Kamis, 25 Oktober 2012

My Journey Two Weeks (1)

My Journey Two Weeks

oleh Arie Rie Rachmawati pada 25 Oktober 2012 pukul 6:06 ·

Episode One
Judulnya memang "My Journey Two Week" tapi saya ndak  akan menulis dalam bahasa Inggris.
My Journey Two Week terjadi selama dua minggu terakhir ini, tepatnya hari Minggu pertama sampai minggu ke tiga dibulan ke sepuluh 2012.
Ujuq-ujuq saya dapat persetujuan dari si Ojob, ketika saya mengajukan ingin pulang ke Jember Ohoi cihuuuyy....!

Sepanjang perjalanan dari Bogor ke Jember lancar dan tidak membosankan, karena ada segenggam rindu dalam angan yang ingin terwujud nyata.
Sewaktu menginjakkan kaki di Terminal Tawang Alun Jember, saya sengaja tidak memakai jasa taksi melainkan memanggil tukang becak.
Sepanjang jalan menuju rumah, saya melihat orang menjual minuman "Legen" dan saya berhenti, minum segelas sambil mengajak tukang becaknya. Sepertinya tukang becaknya heran, lalu berujar, "Sampeyan niku TKW yah mbak, sampun pirang tahun mboten mudik?" (artinya : Sampeyan itu TKW, sudah berapa lama nggak mudik?). Ya spontanitas, saya geli dan hampir keseleq. Dalam hati apakah ada potongan saya ini TKW, wkwkwkw :-)
Minum ditempat dan memborong sebotol Legen, walau rasa legen-nya nggak seperti yang jadul, tetapi untuk tombo kangen nggak apalah.

Perjalanan dilanjut hingga sampai di depan rumah Mama, di Perumahan Surya Milinia, Mangi Jember. Mama kaget dan tertawa.
Untuk tahun ini saya cukup banyak bertemu dengan Mama, saya ingin kesempatan ini digunakan mencari beberapa teman satu grup (vocalgrup ABC jaman SMPN1 Jember), selain ingin bertemu Bapak. Senangnya bisa menikmati kembali masakan Mama, dan seperti biasanya acara bongkar-bongkar oleh-oleh segera dimulai.

Sehari berada di Jember, saya memulai aktivitas dimulai dengan menyapa Atik 3D (Tri Mei Wati Haryoto) , meski saknyut  say hello dan berjanji akan bertamu lagi. Lalu saya mencoba menyelusuri memori lama, mencari keberadaan pemain bass cetolnya ABC Vocal Grup, bernama Agus Rachmad Hadi atau lebih akrab dengan sebutan "Nanang Keceng". Berdasarkan feeling saya mencari info ke tetangganya di Jalan Tampak Siring daerah GNI, entah sekarang bernama jalan apa, saya nggak memperhatikan itu.  Ternyata saya mendapatkan info dan sedikit kecewa karena rumah yang saya tuju ternyata sepi seperti tak berpenghuni. Walau saya telah mendapatkan nomor telepon rumahnya.
Nyaris putus asa akhirnya secarik kertas saya lempar ke halaman, belum meninggalkan rumah sepi itu, saya sangat berharap bertemu dengannya.
Berbicara tentang Nanang Keceng ini, sebenarnya setiap ada kesempatan ke Jember saya sempatkan mencarinya namun sampai hari itu tak membuahkan hasil. Saya menelpon nomor itu tak pernah ada jawaban. Lalu saya melanjutkan menemui sanak saudara dan beberapa teman sekolah yang bisa saya temui tanpa membuat janji sebelumnya, karena saya takut tidak menepati janji itu.


Pagi yang ramah mengantarkan saya bertemu Anggraeni Rita Sari atau Renny Ronggo, si pemilik Zoya Jember di Kreongan itu. Renny sangat terkejut saya ujuq-ujuq muncul di halaman rumahnya yang asri dan penuh kehijauan di kebun belakang. Bergaya sebentar dan segera pamit melanjutkan target berikutnya.     Terlebih saya mendapatkan nomor hape nya Atim Sahri, saat saya berkunjung ke rumahnya di Gang Parit. Rumah itu masih seperti dulu, berjejer di lorong sempit dan wajah-wajah familiar menyapa dan memberi tahu bahwa ybs sedang bekerja di Bali. Meski tak bertemu wajah namun jalinan silaturahmi kembali terjalin dalam obrolan seluler. Atim Sahri itu teman sekelas dari kelas C-1 s/d 3 SMPN 1 Jember, teman berangkat dan pulang sekolah berjalan kaki. Saya nggak akan pernah lupa wajahnya. Saat memperhatikan REUNI SMPN 1 Jember setahun lalu, sepertinya saya tidak menemukan sosoknya dalam upload-an foto-foto dari para alumnus.

Hari berikutnya dan berikutnya saya senang sekali hampir semua target satu persatu terpenuhi. Bahkan yang nggak termasuk daftar pun yaitu temannya pak Eric Martoyo vokalis MONTECRISTO, MC-KJP-Makara mempunyai fans bernama bapak Bambang yang kebetulan beliau rekan bisnis nya pak Eric Martoyo. Unik, unik sekali saat berjabat tangan beliau langsung bercerita tentang koleksi kaset-kasetnya.  Kebetulan lagi, beliau ternyata atasan tante saya (Yuli Anwar) yang bekerja di RS Dr.Soebandi Jember. Dunia ini sempit sekali. Ternyata di rumah sakit pun bisa dijadikan ajang reuni sodara, ada Merry adik sepupu.
Sebelumnya itu saya mengunjungi seorang kakak kelas di SMP yang baru saya ketahui bahwa beliau salah satu fans Fariz RM-SYMPHONY. Ternyata sekarang, kakak kandung dari Ika Riska itu, seorang dokter di bagian khusus PMI RSU Dr.Soebandi.   Kunjungan tsb kebetulan dengan jadwal Mama ke laboratorium, sekalian mengantar dan menemui, sekali menyelam minum air, begitulah kira-kira peri bahasa yang tepat untuk sikon saat itu, Kamis 11 Oktober 2012. Terima kasih banyak, mas Dudung Ari Rusli sangat ramah dan akrab.
Hape berdering terus menerus dari nomor yang tidak saya kenal, ragu namun akhirnya saya angkat juga. Ternyata suara diseberang sana menyapa, "Arie, kemarin ke rumahku ya? Apa kabar, kamu sekarang dimana?" Oaalah itu Nanang Keceng, walau ia tak nyembutkan namanya namun saya masih ingat itu suaranya. Obrolan singkat kemudian dilanjut setelah ia pulang dari rumah temannya. Malam itu sepanjang malam, kami melepas rindu lewat telepon rumah.
Senang dan senang sekali bercakap dengannya, ia berjanji besok pagi akan mampir ke rumah sebelum pergi ke kantor.

