Senin, 13 Januari 2014

Hari Ulang Tahun

Fariz RM 55 & KFFRM 3
2014
Oleh : Arie Rachmawati


Fariz RM with KFFRM 11 Januari 2014


5 Januari 2014 lalu, Sang Maestro Fariz RM berulang tahun ke 55. Seperti biasanya selalu diikuti dengan HUT KFFRM tahun ini yang 3. Tetapi untuk Komunitas Fanstastic Fariz RM hut itu tidak wajib setiap tahun merayakannya. Perayaan pertama 7 Januari 2012 lalu yang menghadirkan tiga penyanyi lawas teman featuring-nya bernyanyi di album-album solonya. Mereka adalah Anita Carolina Moehede, Wiwiek Lesmani dan Nourma Yunita. Kemudian yang kedua, dibarengkan saat ada sebuah event musik berjudul "Pentas di Bandung" Fariz RM dengan Anthology-nya, bertepatan dengan hari jadinya ke 54 tahun. Kali ini bertema :



Era Klasik Fariz RM dengan harapan teman bermusiknya dari jaman Transs, Symphony, Wow atau Superdigi hingga Anthology minimal salah satu personelnya bisa hadir memenuhi undangan, tetapi dengan alasan masing-masing mereka tidak satu pun bisa duduk bersama sebagai sahabat lama, meski sebelumnya ada beberapa orang yang mengkonfirmasikan bisa hadir. Sementara mbak Anita dan mbak Nourma sibuk dengan aktivitasnya yang nggak bisa ditinggalkan hanya diwakili oleh mbak Wiwiek Lesmani. Syukur Alhamdulillah semua itu tidak menyulutkan niat para penggemarnya yang jauh-jauh hari mendaftarkan diri untuk hadir. Mereka tersebar di berbagai daerah, memenuhi undangan datang ke sebuah studio musik live.


Stiker KFFRM made in Edwin


HUT ini memang diadakan oleh kita, untuk kita, bagi kita dalam artian berlangsungnya acara ini karena partisipasi iuran bersama. Sebenarnya panitia telah berupaya menggait sponsor dan beberapa teman yang semula menawarkan diri sebagai donatur, tetapi  kami (panitia) belum bernasib baik. Pada akhirnya atas usaha gotong royong, partisipasi iuran yang ditentukan sama rata dan beberapa teman dengan ikhlas menyumbang meski tidak memungkinkan hadir di acara tsb, maka terkumpullah dana dan jadilah kami merayakan. Agak susah menerangkan hal ini kepada anggota baru yang baru bergabung ke KFFRM. Menanamkan suatu kepercayaan itu tidak mudah, meski mengalami sedikit kendala terutama anggota baru, ada yang agak 'rewel' dan bahkan ada beberapa teman yang tidak puas karena terbatasnya tempat acara tsb. Totalitas semua hadirin sudah melebih kapasitas ruang studio, itu alasan utama kenapa kami panitia membatasi anggota yang ingin bergabung yang mendaftar justru setelah acara melebih batas pendaftaran. Namun acara ini berlangsung lancar, aman nyaman dan sukses serta meninggalkan cerita sendiri dihati para hadirin. 

HUT ini termasuk minim panitia dan tidak pernah mengadakan meeting secara live, mengingat keberadaan panitia dan admin KFFRM yang berada di kota yang berbeda, jadi kami hanya rapat 24 jam via inbox, sms dan telepon. Pembagian tugas sesuai kemampuan masing-masing anggota, saling mensupport dan berujung bahagia. Era Klasik ini sebenarnya kami selaku panitia ulang tahun ingin menghadirkan suasana jaman itu dengan memperdengarkan kembali beberapa lagu lawas yang pernah hits lewat album solo Fariz RM atau grup band-nya. Hal ini sebagai perwujudan permintaan beberapa teman dalam wadah KFFRM tsb. Namun pada kenyataan sangat sulit merealisasikan, mengingat jadwal panggung si Boss (sebutan teman-teman untuk mas Fariz RM) padat merayap. Bahkan saat melihat penampilannya tepat di hari jadinya Minggu, 5 Januari 2014 lalu via NET.TV sangat terlihat kelelahan yang amat sangat. Toh, kami sebagai penggemar tidak banyak menuntut yang penting si Boss sehat dan tetap berkarya, dan KFFRM kompersa. Amin YRA.

Display Fariz RM milik pak Roi Rahmanto


Sabtu, 11 Januari 2014
Ketika saya dengan rombongan (mas Hadhie, Ryan, Edo, Inov, Tiara dan suami) tiba di tempat, teman-teman : Niken Nik, si Jack, Supriyadi, Irman Munajat, kang Asep, paketu sudah berada di lokasi. Hari masih siang dan cuaca bagus. Saling berkenalan dengan kakak saya yang datang dari Jember. Setiap orang ringan tangan membantu tanpa harus disuruh melakukan ini-itu, memang itu dari kebersamaan ini. Si Jack dan mas Hadhie segera masuk studio dan mulailah check sound, sementara saya dan teman-teman lain termasuk mbak Noeke, beliau ini kakaknya alm Wibi AK salah satu personel Transs, mulai menata halaman studio yang akan dipakai seremonial sebelum memasuki studio saat yang ditentukan. Mbak Noeke ini sebenarnya hadir sebagai salah satu tamu undangan, tetapi beliau dengan senang hati turun tangan menata pernak-pernik hut. Kemudian datangnya Ari Purwandari membawa barang seperti 4 krek teh botol lengkap dengan es batu dan tempat penyimpanan botol dingin, kue tart dsb. Lalu munculnya mobil catering yang saya percayakan kepada adik bunda Oneng yaitu mbak Dinda Pamella. Satu per satu para undangan dari berbagai kota berdatangan menuju 




 iCanStudio Live di daerah Kebayoran Baru - Jakarta Selatan. Yang terdaftar ada 48 orang, mereka para penggemar Fariz RM yang kali ini mulai bertambah anggota baru, sebut saja : Ari Kuncoro, Nina Deristiana, Lullu Hidayah, Endah Triwahyuni, Nadia, Bondan Wirawan, Siti Hartati, Siti Widianingsih, Hendra Juniarto. Selain itu anggota lama tetapi baru nongol wajahnya antara lain : Adi Purwo, Agus Supriadi, Edi Wahyu Sri Mulyono, Sofianti C. Membaurlah semuanya, seakan dunia maya itu berlangsung di sana, halaman studio. Semarak, seperti perhelatan keluarga besar, ramai seperti gathering dan seru happy-happy, begitu harapan yang tertuliskan oleh Edwin si pembuat stiker ulang tahun. 


Acara dibuka oleh kang Asep Gunawan sekitar pukul 15:30 wib, lalu dilanjutkan oleh paketu KFFRM Bekti Nuswantoro dengan menceritakan sedikit kronologi terbentuknya KFFRM dan meski sedikit nyatanya panjang juga, hal ini sengaja mengulur waktu sambil menantikan kehadirannya si Boss. Selain itu perkenalan singkat yang diwakili anggota lama oleh mas Adi Purwanto datang dari Kendal. Ia seorang guru SMP yang biasa berdiri di depan kelas menjelaskan kepada siswa-siswinya, namun saat berdiri di depan penggemar idolanya, toh nampak demam panggung juga. Berbeda dengan perwakilan anggota baru yaitu mas Ari Kuncoro yang asli Semarang dan tinggal di Cibubur ini, awal menelpon saya sangat bersemangat. "Mbak, iki tenan-tenan yang kucari yang asli..." ucapnya berapi-api. Saya kurang paham lalu dijelaskan oh ternyata selama ini pencariannya selalu menemukan yang palsu. Sebenarnya bukan asli-palsunya sebuah komunitas. Sah-sah saja siapapun membentuk organisasi/komunitas tetapi mungkin KFFRM ini-lah yang secara langsung dipantau oleh si Boss sendiri, baik melalui para admin-nya atau info dari lainnya yang selalu menyenggol nama KFFRM.

