selama dicarinya kini berada di hadapannya.
“Aku tahu kamu akan datang reuni, salah satu teman kita memberitahukan itu.”
 “Lho teruuuuss, kenapa kamu nggak datang? Padahal aku mencarimu, Gus.”
“Oya Eira, terima kasih aku sangat senang mendengar kata-katamu itu.”
“Ngomong-ngomong, siapa teman kita itu yang kamu maksudkan, Gus?”
“Ario...”
“Ario? Padahal kemarin pas reuni kami ngobrol lama, bahkan aku menanyakan dirimu. Dia bilang nggak tahu menahu tentangmu. Heran aku?’
“Aku yang memintanya untuk merahasiakan itu, Eira.”
“Hah? Untuk apa?”
“Nanti aku jelaskan, bila waktunya bersahabat, Eira.”
“Ah, kamu masih seperti dulu, puitis.”
“Bukankah yang puitis itu dirimu, Ra.”
“Besok pagi aku kembali ke Jakarta, Gus.”
“Ya, aku doakan semoga perjalananmu lancar dan selamat sampai tujuan.”
“Ah kamu, bahasamu baku banget sih. Santai sedikitlah....”
“Ah kamu tadi bilang bahasaku puitis ealah sekarang bahasaku baku. Aaaah Eiraaa...”
“Gus, malam ini temani aku ngobrol, sudah lama aku menantikan pertemuan ini. Ingin sekali aku menceritakan tentang sesuatu”
“Benarkah Eira? Bukankah kamu sudah jadi orang sukses, masihkan kau mengingatku.”
“Ya, masihlah, namamu penuhi buku catatanku itu sebabnya aku ingin datang reuni kita.”
“Aku gaptek. Hidupku tak seperti mereka, Eira. Kapan-kapan aku ceritakan dan mohon maaf aku nggak bisa menemanimu undangan ngobrolnya, aku ada kerjaan yang harus kuselesaikan.”
“Please, untuk kali ini saja. Aku nggak bisa memastikan akan kembali kesini. Jadwalku padat. Please Guuusstimoo....” pintanya memelas.
Gustimo menemani Eira, membersihkan kaki-kakinya belepotan tanah liat. Sesekali ia mencuri pandang, dipandangi wajah perempuan yang pernah bersemayam dihatinya. Obrolan itu membuat Eira bahagia dan kecewa terpadu jadi satu, akhirnya ia menemukan Gustimo, meski terbersit rasa ingin tahu, seperti ada rahasia. Waktu dan jarak membuat penampilannya berubah, mengingatkan kenangan manis setelah masa perpisahan bangku sekolah menengah pertama. Pertemuan sesaat membuat banyak cerita tertunda untuk diulas. Eira harus kembali ke Jakarta. Pertukaran nomor handphone bukan semakin menjalin keakraban, justru sebaliknya. Banyak kata singkatan yang Eira tidak mengerti maksudnya. Gustimo menjadi sosok yang misterius. Beberapa kali Eira menelpon selalu berada diluar area, andai pun masuk, ia nggak mau mengangkat  telepon.  Eira kecewa.

Hingga Eira menerima surat darinya itu. Suatu kejutan diluar dugaan, sepanjang usia remaja ia tak mengira Gustimo menaruh hati. Dan baru kini ditulisnya singkat padat. Selembar surat berwarna biru muda, menerbangkan harapannya. Dilembaran itu tertulis nomor handphone barunya. Itu sebab kendala yang memutuskan komunikasi di antara mereka. Seraut wajah memelas, bersamaan langit yang gelap. Eira menangis. Wanita yang dikenal sahabat-sahabat sebagai sosok tegar dan mandiri itu tiba-tiba menjadi rapuh. “Aku harus menemuinya, aku nggak bisa keadaan seperti ini mengacaukan semua aktivitasku,” ucapnya seraya memandang cermin. Eira mencoba menghubungi Ario, yang bersahabat dengan Gustimo.
“Ario, sorry aku mengganggumu. Kamu punya nomor handphone-nya Gustimo?”
“Tumbeeen banget, kamu menelponku, Eira? Ada apa denganmu?” Lalu Eira mencerita sekilas problema yang dialami yang berkaitan dengan Gustimo, pencuri perhatian akhir-akhir ini.
“Aku perlu bangeet, bisa bantu, Ario? Aku kehilangan nomornya, dia mengirim surat untukku, didalamnya ada nomor baru dan surat itu terbang tertiup angin. Nggak mungkin aku meraihnya.”
“Nomor yang baru aku pun tak tahu, Ra. Jadi maksudmu, aku harus menemuinya?”
“Iya, hanya itu harapanku, agar aku bisa menghubunginya.”
“Oke, nggak janji ya, Eira. Aku usahakan. Tapi kau tahu sendiri, dia sekarang susah ditemui, dia benar-benar menjauhi kita teman-teman lamanya.”
“Thank you, Ario. Aku hanya berharap padamu. Bila ia nggak mau menemuimu, tolong tinggalkan memo, titipkan ke Ibu juru kuci itu.”  Eira merasa lega. Harapan satu-satunya tertumpuh pada Ario. Pasrah.

Hari berganti hari dan belum ada kabar selanjutnya dari Ario. Ario susah dihubungi, SMS pun tanpa balasan. Ario tak bisa lagi diandalkan. Gelisah kian merajai hati Eira. Pertemuan itu mengusik gundah Eira, bila mengingat isi curahan hati Gustimo yang sekian lama memendam rasa cinta tanpa ia menyadari kehadiran cinta Gustimo secara perlahan. Baginya Gustimo adalah sahabat belianya, tapi keadaan yang berlaku sudah berbeda. Akhirnya Eira memutuskan menemui Gustimo. Penerbangan terpagi dari Soekarno Hatta menuju Juanda dan dilanjutkan dengan travel menuju Jember, langsung ke rumah Ibu juru kunci makam. Ternyata, Gustimo sudah beberapa hari sudah tidak pulang ke rumah itu. Penjelasan Ibu Amin membuat kecewa hati Eira. Belum beranjak dari tempat duduknya Eira dikejutkan dengan kehadirannya Gustimo. Semua kejadian seperti serba kebetulan. Gustimo pun tak kalah terkejut lantaran kehadiran Eira setelah perpisahan waktu itu. Eira pernah mengatakan tidak bisa menemuinya lagi karena kepadatan aktivitas dan kini Eira ada dihadapannya. Diluar dugaan pula, Eira memeluknya seketika. Sementara Ibu Aminah dan anak perempuan kecil berambut kepang itu hanya sebagai penonton. Gustimo menarik tangan Eira dan meninggalkan rumah itu.

  “Aku nggak bisa terima tindakanmu itu, Eira. Ini bukan Jakarta”
  “Ibu Aminah itu seperti Ibuku sendiri, meski aku hanya menumpang hidup disana.”
  “Laluuu, aku harus bagaimana? Suratmu membuatku galau, kehilangan nomormu       membuatku gila, Gus!”
  “Sementara aku menunggu bantuan Ario, tapi ia pun tiada kabar, hingga kuputuskan   kesini.”
  “Apa benar kamu mencintaiku? Benar begitu Gustimo?” tanya Eira tiba-tiba.
  “Iya benar Eira, aku  mencintaimu tapi kan nggak harus memilikimu.” Gustimo lalu membawa Eira ke suatu tempat. 

Setibanya disana, Eira hanya diam tak berbicara sedikitpun. “Masihkah kamu ingat tempat ini, Eira?” Eira hanya diam dan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak ingat tempat yang sekarang dipijaknya. Lalu Gustimo menceritakan tentang tempat itu. Sebuah rumah tua dimana dulu sepulang sekolah mampir kesana untuk sekedar duduk atau memetik rambutan bila musim berbuah. Rumah itu dulu milik seorang tukang tambal ban, pak Cipto namanya. Eira mulai memikirkan dan berusaha mengingatnya. Eira sering menulis puisi di buku, sedang Gustimo sering duduk diatas pohon rambutan. Penjelasan Gustimo tentang rumah tua telah menyeruakkan daya ingatnya.

  “Yaaaa..., aku ingat rumah itu kau suka menyebutnya gubuk tua itu ada dalam  catatanku.
  “Thank you,  Gustimo.”
  “Lalu sekarang bapak itu kemana Gus?”
  “Beliau itu mertuaku Ra, beliau sudah wafat karena radang paru-paru.”
  “Mertuamu? Lalu istrimu? Lalu Ibu Aminah itu siapamu?”

Sebelum Gustimo menjelaskan, lalu Eira menceritakan kisah hidupnya. Kecelakaan delapan tahun lalu telah melenyapkan sebagian memori otaknya dan Gustimo tidak mengetahui itu. Gustimo kini terpaku dalam manggu. 

