Sabtu, 31 Juli 2010

Pelakon Seni


DIA SEORANG DEWI
by Arie Rachmawati on Saturday, July 31, 2010 at 5:53am


# Scene 1

Bermula dari pertemanan di facebook satu setengah tahun yang lalu, aku mengenal dia aktris perempuan salah satu dari idolaku saat remaja dulu. Namanya Dewi Irawan, anak ketiga dari lima bersaudara, putri pertama seorang aktor kawakan almarhum bapak Bambang Irawan dan ibu Adek Irawan.
Dewi Irawan bernama Saraswati Dewi, lahir 13 Juni 1963, dia seorang perempuan yang ramah. Awal jumpa di facebook, aku rada takut menyapanya. Ternyata segala ketakutan itu akhirnya aku tepis karena ia idolaku itu ternyata ramah lahir dan batin. Terbukti setelah melewati kurun waktu menjalin pertemanan dengannya sebagai tempat berbagi cerita. Dengannya, banyak kecocokan di antara kami berdua, dari sekedar sharing film-film Indonesia, masalah anak hingga pembahasan agama. All In. Lebih-lebih ia tak menganggap diriku sekedar fans dan ia tak pernah menganggap dirinya seorang selebritis atau aktris top.

Pasangan suami istri yang mengabdikan hidupnya di dunia peran/layar lebar adalah Bapak (alm) Bambang Irawan dan Ibu Ade Irawan yang mempunyai nama asli Ade Arzia Dahar, melahirkan lima putra - putri antara lain :

1.Bambang Ari Satrya ( Ary)
2.Bambang Widya Permadi (Adi)
3.Saraswati Dewi (Dewi)
4.Sinta Savitri ( Atrie)
5.Chandra Ariati Dewi (Ria)


Kelahiran Dewi Irawan waktu itu bersamaan ayahnya mendirikan PT AGORA (Arena Gotong Royong Artis) Film. Ibu Adek Irawan juga dikenal selain sebagai aktris dan penulis skenario. Dua kakak Dewi, laki-laki, salah satu di antaranya, Adi Bambang Irawan, juga pernah muncul dalam beberapa film. Beberapa film anak-anak yang sempat aku tonton, namun bagiku peran Ria Irawan yang berkesan adalah membintangi film musikal ala Sound Of Music-nya Indonesia yaitu film Nakalnya Anak-Anak. Ria Irawan bermain bersama Dina Mariana,Ira Maya Sopha, alm. Ryan Hidayat dan Kiki Amalia. Ria yang manis dan lincah selain dikenal sebagai pemain film juga seorang foto model dan peragawati. Yang aku ingat waktu masih sekolah dasar berlangganan majalah anak-anak Ananda, Ria sempat menjadi cover-nya.

Ia bercerita di mana saat kelahirannya itu ada kaitannya dengan lambang/logo PT AGORA yaitu patung Dewi Saraswatii digambarkan sebagai sosok wanita cantik, dengan kulit halus dan bersih, merupakan perlambang bahwa ilmu pengetahuan suci akan memberikan keindahan dalam diri. Mungkin demikian pula harapan orang tua Dewi Irawan terhadap putri pertamanya itu.

Untuk menjadi sesuatu nama yang berbeda dari biasanya maka dinamai Saraswati Dewi, begitu tuturnya yang kupanggil Yudew, adalah kepanjangan dari mbakyu Dewi. Cerita itu mengalir pada suatu obrolan pagi pada suatu hari yang disela-sela syuting sinetron Senggol Bacok di Cisarua, Bogor.

Peran pertamanya dalam film" Belas Kasih" 1973. Film ini, hasil produksi rumah film milik PT.AGORA. Di mana sang Ayah menjadi sutradara sekaligus produser, sang Ibu sebagai penulis skenario. Dewi sudah menunjukkan bakatnya saat berusia 10 tahun.


# Scene 2
Obrolan pun merambah pada aktingnya yang sempat diacungi jempol untuk peran di film "Titian Serambut Dibelah Tujuh". Pada Festival Film Indonesia 1983 itu, nama Dewi Irawan disebut sebagai pemain yang boleh diperhitungkan aktingnya di kancah perfilman Indonesia saat itu yang berlangsung di Medan.
Aku teringat majalah jadul yang masih kusimpan, sebagai bukti bahwa Dewi Irawan itu pujaanku.

Film Titian Serambut Dibelah Tujuh

Sutradara : Chaerul Umam
Pemain : Soekarno M.Noor ~ Rachmat Hidayat ~ El Manik ~ Dewi Irawan
Penulis Skenario : Asrul Sani
Penata Musik : Franky Raden
Penata Artistik :
Penata Suara :


Tema ceritanya mirip dengan film Al-Kausar, yang digarap oleh sutradara yang sama.
Keunikannya,menolong film ini menjadi penting untuk dibicarakan. Tata artsistik, hadir dan langsung memberikan gambaran tentang setting cerita. Semuanya barangkali sudah tersedia, tapi bagaimana memilihnya - itu yang pantas dipujikan.
Kamera, dengan kuat memanfaatkan setiap sudut dan menjadi penambahan kekuatan film ini.

Tata musik (Franky Raden), unik dan menyatu. Ia tidak hanya sekadar menghadirkan bunyi-bunyi lokal, tapi nampak ada tafsir yang mendalam dengan berdasarkan pada kebutuhan cerita. Kekuatan sutradara, terasa pada keberaniannya mengadakan non dubb (tanpa suara) pada adegan pemasungan. Juga pengaturan bloking pada adegan-adegan sulit (pengeroyokan Ibrahim, pengeroyokan Arsad, pemasungan Hailmah)
Tata suara ikut membantu dramatisasinya (bayi menangis ketika Arsad-sang ayah-sekarat).

Inilah sebuah drama yang bermula dari fitnahan terhadap seorang gadis bernama Halimah yang diperankan oleh Dewi Irawan. Ia dituduh berzina, kemudian dipasung karena dianggap gila.
Majalah Zaman,21 Mei 1983 hal.25)
Majalah Zaman,21 Mei 1883 (hal.26)


Ini juga cerita tentang seorang guru muda diperankan oleh El-Manik yang datang ke suatu desa 'sarang maksiat' dan dikuasai oleh seorang jagoan diperankan oleh Soekarno M.Noor. Juga tentang seorang guru mengaji yang korup diperankan oleh Rachmat Hidayat Seharusnya El Manik dan Soultan Saladin bisa diharapakan. Tapi El Manik sukar hadir dalam beberapa agle. Ia baru bagus pada shot-shot pendek (medium,close up). Sedang Saladin, tak menghadirkan sesuatu yang baru. Ia malah bagus dalam film Al-Kautsar. Soekarno M.Noor dan Rachmat Hidayat, bermain bagus dan maksimal.

*Note : Data dari majalah Zaman,21 Mei 1983*

#Scene 3

Masih sekitar FFI'83 yang berlangsung di Medan. Beberapa film besutan para sutradara papan atas negeri ini bersaing memperebutan PIALA CITRA. Kecuali Arifin C. Noor, sutradara kawakan dan sutradara muda saling bertarung mereka antara lain :

1. Syuman Jaya - RA. Kartini

2. Ami Priono - Roro Mendut

3. Wim Umboh - Perkawinan'83

4. Teguh Karya - Di Balik Kelambu

5. Chaerul Umam _ Titian Serambut Dibelah Tujuh

6. Frank Rorimpabdey - Jejak-Jejak Wolter Mongisidi

7. Hengky Solaiman - Neraca Kasih

8. Mardali Syarif - Mereka Memang Ada

9. Sophan Sophiaan - Bunga-Bunga Bangsa.

10. B.Z.Kadaryono - Pak Sakerah

11. Pietjaya Burnama - Musang Berjanggut

12. Bobby Sandy - Amalia SH

13. Abrar Siregar - Sorta

Dan ada beberapa sutradara yang pernah menjadi unggulan pada festival yang lalu kali ini absen, mereka adalah Slamet Rahardjo, edward Pesta Sirait dan Ismail Subarjo. Dari banyaknya film yang saat itu berlangsung, aku menyempatkan diri menonton antara lain : Neraca Kasih, Perkawinan'83, Bunga-Bunga Bangsa,R.A. Kartini dan Di Balik Kelambu, selain Titian Serambut Dibelah Tujuh tak luput jadwal hadir di gedung bioskop yang pemiliknya adalah sahabat orang tuaku.

#Scene 4

Saraswati Dewi hingga kini masih aktif menantang semua peran. Darah seni itu benar-benar mengalir keseluruh tubuhnya. Beberapa perannya yang aku ingat justru pada filam Kembang Semusim arahan sutradara MT.Risyaf. Peran Dewi menjadi seorang gadis berandalan yang suka ngebut, pesta disko. Itulah Dewi yang selalu bermain dengan peran berbeda pada setiap lakonnya. Salah satu kutipan dari majalah tsb adalah " Saya ingin peran yang lebih menantang. Saya tidak mau digelari karena memerankan peran-peran yang itu-itu saja," katanya.
Majalah Zaman,21 Mei 1983 (hal.24)

Saat memerankan Halimah itu, perannya sempat disebut oleh pengamat film sebagai calon nominasi 'yang terbaik' dalam FFI'83. Saingan Dewi sangat berat yaitu Christine Hakim ( Di balik Kelambu) dan Widyawati (Amalia SH). Tapi bagi Dewi peran dan akting adalah pekerjaannya, film atau sinematografi adalaha ladangnya. Hingga kini masih eksis berperan. Salah satu dari sekian film Dewi Irawan saat ini yang sempat aku menontonnya aktingnya saat memerankan mama-nya Siska dalam film " Badai Pasti Berlalu" mengulang kesuksesan film dengan judul sama di tahun 1977. Film garapan Teguh Karya itu diolah ulang oleh sutradara muda Teddy Soeriaatmadja, scene saat kini.