Doorprice dari KFFRM
Merchandise Fariz RM


Tamu undangan yang pertama kali datang adalah pak Panji (produser album Fenomena) dan mas Yoni Suprasetyono. Beliau-beliau itu adalah sahabatnya si Boss. Setelah itu mas Andy Rustam dan istrinya bernama mbak Jerry AR.  Pak Aria Pamulih, lalu bermuncullah satu persatu selain tamu undangan juga para teman yang jauh hari antusias mendaftarkan diri. Kembali ke susunan acara, setelah perkenalan singkat. Acara menampilkan undian door -price, ada 10 hadiah kecil, harganya pun relatif murah namun jangan sesuatu itu dilihat dari nilai nominalnya. Dari 10 itu, 8 hadiah menggunakan uang kas HUT tsb, dua lagi atas nama DuoAr. Tiga undian pertama dikocok, keluarlah nama-nama yang nggak asing lagi sebagai fans Fariz RM, adalah Irman Munajat, Ari Prambudi dan Kurnia Effendi. Tak luput mereka memberi sedikit berbagi pengalamannya tentang idolanya dan minimal menyanyikan sepenggal lagu favoritnya. Tak lama kemudian, datang mobil si Boss tepat di dekat meja absensi tamu yang terletak di parkiran depan studio.


Si Boss dengan rambut diikat kebelakang, berpakaian kaos dan rompi hitam dan mengenakan sepatu kets putih mungkin menunjukkan 'hitam-putih' sebagai tema drees code. Si Boss setelah menyapa tamu sejenak langsung menuju ke dalam (studio) dan mbak Oneng membaur dengan para hadirin, hingga acara tiup lilin dan pemotongan tumpeng maka semuanya tumpah ruah jadi satu. Para papparazi dadakan mulai berebut mengabadikan moment tsb. Seperti terulang kembali suasana di Camar, antara dua adik kakak ini dipertemukan dalam acara ulang tahun bersama penggemarnya. 



ID Card Panitia


Kembali ke acara, mungkin ini pertama kalinya merayakan hari ulang tahun di tempat yang berbeda, tepatnya di iCanStudio Live di daerah Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Kelebihan disana,  panitia sudah tidak memikirkan penyewaan perangkat sound system. Keakraban yang berlangsung pun semuanya spontanitas karena kami baik panitia, para undangan, teman-teman yang hadir dan ybs semuanya tanpa latihan atau gladi resik. Hari itu Sabtu, 11 Januari 2014 pada waktu yang sama, kami bertemu disana berkenalan, dan anggota lama pun bernostalgia. Itu sebabnya acara ini bukan sekedar menghadiri perayaan semata atau menonton panggungnya si Boss, tetapi tujuan utama nya memang mengedepankan tali silaturahmi antara idola dan penggemarnya. Setelah pemotongan kue tart dilanjutkan dengan pemotongan nasi tumpeng, masing-masing untuk pak Panji dan pak Gatot Triyono yang hadir mewakili KPMI yaitu Komunitas Pecinta Musik Indonesia, dimana KFFRM berguru. Usai seremonial maka para hadirin dipersilahkan menikmati hidangan ala kadarnya, yang tersedia disana juga sebagian dibawa oleh teman-teman. Ini memang bukan sebuah pesta tetapi lebih cenderung bernostalgia semata, nikmatnya sesama penikmat musik sehati. 



Sekitar jam 16:45 wib semua hadirin memasuki ruang studio. Didalam studio telah siap kami untuk menyanyikan lagu "Selamat Untukmu" buat si Boss dengan iringan musiknya oleh mas Hadhie "...Oh begitu cepatnya waktu datang dan berlalu berkejaran hingga kita pun tak sempat menghitung....Hari ini kau berulang tahun satu pertanda hari ini jadi milikmu yaaa selamat untukmu..." terdengar nyaring dan kompak, sangat menyenangkan karena kali ini pelantunnya hanya senyam senyum libur menyanyi medengarkan para penggemarnya bernyanyi bersama-sama. Kemudian dilanjut dengan live-nya Fariz RM menampilkan tiga lagu yang tak asing lagi, Nada Kasih, Sakura dan barcelona, meski kami sangat berharap lagu wajib tsb tidak dilantunkan, toh mereka larut juga menikmatinya. Terutama (mungkin) yang belum pernah melihat live-nya Fariz RM membawakan dua lagu wajib tsb yaitu Sakura dan Barcelona. Sementara saya sebagai tuan rumah acara, masih menemani tamu undangan yaitu mas Seno M Hardjo dan menunggu kehadiran seorang tamu surprise. (Insert) Berbicara tamu surprise ini memang diluar scenario kepanitiaan. Idenya pun tiba-tiba saat saya ngobrol via WA dengan mbak Dewi Irawan (artis film) tentang aktor berinisial TP. Alhamdulillah niat saya direspon baik dengan mengucap Bismillah saya mengubungi beliau, ternyata mendapat sambutan positif. Maka berjalanlah rencana itu sampai hari H-nya pun tidak ada satu pun yang mengetahui kehadiran tamu surprise itu. 


Tio Pakusadewo menghadiahkan PECI buat Fariz RM

Sore itu sebuah mobil meluncur di depan halaman studio dan saya sudah menunggunya untuk digiring perlahan memasuki studio. Di depan bertemulah tamu surprise tsb dengan mas Yoni, maka semangatlah saya seketika. Dan....kini tibalah si tamu surprise dihadirkan didalam sebagai kado istimewa buat yang berulang tahun. Yeaah, tamu itu mas Tio Pakusadewo. Alasan kenapa saya mengundang beliau dan menjadikan istimewa, karena pertama beliau fans berat Fariz RM, kedua beliau pelukis lukisan wajah Fariz RM yang hasil karyanya diletakkan di ruang tamu di rumah sang Maestro, ketiga selain seorang aktor beliau juga pandai bermain musik dan selanjutnya asyik saja bila menghadirkan seseorang yang bukan teman bermain musiknya si Boss, dan keduanya bersahabat dari waktu ke waktu. Kehadiran mas Tio pun ternyata menambah kehangatan suasana yang berlaku saat itu karena beliau menghadiahkan sebuah peci yang sebelumnya dikenakannya lalu diberikan kepada yang berulang tahun dengan niat agar ybs setelah ini lebih fokus mendekatkan diri kepada Sang Khaliq Maha Pencipta. Amin YRA. Tepuk tangan mewarnai suasana dalam studio. Saat itu juga si Boss pun menjelaskan kepada hadirin seperti ulasan saya diatas. Subhanallahu indah sekali persahabatan itu. Tamu surprise itu didaulat untuk menyumbangkan lagu maka menyanyilah si aktor senior yang aktif membintangi beberapa film nasional akhir-akhir ini (Habibie & Ainun/Perahu Kertas/ Lucunya Negeri Ini dsb). Sebuah tembang lawas yang pernah dipopulerkan oleh Louis Armstrong berjudul
" What a Wonderful World" diringi permainan tunggal Fariz RM. Riuhnya tepuk tangan kembali bergema menandakan suka cita memenuhi isi ruangan.