  “Delapan tahun yang lalu, ketika aku akan menikah dengan mas Akbar, kami mengalami  musibah yang merengut nyawanya, aku nggak pernah memakai baju pengantin itu. Aku perlu waktu untuk mengembalikan daya ingatku. Cobaan itu sangat memukulku juga keluarganya calon suamiku, Gus.”

  “Bahkan, aku tadinya tak ingat dirimu, Gus. Lalu, beberapa teman kita sering menyebutkan namamu, terlebih Ario selalu cerita lewat surelnya tentang kita bertiga. Lalu, aku menemukan buku catatan usang disana ada namamu dalam puisiku. Gustimo, nama itu yang memenuhi pikiranku. Kamu, Gus!”

  “Maafkan aku bila nggak mengetahui musibah yang menimpamu. Aku pun selalu memikirkanmu hingga suatu hari aku memutuskan menikah. Menikahi putrinya pak Cipto, ceritanya panjang Eira.”  Gustimo mencerita perjalanan hidupnya. Terenyuh hati Eira. Saat Gustimo menikahi Winarti dulu karena permintaan alm ayah Winarti. Winarti telah berbadan dua tanpa diketahui siapa ayah anak dalam kandunganya itu. Ayah Winarti adalah pak Cipto yang telah dianggap sebagai ayahnya sendiri. Kini perkawinannya dengan Winarti pun diujung akhir cerita, tinggal menunggu hasil Pengadilan Agama, lantaran Winarti meninggalkannya secara sepihak dan kini beralih keyakinan karena seseorang yang melebihnya. Dan Gustimo sangat sayang kepada Wini, meski bukan darah dagingnya sendiri.
  “Jadi yang bersama Ibu Aminah itu, Wini?”
  “Ya Eira, aku meminta hak asuh jatuh ketanganku karena ibunya tidak mau membawanya pergi bersama laki-laki itu. Ibu Aminah itu adiknya pak Cipto”
  “Maksudku, bila kesempatan itu masih berlaku untukku pantaskah aku mengharapkanmu, Eira?”
  “Kenapa nggak Gustimo?”
  “Aku seperti yang kau lihat, seperti ini. Kerjaanku serabutan jauh dari yang aku cita-citakan. Hingga aku pun mendengar kabar kau akan menghadiri acara reuni akbar sekolah kita. Aku galau, Ario menemuiku memberiku semangat. Aku malu menemuimu, gadis impianku. Perbedaan di antara kita, Eira.”
  “Karena perbedaan itu, lalu kamu melipat segala bentuk cintamu kepadaku, Gus?”
  “Andai engkau tahu betapa aku ingin menemuimu dan menceritakan semua ini sekitar dua-tiga tahun yang lalu, saat perlahan-lahan memoriku mulai mengingat satu persatu tentang semuanya melalui catatanku, Gus!” tutur Eira sambil menahan air matanya tumpah membasahi kedua pipinya.
    “Salah satunya alat membantu memulihkan sebagian memoriku, adalah banyak ngobrol dengan teman lama dan suatu hari aku menemukan catatan usang itu, didalamnya penuh puisi untuk Gustimo. Aku benar-benar tak ingat siapa itu. Teman-teman kitalah yang menuntunku dan tiba waktunya reuni akbar aku usahakan pergi meski aku harus membatalkan perjalananku ke Seattle di hari yang sama acara itu. Aku harus bertemu Gustimo, sayangnya dirimu tak hadir. Ternyata, Allah masih berbaik hati kepadaku. Kalau jodoh pasti bertemu, aku ingin melihatmu, ingin aku nemukan diriku yang dulu. Itu alasanku kini kembali disini, di kota kita, kota penuh memori....” lanjut Eira semangat bercerita.

  “Aku pun turut prihatin atas musibah itu tetapi percayalah semua yang terjadi di dunia ini dalam izin-Nya.” balas Gustimo penuh haru. Andai ia tahu bahwa Eira sangat menaruh perhatian dikala remaja, mungkin ia takkan ragu mengatakan isi hatinya, bahwa Eira takkan tergantikan.
  “Apakah kau masih menyimpan sisa cintamu untukku, Eira?” tanya Gustimo gemetar.
  “Aku seperti ini, Eira?”
  “Benarkah kau mencintaiku, Gustimo?  Aku pun seperti ini, Gustimo”
  “Aku sangat mencintaimu melebihi cintamu kepadaku, Eira.”

Eira pasrah. Dalam satu pelukan mereka larut dalam haru. Bulan sabit tinggal lengkungan kecil menghias langit, tanpa kerlap-kerlip bintang. Hembusan angin malam menerbangkan ujung syal Eira. Gustimo menitikan air matanya yang tersimpan sekian lama, hasratnya untuk mendekap gadis pujaannya. Gustimo masih menyimpan cinta belianya hingga kini, dan Eira yang telah lama kehilangan sebagian memori daya ingatnya membuatnya sadar kala remaja ia pun menyimpan rasa cintanya kepada Gustimo. Cinta mungkin datang terlambat, namun cinta tak pernah salah mendaratkan langkahnya. Catatan semusim di kala remaja itu telah menuntun Eira dan Gustimo bertemu kembali dan memutuskan merajut benang cinta hingga menjadi sesuatu yang indah bagi keduanya. Disini mereka akhirnya mengikat janji untuk sebuah kisah baru, atas nama cinta dan Allah mereka ikrarkan itu. “Love never fails...” tulis Eira dalam catatannya kini.

SELESAI


NB Cerpen dibuat saat mengikuti lomba Menulis Cerpen via Twitter 
dengan tema "Love Never Fails" 2014

Selasa, 18 Februari 2014

Buku Primakata :

Kumpulan Mutiara Kata 
Ditulis kembali Oleh : Arie Rachmawati
Dari Buku Primakata Mutiara Cerdik Cendikia Oleh : Didik Wahadi Yudowidoko




PEPATAH CINTA

* Cinta Ibu adalah cinta yang paling baik, cinta Tuhan adalah cinta yang paling Agung. (Pepatah Kuno)

* Bukan bila anda memikat maka anda dicintai. Sebaliknya, bila anda dicintai maka anda akan tampak memikat. (Pepatah Lama)

* Cinta yang dibasuh oleh air mata, akan tetap indah dan suci selamanya. (Kahlil Gibran)

* Seorang pria sudah setengah jatuh cinta bila berhadapan dengan wanita yang mendengarkan kata-katanya dengan penuh perhatian.

*Mencintai sesuatu baru disadari setelah benda itu hilang. (Gilbert Keith Chesterton)

* Hal yang sulit dihadapi biasanya menjadi kenangan yang manis. (Pepatah Portugis)

* Coba kosongkan hatimu maka akan tumbuh bayangan seribu. (Didik Wahadi)

* Cinta adalah obat bagi yang memberi dan yang menerimanya. (Herbert Miller)

*Hati terasa bahagia jika ia berdetak bagi orang lain.

* Cinta tidak menyadari kedalamannya sampai saat perpisahan menjelang. (Kahlil Gibran)





PERSAHABATAN 

* Merupakan hal yang menyedihkan, jika seseorang tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. (Peribahasa Latin)

*Teman adalah seseorang dimana kita bisa bersungguh-sungguh kepadanya. (Emerson)

* Lidah manusia-lah yang mengendalikan semuanya, bukan perbuatan. (Pepatah Kuno)

* Bank persahabatan tak akan bisa berkembang dan bertahan lama tanpa deposito rasa persahabatan.

* Bijaksana adalah pangkal persahabatan yang kekal.

* Manusia tidak boleh sombong. (Karl Elmar)

* Perkataan lemah lembut itu mampu membasuh kedengkian yang tersembunyi dalam anggota badan. (Hukamak)

* Hati hanya akan tentram jika selalu berbuat kebaikan kepada orang lain. (La Fontaine)

* Senyuman merupakan satu-satunya hal yang bisa anda gunakan dan tidak pernah ketinggalan zaman.

*Orang bijaksana selalu melengkapi kehidupannya dengan banyak persahabatan.