#Scene 5

Dewi Irawan akhir-akhir ini enjoy menjadi ibu dalam setiap perannya. Dalam kehidupan nyata pun, Yudew pun seorang ibu daru putra-putrinya buah kasih pernikahannya dengan Luca F Marini, buah hatinya yang memiliki wajah cantik dan ganteng adalah Ray Emyr
Marini dan Dea nama kesayangan dari Shadira Arzya. Bersyukur sekali akhirnya aku bertemu ibu dan putrinya yang cantik itu. Bahkan sempat melakukan ibadah bersama pada suatu mushola di basement Citos.

Bagiku mengenal sosoknya adalah anugrah, ia seperti bukan seorang selebritis dengan pernak-pernikglamour namun dengan balutan blus putih tulang, tak lepas kacamata minusnya asyik menyantap hidangan dim sum, bahkan kami berdua rebutan lalapan kailan bertabur irisan bawang putih. Sesekali melanjut obrolan, ia bercerita saat meninggalkan tanah air beta sekitar tahun 1992 dan selama hampir dua belas tahun menetap di Italy, akhirnya tahun Juli 2004 kembali ke Indonesia tercinta dan memulai kembali berakting melalui layar sinetron lewat serial televisi swasta yang waktu itu boming cerita religie.

Di antara diskografi film-film yang pernah dilakoni hanya beberapa yang diingatnya. Di antaranya aku remaja dulu juga menikmati aktingnya sebut saja Guruku Cantik Sekali, waktu itu dengan Lidya Kandau. Kembang Semusim bersama Marissa Haque. Sedang dalam Sekuntum Duri adu akting dengan aktor ganteng Herman Felani. Ah, kembali membuka cerita lama tentang film-film jadul membuat memoriku kembali mengoprak-oprek daya ingat. Asyiiknya seakan waktu berputar ke masa jayanya perfilman Indonesia membumi dengan karya-karya kreativitas para pelakon seni untuk memperebutkan sebuah PIALA CITRA. Obrolan berahir dengan satu pertanyaan padanya, "Mbak, jadi sekarang Piala Citra itu kemana ya?"

Terima kasih banyak buat mbak Sarawati Dewi Irawan atas waktunya obrolan tak pernah ada jeda selalu bersambung lewat sms. Terima kasih atas lunch nya juga senyum ramahnya Dea. Semoga gadismu bisa menggantikan dirimu sebagai seorang DEWI penerus generasi perfilman dari keluarga besar alm Bambang Irawan dan Ibu Adek Irawan.
NB : Ternyata pertanyaan saya telah terjawab semalam Sabtu, 10 Desember 2011, saat pengumuman Piala Citra Festival Film Indonesia 2011 dan syukur Alahamdulillah beliau "Dia Sang Dewi" meraih piala sebagai pemeran pendukung wanita terbaik di film Sang Penari, menyisihkan 4 pelakon seni muda lainnya. Dewi Irawan telah menunjukkan janji pada dirinya karena setia menjalani peran seni (akting) baik di dunia layar kaca atau pun layar lebar. Congratulation My Dewi...

Salam,
arie rachmawati

Sabtu, 24 Juli 2010

Curahan Hati :

Cerita Di Koridor Busway 
Blok M
Oleh Arie Rachmawati


Senja sore berlabuh di ujung kaki langit, aku masih dalam busway menuju Blok M. Macet adalah kenikmatan yang tak didapat di kota lain menurutku bagian dari pernak-pernik Jakarta. Gerimis pun ikut menemani perjalananku menuju tempat "Komunitas Pencinta Musik Indonesi" di Langsat Corner. Waktu itu Jum'at kedua di bulan ketujuh 2010. Saat melintas di koridor Busway Blok M, sorot mataku tertuju pada suatu pemandangan yang tak lazim. Lalu aku mendekatinya. Tangan kananku mencari selembar rupiah untuk berpindah tangan. Aku perhatikan sebelum memberi shodakoh itu, ada seorang ibu berjilbab yang amat peduli dengan laki-laki muda yang mempunyai kaki kanan yang aneh.

Akhirnya aku membaur dengan ibu tadi dan kami berniat ingin membantu ala kadarnya. Mengingat aku selalu berbekal pocket camera, aku membidik beberapa sudut kakinya yang aneh itu. Semula ybs tidak memberi izin karena malu dan akan meluas hingga terdengar di kampungnya yang jauh di pulau Sumatra itu.

Namanya Agus, 22 tahun. Keanehan itu sudah dirasa sejak balita. Bertambah usia maka pertambah pula membesarnya jejemari kaki kanannya. Sekarang ia tinggal di Depok bersama kakaknya. Hidupnya sehari-hari bukan semata mencari belas kasih pejalan kaki yang melintas di koridor busway Blom M. Ia melakukan aktifitas berbagai macam kerja serabutan asal halal dan bisa ditukar dengan rupiah untuk sesuap nasi.

Bila senja telah meluruh ia akan duduk menepi di didinding koridor dengan menatap kakinya yang kian hari kian membesar. Kawan, kalian yang peduli mungkin saat melintas koridor itu bisa memindahkan rupiahmu untuknya. Atau kalian ada ide untuk berbagi?

Saat ini aku dan ibu itu yang sehati berniat menolong dengan langkah awal membawa foto ini untuk ditunjuk kepada pihak kantonya tempat ibu itu bekerja di Departemen Kesehatan, sedang aku hanya bisa menulis cerita singkatnya melalui notes facebook-ku ini, mengetuk hati kalian. Langkah selanjutnya belum aku pikirkan karena saat ini sudah dua minggu berlalu kontak kami terputus dengan ibu yang baik hati itu.

Mungkin melalui tangan-tangan kita yang telah ditunjuk oleh-Nya, Agus pemuda tanpa memiliki asa itu akan meraih masa depannya. Kita hanya hamba Allah yang sedikit terketuk. semoga notesku kali ini membuat kita semakin kaya batiniah dengan kebaikan-kebaikan sebagai pundi-pundi amal bekal nanti di akhirat.

Terima Kasih


Note : Setelah tayangan tulisan ini di facebook pada tanggal 24 Juli 2010 jam 19:09.
Banyak para teman yang peduli tetapi saya hilang kontak dengan ybs, semoga ybs sudah mendapat kepedulian dari orang-orang yang care, amin yra.




Selasa, 15 Juni 2010

SYMPHONY BAND


foto koleksi SYMPHONY


Edisi Khusus "SYMPHONY 1st Anniversary"
by Arie Rachmawati on Sunday, June 13, 2010 at 7:58pm
SYMPHONY UNTUK MUSIK INDONESIA
Oleh : Arie Rachmawati


Sebuah Undangan dari Oscar Adam lewat facebook, aku terima untuk hadir mengikuti sebuah taping acara. Terperanjat juga saat membaca undangan itu, SYMPHONY ber- REUNI. Reuni? Benarkah SYMPHONY masih ada?

Acara : Fariz RM & Symphony Reunion for Zona 80
"one nite only!"
Jenis : Performance
Penyelenggara: Fariz RM
Waktu Mulai : 14 Juni 2009 jam 19:00
Waktu Selesai : 14 Juni 2009 jam 22:00
Lokasi : MetroTV Studio

Tony Wenas - Fariz RM - Jimmy Paais -
Herman "Gelly" Effendi - Ekki Soekarno


Dua puluh tiga tahun berlalu setelah album ketiga berjudul N.O.R.M.A.L, mereka tak terdengar lagi gaung-nya, seakan bumi menelannya hidup-hidup. Kini SYMPHONY kembali disebut para undangan yang hadir di lobby Metro TV, menjadi buah bibir bagi sekelompok komunitas di setiap sudut ruangan. Mereka seperti bereuni, ya ini reuni yang berbeda, sebuah reuni "SYMPHONY UNTUK MUSIK INDONESIA"

Kemudian langkah-langkah para penikmat musik sehati itu digiring pada ruang studio di lantai kedua. Ruangan dengan setting alat-alat musik memadati panggung. Stage ditata sedemikian nyaman agar para musisi itu kembali menemukan dunia mudanya saat bermain musik.
Keempat personel SYMPHONY yang telah lama meninggalkan dunia musik yang sempat membesarkan nama-nama : Jimmy Paais,Ekki Soekarno Tony Wenas dan Herman "Gelly" Effendi, karena aktivitas masing-masing, kini disatukan kembali dalam acara Zona'80 itu. Kecuali Fariz RM yang masih eksis dan totalitas berkarya pada jalur musik.

Setting untuk para penonton pun tak kalah rapi dan padat merapat.Barisan kursi itu membentuk huruf 'V'. Dua barisan terdepan sudah dipesan oleh pihak panitia, dan aku mendapat di urutan ketiga dekat dengan drum berwarna keemasan pada stage kanan. Pandangan mata menyapu seluruh penjuru ruangan.
Ida Ari Murti
Audience dengan tertib mengikuti arahan pangarah acara.Tak lama kemudian dari sisi sebelah kiriku muncul barisan pertama adalah Fariz RM disusul Jimmy Paais,Tony Wenas,Ekki Soekarno dan Herman "Gelly" Effendi. Mereka menempati posisinya masing-masing dengan alat musiknya, seperti seorang Ksatria dengan alat perangnya.Lalu Fariz RM bercakap kata menyapa, audience untuk berinteraksi, disusul semua personel di stage, mengucapkan "Selamat Malam Semuanya."

Beberapa menit dipergunakan untuk testing & check sound masing-masing alat musik,sedang si mas Pengarah Acara menunggu kedatangan dua presenter acara Zona'80 yaitu Sys NS dan
Ida Arimurti. Dua presenter itu adalah mantan penyiar idola di Radio Pambors, Jakarta - tempat anak muda mangkal saat itu. Ida Arimurti dengan senyum manisnya hadir dengan gerai rambut sebahu dan berponi, mengingatkan gaya rambut pernah trend sekitar '80-an. Gaun putih bermotif sulaman bunga bertebaran menambah keanggunannya.

Sedang Sys NS datang agak tergopoh memasuki studio dan segera mengambil posisi. Bapak satu ini mengenakan t-shirt hijau teduh dan bercelana putih kian terlihat muda. Wajah familiar-nya itu menjadi kelengkapan acara Zona'80 siap beraksi.