Tio P dgn Harmonika
Tio & Fariz RM & KFFRM

Spontanitas mas Hadhie menyuguhkan lagu Panggung Perak. Lepas acara tsb, sejak jaman bahula ada niatan ingin menunjukkan permainan Panggung Perak bila suatu saat dipertemukan dengan idolanya dan kini waktu memberi tempat untuk unjuk diri. Disisi lain entahlah, si tamu menghilang sejenak lalu kembali ke dalam studio memberi lagi sebuah kejutan yang tidak ter-scenariokan dalam obrolan WA sebelumnya. Beliau membaur dengan harmonikanya di antara medley lagu Panggung Perak - Hasrat & Cita - Cinta Kian MenepiPas dilagu Hasrat dan Cita itulah terdengar suara harmonika yang semula terdengar samar-samar. Saat itu si Boss benar-benar sedang menyimak dentingan piano yang dimainkan oleh mas Hadhie dengan paduan koor KFFRM, dan setelah 'ngeh' si Boss tersenyum manis disusul tepuk tangan teman-teman, "Happy Birthday..." ucapnya kepada Fariz RM. 

Usai lagu Cinta Kian Menepi, mas Hadhie rehat sejenak dan memulai berfoto dengan sang Maestro, selama ia mengidolakannya baru pertama kali itu kakak saya bisa berfoto. Berbanding balik dengan saya adiknya yang malah sungkan bila akan berfoto dengan si Boss, lebih mengutamakan teman-teman yang lain yang belum pernah berfoto. Bukan cuman mas Hadhie saja yang belum berfoto dengan Fariz RM , masih banyak teman-teman yang senasib maka mulailah sang idola diserbu, ditarik sana sini untuk berfoto ria. Sementara saya seperti biasa kesana kemari antara studio dan halaman, karena masih ada saja tamu undangan yang terlambat datang. Dalam kesempatan ini, mas
Fariz RM dgn Seno M Hardjo (BoD Ami Award)

Seno M Hardjo pun menyempatkan diri memberikan kejutan, yaitu ingin mewujudkan 5 hits lagu Fariz RM dalam mini album dimana akan berkolaborasi dengan penyanyi-penyanyi muda masa kini. Dalam hal ini beliau pun meminta dukungan KFFRM juga sangat kagum terhadap koleksi display milik pak Roi Rahmanto. Wow... plok, plok, plok tepuk tangan para hadirin sangat antusias menyambut niatan itu, selanjutnya kita tunggu realisasinya dengan semangat fantastic. 

Acara masih berlangsung meski pun si Boss keluar acara untuk menikmati hidangan lagi. Di dalam teman-teman masih melanjutkan nyanyi bareng dengan iringan duo pianis si Jack dan mas Hadhie, beberapa lagu era klasik itu mengalun indah sebut saja, Nyanyian Malam, Menggapai Bintang, Jerat dsb. Menjelang adzan magrib maka, si Boss masuk studio lagi dan menutup acara hut dan mengucapkan banyak terima kasih atas kecintaan para penggemarnya yang sudah pada beranjak tua, tetap setia sepanjang masa.

Fariz RM foto bersama KFFRM

Dari hari penuh terik, matahari redup kemudian mulai tertutup mendung lalu diguyur hujan deras, satu per satu acara rampung digelar. Meski layar panggung, peralatan sound system telah di-off-kan namun mereka masih sibuk berfoto dan bertukar cerita di antara derasnya hujan. Persediaan makanan masih banyak maka tak luput panitia membagikan kepada para hadirin, baik kotak makanan maupun kotak kue. Senang tiada terkira semua meninggalkan ruangan studio dengan langkah kaki ringan penuh bahagia dan membawa rasa bahagia yang terbungkus dalam senyuman yang manis. Meski acara tergolong sukses, namun kami pihak panitia pun tak lupa memohon maaf atas kekurangan sana-sini dalam proses hingga kelarnya acara. Teriring doa untuk semuany temans yang rata-rata datang dari luar Jabodetabek. Peluh bahagia itu tersimpan rapi dalam memori indah yang setiap waktu bisa sejenak mengulang cerita itu dengan membaca tulisan ini. Besar harapan saya bersama panitia kedepannya untuk lebih erat dalam kekompakan, menggilas rasa-rasa yang kurang bersahabat bahwa sebenarnya dengan kesatuan dalam berkomunitas itu akan melahirkan keindahan-keindahan dalam persahabatan. Dan kesuksesan suatu acara bukan karena satu orang namun kekompakan teamwork, partisipasi serta izin-Nya. Insha Allah sampai jumpa di hari ulang tahun berikutnya ...... 

Salam fantastic !

Terima kasih buat para tamu undangan yang hadir : 

Bpk Panji, mas Yoni, Bpk Andy Rustam dan Ibu Jerry, Ibu Noeke & putrinya, Bpk Aria Pamulih & istri, mbak Wiwiek Lismani & sahabatnya, Rio Jonathan dan istri,  Bpk Seno M Hardjo dan keluarga, Bpk Gatot Triyono (KPMI), Bpk Roi Rahmanto & Display FRM, mas Didit Dada dll.


Fariz RM foto bersama KFFRM


Terima kasih kepada KFFRRM :

Adi Purwanto - Ari Prambudi & istri -
Adwi Hastuti & suami - Barberbor
Agus Supriadi - Asep Gunawan - Bekti Nuswantoro - Donny Aha & istri
Aleyka & istri - Ineke & Awalludin - Si Jack - Irman Munajat - Niken Nik - Sofianti - Endah Triwahyuni - Lullu Hidayah - Siti Hartati  & Siti Widyaningsih Riza H - Nina & suami +Nadia - Supriyadi Wiwin W - Bondan Wirawan - Ari Kuncoro - Lasmi dgn keluarga Salatiga
Tonny Yoostiono - Ryan,Edo,Inov & Tiara Edi Wahyu & istri - Nila Ratna - Dadan -
Kurnia Effendi - Regina - Anies & suami - Ari Purwandari.


  • Terima kasih kepada temans yg partisipasi utk kas : Afrida-Ninik Dyah-Wahyu Widayati-Imam S-Hendra J-Eko Rusminingsih-Endah T- Ari K- Abu Fariz            Bpk Andy Rustam (Ibu Jerry AR)
  • Terima kasih kepada team iCanstudio Live dan crew, plus Security.
  • Terima kasih kepada TADI Tenda, Dinda Pamella Catering, Jepri Cs.
  • Terima kasih admin, panitia dan KFFRM
  • Terima kasih kepada mas Fariz RM dan mbak Oneng Diana Riyadini.