Benar, pagi hari ia muncul dri depan pagar rumah dan tersenyum melebar. Puluhan tahun sejak perpisahan SMPN 1 Jember 1984, saya kehilangan kontak dengannya. Ia masih tinggi jangkung dan cengengesan. Dia bilang, "Wuiik Ar kowe lemu, tapi wajah manismu masih kusimpan di saku bajuku!"  "Ar ini aku beliin soto ayam, murah lho tapi enak!" Hahaha, saya ngakak mendengar dia bercerita dengan tingkahnya yang nggak pernah diam. Kadang duduk, kadang berdiri, muter-muter bikin kepala saya pusing. Bertukar cerita dan menanyakan schedule selama saya di Jember, akhirnya kami sepakat pergi bersama ke Surabaya, walau nanti di sana tujuan kami berbeda. namun setidaknya saya mempunyai teman seperjalanan Jember-Surabaya/ Surabaya-Jember.

Pagi itu setelah kami berdua sarapan nasi goreng, bikinan sendiri. Langsung menuju Stasiun Jember untuk menukar tiket agar kami bisa sebangku. Soal tiket, saya sudah membelinya 3 hari sebelumnya. Semua cerita berjalan seperti air mengalir. Selama perjalanan dari stasiun ke rumah, ia bercerita tentang episode dimana kami terpisah waktu dan jarak. Ia merasa kehilangan saya. Kehilangan teman bermusik, yang katanya unik (berani dan pede) susah mendapatkan seperti saya. sekali lagi saya tertawa. Setelah urusan selesai, ia mengantarkan kembali ke rumah, dan ngobrol dengan Mama dan kemudian pamit ke kantor lagi.
Nanang Keceng, sejak ia muncul di hadapan saya Jum'at pagi itu, sejak itulah ia rajin bertandang ke rumah. Di balik senyum ramahnya sebenarnya ia sangat tertutup dan saya tidak banyak bertanya tentangnya, saya ingin ia bercerita sendiri dan merasa nyaman. Kenangan manis, saat berlatih musik jelang pentas seni dan obrolan kecil mengurai kisah-kisah lama saat remaja. Hari yang sama, malam ia datang lagi menawarkan semangkok angsle yang masuk daftar hunting kuliner selama di Jember. Malam itu, ia membawa ke tempat langganan-nya di dekat masjid Al-Huda.  Nanang mulai bercerita dan diam-diam saya ambil fotonya. Hmmm...ia susah sekali diajak berfoto-ria, bahkan semua foto di kamera sudah dihapusnya saat saya mampir ke ATM Mandiri depan Alun-Alun. Ini adalah kesempatan melihat kotaku di malam hari. Tawaran jasa Nanang sangat bermanfaat. Meski ia menawarkan untuk menikmati makanan yang lain, saya menolak dengan alasan angin malam nggak baik untuk kesehatan, lebih baik melanjutan obrolan di beranda rumah lebih nikmat. Maklum faktor usia kena angin malam bisa bikin encok ta'iye tretan. Ia pun menyetujui.
Bagi saya sosoknya tak berubah, selalu gelisah tingkahnya, humoris dan selalu menatap mata saya. Jadi bila saya mendapat info tentangnya yang sangat jauh dari sosok yang saya kenal, itu menimbulkan tanda tanya. Nanang Keceng dahulu dan kini seperti itulah yang saya kenal. sangat akrab dan familiar sama keluarga saya. Bukan Nanang Keceng yang pendiam dan misterius. Bahkan selama saya di Jember, ia seperti siluman, kadang sudah berada di depan  rumah, sebentar kemudian ia pamit pulang.

Rupanya virus mencari teman lama menular ke Mama, seusai kuliner gado-gado dan bakso di samping SDN Jember Kidul, di lorong yang sama, Mama ingat ada rumah teman lama. Teman lama itu bernama Ibu Hj Siti Hawa, yang tak lain adalah ibu kandung mas Dudung Ari Rusli juga Ika Riska 3G, teman SMP1 dan sekaligus ibu mertua Pipin Indahyani, teman SDN Pagah. Ya begitulah orang-orang Jember, muter-muter menthoq juga orang-orang itu juga. Alhasil, saat mertamu mendadak, si tuan rumah kaget kedatangan Mama dan saya. Ternyata kunjungan tak terduga menyambung cerita lama. Senang rasanya melihat keakraban yang tersisa. Sementara yang lainnya satu per satu telah pulang ke Rahmatullah. 

Hari yang sama Sabtu, 13 Oktober 2012, saya akhirnya bisa menepati janji ke Atiek 3D, malah saya disuguhi sepiring nasi soto ayam.
Tentang Atiek 3D, meski pun bukan teman sekelas. Tetapi kegiatan drum band semasa sekolah dan hubungan erat pertemanan orang tua sangat merapatkan keakraban. Bahwa sewaktu putra saya (pertama) Aryo Rizki Putra berulang tahun yang pertama, yang membuat kue tart-nya adalah almh ibunya Atiek. Itu sebabnya saya sempatkan bertandang ke rumahnya. Atiek ramah dan masih tetap langsing.
Alhamdulillah banget dan selepas sholat Ashar, saya dan mas Hadhie memulai petualangan ke Pantai Papuma dengan mengendari motor Tigernya. Ah ternyata perjalanan berdua ini adalah perjalanan pertama berboncengan dengan kakak sendiri. Pemandangan pedesaan sepanjang perjalanan membawa ke suasana jadul saat tinggal di desa Barathan sekitar tahun 1978-an.