Sabtu, 15 Februari 2014

Grup Band Indonesia :


TRILOGI SYMPHONY
(Versi saya)

by Arie Rachmawati

koleksi pribadi


Pertama kali saya mengenal SYMPHONY  kurang lebih sekitar tahun 1982-1983, saat saya naik kelas 2-3 SMP. Semua itu gara-garanya kakak saya yang bernama Agus Supriadi (Hadhie). Yang berhubungan dengan musik Fariz RM dan grup-nya pasti mas Hadhie-lah orang pertama yang berperan menggiring saya mengenal musiknya pencipta lagu Hasrat dan Cita itu. SYMPHONY sebuah grup band beraliran new wave, progressive rock, dsb lah itu kata-kata yang tersimpan dalam memori jadul, walau sebenarnya saya kurang paham apa yang dinamakan aliran new wave saya hanya membaca artikel klipingan jadul. SYMPHONY adalah grup band yang terdiri dari empat cowok cakep bin keren (pada masanya sampai masa kini) : Ekki Soekarno, Fariz RM, Herman Gelly dan Jimmy Paais, lewat debut album perdana berjudul TRAPESIUM.

Di album berikutnya munculnya nama Tony Wenas, beliau sebelumnya sudah berkiprah di grup band Solid'80 yang dilatarbelakangi musiknya Queen. Hadirnya satu lagi personel mereka jadi berlima memberi judul albumnya Metal. Berbeda dengan album sebelumnya, saya belia itu sudah ada chemistry dengan semua lagu di album Trapesium, disini nggak ada sama sekali meski mereka tetap memberi suguhan musik yang apik. Maaf ini tulisan berdasarkan proses jalinan hati saat saya belajar mencintai lagu-lagu mereka.

Interlokal sangat familar di telinga para pendengar radio pada masa itu, karena menduduki anak tangganya chart lagu. Interlokal dari namanya sudah jelas, maka berhubungan dengan telepon. Jaman itu telepon dan telegram menduduki rating tertinggi dalam komunikasi antar daerah/kota. Telegram seumpama masa kini bisa SMS-BBM atau What's Apps dll. Terinspirasi karena seringnya komunikasi melalui pesawat telepon antara Ekki Soekarno dan Soraya Haque (copas dari berbagai obrolan dumay) maka lahirnya lahir lagu tsb, bahkan saya pun tergoda memutar nomor (kalau nggak salah) 2425673 tentunya menambahkan kode area Jakarta 021 karena saya tinggal di Jember Jawa Timur. Benar lho saya pernah menelpon nomor tsb.

Cover kaset Trapesium pernah masuk dalam daftar "99 Sampul Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone" edisi 84/April 2012 lalu. Bahkan sebelum itu masih versi majalah yg sama lagu Interlokal meduduki tangga sekian dari 150 lagu. (artikelnya masih dicari)  Selain Interlokal yang paling di-request pendengar radio adalah An'...sedang lagu favorit saya yaitu Putri Sigma, malah nggak masuk di daftar. Biarpun begitu setiap hati mempunyai lagu kesayangan masing-masing, bagaimana denganmu temans? Setiap lagu yang dinyanyikan musik dan liriknya berbeda, nggak ada nada yang sama meski masih bercerita tentang kehidupan sehari-hari disekitar kita. Lirik yang panjang dengan pengulanagn lagu yang selalu berbeda, menurut saya Trapesium tercanggih pada jamannya. Hebat. Hebatnya lagi mampu menghipnotis saya untuk menghapal lagu-lagunya hingga saya sering ditegur Mama. Saya memang lebih perhatian ke lirik lagu yang ternyata dibalik itu salah satu penulis liriknya orang yang baik hati, low profile dan inspiratif dalam kata. Itu baru dua lagu, selanjutnya masih ada Astoria menghadirkan wine keluaran 1060, Sirkus Optik & Video Game, An', sisi B lagu pertama, April 7, sepertigapuluh-dua, Medium, Untuk Mereka, tentu tidak saya ulas satu persatu hanya beberapa saja sesuai videoclip yang sudah ada di akun youtube saya.


Album METAL lahir setelah Trapesium, respon publik membawa SYMPHONY beken pada masanya. Metal dengan 8 lagu itu hadir berasa agak keras, penuh semarak semangatnya pemuda kota metropolitan dalam berkesenian (musik). Ini pendapat saya, mereka menyuguhkan cenderung bernuansa metal, mungkin diseuaikan dengan judul album tsb sangat maskulin.  Maskulin dalam artiannya begini, coba simak kembali lagu-lagunya, dari  delapan lagu sbb : Kekal Itu Di Sini - Lensa Kamar Putih - Antiklimaks - Indah - Gadis Metal - Sirakusa (sepertigapuluh dua bagian II) - Langit Merah Di atas Dunia - Sofissentris, semua lagu tsb sangat nampak maskulinnya seakan ini khusu album untuk para pria. Tetapi tentunya bukan demikian, masing-masing personelnya semakin nampak menunjukkan gigi dalam kepiawaian bermain musik. Lagu pembuka berjudul Kekal Itu Di Sini diawali dengan intro keyboard dan gitaris lalu disusul alat musik lainnya. Lagu bercerita tentang proses pencarian jati diri seseorang dalam kehidupannya danTuhannya, agak sedikit religie, karena disebutkan "tanah perjanjian sudah diciptakannya...."

Saya suka saat musik tengahnya ada gebukan drumnya Ekki Soekarno. Lagu tsb dilantunkan oleh Tony Wenas dan Fariz RM. Lagu berikutnya Lensa Kamar Putih, nah lagu ini saya ingat sekali pernah ditayangkan di acara TVRI (Selecta Pop) sebagai ajang promo lagu dan dikuatkan dengan adanya postingan di youtube versi asli sesuai acara waktu itu. Menurut saya, kedua lagu tsb sering sekali terdengar radio juga dari kamarnya mas Hadhie, sedang lainnya nyaris tenggelam dan otomatis itu alasan saya bilang tidak ada chemistry. Antiklimaks menghadirkan vokal Herman Gelly, namun saya lebih suka saat ia menyanyikan lagu Indah. Lagu Indah itu berkisah bahwa mereka bisa beken dan ngartis dikarenakan dukungan para penggemarnya yang tersebar seluruh Nusantara bahkan lebih dari itu.

Lagu Indah menghargai artinya seorang penggemar dan feeling saya mengatakan seperti sebuah perpisahan antara idola dengan penggemarnya, karena mereka bermusik tidak untuk selamanya, masing-masing menentukan kaki untuk masa depannya dan yang terbukti masih bermusik Fariz RM. Metal warna vokal lebih semarak, bukan lagi didominasi oleh Fariz RM, tetapi vokal Herman Gelly mulai terdengar juga vokal Tony Wenas, sementara Ekki Soekarno dan Jimmy Paais hadir sebagai backing vokal. Menurut mas Hadhie sebagai kiblat saya belajar musiknya Fariz RM, semua album SYMPHONY keren pada jamannya. Inspiratif sekali, selangkah lebih maju dalam bermusik, kaya ide dsb. SYMPHONY itu juga inspirasinya dalam bermusiknya mas Hadhie dengan grup band-nya D'Fast. Saya nggak begitu pandai bermain musik hanya bisa, namun menyanyikan lagu Putri Sigma adalah lagu wajib, sangat berat dan panjang sekali lirik tsb. Mas Hadhie berupaya saya bisa menyanyikan dengan baik. Lagu yang tak lazim untuk anak seusia saya waktu itu dan tidak mengerti artinya. Sekarang saya lebih senang menulis daripada menyanyi, maka menulislah saya tentang SYMPHONY ini.

Uupps, album terakhir sebagai triloginya SYMPHONY belum saya ulas. Baiklah meski bukan jurnalis musik tapi saya menulis ini berdasarkan hati, Bagaimana saya mempelajari lagu-lagu mereka dari jaman dulu hingga jaman kini. N.O.R.M.A.L barisan lagu-lagunya lebih ringan dicerna artinya ketimbang album sebelumnya. Salah satu lagunya berjudul Menggapai Bintang yang menuntun tangan ini untuk pertama kalinya membuat videoclip hampir 3 tahun yang lalu. Menggapai Bintang menurut saya sangat mellow. Mellow nya Symphony tentu taste-nya sangat berbedaterlebih saat saya berkesempatan melihat aksi live-nya di acara Zona Memori 14 Juni 2009 lalu. Menggapai Bintang dalam petikan gitar akustik sangat touching bisa membuat butiran air mata jatuh perlahan. Selain lagu itu saya membuat 5 lagi nanti silahkan menengok ulasan dibawahnya, semoga berkenan. Masih banyak lagu didaftar list album tsb, cenderung energik riang, lebih nge-pop yang nge-beat. ah, susah sekali menjelaskan, pokoknya lebih ringan diikuti irama lagunya dan permainan liriknya pun lebih nge-bumi.