             ♡ ♡ ♡ ♡ ♡


 

Rabu, 20 November 2013

Aglenon :

Pesonanya Pulau Dewata


Blue Point, Uluwatu Bali
Tanah Lot, Bali
Tanah Lot, Bali

Legian Living House, Bali
Legian Living House, Bali
Seperti khayalan menjelma nyata, akhirnya aku bisa mengunjungi Bali kembali setelah 30-31 tahun yang lalu. Start dari rumah jam 4 sore. Di detik-detik terakhir  hanya pertolongan Allah SWT yang bisa membawaku menuju meja 'check in' benar- benar mendekati batas waktu. Huuuft! Alhamdulillah aku duduk di seat number 1A dan ternyataaa...1,2,3...15 masih ada penumpang susulan.  Jadwal flight pun molor, dan dengan jarak tempuh 1 jam, 40 menit pesawat mendarat, dengan selamat di Ngurah Rai International Airport, tepat jam 11 malam waktu setempat sudah siap menemui guide dadakan Ronnie dan Ida Ayu Mardani. Beberapa menit kemudian, datanglah Edo yang baru landing, ia berangkat dari bandara Husein Sastranegara, Bandung. kami memang beda penerbangan, disesuaikan kondisi masing-masing. Aku, suami dan Ryan berangkat dari Jakarta. Besok pagi, Ryo terbang dari bandara Adi Sucipto. Berbeda-beda tempat tetapi satu tujuan. Untuk pertama kalinya suami dan anak-anak bertemu dengan adik sepupuku itu. Berlari-lari kecil hingga menuju tangga pesawat. Kunjungan ke Bali ini dalam rangka mengusir penat dan mewujudkan keinginan anak-anak yang ingin mengetahui pesonanya Pulau Dewata. Perjalanan dimulai dari hari Jum'at malam 15 November 2013 penerbangan terakhir  Lion Airways jam 20:40 wib, tujuan Jakarta - Denpasar. Sempat mengalami kemacetan tingkat dewa. Perjalanan dari rumah menuju pol bus Damri saja sudah tertempuh satu jam lebih, belum lagi arus tol Jagorawi menuju tol kota dan tol bandara. Padahal Tepat jam 01:30 waktu Indonesia bangian tengah, memasuki penginapan. Penat dan lelah terhapus dengan mimpi di Legian Living House,
sangat menyenangkan tempatnya, selain bersih juga cakep.


Nasi Ayam Betutu
Westin Spa-Nusa Dua Bali
Sabtu, 16 November 2013, pagi hari seusai sholat Subuh, keluar kamar. Langit pagi sangat cerah, udara dingin menyapa diri. Suasana penginapan sangat cantik, ada pohon tanpa daun dan seekor monyet terkait disana. Rupanya monyet kecil itu milik sepasang suami istri asli Japan yang menyewa guest house hampir sebulan. Pagi dengan 4 cangkir teh panas, dua nasi goreng dan dua nasi putih berlauk rendang (bikinan sendiri), jadilah semarak sarapan kelas berat buat keluargaku yang pada kelaparan.  Tak lama kemudian datanglah sodara sepupuku Ronni dan istrinya, Iik. Maka semakin ramai urusan breakfast. Lalu, suami segera menuju bandara Ngurah Rai untuk menjemput Kak Yo, yang terbang dari bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Meski anak-anak sudah gede-gede, namun saat berkumpul tak ubahnya dunia taman kanak-kanak. Itulah sisi lain nikmat-Nya buatku, kami yang banyak tidak seatap namun kekompakan senantiasa terjaga. Perjalanan dimulai dari tempat penginapan menuju daerah Nusa Dua, sebelum mencapai tempat lokasi Westin Spa, kami mampir ke Warung Liku, Nusa Dua untuk menikmati makan siang, Nasi Ayam Betutu dan es sirup hijau. Sederhana sekali, namun rasanya sekelas restoran, Barakahallahu fiikum hari itu, murah meriah dan kenyang. Dan, perjalanan segera dilanjutkan. 

Westin  Spa, Nusa Dua - Bali, inilah tujuan utama ku (kami) bisa mengunjungi pulau Dewata. Berbekal memenangkan sayembara di majalah femina dalam rangka Ulang Tahun majalah tsb ke 40, salah satunya menikmati sentuhan Westin Spa, Nusa Dua Resort Bali.
Westin Spa - Nusa Dua Bali
Hadiah berlaku sejak tanggal dikeluarkan melalui pengumuman di majalah femina dan berakhir sebelum 1 Desember 2013. Nggak kebayang bisa kesana, bersama keluarga, meski untuk keluarga harus mengeluarkan biaya sendiri. Bukan itunya, namun kesempatan yang bisa ngumpul bersama adalah waktu yang sangat berharga dan langka dan catatan ini pertama kalinya kami sekeluarga ke Bali. Mungkin termasuk terlambat, tetapi lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali. Selama aku menikmati manjanya tubuh di spa di Westin, anak-anak, suami dan Iik & Ronni jalan-jalan ke Nusa Dua Festival yang letaknya nggak jauh dari kawasan Nusa Dua Resort.

Beberapa jam kemudian urusan threatment spa sudah rampung dan kini tiba saatnya aku dijemput dan segera meluncur ke obyek wisata Tanah Lot. Selama dalam perjalanan tiba-tiba mendung menghadang dan tak lama kemudian hujan deras turun seketika. Menurut info dari adik sepupuku Iik dan Ronni ini termasuk cuaca diluar biasa. Artinya Bali lebih cenderung panas dan jarang hujan. Perjalanan diguyur hujan membuat jalanan licin benar-benar harus waspada. Begitu mobil menemukan tempat berparkir, aku dan rombongan menyerbu pedagang jagung bakar. Di antara hujan yang mulai reda, menikmati jagung bakar sangat nikmat. Menyewa dua payung selama menuju lokasi Tanah Lot yang akan dituju, banyak sekali pedagang souvenir di lorong itu. Setibanya di tempat, rupanya baru diadakan upacara adat, karena pas di lokasi tanah Lot-nya itu masih ramai pengikut upacara yang mengenakan pakaian adat. Aku hanya nunggu duduk di salah satu batu karang di dekat lokasi itu, sementara anak-anak, suami dan kedua sepupuku itu menuju gua yang banyak ularnya. Ramai pengunjung yang rata-rata ingin berfoto dengan latar belakang deburan ombak. Menarik sekali, sehingga membuatku pun kepincut, maka aku pun berfoto tak kalah gayanya dengan mereka. Walau aku terpaksa merelakan celana panjangku basah karena deburan ombak itu seakan mengguyur tubuhku. Menyenangkan bermain riak-riak gelombang samudra itu yang terpecah setibanya diujung pantai.
Memaksimalkan pengambilan gambar baik melalui kamera Canon ataupun kamera saku-ku. Tanah Lot itu sering diabadikan untuk sesi pemotretan kartu pos, terutama saat sunset-nya. Sayang pas waktu itu karena langit berselimut mendung, meski hujan berhenti turun, suasana sunset jauh dari harapan. Kembali ke mobil karena hujan turun kembali dan dirasa cukup maka berlalulah kami meninggalkan esotiknya Tanah Lot. Stibanya di penginapan sudah terdengar adzan magrib. Usai membersihkan badan dan memulai istirahat, namun anak-anak bersama kedua sepupuku itu masih ingin menikmati suasana malam minggu di seputran Legian. Tempat monumen terjadinya tragedi bom Bali 2002 yang lalu. Entah apalagi yang jelas, aku sudah menikmati rajutan mimpi dalam tidur yang nyenyak. Keesokan harinya anak-anak bercerita, sambil aku menyiapkan minuman hangat (cappucino dan teh).