Sebelum memasuki kawasan wisata, melewati deretan pepohonan telanjang tanda dedaunan, mungkin karena kemarau yang panjang, dan nampak seperti musim gugur. Akhirnya tiba di lokasi. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, keindahan Papuma itu. Sebelumnya hanya melalui cerita dari anak saya Ryan dan melihat upload-an foto milik mas Hadie. Kagum, ternyata Jember mempunyai obyek wisata pantai yang bagus dan harus gencar dipromosika. Atau saya-nya yang kurang mengikuti perkembangan kota Jemberr sendiri? Hmmm..., apa pun itu kesempatan ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Bermain buih, membiarkan kaki telanjang berjalan di pesisir pasir putih tersandung karang-karang kecil yang dibawa gelombang samudra ke tepian, membuat semakin manja keinginan bermain di pantai. Sayang waktu yang tersedia hanya sebentar. Berburu Sunset itu tujuan utama, untuk misi kali ini buat mas Hadhie.
 Cuaca yang sangat terang benderang tiba-tiba menjadi mendung, baru nampak tiga kali matahari kemerahan jatuh di ujung garis samudra luas. Sunset pun sudah tertutup awan kelabu, lalu langit pun redup. Deburan ombak di pantai Papuma masih menyanyikan lagu temaram, sambil menepis rasa ketakutan saya mencoba bergaya dan memotret sendiri dari atas tebing dengan kamera saku. Sebelum gelap, kami segera meninggalkan Papuma dan mampir sebentar ke Watuulo yang lebih termanggu dalam sepi. Padahal seingat saya pantai Watuulo dengan kekhasan batunya berbentuk ular naga panjang serasa panjang sekali, sekarang terlihat menyusut.
Setibanya di rumah, belum surut rasa lelah, saya kedatangan teman fesbuker yang dulunya teman satu vocal grup, dia gitaris kami yaitu Fransiscus Ario Praseno. Ario atau Nono nama bekennya, dengan wajah familiar dari PP di FB-nya membawa CD MONTECRISTO. Ario ini salah satu teman yang mau belajar dengan saya membuat klip. Dan karena intensitasnya itu kami akrab. Malam itu gantian saya yang mengajak Ario mencari si Angsle yang saya inginkan. Di depan Matahari Dept Store, duduk berdua dengannya. Ario itu seingat saya, ia sangat pemalu juga pendiam. Kumis rapinya membuatnya familiar. Serasa 28 tahun yang lalu hanya kemarin berlalu. Usai menikmati semangkok angsle, tiba-tiba Ario mengajak ke rumah Nanang Keceng. Alhamdulillah ybs ada dan setengah terkejut kedatangan kami tanpa konfirmasi. Rumah besar itu sepi dan berantakan. Tapi di meja tamu terbuka album jadul. Saya menangkap mungkin ini-lah yang ingin ditunjukkan kepada saya, saat Nanang berkata, "Aku masih menyimpan tanda tanganmu di saku bajuku, Arie!". 


Obrolan ngalor ngidul membuka cerita lama yang nggak pernah saya mendengar atau mengetahui, karena saya waktu itu sudah meninggalkan kota Jember. Sekali lagi tentang tingkah lakunya Nanang selalu tidak pernah diam. Saya mengingatkan bahwa besok ba'da Subuh jangan telat menjemput saya. Kemudian kami berpamitan dan Ario menunjukkan rumahnya yang tak jauh dari rumah Mama. Senang sekali ngobrol dan ditemani Ario.
Minggu Subuh, 14 Oktober 2012
Ia sudah nongol di depan pintu tepat waktu, secangkir teh hangat bikinan Mama, hanya sekedar diseruputnya. kami berdua segera meninggalkan rumah dan meluncur ke Stasiun. Dinginnya angin subuh membaut sejuk perjalanan, dan tepat waktu kereta apa Legowo membawa kami berdua menuju Surabaya. Nggak pernah terlintas dalam pikiran akan melakukan perjalanan berdua dengan pemetik bass cetol itu.
 Hari itu saya sudah kontak Achmad Basuki, atau beken di FB dengan sebutan Ki Suki, untuk bertemu keluarnya dan menjemput kartu pos yang pernah dijanjikan. Sepanjang perjalanan, menambah keakraban. Tiba-tiba ia mengeluarkan dua album jadul dari tas laptopnya. Dalam hati berkata,"Niat banget nih!" Rupanya kesempatan ini ia pergunakan untuk bercerita tentang episode yang hilang selama seperempat abad lamanya. Satu per satu halaman album menyingkap misteri hingga menjadikan ia seperti ini. Yang saya ingat dalam obrolannya itu, "Inilah hidup saya yang sebenarnya!". Roda berputar dan tibalah di Stasiun Gubeng, sementara suara Basuki di seberang sana mengatakan aku sudah hampir tiba di tempat. 
Kedatanganku bersama Nanang Keceng sangat membuat Basuki surprise, karena keduanya pernah satu kelas di kelas 3B SMPN1. Sementara si Nanangnya sendiri seperti segera meninggalkan kami dan enggan diajak berfoto bersama. Usai itu ia berpamitan menuju tempat tujuannya, saya bersama keluarga Basuki diajak lunch di SAS. SAS ada sebuah tempat makan keluarga yang dilengkapi dengan servise kendaraan para pelangan restoran tsb. Di saat menunggu hidangan datang, kami bertukar cerita dan berfoto ria dengan 3 tokoh cerpen Dandelion dalam Rindu, yang pernah dimuat di majalah STORY, edisi no 22, terbitan 24 Mei-25 Juni 2010 lalu. Senang saya bisa berfoto dengan dek Syira tokoh kecil yang kini usianya sudah 6 tahun.

Keakraban saya dengan Basuki, terjalin saat ia menuntaskan study S3-nya di Saga Japan. Selain pandai bercerita khususunya pewayangan juga piawai dalam fotography. Saat akan meninggalkan lokasi, saya mendapat telepon dari sepupu saya bernama Denny Kastrianto, yang ingin ikutan bergabung. Meski sama-sama teman fesbuker, tapi belum pernah kopi darat. Akhirnya kami berkumpul di halaman Rektorat ITS. Benar-benar saya berada di kampus ITS. Nama yang pernah mengisi buku harian saya, tentang seorang mahasiswa Elektro-ITS, di masa remaja dulu. Benar-benar reuni dadakan tidak pada tempatnya setelah di Stasiun Gubeng kini di halaman ITS. Ternyata di tempat itu, saya berpisah dengan Basuki sekeluarga, dan Denny sekeluarga yang mengantarkan kembali ke stasiun Gubeng. Di tempat itu Nanang sudah menunggu, rupanya ia lebih cepat dari perkiraan. Sekitar 30 menit kami duduk berdua di ruang tunggu yang kebetulan menampilan suguhan musik live. Hingga kereta Logowo membawa kami kembali ke Jember, ia masih bersemangat bercerita, melanjutkan yang tertunda. Ternyata banyak sekali episode-episode yang hilang, dan kami saling mencari keberadaan masing-masing. Namun bila Allah belum mempertemukan ya tak akan bertemu walau kami berdua pernah satu kota di dua kota yang sama, Jember dan Bogor, Bila indah pada waktunya maka semuanya dimudahan oleh-Nya. Dan selama saya di Jember, ia lah yang banyak berkunjung ke rumah.