Koleksi pribadi
SYMPHONY selalu bercerita seperti cerpen tentang kehidupan sehari-hari lewat liriknya yang kala itu mungkin kurang biasa, bila dibanding lagu-lagu era '80an. Menengok kembali tiga album dari Trapesium, Metal dan N.O.R.M.A.L dalam rangkuman videoclip bikinan saya dibawah ini, maka bolehlah saya berkata memang saya salah satu fans berat SYMPHONY. Lepas dari itu perjalanan waktu membawa saya akhirnya bertemu kelima personelnya, dan lebih terkaget lagi saat saya (2009 lalu) ditunjuk oleh mas Fariz RM sebagai koordinator fans SYMPHONY saja. Lalu melebar menjadi koordinator fans Fariz RM, otomatis itu lebih meluas. Amanah itu berat, namun bila dilakukan dengan ikhlas, suka cita dan bersemangat pastinya akan berasa ringan dan energik. Semoga kedepannya saya lebih banyak dukungan dari teman-teman yang hadir sebagai penikmat musik sehati.

Tulisan ini monggo dikoreksi, ditambahi dikolom komentar biar semakin menambah info tentang SYMPHONY. Saya akui saya tidak membahas seperti tulisan diblog teman-teman yang sangat piawai menjabarkan tentang SYMPHONY secara detail, Ini curahan hati saya kenapa saya sangat chemistry dengan SYMPHONY. Perjalanan waktu yang panjang membuat kecintaan saya padanya. Mungkin kamu juga sehati dengan pendapat saya. Sekedar napak nilas bagaimana lagu-lagu mereka telah merebut hati kita tigapuluh-dua tahun yang lalu.




Lagu-lagu SYMPHONY dalam Videoclip versi (rie)


T R A P E S I U M
Ekki Soekarno - Fariz RM - Herman Gelly - Jimmy Paais
Daftar Lagu : interlokal - sirkus optik & video game - astoria - an' - putri sigma - sisi B lagu pertama - april 7 - sepertigapuluh-dua  - medium - untuk mereka



An' . . .
Vokal : Fariz RM

An', lagu ini seingat saya paling banyak disukai teman-teman saat kami ngobrolin lagu mana dari album Trapesium ini yang sangat terfavorit jawabnnya lagu An' merebut setengah menit rinduku, ah gedubrakan deh andai lagu tsb rilis masa kini. Liriknya tersusun bagus dan tepat sekali buat menembak seseorang yang kita taksir, bisa si Anton, si Andri, si Anny atau si Ana? Who is it? siapa pun dia telah menjadi inspirasi sebuah lagu yang lebih dari tiga puluh tahun masih di-request fans fanatik Symphony, Saya berharap suatu saat lagu itu diperdengarkan secara live oleh Symphony meski harapan itu terlalu muluk-kah?


Putri Sigma by SYMPHONY Album Trapesium


PUTRI SIGMA
Vokal : Fariz RM


Nah, lagu ini lah yang membuat saya sangat kesemsem sama SYMPHONY justru di saat musik tengahnya mengalun. Petikan gitar akustiknya Jimmy Paais sangat menyentuh, biasanya yang terdengar petikan gitar listrik (elektrik). Saya mengetahui istilah musik tengah (interlude) melalui mas Hadhie. Bahkan menjelaskan seperti seorang pakar (pada masa itu). Lagu ini sangat berkesan, bukan karena panjangnya lirik lagunya tetapi karena lagu ini diajarkan oleh mas Hadhie untuk acara di RRI Jember saat itu. Seringnya berlatih otomatis, lama-lama hapal dan secara kebetulan Mama memperhatikan lagu yang saya nyanyikan tentu saja diprotes karena lagu tsb tidak pasntas disenandungkan oleh gadis berseragam putih biru. Putri Sigma hingga kini tetap rating tertinggi dihati saya. Putri Sigma bukan Putri Salju, juga bukan dongeng seribu satu malam ala putri-putrian. Putri Sigma adalah kisah perjalanan seorang perempuan yang salah jalan dalam pergaulan, sehingga membawanya ke sebuah permasalahan hidup yang menjerat kebebasanya bergaul dengan hadirnya seorang anak yang mungkin tidak diharapkannya. Interlude dari lagu ini telah menginspirasikan saya menulis cerpen berjudul "Di Interlude Aku Jatuh Cinta."  "...dan kau putri sigma....." 



A P R I L  7
Vokal : Fariz RM

http://youtu.be/Bek7DHLdMY8

Lirik lagu ini tergolong 'nakal' yang sangat inspiratif sekali. Bahkan saya pun terinspirasi lagu ini untuk melepaskan suci setelah menikah 2 April 1988 lalu, hanya menunggu lima hari kedepan supaya pas 7 April atau April 7, alamak! Padahal lagu itu nggak ada hubungannya dengan saya sama sekali, biasa ngepas-ngepasin dan istilah Inggris timurnya 'madakno'. Dan pasti kamu yang membaca ini akan senyum-senyum sendiri. Benar atau tidaknya ungkapan diatas hanya saya dan 7 April yang tahu.

April 7 itu bercerita tentang permintaan hati sebagai manusia biasa yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang dalam menjalin hubungan cinta antara dua makhluk ciptaan Tuhan dalam bentuk kedewasaan bercinta. Untuk jaman terciptanya lagu itu termasuk sangat berani berlirik. Balutan irama lagu tsb terkesan nge-blues. Meski saya kurang paham genre musik tapi lagu April 7 termasuk the fave. Yuk dengarkan kembali April 7 yang menggoda....


UNTUK MEREKA
Vokal : Fariz RM

http://youtu.be/vJYI6_tU-mQ

Untuk Mereka sebagai pamungkas di album Trapesium, lagu ini sarat kepedulian sosial, begitu menyentuh baik secara tuturan lirik dan iramanya. Lagu ini berkisah tentang mereka terutama anak-anak korban peperangan, anak-anak terlantarkan negara, anak-anak yang merindukan kedamaian dan kasih sayang orang tua., pelindungan negara dan peranan dunia. Saya hanya bisa memvisualkan melalui gambar-gambar yang didapat dari meng-gugling dan terkumpul menjadi slide show picture, semoga videoclip ini bisa mewakili lirik lagu Untuk Mereka. "...bahagia mungkin terlalu sederhana di antara fakta yang nyata, kharisma dan kuasa yang menjadi inti hidup kini, tataplah lukisan alam tinggal noda, hargailah nilai manusia menuju damai hidup ini bahagiakah diri, lepaskan kisah-kisah lalu biar pribadi pengganti datang nanti, ajarkan kami kasih itu agar selaras simpati dan kunanti indahnya bayang-bayang dunia walau wajah damai tersenyum malu, hmmm dengarlah orang bijaksana berkata..."




M E T A L
Produksi Akurama Record
Daftar Lagu : Kekal Itu Di Sini - Lensa Kamar Putih - Antiklimaks - Indah - Gadis Metal -
Sirakusa - Langit Merah Di Atas Dunia - Sofissentris




I N D A H 
Vokal : Herman Gelly

http://youtu.be/2tpczTSQgRE

Dari intro saja sudah terdengar alunan lembut, meski bukan bercerita tentang kesedihan hati namun lagu ini menampilkan suara kalemnya Herman Gelly. Dibanding lagu Antiklimaks masih bervokal orang yang sama, saya lebih menyukai lagu Indah ini. Menurut saya sebenarnya ini cerita perjalanan seorang idola dengan fenomenanya, tanpa kehadirkan para penggemarnya sang idola siapa pun itu tak akan meraih kepopuleran, tentu ada campur tangan media cetak/eletronik. Indah bertutur santun, dibalut aransement yang indah berkesan paling slow-slowly di antara 7 lagu lainnya. Indah hadir sebagai pembauran nada yang rada menghentak dari Kekal Itu Di Sini sampai Sirakusa yang merupakan tembang kelanjutan dari instrumental 'sepertigapuluh-dua' album Trapesium itu. Sirakusa, menurut saya namanya unik,  gebrakan musiknya pun sedikit beda dari lagu 'sepertigapuluh-dua' disini lebih mengedepankan  irama rock-nya bila dibanding sebelumnya lebih dominan dentingan piano, kepiawaian jemari pianis Herman Gelly lebih mendapat sorotan. Sirakusa ini semua alat musik berfungsi sama, tidak ada yang mendominasi. Mungkin era kini berharap 'sepertigapuluh-dua' bagian ketiga bisa dihadirkan. Mereka memang kaya ide dan kosa kata. Lalu lagu Soffisentris ini mengilhami salah satu penggemar fanatik Fariz RM bernama kang Asep Gunawan untuk mengusulkan kepada saya agar fans Symphony dinamakan SYMPHONYsentris, maka bermetamorfosis menjadi Komunitas Fanstastic Fariz RM.