Minggu, 17 November 2013
Seusai sarapan pagi, kami bergegas menuju bandara Ngurah Rai, untuk mengantarkan kak Yo penerbangan pagi Denpasar - Yogyakarta. Meski kebersamaannya hanya sebentar namun tetap disyukuri karena-Nya kami bisa berkumpul disini menikmati pesonanya pulau Dewata, pertama kali liburan dengan keluarga yang menyenangkan. Bukan perkara mudah menyatukan keempat laki-laki tsb, dimana masing-masing sibuk dengan aktivitasnya, terutama lagi sama-sama berada lain kota.
Berbekal oleh-oleh pai susu terbanglah ia menuju kota Gudeg Yogya. Setelah itu kami melanjutkan sisir kota, menyempatkan diri berfoto ria di sebuah taman tengah kota, yang ada patung-patung indahnya seperti menggambarkan peperangan Bratayudha. Terik mentari membakar tubuh bukan halangan justru menambah cantik suasana. Patung kuda dan para ksatrianya sangat gagah perkasa, di antara mekarnya bunga-bunga tepat di jantung kota. Mungkin penduduk yang lama tinggal disana, malah belum pernah berfoto seperti aku bak fotomodel, kesempatan kan hanya datang sekali jadi memanfaatkan tempat dan waktu yang berlaku saat itu. Puas dari sana menuju tempat pusat oleh-oleh Joger.
Joger seperti Mirota Batik Yogyakarta, menawarkan produk lokal dengan kwalitas lumayan bagus sebagai souvenir para wisatawan yang mengunjungi Bali. Nggak terlalu lama berada di Joger karena perjalanan masih berlanjut ke Blue Point, Uluwatu. Tak terlintas seperti apa itu tempat yang dimaksudkan oleh kedua sepupuku itu. Setibanya di tempat mencari ladang parkiran sangat penuh sekali. Rupanya meski telah sampai di tempat kami masih diharuskan berjalan kaki menurun anak tangga hingga mencapai pasir putih dimana banyak para turis berselancar. Mengerikan juga saat menuruni anak tangga tsb. Mengingat aku takut ketinggian namun apapun itu alasannya aku harus mengikuti suara terbanyak, yakni turun ke bawah. Hadeeeww....ampun deh !!!

tetep narsis walau menahan sakit
Subhanallahu cantik sekali sesampainya di bawah, hamparan pasir putih dengan air laut sangat bening, beberapa bebatuan berlumut seakan bersembunyi dibalik pesonanya Blue Point itu. Rata-rata mereka yang kesana untuk aktivitas berselancar, itu memang area surfing yang terkenal. Sementara aku dan keluarga terpencar. Aku lebih suka duduk di antara dinginnya batu berlumut tsb. Melihat orang-orang yang sibuk berenang, berfoto bahkan saat itu ada pemotretan pra-wedding, mereka sepertinya turis dari Korea. Ada juga seorang muslimah yang tengah khusuk sholat di atas hamparan pasir putih sementara sekelompok burung laut, entah itu burung layang atau burung camar terbang melintas keluar masuk ke gua tempat aku duduk menikmati suasana pantai. Bermacam aktivitas terjadi disana dan akhirnya mendorongku untuk melakukan sesuatu yaitu merekam suasana. Namun sayang, saat konsentrasi ke obyek yang akan direkam, tanpa sengaja sandal yang aku pakai menginjak batu berlumut dan akhirnya aku jatuh ke air laut, karena aku mempertahankan kamera dan handphone otomatis perut, lutut dan telapak kaki kanan yang menjadi korban.Saat kejadian tiba-tiba pandangan mata miring dan bruukk...gelap, dan celana jeans-ku basah, nggak lama terasa nyeri dan telihat ada genangan darah mengalir mengambang di atas air laut itu. Oh My God, rupanya itu darahku sendiri dan telapak kakiku mulai perih maklum air laut sudah merasuk ke dalam kulit. Dengan dibopong Iik dan Ryan aku tertatih-tatih menuju tempat pos kami menaruh pakaian dan barang. Sungguh nggak kebayang saat menaiki tangga menuju arah pulang, meski merasa kesakitan namun tetap berjalan mencapai puncak. Wouuw...walandalah sakit nian. Tetap bersyukur karena darah sudah berhenti tinggal rasa nyeri saja. Meski ada troubel dikit toh ini sebagai intermezo cerita selama jalan-jalan ke Bali.

Blue Point Uluwatu
Perjalanan dari Blue Point Uluwatu menuju Legian Living House kembali diguyur hujan, lalu sambil berbasah-basahan akhirnya aku pun ikutan nyemplung ke kolam renang yang berada di depan pintu kamar. Tak kuhiraukan lagi sakit di kaki, mengingat besok pagi kami harus check in. Menyenangkan super menyenangkan sekali. Berenang di tengah hujan meski bukan perenang hebat kalau gaya batu tenggelam sih boleh juga. Air kolam ternyata hangat itu sebabnya akan beranjak meninggalkan kolam renang serasa enggan. Dan saat menjelang adzan magrib tiba, semua urusan renang telah usai karena setelah menunaikan ibadah magrib kami akan mencari soto ayam dan mengunjungi Kresna Pusat Oleh-Oleh di Bali. Selesai urusan membeli souvenir lalu kembali ke penginapan dan beristirahat persiapan pulang ke Jakarta. Alhamdulillah....

Senin, 18 November 2013


Pagi seusai sarapan segera bergegas menuju bandara Ngurai Rai, kali ini Iik tidak turut mengantar kami karena harus masuk kerja, hanya Ronni yang mengurusi penyewaan mobil dan penginapan berakhir dengan memuaskan, tentu menggoda untuk kembali berlibur ke Bali lagi. Penerbangan pun tanpa delay, Edo berangkat duluan menuju Bandung ke bandara Husein Sastranegara. Semua berjalan dengan lancar dan selamat tiba di bandara Soekarno - Hatta kemudian dilanjut dengan bus Damri Soeta ke Bogor hingga tiba di rumah senantiasa dalam lindungan-Nya. Andai aku tidak memenangkan sayembara ulang tahun femina mungkin keinginan berlibur ke Bali hanya selintas lalu karena tidak ada tujuan yang pasti walau disana ada saudaraku. Bagaimana pun juga semua yang terjadi sudah dalam kehendak-Nya baik keadaan menyenangkan maupun keadaan menyedihkan kita haruslah selalu bersyukur dalam sikon lapang dan sempit, dalam sikon suka dan sedih. Akhir kata terima kasih buat yang telah mampir dan membaca tulisan ini. Sampai jumpa dicerita berikutnya "Jalan-jalan..." entah kemana lagi kaki ini melangkah.