Suasana hening, kemudian terdengar aba-aba dari Ekki 1..2..3.. (ya!) satu gebukan dari si tampan suami dari seorang peragawati '80an Soraya Haque itu begitu bersemangat dan energik menarikan dua stick drum. Wajahnya masih tetap cakep dan memikat walau bapak ini sudah memiliki putra-putri beranjak remaja,dan usia telah merambahnya. Ekki mantap dengan intro pembuka ASTORIA.

Kretaaak..kretaak perkusi-Ekki, disusul keyboards-Gelly dan Tony mewakili sound sirine/the source di antara sentuhan synthesizer, lalu masuk petikan lead guitar-Jimmy beriringan dengan besitan bass Fariz. Maka bersorak-sorailah audience namun hanya terwakili dengan sorotan mata gembira, karena proses taping dimulai, tanda "Recording" merah menyala.


ASTORIA
Symphony
foto koleksi arie rachmawati
Album
Trapesium, 1982
Composer/Arranger/Musician
Fariz Roestam Munaf, Jimmy Paais,
Herman Gelly Effendi, Ekki Soekarno.
Producers
Akurama Records & Symphony


Ku berdiri disana, gemerlap lilin menyapa
Suasananya bagaikan pesta kalangan mewah
Sebuah meja tiada terisi, disitulah ku berharap menyepi
Menikmati lingkungan manusia yang bergaya

Ku langkahkan kaki menuju tempat di sudut itu
Ada sepasang mata yang mengikuti arah pintu
Dia menatap ku dalam gaya anggunnya yang dulu
Ku datangi gadis itu dan duduk di kursi biru

Pelayan menghampiri sisi meja tempat ku
Sehelai daftar menu menunjuk pesanan ku
Niat pinta ku kau pun telah tahu
Segelas anggur murni abad lalu sentuhan sisa tahun 1060

Ku layangkan pandangan mengitari sekelilingku
Berbagai rupa yang datang menguji penampilannya
Bagai semacam kontes busana yang menyolok mata
Betapa tingginya kadar kehidupan yang kujumpa

“Grand Premiere” terlukis untuk malam nanti
Terletak di tiap sudut publikasi
Semarak suasana kehidupan di Astoria

Ole sio nona rasa sayang jangan pulang
Sio nona manise pancuri hati beta
Dengar lagu berdansa orang pung suka suka
Beramai-ramai di Astoria.. Astoria.. Astoria

Teringat waktu yang lalu saat kujumpa dirimu
Masih ada yang tertinggal di sudut yang tak ku tahu
Tiada sengaja ku rapatkan wajah dan berpadu
Hangatnya bagaikan segelas anggur yang telah ku tunggu

Pelayan menghampiri namun (ku) tiada perduli
Pesanan yang ku tunggu mengusik hasrat kalbu
“Les cruisses de grand au illes” ada disitu, sebuah nama yang tiada ku ragu
Persilakan dirimu menikmati pertama

Ceria musik berlagu mengiring santap malam ku
Duduk berdamping keharuman parfum Paris milik mu
Kan ku jelang keindahan dan hangatnya malam nanti
Berlalu membagi impian kehidupan insani

“Rock Wine” pun beraksi hangat dalam diri
Melengkapi syarat untuk malam nanti
Menjalin rahasia peristiwa di Astoria

Ole sio nona rasa sayang jangan pulang
Sio nona manise pancuri hati beta
Dengar lagu berdansa katorang baku rapat
Beramai-ramai di Astoria.. Astoria.. Astoria

Ole sio nona rasa sayang jangan pulang
Sio nona manise pancuri hati beta
Dengar lagu berdansa orang pung suka suka
Beramai-ramai di Astoria.. Astoria.. Astoria


Symphony
Fariz Roestam Munaf (Bass, Vocal) Jimmy Paais (Guitar, Vocoder, Vocal)
Herman Gelly Effendi (Keyboard, Piano, Vocal) Ekki Soekarno (Drum, Percussion, Vocal)
©1982 akurama records-symphony

Semarak suasana dan riuhnya ASTORIA masih menggema di penjuru studio dihujani tepukan tangan bersemangat para audience. Lantai studio pun serasa gemeretak kaki-kaki orang berdansa penuh ceria. Satu lagu pembuka yang menghentak, menghangkatkan suasana studio yang mulai melawan suhu dingin AC. Dalam satu tarikan nafas lega yang hadir memenuhi studio itu.
Jeda memberi kesempatan Sys NS dan Ida Arimurti menyapa SYMPHONY dan audience. dengan sapaan khas : "Zona'80 ...Masih Ada" "Masih Ada," saut audience serempak. Dua presenter beken itu memperkenalkan masing-masing personel.

SYMPHONY

Jimmy Paais - gitar\vocoder

Ekki Soekarno - drum\b-vox\perkusi

Fariz Roestam Moenaf - bass\the stick\vocal

Tony Wenas - piano\keyboard\vocal

Herman'Gelly"Effendi - keyboard\piano\the source\vocal


Malam itu Sys NS menyapa sang vocalis Faiz lebih akrab dipanggil si Bule dikalangan kerabat dekatnya, kembali bercerita proses terbentuknya Reuni Symphony itu. Mencari waktu yang pas untuk kelimanya bisa berkumpul, seperti saat muda dahulu, adalah hal tak mudah. Walau mereka tinggal satu lokasi di Bintaro. Lebih-lebih beberapa hari sebelum jadwal taping itu, Jimmy Paais sempat dalam perawatan rawat inap. Nampak Jimmy Paais memberi senyum ramahnya kepada audience,disusul cerita-cerita kecil yang menyemarakan proses latihan. Si Bule Faiz itu juga menceritakan telah memesan kacamata khusus untuk melihat tulisan jarak jauh. "Maklum bos..umur..umur," ujarnya berkelakar.

Herman Gelly
Cerita bergulir ketika Ekki Soekarno mulai merasakan pegal-pegal sekujur tubuhnya karena terlalu kelamaan tak menabuh drum. Senyum Ekki merebak. Kostum casual tanpa meninggalkan khas rocknya (lengkap assesoris kalung rantai) lebih terlihat sumringah. Sedang Tony Wenas yang malam itu masih terlihat awet muda berwajah baby face, dibalut jaket kulit hitam dan senyum mengembang menyapa semua yang hadir. Ramah sekali bapak Bos itu. Giliran terakhir yang kebetulan posisinya di sebelah kiri stage agak menjorok kedalam, lengkap dengan 2 set keyboards, alat musik koleksi pribadinya dan sengaja diboyong,pria berparas ganteng itu adalah Herman "Gelly" Effendi dengan kacamata minus dan senyum irit dalam balutan jas semi tuxedo, terlihat paling kalem.

Mereka mulai kembali melanjut proses taping untuk lagu kedua adalah SIRKUS OPTIK DAN VIDEO GAME masih dari album perdana Trapesium. Cerita tentang berita-berita di televisi saat itu mirip sebuah permainan/video games dengan pelaku yang tertindas. Intro tak jauh berbeda dengan ASTORIA, seperti lengkingan peluru ke udara kemudian disusul gebrakan drum. Sedang Jimmy masih bergaya tenang dengan sesekali menebar senyum. Sorot matanya berbinar melihat antusias audience.

foto koleksi arie rachmawati
SIRKUS OPTIK DAN VIDEO GAME
Symphony
Album
Trapesium, 1982
Composer/Arranger/Musician
Fariz Roestam Munaf, Jimmy Paais,
Herman Gelly Effendi, Ekki Soekarno.
Producers
Akurama Records & Symphony

Korban cemo'oh dan ratap dusta menjadi pokok lembar berita..
Sorak-sorai massa yang mencerminkan tertekan nya jiwa..
Hasrat tak kuasa mendukung pahlawan tiada bernama
yang tak kan selama nya mengerti akan suasana..

Sadarkan dia dari kelaliman yang tiada terpuji
Buat apa kita jadi manusia yang tiada merdeka
Akan tercapai dibalik tirani bukanlah prestasi
Hanya sesumbar akrab membanggakan pinjaman semata..

Biarlah jerit mu menjadi saksi angkuh dan tegar melanda pribadi
Menjadikan darah mu perisai ambisi..

Tingkah-laku bagai mainan video game keluarga
Merebutkan kekuasaan 'tuk ambisi pribadi semata
Dijadikan nya tahta sebagai sirkus optik penuh pesona
Biarkan rakyat jelata menderita karena nya

Kemelut hidup saling mengisi layar tv berwarna
Dimana damai didalam nya tiada dapat kan kau jumpa
Akan tercapai dibalik tirani bukanlah prestasi
Hanya sesumbar akrab membanggakan pinjaman semata

Tuliskanlah ini dalam sejarah agar penerus tak lagi bersalah
Menjadikan ini semua wajar belaka..

Sadarkan dia dari kelaliman yang tiada terpuji
Buat apa kita jadi manusia yang tiada merdeka
Akan tercapai dibalik tirani bukanlah prestasi
Hanya sesumbar akrab membanggakan pinjaman semata..

Kemelut hidup saling mengisi layar tv berwarna,
Dimana damai didalam nya tiada dapat kan kau jumpa
Sadarkan dia dari kelaliman yang tiada terpuji
Hanya sesumbar akrab membanggakan pinjaman semata

Buat apa kita jadi manusia yang tiada merdeka
Dimana damai didalam nya tiada dapat kan kau jumpa
Akan tercapai dibalik tirani bukanlah prestasi
Hanya sesumbar akrab membanggakan pinjaman semata..