LANGIT MERAH DI ATAS DUNIA
Vokal : Tony Wenas

http://youtu.be/tyg9GIRTrIc

Langit Merah Diatas Dunia by SYMPHONY Album Metal
Judulnya seperti puisi, isinya bertutur kepedulian sosial tentang bencana alam, meletusnya gunung berapi atau bencana-bencana alam lainnya yang tak dapat terelakkan karena itu sudah menjadi kehendak-Nya, amarahnya alam hingga membuat langit berwarna merah, mungkin yang akan diceritakan seperti ganasnya api neraka. Untuk lirik tetap salut, pada masa itu sudah berani memberi perhatian pada lingkungan yang terjadi contohnya Langit Merah Diatas Dunia, kalau dicermati seperti menuturkan situasi bencana alam mungkin waktu itu sedang berlangsung terjadinya gunung Galunggung meletus dahsyat seperti saat ini letusan gunung Kelud (13Feb2014/malam hari). Kehadiran lagu ini sebagai penyeimbang yang mewakili kepedulian sosial, seperti di album Trapesium "Untuk Mereka." Ilustrasi yang saya tampilkan belum mampu sepenuhnya mewakili isi lagu namun setidaknya saya berusaha memahaminya. Lagu ini tetap mengedepankan kekompakan bermusik. Petikan gitar listrik Jimmy Paais sama vokalnya Tony Wenas rada melengking meski irama lagu ini slowly seperti ulasan diatas.


N.O.R.M.A.L
Produksi Union Artis
Fariz RM - Herman Gelly - Jimmy Paais
Judul Lagu : Fotomodel - Anggur, Pikiran dan Cinta - Pasar Malam - Menggapai Bintang,
Mereka Di Jalanan-Mimpi(?) - Tanda Mata-What Is Real - Siapakah Kita -
Pasar Malam(versi perpanjangan)


FOTOMODEL
Vocal : Herman Gelly

Fotomodel by SYMPHONY Album N.O.R.M.A.L

http://youtu.be/uykvL1UUO6g

Dulu dan kini, iramanya enak buat menemani perjalanan Bogor -Jakarta terutama saat perpindahan angkutan umum dari KRL ke Metro Mini, atau menemani kala hati riang. Itu yang tersimpan dalam diary saya, lagu ini sangat akrab ditelinga dan setia menemani wira-wiri ke Jakarta-Bogor. Judulnya Fotomodel tentu berkisah seputar kegiatan catwalk atau peragawati, gadis sampul majalah dsb. Jaman itu aktivitas tsb sangat marak dan cara mudah menjadi beken mejeng di majalah, sehingga menginspirasi mereka membuat lagu berjudul Fotomodel, disamping pengaruh orang-orang terdekatnya. Lagu pembuka album Symphony bertajuk normal dengan penulisan sbb : N.O.R.M.A.L mungkin punya arti sendiri bagi personel Symphony yang kali ini hanya terdiri dari tiga personel yaitu Fariz RM - Herman Gelly dan Jimmy Paais. Kedua personelnya yang lain yaitu Ekki Soekarno dan Tony Wenas tidak ikut serta dan keabsenan keduanya, saya juga sulit mendapatkan klipingan tentang mereka, karena waktu itu posisi saya sebagai penggemar sedang konsentrasi ujian akhir. Mengingat tahun 1987 saya di Madiun tengah kelas 3 SMF, yang menjalani ujian bertahap sangat berbeda dengan anak SMA pada umumnya. Menikmati lagu-lagu kadang selintas saja. Secara pribadi, saya kurang menyukai suara drum dari alat midi yang pada jaman itu tergolong canggih. Suara gebukan drum-nya Ekki Soekarno di album pertama dan kedua sangat berasa mengigit telinga. Apapun istilahnya ruh sebuah drum itu lebih nyata bila digebuk sendiri oleh seorang drumernya.




ANGGUR, PIKIRAN dan CINTA
Vocal : Fariz RM

http://youtu.be/h-xSUMjtcwU


Lagu ini menurut saya (remaja) nggak kepikir sejauh itu arti liriknya yang tertulis dilembar albumnya. "Kududuk bersama sahabat lama, bertukar cerita masa lalu, gemerlap warna lagu merebut suasana lantai dansa, berpasangan berputar kekiri dan kanan asyiknya, bergandeng tangan saling menggoda, kutambah minuman kedalam gelas yang kelima kali tak peduli, ketika itu aku terpana menatap wajah yang lembut manja melewati tempatku memilih meja didepanku, dan keduanya gadis remaja, dan pikiran lelaki mengajak diriku, melangkah pasti menghampirinya, kuulurkan tanganku tersipulah dirinya, tak urung senyum merekah dibibirnya, kupanggil sahabat lamaku bergabung saja dimeja ini, kukedipkan mataku 'tentukam pilihanmu', yang berambut panjang atau sibibir merah, pikiran lelaki anggapan wanita adakalanya jauh melayang, dan akupun melayang dengan si rambut panjang, kuajak dia berdansa berdua..."
Proses bertemunya sahabat lama dan saling tergoda terhadap lawan jenis blablabla menurut kacamata kaum Adam. Saya mencoba menyatukan potongan gambar, terutama mencari gambar wanita cantik, maka terpilihlah wanita Bollywod. Klik aja link yang tertera dibawah judul lagu ini, akan membawamu ke akun Youtube tsb.
Anggur, Pikiran dan Cinta by SYMPHONY album N.O.R.M.A.L

Simak lirik diatas sangat bercerita, jelas seperti cerita pendek, tidak seperti lirik lagu pada umumnya. Itu sebabnya mendengarkan lagu tsb harus seksama mendengarkan perkata bak mendengarkan pembacaan cerpen di radio.


Album tsb secara pribadi saya tidak pernah membeli hanya meminjam kepada mas Tonny yang next time menjadi suami saya hingga kini. Menurut saya, yang kala itu sebagai anak kos di Madiun, sangat tidak memungkinkan memiliki sebuah kaset (apapun) kalau nggak rajin menabung dan bila memutuskan membeli sesuatu harus melalui proses pemikiran yang njlimet dulu. Hahaha, nasib anak kos. Kembali ke lagu tsb, beberapa tahun kemudian saya menemukan salah satu dari sekian cerpen yang berada di sebuah buku kumcer karya Kurnia Effendi berjudul "Bercinta Dibawah Bulan."Perjalanan waktu karena sama-sama menyukai musik Fariz RM dan SYMPHONY, perkenalan maya pun berbuntut dengan tawaran ikut pelatihan penulis kreatif, yang diadakan oleh beliau bekerja sama dengan majalah Story dan Fiximix November 2009 lalu. Beliau penulis senior menjadi guru di kelas cerpen dan akhirnya saya pun jadi cerpenis yang baru menerbitkan sebuah buku kumcer berjudul, "Dandelion dalam Rindu", banyak terispirasi lagu-lagu Fariz RM dll.


MENGGAPAI BINTANG
Vokal Fariz RM

http://youtu.be/karfX9oE_Gs

Lagu ini sangat menyentuh hati, mungkin diciptakan saat kisah cinta tak berujung 'happy ending' wallahualam. Apapun itu sebagai penikmat musik saya larut sedih mendengarkan lagu ini. Apalagi setelah penampilan Reuni Symphony di acara Zona Memori hampir 5 tahun yang lalu, pasti para penggemar Symphony akan tergiring ke suasana sedih, karena acara tsb yang merekam terakhir kalinya penampilan performance gitaris dan penulis lirik yang kalem, Jimmy Paais. Syukur Alhamdulillah saya sebagai penggemar setia masih diberi kesempatan berkenalan, bertemu dan ngobrol dengan beliau dan akhirnya akrab dengan keluarganya walau beliau kini telah berpulang jalinan persahabatan dengan kakak-kakak SYMPHONY tetap terjalin. "...Selamat jalan, pergilah tinggalkan semua terlanjur sudah menggores di angan-angan, mendekap lagi untuk yang terakhir kali dalam pelukan dirimu tak mungkin kugapai lagi..."  Ini hanya sebagian lirik yang sangat menyentuh itu. Jimmy Paais, pada 2 Agustus 2010 telah berpulang menghadap Tuhan, meninggalkan seorang istri (Dyah Ayu Herawati) dan tiga orang anak (Kiki-Refo-Salsa) juga kita penggemarnya.