Senin, 15 Oktober 2012
Memulai aktivitas dengan ziarah ke makam leluhur di daerah Cukil Gebang. Meski pemakaman banyak tumbuh bunga liar dan cantik-cantik warnanya. Lewat sebaris doa dan shodakoh Al-Fatihah berharap orang-orang terdekat yang berpulang diampuni dosanya, diterima amal ibadahnya dan dilapangkan kuburnya. Amin YRA. Setalah itu meluncur ke rumah Ninis Rollah ex vokalis ABC vocal grup. Ternyata Ninis tinggalnya bukan di situ lagi, rumah induk itu menjadi tempat kerajinan Batik Jember yang dikelolah oleh mbak Irene, kakak kelas saya. Meluncur meluncur lagi dan tiba-tiba telepon berdering dari Nanang, "Ar, ayo kita makan bakso depan sekolah. Kamu dimana, aku jemput!". Wah ini benar-benar sebuah nostalgia manis. Kami berjanjian di perempatan Jln Melati-Jln Trunojoyo dan ia menjemput kemudian saya berpisah dengan Ammar sepupu saya yang sepanjang hari mengantarkan ke sana-sini. dari nyekar, beli oleh-oleh, menjemput purtinya si Ame, bertemu tante Ella sampai ketemu mas Jumadi di tengah jalan.




Setelah dua mangkok angsle, kini giliran dua mangkok bakso-nya pak Man, langganan terfavorit siswa siswi SMPN 1 Jember priode 1981-1984. Entah sekarang, yang jelas rasanya nikmat walau hanya sederhana. Suasana mendukung, mendung menggantung, bahkan sebungkus es jeruk pun paruhan karna beli setung. Layar terkembang slideshow seragam biru putih bet Osis kuning menyolok disaku. Pada jam-jam istirahat dan pulang sekolah biasanya warung bakso pak Man ini diserbu seragam biru putih. Tiga pelajar SMP1 berjalan menjauh dari warung bakso, satu siswi dan dua siswa. Melangkah kaki melewati bioskop Kusuma untuk mampir ke toko fotocopy lalu berpisah, berjanji untuk jumpa sore hari berlatih musik. Itulah selintas kenangan tentangnya, nggak jauh dari urusan musik. Ia bukan teman sekelas, namun intensitasnya selain latihan musik kadang meminjam buku Tintin, sambil membawa coklat FullCream. Lalu layar tiba-tiba tertutup berganti sekeranjang pisang berpindah tangan, ia pikir saya ini doyan makan pisang hingga banyak sekali dibelikan. Ah dasar Nanang, ulahnya pun belum kelar, sebungkus rawon buat Mama. Hari yang padat, belum sempat merapatkan dua mata untuk terpejam, telepon berdering lagi, kali ini dari Ninis Rollah.


Ia mengajak saya  ke rumahnya, ia sekarang jadi pengusaha dan designer. Di rumahnya saya disuguhi bakso lagi, dan kami membuka nostalgia sewaktu performing menyanyikan lagu Quando by Los Morenos. Derai tawa serasa tak ingin berkesudahna. Dua vokalis, 1 gitaris, 1 bassit sudah saya temukan di antara tumpukan usang memori lawas. Melihat teman beliaku rasanya saya tak ingin meninggalkan Jember, walau saya gagal mendapatkan si Gaya Bul-Bul tapi saya mendapatkan cerita yang mengepul.
 Seperti kepulan air rebusan yang disiapkan untuk merebus jagung manis. Nanang datang lagi di saat saya ingin rebahan, ia bergegas ke dapur dan merebus jagung hingga matang dan di kupasnya lalu kami makan bersama Mama juga. Jagung manis, semanis itu ia memberi semua waktunya, menjadi romantis, indahnya persahabatan. Malam itu bahkan ia membuatkan secangkir teh hangat, benar-benar perjalanan ke Jember yang indah.

Selasa, 16 Oktober 2012
Subuh membawa cerita terlipat dalam tumpukan baju di travel bag, Nanang dan Ammar menunggu di stasiun, Nanang nggak mau bersalaman hanya memberi flashdisc, yang katanya ada file yang harus dibaca setibanya nanti. Ia ngeyel  akan menerobos pintu masuk setelah pemeriksaan tiket. Sekarang ketertiban dan peningkatan pelayan untuk kereta api benar-benar diterapkan dengan tegas. Karena ngeyel, akhirnya saya pun tak menjumpai wajahnya lagi dan walau sekedar ucapan "Selama Jalan". Ontime sepur itu membawa saya dan Mama pergi meninggalkan stasiun Jember, tanpa lambaian tangan-nya. Kereta menuju Surabaya, turun di stasiun Wonokromo dan akan melanjutkan perjalanan Bandara Juanda, terbang ke Balikpapan untuk Mama, dan saya melanjutkan ke Solo untuk esok harinya....

(bersambung)

  

Selasa, 16 Oktober 2012

P u i s i k u :


Puisi Puisi by NK
(ditulis kembali oleh Arie Rachmawati)



Aku dan Layang-layang
by NK *16 -Oktober-2012

di ranting kering tersngkut layang-layang
benangnya berurai melilit dahan
terik mentari membuat tanahnya gersang
cinta dunia membuat cemburunya Tuhan
dihalaunya rasa itu membuatku tenang
hanya tersisa rinduku pada pencipta bintang
bagai layang-layang yang putus dari benang
kemana pun angin menerpa disitu aku senang
tak kusangka ada tangan lembut meraih benang
yang dulu gadis ayu berbaju putih biru
sambil meloncat kegirangan menggapai layang-layang
oh mungkin hentak ia mainkan
aku tatap ia dari kejauhan
disela-sela rel gerbang kereta
dibawanya layang-layang itu dalam pelukan
entah apa yang membuatnya sangat ceria
saat itu juga seolah Tuhan berbisik
janganlah kau jadi layang-layang
namun jadilah pembuat layang-layang
agar dapat membahagiakan semua orang
Tuhan, aku tahu dikotanya sering turun hujan
maka izinkanlah ku bawakan esok nanti
layang-layang berbalut plastik dengan warna ungu, berajut merah hati  



Setetes Virus Bersemi
by NK *6-Nov-2012

bias mentari smakin merah
menuntun perlahan senja tiba
tampak hati mulai gelisah
rasakan sunyi menyelimuti diri
karena kekasih telah jauh pergi
bila bulan telah tampil gemerlap
nuansa malam semakin gelap
bintang pun genit berkedip
tersibak jendela batin
jika terselip senyuman dimatamu berkedip
haruskah menangis bila hatiku rindu
haruskah menganis bila virusku kambuh
ingin rasanya kuulang kembali
masa-masa indah dua puluh delapan tahun lalu
namun semua khayalan itu tak akan mungkin terjadi
 jika kuingin sendiri
bukan berarti tak menyanyangi
maafkan bila melukai hati
dekaplah saja aku walau tak disini
masih tersisa setetes kristal asmara
di antara hujan badai menerpa
saat kasih sayang telah bersemi
takkan mungkin kutanam dilain hati
katakanlah duhai kekasih
tiada yang dapat mampu mengubah
meski pun sedikit saja
perjalanan nostalgia bahkan hanya titik dan koma
di dalam sebuah kisah cerita . . .   