Symphony
Fariz Roestam Munaf (Bass, Vocal) Jimmy Paais (Guitar, Vocoder, Vocal)
Herman Gelly Effendi (Keyboard, Piano, Vocal) Ekki Soekarno (Drum, Percussion, Vocal)

©1982 akurama records-symphony

foto koleksi arie rachmawati
Plok..plok..plok..sebuah applause audience membuat SYMPHONY semakin hidup. Rehat lagi...break lagi, memberi kesempatan melanjut cerita sebelumnya. Sedang para kru tv mengubah setting panggung. Beberapa lilin menyala terletak di setiap sudut panggung mengganti lighting studio. Pancaran cahaya dari lilin itu menjadi suasana romantis seperti sebuah pertunjukkan di cafe yang temaram, dengam 4 kursi bar diboyong di atas panggung. Mereka berempat : Fariz,Tony,Ekki,Jimmy duduk sejajar masing-masing sambil memangku gitar akustik. Sedang Herman Gelly masih setia berada di depan keyboardsnya. Dialog dengan audience serasa tiada jarak. Akrab dan menyatu. Kali ini jam session dalam balutan un-plugged melantunkan MENGGAPAI BINTANG.

foto koleksi arie rachmawati
MENGGAPAI BINTANG
Symphony
Album
Normal, 1986
Composer/Arranger/Musician
Fariz Roestam Munaf, Jimmy Paais, Herman Gelly Effendi.
Producers
Union Artis & Symphony


Angin senja menyibakkan rambut mu
Terurai lembut mengusap airmata mu
Ku melangkah berjajaran dengan mu
Menuju tempat yang kan memisah kita

Temaram datang kini menggores kelabu di wajah mu
Tiada kata, tiada janji, tiada satu yang pasti kini

Hanya berjalan tak sanggup menatap langit
Bergandeng tangan mencoba menunda jalan nya waktu

Hari hari ku janjikan pada mu
Tak sadar lagi tentang tantangan dunia
Dua tahun berlalu dalam perjalanan cinta semu
Usai kini dan kau pergi menurunkan tirai ini

Selamat jalan.. pergilah tinggalkan semua
Terlanjur sudah menggores diangan-angan dan mimpi

Selamat jalan.. pergilah tinggalkan semua
Terlanjur sudah menggores diangan-angan
Mendekap lagi untuk yang terakhir kali
Dalam pelukan diri mu tak mungkin kugapai lagi

Untuk
Dewantarie


Symphony
Fariz Roestam Munaf (Bass, Drum, Vocal) Jimmy Paais (Guitar, Bass, Vocal)
Herman Gelly Effendi (Keyboard, Piano, Vocal)

©1986 union artis -symphony

Format aslinya di album N.O.R.M.A.L, lagu itu hanya dilantunkan oleh vocal Fariz RM. Namun perpaduan vocal Faiz dan Tony telah membuat yang hadir malam itu larut,terhanyut dalam suasana cerita yang tertuang dalam lagu itu. Lyrik lagu itu dahsyat...It's touching lebih indah dari aslinya.Tanpa terasa air mata-ku membuncah dan jatuh. Petikan gitar, keempat gitaris keren itu mengalun bersama dengan berpadunya dentingan harmonis berpadu orkestrasi keyboard dalam rangkaian sesi akustik.

Break...istirahat lagi, Faiz menenggak air mineral yang disediakan kru, nampak sekali rasa hausnya itu. Sambil menunggu taping berikutnya, suasana off-air di studio tetap "hangat", apalagi Tony menawari audience mau nambah lagu lagi? Ya tentu saja dengan serempak kami yang hadir mengiyakan.Beberapa kepalan tangan kosong menunjuk keatas tanda setuju. Tiga lagu spontan mengalir dalam format medley sebagai BONUS "hanya" bagi yang hadir di studio. Audience pun ikut bernyanyi mengikuti penggalan lagu Hotel California by Eagles, And You And I by Yes,dan Love of My Life by Queen, rangkaian akustik itu lebih gempita dari sebelumnya menghantar decak kagum. Hebaaaat....!!!

Usai suasana yang mengharu-biru itu, posisi kembali pada sesi taping berikutnya. Kedua presenter itu Sys NS dan Ida Arimurti bergantian mengajukan pertanyaan kepada SYMPHONY, yang diwakili oleh Faiz untuk menjawab pertanyaan "Siapa penulis lyrik yang menyentuh di lagu MENGGAPAI BINTANG itu?" Kemudian dijelaskan oleh si Bule penciptanya adalah Jimmy Paais.
Jimmy Paais

Lagu itu dibuat khusus untuk seseorang yang tak disebutkan namanya karena istrinya berada di antara audience membaur dengan para istri personel lainnya."Siapakah dia..?" tanya Sys NS. " Ada bini..bos!" canda Faiz diikuti senyum personel lainnya. Jarang sekali orang mengenal sosok Jimmy Paais yang jauh dari sorotan publik atau para pemburu berita, pada masa itu bahkan kini. Dia adalah orang yang banyak bergerak dibalik layar dan terlibat dalam beberapa album Fariz RM atau album musisi lainnya. Saat itu kamera tertuju pada sosok pria bersahaja,berkemeja hitam dan style rapi, hanya menebar senyum disela kata-katanya yang minim. "Saya tersesat di jalan yang benar." katanya kalem. Ia duduk merapat dengan Herman Gelly.

Di antara jeda yel-yel Zona'80 bergema di studio. Selanjutnya cerita diteruskan oleh Faiz bahwa Jimmy lebih detail bertutur lewat lyrik-lyrik lagunya yang ditulis. Lyrik itu seperti sebuah cerita pendek yang bernyanyi. Itulah ciri khas dari lyrik lagu SYMPHONY yang banyak bercerita tentang pengalaman hidup, curahan hati dan topik pemberitaan saat itu melalui media massa/elektronik yang menjadi headlines. Hal itu disatukan dengan keempat sahabatnya dalam kemahiran bermain musik. Lahir grup band beraliran progessive beraliran new wave dengan sentuhan musik digital.

Team crew berbenah lagi, panggung kembali disulap dalam keadaan semula. Sedang 4 kursi bar masih nongkrong di atas panggung. Obrolan berlanjut, Herman Gelly yang low profile nyaris terlupakan, kemudian membaur dengan keempat sohibnya. Sementara Sys NS dan Ida Arimurti bergantian mengajak 5 personal untuk bercerita perjalanan mereka saat meramaikan blantika musik Indonesia. Dari proses terbentuknya SYMPHONY yang diprakasai oleh Jimmy Paais, semula dari obrolan berlanjut setelah masing-masing lepas SMA 3 Jakarta, bersama Herman Gelly dan Ekki Soekarno (bukan alumni SMA 3 Jkt) sedang Fariz RM yang datang belakangan karena waktu itu dalam perawatan (sakit lever).Cerita berakhir saat album pertama,kedua dan ketiga meluncur di pasar musik. Asyik menyimak obrolan itu semakin lama,semakin menggigit.

Dulu mereka adalah pemuda-pemuda single dengan paras rupawan dan beken, kini 28 tahun kemudian mereka adalah seorang bapak dan suami dari keluarga masing-masing. Cerita-cerita sederhana yang terjadi pada masing-masing keluarga yang diwakili anak-anak mereka (Symphony Junior) ternyata seumuran dan kebetulan lagi berada dalam lingkung sekolah yang sama, begitu Herman Gelly bertutur kata.
Herman "Gelly" Effendi

Dari situlah mengalir cerita bahwa ayah-ayah mereka akan bereuni bermain musik mengulang cerita masa mudanya. tentu hal ini adalah langkah baru buat para fans SYMPHONY juga keluarga masing-masing karena para junior belum melihat kehebatan ayah-ayah mereka.

Gideon M
Perbincangan semakin menghangat. Saat itu hadir pengamat musik saat ini Gideon Momongan, pria ganteng, macho dengan rambut gondrongnya, cukup mengajukan satu pertanyaan dari kesimpulan obrolan panjang itu yaitu "Kapan SYMPHONY mengeluarkan album lagi, sudah lama Bro?" lalu disambut tepukan penonton seakan mewakili tanda setuju, mendukung pertanyaan Dion, nama akrabnya. Tak luput mereka mengulas tentang RBT (Ring Back Tone) yang marak ditawarkan provider-provider selluler dalam perindustrian Musik Indonesia saat ini. Dengan bijak Faiz menyingkapi proses jaman, proses kreativitas yang mulai tergeser demi kepentingan popularitas. Mungkin itu yang harus digaris bawahi untuk generasi muda saat ini berbeda pada jaman sekitar'80-an saat industri musik memberi kebebasan berkarya dalam seni bermusik.

Di antara perbincangan itu, aku sangat terganggu dengan penonton yang berada di depan samping kiriku. Perempuan itu dari usai lagu Sirkus Optik dan Video Game sudah berulang kali berkata,"Kok nggak ada lagu Sakura ya atau Barcelona. Kok lagunya nggak pernah dengar ya?" Hmm..geram juga suara-suara keluhan itu mengganggu kosentrasiku menyimak obrolan mereka di atas panggung. Kemudian penonton di samping kananku pun mengiyakan. Tanpa perlu disuruh aku pun menjelaskan siapa SYMPHONY itu dengan menunjukkan kaset-kaset mereka yang kubawa dari rumah.

SYMPHONY
Tahun 1982 lahir TRAPESIUM debut pertama SYMPHONY masih mengalun apik walau kasetku berusia lebih dari 25 tahun. Hits-nya lagu Interlokal pasti nanti sebagai penutup konser reuni itu,begitu kataku meyakinkan perempuan itu (dugaanku benar). Tahun 1983 dilanjut hadir album METAL hits-nya Kekal Itu Di Sini dan Lensa Kamar Putih. Tahun 1986 dalam jeda 3 tahun baru muncul N.O.R.M.A.L hitsnya Fotomodel dan salah satu lagu di album itu ditampilkan yaitu MENGGAPAI BINTANG. Cerita singkat itu ternyata disimak dengan seksama. Bahwa ini bukan konser atau show Fariz RM yang lebih dikenal masyarakat luas dengan tembang SAKURA & BARCELONA-nya. Ini SYMPHONY dengan personel masing-masing sambil menunjuk pada mereka satu per satu.