Salam,
Arie Rachmawati

Selasa, 12 November 2013

L i v e 2013


PENIKMAT  MUSIK  LINTAS  GENERASI

N A I F



Sabtu, 9 November 2013

Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung,  malam minggu lalu penuh dengan kawula muda. Sebuah acara yang diadakan Universitas Padjajaran "Espose -2013", menggelar hajat tahunan, kali ini mengangkat tema, "Tone and Rhythm of Wonder East Indonesia."  
Seandainya aku nggak diajak Edo (anak ragilku), jelas nggak pernah bisa membaur dengan para mahasiswa-mahasiswi tsb. Lucunya lagi, meski ikut pernukaran tiket di siang harinya, aku nggak tahu siapa yang akan mengisi acara tsb adalah Kahitna dan Raisa.
Kahitna

Hingga malam itu, saat memasuki ruang kedap suara dari pintu kiri yang sudah dipenuhi para penonton, di stage lagi performing E.A.F Project, nampak Melani Subono dkk. Melirik sana-sini, mencari kursi kosong agak susah dan akhirnya aku putuskan berpisah dengan Edo. Meski pisah, namun Edo masih mengawasiku, sueerr ini jaman kebalik, dimana anak mengawasi Mamanya. Sebelum Edo membaur dengan teman-teman kampusnya, ia sudah mewanti-wanti diriku agar duduk saja, jangan menuju ke tengah, ditakutkan aku hilang apalagi pingsan. Hmmmm..., kemudian membaur lah aku dengan para girly yang ternyata suaranya mirip Tarzan jejeritan saat personel NAIF mulai tampil di atas panggung. Benar-benar aku tidak tahu dan nggak 'ngeh' kalau ada band beranggota : "David" Bayu Danang Jaya (vokal), Muhammad "Emil" Amil Hussein (bass kibor, vokal), Fajar "Jarwo" Endra Taruna (gitar, vokal) dan Franki "Pepeng" Indrasmoro Sumbodo (drum, perkusi, vokal)**, dalam deretan bintang tamu pengisi acara Espose 2013.

NAIF, aku mengenal grup tsb saat di televisi jaman MTV Ampuh rajin menayangkan lagu berjudul Posesif, dengan model klip yang akhirnya meninggal dunia karena sakit. Sebelumnya lagu perdana mereka berjudul  Mobil Balap hanya selintas lalu mampir di telingaku. Malam itu Naif membuka aksi panggungnya dengan lagu Air dan Api, mengajak audiensi meramaikan suasana. Irama nan riang mampu membuat mereka yang di depan stage berjingkrak-jingkrak. Asyik. Lagu itu sangat familiar ditelingaku ketimbang Mobil Balap, selebihnya aku nggak tahu Krisna Prameswara.  Ia pantas disebut keyboardist sejuta band itu,  karena selalu ada di setiap pertunjukkan musik berbagai ragam jenis. Aku mengenalnya sosoknya saat pertama kali konser Kadri Jimmo the Prinzes manggung di Salihara, 4 tahun yang lalu. Belakangan hari aku baru tahu kalau beliau itu sebagai additional Naif sejak 2005, begitu yang tertulis di wall facbeook -nya. Satu per satu judul lagu yang mereka suguhkan. Sekelebat mataku menangkap sosok pemain keyboard, yaitu mas Krisna Prameswara.

Aku serasa muda kembali terseret arus penikmat musik anak muda. Anehnya lagi aku bisa mengikuti lagi-lagu Naif, meski nggak tahu judulnya (kecuali yang disebut diatas tadi). Hingga, pada sebuah lagu, ".... janganlah kau berpaling dariku, karena kamu cuma satu untukku....untukku"   Ajaib lagu itu tiba-tiba menduduki rating hatiku malam itu.  Sumprit aku mikir, pernah mendengar seseorang mengucapkan kata-kata mirip banget lirik itu. Mencoba mengirim pesan ke Edo, menanyakan judul lagu tapi keburu pesan pending dan lagu demi lagu  berikutnya mengalun.  "Bukan maksud melucu bila dalam aksi panggung Naif David sang vokalis mengeluarkan jurus-jurus saktinya yang kerap membuat penonton terpingkal-pingkal. Itu memang sudah menjadi sifatnya sehari-hari yang kemudian ia bawa ke atas panggung sebagai media interaksi terhadap penonton. Namun tetap mereka berlima serius dalam bermusik dan membuat lagu. Hanya saja menurut mereka konsep musik dan hiburan yang mereka tawarkan di setiap penampilan NAIF masih tergolong beda dari semua yang ada di Indonesia sehingga mereka sering dianggap lucu atau unik." (salinan dari Wikipedia). Ketika giliran si vokalis David menampilkan lagu Enggo Lari yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi jazz Margie Segers karena mewakili dari tema yang panitia usung. Para pemuda pemudi malam itu yang tadinya kompakan koor menyanyikan lagu-lagu Naif, tiba-tiba menjadi sedikit hening, mungkin mereka kurang mengenal lagu jadul tsb.  Ini pertama kali melihat, menikmati Naif, aku merasa larut dan nyaman. Lagu pamungkas adalah Posesif dan benar-benar dua jempol buat Naif yang sepanjang performing-nya sangat menghidupkan suasana. 





Naif meninggalkan panggung berganti Raisa, penyanyi yang memiliki paras cantik secantik suaranya dengan rambut ikal mayang untuk era kini, sangat disayangkan sound-nya kurang bagus, jauh beda sama performance-nya Naif sempurna. Pertama kali menonton penampilannya Raisa saat acara Ami Award 2012, malam itu setelah Raisa menyanyikan dua lagu,  aku meninggalkan ruangan untuk mencari makanan dan minuman bersama Edo. Setelah dirasa istirahat cukup,  masuk ke ruangan lagi dan waktunya   bintang tamu pengujung acara tsb. Posisiku menonton sudah merapat ke bagian tengah panggung, agak susah karena Kahitna dengan 'Soulmate' nya yang kebanyakan kawula putri begitu histeris melihat idolanya menyanyikan Cerita Cinta, Takkan Terganti, Andai Dia Tahu, Cantik, Tak Sebebas Merpati, Bintang, mantan Terindah, Aku Dirimu Dirinya dll. (aku hanya mampu mengingat itu, selebihnya lupa.) Hal ini juga kali pertama aku menonton performance-nya Kahitna, beberapa kali terlewatkan karena berbarengan waktu dengan acara-acara lainnya. Tujuan utama adalah ingin menemui pemain bass Kahitna bernama Dodik Isnaeni atau Dody Is Kahitna.

Dody Is Kahitna
Dia adalah kakak kelas semasa SMPN 1 Jember. Walau ada sedikit kendala, akhirnya Allah SWT mempertemukan kami, sueneng pol  rasanya saat pintu terbuka dengan dijaga dua satpam menahan beberapa orang untuk ditempat dan memberi ruang gerak para artis yang akan melewati pintu itu. Begitu pintu terbuka, "Lajengan, lajengen...sekejek beih mas Dodik." ucapku semangat. Senyum ramahnya membalas sapaanku. Pertemuan setelah 30 tahun berlalu telah terobati walau kami hanya sebentar ngobrol, tanda tangan dan berfoto-ria dengannya. Dan ia pun mengucap salam perpisahan, "Ariiiee...., engkok kontak-kontak meneh yo."  Ia pun berlalu menuju mobil di plataran parkir sisi kanan gedung. Pertemuan itu aku sampaikan kepada teman-teman sekota yang merasa mengenalnya di waktu yang lampau, melalui postingan facebook dan bahagianya aku kala ia menulis di akun twitternya, Amiin YRA, ternyata ia tidak melupakan persahabatan kami.