TANDA MATA
Vocal Herman Gelly

http://youtu.be/2IkWVjKSEUE

Lagu ini menduduki urutan kedua side B. Tanda Mata menampilkan kembali suara kalem Herman Gelly, sebelumnya awal album dibuka suaranya lewat lagu Fotomodel. Tanda Mata liriknya bercerita tentang sebuah tanda mata dalam suatu pertemuan yang berujung cinta tak sampai. Meski bertutur sedih dalam percintaan namun dikemas dalam aransemen musik apik hingga hasilnya nggak cengeng namun tetap berasa sedihnya melalui teks lagu reflain sbb "...inilah pertemuan terakhir tanda mata darimu, bukanlah permata hanya air mata, hanya sepuluh hari kuterima kabar itu, terjawablah semua perkawinanmu telah berlangsung kini..." hiks hiks sedih banget. Mungkin karena itu lagu ini dilantunkan oleh ybs daripada oleh Fariz RM, karakter vokalnya lebih agak garang
(kental karakter vokalnya)


MEREKA DI JALANAN
Vokal : Fariz RM & Herman Gelly

http://youtu.be/h7vw9W3ikzk

Mereka Di Jalanan, agak susah saya mendapat gambar-gambar yang bisa mewakili isi lagu tsb. Iramanya yang sedikit nge-beat, itu menjadi salah satu kelemahan saya membuat videoclip. Lebih mudah bila berirama slow. Akhirnya saya menemukan sebuah aplikasi bernama Stupeflix di facebook, masih free. Saya rasa ini cocok untuk lagu tsb. Mereka Di Jalanan perpaduan dua vokal yang kontras antara suara Fariz RM dan Herman Gelly, begitulah menurut saya, dan kedua karakter vokal itu saling mengisi mencerita ada apa di jalanan. Mungkin begitulah sisi lain sebagian anak muda Jakarta lebih banyak aktivitas di jalanan, beramai-ramai membentuk geng dan merasa merdeka dengan kehidupannya. Lepas dari Symphony, seingat saya waktu itu ada juga lagu terilhami dengan suasana remaja yang suka ngeceng dijalanan, sebut saja Harry Mukti dengan "Lintas Melawai", Jalan-Jalan Sore-nya Denny Malik.


SIAPAKAH KITA ? 
Vokal : Herman Gelly

http://youtu.be/zg6rf_P9I0E

Kembali terdengar suaranya Herman Gelly, lagu ini bercerita tentang kesombongan seseorang dalam berkuasa, hingga bisa menimbulkan kecauan dunia misal peperangan antar negara, suku dsbnya. Dimana harga kedamaian itu semakin menjauh dari impian. Nah, untuk memvisualkan lagu tsb, saya mencomot alias import beberapa film perang produksi Hollywood di Youtube, dari film-film tsb digabung bersama slide picture. Menurut catatan perjalanan pembuatan klip versi windows movie maker, saya menemukan kesulitan tingkat tinggi hingga harus memerlukan bantuan para mentor yaitu BarBerBor dan Anton Setiady dan ternyata didapatkan data bahwa film yang saya unduh itu kondisinya rusak hingga nggak bisa tersimpan. Otomatis al-hasil editing akhir dibuang dan memulai lagi. So jadi membuat videoclip lagu meski versi mwm itu nggak semudah kita melihat apalagi berkomentar blablabla yang berpendapat sinis. Dan saat tayangan disamping ini bisa kamu klik maka itulah hasil dari kesabaran yang nggak pernah berujung lelah.

Begitu pula tak pernah lelah saya mencintai SYMPHONY meski mereka para pemuda tsb sudah beranjak memasuki kepala lima namun bagi saya mereka tetaplah cakep, keren hebat dalam berkarya. SYMPHONY itu dari awal lagu (intro) menuju bait lalu menyambung ke interlude dilanjut ke chours dan ditutup ke coda kemudian merewind lagi sampai pita kasetnya kusut dan rusak barulah berhenti tetap enak dinikmati sepanjang masa. Kini besar harapan saya juga penggemar lainnya agar SYMPHONY bisa menelurkan kembali sebuah lagu dalam keemasan album the best trilogi, Syukur-syukur suara kami ini didengarkan. Disadari bahwa bermusik itu nggak ada istilahnya pensiun. Bermusik lahir dari hati, sampai tutup usia karya-karya itu akan senantiasa dikenang, dilantunkan ulang. Siapakah kita? Kita adalah penggemar SYMPHONY seiring perjalanan usia...itu versi saya.

Salam hormat buat mas Ekki Soekarno, mas Herman Gelly, alm. Jimmy Paais, pak Tony Wenas dan mas Fariz RM sendiri. Satu kata untuk SYMPHONY...Yuk Replay !!!



Sekian
Terima kasih buat pembaca terutama SYMPHONYsentris dan KFFRM 


Salam Fanstastic
arie rachmawati

Senin, 13 Januari 2014

Hari Ulang Tahun

Fariz RM 55 & KFFRM 3
2014
Oleh : Arie Rachmawati


Fariz RM with KFFRM 11 Januari 2014


5 Januari 2014 lalu, Sang Maestro Fariz RM berulang tahun ke 55. Seperti biasanya selalu diikuti dengan HUT KFFRM tahun ini yang 3. Tetapi untuk Komunitas Fanstastic Fariz RM hut itu tidak wajib setiap tahun merayakannya. Perayaan pertama 7 Januari 2012 lalu yang menghadirkan tiga penyanyi lawas teman featuring-nya bernyanyi di album-album solonya. Mereka adalah Anita Carolina Moehede, Wiwiek Lesmani dan Nourma Yunita. Kemudian yang kedua, dibarengkan saat ada sebuah event musik berjudul "Pentas di Bandung" Fariz RM dengan Anthology-nya, bertepatan dengan hari jadinya ke 54 tahun. Kali ini bertema :



Era Klasik Fariz RM dengan harapan teman bermusiknya dari jaman Transs, Symphony, Wow atau Superdigi hingga Anthology minimal salah satu personelnya bisa hadir memenuhi undangan, tetapi dengan alasan masing-masing mereka tidak satu pun bisa duduk bersama sebagai sahabat lama, meski sebelumnya ada beberapa orang yang mengkonfirmasikan bisa hadir. Sementara mbak Anita dan mbak Nourma sibuk dengan aktivitasnya yang nggak bisa ditinggalkan hanya diwakili oleh mbak Wiwiek Lesmani. Syukur Alhamdulillah semua itu tidak menyulutkan niat para penggemarnya yang jauh-jauh hari mendaftarkan diri untuk hadir. Mereka tersebar di berbagai daerah, memenuhi undangan datang ke sebuah studio musik live.


Stiker KFFRM made in Edwin


HUT ini memang diadakan oleh kita, untuk kita, bagi kita dalam artian berlangsungnya acara ini karena partisipasi iuran bersama. Sebenarnya panitia telah berupaya menggait sponsor dan beberapa teman yang semula menawarkan diri sebagai donatur, tetapi  kami (panitia) belum bernasib baik. Pada akhirnya atas usaha gotong royong, partisipasi iuran yang ditentukan sama rata dan beberapa teman dengan ikhlas menyumbang meski tidak memungkinkan hadir di acara tsb, maka terkumpullah dana dan jadilah kami merayakan. Agak susah menerangkan hal ini kepada anggota baru yang baru bergabung ke KFFRM. Menanamkan suatu kepercayaan itu tidak mudah, meski mengalami sedikit kendala terutama anggota baru, ada yang agak 'rewel' dan bahkan ada beberapa teman yang tidak puas karena terbatasnya tempat acara tsb. Totalitas semua hadirin sudah melebih kapasitas ruang studio, itu alasan utama kenapa kami panitia membatasi anggota yang ingin bergabung yang mendaftar justru setelah acara melebih batas pendaftaran. Namun acara ini berlangsung lancar, aman nyaman dan sukses serta meninggalkan cerita sendiri dihati para hadirin. 

HUT ini termasuk minim panitia dan tidak pernah mengadakan meeting secara live, mengingat keberadaan panitia dan admin KFFRM yang berada di kota yang berbeda, jadi kami hanya rapat 24 jam via inbox, sms dan telepon. Pembagian tugas sesuai kemampuan masing-masing anggota, saling mensupport dan berujung bahagia. Era Klasik ini sebenarnya kami selaku panitia ulang tahun ingin menghadirkan suasana jaman itu dengan memperdengarkan kembali beberapa lagu lawas yang pernah hits lewat album solo Fariz RM atau grup band-nya. Hal ini sebagai perwujudan permintaan beberapa teman dalam wadah KFFRM tsb. Namun pada kenyataan sangat sulit merealisasikan, mengingat jadwal panggung si Boss (sebutan teman-teman untuk mas Fariz RM) padat merayap. Bahkan saat melihat penampilannya tepat di hari jadinya Minggu, 5 Januari 2014 lalu via NET.TV sangat terlihat kelelahan yang amat sangat. Toh, kami sebagai penggemar tidak banyak menuntut yang penting si Boss sehat dan tetap berkarya, dan KFFRM kompersa. Amin YRA.