Ternyata penjelasan singkatku yang mungkin belum detail tetapi bermanfaat juga, perempuan itu dan beberapa bapak-bapak mengangguk-angguk. Andai aku dulu tidak dikenalkan oleh kakakku Agus Supriadi, aku pun seperti mereka yang awam tentang SYMPHONY. Untung saja minat musikku memberi nilai lebih dari mereka kaum hawa yang hanya sebatas mengenal Fariz RM saja. Obrolan pun terhenti karena satu lagi tembang dari album M E T A L hadir. Cerita tentang ketergantungan seseorang (perempuan) pada barang haram yang menawarkan ilusi dan mimpi, teramu apik dalam lagu LENSA KAMAR PUTIH.


foto koleksi arie rachmawati
LENSA KAMAR PUTIH
Symphony
Album
Metal, 1983
Composer/Arranger/Musician
Fariz Roestam Munaf, Jimmy Paais,
Herman Gelly Effendi, Ekki Soekarno, Tony Wenas.
Producers
Akurama Records & Symphony


Tempatkan dirimu dan diriku dalam satu cita
Dialog sederhana dan mudah saja, tegas tapi nyata
Adakah kau ragu selama ini atau tak kuasa
Rangkulan butiran tablet berwarna membuat mu lupa

Kau bawa diri dalam khayal lensa kamar putih
Pengisi sepi akrab selama ini
Berjalan kaku tak sanggup berlagu
Berjuta harta terkubur dibawah sadar mu

Wajahmu tak lagi cerah ayu, berganti sendu
Tubuh yang menuntut tak kompromi tak mau tahu
Kau jual diri sebagai pengganti jenuh dan frustrasi
Membiarkan racun datang mengabdi untuk meronta

Terlentang tak sadar di dalam lensa kamar putih
Mencari mimpi yang tiada berarti
Tenggelam kenyataan hidup ini dalam semu
Mencoba lupakan yang lalu

Kau bawa diri dalam khayal lensa kamar putih
Pengisi sepi akrab selama ini
Berjalan kaku tak sanggup berlagu
Berjuta harta terkubur dibawah sadar mu

Terlentang tak sadar di dalam lensa kamar putih
Mencari mimpi yang tiada berarti
Tenggelam kenyataan hidup ini dalam semu
Mencoba lupakan yang lalu


Symphony
Fariz Roestam Munaf (Bass, Vocal) Jimmy Paais (Guitar, Vocoder, Vocal)
Herman Gelly Effendi (Keyboard, Piano, Vocal) Ekki Soekarno (Drums, Vocal) Tony Wenas (Keyboard, Vocal)

©1983 akurama records-symphony


Waktu berjalan tanpa terasa hampir tiga jam dalam studio. Satu per satu lagu yang hadir menghipnotis. Bahkan mereka para Bintang Panggung dan yang hadir betah duduk menikmati suguhan.Hingga pada ujung acara, satu lagu pamungkas yang pernah merajai anak tangga radio di pelosok Nusantara waktu itu. INTERLOKAL yang bercerita kisah perjalanan percintaan sepasang kekasih yang terhalang jarak dan waktu. Antara helaan nafas panjang,gelisah menunggu jawaban diseberang sana lewat percakapan SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh) atau lebih dikenal dengan istilah INTERLOKAL.

INTERLOKAL
Symphony
Album
Trapesium, 1982
Composer/Arranger/Musician
Fariz Roestam Munaf, Jimmy Paais,
Herman Gelly Effendi, Ekki Soekarno.
Producers
Akurama Records & Symphony



Masih berbunyi nada bicara
Kesekian kali telah ku coba
Gelisah datang tiada terundang
Mengajak prasangka mengusik keadaan

Ku hela nafas panjang menyesali waktu terbuang

Yang ku harapkan dapat bercakap dengan mu
Mengulas rencana kedatangan ku tertunda
Yang ku harapkan kau mengerti kan sebab nya
Namun halangan merintangi harap itu

Ku coba nomor itu masih tak terjawab
Ku hela nafas panjang menyesali waktu terbuang

Bila rencana tiada tertunda
Mungkin kenyataan tak ku jumpa
Gelisah datang tiada terundang
Mengusik prasangka didalam keadaan

Ku hela nafas panjang menyesali waktu terbuang

Namun ku yakin bukanlah itu sebab nya
Hanyalah waktu yang ku pinta belum ada
Yang ku harapkan dan ku rindu dalam kalbu
Bercanda kata mengurangi sikap ragu

Ku coba nomor itu masih tak terjawab
Ku hela nafas panjang menyesali waktu terbuang

Symphony
Fariz Roestam Munaf (Bass, Vocal) Jimmy Paais (Guitar, Vocoder, Vocal)
Herman Gelly Effendi (Keyboard, Piano, Vocal) Ekki Soekarno (Drum, Percussion, Vocal)

©1982 akurama records-symphony


Kekompakan gebukan Ekki dengan dentingan keyboard Herman Gelly diakhir lagu INTERLOKAL mengakhiri satu rangkaian taping Zona'80 dengan audience yang diarahkan oleh pengarah acara untuk berdiri dan bergoyang mengikuti irama yang nge-beat itu. Interlokal lagu yang paling akrab ditelinga para pendengar radio pada tahun 1982-1983 (saat itu aku masih SMP) dan hingga kini masih masuk 150 deretan terlaris dalam sebuah polling majalah musik Rolling Stone Indonesia, urutan ke 94.

Wow..dahsyat ending Reuni SYMPHONY itu. Tapi eeeiiiitzz.. ternyata karena kesalahan teknis maka lagu INTERLOKAL itu di-take ulang. Ah..andai semua lagu di-take ulang pasti bukan aku saja yang setuju. Jaket putih bersulam emas dengan kemeja warna senada ala Sinbad Si Pelaut,kostum Faiz yang selama proses taping setia menemani tiba-tiba dilepasnya berganti bolero hitam polos dan sederhana. Rupanya energi mereka benar-benar terkuras hingga suhu dingin ruangan studio pun tanpa terasa. Proses akhir telah usai, para audience ada yang mulai beranjak meninggalkan tempat duduknya namun tiba-tiba telingaku menangkap intro yang aku kenal akrab. Intro detingan piano Herman Gelly dan disusul bunyi-bunyian alat musik yang lain....itu adalah penggalan SEPERTIGA PULUH-DUA. Gilaaaa bouw ..surprise bangeet 1/32 merinding dibuatnya. Entah apakah mereka pun sempat mendengarkannya?

Pasca taping, seluruh fans berhamburan menyerbu masing-masing idola untuk berfoto-ria.Tak luput para kolega yang kebanyakan orang top dibidangnya menjadi sasaran mengklak-klik kamera saku dan sellulernya masing-masing. Hal yang amat ditunggu untuk mengabadikan moment langka itu.
Foto : Koleksi Arie Rachmawati
Mungkin hanya aku fans SYMPHONY yang masih sempat berpikir untuk membawa kaset-kaset mereka plus kaset-kaset Fariz RM dan satu kaset album solo Herman"Gelly"Effendi yaitu Litograf-01, untuk diminta tanda tangani idolaku yang selama ini hanya bisa dilihat dalam layar kaca televisi beberapa puluh tahun yang lalu.

Minggu,14 Juni 2009 setahun yang lalu, kenangan REUNI SYMPHONY itu masih tergambar jelas dalam ingatanku. Hingga timbul tanya kapankah akan bereuni lagi? Mengingat satu tahun berlalu tanpa gebrakan yang ada. SYMPHONY harus bangkit lagi, cukup sudah 23 tahun kalian tertidur.
Semangatlah bahwa kami para penggemarmu yang tergabung dalam wadah SYMPHONYsentris facebookers atau mereka diluar sana yang tak bergabung di dunia maya, masih merindukan masa kejayaanmu. Satu album terbaru akan mengobati rasa rindu yang terpendam itu.

Diceritakan kembali oleh Arie Rachmawati, sebagai wujud apresiasi kepada salah satu grup band yang lahir di masa emas dunia musik, era '80 yang mempunyai nilai chemistry mendalam.
Terima Kasih untuk semua pembaca, semoga menikmati tulisan hati ini yang ditulis oleh seorang ibu rumah tangga, bukan jurnalis atau pengamat musik, hanya penikmat musik sehati yang Cinta Musik Indonesia. Terima kasih.

SYMPHONY MASIH ADA!! SYMPHONY...BRAVO !!!

foto koleksi SYMPHONY


Salam,
arie rachmawati

Rabu, 20 Januari 2010

Keluarga Kecil Fiksi-ku


KICAU KREATIF KELAS CAFE CERPEN
oleh Arie Rachmawati pada 17 Oktober 2010 jam 17:16


Merangkai kata, menterjemahkan imajinasi ke dalam tulisan membutuhkan keahlian tersendiri, agar tulisan itu bisa diterima pembaca sesuai keinginan penulisnya.

Sebuah telephon berdering, "Hallo Arie, kamu harus ikut harus! Jangan mundur, ini jalanmu menggapai mimpi."

Ya, itu awal sebuah langkah yang mengantarkan saya seorang ibu rumah tangga biasa mengenal teman-teman dengan minat yang sama untuk menjadi cerpenis. Langkah awal yang manis jelang akhir perjalanan sang waktu 2009, akhirnya saya dapatkan kunci pembuka angan dan cita yang tertunda itu.

 Tak banyak ruang memberi kesempatan pada calon cerpenis masa mendatang. Stsiun Fiximix, majalah teenlit STORY dan cerpenis ternama Kurnia Effendi adalah salah satu wadah yang memberi kesempatan pada kami 10 peserta Kelas Cafe Cerpen angkatan pertama, untuk menimba ilmu dan mewujudkan cita-cita menjadi cerpenis.

Kebersamaan itu berawal terbentuknya keluarga yang manis. Untuk mengikat memori, maka saya persembahkan ini sebuah CD sebagai Kado Persahabatan di antara kami : Adelinah, Fajar, Swistien, Raya, Poppy, Hilal, Rama ,Zeffa, Micky, Reni Erin, Henny, Kef dan saya sendiri.