Bogor - Bandung
by NK *10 Nov 2012

seruling rindu malam
gemilang seni pujaan
tarian penamu memberi kean
saat kubaca dalam perjalanan 
ujung jari kucium mesra
bagai ibu pada bayinya
kau memuja dalam mimpi
aku bahagia setengah mati
di taman khayalku
kau tabur permata biru
alirkan air sungai madu
demi kasih karya ceritaku
perjalanan bogor - bandung
melepas rindu himpitan mendung
bersama rindu aku kan bersenandung  


Virus Diatas Pelangi
by NK*1Nov 2012 -11:45wib
bagaimana mungkin,
aku yang hilang separuh ingatan
berenang sebrangi lautan tanpa ada nahkoda di buritan
bagaimana mungkin,
jiwa yang tertutup kini sedikit terbuka
hasil jerih payah sahabat lama
membawaku di alam maya
hingga tertular virusnya
bagaimana mungkin,
virus itu cepat menjalar 
sedang tubuhku sering di atas tikar
jika pun pagi aku cuci tembikar
dikolong gudang siangnya aku terbakar
bagaimana mungkin,
aku dapat nikmati indahnya dunia
dari baju rajutan benang laba-laba
makan minum harus kupetik kelapa
bagaimana mungkin,
virus ini dapat sembuh
tersusun kata indah tiap kali kambuh
sampai kapan aku akan berlabuh
melepas penat sekujur tubuh
bagaimana mungkin.
jemari ini berhenti menari
sementara bidadari mengajakku pergi
telusuri daun meniti anak tangga pelangi
demi keutuhan persahabatan sejati

Senin, 10 September 2012

P u i s i k u :




Then . . .

by Arie  Rachmawati



If one day
I can meet you,
then ...
listening your song
from your acoustic guitar
then ...
I drawing of you,
then
I wrote all about you,


You're everything

but it was a dream,

not real,

then ...
I was just crying
then ...
here we meet
Medio, at Bandung September 10th, 2012 / 7:11 AM

Kamis, 02 Agustus 2012

P u i s i k u :

Kumpulan Puisi 2012


RAINBOW (Rogenbogen)
by Arie Rachmawati
für : Klaus Kemal K

beautiful rainbow colors
decorate the blue sky after rain washes the world
rainbow bridge of angels
to get down to give love cheerful colors of the rainbow

schönen Regenbogenfarben 
schmücken den blauen Himmel nach regen wäscht die Welt 
Regenbogenbrücke von Engeln 
, sich an die Liebe fröhlichen Farben des Regenbogens geben






M A S K 
by Arie Rachmawati


I do not know if it makes you like
I do not know you very attractive
I just knew there was something that excited
I do not want to wear a mask over my face
Hide my smile for you
Mask painted beautiful flower
just for you 





DREAM DANCE
by Arie Rachmawati
August 2 - 2012 / 9:25 PM
für : Axel Weiss and Isabel Weiss

there are a thousand words in the heart
I want to express but fear of misunderstanding
so that the words play in the mind 
and become an imagination
sunny morning . . .
during the summer . . .
afternoon shade . . .
and the long night
be the illustration of the dream in a meadow
dancing with the wind blow away the end leaves
until the seasons change

gibt es mehr als tausend Worte im Herzen 
Ich möchte zum Ausdruck bringen, aber die Angst vor Missverständnis 
so dass die Worte im Kopf spielen 
und zu einem Vorstellungs 
sonnigen Morgen. . . 
während des Sommers. . . 
Schatten am Nachmittag. . . 
und die lange Nacht 
sein, die Darstellung des Traums in einer Wiese 
Tanz mit dem Wind wegblasen die Ende Blätter 
Bis in die Jahreszeiten wechseln




Rabu, 01 Agustus 2012

Beautiful World with Music (1)

Beautiful World with Music (1)



KNOW YOUR MUSIC INSTRUMENT
 (Traditional and Non Traditional)  





Written by DS Soewito 
Publishers by Titik Terang
Written back on facebook note by Arie Rachmawati.
For Max Ridgway



The definition of a traditional musical instrument that is typically found in areas around the country (Indonesia). of how to play, traditional musical instruments can be distinguished as follows:
  • Musical Instruments at (percussion)
  • Wind instrument
  • Musical Quote
  • Stringed instrument

Hit Musical
Percussion instruments (percussion), serves as a rhythmic (accompanist) and melodic (carrier track). which serves as a rhythmic instrument, for example: type of drum, gong, kecrek. Which serves as a melodic instrument, such as: type gambangm saron, kolintang, calung. 

Wind instrument
This traditional wind instruments in general serves as a melodic (carrier track). included in this group such as: types of traditional flute and trumpet. 

Musical Quote
This traditional stringed musical instrument strings and functions also as a melodic instrument. included in it, namely, the type of harp or zither and sasando. 

Stringed instrument
 Function traditional stringed instrument as well as melodic. included in this stringed instrument, namely: the type of fiddle. Types of rebab is often found in areas that looks almost the same, but there are strings that jumlanya 1.2 and 3.