Display Fariz RM milik pak Roi Rahmanto


Sabtu, 11 Januari 2014
Ketika saya dengan rombongan (mas Hadhie, Ryan, Edo, Inov, Tiara dan suami) tiba di tempat, teman-teman : Niken Nik, si Jack, Supriyadi, Irman Munajat, kang Asep, paketu sudah berada di lokasi. Hari masih siang dan cuaca bagus. Saling berkenalan dengan kakak saya yang datang dari Jember. Setiap orang ringan tangan membantu tanpa harus disuruh melakukan ini-itu, memang itu dari kebersamaan ini. Si Jack dan mas Hadhie segera masuk studio dan mulailah check sound, sementara saya dan teman-teman lain termasuk mbak Noeke, beliau ini kakaknya alm Wibi AK salah satu personel Transs, mulai menata halaman studio yang akan dipakai seremonial sebelum memasuki studio saat yang ditentukan. Mbak Noeke ini sebenarnya hadir sebagai salah satu tamu undangan, tetapi beliau dengan senang hati turun tangan menata pernak-pernik hut. Kemudian datangnya Ari Purwandari membawa barang seperti 4 krek teh botol lengkap dengan es batu dan tempat penyimpanan botol dingin, kue tart dsb. Lalu munculnya mobil catering yang saya percayakan kepada adik bunda Oneng yaitu mbak Dinda Pamella. Satu per satu para undangan dari berbagai kota berdatangan menuju 




 iCanStudio Live di daerah Kebayoran Baru - Jakarta Selatan. Yang terdaftar ada 48 orang, mereka para penggemar Fariz RM yang kali ini mulai bertambah anggota baru, sebut saja : Ari Kuncoro, Nina Deristiana, Lullu Hidayah, Endah Triwahyuni, Nadia, Bondan Wirawan, Siti Hartati, Siti Widianingsih, Hendra Juniarto. Selain itu anggota lama tetapi baru nongol wajahnya antara lain : Adi Purwo, Agus Supriadi, Edi Wahyu Sri Mulyono, Sofianti C. Membaurlah semuanya, seakan dunia maya itu berlangsung di sana, halaman studio. Semarak, seperti perhelatan keluarga besar, ramai seperti gathering dan seru happy-happy, begitu harapan yang tertuliskan oleh Edwin si pembuat stiker ulang tahun. 


Acara dibuka oleh kang Asep Gunawan sekitar pukul 15:30 wib, lalu dilanjutkan oleh paketu KFFRM Bekti Nuswantoro dengan menceritakan sedikit kronologi terbentuknya KFFRM dan meski sedikit nyatanya panjang juga, hal ini sengaja mengulur waktu sambil menantikan kehadirannya si Boss. Selain itu perkenalan singkat yang diwakili anggota lama oleh mas Adi Purwanto datang dari Kendal. Ia seorang guru SMP yang biasa berdiri di depan kelas menjelaskan kepada siswa-siswinya, namun saat berdiri di depan penggemar idolanya, toh nampak demam panggung juga. Berbeda dengan perwakilan anggota baru yaitu mas Ari Kuncoro yang asli Semarang dan tinggal di Cibubur ini, awal menelpon saya sangat bersemangat. "Mbak, iki tenan-tenan yang kucari yang asli..." ucapnya berapi-api. Saya kurang paham lalu dijelaskan oh ternyata selama ini pencariannya selalu menemukan yang palsu. Sebenarnya bukan asli-palsunya sebuah komunitas. Sah-sah saja siapapun membentuk organisasi/komunitas tetapi mungkin KFFRM ini-lah yang secara langsung dipantau oleh si Boss sendiri, baik melalui para admin-nya atau info dari lainnya yang selalu menyenggol nama KFFRM.

Doorprice dari KFFRM
Merchandise Fariz RM


Tamu undangan yang pertama kali datang adalah pak Panji (produser album Fenomena) dan mas Yoni Suprasetyono. Beliau-beliau itu adalah sahabatnya si Boss. Setelah itu mas Andy Rustam dan istrinya bernama mbak Jerry AR.  Pak Aria Pamulih, lalu bermuncullah satu persatu selain tamu undangan juga para teman yang jauh hari antusias mendaftarkan diri. Kembali ke susunan acara, setelah perkenalan singkat. Acara menampilkan undian door -price, ada 10 hadiah kecil, harganya pun relatif murah namun jangan sesuatu itu dilihat dari nilai nominalnya. Dari 10 itu, 8 hadiah menggunakan uang kas HUT tsb, dua lagi atas nama DuoAr. Tiga undian pertama dikocok, keluarlah nama-nama yang nggak asing lagi sebagai fans Fariz RM, adalah Irman Munajat, Ari Prambudi dan Kurnia Effendi. Tak luput mereka memberi sedikit berbagi pengalamannya tentang idolanya dan minimal menyanyikan sepenggal lagu favoritnya. Tak lama kemudian, datang mobil si Boss tepat di dekat meja absensi tamu yang terletak di parkiran depan studio.


Si Boss dengan rambut diikat kebelakang, berpakaian kaos dan rompi hitam dan mengenakan sepatu kets putih mungkin menunjukkan 'hitam-putih' sebagai tema drees code. Si Boss setelah menyapa tamu sejenak langsung menuju ke dalam (studio) dan mbak Oneng membaur dengan para hadirin, hingga acara tiup lilin dan pemotongan tumpeng maka semuanya tumpah ruah jadi satu. Para papparazi dadakan mulai berebut mengabadikan moment tsb. Seperti terulang kembali suasana di Camar, antara dua adik kakak ini dipertemukan dalam acara ulang tahun bersama penggemarnya. 



ID Card Panitia


Kembali ke acara, mungkin ini pertama kalinya merayakan hari ulang tahun di tempat yang berbeda, tepatnya di iCanStudio Live di daerah Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Kelebihan disana,  panitia sudah tidak memikirkan penyewaan perangkat sound system. Keakraban yang berlangsung pun semuanya spontanitas karena kami baik panitia, para undangan, teman-teman yang hadir dan ybs semuanya tanpa latihan atau gladi resik. Hari itu Sabtu, 11 Januari 2014 pada waktu yang sama, kami bertemu disana berkenalan, dan anggota lama pun bernostalgia. Itu sebabnya acara ini bukan sekedar menghadiri perayaan semata atau menonton panggungnya si Boss, tetapi tujuan utama nya memang mengedepankan tali silaturahmi antara idola dan penggemarnya. Setelah pemotongan kue tart dilanjutkan dengan pemotongan nasi tumpeng, masing-masing untuk pak Panji dan pak Gatot Triyono yang hadir mewakili KPMI yaitu Komunitas Pecinta Musik Indonesia, dimana KFFRM berguru. Usai seremonial maka para hadirin dipersilahkan menikmati hidangan ala kadarnya, yang tersedia disana juga sebagian dibawa oleh teman-teman. Ini memang bukan sebuah pesta tetapi lebih cenderung bernostalgia semata, nikmatnya sesama penikmat musik sehati. 



Sekitar jam 16:45 wib semua hadirin memasuki ruang studio. Didalam studio telah siap kami untuk menyanyikan lagu "Selamat Untukmu" buat si Boss dengan iringan musiknya oleh mas Hadhie "...Oh begitu cepatnya waktu datang dan berlalu berkejaran hingga kita pun tak sempat menghitung....Hari ini kau berulang tahun satu pertanda hari ini jadi milikmu yaaa selamat untukmu..." terdengar nyaring dan kompak, sangat menyenangkan karena kali ini pelantunnya hanya senyam senyum libur menyanyi medengarkan para penggemarnya bernyanyi bersama-sama. Kemudian dilanjut dengan live-nya Fariz RM menampilkan tiga lagu yang tak asing lagi, Nada Kasih, Sakura dan barcelona, meski kami sangat berharap lagu wajib tsb tidak dilantunkan, toh mereka larut juga menikmatinya. Terutama (mungkin) yang belum pernah melihat live-nya Fariz RM membawakan dua lagu wajib tsb yaitu Sakura dan Barcelona. Sementara saya sebagai tuan rumah acara, masih menemani tamu undangan yaitu mas Seno M Hardjo dan menunggu kehadiran seorang tamu surprise. (Insert) Berbicara tamu surprise ini memang diluar scenario kepanitiaan. Idenya pun tiba-tiba saat saya ngobrol via WA dengan mbak Dewi Irawan (artis film) tentang aktor berinisial TP. Alhamdulillah niat saya direspon baik dengan mengucap Bismillah saya mengubungi beliau, ternyata mendapat sambutan positif. Maka berjalanlah rencana itu sampai hari H-nya pun tidak ada satu pun yang mengetahui kehadiran tamu surprise itu. 