Malam semakin larut dan gedung Sabuga mulai sepi, ditinggalkan penonton, aku kembali ingat lagu Naif yang bikin bertanya apa judulnya.  Untung Edo segera memberi jawaban, sambil nyeletuk, "Tumben Mama suka lagunya Naif, Edo memang nggak bilang kalau ada Naif, takut Mama nggak mau datang ke acara tsb, ealah ternyata Mama menikmati, syukur deh."  Judul lagu itu adalah Karena Kamu Cuma Satu dengan lirik, "....kau yang paling setia, kau yang ter-isitimewa, kau yang aku cinta, cuma engkau saja, dari semua pria aku yang juara, dari semua wanita kau yang paling sejiwa, denganmu semua air mata menjadi tawa suka ria, akankah kau selalu ada menemani dalam suka duka, denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria, janganlah kau berpaling dariku, karena kamu cuma satu untukku....kau satu satunya, dan tak ada dua, apalagi tiga, cuma engkau saja, denganmu semua air mata menjadi tawa suka ria, akankah kau selalu ada menemani dalam suka duka, denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria, janganlah kau berpaling dariku, karena kamu cuma satu untukku....kau satu satunya, dan tak ada dua, apalagi tiga, cuma engkau saja, dari semua pria aku yang juara, dari semua wanita kau yang paling sejiwa, denganmu semua air mata menjadi tawa suka ria, akankah kau selalu ada menemani dalam suka duka, denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria, janganlah kau berpaling dariku, karena kamu cuma satu untukku....untukku" 

Lalu, Edo mulai bercerita sepanjang ia menonton setiap perform-nya, sang vokalis Naif selalu berinteraksi dengan penonton, jadi komunikatif bikin senang dan meninggalkan kesan puas. Selain Naif pernah mengisi acara kampusnya, Edo menambahkan ulasan hairstyle-nya David keren. Dalam hatiku sebenarnya kini aku menyadari bahwa diriku sendiri waktunya menyematkan tanda sebagai, "Penikmat Musik Lintas Generasi."  Sesekali kuping era '80-an menggauli musik kini, nggak semuanya buruk, pasti ada yang bagus, yang menonjolkan mutu dalam bermusiknya. Dan lagu "Karena Kamu Cuma Satu" itu keren bisa membuatku jatuh cinta pada lagu mereka yang mewakili grup band masa kini generasi anak-anakku (Ryo-Ryan-Ed0). Dan Naif punya ciri khas,  mengingat tempo irama musik era 70'an dan Naif setia mempertahankan gaya rada jadul dari fashion pada videoclip-nya.  Musik adalah bahasa dunia, musik membuat suasana menyenangkan dalam berbagai situasi mewakili suara hati.

Karena Kamu Cuma Satu by Naif
(Youtube)




Catatan :
** Disalin dari Wikipedia - Naif.


Salam Musik Indonesia
Arie Rachmawati

Senin, 11 November 2013

B u k u k u :

Kumpulan Cerpen "Dandelion dalam Rindu"
karya Arie Rachmawati


Buku Kumpulan Cerpen "Dandelion dalam Rindu"

Arie Rachmawati/penulis
Jum'at, 8 November 2013,
Pagi hari aku mendapat e-mail jelang waktu jadwal pengajian ( baca : tadarusan) dari penerbit yang memberi tahukan bahwa hari ini akan di-publish karyaku. Alhamdulillah, akhirnya aku mempunyai buku di usia 45 tahun,  6bulan, 12 hari setelah hari ulang tahunku. Rasanya melayang seperti bulu-bulu lembut dandelion yang tertiup angin dan jatuh ke jatuh tumbuh lagi menjadi dandelion.  

Perjalanan membuat buku itu nggak semudah kita membeli buku (novel dll) di toko buku lalu tinggal membacanya. Proses kreativitas bermula secara kebetulan dari obrolan-obrolan ringan via BBM dan dilanjut via WA (baca : WhatsApp) dengan cak Tino alias Ersta Andantino, setelah aku membeli buku karyanya berjudul Karang. Sebelumnya aku mengenalnya secara kebetulan, karyanya sudah aku baca sebelum aku menegenal penulisnya, yaitu cerpen berjudul Menikahlah Denganku di majalah femina terbitan 2005 lalu. Cak Tino mengusulkan aku membuat buku kumpulan cerpen, saat dia bertanya berapa banyak cerita pendek yang aku tulis. Aku hanya tertawa saja, kalau dibanding dirinya aku ini nggak ada ujung jari, aku ini pemula dan tulisanku biasa saja. Dari obroaln itu tiba-tiba bergeraklah aku mulai menghitung dan mencari di tumpukan file. Ternyata banyak juga dan berpikirlah usulan itu.

Perlahan, aku menyusun dan mencoba bertanya kembali apakah aku pantas membuat buku (kumpulan cerpen) mengingat aku belum punya 'nama'. Wow, sambutannya luar biasa sangat mendukung dan mulailah saat itu aku memberi tumpukan fileku untuk diedit karena dia kujadikan editorku. Pertama kali menolak dengan alasan belum punya pengalaman sebagai editor sebuah buku, dan akhirnya sepakat dengan jalinan persahabatan. Hari ke minggu, minggu ke bulan akhirnya jadi itu naskah kumpulan cerpen, lalu dia bilang kalau akan dijadikan buku harus ada kata pengantar, dan endorsement.

Aduuuh, berpikir lagi siapa yang mau memberi kata pengantar dan endorsement secara gratis tanpa sesen pengganti lelah telah meluangkan waktu memeriksa tulisanku itu. Dan aku punya ide untuk meminta endorsement kepada para sahabat yang terhitung senior dibidang penulisan. Bapak Kurnia Effendi (penulis senior) dan mbak Ileng Rembulan, penggiat sastra di Wapres Bulungan juga bapak dr. Rudi Pekerti (penulis lirik lagu Nuansa Bening) untuk kata pengantar.
Bapak Kurnia Effendi dan bapak r.Rudi Pekerti pun turun tangan mengedit cerpen, untuk kejelasannya tertulis di cerita pendek masing-masing. Editor tata letak masih dipercayakan kepada Cak Tino, walau pun beliau juga sebagai editor di kumcer ini.

Semula terpikir olehku untuk meminta endorsement kepada mas Fariz RM, namun niat itu segera kuurungkan, karena takut memanfaatkan keternaran beliau, karena aku kini sebagai koordinator penggemarnya. Aku ingin siapa pun mereka dan fansnya yang terkumpul dalam wadah KFFRM (Komunitas Fantastic Fariz RM) murni membeli bukuku lantaran ingin membaca tulisan fiksi-ku bukan karena hal lain. Membaca caraku menulis, memvisualkan cerita dalam rangkaian kata, membangun tokoh cerita, mengolah emosi, menentukan ending, sebagai bentuk aplikasi ilmu cerpen yang sudah kudapatkan dalam pelatihan penulis kreatif yang diadakan 4 tahun yang lalu, di kelas cerpen dalam wadah Beken dengn Cerpen. angkatan pertama. Memulai menulis saat aku  duduk bangku sekolah menengah pertama (mading).  Kemudian beberapa tahun berlalu, saat sudah berkeluarga memberanikan diri mengirim cerpen pertama dan dimuat di koran Jambi Independent Pos, Agustus 2002 lalu berjudul, : "Ulurkanlah Tanganmu."