**Traditional Musical Instruments **
  1. Gendang Melayu            
  2. Gendang Karo
  3. Marwas
  4. Rebana
  5. Dog-Dog
  6. Gendang Jawa Barat
  7. Kendang Jawa
  8. Gendang Bali
  9. Jidor
  10. Beduq
  11. Tifa
  12. Tebung
  13. Garantung
  14. Doli-Doli
  15. Tanggetong
  16. Rere
  17. Gambang
  18. Calung
  19. Angklung
  20. Arumba
  21. Kulintang
  22. Saron
  23. Rincik 
  24. Kademung
  25. Gender
  26. Giying
  27. Inting
  28. Bonang
  29. Talempong
  30. Gong
  31. Gong Kemeda
  32. Kempul
  33. Bende
  34. Kenong
  35. Kecrek
  36. Ceng-Ceng
  37. Suling
  38. Saluang
  39. Serunai
  40. Suling Lembang
  41. Gong Lambus
  42. Suling Sunda
  43. Tarompet
  44. Dermenan
  45. Hapetan
  46. Sampek
  47. Kecapi
  48. Clempung
  49. Sasando
  50. Rebab
  51. Ohyan
  52. Rendo

** Non-Traditional Musical Instruments **
  1. Congo
  2. Bongo
  3. Drum Set
  4. Pauken
  5. Treangel
  6. Tambourine
  7. Maracas
  8. Bels
  9. Bellira
  10. Vibraphon
  11. Trumpet
  12. Tuba
  13. Horn
  14. Helikon
  15. Clarinet
  16. Saxophone
  17. Hobo
  18. Trombone
  19. Basson
  20. Flute
  21. Piccolo
  22. Recorder
  23. Harmonica
  24. Pianika (alive)
  25. Regular guitar
  26. Electric guitar
  27. Bass guitar
  28. Ukulele
  29. Cak
  30. Hawaian
  31. Mandolin
  32. Banjo
  33. Contrabass
  34. Luit
  35. Kythara
  36. Harp
  37. Violin
  38. Cello
  39. Accordion
  40. Organ
  41. Harmonium

INFORMATION

1. G E N D A N G   M E L A Y U   
(Malay Drum)


Malay drum is a musical rhythmic drum type typical of the Melayu Deli, North Sumatra.The form of thin, wide diameters to achieve + / - 50-60 cm. Her skin is just next door, the front only. Usually diaminkan pair (2 pieces) as well consist of a large drum and small drum.Used for art Orekes Melayu Deli. Twelve Serampang Malay dances and Ronggeng Malay. Art Ronggeng melayu is now rarely found. Malay art Ronggeng old days a lot of fans.



2. G E N D A N G   K A R O   


That kind of drum that contained in the land wars of North Sumatra. Unlike the drum-drum alin, drum karo is a form of small size. diameter of only + / - 10-15 cm. Her skin diapasng right and left, use it to play using the bat. This drum plays a role in local arts Tanah Karo, for example, under a kind of dance Kolong social dances in the Land of Karo. commonly used to accompany dances in 2 pieces or 3 pieces with different sizes. Other musical instruments that were involved are the type of wind instrument (trumpet tardisional Karo) and Gong.



3. M A R W A S    


Marwas a type of drum, but the form of small size. Shell 2, right and left, the middle line between + / - 15-20 cm, the length of the frame + / - 10 cm Played a pair (2 pieces) of different sizes. Marwas titmis a tool in the art of orchestral stringed instruments found in the Malay Deli (North Sumatra, Riau and South Kalimantan) to accompany the dance Japin (Japen) Japin art is folk dance, accompanied by singing. The dancers wear traditional uniforms. 





4.  R E B A N A     


Tambourine type drum-skinned one (right). This type there are several types with varying sizes, namely: terebang (fly), kentrung, ketimplik (ketimpling). Large diameter of the skin varies about + / - 20-30 cm, but there is also greater. Tambourine man there is in place, namely in areas where the population adheres to Islam. Tambourine tambourine used for art, which is a breath of Islamic art. The song is praise to God Almighty, Apostle and counsels, in Indonesian and Arabic. Tambourine is played as much as 3-6 pieces, sometimes even more. Each player holds a tambourine while singing. Tambourine is used also for the arts Angguk (Central Java), male dancers in black uniforms and attributes.




5. DOG-DOG       


This next-skinned drum types are often found in some areas of our country, with different names, for example: in West Java (Dog-dog), Simelungun (North Sumatra) - (Gondrang), the island of Nias (Gondrang), the island of Roti (pumpkin). On the island of Nias have a framed Gondra long till + / - 150-200 cm, was named Rafa'i small size. In Bengkulu (Tabot), and Sumatra (Tabuik). In western Java Dog-dog used to the arts Reog. Played 3-5 people, each player holds a dog-dog with a different size, and act as a bodoran (comedian). How to play using a paddle or by hand. The size of the center line of the shell varies between 20-30 cm, but there are also larger.



6. GENDANG JAWA BARAT   


Drum called western Java, because this type of drum is found in the arts-the arts that exist in western Java. Skinned two, right and left, the size of their diameters vary + / - 20-30 cm. This type of drum is used for art in the art Psundan (Sunda), Cirebon, offerings, and also in Batavia or other areas of West Java. Usually played until 2atau 3 drum sizes venomous. In Jaipong dance, plays drums is all. This type of drum as encountered in the South Kalimantan region called the baboon, to arts and Banjar Puppet Arts Pencak Silat.




7. K E N D A N G     


Drum as the drum is used in art-art Java. Her skin was the right and left, it was bigger than the drum of West Java, and somewhat bloated abdomen. This type of drum is composed of several kinds, with different sizes, namely: Kendang Gede, Kendang Gending, or Kendang Bem. Medium-sized drums or drum sticks ciblon and the smallest size drum or kulanter ketipung. This drum skin named tebokan. Perengangnya ropes called serpents, and rings perengangnya named enemies. Above named horses are named Plangkan. All art is in Central Java and East Java to use this type of drum, for example purwa puppet arts, musicians, ketoprak, ludruk and others. Ki Narto Sabdo (deceased), in his lifetime was a drum player and renowned puppeteer, as well as the creator of Java songs.



8. G E N D A N G   B A L I    


If the drum Kendang West Java and Java is almost the same shape, namely the body / belly somewhat bloated form the drum Bali is part of the body / stomach does not form. The excess width of the center line of skin the right and left differ greatly. Magnitude size also varies, which is used in small gupek named Arja gamelan and gamelan temple in Bali. Ketipluk, also means a kind of drum sounds of Bali, which is on the right and left frame hung a rope and made a round-Rounded edges to form small balls. When shaken, spheres or balls banging on her skin. Ketipluk is used for Balinese Hindu religious ceremonies.


9. J I D O R    


Jidor type of drum width in diameter up to + / - 50-70 cm. Her skin there is a right and left, but some are just next to it. Jidor Tanjidor is used for art, folk art using non-traditional wind instruments, the songs brought Mars and vibrant. Art like this found in Jakarta and surrounding areas, are also encountered in the area of South Kalimantan.





10.  B E D U G    


The drum is a percussion instrument that looks great. Her skin is just next door, but there is also the right and left. Drum can dikumpai everywhere local population is Muslim. Useless as a guide prayer times, and placed in mosques. Outside the mosque Bedug type is also used as an instrument, as a supporter of the arts-the arts ketoprak, gamelan. Sekati (Central Java) and art nabeuh Pandegelang area (West Java), which played several different drum size. Types beduq great length + / - 150 Cm, named drum gubrag. On the feast of Eid al-Fitr is a lot of drum played by the people of West Java, as the fighting art of the drum. The largest drum in the ground water, is contained in Purworejo.




to be continued . . .