Tio Pakusadewo menghadiahkan PECI buat Fariz RM

Sore itu sebuah mobil meluncur di depan halaman studio dan saya sudah menunggunya untuk digiring perlahan memasuki studio. Di depan bertemulah tamu surprise tsb dengan mas Yoni, maka semangatlah saya seketika. Dan....kini tibalah si tamu surprise dihadirkan didalam sebagai kado istimewa buat yang berulang tahun. Yeaah, tamu itu mas Tio Pakusadewo. Alasan kenapa saya mengundang beliau dan menjadikan istimewa, karena pertama beliau fans berat Fariz RM, kedua beliau pelukis lukisan wajah Fariz RM yang hasil karyanya diletakkan di ruang tamu di rumah sang Maestro, ketiga selain seorang aktor beliau juga pandai bermain musik dan selanjutnya asyik saja bila menghadirkan seseorang yang bukan teman bermain musiknya si Boss, dan keduanya bersahabat dari waktu ke waktu. Kehadiran mas Tio pun ternyata menambah kehangatan suasana yang berlaku saat itu karena beliau menghadiahkan sebuah peci yang sebelumnya dikenakannya lalu diberikan kepada yang berulang tahun dengan niat agar ybs setelah ini lebih fokus mendekatkan diri kepada Sang Khaliq Maha Pencipta. Amin YRA. Tepuk tangan mewarnai suasana dalam studio. Saat itu juga si Boss pun menjelaskan kepada hadirin seperti ulasan saya diatas. Subhanallahu indah sekali persahabatan itu. Tamu surprise itu didaulat untuk menyumbangkan lagu maka menyanyilah si aktor senior yang aktif membintangi beberapa film nasional akhir-akhir ini (Habibie & Ainun/Perahu Kertas/ Lucunya Negeri Ini dsb). Sebuah tembang lawas yang pernah dipopulerkan oleh Louis Armstrong berjudul
" What a Wonderful World" diringi permainan tunggal Fariz RM. Riuhnya tepuk tangan kembali bergema menandakan suka cita memenuhi isi ruangan.

Tio P dgn Harmonika
Tio & Fariz RM & KFFRM

Spontanitas mas Hadhie menyuguhkan lagu Panggung Perak. Lepas acara tsb, sejak jaman bahula ada niatan ingin menunjukkan permainan Panggung Perak bila suatu saat dipertemukan dengan idolanya dan kini waktu memberi tempat untuk unjuk diri. Disisi lain entahlah, si tamu menghilang sejenak lalu kembali ke dalam studio memberi lagi sebuah kejutan yang tidak ter-scenariokan dalam obrolan WA sebelumnya. Beliau membaur dengan harmonikanya di antara medley lagu Panggung Perak - Hasrat & Cita - Cinta Kian MenepiPas dilagu Hasrat dan Cita itulah terdengar suara harmonika yang semula terdengar samar-samar. Saat itu si Boss benar-benar sedang menyimak dentingan piano yang dimainkan oleh mas Hadhie dengan paduan koor KFFRM, dan setelah 'ngeh' si Boss tersenyum manis disusul tepuk tangan teman-teman, "Happy Birthday..." ucapnya kepada Fariz RM. 

Usai lagu Cinta Kian Menepi, mas Hadhie rehat sejenak dan memulai berfoto dengan sang Maestro, selama ia mengidolakannya baru pertama kali itu kakak saya bisa berfoto. Berbanding balik dengan saya adiknya yang malah sungkan bila akan berfoto dengan si Boss, lebih mengutamakan teman-teman yang lain yang belum pernah berfoto. Bukan cuman mas Hadhie saja yang belum berfoto dengan Fariz RM , masih banyak teman-teman yang senasib maka mulailah sang idola diserbu, ditarik sana sini untuk berfoto ria. Sementara saya seperti biasa kesana kemari antara studio dan halaman, karena masih ada saja tamu undangan yang terlambat datang. Dalam kesempatan ini, mas
Fariz RM dgn Seno M Hardjo (BoD Ami Award)

Seno M Hardjo pun menyempatkan diri memberikan kejutan, yaitu ingin mewujudkan 5 hits lagu Fariz RM dalam mini album dimana akan berkolaborasi dengan penyanyi-penyanyi muda masa kini. Dalam hal ini beliau pun meminta dukungan KFFRM juga sangat kagum terhadap koleksi display milik pak Roi Rahmanto. Wow... plok, plok, plok tepuk tangan para hadirin sangat antusias menyambut niatan itu, selanjutnya kita tunggu realisasinya dengan semangat fantastic. 

Acara masih berlangsung meski pun si Boss keluar acara untuk menikmati hidangan lagi. Di dalam teman-teman masih melanjutkan nyanyi bareng dengan iringan duo pianis si Jack dan mas Hadhie, beberapa lagu era klasik itu mengalun indah sebut saja, Nyanyian Malam, Menggapai Bintang, Jerat dsb. Menjelang adzan magrib maka, si Boss masuk studio lagi dan menutup acara hut dan mengucapkan banyak terima kasih atas kecintaan para penggemarnya yang sudah pada beranjak tua, tetap setia sepanjang masa.

Fariz RM foto bersama KFFRM

Dari hari penuh terik, matahari redup kemudian mulai tertutup mendung lalu diguyur hujan deras, satu per satu acara rampung digelar. Meski layar panggung, peralatan sound system telah di-off-kan namun mereka masih sibuk berfoto dan bertukar cerita di antara derasnya hujan. Persediaan makanan masih banyak maka tak luput panitia membagikan kepada para hadirin, baik kotak makanan maupun kotak kue. Senang tiada terkira semua meninggalkan ruangan studio dengan langkah kaki ringan penuh bahagia dan membawa rasa bahagia yang terbungkus dalam senyuman yang manis. Meski acara tergolong sukses, namun kami pihak panitia pun tak lupa memohon maaf atas kekurangan sana-sini dalam proses hingga kelarnya acara. Teriring doa untuk semuany temans yang rata-rata datang dari luar Jabodetabek. Peluh bahagia itu tersimpan rapi dalam memori indah yang setiap waktu bisa sejenak mengulang cerita itu dengan membaca tulisan ini. Besar harapan saya bersama panitia kedepannya untuk lebih erat dalam kekompakan, menggilas rasa-rasa yang kurang bersahabat bahwa sebenarnya dengan kesatuan dalam berkomunitas itu akan melahirkan keindahan-keindahan dalam persahabatan. Dan kesuksesan suatu acara bukan karena satu orang namun kekompakan teamwork, partisipasi serta izin-Nya. Insha Allah sampai jumpa di hari ulang tahun berikutnya ...... 

Salam fantastic !

Terima kasih buat para tamu undangan yang hadir : 

Bpk Panji, mas Yoni, Bpk Andy Rustam dan Ibu Jerry, Ibu Noeke & putrinya, Bpk Aria Pamulih & istri, mbak Wiwiek Lismani & sahabatnya, Rio Jonathan dan istri,  Bpk Seno M Hardjo dan keluarga, Bpk Gatot Triyono (KPMI), Bpk Roi Rahmanto & Display FRM, mas Didit Dada dll.


Fariz RM foto bersama KFFRM


Terima kasih kepada KFFRRM :

Adi Purwanto - Ari Prambudi & istri -
Adwi Hastuti & suami - Barberbor
Agus Supriadi - Asep Gunawan - Bekti Nuswantoro - Donny Aha & istri
Aleyka & istri - Ineke & Awalludin - Si Jack - Irman Munajat - Niken Nik - Sofianti - Endah Triwahyuni - Lullu Hidayah - Siti Hartati  & Siti Widyaningsih Riza H - Nina & suami +Nadia - Supriyadi Wiwin W - Bondan Wirawan - Ari Kuncoro - Lasmi dgn keluarga Salatiga
Tonny Yoostiono - Ryan,Edo,Inov & Tiara Edi Wahyu & istri - Nila Ratna - Dadan -
Kurnia Effendi - Regina - Anies & suami - Ari Purwandari.


  • Terima kasih kepada temans yg partisipasi utk kas : Afrida-Ninik Dyah-Wahyu Widayati-Imam S-Hendra J-Eko Rusminingsih-Endah T- Ari K- Abu Fariz            Bpk Andy Rustam (Ibu Jerry AR)
  • Terima kasih kepada team iCanstudio Live dan crew, plus Security.
  • Terima kasih kepada TADI Tenda, Dinda Pamella Catering, Jepri Cs.
  • Terima kasih admin, panitia dan KFFRM
  • Terima kasih kepada mas Fariz RM dan mbak Oneng Diana Riyadini.

             ♡ ♡ ♡ ♡ ♡