Puji syukur kepada Allah swt telah mendengar doa saya ketika berdialoq pada 1/3 malam. Terima Kasih buat suamiku, juga Yoando (rYO,ryAN,eDO) atas supportnya selama mengikuti pelatihan saat itu. "Ayo made (baca : mother) jangan minder karena umur."
Juga terima kasih buat teman - teman yang lain yang tidak disebutkan satu per satu. Saya sempat berpikir apakah mungkin seorang IRT bisa memiliki sebuah compact disc seperti mereka muisi atau penyanyi ternama. Jawabnya adalah bisa dan seorang Chr Nast telah membantu mewujudkan pemikiran saya itu. Terima kasih buat mas Herman Gelly Effendi/pianis.keyboard,mutitalens aranjer dari grup band SYMPHONY, yang menjadi inspirasi cerpen Pianoku Tercinta lahir dan menjadi pilihan untuk dibaca di depan kelas oleh dokter Raya Henri Batubara.



# T E S T I M O N I#

* Adelinah Chandra :
* Buatku Kelas Cafe Cerpen adalah jawaban Tuhan atas mimpiku untuk menekuni dunia menulis, yang tahun lalu hanya dapat ku'bagi' ke mas Nia (kef) tapi tidak pernah jadi cerpennya. Kalu di sini kan dipaksa? Apalagi melihat dan mengamati kawan-kawan muda yang begitu energik, membuatku jadi semangat juga, walau aku sibuk dan menyita waktu, but Dammed!!! I Love You All Guys'n Gals!!!

* Arie Rachmawati :
* Aku punya keluarga baru, ada ibu (aku), bapak (Kef), anakku (ramma), kakakku (Adelinah), keponakan (Poppy), iparku (Fajar & Raya), teman ipar (reni), sepupuku (Titien & Henny), temannya serpupu (Hilal), teman-teman anakku (Micky & Zeffa)...semua ada di dunia fiksi...

* Fajar S. Pramono :
* Hmm...kelas ini berkesan, karena kelas ini tak terhenti pada 15 Nove,ber 2009 lalu. Kelas ini masih terus hidup sampai saat ini dan akan terus hidup. Kelas ini hidup karena kegairahan yang sama, semangat yang sama, yakni "untuk menjadi."

* Hilal Ahmad :
* Ini kelas paling gila yang pernah kukenal, kompetisinya gila, orang-orangnya gila dan gurunya diacungi dua jempol.

* Henry S Batubara :
* Kesan awal, awalnya malu, kirain peserta tertua..kesan kedua, kolusi dengan mas Kef, jadinya bisa bayar 375ribu 4 hari sebelum hari H (baru tau sih, Henny, jangan marah ya sama murid yang nakal ini) Terakhir, salut! Kelas kita kompak. Udah, banyak kan?

* Irwansyah Putra : ...
* Poppy : ...
* Ramma Renzya : ...

* Swistien Kustantyana : Kelas ini membuatku merinding, berdiri di kuburan aja ga mampu buat aku merinding, tapi kelai ini iya.

Selain semangat yang meluap-luap, aku bisa belajra banyak dari kalian. Merinding liat mbak Arie dengan koleksi klipingnya. Merinding bagaimana dia bisa menghargai orang. Merinding liat Hilal yang sederhana tapi dahsyat bukan kepalang. Merinding liat mas Fajar yang kocaknya minta ampun. Merinding liat betapa pounds age miracle bekerja baik untuk pak Raya. merinding liat mbak Adel yang tetep oke doke menjaga penampilan. Merinding pas dipeluk pak Kef. Hahaha...Merinding liat Ramma karena kecantikannya (dia saingan terberatku di kelas ini). Merinding liat Poppy karena dia itu aku banget beberapa waktu lalu (waktu aku tinggal di Jogja). Merinding liat mbak Erin yang tetep langsing meski mengunyah coklat tak habis habis. Merinding liat Zeffa dengan keberaniannya menjadi berbeda.Merinding liat mbak Henny yang selalu menarik (bukti nyata bahwa penulis tidak selalu kumal) Hehehehe..Siapa lagi yang belum disebut? Oh iya, merinding kalo ingat Micky karena dia jarang berpartisipasi. Ha ha ha..

* Zeffa : Itu momen paling indah dalam hidupku, sejarah yang paling memikat adalah bisa mengenal penulis hebat seperti pak Kef, bahkan dapat ilmunya pula. Dan yang tak terlupa dan menjadi harta tak ternilai adalah bisa mengenal kalian semua. Kalo ga ada KCC mungkin selamanya kita ga saling kenal..makanya Thanx God.


* Kurnia Effendi : Seperti ada campur tangan malaikat yang menghimpun kalian salam sebuah angkatan kelas cafe cerpen. Lima cowok , lima cewek seperti menunjukkan belahan sama sebangun. Chemistry antara kalian membuat aku bersemangat memberi seluruh ilmu. Perbedaan latar belakang profesi dan usia telah membangun rasa kasih sayang yang nyaris sempurna. Bakat dan semangat kalian luar biasa, mimpiku satu : Kalian ber-10 akan menjadi penulis hebat!

* Henny Purnama Sari : Pesertanya punya passion yang sama kuat untuk menjadi cerpenis beken! maka itu akhirnya kelas ini dinamakan BEKEN dengan CERPEN.

* Reni Erina : Kelas cerpen ini memang kompak, saking kompaknya jadi kayak saudara tiri...ini benar-benar kekeluargaan.


PRAKATA K E F
Kelas Cafe Cerpen, memang sudah berlalu peristiwanya. Namun, teman-teman, tahukah kalian?
Betapa gema panjang kerinduan antara kita selalu menjadi alasan yang cukup untuk terus mengingat satu sama lain.
Bagaimana caranya?
Banyak jalan menuju rendezyvous, namun ada salah satu cara yang membuat kita merasa saling memiliki dengan sederhana saja.
Dan ini yang ditempuh dengan kesungguhan hati, semangat dan energi, oleh Arie Rachmawati.


Saya tak ingin berlebihan dalam mengungkapkan rasa haru dan terima kasih.
Melalui sebuah puisi saja, semoga teman-teman berkenan :


Ada yang terus bergerak di luar pikiran-pikiran kita
Dari mana entah ke mana, dan kita boleh abai
Sementara ada yang terus tumbuh tak terduga
Dalam ladang jiwa dan kedalaman relung hati
Benih persahabatan yang digerimisi kasih sayang
Hingga berupa denyar dari satu ke lain perasaan
Lalu tangan tulus itu menjumputnya dari segala kuncup
Menghimpunnya dalam taman mungil
Yang boleh kita kunjungi kapan saja tak peduli cuaca
Semoga sang jemari yang bersdia menjalin keindahan
Akan memperoleh hadiah doa dari jiwa-jiwa yang terbuka


Demikian kiranya, sebuah memorabilia di ciptakan untuk mudah dikenang.
Mememanjang. Dan yang paling aku nanti-nantikan adalah : nama nama indah
(Adel.Arie,Fajar.Hilal.Micky,Poppy,Raya,Swistien,Zeffa dan Ramma) itu bakal berdialog dalam hangatnya tungku peristiwa dan cerita di media massa. Kelas Cafe Cerpen hanya permukaan saja. taman sastra yang luas tak terhingga adalah cakrawala semestamu.


Salam,
Arie Rachmawati
Bogor,20 Januari 2010


Minggu, 27 Desember 2009

Ulang Tahun Ryo




20 Tahun Yang Lalu
by Arie Rachmawati on Sunday, December 27, 2009 at 10:16am
....
dua puluh tahun yang lalu
bersama subuh
sakitku berlalu
karna aku punya kamu bayi laki-laki yang lucu
itu cerita lalu,
dua puluh tahun kini
aryo rizky putra kembali di sini
bersama kami hingga nanti
saat Illahi mengambil diri
biarkan ultah ini
nikmati ramai-ramai
karna aryo rizky putra tak suka sendiri,
kau anak pertama
bukan berarti selalu yang utama
tapi kau punya adik dua
kalian harus bersama-sama
dalam suka dan duka
ada dan tiada mama dan papa
kamu harus siaga
dua puluh tahun tanpa terasa
ini bukan puisi biasa
kubuat tanpa terpaksa
bukan apa-apa
hanya ini yang mama bisa
menulis dan merangkai kata

tO : aRYo rIzkY pUtRa
SELAMAT ULANG TAHUN KE 20
Semoga Menjadi anak yang sholeh,berbakti kepada ortu,agama dan bangsa
Semoga Cita-citamu tercapai...

pf : 27 Desember 1989-2009



CERITA 20 TAHUN YANG LALU
Karya : Arie Rachmawati
Untuk : Aryo Rizky Putra


Bulan itu seperti bulan ini Desember dua puluh tahun yang lalu. Dari awal mengandung kondisi perempuan yang bernama Arie Rachmawati itu tak pernah sehat. Kondisi yang seharusnya sehat untuk seorang calon ibu, namun baginya berbalik berbagai macam penyakit singgah menyapanya. Bebrapa kali keluar masuk rumah sakit bukan akan melahirkan melainkan karena kondisi yang tak sehat.

Jelang kelahiran putra pertamanya itu malah kondisi tubuhnya pun kian merosot. Ada selang infus di pergelangan tangan kirinya, ada selang oksigen di kedua lubang hidungnya dan muntah yang berlebihan hingga dahak terpahit pun mewarnai wadah muntahan yang berwarna hijau dan rasa pahit meraja.

Semangat...semangat antara desakan nafas yang mulai menyempit dan teanaga yang tersisa, bayi kecil dengan kepala memanjang karena pengaruh alat vacum sebagai penolong untuk hadir di dunia ini. Jerit tangisnya memekik keheningan fajar bersamaan dengan adzan subuh berkumandang tepat jam 04:44 bayi lalki-laki dengan berat 3700 gram dan panjang 53 cm adalah yg terpanjang di antara bayi-bayi kecil yg hadir duluan.
"Owek..Owek..Owek..aku mau online motheer"


Dinamai Aryo adalah singkatan dari Ar=Arie/mamanya dan Yo=diambil dari nama belakang papanya Yoostiono. Sedang Rizky adalah rejeki atau rizky dari Allah,dengan harapan adalah anak itu senantiasa mendapat rejeki/rizky dariNYA, dan Putra karena lahir seorang bayi laki-laki.