Jumat, 13 Juli 2012

Selangkah ke Seberang (Jambi)


Sungai Batanghari-Jambi

Sebenarnya ini tidak ada sangkut pautnya dengan judul lagu Fariz RM di album Panggung Perak itu, hanya kebetulan saja, saya ambil sebagai judul catatan ke 126 ini mengingat pas sekali dengan tujuan saya menghadiri dua undangan pernikahan ke pulau Sumatra tepatnya di Jambi.

"Guayaaa buanget! "kata sahabat saya. Ya saya kan hanya petugas pelaksana perintah suami. Nah kesempatan itu saya pergunakan bernostalgia. Tak dipungkiri meski saya (pernah) tidak suka tinggal di kota bersemboyan, 'Sepucuk Jambi, Sembilan Lurah' ini, tetapi disinilah saya dan keluarga mengisi hari-hari selama kurun waktu 16 Agustus 1992 s/d 03.07.2005 (kurang lebih 13 tahun). 

Jambi yang dulu saat saya dan Kak Yo (3,5 tahun) menapakkan kaki ke tanah berpasir putih itu, memakai pesawat baling-baling dan jadwal penerbangannya dalam seminggu hanya beberapa kali. Meski Jambi ibukota provinsi Jambi (dengan nama yang sama) adalah kota yang ramai hingga jelang magrib saja, selebihnya s e p i . Udaranya sangat gerah, panas menyengat dan sebentar-bentar gatal-gatal. Adaptasi adalah memerlukan waktu yang panjang. Ada dua ari-ari  terpendam di tanah ini, milik Ryan dan Edo (anak kedua dan ketiga) sedang Ryo dilahirkan di Jember. Selain itu belajar bahasa sehari-hari. Dimana tanah dipijak, disitulah adat dijunjung, sangat berlaku bagi saya dan keluarga. Bahasa sehari-hari tidak jauh berbeda dengan bahasa Melayu, tentunya sangat berbeda jauh dengan bahasa Jawa meski banyak menggunakan huruf / vokal 'O' terutama dialeknya (intonasinya). 

Mei 2012
Napak tilas dimulai dengan  menghadiri pernikahan putri pertama bapak Eko Purwanto, beliau dahulu atasan suami saya. Beliau juga pernah menolong saya sebagi pendonor darah saat saya akan menjalani operasi. Di Jambi ini ikatan persaudaraannya sangat kuat, meski kami bukan sesaudara namun dalam lingkungan kantor (PT Telkom Jambi) dan sekitar tempat tinggal. Saudara terdekat adalah tetangga kita, maka berbaik-baiklah dengan tetanggamu. Pepatah lama itu ada benar nya juga. Dan salah satu janji kami saat akan meninggalkan kota itu, saya datang adalah wujud dari menepati janji itu.

Setibanya di Jambi akan bermalam di rumah sahabat bernama Tutik, di belakang makam pahlawan di The Hok. Malam itu hujan lebat sekali mengguyur Jambi, bahkan saat landing tidak mulus hingga sebagian penumpang serempak menyebut nama Allah SWT..."Allahuuu Akbaaarrr."
 


Sabtu 6 Mei 2012,
Saya berjumpa dengan penjual sayur namanya Mamak Jenni, beliau orang Batak tapi orangnya kalem sekali lah (Batak mode:on). Dulu, beliau tetangga kami (baca saya) yang saya ingat kejadian lampau, putra bungsunya pernah terkena ilmu palasik. Yaitu ilmu hitam sangat khas di daratan Padang yang biasanya diincar bayi hingga anak-anak dibawah usia lima tahun. Serem juga sih waktu saya mendengar cerita hal itu dari tetangga.

Kemudian saya mengunjungi Ibu Sugik,     beliau ini tukang cuci dan setrika (selesai kerja pulang). Beliau mempunyai banyak anak, dan masih menganut paham 'banyak anak, banyak rejeki'.  Setelah saya pindah menuju ke rumah sendiri di daerah Sipin (STM Atas) saya jarang mengunjungi sini, kecuali setiap lebaran saja. Silahturahmi masih berlanjut ke tukang urut bernama Bang Somad adalah langganan keluarga. Bang Somad ini rajin sekali mengurut kaki kanan saya, yang boleh dibilang agak bermasalah.
 Beliau ini sangat hapal dengan suara saya, terbukti meski pun lama tidak bercakap-cakap, begitu mendengar suara saya, beliau menyebutkan nama saya tanpa harus berpikir lama. "Aih Bu Tonny, mbak Arie, apo kabarnyo...," sapanya dengan senyum. Saya sempatkan pula mampir sebentar ke rumah Ibu Yunus, beliau teman sesama penggurus Dharma Wanita PT Telkom Jambi priode 1996 (lupa).

Senang rasanya semua rencana saya berjalan mulus, selain tetangga dan kerabat lama, saya ingin menjumpai teman dumay bernama Ibu Amalia Soeharto.    Hari, jam pun disepakati dan akhirnya bertemu juga untuk menuntaskan hasrat bersama menikmati sajian sate padang Tugu Juang. Menurut saya, sangat nikmat sekaleeee. Malam itu akhirnya kami bersama mbak Mimin, Puput dan Ibu Amalia saling bertukar cerita diselingi menyantap sate padang berbumbu kuning.





Minggu, 7 Mei 2012,
Disinilah saya banyak berjumpa teman suami pada masa kerja dahulu. Menjalin talisilahturami adalah salah satu bentuk ibadah yang harus senantiasa dipertahankan, dijaga agar kita mendapat rahmat-Nya. Jadi bukan sekedar menghadiri 'kondangan manten' saja  dan saya menyempatkan nyekar ke makam Bapak dan Ibu Soedomo, beliau itu sudah saya anggap sebagai orang tua angkat. Ketika beliau masih hidup, sangat membantu menjaga anak-anak terlebih saat mereka dan saya dalam keadaaan mendapat musibah, perhatiannya sangat tulus dan ikhlas jadi sesampai di depan makam, tiba-tiba air mata ini mengalir begitu saja di antara surah Al-Fatihah.