Berikutnya justru aku menodong kepada lead vocalnya Montecristo yaitu bapak Eric Martoyo dan gitaris dari Amrik Mr. Max Ridgway tokoh cerpen di Cinta Sebatas Angan, yang notabene bukan penulis tetapi mewakili sisi pemusik, dimana cerita pendek ini berilustrasi musik. Allah SWT memberi kemudahan, alhamdulillah, satu per satu beliau-beliau tsb memberikan ulasan berbentuk endorsement dengan tulus hati.  Proses berjalan kembali, setiap ada perubahan selalu berkonsultasi dengan sang editor, hingga suatu hari dia nulis pesan :  "Mbak, kayaknya sampeyan tawarkan saja ke penerbit besar, iki apik tenan nek wes dadi buku. Kata pengantarnya iku lho, Mbak. Endorsement-nya pisan wes percoyo karo aku, Mbak!"  "Ah, mosok sih dalam hati" gumamku sendiri. Kata-kata itu membuat aku kege-eran dulu, ya  senang, ya pesimis karena penulis pemula seperti aku jangan  bermimpi yang muluk-muluk.

Kontak suara dan pesan singkat dengan editor atau para pendukung bukuku adalah proses diri menuju kematangan bukuku. Setiap usulan dan kritikan itu menurutku sebagai cermin diriku, bagaimana langkah selanjutnya dalam berproses. Dengan mengucap Bismillah dan menata hati, mulailah aku menawarkan naskah yang sudah mateng itu ke salah satu penerbit (besar). Menungu hari demi hari seperti  menanti jawaban seorang kekasih yang sedang menunggu keputusan lamarannya diterima atau ditolak. Untungnya kegiatanku banyak, jadi terkadang lupa menghitung berapa lama aku menantikan jawaban itu. Apa pun keputusan itu harus siap, aku sudah mempunyai planing berikutnya. Dan saat menerima jawaban naskah ditolak, yup planing B dijalankan.

Sedikit perubahan susunan naskah, dan siap aku tawarkan kepada penerbit online yang dari semula adalah tujuan pertama, mengikuti jejak sang editor saat menerbitkan karyanya. Okay, tidak ada kendala dan dalam proses surat elektronik sedikit mengalami kendala dikarenakan jaringan koneksi tersendat, faktor cuaca. Tujuanku ke penerbit online leuitikaprio, karena sejak pertama klik link tsb suka cover bukunya yang didisplay bagus-bagus. Leutikaprio kendaraan mewujudkan impian itu menjadi kenyataan. Penerbit online yang mempunyai motto, Your Self Pubishing.

8 in 1
Artinya ada delapan cerita pendek terangkum dalam satu buku, kumcer berjudul,  "Dandelion dalam Rindu."  Empat cerpen pernah dimuat di media cetak, antara lain teenlit magazine Story (Pianoku Tercinta dan Dandelion dalam Rindu), di harian Jambi Independent Post (Meniti Asa), di tabloid Gema Publik Bnten (Di Interlude Aku Jatuh Cinta) dan dengan judul yang sama pernah dimuat dalam  buku 28 Penulis Beken dengan Cerpen. Empat cerpen lainnya tergolong baru, walaupun aku menulisnya sekitar tahun 2009-2012 antara lain : Surat Untuk Keith, Nyanyian Malam Hati Perempuan, Wajah Dibalik Kerudung dan Cinta Sebatas Angan. Di antara empat cerpen terbaru, Nyanyian Malam hati Perempuan adalah cerita terpanjang yang sempat mengalami proses menthok karena, chemistry-nya keburu kabur disebabkan aku nggak punya waktu mengetik. Fokus perhatianku tercurah kepada terbentuknya Komunitas Fantastic Fariz RM awal 2011 lalu. Memang nggak mudah mengatur mood, saat ingin mengetik kembali tetapi waktu terbagi untuk yang lain. Aku lebih mementingkan kepentingan orang banyak, dan menanggalkan inspirasi yang munculnya dadakan. Waktu itu memang padatnya kegiatan, antara urusan musik di komunitas dengan kegiatan sosial disekitar rumah (baca : majelis ta'lim). Untungnya masa bakti kegiatan sosial tsb segera berakhir dan satu per satu kembali menekuni ketikan yang terbengkalai. Proses belum berjalan lancar apabila tanpa dukungan keluarga tercinta, sahabat-sahabat tersayang dan semangat dari diri sendiri yang harus dikorbarkan oleh api cinta dan  tentu yang utama adalah karena izin-Nya.

Aku suka menulis cerpen, namun bukan untuk tujuan utama dalam menjalani kehidupan. Tugas utama adalah sebagi ibu rumah tangga dan menulis itu seperti kebutuhan hidup lainnya, makan, tidur, aktivitas sehari-hari. Bila sehari nggak menulis rasanya ada kegiatan ketak-ketik yang hilang. Nggak melulu cerpen tetapi bisa tulisan musik, pengalaman perjalanan ke suatu tempat, resep masakan, tausiah agamakadang pun walkthrough games, semua ada di blogku http://rachmarie-riritemaram.blogspot.com. Menulis itu nikmat, bisa melepaskan penat. Dan akhirnya rampung juga semua cerita pendek dalam kumpulan cerpen di buku perdana berjudul, Dandelion dalam Rindu. 

Dandelion Dalam Rindu
PenulisArie Rachmawati, Kategori: Kumpulan Cerpen
bisa dikases melalui http://www.leutikaprio.com/
Dandelion Dalam Rindu
ISBN: 978-602-225-768-4
Terbit: November 2013
Halaman : 146, BW : 146, Warna : 0
Harga: Rp. 34.400,00
Deskripsi:
Arie Rachmawati is a talented author who knows how to tell a compelling story. “Cinta Sebatas Angan” is a moving story of love that crosses the boundaries of culture and distance. Arie writes with skill and sensitivity which captures both the mind and the heart. (Max Ridgway, musician/gitaris)

Ririe, demikian panggilan karibnya, nyaris tidak pernah berpisah dengan dunia musik. Ia seorang apresiator yang terlibat, penikmat yang tulus dan khidmat. Saat menggunakan talenta menulis untuk melahirkan sejumlah cerpen, akar gagasannya berangkat dari pengalaman berteman dengan para musisi. Imajinasinya berkembang dari realitas dan denyar keajaiban dalam perjalanan hidupnya. Silaturahmi nyata dan maya memperkaya cerita Ririe yang idenya sederhana dan bersifat keseharian. (Kurnia Effendi, cerpenis)

Dandelion memang tidak setenar anggrek atau bunga matahari. Tidak pula seharum mawar atau melati. Namun, dandelion adalah bunga yang tangguh. Daya hidupnya luar biasa. Ia menghasilkan biji-biji berbentuk kapas yang saat terbawa angin bisa terbang tinggi dan jauh, dan langsung tumbuh di mana pun ia mendarat. Dalam dunia cerpen, dandelion itu bernama Arie Rachmawati. (Eric Martoyo, lead vocalist dan penulis lirik bandMontecristo)

Walau masih pemula, ada lompatan-lompatan tulisan yang disajikan dengan ramuan musik dan kenangan dengan orang di sekitarnya, menjadikan cerpen genre pop ini terasa manis dinikmati terutama pada judul “Di Interlude Aku Jatuh Cinta”. (Salam sayang, iLenk da)



Terima kasih kepada  penerbit Leutikaprio dan para sabahat pendukung yang sempat direpotin terlahirnya buku kumcer pertama ini. Semoga kedepannya meraih kesuksesan adalah bonus ketekunan dalam meniti mimpi. Amin YRA.


Salam,
Arie Rachmawati