Ryo nama panggilannya. Setelah memiliki dua adik kemudian ada tambahan Kak Yo.
Ryo berbintang Capricorn ini menyukai banyak hal terutama berkaitan dengan seni. Mungkin darah bernama seni itu telah diturunkan dari kakek dari mamanya atau dari mamanya sendiri. Ryo yang dulu berpenampilam rapi,klimis dan pendiam namun kalau tertawa selepas lautan membentang kini berubah bak seniwan yang berambut gondrong, sebaris kumis hitam lebat dan beberapa rambut memenuhi janggutnya dengan alasan " "Mother ini sunnah Rasul."  Tentu membuat mamanya yang akrab dipanggil Mother atau made agak merasa risih. "Anakku bak Tom Hanks dalam film Cast Away. Oh My God", ucapnya lirih.

Jalanmu masih panjang, usiamu masih muda jangan pernah mgeluh putus asa. Berjalanlah dengan sebaris doa langkahkan kakimu penuh kepastian dan senantisa menjadi pemuda idaman bangsa dan keluarga.

Bogor, Bogor 27 Desember 2009 10:20 wib
Mother,

Minggu, 08 November 2009

P u i s i k u :





BURUNG CERIWIS
Karya : Arie Rachmawati
08.November 2009 08:21 AM

Burung Ceriwis itu
tak lagi berceloteh..
Burung Ceriwis itu
mulai letih..
Burung Ceriwis itu
sedang menyulam bulu sayapnya 
yang terkait ranting tajam 
saat bersandar pada pepohonan di Setu Babakan
Burung Ceriwis itu
merintih dalam rindu..

Dikirim melalui Facebook Seluler

Minggu, 27 September 2009

Opname : Dehidrasi



PINDAH  KAMAR
Oleh : Arie Rachmawati 


Ini cerita sederhana yang mewarnai hari-hariku di suatu tempat berbaur dengan mereka senasib karena kondisi tidak sehat.

Bermula dari suatu pagi usai sholat Subuh. Udara pagi masuk melalui jendela-jendela kamar dan ruang tamu. Semilir menerbangkan kantuk segera kutepiskan dengan membuka jendela dunia lalu berseru '' Selamat Pagi Dunia ''

Canda, tawa dan sapaan mulai berdatangan dari penjuru tempat yang masih semarak merayakan Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Rutinitasku masih seperti kemarin, bahkan tak ada perubahaan.Lebaran biasa dirayakan dengan sederhana. Tak ada baju baru, tak ada perabot baru, tetapi ada hati yang baru penuh ceria dan tasyakur meski tidak bermudik-ria. 

Namun riangku berganti rupa. Rasa mual menyeruak kerongkongan, naik turun seperti grafik equalizer dan akhirnya semua isi perut keluar tertumpah. Sekali, dua kali bahkan tak terhitung kalinya. Perut seperti di sedot alat vacum cleaner dan rasa sakit melilit hingga berasa ulu hati tertusuk. Lemes, mual dan pusing hingga gelap pandang mata ini. Brruuuuuk, pingsan.

Hari Pertama.

Tiba di UGD ditambah lagi dengan mengigil yang amat sangat dingin. Lebih-lebih saat pemeriksaan gula darah hingga jantung. Ada apa dengan jantungku? Gula darahku? Asmaku? Lho kok jadi banyak pemeriksaan.

Terlintas beberapa bahan masakan yang terbengkalai di dapur dan file-file di flashdisk-ku. Saat adzan dzuhur berkumandang aku ditetapkan jadi penghuni kamar paviliun Pafio 2 pada sebuah rumah sakit swasta di Bogor.

Diagnosa sementara dehidrasi dan kemungkinan keracunan makanan. Infus segera dipasang bahkan dalam hitungan 2 - 3 jam lebih aku menghabiskan 3 kantong Ringer Lactat itu plus 1 kantong infus kecil. Untuk pemulihan dianjurkan banyak minum air putih sebanyak - banyaknya.

Mataku bernas, mukaku pucat, itu yang aku dengar. Masya Allah..jika Allah berkehendak. Dalam hitungan menit pertama masih tertawa terbahak karena hasil test quiz aplikasi dari facebook sempat membuat sensasi di dinding. Kemudian, dalam hitungan menit berikutnya lunglai, bahkan cairan muntahan terakhir berupa lendir kuning dan pahit.

Dalam ruangan itu aku bersebelahan dengan pasien seorang ibu korban kecelakaan dengan sakit yang amat teramat. Jenis penyakitku sering berurusan dengan kamar kecil, sangat mengganggu kenyamanan pasien sebelah. Kemudian dirujuk pindah kamar ke 
Pafio 1. Saat perpindahan aku sudah berbaur dalam kelelahan terpaksa perjalanan ke dunia mimpi ditunda dulu.

Pindah ke kamar sebelah, " Aah..nyaman.." gumamku dalam hati. Aku lebih suka sendiri daripada berbagi dengan orang lain.Bukan egoistis tetapi untuk urusan istirahat lebih baik dalam kesendirian, tetapi dalam pergaulan aku lebih suka suasana ramai dan menghidupkan suasana adalah 'khas'ku. 

Malam berlalu dalam istirahat panjang. Tetapi bukan terlelap dalam tidur yang nyenyak karena aku selalu mengalami sindrom malam pertama di tempat yang baru.


Hari kedua.
Pagiku semarak.Anak-anak berdatangan dan mulai berceloteh seperti tak merasa sakit dan berharap segera pulang. Namun, pihak rumah sakit masih menahanku karena hasil laboratorium tak sebagus yang diperkirakan. Masih ada tes laboratorium lagi. Berarti ada injeksi dan beberapa butir kaplet, tablet berwarna yang harus antri kutelan.

Keluhan yang masih tertinggal adalah mual, pembuangan tinja belum stabil, dan pusing. Sementara gula darah dan jantung normal. Sekelebat aku membayangkan jari jemariku akan menari lagi di atas keyboards merangkai kata membentuk tulisan bukan untuk publikasi tetapi hanya konsumsi pribadi. Dengan tangan kiri masih di infus dan pada jam tertentu di suntikkan cairan ke dalam infus itu..dalam inbox
" You've Got Mail ", e-mail dari seorang sahabat : '' Awas...jaga kondisi....inget pesanku...mesti pandai-pandai atur waktu...kerja keras boleh tapi jangan sampai diperbudak pekerjaan "

Saat akan menulis balasan, ada pasien baru menempati ruangan Pafio 1 bersebelahan denganku. Dari awal kehadirannya sudah heboooh..seperti para pengungsi penggusuran, para pasukan pengantarnya banyak sekali. 

Mereka baru datang sudah bikin ulah. Remote AC diotak - atik hingga tidak berfungsi dan suhu kamar menjadi 30 derajat.Ruangan tempat kami berbagi berebut oksigen dan bikin geraaaah..!!!!

Heboh dan heboh, ditambah kejadian toilet tak berfungsi dikarenakan salah satu pengunjung pasien sebelah membuang pembalut ke dalam closet. Petugas cleaning servis yang berdinas berusaha memperbaiki tapi tidak berhasil karena terlalu banyak kertas tisyu yang menyumbat lubang closet itu. Mereka baru datang sudah bikin ulah. Pasien baru tersebut menderita DBD tetapi tidak bisa berdiam diri otomatis thrombosit kian menurun. Sering kali lalu lalang menuju kamar kecil dengan alasan tidak nyaman memakai pispot. Akhirnya pasien itu ditegur oleh suster yang berdinas. Tanpa aku pungkiri, aku pun ikut juga mensyukurin... " Hahaha rasain loe "

Karena aku pasien penurut dan tanpa banyak ulah. Pihak rumah sakit menawarkan pindah kamar lagi ke kamar Pafio 3, karena closet tidak berfungsi dan tentu untuk urusan buang hajat akan merepotkan. Selintas bayang tergambar adegan itu dengan menenteng kantong infus, bisa - bisa bila tidak cekatan akan jatuh berantakan di koridor.rumah sakit.

Wah, suatu pemandangan tidak mengasyikan, Dan aku menerima tawaran tersebut. Acara bebenah dimulai. Aku dengan memangku laptop siap diglinding pindah ke suasana baru. Baru menghela nafas panjang dan urusan bebenah belum kelar, eh ternyata pasien itu pun ikutan pindah dengan alasan takut tidur sendirian. Alamaaak, berarti aku berbagi lagi dengan mereka serta aroma 'angin natural' dengan hitungan sering tanpa ada rasa sungkan sedikit pun. Aku merasa seperti berada pada pertempuran peperangan dengan dentuman meriam bertubi-tubi menghujani pihak musuh. Duuum..!!!

(bersambung, karena jadwal dokter visite)

(dilanjutkan hari ini, setelah memakai PC, bukan facebook selluler)

Bukan cuma itu saja, malam pun berbagi dengan paduan suara dengkuran semua yang tertidur di ruangan itu dan aku yang mengalami 'sindrom malam pertama' untuk kedua kalinya. Dengan terpaksa bermain dengan langit-langit kamar dan sesekali menengok dunia luar lewat handphone namun pada jam - jam sepertiga malam mereka sudah pada terlelap dalam tidurnya. Sepiii . . . dan dalam dua malam nerirutan, aku tanpa mimpi. Hmmm . . .

Hari Ketiga.
Alhamdulillah sudah dinyatakan sehat dan boleh pulang. Yang aku ingat kejadian ini, ketika awal masuk ke UGD dalam waktu 3 jam, menghabiskan 4 kantong infus. Situasi yang parah karena dehidrasi karena muntaber tak terhitung jumlahnya.

Nikmat sehat, nikmat sakit tetap dipanjatkan sebagai rasa wasyukurillah bil nikmati.