Tetangga di Jln.Tulip II, satu persatu saya kunjungi. Alhamdulillah saya masih dipertemukan dengan Mbah Sangkrak
 (petugas sampah) yang kini sudah pikun. Lanjut ke rumah bude Kadir, yang sangat terkejut melihat saya nongol di depan pintu dapur. Saya memang sengaja tidak memberi kabar, ditakutkan bial sudah berjanji terus tidak bisa menepati akan menjadi beban batin. Beruntung sekali saat saya datang, ada sajian pempek. Wow...rejeki banget. Jadi ingat jadul, selalu mendapat suguhan sepiring pempek dan semangkok cuko-nyo yang nikmat. Setelah itu mampir ke rumah pak RT, yang sangat lucu. Warga Tulip II tidak ada perubahan, wajahnya awet-awet semua dan welcome.

Senin, 8 Mei 2012,
Urusan kuliner selalu menjadi ajang yang menghias setiap perjalanan kian bersemangat.
 Menjelang hari terakhir, menyempatkan diri ke tempat penjualan keramik di belakang Polda Jambi dan kuliner kaki lima di sekitar depan SD Katolik Xaverius Jambi. Beberapa dibungkus seperti dendeng batokok depan IAIN dan pempek Panggang Selamat. Menjelang detik-detik terakhir saya bisa bertemu dengan sahabat mama, yaitu mbak Murni dan dan mbak Eet, jadi lengkaplah rajutan tali silahturahmi itu. Senja menjemputku dengan senyum manis untuk membawaku kembali ke Jakarta. Dan sejenak aku melambaikan pada Sultan Thaha. Bulan depan jumpa lagi...



Juni 2012
Misi masih sama seperti bulan kemarin, pergi kondangan nyebrang laut dan pulau. Tapi bedanya kali ini, saya tidak ada target cukup nemani Kak Yo (Aryo Rizki Putra/putra sulung).  yang sangat ingin menapak tilas. Hari Jum'at 15 Juni 2012, Batavia Airlines menurunkan kami di Sultan Thaha, pas senja menyambut kami langsung menikmati sajian pempek panggang, pangsit ikan, juice semangka dan juice alpokat dan kebeneran lagi lapar, jadi yummy buanget. Setelah itu kami berisitirahat dan memulai petualangan esok hari.

Sabtu, 16 Juni 2012
Tiba-tiba dini hari Kak Yo sakit perut dan nggak bisa buang angin, badannya meriang dan otomatis merubah jadwal kunjungan. Setelah subuh saya mencari apotik terdekat, Alhamdulillah kondisi membaik lalu segera memulai kaki melangkah. Bersama Tutik dan putri semata wayangnya Abel, kami mengunjungi Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Jambi. Suasana sudah sepi, maklumlah hari itu pembagian raport, tidak ada jadwal mengajar maka kegiatan hanya separuh hari saja.




Kebetulan saya mendapat nomor seluler bapak guru yang akan kami kunjungi dan akhirnya kami meluncur ke daerah SMP16 dan bertemu dengan pak OB, beliau ini masih mengenal Kak Yo.   Obrolan seputar napak tilas saat kak Yo memenangkan lomba cerdas cermat bersama dua teman lainnya, membawa nama harum SMPN1 Jambi priode 2003-2004. Bahkan kami sempat melihat frame yang terpampang di dinding sekolah, memenangkan Rp 3.500.000,- sebagai juara pertama dan mewakili tingkat provinsi. Panjang lebar obrolan itu sedikitnya meringkas waktu, untuk segera melanjutkan kunjungan ke tempat lain yaitu SDN no 42 Jambi.

Mungkin di antara sekolah-sekolah lain, SD ini paling banyak menyimpan memori. Sekolah sederhana yang dulu atap dan bangunannya jauh dari sebutan sempurna kini telah bersolek dan menjadi sekolah percontohan. Terlebih jaman angkatan Kak Yo murid-muridnya lumayan berprestasi. Sekolahan ini sering saya lewati bila ke warung, kadang saya berhenti di depan pagar (buruk) dan melihat Kak Yo yang duduk di bangku depan, sambil melambai tangan. Hahaha...everlasting tenan  masa itu. 

Minggu, 17 Juni 2012
Akhirnya Kak Yo melihat kembali kampung halamannya, rumah lamanya dan para sesepuh. Kami serasa tamu agung, begitu datang disambut, terutama Kak Yo yang kini menjadi pemuda (bujang) ganteng. Kehadirannya mewakili papanya, dan dengan senang hati menikmati semua sajian makanan yang ditawarkan di meja-meja.
 Kondangan ini mirip ajang reuni besar, dengan diiringi musik dan para penyanyi warga sendiri menjadikan acara pernikahan itu seperti jahatan sekampung turun desa, meriah dan ramai sekali. Usai menunaikan ibadah Dzuhur, kami berpamitan pulang dan istirahat.

Senin, 18 Juni 2012
Perburuan terakhir adalah mengunjungi beberapa tempat yang menyimpan memori buat Kak Yo seperti, gedung  
 kesenian Taman Budaya Jambi  (tempatnya berteater), Sungai Batanghari dan kulinernya serta pertemuan dengan ibu wali kelas SDN 42 Jambi, Ibu Ernilawati. 


 Serangkaian cerita telah menemani perjalanan 'Selangkah ke Seberang', kini tibalah kami harus mengucap salam kepada Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, entah kapan lagi bisa kembali kesini walu menengguk aik keruh seperti lagu Cik Minah. Di detik-detik akhir datanglah beberapa teman Ka Yo semasa SMP dulu, bahkan saat di bandara Sutan Thaha pun masih semapt bertemu dengan sahabatnya Ade Kartika, maka lengkaplah target napak tilas dalam misi kondangan nyebrang laut dan pulau itu. Semua itu atas izin dari Allah SWT, perjalanan pulang pergi lancar dan sehat.

Jambi, yang dulu pernah mendapatkan piala Adipura karena kebersihan kotanya kini sepertinya tinggal kenangan. Jambi telah menjadi kota yang ramai, berdiri gedung berjejer sepanjang sungai Batanghari. Hampir tidak ada perbedaan dengan kota-kota di pulau Jawa pada umumnya. Jambi masih sering mati lampu nggak jelas jadwalnya, tapi Jambi menyimpan kenangan tumbuh kembangnya anak-anak, merajut keluarga kecil untuk berprestasi. 


. . . Senja bertemu senja,
langit jingga kemerahan,
sementara ilalang menari ,
burung bersayap menyapa,
disana perjumpaan dan perpisahan,
tanpa perlu ada air mata,
meski menyeruak rasa didada,
tak terucap oleh kata,
cukup mengucap salam
dan menjadi kenangan
merajai hati . . .


Disalin dari akun facebook Arie Rie Rachmawati pada 13 Juli 2012 pukul 19:56 ·