Kamis, 10 Maret 2016

C I N T A (1)


Ketika Jodoh Berlabuh di Teluk Penyu Cilacap

Aryo & Ditha

Kita manusia tak pernah mengetahui dengan siapa, kapan dan dimana bertemu jodoh. Seperti kata pepatah lama, asam di gunung, garam di laut akan bertemu di dapur, mungkin inilah jodoh putra pertama saya, Aryo Rizky Putra (Kak Yo) cinta-nya berlabuh di hati gadis ayu bernama Adithia Rina Damayanti (Ditha). Proses perkenalan cukup unik dan pendekatannya, acara pra-lamaran hingga penentuan tanggal akad nikah, resepsi juga ngunduh mantu kurang lebih satu tahun. Alasan ybs tidak mau pacaran terlalu lama takut putus seperti sebelumnya. Bahkan saya berniat akan menjodohkannya dengan putri sulung dari sohib ketika bersekolah dasar. Secara kekeluargaan saya mengenal baik dari adik kakak hingga neneknya. Kami berdua sibuk sendiri, namun masing-masing ybs tiada respon yang mendukung. Begitulah cerita bila belum berjodoh. Suatu hari ia bercerita ada beberapa pilihan hati, saya orang pertama yang diberitahu dan dimintai pendapat.

Kembali kepada ybs yang akan menjalaninya, maka pilihan hati menjadi prioritas utama, karena nanti ia akan menjalankan roda rumah tangga sepanjang usianya hingga maut memisahkan. Menentukan pilihan hati memanglah tidak semudah kita membolak-balikkan telapak tangan. Saya menyarankan untuknya agar lebih mendekatkan diri kepada-Nya, supaya mendapatkan petuntuk dari Allah SWT. Saya pribadi sejak putra saya menginjak usia remaja (akil balik) sejak itulah saya selipkan doa agar ia diberi jodoh yang seiman, sholeha, dan yang terbaik untuknya masa depannya. Terselip pula keinginan agar mendapatkan calon menantu seorang gadis Jawa. 

Entahlah itu imbuhan keinginan seorang Ibu yang tidak wajib hukumnya namun mengikat. Hingga pada akhirnya pilihan jatuh kepada gadis dari pesisir pantai Teluk Penyu Cilacap, mungkin itu jawaban doa dari-Nya. Wallahualam. Bahkan usai acara pra-melamar atau bertandang ke rumah calon besan, saya masih berdoa dengan doa yang lebih yakin, karena misteri perjodohan itu hanya Allah SWT yang mengetahui. Cerita perjalanan ke Cilacap tertuang dalam tulisan dengan link http://rachmarie-riritemaram.blogspot.co.id/2015/08/aglenon-1.html

Bandara Cilacap 18-8-2015
Usai acara perkenalan dua orang tua masing-masing, saya diamanahi calon besan untuk menitipkan kedua putrinya yang akan ikut serta dalam rombongan perjalanan ke Negeri Sakura. Rupanya ini sebagai pertanda dari-Nya agar saya pribadi mengenal calon menantu. Selama perjalanan dari awal hingga akhir, silahkan mengunjungi cerita "Seven Day in Japan on A Secret Mission" link :

Kembali cerita kepada urusan proses menjelang pernikahan. Begitu semua pembicaraan telah disepakati oleh kedua belah pihak orang tua dari calon pengantin, maka saya segera memberitahukan keluarga besar yang ada di Jember. Memilih beberapa saudara yang akan diikutsertakan dalam rombongan pengantin dari pihak laki-laki. Hal tsb tidaklah mudah, selain pertimbangan kesehatan juga biaya anggaran, tanpa merasakan adanya pilih kasih, karena saya nantinya akan menggelar acara Ngunduh Mantu di Jember. Pemilihan kota Jember bukan di kota Bogor tempat domisili kami, adalah salah satu bentuk pertimbangan yang sangat matang dan melalui tahap yang terbaik sebagai akhir keputusan. Acara Ngunduh Mantu itu bertujuan para sanak saudara yang belum melihat proses bahagia pengantin bisa merasakan suasana tsb. Tentunya niat itu didasari ingin mengumpulkan sanak saudara yang saya pribadi maupun keluarga Bogor jarang bertemu baik saudara dari keluarga besar H Nawawi (pihak Mama) dan keluarga besar Bani Nawe (pihak Bapak).

Menjelang akhir tahun 2015, pertemuan berikutnya dengan keluarga besan adalah saat beliau beserta keluarganya (bapak, ibu dan kedua putrinya) akan menunaikan ibadah sunnah umrah ke tanah suci, Mekkah. Kebetulan keluarga besan sengaja bermalam di Jakarta, maka kesempatan itu dipergunakan untuk jalan bersama. Selain hunting baju dan assesoris pengantin, juga makan siang, dan naik bajaj bertiga. Seru. Keakraban terjalin mengalir apa adanya.  Di seputaran Thamrin City menjadi lokasi tempat tujuan kami.

Cilacap, 16 Agustus 2015
Kegiatan selanjutnya adalah segera memesan tiket kereta api keberangkatan baik dari keluarga di Jember, dan juga rombongan dari Bogor. Begitu pula pemesan tiket untuk acara Ngunduh Mantu di Jember, yang berjarak tiga minggu dari acara akad nikah. Alhamdulillah semuanya beres tanpa menemui kesulitan. Gema kesibukkan para keluarga nampak nyata dikediaman masing - masing. Proses pembuatan seragam pengantin untuk keluarga Jember dan Semarang. Satu - satunya saudara kandung dari suami, tinggalnya di Semarang. Sementara saya hingga hari H tidak pernah mengetahui baju (gaun) seragam ibu pengantin dengan ibu besan yang akan dipakai baik bentuk model dan bahannya. Bismillah wallahualam, pasrah. Waktu berjalan seperti maraton, tinggal menghitung hari saja. Sesibuk apapun saya berusaha menyelesaikan tugas itu yaitu membuat sendiri (handmade) suvenir pengantin. Kebahagian saat membuat karya sendiri tertuang di tulisan, silahkan mengunjungi link : http://rachmarie-riritemaram.blogspot.co.id/2016/04/cenderamata.html

Menurut saya secara global bahwa menikah itu bukan sekedar menautkan dua hati antara pengantin perempuan dengan pengantin laki - laki saja, tetapi lebih dalam menggabungan dua keluarga yang tadinya tidak saling mengenal menjadi kenal dan memiliki. Karena hadirnya CINTA maka menjadi satu keluarga baru. Dari masing - masing keluarga pihak pengantin perempuan dan pengantin pria, akan meluas lagi dalam wadah silaturahim.


Bersambung ....
Posting Komentar