S a l a m

Jumat, 21 Agustus 2009

C e r p e n k u :


Sang Kodok
Oleh Arie Rachmawati
2009



Aku ingin sekali memeluk Ibu, lalu menumpahkan segala berkecamuk di dada kepadanya layaknya anak-anak lain. Bermaja-manja kepada Ibu, duduk cengkrama bertukar cerita seperti teman-temanku yang lain. Ibu tempat anak menemukan keteduhan dan rasa aman. Ibu yang membelai anaknya penuh kasih sayang. Namun aku cuma bisa membayangkan semua itu. Aku tahu Ibu tak suka padaku karena wajahku persis sekali seperti wajah Bapak, laki-laki yang telah memberinya anak dan menorehkan luka sepanjang perjalanan hidupnya. Ibu selalu melampiaskan kemarahan kepadaku karena hal itu. Bila wajahku mirip Bapak, bukan aku meminta seperti itu, mestinya Ibu protes kepada Tuhan. Bila boleh meminta tentunya aku ingin berwajah seperti artis-artis Korea. Selalu ada umpatan "Dasaar kodok, kau seperti Bapakmu." ucapnya penuh kemarahan. Wajahku apa mirip seekor kodok? Nggak juga, gumamku dalam hati.

Sebenarnya aku marah dengan perkataan itu, tapi apa dayaku gadis remaja hanya mampu menelan kata-kata Ibu dengan hati sabar. Dalam doaku, aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku dilahirkan seperti wajah Bapak, Apa benar wajah Bapak seperti kodok. Mengapa kata-kata kodok selalu meluncur dari mulutnya. Bila aku menangis maka Ibu akan semakin keras memarahiku bahkan kadang memukulku, menamparku. Aku hanya menahan air mata dan menumpahkan saat malam tiba menangis dalam segukan di bantal. Aku takut sekali Ibu mendengar tangisanku, yang nantinya akan membangkitkan kemarahannya lagi. Kadang aku bertanya sepantaskah seorang Ibu demikian, atau mungkin aku bukan anaknya. Atau, atau, atau .... banyak sekali pertanyaan mengganggu pikiranku. Yang lebih menguasai pikiranku, sekarang Bapak berada dimana. Aku ingin berjumpa dan memastikan apa benar perkatan Ibu.

Aku tak banyak memiliki teman dekat untuk curhat. Aku lebih senang menutup diri. Berbicara dengan mereka seperlunya, hanya sekitar pelajaran dan urusan sekolah. Aku merasa tidak sebanding mereka yang memiliki kedua orang tua penuh kasih sayang, Melihatnya membuat hatiku meringis. Kembali ke rumah dengan tidak membawa masalah bagi Ibu, adalah hal istimewa. Aku akan melalui hari sepanjang hari dengan tenang. Walau jarang Ibu tersenyum namun aku yakin di hatinya ia melakukan itu. Bagaimana pun aku hanya berdua dengan Ibu, Kadang kami beradu pandang mata, mata Ibu bagus sekali. Wajahnya sangat cantik jauh bila dibanding wajahku, Walau pun begitu aku banyak ditaksir teman cowok, namun aku tak peduli. Bahkan pura-pura cuek dan membiarkan semuanya berlalu. Aku tak ingin menambah masalah bila akhirnya Ibu tahu aku menjalin hubungan dengan lawan jenis.

Daren anak kelas sebelah, beberapa kali mengutarakan ingin bermain ke rumahku. Aku selalu menghindari. Aku belum siap kedatangan tamu laki-laki meski untuk alasan pinjam buku atau mengerjakan tugas sekolah. Aku tak ada keberanian ijin kepada Ibu. Meski pun Ibu sering menumpahkan kemarahan kepadaku, namun Ibu sangat memperhatikan kesehatanku. Suatu hari aku pulang dengan basah kuyub. Aku sudah siap akan dimarahi, namun baru kali itu Ibu memelukku dan segera membuatkan rebusan air panas untuk menyuruhku segera mandi dan berisitirahat. Kejadian itu sangat berkesan, aku yakin doaku terjawab. Hujan mendamaikan hati Ibu.

Itu sebabnya bila hujan turun, aku senang sekali. Serasa kenangan itu ingin terulang meski sudah lama berlalu saat aku masih sekolah dasar namun seperti kemarin Ibu mememukku penuh kelembutan. Hari ini hujan turun deras sekali, dari pagi hingga jelang malam. Kali ini justru aku merasa ada kegelisahan karena seharian belum ada kabar dari Ibu. Ibu sedang berada di luar kota karena urusan dagangnya. Pagi tadi bakda subuh Ibu berpamitan. Tak biasanya Ibu seperti itu berpamitan dengan banyak pesan, seperti jangan lupa matikan gas, lampu dsb. Biasanya berpamitan hanya melalui pesan singkat, kadang tanpa menoleh kepadaku dan begitu saja berlalu meninggalkan rumah,

Seharian ditemani hujan dengan menanti pesan masuk melalui hand phone. Melayang pikiranku akan kejadian yang sudah-sudah kepadaku. Memang sekarang Ibu jarang mengeluarkan kata-kata 'kodok' namun sorot matanya masih memancarkan kebencian. Kebencian yang tak pernah hilang dalam benaknya. Tiba-tiba aku ingin membuka lemari Ibu, walau ada keraguan. Kuurungkan niat itu, aku membuang rasa keingintahuan isi lemari Ibu. pasti Ibu banyak menyimpan rahasia. Aneh saja hingga sebesar ini aku tak pernah mengenal saudara Ibu atau Bapak. Serasa kami berdua hidup di dalam hutan belantara tanpa makhluk hidup lainnya. Ibu memang misterius. Ibu hanya punya beberapa teman, dan mereka hanya sesekali mampir dan menyapaku. Mereka sering diluar rumah.

Salah satu teman Ibu bernama tante Hesti, pernah akan menceritakan tentang Bapak namun keburu Ibu datang. Ibu tiba-tiba nongol di teras, tempat kami ngobrol. Dengan gesit dan memberi tanda kedipan mata ke arahku, tante Hesti menghentikan pembicaraan. Aku mengerti dan segera meninggalkan teras. Sekarang tante Hesti jarang ke rumah bahkan dengar-dengar ia sudah pindah ke luar pulau Jawa. Aku tak memiliki nomor kontaknya. Aku seperti hidup dalam pengasingan meski dengan Ibuku sendiri.

Sudah lewat jam sembilan malam, namun belum ada kabar dari Ibu. Hari itu aku penuh gelisah dan ketajutan, Takut terjadi apa-apa dengan Ibu. Bagaimana pun juga ia Ibuku. Sekejam apapun ia Ibuku. Aku ingin memeluknya dan menumpahkan rasa rindu kepadanya. Tiba-tiba telepon rumah berdering memecahkan kesuntian malam. Suara diseberang sana dari seorang perawat dari rumah sakit dimana Ibu berada di UGD. "Yaa ampun Ibuuuu....."

Ibu berbaring setengah sadar. Mulutnya ingin mengatakan sesuatu begitu ia melihatku menyibak tirai pembatas ruangan di UGD. Sorot matanya tajam dan tak berkedip, tangan kanannya yang terhubung selang infus menunjuk kearahku untuk segera mendekat. Tiba-tiba mengalir dua anak sungai kecil dari sudut mata Ibu. Aku ikutan menangis tanpa suara. Aku terbiasa begitu, membiarkan linangan air mata tanpa suara. Ibu membisikkan kata namun tidak jelas. Aku pun belum paham perkataannya itu. Tak lama kemudian Ibu pingsan dan setelah itu aku diminta keluar ruangan. Kemudian Ibu dipindahkan ke kamar rawat inap setelah aku membereskan administrasinya. Kuberikan kartu asuransi kesehatan Ibu, dari dalam dompetnya aku menemukan sebuah foto usang. Ada Ibu, aku balita dan seorang laki-laki. Mataku masih sembab belum jelas mengamati sosok laki-laki itu. Mungkinkah itu Bapakku?

Entahlah kutepiskan pertanyaan siapa Bapakku. Yang ada dipikiranku Ibu harus sehat dan kembali pulang. Rupanya Ibu kena serangan stroke yang mengakibatkan bibirnya miring dan susah berkata. Ibu tak lagi bisa memarahi dengan kondisi seperti itu. Mestinya aku senang namun justru aku bersedih. Aku rindu Ibu memarahiku, mengatakan apa yang ingin dikatakan, menumpahkan kemarahan seperti biasanya karena aku kini bisa menikmati itu. Kedewasaan diri yang membuatku tegar. Keikhlasan hati membuatku menerima itu, semua itu butuh proses waktu sebagai bentuk serangkain doa kepada Tuhan.

Ternyata, Tuhan merencanakan hal lain. Sebelum usia ke 17, Ibu berpulang dan beberapa hari sebelum ajal menjemputnya. Jelang detik-detik terakhirnya Ibu mengisyarakatkan permohonan maafnya. Air matanya hanya mengalir deras membasahi kedua pipinya. Aku memaafkannya sebelum Ibu meminta maaf kepadku. Aku lebih suka Ibu marah-marah seperti biasanya dan mengatakan aku seperti kodok daripada melihatnya dalam keadaan lemah tak berdaya. Doaku terkabul, tak pernah lagi mendengar Ibu mengatakan aku seperti kodok.

Si kecil Sila berusaha menangkap seekor kodok yang melompat riang di dekat kami duduk Kami duduk tak jauh dari sebuah kolam taman kota. Ia sangat senang sekali mengejar kodok itu. "Lihaaat Bunda, kodoknya lucuuu ..." Ia menirukan kodok melompat. Aku pun tertawa melihat gayanya. Kodok. Aku jadi ingat Ibuku. Ibuku dengan umpatan marahnya kepadaku, "Dasaaarr kodok, kau persis Bapakmu!". Aku tersenyum sedih dan menghapus lamunan itu karena Sila mendekatiku, "Kenapa Bunda sediiih? Nanti Sila tangkap kodoknya yah?" Kuraih tangan mungilnya dan kudekap anakku itu, seperti itu yang aku inginkan diwaktu lampau. Ia melepaskan dekapanku dan kembali mengejar kodok yang bersembunyi dibalik semak-semak. "Hati-hatiii sayang, nanti jatuh lho..." ucapku mengiringi kepergian Sila. Sampai kapan pun aku adalah Sang Kodok-nya Ibu. "Terima kasih Ibu," gumamku pelan saat ini aku tengah menemani Sila putri semata wayangku.





KRL Pakuan Express Bogor-Gambir
21.08.09/07:33